pada hari Selasa, 18 Juni 2013
oleh adminstube

Program Energi Terbarukan

 

 




“Berkarya Nyata untuk Masa Depan”

 

 

 

Masyarakat membutuhkan suplai energi yang cukup besar, namun penyediaan masih terbatas, sehingga menimbulkan krisis di berbagai daerah yang menyulitkan kehidupan masyarakat. Keprihatinan atas kondisi ini mendorong untuk menumbuhkan kepedulian dan menjawab kebutuhan masyarakat dengan melihat kembali potensi sumber daya alam terbarukan yang ada di Indonesia, seperti energi surya, energi angin (bayu), dan energi air. Sumber energi lainnya bisa diperoleh dari pengolahan tanaman tertentu serta energi biogas dari kotoran ternak dan limbah sampah.

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan pelatihan Energi Terbarukan sebagai wujud kepedulian dan kontribusi untuk  menjawab permasalahan sosial, khususnya yang berkaitan dengan energi. Pelatihan ini diharapkan bisa memberi pencerahan (enlightment), membangun kesadaran, membuka pemikiran dan pengalaman keterampilan kepada mahasiswa. Bertempat di Wisma PGK Shanti Dharma Godean, kegiatan ini dimulai pada tanggal 14 – 16 Juni 2013.

 

 

 

 

 

 

Pelatihan yang diikuti 38 peserta dari berbagai daerah dan berbagai kampus di Yogyakarta ini dibuka oleh Pdt Dr. Tumpal Tobing, Mag. Theol. Pdt. Bambang Sumbodo,S.Th., M.Min dan Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd. Dari ketiga narasumber tersebut peserta mendengar sedikit banyak mengenai Stube-HEMAT, kegiatan-kegiatannya, serta impian yang ingin digapai bersama anak-anak muda Indonesia untuk mampu menjawab permasalahan sosial yang ada.

 

 

 

 

 

 

Pusat Studi Energi (PSE) UGM menjadi salah satu fasilitator pelatihan ini.  Diwakili oleh Irawan Eko Prabowo S.T. M.Eng., peserta diajak melakukan Analisis Sosial Permasalahan Energi, Kebijakan Energi (Lokal – Global) dan melihat Keberpihakan Pemerintah terhadap Pengembangan Energi Terbarukan. Lebih lanjut, Dr. Deendarliyanto, pimpinan PSE UGM menyampaikan Pemetaan Potensi Sumber Daya (Energi) Terbarukan di Indonesia serta peluang pengembangannya.

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Eksposur, untuk mendekatkan teori dan fakta, membawa peserta secara langsung melihat, mengamati dan mempelajari pemanfaatan energi terbarukan seperti yang ada di Singosaren, Imogiri, Bantul. Di lokasi ini Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) sudah dirintis oleh Mutohar yang merasa terpanggil dengan banyaknya pemberitaan media massa atas krisis energi listrik. Instalasi PLTMh ini diawali sejak tahun 2006, dengan memanfaatkan saluran irigasi untuk menggerakkan generator penghasil listrik yang dimanfaatkan untuk penerangan jalan umum di dusun Singosaren. Hal istimewa dari PLTMh ini adalah menjadi media pembelajaran dan studi banding bagi mahasiswa, dosen dan instansi.

 

 

 

 

 

 

Eksposur kedua adalah instalasi Biogas di Cangkringan, sebuah kawasan relokasi dusun Petung yang terdampak letusan Merapi 2010. Masyarakat didampingi oleh Sarjiyo, seorang praktisi biogas, memanfaatkan kotoran sapi sebagai penghasil gas yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (Angin dan Matahari) (PLTH) di kawasan Pantai Baru Pandansimo menjadi lokasi eksposur selanjutnya. Didampingi  Chriswantoro, seorang teknisi PLTH, peserta mempelajari potensi angin dan sinar matahari, yang berlimpah di kawasan Indonesia, serta mengamati sistem kerja instalasi kincir angin dan panel surya. Keberadaan Pembangkit Listrik ini memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya kawasan Pantai Baru, yang listriknya disuplai dari PLTH ini.

 

 

 

 

 

 

Pelatihan ditutup dengan membangun komitmen melalui Rencana Tindak Lanjut oleh peserta. Pengalaman, pencerahan dan inspirasi baru yang dialami  peserta ditindaklanjuti dengan komitmen pribadi hemat energi, menuliskan essai tentang energi, membagi pengetahuan kepada komunitas kampus, serta kampanye hidup peduli lingkungan.

 

 

 

 

 


(trustha rembaka)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 17 Juni 2013
oleh adminstube

Diskusi Gender 1

 
Pemahaman Mengenai Gender 
 
Apa itu GENDER, mengapa kita perlu memahaminya? Pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada para peserta oleh Ariani Narwastujati, S.S., M.Pd, fasilitator diskusi “Pemahaman mengenai Gender” di Stube HEMAT.  
 
Yohanes, salah seorang peserta diskusi mencoba menyoroti cerita Alkitab yang harus diakui bahwa pihak laki-laki (ayah) masih lebih dominan dari pada perempuan,  seperti cerita Abraham dan Sara, Daud dan Betsyeba, atau  Ratu Wasti. Cerita-cerita itu berdasar tradisi yang terjadi masa lampau. Sehingga dalam penerapan pada masa ini harus direkonstruksi dengan membangun pemahaman cerita dengan wacana  kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. “Nah gender disini bisa dipahami sebagai paham yang mencoba memberi perspektif bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan,” imbuhnya. 
 
Sementara Trustha mengingatkan bahwa  kaum perempuan secara budaya masih terpinggirkan dalam beberapa cerita Alkitab, karena yang masuk dalam daftar silsilah adalah laki-laki. Namun perlu dicatat juga bahwa ada beberapa kaum perempuan memegang peranan yang sangat penting. misalnya Maria, Rahab, Rut, Debora, Maria Magdalena, dan Ester. Dalam konteks kehidupan Indonesia saat ini, Maria melihat bahwa di daerah Adonara, NTT, kaum perempuan yang kuliah pasti ditertawakan, karena dianggap tidak biasa, lebih-lebih mereka yang kuliah di luar pulau dan merantau jauh, karena mereka beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mencari ilmu tinggi-tinggi. Bahkan kebiasaan setempat memberlakukan  kaum perempuan untuk mengambil makanan belakangan setelah kaum pria pada saat jamuan-jamuan makan.
 
 
Gender sering diidentikkan dengan jenis kelamin (sex), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Secara etimologis kata ‘gender’ berasal dari bahasa Inggris yang berarti ‘jenis kelamin’ (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 265). Proses panjang perbedaan gender antara seorang pria dengan seorang wanita terjadi dan dibentuk oleh kondisi sosial budaya dan kondisi keagamaan.  Karena proses yang panjang ini, gender sering dianggap bersifat kodrati dari Tuhan atau seolah-olah bersifat biologis yang tidak dapat diubah. Selanjutnya, konstruksi sosial budaya, nilai-nilai, mental, emosi-emosi dan faktor lainnya diluar faktor biologis inilah yang dipakai untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga muncul hal-hal seperti larangan perempuan tertawa keras, keluar malam, warna merah jambu adalah warna perempuan, perempuan hanya untuk bekerja di wilayah domestik keluarga, perempuan harus patuh kepada laki-laki dan lain sebagainya. 
 
 
Dari diskusi ini peserta belajar memahami gender dan pembedaan antara laki dan perempuan berdasarkan konstruksi sosial yang ada inilah yang  sebenarnya yang menyebabkan awal terjadinya ketidakadilan gender di tengah-tengah masyarakat. ***
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 16 Juni 2013
oleh adminstube

Diskusi Gender

 

 

 

"GENDER : Kenali, Pahami dan Bertindak"

 

 

 

 

 

 

Sistem patriarkhi mempunyai kekuatan untuk mengendalikan berbagai aspek kehidupan perempuan  dari ideologi bahkan sampai hal ekonomi. Tidak mengherankan jika kemiskinan juga berkaitan erat dengan perempuan. Sayangnya, bukan hanya praktik budaya yang menguatkan sistem tersebut tapi juga faktor agama. Pemikiran kritis tentang gender seharusnya disebarluaskan di masyarakat, khususnya dikalangan intelektual karena mereka adalah figur yang membawa pengaruh terhadap masyarakat.  Partisipasi mereka mejadi pelaku emansipasi sangat diharapkan.

 

 

Bentuk perlakuan ketidakadilan terhadap perempuan ini salah satunya berakar dari sumber budaya yang masih meninggikan derajat laki-laki dibandingkan perempuan. Meskipun perempuan telah memperjuangkan persamaan  hak dibidang sosial, ekonomi, politik dan budaya  namun perjuangan  ini masih perlu  dilakukan karena sampai saat ini diskriminasi terhadap perempuan  masih sering terjadi, meskipun diera saat ini  tidak hanya perempuan yang mengalami diskriminasi dan ketidakadilan, tetapi laki-laki juga ada yang mengalami dikriminasi dan ketidakadilan.

 


 

Stube HEMAT Yogyakarta bersama-sama dengan mahasiswa yang ingin belajar mengenai permasalahan ini melakukan beberapa kali diskusi dengan beberapa topik yang berbeda.

 

1. Pemahaman mengenai gender

 

2. Gender dipandang dari sudut kebudayaan

 

3. Eksposure dan diskusi di Dusun Setara Gender “Wonolelo”

 

4. Konstruksi Gender

 

5. Kekerasan dalam berpacaran


6. Keberpihakan kebijakan publik pada perempuan


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 7 Juni 2013
oleh adminstube

Program Energi Terbarukan

 


 
Sebuah pelatihan untuk mahasiswa dan kaum muda, yang memberi inspirasi pemanfaatan sumber energi terbarukan dan membuka wawasan tentang potensi dan sumber energi terbarukan yang dimiliki bangsa Indonesia, serta peluang pengembangannya untuk masyarakat di masa depan.
 
 
 
Kapan?
Jumat - Minggu, 14 - 16 Juni 2013
 
Dimana?
Wisma PGK Shanti Dharma Godean
 
Eksposur?
di Pantai Baru, Srandakan, (Sel Surya dan Angin)
di Singosaren, Imogiri, (Mikrohidro)
di KP 4 Berbah, (Biogas)
 
Apa yang Dibawa?
Alat tulis, dan  Alkitab
perkap pribadi (pakaian dan alat mandi)
 
Kontribusi?
Rp 25.000,-
termasuk akomodasi, transportasi,
materi dan sertifikat
 
Daftarnya?
Trustha 085 629 506 41
Yohanes 087 738 224 576
Stenly 085 878 939 807
Loce 082 195 127 024

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 3 Juni 2013
oleh adminstube

Latihan Dasar Kepemimpinan Pemuda GKJ se-Klasis Yogyakarta Barat

 
Pengenalan Diri, Kerjasama dan Kesadaran Sosial
  
Regenerasi dalam suatu kepengurusan perlu dilakukan dalam suatu organisasi, bahkan  harus dilakukan dalam rangka menjaga berjalannya organisasi. Pengurus komisi pemuda Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klasis Yogyakarta Barat, yang dikenal dengan Klayoba, mengadakan regenerasi kepengurusannya. Setelah mengadakan regenerasi pengurus, kegiatan dilanjutkan dengan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diadakan Sabtu – Minggu, 1 – 2 Juni 2013 di Dolan Deso Boro, sebuah kawasan outbound di Kulonprogo.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi mitra dan fasilitator dalam LDK pemuda Klayoba yang diikuti 15 peserta membahas tiga topik, yaitu kepemimpinan, kerjasama team, dan kesadaran sosial (social awareness). Trustha Rembaka mengawali sesi tentang pemimpin, harus mengenali diri, potensi yang ada serta percaya diri. Sesi ini mengajak peserta menemukan apa itu pemimpin serta melihat permasalahan kepemimpinan, peserta pun melakukan simulasi menceritakan dirinya di depan para peserta. Peserta pun merasakan ketika setiap peserta mengenali dan memahami karakter masing-masing, interaksi dan kinerja kepengurusan akan semakin baik.
 
Hari pertama ditutup dengan refleksi malam yang dipandu Pdt. Yosef (GKJ Wirobrajan) mengajak peserta merenungkan keberadaan dirinya di dalam dunia karena kasih Tuhan, dan menanggapi panggilan Tuhan untuk melayani.
 
Hari kedua diawali ibadah minggu yang memberi penegasan kepada peserta bahwa mereka telah dipilih dan diutus Tuhan untuk menjadi orang pilihanNya, memegang tanggungjawab kepemimpinan di Klayoba. Sesi tentang teamwork disampaikan oleh Yohanes Dian Alpasa, yang mengingatkan bahwa kerjasama merupakan suatu kebutuhan, manusia tidak bisa bekerja sendiri, namun perlu melibatkan orang lain. Dalam hal ini prinsip saling menerima kelebihan maupun kelemahan dan saling melengkapi. Sesi Outbond yang berupa permainan kerjasama dan kekompakan menjadi media praktek menerapkan teori kepemimpinan dan Teamwork yang telah diterima sebelumnya. Uniknya dari outbond ini adalah permainan outbond berbasis air!!
 
 

 

Rangkaian LDK diakhiri dengan sesi Klayoba dan Social Awareness, yang mana peserta melakukan brainstorming situasi sosial yang ada di sekitar mereka, dan ternyata sebagian besar mengungkapkan permasalahan sosial yang ada di sekitar mereka. Dari hasil temuan masalah-masalah itu, Klayoba mencoba mengambil bagian dalam penyelesaian permasalahan sosial tersebut. Let’s move on kaum muda Klayoba!!
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook