Menemukan Konteks Daerah   Dan Anak Mudanya   Empat Mahasiswa dalam Program Eksposur Lokal        

pada hari Minggu, 22 Desember 2019
oleh adminstube
 

 

 

Hal penting yang acap kali lalai diperhatian adalah menumbuhkan ‘sense of belonging’ atas daerah asal pada anak-anak muda mahasiswa yang merantau untuk studi di luar pulau. Adanya rasa keterhubungan atas kepemilikan ini memunculkan kepedulian dan keinginan untuk melakukan sesuatu untuk daerah asalnya, karena anak-anak muda mahasiswa ini adalah aset daerah. Kesempatan studi di luar merupakan berkat berharga karena tidak setiap anak muda dari daerah bisa melanjutkan studi karena keterbatasan ekonomi, kondisi geografis dan pengaruh budaya. Mengelola aset daerah yang berupa sumber daya manusia (SDM) ini menjadi concern Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan SDM, khususnya mahasiswa dengan memberi nilai tambah pengetahuan, keterampilan dan sikap hidup kepada mahasiswa aktivisnya di Yogyakarta sehingga tumbuh kesadaran sebagai agent of change bagi daerah asalnya melalui program Eksposur Lokal. Kali ini program eksposur lokal diikuti empat mahasiswa yakni:

 

 

 

 

 

 

Putri Nirmala Valentina Laoli, mahasiswa dari Nias yang kuliah ilmu pemerintahan di STPMD APMD Yogyakarta. Putri terpanggil pulang Nias selama liburan kuliah untuk melihat kembali anyaman lokal Nias di Gido, kampung halamannya yang mulai sulit dijumpai karena pengrajin anyaman ini kebanyakan sudah berusia lanjut dan kaum muda kurang berminat menekuni anyaman meskipun sebenarnya anyaman ini, seperti bolanafo dan tufo, dibutuhkan dalam acara tradisional Nias dan sebagai cinderamata. Putri berkeliling di desa Somi kecamatan Gido dan desa Hiliganoita kecamatan Bawolato untuk menemukan pengrajin anyaman dan ketika ketemu ternyata pengrajin sudah sangat tua dan tidak ada yang mewarisi keterampilan ini. Tanaman untuk serat anyam adalah Keleömö (Eleocharis dulcis) sejenis rumput yang tumbuh di rawa-rawa, tanaman dikeringkan dan dipipihkan, lalu diberi pewarna dan dianyam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia menemui perangkat desanya untuk berdialog tentang program desa berkaitan pelestarian anyaman tradisional Nias dan belum ada upaya khusus untuk itu, sehingga ia mendorong perangkat desa memberi perhatian pada pelestarian warisan budaya lokal dan memberdayakan masyarakat dengan usaha kerajinan yang menguntungkan. Kegiatan Putri lainnya adalah memotivasi siswa-siswa SMA belajar dengan baik dan cermat memilih jurusan di kampus, dan mengajari bahasa Inggris untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Marianus Yakobus Lily Lejap, seorang anak muda dari Lembata, Nusa Tenggara Timur yang kuliah di Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta jurusan Teknik Informatika. Marno, nama akrab Marianus kembali ke kampung halaman dan membagikan keterampilan mengoperasikan komputer untuk perangkat desa Omesuri dan Lamagute, kecamatan Ile Ape. Penguasaan teknologi dibutuhan perangkat desa mengingat fasilitas komputer sudah ada tetapi belum digunakan optimal karena belum bisa mengoperasikan komputer, sementara tuntutan layanan desa dan administrasi sudah berbasis teknologi dan komputer.

 

 

 

 

 

 

Kesulitan merancang jadwal karena sebagian perangkat desa sibuk mengurus kebun dan acara di daerah lain, tidak menyurutkan semangat Mariano untuk tetap mendampingi beberapa dari mereka yang antusias belajar. Dalam prosesnya, bidan desa dan pemuda karang taruna bergabung belajar komputer untuk mengetik surat administrasi desa, menyusun data penduduk, membuat tabel anggaran dan mendesain powerpoint. Selama proses interaksi dalam kegiatan ini, terungkap harapan para perangkat desa kepada mahasiswa daerah untuk membagikan pengetahuan mereka sebagai wujud partisipasi pembangunan desa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fei Anjelicha Tiladuru, mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan di STPMD APMD Yogyakarta yang berasal dari Poso, Sulawesi Tengah, memanfaatkan liburan untuk mendalami konsep dan pelaksanaan desa digital di desa Lamahu, Gorontalo. Konsep desa digital ini menarik sebagai respon perkembangan teknologi dan peningkatan kualitas layanan desa kepada penduduk berupa surat menyurat dan administrasi berbasis komputer, layanan pengaduan, darurat kesehatan dan keamanan berbasis aplikasi, termasuk peningkatan pendapatan desa melalui unit bisnis desa berupa rumah makan dan kios makanan kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari Lamahu, Fei kemudian mencari peluang penerapan desa digital di kampung halamannya, di Pendolo, Sulawesi Tengah. Ia menemui perangkat desa dan karang taruna setempat, namun organisasi mereka belum terkelola dengan baik dan bahkan aktivitasnya mandeg. Sebagai alternatif ia mengumpulkan anak muda secara mandiri dan berdialog informal tentang realita yang dihadapi anak muda setempat tentang pergaulan dan kesempatan kerja, juga membangun komitmen saling berhubungan dan bertukar informasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Riskia Gusta Nita, dari Pugungraharjo, Lampung Timur, yang sedang menempuh studi Teologia di STAK Marturia dan mendalami dinamika pelayanan gereja dan isu-isu aktual berkaitan relasi antar umat beragama, dimana saat ini marak dengan isu intoleransi. Ia ingat di desanya ada tradisi saling kunjung saat hari besar agama, dimana penduduk setempat berkunjung ke penduduk yang merayakan hari besarnya, tidak masalah apakah mereka beragama Islam, Hindu atau Kristen, mereka tetap berelasi baik dan mewarisi tradisi ini sampai sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Di saat liburan kampus ia kembali ke desa dan mendalami tradisi saling kunjung tersebut, bagaimana awalnya, siapa saja yang berperan sehingga tradisi ini tetap lestari dan apa saja tantangan pada masa kini. Diakui bahwa tradisi ini bukan asli desa setempat karena penduduk desa ini awalnya dihuni oleh para transmigran dari Jawa, Bali dan Lombok sehingga penduduknya beragam. Saat hari besar sanak saudara saling berkunjung meskipun memeluk agama berbeda, kemudian ini berkembang menjadi kebutuhan bersama masyarakat setempat untuk menjalin kerukunan antar umat beragama, terbukti dengan adanya komunitas Gerakan Menjalin Kerukunan (GMK). Saat mengikuti tradisi saling kunjung, Kia berdialog bersama pemuda gereja setempat tentang partisipasi pemuda dalam pelayanan gereja dan relasi baik antar agama. Pengalaman ini menjadi bekal ke depan ketika Kia menjadi seorang pendeta menyampaikan pesan-pesan gerejawi secara inklusif dan mampu mewujudkan relasi harmonis antar agama di masyarakat.

 

 

 

 

 

Kiprah mahasiswa untuk melestarikan anyaman lokal, berbagi keterampilan komputer, meningkatkan layanan desa dan peran karang taruna, serta melestarikan semangat toleransi melalui tradisi saling kunjung merupakan buah-buah kesadaran mahasiswa untuk daerah asalnya. Adanya hubungan kontekstual antara mahasiswa dan permasalahan di daerahnya akan menggerakkan hati dan mendorong mereka melakukan sesuatu yang bemanfaat untuk daerah asal. (TRU).


  Bagikan artikel ini

Menjahit Kain Merakit Masa Depan Anak Muda Mandiri dari Menjahit

pada hari Jumat, 20 Desember 2019
oleh adminstube
 
 
Kegagalan adalah kondisi tidak tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan dari awal. Hal Ini normal terjadi dalam kehidupan, bahkan bisa dikatakan setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Tokoh-tokoh terkenal pun, tak luput dari kegagalan sebagaimana tertulis dalam biografinya yang memuat kisah mulai dari perjuangan, pengorbanan, kegagalan yang bertubi-tubi dan akhirnya meraih keberhasilan.
 
Kegagalan yang biasa dialami mahasiswa seperti gagal dalam studi, gagal dalam berorganisasi, bahkan gagal bertahan hidup, terlebih mahasiswa yang merantau. Pengalaman ini menjadi refleksi dan memiliki makna baik sebagai batu loncatan untuk meraih keberhasilan. Dengan perspektif yang benar, ketika semakin sering mengalami kegagalan, maka seseorang akan semakin matang untuk menempa dirinya dengan berbagai keterampilan dan kecakapan untuk mengatasi masalah, bahkan cara mengantisipasinya.

Kecakapan tambahan selain pengetahuan dari kampus adalah salah satu strategi yang disampaikan dalam pelatihan Belajar dari Kegagalan dengan tema Per Angusta Ad Augusta (dari Kesulitan menuju Kemuliaan) yang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta pada tanggal 18- 21 Oktober di Villa Taman Eden 1 Kaliurang. Berbagai strategi hidup yang muncul dalam pelatihan ini merupakan ‘sharing’ pengalaman dari para peserta ketika mereka mengalami kegagalan dan mencari jalan keluarnya. 

Satu kelompok mahasiswa yang terdiri dari Yoel, Maritjie, Thomas, dan Eri Kristian bersemangat untuk memiliki keahlian dalam bidang menjahit, sebagai upaya untuk membuka peluang mendapatkan tambahan uang saku. Yoel Yoga Dwianto selaku mahasiswa fasilitator, sudah memiliki keahlian dalam membuat tas punggung dengan label Anakita Tas, karena saat ini Yoel bekerja di perusahaan ini sebagai karyawan. Karena kesukaannya berbagi dengan anak muda yang bersemangat untuk belajar, maka Yoel sangat terbuka untuk siapa saja boleh belajar asalkan mempunyai kemauan dan niat yang kuat. Ia melatih mereka memanfaatkan bahan sisa kain yang disediakan oleh produsen tas tersebut. Mereka belajar mengoperasikan mesin jahit, membuat pola pada kain memotong kain dan menjahit potongan kain. Peserta hanya membutuhkan waktu dua kali pertemuan untuk menghasilkan satu buah tas sederhana. Pada pertemuan pertama, peserta belajar mengoperasikan mesin, dan menjahit kain bekas. Selanjutnya pada pertemuan kedua, peserta belajar menjahit tas sendiri dan di akhir pembelajaran mereka membawa pulang tas hasil karya masing-masing.

Kesulitan-kesulitan hidup yang Yoel alami sebagai mahasiswa rantau dari Kotabumi Lampung yang sedang studi di Yogyakarta, seperti keterbatasan biaya studi, pesimisme orang atas dirinya, dan ditinggal ayahanda untuk selamanya karena sakit, sempat membuatnya cuti kuliah untuk bekerja mengumpulkan dana supaya bisa melanjutkan kuliah. Banyak hal dia lakukan, dari mengelola kebun sayuran, menjadi pemain jimbe profesional, tukang potong rambut, sampai berjualan rambut reggae dan akhirnya menekuni pembuatan tas. Kesulitan-kesulitan ini menempanya menjadi seseorang yang tangguh dan tetap murah hati berbagi ilmu.
 
“Saya terbuka dengan siapa saja yang mau belajar, tetapi saya juga menyaring siapa yang punya niat dan keinginan mau belajar, karena percuma kalau seseorang tidak punya niat untuk belajar tetapi saya paksa untuk belajar, akhirnya pasti tidak akan jadi. Semangat saya adalah ketika melihat teman-teman punya minat, maka mari kita belajar bersama”, ungkapnya.
 
Untuk teman-teman muda, terlebih yang merantau ke Yogyakarta, seberapa pun berat kesulitan yang dihadapi ketika studi saat ini, janganlah mudah menyerah, coba dalami apa penyebab kesulitan dan cari solusinya dengan membekali diri dengan berbagai keterampilan agar bisa melakukan hal baik lebih banyak. Salam, Per Angusta Ad Augusta (Mariano Lejap)



  Bagikan artikel ini

Menggali Motif Eksotis Batik Waropen   (Kegiatan bersama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga   Kabupaten Waropen, Papua)        

pada hari Selasa, 10 Desember 2019
oleh adminstube
 

 

Waropen adalah kabupaten baru yang mekar pada tahun 2003. Sebelumnya daerah ini merupakan bagian dari kabupaten Yapen Waropen. Waropen memiliki potensi hutan bakau dan budidaya kepiting yang luar biasa. Kabupaten ini dikenal dengan kota 1000 bakau karena  dikelilingi dengan tumbuhan bakau hampir di seluruh pesisirnya. Sebuah aset yang berpotensi sangat besar yang bisa diolah sebagai sumber pendapatan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

 

 

 

Menjadi utusan Stube HEMAT Yogyakarta ke kabupaten Waropen untuk berbagi ilmu dan menularkan ketrampilan merupakan anugrah besar dan sangat berkesan, karena baru pertama kali saya menginjakkan kaki di Tanah Papua. Berbagi dengan pemuda dan masyarakat di sana tentang apa itu batik, bagaimana membuat batik, serta filosofis batik juga sekaligus menggali potensi anak muda dan mengangkat motif-motif eksotis Waropen dalam batik menjadi kegiatan yang seru dan mengasyikkan. Kegiatan menarik ini tidak lepas dari program yang digagas oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Waropen yang menggandeng Stube-HEMAT Yogyakarta, sebuah lembaga pendampingan mahasiswa yang berpusat di Yogyakarta dalam program ‘Pelatihan Membatik dan Usaha Produktif  Berbasis Batik’.

 

 

 

 

Perjalanan ke Waropen menjadi sebuah tantangan tersendiri. Selain jauh di bagian timur Indonesia, perjalanan ditempuh dengan beberapa kali transit pesawat dan lanjut moda transportasi laut. Bersama Bapak Enos Refasi (Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Waropen) dan Iron Kayai (staff dinas pemuda dan olahraga), kami memulai perjalanan pada tanggal 21 Desember 2019. Sekitar jam 15:00 WIB kami terbang dari Yogyakarta menuju Surabaya, selanjutnya menuju Makasar. Pukul 23.45 WITA kami tiba di Makasar dan berganti pesawat menuju Biak. Pukul 07.00 WIT pesawat mendarat di Biak, dan masih berlanjut menuju Serui. Ternyata perjalanan belum selesai sampai di Serui, karena kami masih naik speed boat selama dua jam untuk sampai Waropen. Akhirnya tanggal 22 Desember 2019 jam 15:00 WIT, kami tiba di tempat tujuan dengan selamat. Sungguh perjalanan yang seru dengan mengalami realita transportasi Indonesia dalam bingkai negara kepulauan.

 

 

 

 

 

 

Sambutan hangat masyarakat Waropen dengan penyambutan adat sangat menyentuh hati dan membuat saya lupa atas perjalanan panjang yang melelahkan. Saya juga belajar mengenal alam Papua yang memiliki hutan yang masih sangat lebat. Rasa lelah terobati dengan kegembiraan saat saya bertemu dengan beberapa peserta yang pernah ikut pelatihan membatik di Stube HEMAT Yogyakarta. Kami bersama membahas kegiatan membatik yang akan kami lakukan esok hari.

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan membatik dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2019 pukul 09.00 WIT yang  dibuka resmi oleh kepala Dinas Pemuda dan Olahraga. Pukul 11.00 WIT saya mulai memberikan materi perkenalan tentang batik kepada semua peserta yang hadir. Saya memulai dengan menjelaskan sejarah batik, penyebaran motif batik di daerah Jawa dan memperkenalkan alat dan bahan membatik. Setelah diskusi bersama terkait proses serta bahan untuk membuat batik, kami melanjutkan dengan menggambar motif pada kertas yang dipandu langsung oleh teman-teman peserta yang pernah pelatihan ke Jogja, dengan menggali  motif lokal dari Waropen seperti bunga, burung, kepiting dan beberapa alat musik.

 

 

 

 

 

 

Setelah maka siang dilanjutkan dengan menggambar motif pada kain mengikuti motif yang telah di gambar pada kertas, dilanjutkan dengan mencanting dan mewarnai. Proses pewarnaan dilakukan dengan dua teknik yaitu colet dan celup. Dari kedua teknik ini yang paling mudah menurut peserta adalah teknik celup karena tidak membutuhkan proses yang lama. Sedangkan bagi peserta yang punya hobby menggambar, cenderung memilih ke teknik colet karena memiliki banyak variasi warna.

 

 

 

 

 

Dari kegiatan ini saya melihat ada ketertarikan anak muda pada batik dan banyak potensi yang bisa dikembangkan. Alam yang masih alami, aneka pepohonan, terumbu karang, aneka ikan dan burung-burung, serta hutan mangrove yang cantik bisa menjadi inspirasi motif-motif lokal batik khas Waropen yang bisa dikemas dalam industri kreatif yang dikelola oleh pemuda. Hal ini terlihat dari pernyataan teman-teman yang pernah belajar ke Yogyakarta dan  aktif berbagi tentang batik pada anggota sanggar masing masing.

 

 

Walau hanya sehari, saya merasa puas telah memberi pemahaman dan cara membatik agar menghasilkan produk yang siap dijual dan diterima semua kalangan. Jadilah anak muda yang kreatif agar bisa menularkan ide dan gagasan kepada orang lain untuk bersama membangun Indonesia lebih baik. (EP).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook