pada hari Kamis, 30 April 2015
oleh adminstube

 

 
 
 

 




Arti Hidup
 
Refleksi Exploring Sumba
Petrus Maure, S.Kom
 
 
Bisa melakukan perjalanan sampai ke Sumba merupakan pergumulan hidup saya. Saya yakin itu bagian dari rencana Tuhan yang saya imani, tentang arti hidup yang sebenarnya, yakni ketika kita menjadi berkat bagi orang di sekitar kita.
 
 
Dalam perjalanan saya ke Sumba, saya belajar memaknai sebuah pengembaraan untuk mencari arti apa itu teman, sahabat, saudara sampai menjadi keluarga. Semua ada tantangan tersendiri terutama dari dalam diri sendiri, yaitu apa yang saya punya, akan saya berikan dalam bentuk apapun. Tantangan lain dari luar diri saya, ialah keadaan tempat, ruang, kebiasaan serta adat istiadat masyarakat Sumba, karena masing-masing wilayah berbeda dan memiliki aturan sosial tertentu. Semua tantangan itu saya lewati dengan selalu berpegang ajaran Tuhan yaitu “KASIH.”
 
 
Menurut pemahaman saya, ”Tuhan memberi arti hidup tidak hanya dengan duduk diam dan menganggap diriNya sebagai orang yang harus dipuji dan disembah. Apabila Dia hanya duduk dan banyak berbicara tanpa berbuat, itu berarti Dia bukanlah RAJA yang Baik.
 
Sebagai mahasiswa yang mendalami komputer di Yogyakarta, saya mengetahui beberapa hal mengenai program-program komputer lebih mendalam dibanding mahasiswa pada umumnya, terlebih teman-teman yang berada di pelosok. Sukacita dan ingin memberi lebih saya rasakan ketika saya belajar bersama dengan mereka.
 
 
Banyak harapan semoga yang memiliki kewenangan membuat kebijakan berpihak pada anak-anak muda daerah yang selalu berkeinginan maju, sehingga akses informasi boleh mereka dapatkan setiap saat untuk kemajuan pengetahuan, ilmu dan teknologi. Semua itu juga akan membawa dampak untuk kemajuan dan kesejahteraan masayarakat di Pulau Para Marapu yang mereka cintai.
 

 

Sebagai penutup cerita refleksi ini, saya akan mengutip sebuah kata bijak yang kurah lebih sebagai berikut, “Sebaik-baiknya orang ialah yang berguna bagi orang lain. Semoga teman-teman muda yang lain terus bersemangat mencari arti hidup masing-masing. Amin. (PM)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 April 2015
oleh adminstube

 


 


Rasanya Seperti
 
M i m p i
Refleksi Exploring Sumba
 
Elisabet N. Listiawati
 
 
 
Program Exploring Sumba mengantarkan saya ke Pulau Sumba. Selama 30 hari saya berada di Para Marapu sebutan untuk pulau Sumba atau juga Sandlewood. Saya tinggal di rumah tim Stube-HEMAT Sumba yakni Yulius Anawaru di kecamatan Wanggawatu, Waingapu, Sumba Timur.
 
 
Sampai di Bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu, Tim Stube HEMAT Sumba yakni ada Om Lius, Om Yanto dan Pendeta Domi sudah datang menjemput dan langsung menuju sekretariat Stube-HEMAT Sumba. Kesan pertama adalah betapa panasnya kota Waingapu ini. Setelah perkenalan singkat dengan tim kerja, saya diantar menuju rumah Om Lius. Saya senang karena disambut dan diterima baik oleh keluarga ini.
 
Di sinilah awal saya mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh selama kuliah dan membagikannya sehingga bermanfaat untuk orang lain. Sejujurnya, saya belum pernah melakukan perjalanan dan hidup di luar Jawa, tetapi niat dan tekad saya untuk belajar, dan melihat situasi serta keadaan di luar Pulau Jawa yang tentu berbeda membuat saya selalu bersemangat.
 

Saya belajar memahami bahwa tidak semua orang bisa menikmati kemudahan yang saya rasakan selama tinggal di Jawa, seperti makanan, akses jalan, transportasi, komunikasi, informasi dan lain sebagainya. Saya kaget dengan makanan yang biasa dikonsumsi oleh kebanyakan keluarga di Sumba yang rasanya hanya asin padahal saya tidak suka makanan asin, walaupun demikian tidak masalah, karena setiap kendala, masalah dan perbedaan itulah yang menjadi pembelajaran dan pengalaman yang dapat menjadikan saya menjadi pribadi yang lebih baik. Saya takjub dengan keindahan alam, dari padang sabana yang terbentang luas, pantainya yang indah dengan pasir putih air jernih dan bebatuan yang berdiri gagah mengawal pantai, bukit-bukit, air terjun hutan dan semua yang ada yang tidak akan pernah bisa saya jumpai kecuali di Sumba.
 
 
Saya juga banyak belajar dari teman-teman dan kini menjadi saudara-saudara baru untuk saya mulai dari budaya, bahasa, kebiasaan, tata krama, kuliner, pariwisata dan lain-lain. Saya sangat terkesan dengan penerimaan mereka atas apapun situasi dan kondisi yang terjadi, mereka tetap damai walaupun gaya bicara yang jauh berbeda, tetapi saya mengerti maksud mereka. Saya berusaha membagikan ilmu bidang saya sebanyak mungkin pada tiga kelompok perempuan tani di sekitar kota Waingapu. Kami sharing mengenai perkembangan pertanian di Sumba Timur di mana para petani belum melakukan pertanian berbasis modern seperti pertanian berkelanjutan, pertanian terpadu, pertanian organik sehingga sistem yang diterapkan cenderung konvensional. Mereka berharap bisa mengakses informasi dan membagikan kepada anggota kelompoknya.
 
 
Pengolahan pascapanen, tomat rasa kurma
di Kambera, Sumba Timur"
 
 
Pengolahan rempah (jahe) untuk minuman,
di Nggaha Ori Angu, Sumba Timur
 

Berbagi dengan teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) bagaimana membuat proposal dan penyusunan laporan sangat menyenangkan. Proposal harus ditulis dengan benar, jelas dan lugas. Hal ini sangat penting karena dengan kemampuan menulis proposal pengabdian masyarakat seperti ini akan membantu kita mengembangkan diri mengasah ilmu, dan bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Teman-teman mahasiswa ini penuh semangat, rasa ingin tahu mereka sangat tinggi, kreativitas dan kebersamaan mereka sehingga saya berharap mereka bisa memanfaatkan ilmu dan pengalaman yang telah saya bagikan dalam membuat program dan proposal. Saya juga berharap mereka memiliki daya juang yang tinggi dan semangat pantang menyerah hingga proposal mereka lolos.
 

Inilah pengalaman saya selama di tanah Para Marapu. Suka duka, canda tawa, tangis dan bahagia telah saya lalui dan saya sangat senang diterima di tengah saudara-saudara di Sumba yang sudah memberikan saya nama Sumba Rambu Anawulang. Mengikuti program Eksploring Sumba adalah pengalaman yang tidak ternilai dan tak akan pernah saya lupakan.** (ENL)

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 April 2015
oleh adminstube
Mahal Lingkunganku

 

Besar Peduliku Sejak Dini

 

 

 

 

 

 

Kami tak tahu apakah kepedulian lingkungan benar sudah dilakukan atau baru sekedar wacana? Yang kami tahu, kami telah melakukan hal sederhana seperti mengajarkan cara memilah sampah, melukis tong sampah dan membersihkan sungai. Sederhana bukan?

 

 

 

Kami adalah kelompok mahasiswa yang berinisiatif memperingati hari lingkungan hidup dengan serangkaian kegiatan. Mahasiswa yang tergabung di kelompok ini terdiri dari mahasiswa-mahasiswi beberapa sekolah tinggi dan universitas di Yogyakarta seperti, Institut Teknologi Yogyakarta (ITY), Universitas Sarjanawiyata, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa, dan Institut Seni Indonesia.

 

 

 

Rangkaian kegiatan diawali pada hari Selasa, 28 April 2015 dengan mengunjungi dan berbincang dengan pengelola dan anak-anak di Sekolah Sangar Anak Alam (Salam). Kedatangan kami bertiga puluh satu disambut bentangan sawah dan tawa ceria anak-anak Salam membuat semangat kami semakin membara.

 

 

 

Kami mulai memandu anak-anak secara mandiri karena para guru sedang ada pertemuan. “Yuk adik-adik, kita berkumpul, bermain dan belajar bersama,” Martius salah seorang dari kami mulai mengajak anak-anak berkumpul. Kami langsung berbagi tugas untuk berbicara tentang pentingnya menjaga lingkungan yang selanjutnya anak-anak diajak menghias tong sampah dengan mencat memakai kuas untuk menggambar sesuatu.

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan menggambar ini sangat menarik minat mereka, bahkan ada yang merengek minta menggambar banyak-banyak. Kami kemudian membagi mereka dalam dua kelompok. Dalam waktu 10 menit mereka harus berbagi dengan anak yang belum menggambar, sehingga semua anak bisa berpartisipasi menggambarkan sesuatu pada tong sampah. Beberapa anak terlihat menonjol, beberapa mengarahkan teman-temannya untuk mengambar, beberapa yang lain memberikan ide-ide keren buat teman-temannya bahkan ada beberapa anak yang menyemangati kawan-kawannya dengan caranya sendiri. Kepedulian itu memang harus ditumbuhkan sejak dini, dan kami akan mengajak banyak anak dari sekolah lain. *** (DT)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 20 April 2015
oleh adminstube
Timur Bergerak

 

Diskusi Manajemen Konflik di Kampus APMD

 

  

 

 

Pada tanggal 17 April yang lalu, kampus APMD kembali menjadi tuan rumah sharing manajemen konflik. Berjalannya kegiatan ini dimotori oleh Imanuel (APMD), Imelda (Stikes Bethesda), Fred (UGM) dan Rony (UGM). Mereka adalah para mahasiswa yang rindu menularkan pemahaman betapa pentingnya menjadi peacemaker di kalangan mahasiswa perantau pada umumnya. Oleh sebab itulah kegiatan ini digelar sebagai ajang untuk berbagi pengalaman bagaimana cara mengelola konflik dengan bijak. Dimulai pukul 17:00 WIB sampai 20:30 WIB, acara ini diikuti dengan penuh antusias oleh para mahasiswa yang hadir.

 

 

 

Acara sharing dimulai oleh Imel dengan mengajak peserta saling memperkenalkan diri kepada peserta yang lainnya. Bagi peserta yang baru bergabung dalam acara ini, Indah melanjutkan dengan memperkenalkan secara singkat apa itu Stube HEMAT. Untuk keakraban suasana, Nuel membawakan sebuah game keakraban dan mengawali proses jalannya diskusi.

 

 

Pendalaman materi tentang pemahaman dan identifikasi konflik disampaikan oleh Rony, dalam pemaparannya saudara Rony mengkaji bahwa sumber konflik bisa saja terjadi oleh karena sebuah kepentingan baik individu maupun kelompok yang diakibatkan perebutan sumberdaya alam. Bertolak dari masalah tersebut Rony mengajak peserta bersama sama memetakan dan menganalisis konflik tersebut karena sebuah analisa yang matang dan data yang cukup akan membantu proses mediasi kedua belah pihak yang bersengketa. Metode yang digunakan untuk membantu dalam memetakan konflik diambil dari analogi bawang bombai dan pohon konflik.

 

 

 

 

Selanjutnya Fred mendampingi role-play untuk memahami fase konflik dan cara penyelesaiannya. Pada role play yang dimainkan oleh tiga kelompok peserta inilah rumusan analisis dan daftar alternatif penyelesaian konflik digali dan diterapkan, hingga fase-fase yang terjadi dalam konflik bisa jelas dipahami oleh peserta. Adapun contoh kasus yang diangkat oleh masing masing kelompok adalah; konflik antara mahasiswa dan dosen yang sulit ditemui dengan berbagai alasan kesibukan, konflik antara orang tua dan kenakalan anak dalam rumah tangga, dan konflik pihak ketiga dalam hubungan sepasang kekasih yang berujung pada perkelahian.

 

 

 

 

 

Sharing pengalaman ini adalah wujud tindak lanjut dari hasil mengikuti pelatihan manajemen konflik yang dilaksanakan Stube-HEMAT Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Pada follow-up ini dihadiri oleh 25 mahasiswa dari berbagai kampus seperti Stikes Bethesda, UKDW, UKSW Salatiga, STMIK AMIKOM, ITY, UAD, UIN Sunan Kalijaga, STPMD APMD, INSTIPER, UGM, STTNAS, UWMY, UST, juga dihadiri oleh aktivis dari YMCA. Kegiatan selanjutnya dari kelompok follow-up ini adalah membahas tuntas proses advokasi konflik bersama LBH Yogyakarta. (PIAF)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 12 April 2015
oleh adminstube
Mengurangi Kekerasan

 

terhadap Lingkungan

 

oleh PMK Institut Teknologi Yogyakarta

 


 

  

 

 

 

Setelah mengikuti pelatihan manajemen konflik “Cerdas Kelola Konflik” dari Stube HEMAT Yogyakarta, beberapa peserta dari Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Institut Teknologi Yogyakarta yang dulu bernama Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) tertarik melakukan follow up “unik” yaitu pengurangan kekerasan terhadap lingkungan. Mengapa demikian? Menurut mereka, kekerasan tidak hanya dilakukan manusia kepada sesamanya, tetapi juga dilakukan manusia terhadap lingkungan, seperti buang sampah sembarangan bahkan tidak memilahnya. Seperti apa kegiatannya? Pilihan jatuh pada kegiatan edukasi lingkungan untuk anak usia Sekolah Dasar. Edukasi lingkungan sangat penting karena menjadi bekal pengetahuan dasar untuk memahami pentingnya alam bagi manusia.  Aksi insidental selama ini seperti bersih sungai tidak membuahkan hasil, seperti yang diungkapkan David, Sekretaris PMK ITY, “Saya kaget saat melihat sungai kotor lagi setelah kami bersihkan sehari sebelumnya”. Kebiasaan buang sampah di sungai ternyata tetap dilakukan bahkan sehari setelah aksi bersih sungai Gajah Wong menyambut hari bumi.

 

 

 

Keluguan Anak Menegur Orang Dewasa. Secara psokologis orang dewasa cenderung menurut jika ditegur anak kecil, contohnya seorang suami atau ayah belum tentu segera mematikan rokoknya jika ditegur istri, tetapi jika anaknya yang menegur pasti dia akan langsung mematikannya. Konsep seperti inilah yang diharapkan tumbuh di kalangan anak-anak, mereka melakukan dan berupaya menegur siapa saja yang melakukan kekerasan terhadap lingkungan.

 

 

 

Membuktikan Realita.  Pergerakan itu mesti didahului alasan filosofis mendasar maupun pembuktian bahwa anak kecil bisa menjaga lingkungan bukan isapan jempol. Maka siang itu Jumat (10/4/2015) dengan didampingi Tim Stube-HEMAT Yogyakarta, rombongan PMK ITY bersama beberapa mahasiswa dari FKIP UST juga mahasiswa APMD mengunjungi Sanggar Anak Alam (Salam), sebuah sekolah alternatif yang menitikberatkan pendidikan melalui media lingkungan. Anak-anak benar-benar diajari bagaimana menjaga lingkungan terbukti dengan adanya Bank Sampah dan biogas di sekolah tersebut. Teriknya matahari tidak menjadi halangan bagi para mahasiswa untuk berdiskusi dengan Ibu Wahya (Pengurus Salam). Para mahasiswa diperlihatkan sebuah film dokumenter yang menceritakan seorang anak kecil mengurangi timbunan sampah di sekitar SALAM, bahkan mereka juga melarang orang dewasa membuang sampah di situ dengan memasang  “hantu-hantuan” penjaga.

 

 

 

Kejadian itu menunjukkan sebuah unjuk rasa dibalut keluguan seorang anak, namun efektif membuat orang dewasa malu akan tindakan yang tidak ramah lingkungan. Materi diskusi siang itu cukup membakar semangat peserta, mereka menemukan kemenangan kecil, yang menjadi landasan mereka untuk memulai edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah dasar yang direncanakan akan berlangsung mulai bulan ini. Martius selaku ketua gerakan ini mengatakan, “Ternyata anak kecil saja sudah berani menjaga lingkungan, mengapa kita orang dewasa bisa kalah dengan mereka”. Keakraban siang itu ditutup dengan foto bersama, sambil berkomitmen masing-masing dalam hati akan terus berjuang menolak kekerasan terhadap lingkungan. (SRB)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 12 April 2015
oleh adminstube

 

Diskusi HIPMASTY dan Stube-HEMAT Yogyakarta
Konflik Rumit Pedagang Sayur
dan Peternak
di hall APMD, hari Sabtu, 11 April 2015
 
  
 
 
 

 

Berbicara konflik rasanya tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi apakah kita tahu dan mengerti serta memahami apa yang dimaksud dengan konflik? Ada banyak konflik yang terjadi di Indonesia, konflik antar suku, antar kelompok, antar agama dan antar berbagai elemen masyarakat lainnya. Untuk itulah anak muda harus banyak belajar berkaitan permasalahan seputar konflik dan penanganannya seperti yang dilakukan oleh Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Sumba Timur di Yogyakarta (HIPMASTY) untuk melakukan sharing dan diskusi lebih mendalam tentang, ‘Apa itu konflik, apa penyebabnya dan beberapa hal lain berkaitan dengan konflik.’
 
Diskusi yang diadakan di hall kampus APMD (11/04/2015) semakin menarik ketika tim Stube-HEMAT Yogyakarta, Yohanes membawakan role-play kasus yang terjadi di kampung halaman yang diangkat dari kehidupan teman-teman Sumba. Konflik terjadi ketika seorang petani sayur bernama Amran tiba-tiba menaikan harga jual sayurnya dua kali lipat sehingga membuat warga geram dan tanpa menunggu lama seorang peternak bernama Jiron melepaskan kuda dan kerbaunya yang memakan habis sayur-sayuran milik Amran. Selama proses role-play peserta yang hadir dibagi menjadi tiga orang, ada yang berperan menjadi Jiron, Amran dan seorang mediator.
 
Kurang lebih dua puluh tiga orang terlibat aktif dalam role-play tersebut dan masing-masing kelompok memperoleh waktu tiga puluh menit untuk melakukan tugasnya. Beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari role-play yang dimainkan adalah:
  • Dibutuhkan skill atau kecakapan untuk melakukan mediasi konflik.
  • Pentingnya sikap yang bersahabat dan hangat terhadap kedua belah pihak sebagai cara pendekatan sekaligus mendapat kepercayaan dari setiap pihak yang berkonflik.
  • Selama mediator belum mendapat kepercayaan dari salah satu yang berkonflik, maka dia tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai mediator.
  • Setiap pihak yang berkonflik harus merasa dimenangkan dalam konflik sehingga mudah untuk mencapai kesepakatan.

 

 

 

Di akhir kegiatan, Yohanes menyampaikan bahwa, “Konflik seperti apapun, selama apapun, tidak akan bertahan jika mediator mengetahui dan mampu mengidentifikasi konflik serta memberikan solusi kepada pihak yang berkonflik”. Dari ungkapan dan raut wajah para peserta, mereka terlihat gembira dan belajar banyak hal dari kegiatan malam itu. Semoga bermanfaat dan mengembangkan skill memediasi konflik. (LEA)
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook