pada hari Minggu, 31 Agustus 2014
oleh adminstube
Pemuda dan Penguatan

 

Identitas Kebangsaan

 

Melalui Kebudayaan Untuk

 

Membangun Semangat Kewargaan

 

 

 

 

 

 

Seminar kebangsaan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 28 Agustus 2014 lalu dibuat karena rasa keprihatinan akan pudarnya nasionalisme dan kebangsaan pada kalangan anak muda saat ini. Sebagai langkah strategis, isu kebudayaan diangkat menjadi kunci dalam menanamkan semangat kebangsaan dan nasionalisme anak muda.

 

 

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta turut ambil bagian dengan mengirimkan beberapa aktivis untuk berpartisipasi menyumbangkan pemikiran. Mereka adalah; Sapti Dadi, Elisabeth Uru Ndaya mahasiswa UST, Alva Kurniawan dan Vicky Tri Samekto mahasiswa Teologi Stak Marturia. Adapun narasumber yang mengkritisi perubahan sosial yang sedang terjadi adalah Subkhi Ridho, M.Hum, (Dosen UMY), Abdur Rozaki M.Si, (Dosen UIN Kalijaga) dan Dr. Lukas Ispandriarno  (Dosen Komunikasi UAJY).

 

Dr. Lukas Ispandriarno dalam materinya mengungkapkan bahwa melunturnya semangat kebangsaan dan nasionalisme di Indonesia karena kemajuan dalam segala bidang tidak disertai dengan antisipasinya pasca runtuhnya ORBA. Setiap perubahan dan kemajuan memiliki sisi positif dan negatif, tinggal bagaimana mengoptimalkan apa yang positif dan menekan dampak negatif. Kemajuan dalam bidang teknologi informasi (media massa) memberi andil besar terhadap perubahan paradigma anak muda dalam bersosialisasi karena akses informasi begitu cepat diperoleh, contohnya akses internet yang sudah begitu familiar ditambah menjamurnya berbagai merk gadget yang notabene konsumen terbesarnya adalah anak muda. Hal ini sangat berbeda ketika ORBA berkuasa karena informasi massa dibatasi oleh penguasa pada masa itu. Pesatnya perkembangan informasi massa seharusnya bisa menjadi media kampanye untuk mengangkat isu kebangsaan dan semangat nasionalisme.

 

 

 

Dalam sesi lain, Subkhi Ridho M.Hum menyambung materi dengan mengangkat peranan pemuda Islam dalam gerakan kebangsaan yang menekankan betapa pentingnya menghargai budaya multikultur yang saat ini sudah terkikis. Kehidupan multikultur sudah semenjak zaman nenek moyang  terjalin, dan sebenarnya itulah yang mempersatukan kehidupan bangsa Indonesia hingga saat ini. Pada kesempatan itu juga Abdur Rozaki, M.Si melengkapi dengan menggarisbawahi betapa pentingnya organisasi mahasiswa saat ini, tentunya yang bersifat progresif dan kritis terhadap fenomena yang terjadi dalam gejolak kebangsaan.

 

 

 

Mahasiswa seharusnya mampu membuahkan tulisan dan pemikiran kritis dalam mengangkat isu nasionalisme dan kebangsaan, sebagai media kampanye dan edukasi kepada anak muda dan masyarakat luas. Di sinilah para pemuda kembali dituntut menjadi agen perubahan dalam mengoptimalkan sisi positif dari perubahan zaman dan teknologi informasi dalam berkampanye mengangkat isu nasionalisme, kebangsaan dan edukasi. Jika pemuda abai terhadap hal ini, maka masa depan bangsa Indonesia akan menjadi suram karena terancam perpecahan. Maka dari itu, siapa lagi yang harus bertindak kalau bukan para pemuda sebagai generasi penerus bangsa? Mari mulai dari kita! (PIAF)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 26 Agustus 2014
oleh adminstube
Pelatihan Social Entrepreneurship
Saatnya yang Muda Berkarya
Wisma Martha, 22 – 24 Agustus 2014
  
 

  

“Setelah mengikuti pelatihan Social Entrepreneurship, banyak hal baru yang saya dapat. Kegiatan ini membuka wawasan saya khususnya tentang daerah asal saya, Sumba. Semoga saya dapat terus dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya” ungkap Abisag Ndapatara, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yang berasal dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Aby, panggilan akrabnya, menjadi peserta pelatihan Social Entrepreneurship Stube-HEMAT Yogyakarta, Jumat – Minggu, 22 – 24 Agustus 2014 di Wisma Martha Yogyakarta.
 

 

Pelatihan yang diikuti 33 peserta dari berbagai kampus dibuka dengan perkenalan peserta yang memperkenalkan diri menggunakan bahasa daerah masing-masing dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Trustha Rembaka, S.Th., menjelaskan bahwa pelatihan ini membantu mahasiswa mengasah kemampuan dan menumbuhkan kepedulian terhadap permasalahan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Peserta diharapkan mampu melihat, menemukan dan mengembangkan potensi daerah asal mereka dan menjawab permasalahan yang terjadi di sana. Selanjutnya, peserta diharapkan kreatif dan berani memunculkan inovasi dalam pembangunan masyarakat.
 

 

 
Stenly R. Bontinge, S.T, menyampaikan tentang Stube-HEMAT, sejarah lembaga dan kegiatannya. Sesi ini dilengkapi dengan sharing pengalaman Hery Alberth Gardjalay, mahasiswa fakultas Hukum, Universitas Janabadra, asal Dobo, Maluku yang diutus ke Sumba dalam program Exploring Sumba. Sedangkan Pascah Hariyanto, mahasiswa Teologia STAK Marturia Yogyakarta di saat libur kuliah ia kembali ke desa asalnya, Pisang Jaya, OKU Timur, Sumatera Selatan untuk mengamati hama tikus dan ancaman gagal panen serta peran gereja dalam mendampingi petani untuk menghadapi masalah tersebut.Tidak ketinggalan Septi Dadi yang akrab dipanggil Putry, di masa libur kuliah, ia kembali ke daerah asalnya, Sumba, untuk meneliti tingkat putus sekolah siswa SMA kelas 11 di Waingapu tahun 2010 – 2014. Penelitian yang berkaitan dengan angka-angka statistik ini sejalan dengan kuliahnya di Pendidikan Matematika UST.
 
Pemahaman Social Entrepreneurship dan ruang lingkupnya dipaparkan oleh I Nyoman Matheus dari LPM Pelita Kasih, yang memiliki pengalaman mendampingi dan memberdayakan masyarakat. Kemudian Y. Endro Gunawan memandu peserta melakukan pemetaan daerah asal peserta, baik itu masalah maupun juga potensinya.
 
 
Sesi Eksposur berupa kunjungan belajar di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran (GAP). Peserta dibagi dua kelompok lokasi kunjungan yaitu, gunung api purba dan embung Nglanggeran. Masing-masing kelompok mengamati dan mendalami awal mula pengembangan kawasan GAP Nglanggeran. Sugeng Handoko, S.T., sebagai inspirator pengembangan kawasan GAP menceritakan awal perintisan kawasan wisata GAP dan pentingnya partisipasi masyarakat. Bahkan, Sugeng Handoko mendorong peserta untuk berani mewujudkan ide-ide kreatif mereka ke dalam proposal rintisan kegiatan. Pdt. Bambang Sumbodo, M.Min, menantang peserta untuk kreatif dan inovatif ketika menghadapi masalah kaum muda, juga tidak gengsi ketika melakukan suatu karya.
 
 


Di akhir acara, peserta merumuskan desain kegiatan kreatif untuk menjawab permasalahan sosial yang terjadi di sekitar mereka, antara lain: Kelompok Angles, yang melihat permasalahan keuangan mahasiswa dengan merintis angkringan lesehan. Kemudian kelompok Ramah Lingkungan, yang melihat lahan yang menganggur dan rusaknya tanah karena pupuk kimia, karena itu peserta mencoba membuat pupuk ramah lingkungan dan menanam sayuran di sekitar rumah kos. Sedangkan kelompok Sajojo melihat kecenderungan anjloknya harga salak ketika panen raya, tertantang mengadakan kegiatan alternatif pemanfaatan kebun salak. Kemudian kelompok Umba Paraing yang tergerak mendampingi komunitas ibu petani sayuran di Waingapu di tengah keterbatasan akses informasi mengenai sayuran. Sedangkan peserta dari Alor memiliki ide untuk mengenalkan pantai Mali di pulau Alor. Selamat berproses. Saatnya yang Muda Berkarya. (TRU)
 
 



  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 25 Agustus 2014
oleh adminstube
HAPUSKAN
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
& LINDUNGILAH HAK ANAK
(PWKI Cabang Sleman & Stube-HEMAT)
 
 

 

Menjadi persoalan bagi seseorang saat mengalami bahkan mengungkap kepahitan berupa kekerasan dalam keluarga, karena pada umumnya hal tersebut dianggap aib yang tidak boleh diketahui orang lain. Namun di lain pihak, hal itu menyangkut rasa keadilan dan perlindungan hukum seseorang sehingga mengingat pentingnya kesadaran akan perlindungan hukum atas hak-hak yang dimiliki, PWKI Cabang Sleman mengontak Stube HEMAT yang bekerjasama dengan praktisi hukum lembaga perlindungan hukum lembaga perlindungan perempuan dan anak dari P2TPA “Rekso Dyah Utami”, Setyoko S.H., M.Hi, untuk melakukan sarasehan bersama semua pengurus anak cabang yang bertempat di GKJ Ngento-ento, Jl. Jogja-Ngapak km 13, Sleman, Yogyakarta (24/8/2014).
 
"Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, dan psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan, perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi", merupakan tindakan kekerasan sebagaimana tercantum pada pasal 1 Deklarasi Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan PBB, 1993.
 
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan situasi yang sering terjadi dalam keluarga yang meliputi: 1) suami, isteri, dan anak; 2) orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga.
 
Bentuk-bentuk KDRT menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam  rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :
 
  1. Kekerasan fisik: kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.
  2. Kekerasan psikis: kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.
  3. Kekerasan seksual: kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara yang tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
  4. Penelantaran rumah tangga: penelantaran rumah tangga meliputi dua tindakan yaitu: 1) orang yang mempunyai kewajiban hukum atau karena persetujuan atau perjanjian memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut dalam lingkup rumah tangga namun tidak melaksanakan kewajiban tersebut. 2) setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam dan di luar rumah tangga sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

 

Setyoko juga menyampaikan bahwa anak juga memiliki hak istimewa untuk dilindungi oleh negara. Anak adalah bayi sampai orang berumur 18 tahun. Barang siapa yang menelantarkan anak, maka terancam pidana minimal 3 tahun sehingga hal ini harus menjadi perhatian para orang tua bagaimana memperlakukan putra-putrinya. Pada kesempatan itu beberapa peserta yang semuanya ibu mengajukan pertanyaan seputar topik pembicaraan.
 
 
“Ibu-ibu jangan khawatir, kalau memiliki persoalan yang berkaitan dengan topik yang kita bicarakan pada siang hari ini bisa menghubungi kantor kami di no. Telp. 0274-540529 Rekso Dyah Utami dekat balai kota Timoho. Seluruh konsultasi dan perlindungan tidak dipungut biaya dan dijamin negara”, Setyoko menyampaikan pesan penutup dalam acara tersebut.***
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 22 Agustus 2014
oleh adminstube
MEMBEDAH RADIKALISME

 

DAN EKSKLUSIVITAS

 

 

 

DI KALANGAN ANAK MUDA

 

 

 

 

 


Semua orang pasti terhenyak dan tidak habis pikir saat mengetahui bahwa banyak anak muda terjerat masuk kelompok-kelompok radikal. Beberapa keluarga lapor polisi bahwa mereka telah kehilangan anak-anak mereka selama beberapa hari, bahkan beberapa bulan. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana bisa seorang mahasiswa dari universitas ternama di kota ini dicuci otaknya sehingga tertarik masuk dan terlibat dalam jaringan fundamentalis dan bahkan radikal?

 

 

 

 

 

 

Pemuda GKJ Mergangsan bersama Stube HEMAT menggelar acara diskusi malam pada hari Kamis, 21 Agustus 2014, yang diikuti dengan antusias oleh sekitar dua puluh lima orang pemuda-pemudi. Menempati ruang aula belakang, diskusi malam itu mengundang Eko Prasetyo, direktur Social Movement Institute sebagai nara sumbernya, dipandu oleh Yohanes Dian Alphasa, swalah seorang anggota tim kerja Stube HEMAT.

 

 

 

 

 

 

“Radikalisme muncul tidak semata-mata dilatarbelakangi ideologi, tetapi karena terbatasnya ruang publik masayarakat untuk bisa bertemu. Setiap hari, setiap saat, bertemu dengan orang-orang itu saja. Sama jurusannya, sama asal daerahnya, sama agamanya lagi! Mana ruang publik untuk anak muda berinteraksi dengan yang lain yang berbeda?” kritiknya. Eko Prasetyo dibesarkan dikalangan pesantren yang taat, bahkan bergaul dengan yang bukan muhrimnya dianggap tabu. Titik balik keterbukaannya terjadi setelah tiba di Yogyakarta untuk menempuh kuliah di Fakultas Hukum UII dan banyak berjumpa dengan perbedaan, bahkan diskusi pribadinya dengan mendiang Romo Mangun. “Generasi muda Indonesia kurang dilatih bekerjasama dalam perbedaan. Sekolah-sekolah dengan basis agama berkontribusi secara tidak langsung menanamkan eksklusivitas,” imbuhnya.

 

 

 

Menurutnya beberapa hal yang turut berkontribusi memunculkan semangat radikal adalah rasa kekecewaan dan merasa menjadi pihak yang dikalahkan oleh sistim politik dan struktur sosial yang mengkotak-kotakkan manusia. Rasa percaya diri yang berlebihan atas diri, kelompok dan komunitasnya membuat orang merasa lebih tinggi dari yang lain dan rasa tersebut menyuburkan eksklusivitas.

 

 

 

Verdy, ketua Pemuda GKJ Mergangsan menyatakan bahwa dia  baru saja mengikuti workshop temu pengurus organisasi pemuda lintas agama yang diselenggarakan oleh Departemen Agama DIY yang dirasa cukup mewadahi untuk interaksi dan perjumpaan lintas agama, meskipun diakui bahwa forum-forum tersebut masih terkesan formalitas.  Menanggapi hal itu, Jalu salah seorang pemuda peserta diskusi menghimbau kepada semua pemuda yang hadir bahwa srawung yang dalam bahasa Indonesia disebut bermasyarakat atau berbaur menjadi satu kegiatan yang sangat penting dilakukan karena dengan pertemanan dekat dan tulus, maka segala perbedaan dan rasa saling curiga bisa dihilangkan.

 

 

Diskusi malam itu ditutup dengan satu tekad bahwa pemuda GKJ Mergangsan bertekad ‘membuka gerbang gereja’ mengikat tali persaudaraan dan siap bekerjasama dengan siapa saja. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 18 Agustus 2014
oleh adminstube
 Aksi Teater Stube-HEMAT

 

“Matinya Kemerdekaan”

 

 

 

 

 


Tembang ‘Sepasang Mata Bola’ mengalun merdu membuka acara malam tirakatan HUT Indonesia ke-69 di Kampung Nyutran, RW 19, Yogyakarta (16/8/2014), membawa hadirin bernostalgia mengenang perjuangan para pahlawan di masa-masa kemerdekaan. Disusul dengan beberapa lagi warga yang tampil dengan lagu-lagu perjuangan lama. Anak-anak pun tidak mau ketinggalan unjuk kebolehan. Mereka menari dan menyanyi dengan riang gembira. Malam tirakatan kali ini terlihat spesial, karena tidak hanya warga yang menghadiri acara tersebut, tetapi juga beberapa warga pendatang dan mahasiswa dari luar Yogyakarta yang berdomisili di kampung Nyutran. Mereka merasa tertarik karena acara tirakatan kali ini terlihat beda dari biasanya dengan adanya pementasan teater, sebab saat ini tak banyak pementasan teater mandiri dengan kritik sosial yang dapat dinikmati karena sudah banyak didominasi pertunjukkan yang bersifat hiburan semata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertunjukan teater ini didukung oleh para aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta dan warga  RW 19 Nyutran yang saling mengisi menjadi aktor dan pendukung. Bertempat di rumah salah satu keluarga warga RW 19, Keluarga Bapak Eko Supriyono, acara tirakatan ini diselenggarakan dengan sederhana tapi meriah. Penampilan teater besutan Bandel Elyas ini mengusung judul “Matinya Kemerdekaan”, sebuah pertunjukan simbolik yang disuguhkan untuk menyentil penonton, mengingatkan kembali akan makna kemerdekaan dan nasionalisme. Secara garis besar alur cerita bertutur tentang semakin tergadainya nasionalisme anak bangsa, yang diwakili terjadinya sebuah pertentangan dalam sebuah keluarga akibat hadirnya  investor properti yang akan membeli tanah dan anak-anak pemilik rumah tergoda menjualnya, padahal pihak orang tua mati-matian mempertahankannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita ini mengajak penonton merenung kembali akan kekayaan nasional Indonesia yang banyak dikuasai oleh investor asing. Apakah kemerdekaan yang sudah berjalan selama 69 tahun ini benar-benar memerdekaan anak bangsa? Ataukah kemerdekaan ini lambat laun menemui ajalnya karena adanya penjajahan dalam bentuk lain? Selain itu teater ini juga bermaksud menyampaikan pesan akan pentingnya ruang publik untuk masyarakat sebagai tempat bertemu dan berinteraksi, tidak hanya mengejar pembangunan fisik seperti mall, supermarket, hotel, dan gedung-gedung lainya sebagai simbol kemajuan.

 

 

 

“Senang rasanya bisa berpartisipasi malam ini, memperingati HUT RI ke 69, karena saya mahasiswa rantau maka nasionalisme menjadi perekat sesama rakyat Indonesia, semoga bukan hanya di drama tapi di kehidupan sehari-hari saya dapat mengisi kemerdekaan sesuai amanat Founding Father demi kemajuan bangsa”, komentar Loce salah seorang tim Stube HEMAT Yogyakarta asal Halmahera yang malam itu berperan sebagai Tutik anak pemilik tanah yang menentang invasi sang investor. “Weh, apik yo penampilane drama mau mbengi”, spontan tanggapan seorang warga dalam bahasa Jawa mengomentari pentas teater Stube HEMAT yang sudah dia tonton. Dia berharap akan ada pementasan lain dengan cerita yang lain dan lebih menarik.

 

 

Selamat HUT RI ke 69, majulah Indonesia, Garuda selalu di dadaku.*** SRB


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 12 Agustus 2014
oleh adminstube
PROGRAM PELATIHAN

 

SOCIAL ENTREPRENEURSHIP

 

 

 

‘Saatnya yang Muda Berkarya’

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah program pelatihan untuk mahasiswa yang mengasah kemampuan dan menumbuhkan kepedulian dan keterpanggilan mahasiswa terhadap permasalahan sosial. Pelatihan ini mendorong kaum muda mahasiswa menjadi pelopor yang berani bergerak, memunculkan inovasi dan kreativitas yang mendukung bahkan berperan dalam kegiatan pembangunan masyarakat.

 

Program Sosial Entrepreneurship ini melatih kaum muda mahasiswa mampu melihat, menemukan dan mengembangkan potensi-potensi di wilayahnya demi menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat. Proses mendapatkan solusi yang inovatif atas permasalahan sosial yang ada dengan melibatkan masyarakat setempat untuk berpartisipasi. Bahkan, pelaku social entrepreneurship ini mengadopsi sebuah misi menciptakan dan melestarikan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan sosial.

 

 

 

Materi-materi

 

 

 

  1. Pengenalan Stube-HEMAT dan kegiatannya.
  2. Apa dan Bagaimana Entrepreneurship dan Social Entrepreneurship. Social Entrepreneurship dan Ruang Lingkupnya (Contoh-contoh Social Entrepreneurship).
  3. Mengasah Kejelian dalam Memetakan Masalah dan Potensi Suatu Wilayah/daerah.
  4. Eksposur: Pengamatan Lapangan ke Kawasan Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran.
  5. Bagaimana Merintis, Membangun dan Memperkuat Kemampuan Internal Pelaku Socal Entrepreneurship.
  6. Bagaimana Mengembangkan dan Memperkuat Jejaring (Proposal, Marketing, Pariwisata) dalam Social Entrepreneurship.
  7. Diskusi Kelompok dan Olah Data Hasil Pengamatan untuk Rintisan Social Entrepreneur
  8. Pesentasi Hasil Pengamatan, Analisa dan Desain Social Entrepreneurship.

 

 

 

Fasilitator:

 

I Nyoman Matheus, M.Min.

 

(Praktisi, LPM Pelita Kasih Yogyakarta)

 

Yohanes Endro Gunawan

 

(Praktisi Pengembangan Masyarakat)

 

Sugeng Handoko, S.T.

 

(Praktisi, Gunung Api Purba Nglanggeran)

 

Team Stube-HEMAT Yogyakarta

 

 

 

Waktu dan Tempat

 

Jumat – Minggu, 22 – 24 Agustus 2014

 

Di Wisma Martha

 

Jalan Rejowinangun 15A Yogyakarta

 

(jalan timur Gembira Loka ke selatan 400 meter)

 

 

 

Kontribusi Rp 25.000,00

 

Penginapan, Akomodasi, Materi, Sertifikat

 

Subsidi Transportasi

 

 

 

Kontak Team Stube-HEMAT Yogyakarta

Trustha, Vicky, Stenly, Sofie, Loce, Yohanes


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 11 Agustus 2014
oleh adminstube
Diskusi Mahasiswa

 

Apa Itu Social Entrepreneurship?

 

 

 

 

 

 

 

“Seorang Entrepreneur adalah dia yang berani mandiri dan kreatif dalam mengusahakan sesuatu,” demikian menurut Y. Endro Gunawan, seorang konsultan lepas beberapa LSM khususnya bidang Community Development, yang kerap disapa Pak Endro. Selanjutnya, tambahan kata sosial pada kata entrepreneur memberi tekanan bahwa usaha yang dilakukan harus bisa menjawab masalah sosial yang terjadi untuk memberi kesejahteraan banyak orang. Pembahasan mengenai pemahaman istilah social entrepreneurship menjadi topik pada diskusi awal pelatihan Social Entrepreneurship, Sabtu, 9 Agustus 2014 di Sekretariat Stube – HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

Contoh menarik yang ditayangkan oleh koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, Trustha Rembaka, S.Th dalam diskusi ini adalah layanan kreatif yang dilakukan seorang dokter muda, lulusan Universitas Brawijaya yang bernama dr. Gamal Albinsaid dari Malang. Dokter muda ini merintis klinik asuransi sampah yang memungkinkan anggotanya membayar dengan sampah kering seperti, botol, kertas, kardus, atau plastik yang bisa didaur ulang. Melalui organisasi yang dihimpunnya yakni Indonesia Medika, masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan seperti pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan kesehatan lainnya. Ide ini muncul dari kasus meninggalnya seorang anak pemulung yang sakit diare dan tidak dibawa ke rumah sakit dengan alasan biaya. Dari peristiwa itulah dokter Gamal tergerak hatinya memberikan pelayanan kesehatan untuk kalangan yang tidak mampu. Tapi perlu diakui, bahwa kegiatan ini bukan usaha yang mengejar finansial profit yang bisa dirasakan oleh semua pihak yang terkait.

 

 

 

Social Entrepreneurship merupakan kegiatan usaha yang mengejar profit, namun berangkat dari pemahaman untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi di suatu waktu dan tempat tertentu. Seorang social entrepreneur dituntut kreatif selain dia juga harus memahami konteks masalah sosial yang terjadi di tempat tertentu dengan membidik peluang-peluang yang ada. Selanjutnya Y. Endro Gunawan menambahkan bahwa bentuk entrepreneur terbagi menjadi tiga yakni entrepreneur, sosial entrepreneur, dan volunteer entrepreneur. Seorang entrepreneur akan mengkreasikan ide dan aktivitasnya untuk menarik keuntungan dan mengembangkan potensi di hadapannya. Seorang social entrepreneur melakukan usaha mencari untung meskipun keuntungan usahanya itu sebagian besar dikembalikan kepada masyarakat. Sementara seorang volunteer entrepreneur murni mengabdikan ide dan karyanya untuk kesejahteraan masyarakat.

 

 

 

Banyak permasalahan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat yang bisa sehingga kepada para peserta diskusi Stube-HEMAT Yogyakarta, dan untuk kaum muda dimanapun berada, diskusi ini kemudian memberikan pemahaman baru dalam gerakan sosial seorang muda. Setiap kaum muda dituntut untuk berani melihat permasalahan, mempelajarinya, dan memandang permasalahan itu sebagai tantangan sekaligus kesempatan.  Selanjutnya, keberanian itu akan menimbulkan kreatifitas dan kemandirian dalam menghadapi, mengolah, dan menghasilkan sesuatu yang baru, yang segar, dan yang lebih menguntungkan masyarakat.

 

 


Seorang sosial entrepreneur berangkat dari sebuah keprihatinan, berpikir dan bergerak positif melalui cara-cara sederhana sekalipun. ***YDA


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook