Tantangan Kebersihan & Sampah India-Indonesia

pada hari Kamis, 28 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Standar dan capaian kebersihan setiap kota dan tempat relatif berbeda, demikian juga standar kebersihan satu negara juga berbeda dari negara lain. Singapura yang juga dikenal dengan negeri seribu denda misalnya, menerapkan disiplin kebersihan yang sangat ketat. Berbeda dengan Indonesia atau juga India, tempat South to South Exchange Program ini dilakukan, memiliki standar kebersihan yang berbeda. Standar itu dipengaruhi oleh aturan hukum dan kebiasaan dari warga setempat dalam memandang lingkungannya. Sampah yang berserak tidak selalu dipandang buruk oleh warga tetapi dipandang sangat menjijikkan oleh warga yang lain. Di Indonesia, pemerintah menetapkan standar bagi capaian kebersihan dan pemeliharaan lingkungan suatu kota dengan penganugerahan Adipura atau Kalpataru bagi kota yang berhasil mencapai standar tersebut.
 
Empat kota yang kami kunjungi selama melaksanakan program pertukaran ini adalah Bangalore, Mysore, Ooty dan Hosur memiliki ciri masing-masing dalam kebersihan. Bangalore dan Ooty memiliki tantangan untuk menata dan mengelola sampah yang berserakan. Tantangan ini biasa dihadapi oleh kota-kota besar seperti di Indonesia misalnya, Jakarta atau Surabaya.  Usaha tersebut bisa dilakukan dengan memperbanyak tempat sampah bertutup di tempat-tempat umum dengan dikuras berkala. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta misalnya, harus membentuk unit PPSU (Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum), sementara warga Kota Yogyakarta harus berswadaya membayar pengangkut sampah pagi hari, dan pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara harus mengeluarkan Peraturan Daerah untuk mengatur kebersihan di wilayahnya. Pengelolaan sampah ini juga menjadi masukan bagi teman-teman pemuda Indonesia yang sebagian warganya masih  membuang sampah di sungai.
 
Kotoran hewan baik itu yang berupa kotoran burung, anjing, kuda, ataupun sapi juga menjadi tantangan tambahan bagi empat kota ini. Kotoran kuda beresiko pada kesehatan karena kuda tertentu yang terinfeksi bakteri akan menularkan jenis cacing seperti cacing pita, kotoran burung di sebagian bangunan dan tempat banyak dijumpai di Bangalore, kotoran kuda di Ooty, dan kotoran sapi di Hosur. Memang selama teman-teman di India, belum mendengar cerita soal resiko penyakit akibat kotoran ini namun tidak ada salahnya bila kita mewaspadai hal tersebut.
 
Perbedaan pandangan soal kebersihan tidak menutup kemungkinan untuk bersatu dan berbagi cerita. Di situlah kami belajar tentang bagaimana mengelola lingkungan agar sesuai standar yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan.
 
Di Indonesia, kebersihan bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Pemerintah senantiasa bergumul untuk mencapai solusi pengelolaan kebersihan yang terbaik. Kaum muda juga diharapkan berpartisipasi untuk mengelola sampah yang dihasilkan sendiri. Di India, orang tidak banyak menggunakan plastik bahkan ada pengawasan khusus berkaitan dengan sampah plastik ini, seperti terlihat di Kebun Binatang Mysore, dimana setiap pengunjung harus menunjukkan botol plastik kemasan yang dibawa dan dipastikan tidak dibuang di area kebun binatang tersebut. Indonesia sepertinya lebih longgar dalam menggunakan aneka kemasan plastik dibanding India. Dari situ terlihat bahwa Indonesia juga punya pekerjaan rumah yang berat untuk soal kebersihan dan sampah plastik.
 
Syukur atas kesempatan yang diberikan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta. Pengalaman untuk berjumpa dengan teman-teman pemuda dari kebudayaan berbeda tentu menambah pengalaman tersendiri dan membuat kami semakin berani dalam mengembangkan daerah. Hal baru akan membuat semangat baru yang bisa dibagikan pada teman-teman pemuda di Indonesia. (YDA).

  Bagikan artikel ini

Anak Muda India dan Permasalahan Sosial

pada hari Rabu, 27 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
“You are what you read” sebuah ungkapan yang ingin menyatakan bahwa dengan membaca maka seseorang akan berwawasan luas dan tahu berita serta isu-isu terbaru, sebaliknya tanpa membaca maka seseorang akan tidak tahu apa-apa. Di tempat asal saya, Sulawesi Tengah, sangat jarang menemukan anak muda yang mau terlibat dengan kegiatan dan isu-isu sosial yang terjadi di lingkungan mereka. Kalaupun ada, tidak jauh dari aksi demonstrasi menuntut sesuatu tanpa diikuti aksi nyata menjawab permasalahan untuk kebaikan masyarakat.
 
Ketika mendapat kesempatan untuk mengikuti program pertukaran ke Bangalore-India, saya sangat takjub dengan anak mudanya yang bisa dibilang sangat peduli dengan permasalahan sosial dengan melibatkan diri dan tergabung dalam beberapa NGO seperti SCMI(Student Christian Movement of India), YMCA (Young Men’s Christian Association), dan YWCA (Young Women’s Christian Association).
 
Ketika bergabung dengan organisasi, anak muda-anak muda ini tidak hanya belajar mengenai isu-isu sosial dan mengikuti pelatihan, tetapi keterlibatan mereka akan mengembangkan soft-skill yang tidak didapatkan di sekolah maupun universitas. Selain itu, ketika bergabung dengan NGO, ada beberapa program yang dilakukan di luar daerah tergantung dengan level program (regional, nasional maupun internasional). Hal ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk mendapat pengalaman berkunjung ke banyak tempat melakukan pelayanan dan menambah relasi.
 
India adalah negara plural seperti Indonesia yang tersusun dari beberapa daerah, suku, bahasa daerah, juga budaya yang berbeda. Kesempatan berpergian ke tempat lain dan bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda adalah hal penting untuk dilakukan, supaya saling mengenal satu sama lain, memperkuat rasa persaudaraan dan memperkecil kecurigaan.
 
Pengetahuan dan kecilnya minat dari mayoritas anak muda Indonesia untuk bergabung dengan organisasi menjadi salah satu faktor mengapa banyak anak muda yang kurang peduli dengan lingkungan sekitar atau pun permasalahan yang sedang terjadi. Manfaat bergabung dengan organisasi juga memberi nilai tambah ketika seseorang memasuki dunia kerja karena saat ini tidak hanya ijazah dan nilai yang dilihat, melainkan juga pengalaman dan aktivitas di luar yang dilakukan. Ada banyak organisasi dengan program yang bisa diikuti sesuai dengan minat, seperti hak asasi manusia, pemberdayaan pemuda, pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus, komunitas lintas agama, peduli lingkungan, dll.
 
Berkaca dari SCMI dan anak muda di India, perlu diakui bahwa kepedulian anak muda di Indonesia tentang permasalahan sosial di sekitar masih perlu ditingkatkan. Untuk itu generasi muda penerus bangsa perlu terus didorong mengikuti pelatihan dan bergabung dengan organisasi yang akan memberi tambahan wawasan untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan yang ada. (JMNP).

  Bagikan artikel ini

Berlalu-lintas di Bangalore dan Sekitarnya

pada hari Selasa, 26 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Menyusuri jalan seputaran kantor SCMI hingga gedung parlemen India di Bangalore menjadi pengalaman tersendiri bagi kami semua rombongan dari Stube HEMAT Indonesia. Bagi yang baru pertama datang ke kota ini akan merasa was-was baik ketika berjalan atau pun menyeberang karena begitu padatnya kendaraan lalu lalang di sepanjang jalan di kota ini. Bunyi klakson yang riuh terdengar tak kenal berhenti, menambah hiruk pikuk suasana lalu lintas yang padat tersebut. Bunyi klakson mereda ketika kami mengunjungi kota-kota kecil di sekitar Bangalore, India. Memang setiap negara memiliki cara tersendiri dalam mengatur sistem transportasinya. Departemen yang diberi tanggung jawab mengatur transportasi, mengemban tugas yang tidak mudah mulai dari merancang, mengatur, mengawasi, dan mengendalikan. Peraturan lalu lintas menjadi tolak ukur apakah jalur kendaraan berjalan mulus atau tidak.
 
Bangalore memiliki transportasi yang cukup padat dan kurang teratur meskipun pemerintah setempat terus berusaha mengatasi permasalahan ini. Banyak regulasi dikeluarkan untuk memperbaiki sistem transportasi, seperti setiap kendaraan komersial wajib memiliki fitur ABS (Anti-lock Braking System), gelar razia bagi pengemudi yang mabuk, dan memasang mesin pengukur batas kecepatan di berbagai tempat. Transportasi antar kota dan antar provinsi pun menjadi jauh lebih baik dengan dibangunnya jalan-jalan tol sebagai penghubung.
 
Beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa pengguna kendaraan di India mengalami kenaikan dengan seiring kenaikan pendapatan negara dari pajak kendaraan. Pemerintah juga menerapkan kenaikan pajak untuk mobil mewah, mobil besar dan sport utility vehicles(SUV) pada tahun 2017. Peraturan pembelian dan pembayaran pajak kendaraan pun tidaklah sulit. Melalui sistem Registration Card (RC) atau STNK, berlaku untuk 15 tahun, jadi pemilik tidak perlu memperpanjang tiap tahun.
 
Diakui banyak orang bahwa kota-kota besar seperti New Delhi, Mumbai dan Bangalore, memiliki penataan jalan yang lebih baik dibandingkan kota-kota kecil. Sikap peduli terhadap peraturan pun lebih besar ditunjukkan oleh orang-orang di kota seperti berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, meskipun bunyi klakson masih terdengar di sana-sini, sayangnya kesadaran memakai helm saat berkendara masih kurang diperhatikan. 
 
Pengalaman melakukan perjalanan dari Bangalore ke Ooty, sebuah destinasi di daerah pegunungan selatan Bangalore menunjukkan bahwa transportasi publik seperti bus umum banyak tersedia dengan fasilitas bus yang memadai dan nyaman. Kereta api, bajaj, dan taksi online pun cukup banyak tersedia untuk memudahkan masyarakat mendapat fasilitas transport dengan harga terjangkau serta banyak pilihan.
 
Mengamati dan berhati-hati adalah poin utama bagi setiap orang yang sedang mengunjungi negara orang lain terutama saat berlalu-lintas. (ITM).

  Bagikan artikel ini

Menu Sehat Ala India Bangalore – Mysore – Ooty – Hosur

pada hari Senin, 25 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
Kesempatan berkunjung ke India tidak hanya memberi kesempatan belajar program kegiatan mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta dan SCM India, tetapi juga mengetahui kerajinan dan kuliner yang ada di India, khususnya kuliner yang ada selama di Bangalore, Mysore, Ooty dan Hosur. Pengetahuan awal tentang makanan di India adalah makanan yang khas dengan rempah-rempah. Hal ini tidak berbeda dengan kenyataan yang ditemui selama di India, tetapi yang membedakan adalah aroma dan rasa makanan yang cukup asing dengan makanan yang biasa dikonsumsi di Indonesia.
 
Makanan di India pada umumnya vegetarian, tanpa daging dan lebih banyak sayuran dan kacang-kacangan. Bisa jadi ini pengaruh dari tradisi Hindu sebagai budaya dan agama mayoritas India. Awal pengalaman dengan kuliner India adalah Dosai, makanan sejenis serabi tawar yang dibuat dari tepung beras fermentasi, sebagai sumber karbohidrat, dilengkapi dengan Masala, yang terbuat dari kentang yang direbus dan ditambah rempah-rempah.

Nasi seperti di Indonesia memang ada, dimasak dengan cara dikukus ditambah dengan kayu manis, ketumbar, kapulaga dan biji-bijian lain. Olahan lain dari beras yakni dengan cara direbus dengan santan atau dengan kunyit. Makanan lainnya yang mengandung karbohidrat adalah Idli, makanan yang mirip dengan apem atau bakpao yang terbuat dari tepung beras. Nasi di India juga bisa diolah menjadi nasi Briyani dari beras Basmati yang bentuknya panjang dan cenderung kering.

Sumber protein diperoleh dari sayur dan kacang-kacangan yang diolah dengan santan atau dengan rempah. Beberapa jenis kacang yang diolah adalah semacam kacang kedelai, lentil dan kacang panjang. Selain itu ada daun-daunan sejenis ubi yang diolah menjadi sayur seperti rendang. Sebagai penyegar, tersedia yoghurt susu ditambah mentimun, tomat dan bawang merah yang diolah menjadi semacam acar. Ini memang menjadi penyegar saat makan tetapi belum tentu cocok bagi beberapa orang.
 
Minuman Chai tea merupakan minuman sehari-hari di India. Sebenarnya ini bukan teh biasa layaknya di Indonesia, tetapi lebih pas disebut susu direbus dan ditambah teh. Setiap berkunjung ke suatu tempat sajian minumnya adalah teh susu meskipun juga ada minuman lain seperti kopi, susu, air mineral dan lainnya. Ooty merupakan kawasan perkebunan teh di India bagian selatan dan memproduksi teh dengan kualitas eksport. Bakwan Jagung dan Ladu yang terbuat dari tepung, susu dan madu, serta aneka manisan buah bisa ditemui di daerah ini.

Cara penyajian makanan pun menjadi hal yang menarik. Selain sendok garpu jarang digunakan, menikmati makan dengan piring datar untuk masakan kare, piring/mangkok aluminium, bahkan dengan alas daun pisang yang bisa dipakai ulang, memperkaya pengalaman para mahasiswaPenggunaan daun pisang untuk sajian makanan merupakan salah satu konsep untuk kembali ke alam.
 
Selain mengenal dan menikmati makanan dan minuman yang benar-benar baru, ada tambahan pengetahuan tentang komposisi makanan dan minuman dari jenis-jenis bahkan makanan dan rempah-rempah vegetarian yang menyehatkanPerlu diakui bahwa Indonesia yang kaya jenis tanaman dan rempah-rempahnya, belum semuanya termanfaatkan sebagaimana diolah dan disajikan di India. Pengalaman ini menjadi dorongan untuk mencoba menemukan sumber-sumber rempah dan makanan yang sehat bagi masyarakat di Indonesia. (Trustha Rembaka).

  Bagikan artikel ini

Menelusuri Jejak   Nenek Moyang Sumba di India

pada hari Minggu, 24 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 

Buku sejarah “Masyarakat Sumba dan Adat Istiadat”, (1976) tulisan Umbu Hina Kapita mencatat bahwa jaman dulu beberapa orang India tinggal dan menetap di Sumba bahkan hidup berdampingan dengan masyarakat Sumba. Bahkan bisa dikatakan sebagian besar orang Sumba berketurunan India. Sejarah juga mencatat bahwa pohon lontar yang saat ini banyak tumbuh di Sumba berasal dari India. Buku tersebut meyakinkan saya bahwa Sumba memiliki keterhubungan dengan India. Melalui Stube-HEMAT Yogyakarta, saya diberi kesempatan untuk mengikuti program South to South Exchange Program ke India dari tanggal 19 Desember – 28 Desember 2017. Program ini memberi kesempatan saya sebagai orang Sumba untuk menelusuri jejak nenek moyang kami sebagaimana disebutkan dalam buku sejarah tersebut.
 
Semua berawal dari kota Bangalore yang selanjutnya bergerak ke kota-kota kecil lainnya, tempat-tempat peradaban hingga ke pedesaan dan berdialog dengan masyarakat setempat. Banyak pengalaman menarik yang didapatkan, namun ada satu hal unik yang saya lihat dan amati dari kebiasaan dan gaya hidup orang-orang yang ada di sana. Mulai dari bentuk fisik, cara berpakaian, hingga cara berdialog dengan orang lain. Secara fisik, rata-rata orang India berhidung mancung, berkulit gelap kehitaman dan rambut bergelombang sebagaimana pada umumnya ciri fisik orang Sumba. Cara mereka bicara pun mirip dengan orang Sumba, bersuara tegas dan terkesan sedikit galak. Cara berpakaian sama persis dengan yang dilakukan kaum laki-laki di Sumba yakni memakai kemeja sebagai atasan dan memakai sarung atau kain yang dililit di pinggang sebagai bawahan dan ada syal yang diikat di kepala, sementara untuk kaum wanita memiliki perbedaan sedikit, yakni kaum wanita India memakai Sari, di wanita Sumba memakai Sarung. Di bidang pertanian, sebagian masyarakat India memiliki tanaman pohon lontar sama seperti di Sumba. Cara memanfaatkannya pun juga sama yaitu untuk kerajinan, gula lontar, minuman lontar, dan jaman dulu helai daun lontar dijadikan sebagai lembaran untuk menulis. Bahkan ornamen dinding corak kuno memiliki kemiripan dengan memakai simbol-simbol binatang seperti kuda, burung, buaya, dan udang.
 
Bagaimana mereka bisa sampai ke Sumba dan untuk apa? Buku yang berjudul “Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia” terbitan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI, 2013, menuliskan bahwa sebagai Negara maritim, perjalanan sejarah Indonesia di masa lampau terkait erat dengan aktivitas pelayaran dan perdagangan laut yang berkembang sejak awal abadMasehi. Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa komoditas perdagangan seperti kapur barus, kayu manis, lada, cengkeh, sangat diminati para pedagang asing sejak lama. Hal ini berakibat bandar-bandar pelabuhan nusantara ramai dikunjungi pedagang asing seperti, Cina, India, Arab, juga pedagang Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Hampir semua daerah di Indonesia dimasuki oleh para pedagang asing dan yang sering masuk ke wilayah Nusa Tenggara yaitu pedagang dari India dan Cina yang dilakukan sejak berdirinya kerajaan Majapahit. Kebutuhan akan kuda-kuda yang berkualitas untuk Majapahit didatangkan dari pulau Sumbawa sejak abad ke 15. Pelayaran dilakukan dengan menyusuri laut Cina Selatan melalui selat Malaka menuju pulau Jawa atau Kalimantan dan kemudian bergerak ke arah Timur menyusuri laut Jawa menuju ke Bali, Lombok dan terus ke Kupang hingga ke Timor termasuk Sumba untuk mencari kayu cendana dan ditukarkan dengan barang-barang dari luar seperti kain Gujarat, barang-barang logam dan manik-manik.
 
Sejarah telah mencatat perjalanan orang India ke Indonesia dan meyakinkan saya bahwa memang benar-benar ada hubungan antara budaya India dan Sumba. Saya termotivasi untuk tetap membina jejaring dengan teman-teman di India. (Elis)

  Bagikan artikel ini

Menuju Satu Bahasa Persatuan India

pada hari Sabtu, 23 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
 
 
Tidak diragukan lagi, India memiliki keragaman yang luar biasa, dengan luas areal terbesar no 7 di dunia dan terbesar kedua berdasarkan populasinya, India memiliki berbagai bahasa yang tersebar di 29 daerah utama di India dengan lebih dari 1600 bahasa lisan dengan bahasa resmi yang berbeda di setiap daerah. Ada total 23 bahasa resmi yakni; Assam, Bengali, Bodo, Dogri, Inggris, Gujarati, Hindi, Kannada, Kashmir, Konkani, Maithili, Malayalam, Marathi, Meitei (Manipuri), Nepali, Odia, Punjabi, Sanskerta, Santali, Sindhi, Tamil, Telugu, dan Urdu.

Sangatlah indah dilihat dari sisi kekayaan bahasa dan budaya dalam satu negara. Dengan adanya pluralitas ini, orang-orang mau tidak mau dilatih untuk lebih toleran pada orang lain. Namun terkadang dengan terlalu banyaknya bahasa hanya di satu negara, muncul segmentasi di satu negara, kurangnya persatuan dan rasa patriotisme, juga ada banyak kesalahpahaman setiap kali percakapan terjadi dalam kehidupan sehari-hari.


Saat ini pemerintah India terus mengkampanyekan penggunaan bahasa Hindi sebagai satu bahasa resmi. Keputusan memilih bahasa Hindi dengan beberapa pertimbangan bahwa bahasa ini mudah dan sederhana, juga memiliki banyak pengguna di India. Di sisi lain, pemerintah juga tidak ingin multibahasa di India menjadi hilang. Dengan menggunakan bahasa Hindi, pemerintah berharap bahwa orang akan mudah mempelajari bahasa itu sendiri, orang-orang akan dapat dengan mudah saling berbicara tanpa kehilangan bahasa mereka sendiri. Keputusan menjadikan bahasa Hindi sebagai bahasa resmi pasti telah dipertimbangkan sisi baik dan buruknya sebelum akhirnya benar-benar dipublikasikan. Dengan adanya bahasa Hindi sebagai bahasa resmi India tidak berarti bahwa mereka harus selalu menggunakan bahasa Hindi. Mereka dapat selalu memiliki kesempatan berbicara dengan bahasa daerah mereka sendiri, sementara untuk percakapan dengan orang-orang dari daerah yang berbeda, mereka bisa saling berbicara dengan bahasa Hindi dengan mudah.
 
Namun, banyak orang di India tidak dapat benar-benar menerima keputusan ini. Ada banyak alasan untuk menolaknya seperti kekuatiran tentang kesulitan dalam belajar bahasa Hindi, kekuatiran tentang kepunahan bahasa mereka sendiri, dan lain-lain. Sebagai contoh, banyak orang di daerah Tamil Nadu menolak menggunakan Bahasa Hindi sebagai bahasa resminya, karena mereka berpikir bahwa bahasa Tamil sebagai bahasa resmi mereka sekarang, sudah jauh lebih tua dibandingkan dengan bahasa Hindi. Mereka sudah menggunakan bahasa Tamil dalam waktu yang sangat lama, dan mereka sama sekali tidak berpikir untuk mengubahnya. Mereka juga berpikir bahwa dengan menggunakan bahasa Hindi, bahasa Tamil akan berada dalam bahaya kepunahan.
 
Sampai saat ini pemerintah India terus mengkampanyekan penggunaan bahasa Hindi sebagai bahasa resminya. Dengan menggunakan satu bahasa resmi, kesalahpahaman akan berkurang, sistem pendidikan akan jauh lebih efisien, rasa persatuan, patriotisme, dan cinta tanah air di kalangan masyarakat India pun akan meningkat, dan banyak manfaat lain. Mungkin kesadaran masyarakat akan meningkat dengan kampanye yang lebih menarik, seperti penggunaan baliho, papan jalan, dan semboyan-semboyan yang menunjukkan bahwa memiliki satu bahasa resmi bisa membawa begitu banyak manfaat, seperti yang kami rasakan di Indonesia. Selamat berproses teman-teman di India menuju satu bahasa persatuan. (Getza).

  Bagikan artikel ini

Teologia Dalit: Wujud Cinta Pada Sesama (South to South Exchange Program to SCM India)  

pada hari Jumat, 22 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
Mengunjungi India dengan segala macam kompleksitasnya mengantar kembali ingatan akan sebuah pemikiran teologis yang berpihak pada kaum terpinggir, tidak diakui dan bahkan tidak dianggap ada. India, dengan latar belakang sejarah yang amat panjang, wilayah yang sangat luas, dan jumlah penduduk yang amat besar mencapai hampir 1,5 milyar, menjadi karakteristik dari negara ini. Mengurus wilayah yang luas dan berpenduduk banyak, sungguh hal yang tak mudah, lebih-lebih jumlah penduduk miskin tercatatmencapai 70%. Kesulitan juga harus dihadapi dengan struktur masyarakat yang kompleks karena adanya pembagian kasta sejak ratusan tahun yang lalu sampai saat ini, yang membagi kelompok masyarakat kedalam kasta Brahma (kaum elit), Ksatria (pegawai), Waisya (pekerja), dan Sudra (kaum jelata dan miskin).

Teologia Dalit merupakan pergumulan gereja di India yang amat panjang setelah melihat kemiskinan yang terstruktur yang amat sulit ditembus karena struktur kemiskinan dimasukkan dalam ajaran keagamaanBanyak yang merasa tidak nyaman dengan lahirnya pemikiranTeologia Dalit karena kuatir pemikian ini akan merobohkan ajaran agama yang sudah menjadi doktrin kaku bahkan doktrin harga mati. Sebagaimana diketahui bersama bahwa budaya dan agama menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sebagaimana “Hindu adalah India dan India adalah Hindu”Danbagi saya Teologia Dalit adalah Theologia in Locoatau Local Dalit Christian yang revolusioner, yang dilakukan melalui proses penyadaran. Teologia Dalit berbeda dengan Teologia Pembebasan di Amerika Latin yang menggunakan metode frontal, melawan dengan segala macam cara untuk merobohkan penguasa atau sistem yang menciptakan ketidakadilan.
 
Teologia Dalit terilhami dari kedatangan misi Kristen yang datang ke India seperti Portugis, Belanda, khususnya Inggris. Walaupun mereka menjajah, tetapi peranan gereja yang ikut ke India sangat dirasakan, khususnya pelayanan diakonia, seperti sekolah, rumah sakit dan panti asuhan, ditambah hadirnya ibu Theresa di Kalkuta. DasarTeologia Dalit diambil dari Lukas 4:18-19, yang berbunyi “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
 
Hasil dan buahTeologia Dalit sangat terasa di India, seperti; demokrasi, peningkatan persamaan  hak, keberhasilan masyarakat kelas bawah dalam dunia pendidikan dan selanjutnya menjadi agen perubahan masyarakat menuju hal yang lebih maju. Salah satu bukti nyata Teologia Dalit adalah SCMI.
 
Di Indonesia, sekitar 40 tahun yang lalu juga muncul theologia yang hampir sama dengan Teologia Dalit yaitu Teologia Keseimbangan yang didasarkan dari 2Korintus 8:11-15 yang berbunyi, ”11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. 12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. 13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. 14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. 15 Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."
 
Salam cinta dan damai untuk India. (Bambang Sumbodo).

  Bagikan artikel ini

Meraup Inspirasi Di India (South to South Exchange Program to India)

pada hari Kamis, 21 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
India merupakan salah satu negara tetangga Indonesia yang memiliki perkembangan teknologi informasi yang pesat yang diperhitungkan dunia. Hubungan kerjasama dan solidaritas antar kaum muda kedua Negara yang terletak di kawasan Asia ini diharapkan bisaterjalin dan memberi kontribusi pada Negara masing-masing demi tercapainya tujuan pembangunan internasional, sebagaimana tertuang dalam SDGs, Sustainable Development Goals. Tentu saja, Negara dengan penduduk terbesar no 2 dunia ini juga memiliki permasalahan sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakatnya.

South to South Exchange Program to India yang didukung sepenuhnya oleh Ecumenical Scholarship Program-Brot-fuer-Die Welt, Jerman,pada 19-27 Desember 2017 dilaksanakan untuk mendukung hal-hal tersebut di atas, khususnya memfasilitasi bertemunya kaum muda dari dua negara tersebut. Delapan peserta dari Indonesia yang terdiri dari,Bambang Sumbodo, Ariani Narwastujati, Trustha Rembaka, Yohanes Dian Alpasa, Indah Theresia, Elisabeth Uru Ndaya, Jimmy Nover Putu dan Anggita Getza Permata mengikuti kegiatan diskusi dan eksposur bersama Student Christian Movement di India(SCMI).
 
Bangalore,
Kota ini menjadi titik awal dari semua kegiatan mulai daripenyambutan, pengenalan satu sama lain, dan sesi Rev. Godson, pendeta Gereja Methodist di India, yang meneliti manfaat pohon palem/lontar (B. Flabellifer).Pohon ini dikenal sebagai tanaman tuak, lontar atau siwalan di Indonesia. Dalam dialog dengan mahasiswa, Stube HEMAT memaparkan kegiatan dan dinamika melayani anak muda Kristen di Indonesia. Selanjutnya aktivis SCM India memaparkan SCMI sebagai organisasi oikumenis pemuda tertua di India karena dibentuk sejak 1912 dan tentu berpengalaman melayani kaum muda di India berdasar kasih Kristus kepada setiap umat manusia. Aktivitas SCMI ada di tiga belas wilayah di India dari tingkat unit lokal di kampus, gereja dan kota, wilayah dan nasional.

 
 
 
Merayakan Natal bersama keluarga besar SCM Indiamenjadi momen yang indah untuk dikenang. Talentaanak-anak, pemuda dan mahasiswa berupa tarian, nyanyian dan drama ditampilkan. Tak ketinggalanmahasiswa Stube-HEMAT Indonesia mempersembahkan senidrama dan nyanyian. Pesan natal disampaikan oleh Prof. Kiran Jeevan dari St. Joseph College, Bangalore, yang mengajak setiap jemaat merenungkan kembali, sudahkah melakukan hal baik untuk orang lain. Natal, 25 Desember 2017, Stube-HEMAT mengikuti kebaktian di gereja St. Mark Church, Bangalore.Gereja ini banyak mendapat pengaruh dari Inggris, baik itu arsitektur dan aliran gereja.


 
Komunitas AhmadiyyaBangalore memberi kesempatan kepada peserta berdialog antar iman. Aliran ini sering mengadakan kegiatan sosial dan kerja sama dengan komunitas multikultur lainnya di kota ini karena mereka ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh cinta kasih untuk umat manusia di dunia, bukan aliran radikal yang identik  dengan terorisme.
 
 
Perlu diakui bahwa kota ini memperhatikan ruang publik dengan banyak taman kota yang ditumbuhi rimbunan pohon meskipun lalu lintas di kota ini simpang-siur dan berisik dengan bunyi klakson kendaraan.

Mysore,
Dalam perjalanan menuju Mysore, masih dalam lingkup Karnataka, peserta Indonesia-India mengunjungi kuil Sri Nimishamba di mana pengunjung wajib melepas alas kaki bahkan saat masih di halaman. Ada satu papan pengumuman yang menarik di sini berkaitan batasan penggunaan plastik di area kuil


Istana musim panas Sultan Tippu menjadi kunjungan berikutnya. Dibangun tahun 1784, istana ini tetap terjaga keasliannya sama halnya dengan Gereja Katholik St. Filomena yang megah dan terawat.

Sri Chamarajendra Zoological Garden merupakan kebun binatang yang luas dan teduh, tempat Sultan Tippu memelihara hasil buruannya. Kebun binatang ini juga melakukan kontrol ketat atas penggunaan botol plastik minuman yang dibawa pengunjung.




 
Akhirnya, Amba Vilasa palace, istana Sultan Tippuyang megah dengan pilar-pilar raksasa, pintu berukir dan lukisan di langit-langit istana menyambut ribuan wisatawan yang dibuat tercengang-cengang oleh keindahan bangunan dan benda-benda peninggalannya.


Ooty,
Kota ini berada di dataran tinggi di negara bagian Tamil NaduIndia bagian selatan. Perjalanan bus dari Bangalore ke Ooty yangbiasanya 7 jammenjadi 12 jam karena kemacetan lalulintas. Jalanan yang ditempuh lurus dan berkelok-kelok melewatikota, pedesaan, ladang dan taman nasional Bandipur dan Mudumalai.



Ooty yang terletak lebih dari 300 km selatan Bangalore menjadi tujuan wisatawan karena memiliki tempat-tempat menarik seperti kebun teh, danau, pembuatan coklat dan penyulingan eukaliptus.Banyaknya pengunjung dengan kendaraan roda empat di jalan sempit dan berkelok dengan kiri tebing kanan jurang di perkebunan teh menyebabkan kemacetantotal. Kawasan ini perlu ditata ulang sarana jalan dan daya dukung kawasannya.


Hosur,
Kehidupan masyarakat pedesaan India menjadi pembelajaran berikutnya dengan mengunjungi Hosur, sebuah kota kecildi negara bagian Tamil Nadu, 45 km timur Bangalore. Rev. Sudhakar Joshua, pendeta CSI (Church of South India) di Hosur menjemput dan memandu peserta Indonesia-India berkunjung ke sebuah gereja desayang dibangun pada tahuin 1908, yang masih masih digunakan sampai sekarang. Beberapa perabotan dan prasasti menunjukkan usia tua gereja ini.

Ada keunikan yang ditemukan ketika mengunjungi sebuah rumah penduduk di desa Edayanallur, mereka menyiram halaman rumah dengan air campuran kotoran sapi agar rumah steril dari serangga. Mereka antusias menyambut dan berdialog meski baru pertama bertemu. Selain itu mereka juga menunjukkan kebun mawar yang menjadi mata pencaharian salah satu keluarga di situ. Meski mereka tinggal dalam keterbatasan, mereka tetap memiliki pengharapanuntuk kehidupan di masa mendatang.

 
 

Sungguh sebuah perjalanan yang menginspirasi untuk terus menjaga kehidupan dalam harmoni. (TRU).




  Bagikan artikel ini

Mengabdikan Ilmu Mencerahkan Masyarakat

pada hari Senin, 18 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki konsekuensi logis bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, ribuan pulau berarti keberagaman penduduk dan budaya, flora fauna dan sumber alam, di sisi yang lain beresiko kesenjangan pembangunan antar wilayah yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan ekonominya. Banyak anak muda menyadari realita ini dan berusaha meningkatkan kualitas dirinya melalui pendidikan dan melanjutkan studi di kota lain, salah satunya di Yogyakarta.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah yang studi di Yogyakarta memberi kesempatan kepada mereka untuk memikirkan daerah asal mereka melalui program Eksposur Lokal yang berupa pemetaan potensi dan tantangan daerah, membuka jejaring di daerah dan menerapkan ilmu mereka. Ada tiga mahasiswa menjadi peserta tahun ini, siapa saja mereka?
 
Erik Puae,
Mahasiswa Manajemen Informatika dan Komputer di Bina Sarana Informatika, Jakarta Selatan tetapi bersemangat mengikuti pelatihan di Stube-HEMAT di Yogyakarta. Ia berasal dari desa Puao, Wasile Tengah, Halmahera Timur, Maluku Utara. Minatnya untuk ikut ekposur lokal muncul ketika melihat masyarakat desanya mengalami kelambatan pembuatan surat-menyurat dari desa. Ternyata perangkat desa setempat belum terampil menggunakan komputer untuk mengetik surat-menyurat. Ia menawarkan pelatihan komputer kepada perangkat desa supaya keterampilan mereka meningkat. Namun kegiatannya tidak berhasil karena perangkat desa tidak memberikan jadwal pelatihan tersebut.


Akhirnya ia mengubah target peserta pelatihan kepada anak muda di desanya dan siswa-siswa SMK Marhaen. Ada dua puluhan anak muda dan pelajar antusias mengikuti pelatihan komputer dasar, yaitu mengoperasikan komputer dan mengetik. Mereka belajar dalam beberapa kelompok dan menyesuaikan waktu yang mereka miliki, karena di antara mereka harus sekolah dan bekerja. Saat ini ada peserta pelatihan yang telah mempraktekkan keterampilannya sebagai pengetik di sebuah sekolah.
 


 
Angela Saleilei,
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan di STPMD APMD Yogyakartaberasal dari desa Saureinu, Sipora Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ia memiliki perhatian terhadap lingkungan di desanya karena penduduk masih membuang sampah sembarangan bahkan di sungai. Tak jarang penduduk yang tinggal di dekat sungai mengeluh karena sungai kotor sehinggatidak bisa untuk mandi. Letak kandang ternak yang mayoritas dibangun tepat di belakang rumah penduduk juga perlu penataan ulang, sehingga ia berpikir untuk memberi pencerahan kepada penduduk untuk peduli lingkungan dan kesehatan.


Ketika ia berinteraksi dengan penduduk, iamengalami kesulitan mengajak mereka berpartisipasi dalam sosialisasi kebersihan lingkungan. Ini disebabkan rendahnya kesadaran penduduk terhadap lingkungan, bahkan termasuk mahasiswa setempat yang mestinya memiliki pemikiran lebih maju. Meskipun demikian pemerintah desa Saureinu mendukung kegiatannya dengan memberi kesempatan untuk presentasi. Pemerintah desa akan mengajak masyarakat untuk bekerja sama dan berpartisipasi menciptakan lingkungan desa Saureinu yang lebih bersih di waktu yang akan datang.


 
Nastasya Derman,
Gadis muda dari desa Gardakau, Benjina, Kepulauan Aru, Maluku. Desanya merupakan kawasan kepulauan sehingga fasilitas pendidikan tidak merata, bahkan pulau di mana Tasya tinggal hanya ada Sekolah Dasar, jadi anak-anak harus bersampan melintasi laut untuk melanjutkan sekolah di SMP. Ini mendorong Tasya, seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta memanfaatkan liburan dengan mendampingi belajar anak-anak sekolah di desanya maupun melalui jalan-jalan keliling desa melalui hutan bakau dan pesisir pantai, bercerita dan menulis ulang apa yang dilihat dan membaca buku.
 

 

 

 

Anak-anak antusias mengikuti kegiatan tersebut karena Tasya mengajar dengan cara dan pendekatan yang berbeda, suka memuji, belajar langsung ke alam dan memberi ruang berekspresi melalui tulisan dan gambar. Para orang tua pun merasa senang karena anak-anak bersemangat untuk belajar dan menemukan pengalaman baru tentang pelajaran dan lingkungan sekitar mereka tinggal.

 


Pengalaman yang menarik, bukan? Ini saatnya anak muda mengabdikan ilmu dan mencerahkan masyarakat, meskipun sederhana tetapi kualitas hidup masyarakat meningkat. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook