pada hari Jumat, 19 April 2013
oleh Stube HEMAT

Supervisi ke Stube-HEMAT Sumba

 
SESUATU UNTUK SUMBA
 
Melakukan sesuatu untuk pulau tercinta merupakan kerinduan anak-anak muda yang tergabung di Stube HEMAT Sumba. Dengan bekal pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti program lokal eksposur ke Stube HEMAT Yogyakarta, anak-anak muda ini mencoba berkarya untuk tanah kelahirannya. Sebagai pemula, bukanlah hal sederhana untuk tetap memelihara eksistensinya ditengah gempuran hambatan dan persoalan. Mereka tetap bersemangat untuk menjadi contoh dan untuk menularkan ilmu mereka.
 
Abner Liwar tergerak mengelola  hambaran tanahnya yang beberapa tahun terbengkalai penuh semak belukar dengan menanam sayuran. Dia mencoba mempraktekkan model penanaman lahan kering/pasir yang dia pelajari saat mengikuti ekposur ke Stube HEMAT Yogyakarta. Tanpa bergantung pada air hujan, Abner berhasil mengelola pasokan air untuk menyirami tanaman sayurannya. Panen perdana sayuran sawi dan tomat sudah dirasakan, meskipun demikian dia belum merasa puas. Abner optimis bahwa usaha yang dia rintis akan memberikan hasil yang lebih baik dimasa-masa mendatang. Dia juga bertekad mengembangkan teknik ini sekaligus menularkan kepada teman-temannya yang memiliki permasalahan sama berkaitan dengan pasokan air.
Beda halnya dengan Daniel, Anton dan Oktavianus yang tergerak menggeluti bambu sebagai tanaman yang banyak memiliki potensi yang selama ini belum banyak dilihat oleh orang-orang Sumba. Setelah mengikuti program eksposur ke Stube HEMAT Yogyakarta, khususnya yang berkaitan dengan bambu, mereka bertekad membuat sanggar bambu. Dibantu Pdt. Dominggus Umbu Deta di Kanjonga Bakul, mereka berhasil mewujudkan impian mereka.
 
Beberapa perangkat meja kursi sudah berhasil mereka produksi bahkan sudah ada yang memesan hasil kerajinan mereka. “Yang paling laku adalah nampan bambu di sini, kami menerima banyak pesanan. Dalam satu hari kami bahkan bisa memproduksi 10 nampan bambu. Saat ini kami sedang mengerjakan pesanan furniture dari warga gereja”, tutur Anton. Daniel yang dianggap sebagai tutor untuk kerajinan bambu di daerah tersebut menyampaikan bahwa model pengawetan yang mereka lakukan masih memakai model tradisional yakni model rendam, karena kalau seperti yang dilakukan di Yogya, mereka kesulitan mendapatkan bahan kimia sebagai pengawet.
 
Kerinduan teman-teman muda ini adalah bagaimana mereka bisa kaya inovasi sebagaimana produk-produk bambu yang mereka pernah lihat di Yogyakarta, namun mereka belum tahu teknik pembuatannya. “Apabila Stube HEMAT Yogyakarta membuka kesempatan, mereka ingin belajar lebih lanjut teknik inovasi produk”,  Pdt. Dominggus menyampaikan harapannya yang tentu saja menjadi pemikiran bersama untuk program kedepan.***

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 16 April 2013
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Ekonomi Kelautan

 

Masihkan Kita Berjaya di Laut?
 
 
Dua pertiga luas  dari negara Indonesia merupakan lautan yang memiliki banyak kekayaan didalamnya  dan  apabila diolah dengan baik, dapat menjadi modal penting dalam sektor ekonomi. Ekonomi kelautan penting dipelajari demi tujuan untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat pesisir pantai khususnya.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani, memandang permasalahan ekonomi kelautan penting untuk dipahami mahasiswa. Untuk itu Stube-HEMAT mengadakan Pelatihan Ekonomi Kelautan, yang diadakan pada 12-14 April 2013 di Hotel Adinda Parangtritis dengan Tema “Masihkah Kita Berjaya di Laut?”.
 
Seperti biasanya, acara diawali dengan Ibadah pembuka. Dalam Ibadah ini ada yang berbeda, karena ada drama yang menceritakan tentang seorang nelayan yang melarang anaknya menjadi seperti dirinya dan menginginkan dia menjadi PNS. Trustha Rembaka, S.Th, pengantar ibadah mengungkapakan bahwa disadari atau tidak, Tuhan Yesus memanggil nelayan sebagai muridnya, karena banyak orang tidak menganggap dan memperhitungkan posisi nelayan. Sekarang kita lihat tentang potensi kelautan Indonesia. Banyak sekali tantangan kelautan di Indonesia seperti pemerintah yang kurang peduli, masalah konservasi kelautan dan pencemaran, juga nelayan yang susah melaut.
 
 
Selanjutnya Bapak Geny Fitriadi Fendy memfasilitasi peserta dengan Pemetaan potensi kelautan Indonesia yang dimulai dengan fenomena bahwa negara kita kurang peduli dengan masalah kelautan. Indonesia adalah negara kepulauan yang dipisahkan oleh laut. Akan menjadi sangat rugi apabila kita sebagai orang Indonesia tidak mengetahui potensi laut yang dimiliki negara kita. Laut yang Negara kita miliki ini memiliki potensi yang besar apabila dapat kita kelola dengan baik, dan akan menjadi aneh apabila kita mengimpor dari negara lain. Apabila Indonesia memiliki pikiran laut yang hebat, kita akan kembali maju.
 

Sesi Pendekatan sosial budaya masyarakat kawasan pesisir pantai oleh Anselmus kaba, mengajak peserta untuk mengenal kembali potensi kelautan Indonesia, memetakkan dan menganalisis permasalahan kelautan Indonesia, serta mengetahui pengolahan Ekonomi Kelautan. Peserta diajak belajar menghidupkan kelima indra untuk dapat mengetahui dan merasakan keadaan lingkungan sekitar.
 
Bapak Ponijo, Ketua Paguyuban Nelayan Pantai Kuwaru Bantul mengungkapkan bahwa Pantai Kuwaru dulunya gersang, tetapi karena semangat nelayan pada tahun1992, mereka bisa merubah keadaan seperti saat ini yang hijau karena ditanami cemara udang. Tetapi pada tahun 1997 banyak pohon yang tidak dapat tumbuh karena terjadinya pasang air laut, dan mulai tahun 2000 Pantai Kuwaru banyak dikunjungi wisatawan sampai sekarang, bahkan pada tahun 2009 pengunjung meningkat sampai pendapatan karena wisatanya mencapai 20 juta per hari.
 
Potensi dan masalah kelautan Indonesia disampaikan oleh Prof. Sahala Hutabarat yang menjelaskan bahwa NKRI berbentuk kepulauan, maka kita harus kembali ke masa dimana kita adalah negara kepulauan. Tetapi faktanya pemerintah tidak konsisten sehingga perlu ditumbuh kembangkan nasionalisme agar dapat menyatukan  NKRI kembali seperti dulu lagi. Prof. Sahala menambahkan bahwa tujuan Nasional adalah memajukan dan menyejahterakan bangsa, sementara tujuan pembangunan Milenium Indonesia adalah memberikan kesadaran akan manfaat konsumsi ikan. Potensi laut Indonesia terkandung didalam Terumbu Karang, lamun, dan manggrove. Transportasipun dapat dikembangkan di laut. Hukum, perbankan, birokrasi, dan sinergi dengan sektor lain sampai saat ini belum sepenuhnya mendukung. Disini perlu diperhatikan bahwa kelautan dapat dikembangkan melalui bioteknologi, biofarmasi dan pengembangan wisata bahari.
 
Sesi Pemetaan Keamanan, Pelanggaran dan Penegakan Hukum di Wilayah Perairan disampaikan oleh Kompol Sugiarta dari Polisi Perairan dan Laut DIY. Beliau mengungkapkan bahwa Polairut memiliki tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dibidang perairan, dengan melakukan penindakan terhadap pelanggaran dalam radius 100 m dari bibir pantai. Beberapa contoh penindakan dibidang kelautan seperti pencurian pasir, pencurian ikan, penindakan terhadap kapal daerah lain masuk ke wilayah DIY, serta pemboman yang sering dilakukan nelayan akan merugikan induk ikan dan potensi lain yang ada dilaut.***

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook