Sumba: Berpetualang dan Rindu Refleksi Exploring Sumba (Susana Ulandari)

pada hari Minggu, 3 November 2019
oleh Stube HEMAT
 
 


Selasa, 9 Juli 2019 adalah pertama kali saya menginjakkan kaki di Sumba, salah satu pulau di bagian timur Indonesia. Saya mengingat satu hari sebelumnya saya begitu bersemangat menempuh perjalanan menggunakan travel dari Yogyakarta menuju Surabaya dan disambung pesawat dari Surabaya ke Waingapu. Sepanjang perjalanan dipenuhi rasa penasaran terhadap pengalaman baru yang akan saya temukan nanti di pulau itu.

Setelah hampir tiga jam dari Surabaya dan transit di Denpasar, pesawat mulai menurunkan ketinggian untuk mendarat di bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu. Dari jendela pesawat nampak pemandangan layaknya Afrika yang hanya saya lihat di televisi, kini terhampar di depan mata saya. “Wow, menakjubkan” terucap dari mulut ketika melihat bukit dan padang savanna yang seolah tak berujung.
 
Di Waingapu saya tinggal bersama keluarga Apriyanto Hangga, salah satu team Stube-HEMAT Sumba, yang membekali informasi awal tentang Sumba dan desa yang akan saya tinggali beberama minggu ke depan. Sesampainya di Tanaraing, ada sambutan yang begitu hangat dari keluarga ibu Pendeta Katrina Remihau, pendeta GKS Tanaraing. Keesokan harinya saya mengikuti ibadah dengan jemaat setempat yang menyambut dengan ramah dan hangat sekalipun saya datang sebagai orang asing. Para pemuda gereja pun menyambut dengan ramah, berkenalan, ngobrol, bercanda dan berfoto di tepi pantai.

Hari-hari berikutnya saya beraktivitas bersama masyarakat dan remaja setempat berkaitan dengan topik ‘Konselor Sebaya’. Menjadi konselor sebaya tidak mudah karena harus ada sikap saling percaya satu sama lain. Saya selalu menemukan hal baru dan menyenangkan dalam setiap pertemuan. Suatu ketika saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tapi mereka bilang semua yang diceritakan adalah hal baik mengenai saya. Jadi, saya berusaha belajar bahwa saya juga harus mempercayai orang lain dan menurut saya untuk mempercayai orang lain ini bukan sesuatu yang salah.

 
‘Konselor Sebaya sangat penting dipahami oleh remaja agar mereka bisa saling memberikan perhatian kepada teman-temannya. Ketika mereka saling terbuka satu dengan lainnya maka mereka dapat mengelola masalah mereka lebih baik, karena mendapat masukan dari teman-temannya. Selain itu, mereka akan bisa merangkul kembali pemuda gereja yang sebelumnya jarang ke gereja untuk bersemangat kembalaktif di lingkungan gereja, atau remaja yang jarang mengobrol dalam keluarga mau berkomitmen untuk lebih perhatian kepada keluarga masing-masing. Awalnya, kegiatan wirausaha tidak masuk dalam rencana saya tetapi saya mengusulkan ini ketika remaja gereja akan menggalang dana pemuda dan mereka bisa melakukannya.

Bagi saya, berada di Sumba, di tengah masyarakatnya bagai perjalanan untuk menemukan diri dan kehidupan, menemukan diri saya menjelajah, bertemu banyak orang, berbagi cerita dan canda tawa. Dalam perjalanan di Sumba terbersit rasa RINDU yang selalu mengikuti, rindu suasana rumah di Kalimantan Barat saat bersenda gurau dengan anggota keluarga, makan masakan mama, memijat bapak, bermain dengan keponakan dan bahkan berkelahi dengan saudara-saudara saya. Merekalah orang-orang penting di hidup saya dan saya ingin mereka bahagia seperti yang saya rasakan. Perasaan kebersamaan dan perhatian melalui konselor remaja inilah yang saya harap terus ada dan berdampak di tengah-tengah remaja di Sumba, khususnya Tanaraing.



  Bagikan artikel ini

Lembata Pangge Bale (Lembata panggil pulang) Refleksi Eksposur Lokal oleh Mariano Lejap

pada hari Sabtu, 2 November 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Liburan dan pulang kampung sepertinya sudah menjadi hal yang biasa-biasa saja bagi mahasiswa seperti saya yang merantau untuk kuliah di Yogyakarta. Ketika pulang sudah pasti akan terpengaruh kembali dengan atmosfir lokal sehingga rasa-rasanya seperti tidak ada perubahan pada diri saya. Aktivitas yang dilakukan setiap liburan hampir-hampir sama saja yaitu kembali ke kampung mengunjungi sanak saudara dan selebihnya berkumpul dengan teman-teman pemuda.


 
Liburan saya kali ini berbeda, sebagai peserta program Eksposur Lokal dari Stube-HEMAT Yogyakarta, dan anggota tim kerja Stube-HEMAT Yogyakarta saya tertantang untuk sesuatu yang berbeda. Liburan saya kali ini adalah liburan plus, plusnya adalah ikut berkontribusi untuk desa saya dengan membagikan ilmu komputer yang saya pelajari di kampus dan tentu saja hal ini membuat saya lebih dekat dengan masyarakat setempat dan lebih mengenal mereka.

Saat pertama kali saya menawarkan diri untuk membagikan ilmu kepada perangkat desa, mereka memberikan respon antusias, tetapi kesulitan ketika mulai menyusun agenda kegiatan pelatihan, dengan mengatakan tidak memiliki waktu kosong karena ada rapat perangkat desa, mengurus kebun dan acara keluarga. Namun demikian saya tidak menyerah. Untuk meyakinkan mereka, saya tetap menghubungi dan mengusulkan kegiatan diadakan di tempat terdekat mereka tinggal, meskipun saya harus melakukan perjalanan lebih jauh. Akhirnya kegiatan pelatihan komputer menggunakan Word, Excel dan Powerpoint berjalan dengan baik, meskipun hanya diikuti sebagian perangkat desa, tetapi ada bidan yang tertarik untuk mengikuti pelatihan.
 
Selain menjalankan pelatihan mengoperasikan komputer untuk perangkat desa, saya juga intens berkomunikasi dengan masyarakat mengenai usaha ekonomi masyarakat yang berasal dari sumber daya alam desa saya, salah satunya adalah budidaya rumput laut dan sarang walet. Dari dialog ini saya temukan hal baru tentang potensi desa saya dan kendala yang dihadapi masyarakat untuk mengembangkan rumput laut dan sarang walet. Ini wajar karena kenyatannya Sumber Daya Manusia di desa sangat terbatas, namun sebenarnya mereka punya kemauan untuk belajar.
 
Saya sebagai mahasiswa merasa puas dan bangga ketika saya bisa mengaplikasikan ilmu saya untuk perangkat desa dan mereka semangat untuk mempelajarinya. Saya mulai sadar dan prihatin karena tak sedikit anak muda dari desa saya yang sedang kuliah di perguruan tinggi dan disetiap liburan mereka kembali tetapi tidak memanfaatkan waktu dengan mentransfer ilmunya untuk masyarakat. Sebenarnya perangkat desa mengharapkan kontribusi positif dari mereka, para mahasiswa yang merantau untuk membangun desanya.
 
Semoga kegiatan saya ini bermanfaat dan kualitas perangkat desa semakin meningkat, khususnya dalam mengoperasikan komputer untuk melayani masyarakat dan menggugah kesadaran para mahasiswa dari desa saya untuk mengabdi kepada masyarakat melalui transfer ilmu pengetahuan mereka demi kemajuan bersama.

  Bagikan artikel ini

Merawat Toleransi di Sumba Timur Refleksi Exploring Sumba oleh Mutiara Srikandi

pada hari Jumat, 1 November 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Namaku Mutiara Srikandi, dari Bandung Jawa Barat, kuliah di jurusan Desain Interior, Institut Seni Indonesia  di Yogya. Aku mendapat kesempatan ke Sumba sebagai peserta program Exploring Sumba yang dilaksanakan Stube-HEMAT Yogyakarta. Ini pertama kali seorang peserta Muslim mengikuti seleksi dan dikirim oleh Stube ke Sumba. Tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta selalu ‘make sure, apakah aku yakin berangkat ke tempat dimana banyak babi dan anjing berkeliaran. Aku selalu memantapkan diri lagi “iya gapapa, aku yakin”. Lahaula, akan selalu ada jalan bagi kamu yang berusaha untuk kebaikan.
 
Sebelum menginjakkan kaki di Sumba banyak hal yang harus aku persiapkan dan pertimbangkan. Dari lingkungan, pola hidup, dan agama yang totally berbeda dengan budaya Jawa pada umumnya. Setelah mendapat informasi tentang tempat tinggal dan lingkungan yang akan aku tinggali nanti, aku menyiapkan mental dan fisik jauh-jauh hari sebelumya untuk memantapkan diri agar bisa menjalani program dengan baik.

Hari itu pun tiba. Dari jendela pesawat hamparan savanna yang terlihat dari ketinggian menyita perhatianku. Tak sabar rasanya aku untuk menjejakan kaki langsung di sana. Aku merasakan manuver pesawat yang berbeda ketika akan mendarat di bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, yang mungkin karena bandara berada di antara bukit-bukit. Petualangan di Sumba pun dimulai.

Di Sumba aku tinggal di rumah Elisabeth Uru Ndaya, salah satu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yang sudah kembali ke kampung halamannya, di desa Karunggu, kecamatan Nggaha Ori Angu (Nggoa), Sumba Timur. Tinggal di rumah tradisional Sumba menjadi pengalaman yang berkesan karena saat aku datang suhu udara sangat dingin, jadi kami harus menggunakan selimut empat lapis, namun aku menyukainya. Seorang ibu yang akrab dipanggil ‘mama Domi’ selalu telaten menanyakan menu makanan yang cocok denganku. Ia sempat ragu-ragu menyiapkan nasi jagung karena ia kuatir aku tidak mau. Ia mengatakan padaku kalau memasak ia memisahkan alat masak dari jangkauan hewan, karena anjing dan babi berkeliaran di sekitar rumah, bahkan ia menjelaskan dengan detil untuk meyakinkanku kalau makanan yang disajikan terjaga sesuai syariat Islam.

Sebagai orang baru di desa ini, tentu saja kehadiranku mengundang banyak perhatian orang sekitar karena tingkah lakuku yang lugu dan banyak bertanya membuat mereka tertawa dan menceritakan ke keluarga mereka yang lain. Meski aku muslim, aku tidak merasa terkucil malah mereka menerima dengan baik dan terbuka. Bahkan saat aku akan sholat mereka tulus mengambilkan air untukku meskipun daerah di situ kekurangan air. Aku juga datang ke gereja untuk memperkenalkan diri dan program kegiatan selama di Sumba. Berkenalan dengan warga secara resmi di gereja menjadi bagian penting karena gereja berperan di lingkungan sekitar dalam kehidupan masyarakat dan gereja bisa menjamah hidup masyarakat secara menyeluruh.

Beberapa kali aku mengikuti acara adat Sidi, Belis dan acara keluarga lainnya, ada yang unik ketika cium hidung, dengan menempelkan hidung di hidung sebagai ungkapan selamat datang dan kekerabatan. Tak kurang lima kali aku potong ayam secara syariat Islam, karena mereka menghargaiku sebagai muslim di acara tersebut. Makan dan bercengkerama satu sama lain dalam satu jamuan makan terlihat kontras saat aku makan ayam seorang diri di tengah-tengah orang yang menyantap hidangan daging babi. Awalnya orang-orang ragu, “Tidak apa-apa nona kami makan babi?” tanya salah seorang bapak yang ragu-ragu menyantap kudapannya. “Tidak apa-apa, ayo silahkan makan”, jawabku, sambil tersenyum padanya. Kami makan bersama dengan nikmat, menerima segala perbedaan dan menghargai satu sama lain. Mereka menghargaiku yang makan daging ayam seorang diri bahkan mereka tidak membiarkan satu tetes kuah daging babi mengenai piringku. Mereka menjaga dengan baik dan aku menghargainya, ada timbal balik yang indah yang aku lihat nyata.

Setiap hari minggu, aku di rumah menunggu keluarga pulang gereja, mendengar bunyi lonceng gereja dan merasakan atmosfer pagi hari yang begitu hangat. Setiap orang anak yang lewat mengucapkan salam “selamat pagi” sebagai sambutan pagi dan ini berulang ketika orang-orang lewat. Mereka ramah sekali, sembari melirikku sebagai tamu di desa itu. Aku senang berada di antara masyarakat setempat yang sukacita meski hidup sederhana. Kehangatan keluarga yang begitu terasa, membuatku iri karena aku tinggal di kota besar yang sudah individualistis. Di sini sanak saudara gotong royong menyekolahkan saudaranya, selain itu tidak ada rasa kuatir kekurangan makanan karena bisa singgah makan di rumah keluarga lainnya. Kebersamaan lain aku temukan ketika masyarakat berdendang bersama dengan tarian serempak yang biasa orang timur lakukan, masing-masing berusaha menyelaraskan gerakannya menjadi gerakan yang indah.

Perpisahan memang menguras air mata dan keluarga baruku di Sumba mengucapkan terimakasih karena aku mau menerima keadaan yang sederhana. Aku belajar banyak hal, dalam keberbedaan aku tidak merasa terasing atau sendiri, malah aku merasakan sambutan dan perhatian yang tulus. Budaya dan agama yang berbeda tidak menjadi pemisah malah menjadi sarana belajar dan membangun toleransi yang memperkaya pengalaman hidup. Semoga Tuhan menjaga kita selalu dalam kedamaian.


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook