pada hari Selasa, 20 Desember 2016
oleh Stube HEMAT
Menumbuhkan Cinta
untuk Kampung Halaman
 
 
Berada di kampung halaman ketika liburan semester menjadi pilihan sebagian mahasiswa yang sedang kuliah di Yogyakarta. Stube-HEMAT Yogyakarta dengan program Eksposur Lokal mendorong mahasiswa merancang suatu kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitar ia tinggal. Program ini membantu mahasiswa menumbuhkan kepeduliannya terhadap daerah asalnya, memetakan potensi daerah dan hambatannya, membuka jejaring dengan pihak lain dan melakukan orientasi kerja setelah selesai studi di Yogyakarta. Ada tiga mahasiswa yang menjadi peserta program ini, siapa saja mereka?



 
Agustinus Soleh
Ia sering dipanggil Agus, mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Sekolah Tinggi Pembangunan  Masyarakat Desa ‘APMD’ yang berasal dari Long Alango, Malinau, Kalimantan Utara. Perjalanan ke kampung halaman ditempuh beberapa hari dan perlu nyali kuat. Betapa tidak, ia berangkat dari Yogyakarta menuju Tarakan menggunakan pesawat udara, dilanjutkan dari Tarakan menuju Bahau Hulu menggunakan perahu melawan derasnya arus sungai. Tak hanya itu, di tengah perjalanan ia dan beberapa penumpang bermalam di tepi sungai dan berganti perahu yang lebih kecil karena ada batu-batu besar di sepanjang sungai.
Sesampai di kampung halaman ia melakukan pemetaan potensi desanya. Ia melakukan pendekatan dengan warga desa, mewawancarai perangkat desa dan kecamatan setempat, ketua adat, kepala adat, kelompok anak muda, kelompok tari ibu-ibu, kelompok tari anak dan remaja, kelompok tari orang dewasa, kelompok kerajinan tangan dan kelompok musik adat. Ia juga mengikuti kerja bakti desa, melatih seni tari adat bagi anak-anak SD, SMP dan remaja, mengisi tari tunggal dan mengamati hutan tanah ulen.
 
Ia menemukan potensi yang bisa dikembangkan seperti hutan lindung Tanah Ulen, tari-tarian adat, panorama alam, kuburan batu, kerajinan tangan. Ia juga merasan bahwa kehadirannya mendapat respon dan sambutan yang baik dari masyarakat. Mereka berharap agar Agus bisa pulang saat liburan dan membuat kegiatan bersama masyarakat.




Elisabeth Uru Ndaya
Elis kuliah di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Ia tertarik mendalami tenun karena ia menemukan kenyataan bahwa sebagian anak muda Sumba Timur menggunakan kain tenun Sumba tetapi tidak mengetahui motif dan makna pada kain tenun tersebut. Bahkan tidak jarang kain tenun yang dipakai motifnya kurang sesuai dengan acara yang diikuti. Ini ironis karena kain tenun merupakan warisan budaya yang menjadi ciri khas daerah Sumba Timur.
 
Saat liburan ia bertekad mendalami tenun tradisional dengan mendatangi desa (kampung) pembuat tenun, seperti kampung Kalu, kampung Prailiu, kampung Padadita dan kampung Palindi di kecamatan Kambera, Waingapu. Setelah belajar beberapa minggu ia menemukan berbagai gambar dan makna, misalnya gambar buaya lambang kebesaran raja, gambar papanggang simbol hamba/atta, gambar andung atau tengkorak lambang perang, gambar ayam simbol ritual kepercayaan marapu, gambar kuda sebagai hewan dalam masyarakat Sumba dan gambar mamuli simbol mahar perkawinan adat.
 
Proses tenun memerlukan alat dan bahan, seperti piapak (penggulung benang), wanggi pamening (pemintal), kapala (alat ikat benang yang siap digambar), tenung (alat tenun), wurung (merendam pewarna), lesung (penumbuk akar mengkudu), benang halus (sutra), benang kasar (wol), akar mengukudu (merah/kombu), daun lira (wora/biru), pohon ijju dan kemiri (kuning) dan kapur untuk pengawet kain.
 
Kelestarian tenun Sumba Timur perlu terus dijaga, tetapi sayangnya hanya sedikit generasi muda yang mau menekuni keterampilan membuat kain tenun tradisional Sumba Timur. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi masyarakat Sumba Timur untuk terus menjaga keberadaan tenun tradisional.




Johain Pekaulang
Seorang fresh graduate jurusan Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta. Ia berasal dari Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara. Sesuai ilmunya, ia ingin tahu sejauh mana penerapan hukum adat di Buli dalam penyelesaian perkara pidana seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman.
 
Sekitar tahun 1980 masyarakat Buli masih lekat dengan adat-istiadat. Jika terjadi pelanggaran atau kejahatan, dalam bahasa hukum disebut tindak pidana, sering diselesaikan secara musyawarah atau kekeluargaan yang berakhir damai antara korban dan pelaku, bisa juga penyelesaian dengan denda adat. Selain itu, ketika ada pernikahan, musik yang sering dimainkan adalah lalayon dan diiringi tari lalayon dan cakalele. Gotong-royong pun masih umum dijumpai dan masih berlaku sistem barter. Namun Dalam kurun waktu 1990 – 2000 perkembangan zaman dan pengaruh budaya luar berdampak, hukum adat di Buli perlahan ditinggalkan sehingga jika terjadi pelanggaran atau kejahatan cenderung diselesaikan secara hukum nasional. Musik serta tarian lalayon pun sudah jarang dimainkan.
Selain itu, diawal ia berhipotesa bahwa saat pulang ia hanya akan menemukan kasus perkelahian dan seks bebas di kalangan anak muda, tetapi ternyata terjadi peningkatan kasus korupsi dan kasus pencurian di Buli, persaingan yang tidak sehat antar anak muda dan organisasi, saling menjatuhkan satu sama lain, tidak peduli terhadap kampung sendiri dan bahkan cenderung untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Hal-hal ini membuatnya sedih dan membuatnya terpanggil untuk kembali untuk mengajarkan ilmu dan pengalamannya kepada anak-anak muda demi terbangunnya karakter masyarakat Buli yang lebih baik, memiliki hidup yang berguna bagi masyarakat.
 
Pengalaman-pengalaman yang ditemukan tiga anak muda ketika berada di kampung halamannya di atas bagai sebuah sentuhan kecil namun nyata yang mampu mengubah sikap dan cinta seseorang untuk berkomitmen melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk kampung halamannya. (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 10 Desember 2016
oleh Stube HEMAT
EXPLORING SUMBA 2016

 

Berbagi Pengalaman dan

 

Saling Belajar

 

 

 

 

 

 

Sebuah perjalanan mengunjungi daerah baru untuk mengenal masyarakat dan budaya merupakan kesempatan yang sangat berharga. Terlebih lagi kesempatan berinteraksi dan saling belajar dengan masyarakat setempat mengenai keberagaman yang ada di Indonesia. Stube-HEMAT Yogyakarta memberi kesempatan kepada mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta untuk berkunjung ke Sumba, salah satu pulau di Nusa Tenggata Timur. Tidak setiap orang bisa berkunjung ke Sumba menikmati keelokan alam, keunikan budaya dan masyarakatnya.

 

 

 

Ada beberapa mahasiswa yang berani menerima tantangan menjelajah Sumba untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Siapa saja mereka?

Pertama adalah Junita Samosir, seorang lulusan Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Di Sumba, ia membagi pengetahuan tentang budidaya sayuran organik kepada penduduk di Laimbonga, Sumba Timur. Praktek membuat kebun percontohan melibatkan penduduk setempat antara lain observasi ketersedian lahan, pengolahan lahan, persiapan benih dan pengairan sampai perawatan tanaman. Setelah hampir satu bulan hasilnya bisa dipanen bersama penduduk setempat. Selain itu, Junita juga membagikan keterampilan mengolah labu kuning menjadi puding karena kandungan gizinya sangat tinggi terutama sebagai sumber karbohidrat, vitamin dan mineral. Penduduk sangat antusias mengolah labu kuning karena biasanya labu kuning hanya sebagai makanan babi atau direbus biasa.

 



 

Berikutnya adalah Resky Yulius, seorang mahasiswa Manajemen Universitas Kristen Duta Wacana yang berasal dari Toraja. Ada dua hal yang ia lakukan di Sumba, yaitu berbagi pengalaman dengan mahasiswa STT GKS tentang menulis dan membuat curriculum vitae atau CV sebagai wujud kesiapan diri memasuki dunia kerja maupun menciptakan peluang kerja dan mendokumentasi berbagai hal yang menarik di Sumba, seperti budaya, kerajinan tangan dan landscape alamnya.

 



 

Peserta ketiga adalah Christian Badai Bulin, seorang mahasiswa Teknik Informatika Universitas Kristen Duta Wacana yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Ia membuat beberapa video pendek yang menceritakan tentang Sumba, antara lain penguburan adat Marapu, suasana salah satu pantai di Sumba dan prosesi menggunakan pakaian adat. Harapannya video pendek yang dihasilkan ini bisa digunakan sebagai dokumentasi dan promosi wisata di Sumba.
 

 



 

Keadaan kesehatan masyarakat Sumba menjadi perhatian Imelda Dewi Susanti, lulusan Stikes Bethesda Yogyakarta yang berasal dari Sekadau, Kalimantan Barat. Ia berbagi pengalaman dengan masyarakat dan jemaat GKS Kaliuda, Sumba Timur untuk mengenal penyakit herediter (hipertensi dan diabetes millitus) dan penanganannya termasuk mengolah minuman herbal dari labu. Selain itu, ia juga sosialisasi pola hidup bersih dan sehat, mengecek tekanan darah dan melakukan praktek senam kesehatan untuk anak muda di Kaliuda.

 


 

 

Peserta kelima adalah Yohanes Dian Alpasa, alumnus teologi Universitas Kristen Duta Wacana yang berasal dari Bengkulu. Ia mewawancarai para aktivis Stube-HEMAT Sumba yang menjadi peserta eksposur ke Stube-HEMAT Yogyakarta dalam kurun waktu 2010-2016 untuk mengetahui sejauh mana program ini bermanfaat dan diterapkan di daerah asal. Dua puluh sembilan peserta berhasil ia wawancarai, sembilan orang via telepon dan dua orang tidak berhasil ditemui karena bekerja di lain pulau.

 

 

 
 
 

 

Peserta keenam adalah Vicky Tri Samekto, alumnus teologi STAK Marturia. Dengan bekal kemampuan teater yang dia miliki, Vicky mencoba mendorong dan memberi wadah anak muda untuk mengekspresikan diri dalam olah suara dan tubuh. Latihan-latihan teater menjadi salah satu praktek sederhana ekspresi diri. Tentu saja ekspresi tersebut mengangkat tema-tema sosial dan anak muda.

 


 

Itulah berbagai karya anak muda sekalipun sederhana tetapi mampu menginspirasi sesama. Stube-HEMAT Yogyakarta terus-menerus mendorong dan memotivasi anak muda untuk mewujudnyatakan idealisme dan pengalamannya sehingga bermanfaat untuk masyarakat.(TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 5 Desember 2016
oleh Stube HEMAT
Hidup Dekat Sedulur Sikep

 

Live-in bersama Komunitas Sedulur Sikep

 

di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah

 

 

 

 

‘Experiential Learning’ menjadi salah satu metode pembelajaran yang dilakukan Stube-HEMAT ketika melaksanakan program-programnya. Metode ini memberi nilai tambah kepada mahasiswa sebagai peserta program, karena mereka dapat berinteraksi secara langsung dengan pihak-pihak yang ada dan menemukan pengalaman-pengalaman pribadi yang memberi kesan dan pesan bagi mereka.

 

 

 

Metode ini diterapkan Stube-HEMAT Yogyakarta dalam program HAM pada 2-4 Desember 2016. Pelatihan diadakan di Hotel Cailendra Extension, Yogyakarta dan Live-in bersama Komunitas Sedulur Sikep di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah yang diikuti oleh dua puluh tiga peserta mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Yogyakarta.

 

 

 

Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta membuka kegiatan dengan renungan tentang janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Kesempatan belajar ini adalah berkat Tuhan, maka, gunakanlah sebaik-baiknya untuk mengetahui apa yang baik, mengembangkan diri dan menerapkannya demi kebaikan bersama. Selanjutnya Trustha memperkenalkan Stube-HEMAT dan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, yaitu live-in bersama komunitas Sedulur Sikep.

 

 

 

Dr. Budiawan, pengajar dari Prodi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM memaparkan sejarah singkat masyarakat Samin, istilah lain dari Sedulur Sikep. Diawali oleh Samin Surosentiko yang melakukan perlawanan terhadap Belanda atas pungutan pajak. Uniknya perlawanannya dilakukan tanpa kekerasan. Gerakan ini terus berkembang dan akhirnya Belanda menangkap Samin Surosentiko dan diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Meski demikian ajaran Samin ini terus dipegang oleh pengikut-pengikutnya yang setia bahkan sampai saat ini. Mengenai istilah Samin sendiri merupakan sebutan dari pihak luar, sedangkan pengikut mereka menyebut sebagai Sedulur Sikep.

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya, jam 5.30 pagi peserta berangkat menggunakan bus dari Yogyakarta menuju Sukolilo yang ditempuh hampir lima jam. Sesampainya di Sukolilo, rombongan langsung menuju ke dusun Bombong, kediaman Gunritno, tokoh Sedulur Sikep di Sukolilo. Sambutan yang ramah dan bersahabat menjadi ciri khas komunitas ini.

 

 

 

Ariani Narwastujati, direktur eksekutif Stube-HEMAT Yogyakarta menyampaikan rasa terima kasih karena para mahasiswa boleh berkegiatan dan mengenal komunitas Sedulur Sikep di Sukolilo. Kami ingin belajar mengenai sikap hidup, kesederhanaan, kejujuran, sistem kehidupan masyarakat setempat dan kecintaan terhadap pertanian dan lingkungan.

 

 

 

Gunritno mengungkapkan bahwa para sedulur Sikep menerima kedatangan para mahasiswa dan memberi kesempatan untuk belajar bersama dengan mereka dan mahasiswa bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Ia berharap proses belajar tidak berhenti pada saat Live-in saja tetapi ada tindak lanjut yang dilakukan oleh para mahasiswa. Ia bercerita tentang prinsip sebagai Sedulur Sikep harus hidup jujur (pikiran, ucapan, dan tindakan), ora srei, drengki, tukar padu, dahpen kemeren, mbedog colong (bahasa Jawa). Artinya dalam bahasa Indonesia adalah: tidak iri, tidak dengki, tidak perang mulut (apalagi berkelahi), tidak menipu, tidak mencuri, dan selalu berlaku baik dan benar.

 

 

 

Sedulur Sikep sangat menghormati kehidupan. Kami menghormati Bumi seperti ibu. Bumi adalah Ibu Pertiwi yang melahirkan hidup dan memberi kecukupan sepanjang masa. Menghormati dan merawat keseimbangan alam dengan demunung (tidak serakah) adalah kunci selamat menjalani hidup. ”Sebab kalau tidak, alam akan menata keseimbangannya sendiri,” ia menjelaskan.

 

 

 

Menata keseimbangan berarti ‘genepe alam’ (genapnya pranata alam), melalui berbagai bentuk bencana. ”Manusia adalah bagian dari alam. Karena itu harus dandan-dandan (memperbaiki sikap), supaya jangan ada korban dan dampak lebih besar dari proses itu,” lanjutnya.

 



 

Berbagai cerita menarik dan pengalaman baru ditemui oleh para peserta yang tinggal di empat lokasi keluarga Sedulur Sikep. Di rumah mbak Siti di Bombong, peserta menemukan kemandirian dan peran seorang peremuan yang tangguh, mampu mengerjakan lahan pertanian dengan baik, dan tak sungkan untuk ikut membangun rumahnya. Di rumah ini bahan bakar untuk memasak menggunakan biogas dari limbah kotoran sapi yang dimiliki keluarga ini.

 



 

Berikutnya di rumah Ibu Gunarti di Bowong, selain menemukan tekad komunitas Sedulur Sikep bekerja hanya sebagai petani, para peserta juga menemukan kenyataan bahwa anak-anak dalam keluarga Sedulur Sikep tidak bersekolah formal, tetapi dididik dalam keluarga tentang sikap hidup jujur, rendah hati, tidak sombong, tidak boleh iri dan tidak boleh mengambil milik orang lain.

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

Sedangkan di rumah pak Wargono di Galiran, meski peserta sempat kesulitan berkomunikasi karena komunitas Sedulur Sikep biasa menggunakan bahasa Jawa. Namun akhirnya bisa terjalin komunikasi yang dekat. Peserta perempuan berkesempatan belajar menggunakan kain, karena komunitas Sedulur Sikep punya prinsip bahwa celana panjang adalah pakaian laki-laki. Peserta menemukan keramahan dan kekerabatan yang erat ketika berkunjung ke rumah keluarga Sedulur Sikep lainnya di Galiran

 



 


Terakhir, peserta yang tinggal di rumah mbah Wargono di Kaliyoso menceritakan pengalaman perjalanan menegangkan menggunakan bus melewati persawahan dan ketika berada di sawah untuk mencabut bibit padi dan ditanam di hamparan sawah yang benar-benar subur dan melimpah airnya. Sebuah anugerah alam yang sudah semestinya dilestarikan keberadaannya.

 




 

Dua kelompok yang ada di Bombong dan Bowong sempat datang ke Omah Kendeng, yang dikenal sebagai tempat belajar dan pertemuan Sedulur Sikep di Sukolilo. Pada saat itu ada pertemuan dari berbagai pihak yang membahas perjuangan untuk menjaga pelestarian pegunungan Kendeng dari ancaman perusakan karena industri.
 

 

Pegunungan Kendeng menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya karena pegunungan itu menghasilkan mata air, lahan yang subur, tempat hidup flora dan fauna. Jadi, sudah selayaknya Pegunungan Kendeng dijaga kelestarian lingkungannya. Salam Kendeng...Lestari! (TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 28 November 2016
oleh Stube HEMAT
Lembaga Pemasyarakatan,
Antara Harapan dan Kenyataan
Minggu, 27 November 2016 di Sekretariat
Stube-HEMAT Yogyakarta
 
Diskusi lanjutan pada hari Minggu 27 November 2016 di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta, masih mengangkat topik Hak Asasi Manusia yang selalu menjadi diskusi menarik karena berkaitan dengan banyak hal, berbagai perspektif dan pemahaman, terlebih topik ini bersangkut paut dengan manusia dan kemanusiaan.

Dua fasilitator berpengalaman di bidangnya diundang untuk berbagi cerita dan pengalaman. Pertama adalah Eko Prasetyo, SH, aktivis Social Movement Institute (SMI), pegiat Hak Asasi Manusia dan penulis buku. Berikutnya, Edy Warsono, SH, yang bertugas di bidang Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan. Enam belas mahasiswa dari berbagai kampus ikut ambil bagian dalam diskusi ini. Mereka ingin tahu lebih dalam tentang dinamika pelaksanaan HAM saat ini, bagaimana kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan dan apa saja yang dialami oleh para penjaga penjara.
 
Eko Prasetyo, SH, menjadi fasilitator pertama dalam diskusi ini. Ia mengungkapkan ciri khusus HAM, seperti 1) Hakiki, bahwa hak asasi manusia adalah hak asasi semua umat manusia yang ada pada mereka sejak lahir, 2) Universal, bahwa hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang status, suku bangsa, gender atau perbedaan lainnya. Memang, persamaan adalah salah satu dari ide-ide hak asasi manusia yang mendasar, 3) Tak dapat dicabut, artinya hak asasi manusia tidak dapat dicabut atau diserahkan, dan 4) Tak dapat dibagi, bahwa semua orang berhak mendapatkan semua hak, apakah hak sipil dan politik, atau hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.

Kehadiran Edy Warsono, SH dari LP Batu Nusakambangan memancing rasa ingin tahu peserta yang sebagian besar mahasiswa. Ketika mendengar istilah ‘Nusakambangan’ imaginasi peserta langsung mengarah pada penjara, narapidana, pulau misterius dan menakutkan. Ini tidak salah karena sejak 1908 Belanda menetapkan Nusakambangan sebagai ‘poelaoe boei’ (pulau bui). LP Batu sendiri termasuk lembaga pemasyarakatan tingkat pengamanan tinggi (SMS-Super Maximum Security) karena di dalamnya berisi narapidana yang mendapat hukuman berat dan beresiko tinggi seperti subversif, narkoba, teroris, politik dan pembunuhan. Edy Warsono bertugas sebagai Pembina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas I Batu Nusakambangan dan ini menuntutnya selalu berinteraksi dengan setiap narapidana yang ada di LP tersebut. Berkaitan pembinaan narapidana, ia merujuk pada pendapat Dr. Saharjo, tokoh perintis sistem pemasyarakatan dan menteri Kehakiman Indonesia, ‘Narapidana adalah orang tersesat, mempunyai waktu untuk bertobat, pertobatan tidak dapat dicapai dengan penyiksaan, melainkan dengan bimbingan,’ yang disampaikan saat penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Indonesia tahun 1963.

 
Salah seorang peserta diskusi, Danial H Banju, mahasiswa APMD bercerita bahwa ia membaca di media massa, narapidana yang telah bebas terkadang melakukan kejahatan lagi, apakah di LP tidak ada pembinaan? Edy Warsono menjawab, “Ada pembinaan terhadap WBP dan ini dilakukan demi peningkatan kualitas warga binaan agar menyadari kesalahannya, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, berperan aktif dalam pembangunan dan hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Namun, masyarakat belum bisa menerima kembali warga binaan yang telah bebas. Hal ini menyakitkan bagi mereka. Sehingga pembinaan WBP juga melibatkan masyarakat, seperti acara ini. Masyarakat perlu tahu apa yang terjadi di dalam LP dan instrospeksi untuk bisa menerima kembali warga binaan yang telah bebas,” ungkapnya.
 

Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan keberadaan Lembaga Pemasyarakatan, karena kenyataannya jumlah narapidana melebihi kapasitas LP. Jumlah penjaga tidak sebanding dengan jumlah narapidana sehingga hal ini sebenarnya beresiko tinggi bagi kehidupan penjaga dan pegawai LP. Namun pada kenyataannya dengan pengetatan belanja negara, operasional LP juga mengalami pemangkasan. Ia juga mendorong mahasiswa menyadarkan masyarakat untuk mau menerima kembali warga binaan yang telah bebas, sehingga mereka memiliki optimisme untuk menjalani kehidupan dengan baik. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 20 November 2016
oleh Stube HEMAT
H A K   A S A S I   M A N U S I A   ( H A M )

 

Hak-hak Anak

 

 

 

 

 

 

Ada rasa penasaran ketika sebuah diskusi tentang hak-hak anak sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) disampaikan dengan metode bermain peran atau dramatisasi. Mengapa dilakukan dengan metode seperti itu, bagaimana cara dialognya, apa saja yang dilakukan dan berbagai pertanyaan lainnya.

 

 

 

Sesuatu hal yang berbeda tentu akan menjadi daya tarik suatu kegiatan. Ini yang mendorong belasan mahasiswa mengikuti diskusi yang diadakan di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta pada hari Sabtu, 19 November 2016. Kegiatan diskusi ini merupakan bagian pertama dari rangkaian kegiatan dalam program Hak Asasi Manusia.

 

 

 

Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S. M.Pd, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT menyampaikan materi tentang Hak Asasi Manusia, khususnya hak-hak anak. Ia cukup akrab dengan topik ini karena pernah mengikuti diskusi serupa di Stube Nord, Jerman. Selain itu, ia juga menjadi Sekretaris Kampung Ramah Anak di Nyutran, Yogyakarta.

 

 

 

Di awal diskusi Ariani mengajak peserta untuk berlatih olah nafas dan ekspresi. Dua hal ini merupakan unsur penting dikuasai oleh seseorang untuk bermain peran. Kemampuan olah pernafasan yang baik akan sangat membantu dalam bermain peran, karena seni peran membutuhkan energi untuk bersuara dan bergerak. Kemampuan ekspresi pun tak kalah penting karena ekspresi yang tepat akan memperkuat pesan yang disampaikan.

 

 

 

Masing-masing peserta memilih hak yang akan mereka perjuangkan dan kemudian berlatih menyuarakan hak-hak yang diperjuangkan disertai ekspresi. Ternyata, tidak semua peserta bisa berekspresi dengan bebas, sebagian lain masih canggung dan perlu belajar lagi mengasah kemampuan ekspresinya.

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya di dalam kelompok, peserta mempersiapkan drama singkat menyuarakan hak-hak anak. Grup pertama mencipta lagu pendek yang berisi ajakan untuk menghargai hak-hak orang lain. Grup berikutnya mengkreasi ulang lagu yang berisi pesan memenuhi hak-hak anak. Grup ketiga dengan drama menampilkan potret keluarga kecil di pedalaman Kalimantan Barat yang mengalami keterbatasan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

 

 

Dalam paparannya Ariani mengungkap bahwa hak-hak anak sebenarnya telah ada sejak anak dalam kandungan, sejak terjadi konsepsi. Hak-hak anak ini dirangkum dalam beberapa kelompok, di antaranya: hak sipil dan kebebasan, lingkungan dan pengasuhan, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan dan waktu luang dan perlindungan khusus. Salah astu contoh pemenuhan hak anak adalah seorang anak memiliki akta kelahiran.

 

 

 

Mengenai HAM di Indonesia sendiri, meskipun hak asasi manusia sudah dideklarasikan sejak tahun 1948, pemerintah Indonesia baru mewujudkan dalam sebuah Undang-undang pada tahun 1999. Dalam deklarasi HAM memuat 30 pasal yang menjamin hak bagi setiap manusia.

 

 

 

 

 

 

Di akhir acara beberapa peserta mengungkapkan sesuatu yang mereka dapatkan, seperti “Melalui diskusi ini, terjawab semua pertanyaan saya karena saya bercita-cita menjadi seorang pembela atas hak anak dan perempuan”, ungkap Angelicha. Hal senada diungkapkan Marno Lejap, seorang mahasiswa dari Lembata, “Setelah mengetahui bahwa Indonesia sangat tertinggal dari dunia internasional tentang hak anak, maka inspirasi saya adalah bahwa kampung ramah anak memang perlu diterapkan di daerah saya (di Lembata, NTT).”


 

 

Kegiatan lanjutan dari program Hak Asasi Manusia adalah diskusi mendengar pengalaman seorang yang bertugas di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan dan pelatihan serta kunjungan belajar bersama masyarakat Sedulur Sikep di Pati, Jawa Tengah.

 

 

Selamat berproses mengenali diri, sesama dan hak asasi manusia, teman-teman muda. (TRU)


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 18 November 2016
oleh Stube HEMAT
PROGRAM HAK ASASI MANUSIA
 
 
 
Sebuah kesempatan baik untuk rekan-rekan mahasiswa belajar HAM (Hak Asasi Manusia). Tidak hanya mendalami pengetahuan dan memperjuangkan hak diri dan orang lain tetapi juga berproses mengenali diri dan memiliki sikap hidup yang mantap melalui interaksi dengan sesama.
 
Ini agendanya:


Diskusi Awal: Hak-hak Anak
Sabtu, 19 November 2016
Pukul 10.00 – 13.00 WIB
Di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta
 
 
Diskusi dan Sarasehan:

 

Minggu, 27 November 2016

 

Pukul 09.30 - 13.00

 

Di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

bersama
Eko Prasetyo, SH (Social Movement Institute)
Edy Warsono, SH (LP Batu, Nusakambangan)

Pelatihan:
Jumat - Sabtu, 2 - 3 Desember 2016

 

Mulai pukul 16.00 WIB

 

Di Hotel Cailendra Ekstension, Nyutran, Yogyakarta

 

 

 

Live In:

 

Sabtu - MInggu, 3 - 4 Desember 2016
Di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah
Bersama Komunitas Sedulur Sikep

 

 
 
Segera hubungi:

 

Team Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Trustha 0813 9277 2211

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 17 November 2016
oleh Stube HEMAT
Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya

 

Menyemai Perdamaian Merajut Ke-Bhinneka-an

 



Memiliki keragaman suku bangsa, bahasa, budaya dan agama merupakan kekayaan yang tak ternilai dan perlu terus dipertahankan oleh Indonesia. Namun demikian, keragaman ini bukan tanpa tantangan karena dengan berkembangnya budaya populer, konsumerisme, hedonisme dan fanatisme sempit menjadi tantangan bangsa ini. Selain itu ketidakpedulian terhadap lingkungan ikut ambil bagian di dalamnya.

Kenyataan ini harus disadari oleh seluruh elemen anak bangsa. Salah satu cara dalam memelihara keragaman dan kekayaan ini melalui kebersamaan menggelorakan semangat multikultur melalui karya nyata yang diwujudkan dalam acara Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya.


Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai wadah pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia ikut ambil bagian dalam acara Apel Kebangsaan Kaum Muda Multikultur di Alun-Alun Klaten, Indonesia Interreligious Carnival dari Alun-Alun sampai Monumen Juang 45 Klaten, dengan mengutus satu grup ke-Bhinneka-an dalam karnaval yang mengawali acara tersebut dua hari sebelumnya.

 

 

 

Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya 2016 diselenggarakan oleh Forum Kebersamaan Umat Beriman Klaten dan diadakan di Rumah Retreat Panti Semedi Klaten 14 – 16 November 2016 bertema Menyemai Perdamaian dan Merajut Ke-Bhinneka-an untuk Indonesia yang Semakin Beradab dan Berkeadilan melalui Kearifan Budaya Lokal. Acara ini diikuti peserta dari jaringan lintas iman yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota dari sembilan propinsi di Indonesia. Mereka terdiri dari anak muda dan dewasa, santri, anak muda Katholik dan Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan penghayat Kepercayaan. Para pendeta, romo pastor, ulama dan bhikkhu terlibat aktif di dalamnya, juga tak ketinggalan tokoh-tokoh dan aktivis kemanusiaan, lingkungan dan kerukunan dan perdamaian serta berbagai komunitas lainnya. Stube HEMAT Yogyakarta mengutus Trustha Rembaka, koordinator Jogja dan Sarloce Apang, salah satu tim kerja untuk menghadiri pertemuan tersebut.

 

 

 

Dalam refleksi bertema Menyemai Perdamaian di Tengah Perkembangan Gerakan Multikultural melalui Kearifan Budaya Lokal dalam Rajutan Ke-Bhinneka-an, Letkol Caj. Drs. Anak Agung Ketut Darmaja (Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Jawa Tengah) menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara digali dari nilai-nilai lokal bangsa Indonesia. Itulah bukti pentingnya keseimbangan pemahaman iman dan pemahaman kebangsaan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

Dr. Prajarta dari Yayasan PERCIK mengungkapkan bahwa pengalaman otentik seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain, khususnya yang berbeda latar belakang akan membentuk sikap dan cara pandangnya terhadap keberagaman. Saat ini telah terjadi kapling-kapling berdasar agama bahkan sudah terjadi sejak anak-anak di sekolah-sekolah.

 

 

 

Romo Aloysius Budi Purnomo, Pr (ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang) menyampaikan pengalamannya berinteraksi lintas iman dan budaya, khususnya di kawasan Jawa Tengah. Ia berpendapat bahwa setiap orang harus ‘melek terhadap agama lain,’ artinya dalam menyikapi keberagaman harus dilandasi pikiran positif dan dalam tindakannya menyentuh sampai pada grass-root, tidak hanya pada tataran pengurus atau berhenti dalam forum saja.

 

 

 

Pdt. Penrad Siagian, Sekretaris Eksekutif Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan PGI, memaparkan fenomena sekarang ketika seseorang melihat agama lain dari sudut pandang agamanya, sehingga mudah baginya untuk menilai agama lain itu ‘kafir.’ Negara harus tegas terhadap gerakan-gerakan intoleran dan negara harus bertindak nyata untuk menegakkan regulasi yang ada. Selain itu, Pdt Penrad juga mengingatkan berkembangnya teknologi memudahkan isu trans-nasional mempengaruhi relasi interaksi antar agama di Indonesia. Karena itu penguatan nilai-nilai lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan.

 

 

 

KH Imam Aziz, ketua bidang Kebudayaan dan Hubungan antar Umat Beragama PBNU  mengingatkan kita semua untuk kembali pada kesalehan pribadi yang diwujudkan dalam kehidupan, diawali dari dalam keluarga. Kesalehan akan tampak ketika ada kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Hal penting lainnya menurut beliau adalah bersih diri, mengakui keberadaan orang lain (sesama) dan berkontribusi untuk masyarakat.

 

 

 

Di sesi reflektif bertema Menjaga Kelestarian Alam melalui Kearifan Lokal untuk Menjaga Bumi sebagai Rumah Bersama bagi Semua Makhluk, pengasuh Padepokan Agung Sanghyang Jati, Bhante Dhamma Tejo Thera mengungkapkan bahwa manusia harus kembali pada pepatah Eling lan Waspada, bahwa manusia bertanggungjawab atas kelestarian semesta dan seisinya, jika manusia tidak bisa menjaganya, maka alam menyeimbangkan dirinya sendiri, dan manusia menganggap itu sebagai bencana. Pengalaman beliau ketika pertama datang ke Gunung Selok di Cilacap, tempat itu gersang. Beliau menginisiasi penanaman ribuan mahoni dan perlahan namun pasti tempat itu kembali menghijau dan menarik untuk dikunjungi.

 

 

 

Muhammad Al-Fayyadl, aktivis muda yang lahir di Paiton Jawa Timur menyampaikan Islam dan ekologi, berefleksi dengan pertanyaan, apakah kita memiliki hubungan dengan alam? Bagaimana hubungan kita dengan alam? Hal ini menjadi menarik karena kita diajak untuk merenungkan kembali antara kita dan alam apakah eksploitatif atau saling bergantung (melestarikan). Ia juga mengingatkan kekayaan alam yang ada di Indonesia dalam pemanfaatannya jangan sampai membawa bencana dan masyarakat tidak sejahtera.

 

Di akhir acara ini peserta bersafari ziarah ke makam tokoh spiritual berbagai agama seperti makam Pandanaran, gua Maria Marganingsih dan candi Prambanan sebagai wujud kebersamaan dan mengenal relasi antar iman. Indonesia, tetaplah ber-Bhinneka Tunggal Ika. (TRU)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 13 November 2016
oleh Stube HEMAT
PARTISIPASI STUBE-HEMAT YOGYAKARTA
Karnaval Lintas Iman dan Budaya
Klaten, 12 November 2016
 
 
Keberagaman budaya dan agama yang ada di Indonesia merupakan kekayaan dan kenyataan yang harus disikapi secara sadar dan penuh ucapan syukur. Sikap ini harus terus ada dalam setiap benak anak bangsa sepanjang perjalanan bangsa Indonesia.
 
Demikian pula Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani yang sedang studi di Yogyakarta menyadari bahwa di dalam lembaga ini juga memiliki keberagaman baik itu latar belakang mahasiswa, asal daerah dan budayanya. Partisipasi Stube-HEMAT Yogyakarta dalam karnaval yang diadakan pada hari Sabtu 12 November 2016 adalah wujud tindak lanjut program Multikultur dan Dialog Antara Agama yang diadakan beberapa waktu lalu, khususnya dalam kerjasama dengan Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB Kebersamaan) Klaten.


Stube-HEMAT Yogyakarta mengirim delegasi yang berjumlah dua puluh orang dan menggunakan pakaian tradisional dari daerah mereka masing-masing, seperti Nias, Lembata, Sumba Timur, Bajawa, Sumatera Utara, Sumba Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumba Barat Daya, Alor, Halmahera, Manggarai dan Timor Leste. Keterlibatan para mahasiswa dalam karnaval ini membantu mahasiswa tumbuh kesadaran dirinya bahwa mereka hidup di tengah keberagaman yang ada di bumi Indonesia dan muncul kepercayaan dirinya untuk berinteraksi aktif dalam merawat keberagaman di masyarakat.

Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi bagian dari ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti kelompok keagamaan, penghayat kepercayaan dan organisasi dari Nahdlatul Ulama Klaten, Paroki-paroki gereja Katholik, Komunitas olahraga di Klaten, Banser, kelompok tari topeng ireng Magelang, Fatayat NU, anak muda Gereja-gereja Kristen Jawa di Klaten, NU Pasuruan Jawa Timur, anak muda Buddha, kelompok seni Reog, berbagai komunitas anak muda, Pondok Pesantren, pemuda gereja Kristen Indonesia, anak muda Hindu, FKUB Lampung bahkan utusan dari Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM), Sulawesi Utara.

 

 

 

Rangkaian karnaval diawali dengan apel kebangsaan kaum muda multikultur di Alun-alun Klaten. Semua peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan mengucapkan Ikrar Kebangsaan Kaum Muda Multikultur yang isinya bersyukur atas rahmat keberagaman sebagai karunia kekayaan nusantara, setia membangun semangat kebersamaan, kekeluargaan dan perdamaian dengan karya nyata, mengakrabi perkembangan teknologi dengan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan, dari Klaten untuk Indonesia. Selanjutnya Gus Jazuli Kasmani, salah satu pengurus Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB Kebersamaan) Klaten menyampaikan salam dari perwakilan enam agama dan penghayat kepercayaan dan dilanjutkan doa pembukaan karnaval.
 

 

Karnaval menempuh rute dari alun-alun Klaten menuju Monumen Juang 45. Beragam kreasi seni dan budaya dari berbagai agama dan etnis itu disuguhkan dalam suatu rangkaian bernuansa keberagaman dalam kedamaian. Masyarakat Klaten dan sekitarnya pun antusias menyaksikan karnaval dan berbagai atraksi yang ditampilkan. Tak sedikit yang merekam dan berfoto bersama peserta kontingen karnaval.
 
"Karnaval lintas iman dan budaya itu akan diselenggarakan tiap tahun untuk memperingati Hari Toleransi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 November," ungkap Gus Jazuli Kasmani.


 
Keunikan yang ditampilkan kontingen Stube-HEMAT Yogyakarta dengan pakaian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia mengundang rasa ingin tahun dari beberapa orang dan mengajak berdialog dan berfoto bersama. Nyatalah adanya bahwa keberagaman itu memang indah. Syukurilah dan rawatlah keberagaman di Indonesia. (TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 5 November 2016
oleh Stube HEMAT
Merawat Ke-Bhinneka-an Tunggal Ika

 

 

 

 

 

Berpikir global disertai tindakan nyata dan sederhana pada tataran lokal menjadi semangat banyak orang dan lembaga dalam mengaktualisasikan diri. Semangat ini mengikis wacana dan pola pemikiran kolot yang terkungkung pada pemahaman diri sendiri. Berpikir global membuat pikiran terbuka dan tidak merasa benar sendiri. Selanjutnya pikiran global ini dipakai untuk mendasari tindakan sederhana pada tataran lokal, dengan kata lain, orang-orang dapat beraksi nyata di lingkungannya. Berpikir global dan bertindak lokal menjadi penting karena membuat pikiran semakin bijak dan tidak cepat tersulut api provokasi.Stube-HEMAT dengan jejaring global terus berupaya bekerja berdasar isu yang berkembang pada tingkatan global dan nasional.

 

 

 

Forum komunikasi Guru dan dosen Lintas Agama Yogjakarta menjadi salah satu bentuk aksi nyata menjawab kebutuhan lokal. Sabtu, 5 November 2016, Sartana, M.Pd, koordinator Forum mengeluarkan undangan terbuka bagi siapa saja yang bersedia hadir dan diunggah di media sosial oleh seorang pengajar dan dosen, Subkhi Ridho.  Acara bertempat di SMA PIRI, Jl. Kemuning No. 14, Baciro, Yogyakarta, berlangsung mulai pukul 14.00 WIB dan dihadiri oleh 15 orang yang terdiri dari guru, dosen, dan aktifis mahasiswa.

 

 

 

Forum ini membahas beberapa agenda yang layak untuk direnungkan bersama seperti; Pola pemikiran masyarakat yang sebagian masih mudah tersulut berita provokatif, Perselisihan di tengah masyarakat, serta Metode apa yang bisa dilakukan untuk tetap merawat ke-Bhinneka-an.

 

 

 

Berita provokatif memang sengaja diunggah dan disebarkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memancing kemarahan publik. Tidak jarang publik terpancing dan menjadi benci satu sama lain, marah dan kemudian menularkan kebencian kepada yang lain. Namun demikian masih ada rasa optimis bahwa tidak semua orang dapat terprovokasi dan masih banyak kelompok masyarakat yang cerdas menanggapi setiap berita dengan melakukan cek dan ricek.

 

 

 

Diakui dalam forum tersebut bahwa masyarakat terdiri dari berbagai lapisan yang memiliki perbedaan pandangan dan pemikiran. Kondisi semacam ini rawan perpecahan. Sekarang ini masyarakat harus dididik untuk sadar bahwa perbedaan itu bukanlah musuh. Perbedaan ajaran baik internal (satu agama) maupun eksternal (beda agama) adalah hal biasa. Tak kalah menariknya bahwa satu agamapun terdiri dari beragam pandangan.

 

 

 

Merawat ke-Bhineka-an rupanya bukan dengan memihak salah satu kelompok namun mengarahkan yang baik berdasarkan konstitusi dan hukum. Perbedaan dan kesenjangan bukanlah alasan untuk memusuhi. Masing-masing yang hadir kemudian bersepakat untuk memulai cara baru menabur kebaikan dengan media apa pun dan kapan pun. Yang penting sekarang adalah menabur kebaikan dan tidak memusuhi siapapun. Kita semua adalah saudara.

 

 

Demikian hasil diskusi Forum komunikasi Guru dan dosen Lintas Agama Yogyakarta. Masing-masing pihak dan lembaga ditantang berkreasi menemukan metode baru untuk memupuk toleransi dan solidaritas masyarakat. (YDA).


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 21 Oktober 2016
oleh Stube HEMAT
PEDULI KESEHATAN JASMANI

 


 

Dengan begitu banyak tawaran dan godaan, anak muda sering tidak bisa memilih bagaimana mengisi waktunya dengan baik. Olah raga menjadi salah satu cara sehat menyalurkan hobi dan memanfaatkan waktu dengan positif bagi anak muda.

Kamis, 20 Oktober 2016, peserta pelatihan Youth Problem Stube-HEMAT Yogyakarta kompak mengisi waktu bersama dengan olah raga. Mikhael bersama dengan 14 teman lain dari beberapa kampus dengan semangat bertanding futsal di MU Futsal, Jl. Kusumanegara Yogyakarta.

 

 

 

Apa yang menjadi dasar mereka tergerak melakukan kegiatan ini sebagai tindak lanjut pelatihan? Kegiatan ini pada dasarnya adalah aksi sederhana baik individu maupun kelompok dari peserta yang sudah mendapatkan pengalaman pelatihan Stube. Pelatihan Youth Problem yang mereka ikuti membuat mereka tergerak untuk lebih menjaga diri dan mempersiapkan diri. Mereka mengerti apa itu masa depan tetapi belum mempersiapkannya. Mereka juga mengerti apa yang menjadi resiko kebiasaan buruk yang dilakukan tetapi belum punya cara untuk benar-benar menghindarinya. Minggu-minggu ini mereka mulai sadar dan melakukan langkah sederhana untuk menanggulangi masalah kaum muda yang menjangkiti sebagian kaum muda.

 

 

 

Masalah seperti sex bebas, kemalasan, etos belajar, etos kerja menurun, dan gaya hidup hedonis termasuk pola makan yang tidak teratur menyebabkan kondisi jasmani anak-anak muda saat ini tidak selalu fit dan rentan terhadap penyakit. Untuk menjaganya, anak-anak muda bisa mencegah dengan berbagai cara.

 

 

 

Cara-cara pemeliharaan jasmani bisa dilakukan dengan olahraga, meditasi, membaca buku, dan menghindari makanan yang mengandung pewarna, pengawet, dan penyedap. Mikha dan Arius, mahasiswa Institut Tekhnologi Yogyakarta baru saja memasuki dunia kampus dan menjalani semester satu pada program studinya mencoba untuk melakukan follow-up dalam bidang olahraga. Mula-mula anggota follow-up hanya empat orang tetapi direspon cepat oleh teman-teman Stube yang lain.

 

 

 

Yohanes Dian Alpasa berpendapat, ”Follow-up olah raga memang belum dapat dikategorikan dalam aksi nyata yang berdampak pada orang banyak di luar anggota komunitas. Olahraga ini terkesan hanya berlaku untuk anggota kelompok saja. Namun, saya yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk respon atas pemahaman hidup sehat yang mereka peroleh dalam pelatihan. Mereka sudah belajar bekerja dalam kelompok dan berkoordinasi dalam tim”. “Bekerja dalam kelompok menjadi barang mahal di tengah lingkungan hidup yang individual. Kita membutuhkan anak muda yang bisa mengorganisir setiap aksi sederhana dan mau terus belajar menjadi seorang pemimpin”, imbuhnya. Satu tim kecil yang nantinya terus belajar dan terus melatih diri untuk menjadi besar seperti pengalaman seorang anggota Stube yang sudah mengikuti pelatihan sejak 2013, Putri Dadi,”...kami pernah menjuarai piala rektor untuk futsal putri.”

 

Setelah pertandingan peserta berdiskusi soal kelanjutan dari tindakan ini. Olahraga seperti ini akan menjadi lebih bermanfaat bila mengikutsertakan pemuda-pemuda dari berbagai elemen seperti pemuda gereja, PMK, dan kelompok pemuda lain. Direncanakan pertandingan dengan komunitas lain akan digelar dalam waktu dekat. Semakin rutin berolahraga maka semakin sehat jasmani anak-anak muda. Kiranya semakin banyak anak muda yang peduli pada kesehatan tubuh jasmaninya. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 16 Oktober 2016
oleh Stube HEMAT
Revival and Blessing Explotion
Bersama Stube-HEMAT Yogyakarta dalam
Penerimaan Anggota Baru (PAB)
PMK ITY ‘YLH’ Yogyakarta
Sabtu, 15 Oktober 2016 di Wisma PGK Shanti Dharma,
Godean Sleman

Regenerasi menjadi bagian penting dari keberadaan suatu organisasi untuk  menjaga keberlanjutan dan kesinambungan kehidupan organisasi melintasi perjalanan waktu. Selain itu regenerasi menjadi wahana memperkuat spirit atau semangat suatu organisasi sehingga bisa mencapai tujuannya.
 
Persekutuan Mahasiswa Kristiani (PMK) ITY ‘YLH’ Yogyakarta sebagai wadah mahasiswa kristiani yang ada di kampus Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) ‘YLH’ menjadi penting keberadaannya di tengah-tengah kehidupan mahasiswa khususnya di lingkup kampus ITY. Melalui kegiatan PAB yang diadakan Jumat – Minggu, 14 – 16 Oktober 2016 di Wisma PGK Shanti Darma, tiga puluh enam peserta disiapkan secara mental, spiritual, komitmen dan teamwork menjadi generasi penerus dari persekutuan ini.
 
Pengurus PMK ITY meminta Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut dalam sesi Revival and Blessing Explotion, yang berarti kegerakan dan ledakan berkat. Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta diutus memfasilitasi acara tersebut. Peserta diajak memikirkan ulang makna tema tersebut dan menemukan berkat seperti apa yang mereka akan hasilkan dan bisa berdampak besar untuk orang lain.

Beberapa peserta menjawab, untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan (Dino), lulus dengan nilai baik dan membahagiakan orang tua, memberikan penyadaran lingkungan di daerah asalnya (Mira), dan menggerakkan perbaikan dan revolusi bangsa (Jesicca). Ini menjadi mimpi besar bagi peserta yang mengungkapkan impiannya atau blessing yang mereka miliki.

Ada tulisan yang terpahat di sebuah nisan di Westminster Abbey tahun 1100 M tentang seseorang ketika masih muda mempunyai impian untuk mengubah dunia, tetapi ketika dewasa ia menyadari bahwa impiannya sulit diwujudkan. Ia kemudian merevisi impiannya menjadi mengubah bangsanya. Ketika semakin menua mimpinya berganti menjadi mengubah keluarganya tetapi hal itu tidak pernah terwujud. Ia merenungkan kembali, ternyata impian untuk mengubah dunia harus diawali dengan mengubah dirinya menjadi lebih baik. Kemudian kebaikan itu mengubah keluarga dan akhirnya berdampak lebih luas.
 
Para peserta PAB diajak untuk merenungkan kembali tentang impian mereka untuk kegerakan dan ledakan berkat. Sebuah perubahan besar mau tidak mau diawali dengan perubahan kecil yang terjadi di dalam dirinya. Selanjutnya masing-masing peserta menentukan satu hal yang ada dalam dirinya yang perlu dikembangkan dan sesuatu hal yang tidak baik yang perlu dihilangkan. Beberapa peserta mengungkapkan antara lain ketekunan, kedisiplinan dan semangat itu harus dimiliki, di sisi lain kemalasan, lalai dengan kesehatan dan terlambat itu harus dibuang dari dirinya. Diharapkan perubahan itu bisa dirasakan keluarganya dan mampu mengubah keluarga dan lingkungan yang lebih luas.
 
 
Di akhir sesi peserta ditantang untuk berkomitmen terhadap perubahan berawal dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil dan dilakukan sejak hari ini. Selamat berproses menjalani perubahan menuju pribadi yang lebih baik. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016
oleh Stube HEMAT
Arrow Generation

 

Penerimaan Anggota Baru PMK ITY

 


 
 
 

 

Sabtu, 15 Oktober 2016, Stube-HEMAT Yogyakarta diundang menjadi fasilitator Program Penerimaan Anggota Baru Persekutuan Mahasiswa Kristen Institut Teknologi Yogyakarta (PAB PMK-ITY).

 

 

 

Sesi yang disampaikan bertajuk “Arrow Generation” atau generasi anak panah dengan pemateri Yohanes Dian Alpasa. Tiga puluh delapan mahasiswa baru menjadi peserta PAB ini. Mereka berusaha menyimak paparan yang disampaikan. Generasi anak panah berasal dari pemahaman bahwa anak muda itu seperti anak panah yang melesat dengan visi, mimpi, dan tujuan hidup. Anak-anak ini kuat dan diperkuat serta digunakan oleh tangan-tangan yang tangguh. Ungkapan anak muda sebagai anak panah muncul pada kitab Mazmur pasal 127 dan digunakan oleh sebagian gereja sebagai dasar penyadaran warganya bahwa mereka bukanlah generasi yang sembarangan. Sesi ini dibuka dengan pertanyaan, ”Apa yang menjadi cita-cita anda?” Beberapa mahasiswa tidak bisa menjawabnya, sungguh disayangkan. Namun, tidak berhenti di situ, karena peserta PAB didorong untuk memiliki dan merumuskan cita-cita mereka hari itu juga. Tanpa cita-cita maka hidup seperti anak panah tanpa target, terbang tak tentu arah, terkulai, layu, dan patah.

 

 

 

Paparan kemudian dilanjutkan dengan gambaran anak muda hari ini yang mudah mengeluh. Pramoedya Ananta Toer menyebut bahwa orang-orang Indonesia pernah terjerembab dalam tiga hal yang memperbudak. Pertama, orang-orang Indonesia pernah diperbudak oleh ketakutan. Kedua, diperbudak oleh kebodohan. Ketiga, diperbudak oleh penyakit. Keadaan ini bisa saja berulang bilamana generasi sekarang mudah mengeluh dan tidak bisa memaknai kehidupan.

 

 

 

Kehidupan mahasiswa pada dasarnya adalah kehidupan yang penuh dengan kegembiraan. Tidak semua anak muda di kampung kita bisa bersekolah dan melanjutkan studi sampai jenjang perguruan tinggi. Jadi tidak perlu lagi dilewati dengan keluhan dan ratap. Seorang yang ada dalam generasi anak panah tahu bahwa yang dihadapi bukan lagi pergumulan, tetapi setiap penugasan kuliah adalah panggilan untuk bergembira dan merayakan kehidupan, merayakan anugerah Tuhan yang sudah jatuh pada kita.

 

 

 

Mayoritas peserta adalah mahasiswa baru sehingga masing-masing tentu memiliki pengalaman yang masih segar soal kehidupannya di Sekolah Menengah Atas. Sekali mereka menjejakkan kaki di Yogyakarta maka mereka sudah meletakkan cita-cita ke depan. Yohanes menyampaikan lebih lanjut, “Banyak pemuda jatuh karena tidak memiliki cita-cita, tetapi banyak juga yang mampu menentukan masa depannya karena memiliki harapan, cita-cita dan tujuan hidup. Seorang generasi anak panah harus mampu merumuskan apa yang menjadi cita-citanya kelak”.

 

 

Sesi ini ditutup dengan masing-masing peserta menuliskan apa yang akan mereka lakukan dan harapkan terjadi dalam tiga tahun kedepan. (YDA).


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 12 Oktober 2016
oleh Stube HEMAT
YOUTH PROBLEM

 

Dear Masa Depan, Tunggu Saya!

 


 

Berbicara anak muda sering kali dikaitkan dengan beberapa hal seperti keberanian, rasa ingin tahu, coba-coba, diet ketat, begadang, seks bebas, narkoba, jomblo, hawa nafsu, dan masih banyak lagi situasi yang bisa digambarkan dan dikaitkan dengan darah muda. Kehidupan anak muda memang dipenuhi gejolak emosi dan semangat yang membara. Anak-anak muda yang mengalami permasalahan dalam kehidupannya biasanya jauh dari kehidupan sosial masyarakat dan buruknya lagi, masyarakat cenderung mengabaikannya.

 

 

 
Banyaknya permasalahan dalam kehidupan anak muda, Stube-HEMAT Yogyakarta yang merupakan wadah belajar bagi mahasiswa yang belajar di Yogyakarta, mengadakan pelatihan yaitu berkaitan dengan anak muda dengan tema “Youth Problem”.

Tujuan dari pelatihan ini agar peserta mampu mengenali kebiasan hidup yang mengancam nilai kehidupan, dan mampu menempatkan diri dan berkomitmen melakukan kebiasaan hidup yang baik. Harapannya adalah peserta mampu memanfaatkan potensi yang ada di dalam diri mereka untuk mengambil bagian dalam setiap kegiatan sosial masyarakat serta dapat menjadi anak muda yang mandiri, tegas dan bertanggung jawab bagi diri sendiri, keluarga ,dan masyarakat.

 


 

 

Pelatihan yang di mulai dari Jumat, 7 Oktober hingga Minggu, 9 Oktober 2016 di Wisma Camelia Kaliurang km 21.5 berjalan lancar, meski cuaca kurang bersahabat. Semua peserta nampak sangat antusias mengikuti semua sesi yang sudah dibuat panitia sampai pelatihan berakhir.

 


 

 

Dua orang pemateri yang memiliki keahlian dalam bidang mereka masing-masing dihadirkan dalam pelatihan ini. Yang pertama, Kuriake Kharismawan, S.Psi,. M.Psi, dosen psikologi UNIKA Soegijapranata, Semarang dan yang kedua adalah Pdt. Hendri Wijayatsih, MA dosen Theologi UKDW Yogyakarta. Para pemateri menyampaikan hal-hal yang terkait dengan Pemetaan Pribadi: Menemukan Diri Saya yang Sesungguhnya; Mengembangkan Diri dari Apa Yang Ada dalam Diri; dan Aku dengan Perspektif yang Baru.

 


 

 

Di akhir pelatihan peserta merancang satu kegiatan tindak lanjut. Dalam kegiatan follow up ini peserta mengelompokkan diri kedalam tujuh kelompok yang terdiri dari pembuatan video dokumenter tentang pendapat beberapa orang mengenai seks bebas (Rudi), diskusi dan sharing di kalangan mahasiswa PMK ITY (Selvi & Tamjos), kelompok olah raga futsal untuk mempererat hubungan anak-anak muda kampus melalui kegiatan positif (Mika), berbagi cerita kepada teman-teman kos dan kampus (Endang), mengadakan diskusi dan melakukan penghijauan di Asrama Marturia (Ike & Titin), diskusi lanjutan dengan teman-teman mahasiswa Sanata Dharma (Septi & Dodie), serta menulis artikel tentang Masalah Generasi Muda (Agus & Umbu Wahi).

 


 


Perkembangan zaman selalu memberi dan menantang anak muda dengan permasalahannya, namun dengan sedikit sentuhan dari Stube-HEMAT, teman-teman muda dapat memilih, mengambil keputusan dan berkomitmen melakukan kebiasaaa hidup yang sehat, baik dan mampu memberi dampak positif bagi dirinya, teman-teman sekitar, keluarga, dan masyarakat secara luas. (SA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 3 Oktober 2016
oleh Stube HEMAT
Batik Anti Terorisme

 

 

 

 
Satu Oktober tidak pernah dilupakan masyarakat Indonesia untuk memperingati Kesaktian Pancasila. Pancasila terbukti ampuh menjaga keutuhan Negara meskipun negara seringkali mendapatkan ancaman baik dari dalam maupun dari luar. Selama Republik ini berdiri, Pancasila menjadi perekat dasar kehidupan berbangsa. Selain hari itu menjadi penting untuk dirayakan dengan khidmat, 1 Oktober juga dirayakan sebagai hari batik.

 

 

 

 
Dalam rangka itulah Seminar Batik Anti-terorisme dan bedah buku yang ditulis oleh ibu Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed. ini diselenggarakan. Bertempat di Ruang Seminar Harun Hadiwijono, Universitas Kristen Duta Wacana pada 1 Oktober 2016, tiga orang pembicara itu yaitu Prof. Ir. Sunarru Samsi Haryadi, M.Sc, Prof. Noorhaidi Hasan, dan Farsijana Adeney Risakotta Ph.D dihadirkan. Tiga keynote speaker memaparkan seputar terorisme yang dianggap menjadi ancaman serius bagi keutuhan kehidupan berbangsa.

 

 

 

Profesor Sunarru menggambarkan kehidupan desa di negeri ini yang memiliki nilai-nilai luhur yang sangat layak untuk ditiru. Nilai-nilai ini tumbuh dan dikembangkan oleh masyarakat lokal dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mereka bersatu dan berikat dalam rangkaian harmoni yang indah. Nilai-nilai itu seperti terlihat di Keujruen Blang di Aceh, Baralek Kapalo Banda di Sumatera Barat, Lembaga Adat Sasi di Papua, Lembaga adat Soa di Maluku, Upacara Adat Negeri Hatu, Lembaga Adat Dalihan Na Tolu di Sumatera Utara, Adat Wiwitan Pedesaan Jawa, Suku Tengger di Pegunungan Bromo, atau sedulur Sikep Masyarakat Samin Pegunungan Kendeng. Nilai-nilai ini terpelihara dalam kehidupan masyarakat lokal Indonesia.

 

 

 

Profesor Noorhaidi dalam paparannya mengklaim bahwa Indonesia adalah negara terbaik dalam pencegahan dan penanganan terorisme. Amerika dan Eropa serta Malaysia dan Singapura punya badan sendiri dalam penanganan terorisme. Badan ini efektif untuk menanggulangi bahaya teror. Indonesia tidak punya. Keadaan itu membuat masyarakat berinisiatif untuk menanggulangi bahaya teror dengan cara mereka sendiri. Kekuatan sipil berusaha mengambil peran dalam usaha pencegahan dan penanggulangan teror. Inilah yang membuat Indonesia menjadi kuat.

 

 

 

Ibu Farsijana memapar soal Pancasila yang pernah digunakan suatu rezim untuk melakukan tekanan terhadap masyarakat. Namun, Pancasila tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Pancasila harus selalu dipakai untuk mencerdaskan. Hari ini kesaktian Pancasila itu perlahan dirasakan. Masyarakat tidak lagi menjadi target mobilisasi kepentingan politik. Rakyat dalam jaman ini dididik dalam cara yang kreatif dengan berorganisasi. Mereka diajak untuk bekerja dan berproduksi. Dengan organisasi dan berproduksi, rakyat menjadi yakin bahwa mereka mampu untuk menentukan masa depannya sendiri.

 

 

Lalu apa kaitan antara terorisme dengan batik? Ya. Terorisme mengancam keutuhan negara sementara batik membuat setiap orang bersatu dalam Republik ini. Bu Aniek selaku pembedah buku memaparkan soal konsep penanganan radikalisme yang selama ini belum signifikan. Ia menawarkan cara budaya dalam menanggapi masalah terorisme yang selama ini muncul. Batik menjadi salah satu alternatif untuk menjaga keharmonisan. Menurutnya, Batik tidak saja berperan untuk mendokumentasikan nilai-nilai luhur dari ajaran masa lalu, namun Batik juga bernilai ekonomis dan mengandung nilai pendidikan. Satu batik bisa dikerjakan oleh dua puluh orang. Bila usaha batik dikelola dengan sungguh maka akan menghidupi banyak orang di jaman serba sulit ini. Dengan batik, orang kembali belajar nilai-nilai dan keteladanan. Motif dan corak batik menggambarkan ajaran tertentu soal perjuangan, keprihatinan, dan kesabaran. Seperti motif soal wayang Pandawa yang mengisahkan bahwa kebaikan akan mendapat tempatnya sendiri dalam meraih kemenangan.

 

Kiranya harapan akan kekuatan budaya untuk menanggulangi terorisme bisa mewujud dalam sebuah karya, kinerja dan produksi yang menghidupi umat. (YDA).


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 18 September 2016
oleh Stube HEMAT
Anak Muda Melihat Realita
PROGRAM MASALAH GENERASI MUDA
Omah Limasan, 17 September 2016
 
 
“Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang populasi penduduknya sangat banyak, yaitu mencapai 255 juta jiwa. Kelompok usia remaja (10-24 tahun) mencapai 25 % total penduduk, yaitu sekitar 65 juta jiwa. Jumlah populasi remaja yang tidak sedikit ini menjadi penting bagi keberadaan suatu negara, mengapa? Karena di tangan merekalah masa depan suatu negara,” ungkap Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta dalam diskusi awal program Masalah Generasi Muda yang diadakan hari Sabtu, 17 September 2016 di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.
 
 
Program “Masalah Generasi Muda” ini menjadi penting karena generasi muda saat ini berada di era teknologi yang sangat maju dimana berbagai informasi sangat mudah diakses oleh siapapun. Generasi muda perlu meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya sekaligus memiliki kemampuan diri menyaring informasi dan mengatasi pengaruh buruk. Saat ini mereka diharapkan  cakap untuk bertindak dan menggerakkan orang lain dalam mengantisipasi hal-hal negatif yang terjadi di tengah masyarakat, seperti kekerasan, penyalahgunaan obat, kebiasaan hidup tidak sehat, pergaulan bebas, pornografi, hedonisme dan egoisme.
 
 
Diskusi dihadiri delapan belas orang yang sebagian besar adalah mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagai ‘games’ pembuka, Trustha menantang enam orang peserta untuk menyusun peta pulau-pulau Indonesia. Ini sebagai pengingat bahwa mereka datang ke Yogyakarta dari daerah yang jauh, harapannya mereka kuliah dengan baik dan nantinya membangun daerahnya.
 
 
Data yang disajikan menunjukkan mahasiswa baru yang datang dan kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun ini mencapai lebih dari lima puluh ribu orang dari beberapa kampus saja UGM 8.700 orang, UNY 7.400 orang, UAJY 2.500 orang, UII 5.000 orang, ISI 1.100 orang, USD 2.500 orang, UMBY 2.000 orang, UST 2.500 orang, UMY 4.500 orang, UAD 4.000 orang, ITY 250 orang, PGRI 750 orang, APMD 400 orang, UIN 4.600 orang dan masih banyak kampus lainnya.
 
Banyaknya jumlah mahasiswa di satu sisi menjadi potensi berkembangnya masyarakat jika mereka bisa berkomitmen pada tujuan belajar yaitu mendapatkan pengalaman baru, bertumbuh menjadi dewasa dan mengabdikan diri untuk masyarakat, tetapi di sisi yang lain bisa menjadi masalah masyarakat ketika mereka tidak mampu menghindar dari jeratan kemalasan, kekerasan, penyalahgunaan obat, pergaulan bebas, hedonisme dan pola hidup tidak sehat.
 
Dalam diskusi, peserta dalam beberapa kelompok kecil membaca koran dan memilih satu berita yang berkaitan dengan permasalahan yang terjadi di kalangan anak muda. Satu per satu kelompok mengungkapkan berita yang mereka pilih dan memberikan tanggapan atas berita tersebut. Beberapa berita yang muncul antara lain penyalahgunaan narkoba, merokok dan pola hidup tidak sehat, pencurian, tidak tertib lalulintas, pornografi dan manajemen diri. Selanjutnya para peserta menyampaikan pesan sosial terkait berita dalam sebuah desain kreatif menggunakan gambar dan pewarna agar menarik perhatian dan pesan tersampaikan.
 
 


Sebagai penutup peserta diingatkan kembali untuk selalu mawas diri, waspada dengan berbagai situasi yang ada dan bijak dalam menjalani kehidupan. (TRU).
 

 

 
 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 15 September 2016
oleh Stube HEMAT
P R O G R A M

 

MASALAH GENERASI MUDA

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemuda memegang peran strategis dari suatu bangsa dan negara, karena mereka menjadi aktor pembangunan. Namun perkembangan teknologi membawa pengaruh positif maupun negatif bagi generasi muda.  Mereka saat ini berada di era teknologi yang sangat maju dimana berbagai informasi sangat mudah diakses oleh siapapun.

 

 

 

Generasi muda khususnya perlu meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya sekaligus memiliki kemampuan diri menyaring informasi dan mengatasi pengaruh buruk yang mereka hadapi. Bahkan mereka cakap untuk bertindak dan menggerakkan orang lain dalam mengantisipasi hal-hal negatif yang terjadi di tengah masyarakat, seperti kekerasan, penyalahgunaan obat, kebiasaan hidup tidak sehat, pergaulan bebas, pornografi, hedonisme dan egoisme.

 

 

 

Masyarakat yang materialis mengukur kesuksesan dan kebahagiaan hidup dengan seberapa banyak harta yang dimiliki. Jika mentalitas itu terbentuk sejak kanak-kanak maka adanya dampak negatif apabila hal ini terus terjadi dalam hidup mereka. Selain itu tuntutan gaya hidup modern sangat berpengaruh bagi kehidupan anak muda itu sendiri.

 

 

 

Melihat begitu banyak permasalahan generasi muda, Stube-HEMAT Yogyakarta terpanggil untuk ikut ambil bagian memberikan percerahan bagi kaum muda. Harapannya adalah dapat memberi pemahaman yang tepat sehingga anak muda mampu mengenal dengan baik permasalahan-permasalahan yang sedang mereka hadapi dan bagaimana penyelesaiannya melalui program pelatihan Masalah Generasi Muda.

 

 

 

TUJUAN

 

(1) Peserta mengerti kebiasaan hidup yang mengancam nilai-nilai kehidupan

 

(2) Peserta aktif menentukan usaha-usaha pencegahan atas perilaku yang menghancurkan masa depan tersebut

 

(3) Peserta berkomitmen pada diri sendiri melakukan kebiasaan yang baik

 

 

 

TEMA

 

Dear Masa Depan, Tunggu Saya!

 

 

 

MATERI

 

(1) Stube-HEMAT dan Fenomena Anak Muda

 

(Introduction of Stube-HEMAT)

 

(2) Pemetaan Pribadi: Menemukan Diri saya yang Sesungguhnya.

 

(Personal Mapping: Finding the Real Me).

 

(3) Mengembangkan Diri dari Apa Yang Ada dalam Diri.

 

Improving Myself from Everything Within)

 

(4) Anak Muda dan Kesadaran Terhadap Permasalahan Sosial.

 

(Youth and Social Awareness)

 

(5) Aku dengan Perspektif yang Baru.

 

Me : a New Me)

 

(6) Ini Yang Aku Lakukan

 

(Perencanaan aktivitas tindak lanjut peserta)

 

 

 

METODE

 

Memadukan berbagai metode kreatif dan partispatif.

 

(Ceramah, Refleksi, Simulasi, Diskusi, Presentasi, Follow-up)

 

 

 

FASILITATOR

 

Team Stube-HEMAT Yogyakarta

 

 

 

Kuriake Kharismawan, S.Psi., M.Si.

 

(Unika Sugijapranata, Semarang)

 

 

 

Pdt. Hendri Wijayatsih, M.A.

 

UKDW Yogyakarta)

 

 

 

RANGKAIAN KEGIATAN

 

Diskusi Awal (Sabtu, 17 September 2016)

 

Di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Pelatihan (Jumat – Minggu, 7 – 9 Oktober 2016)

 

Di Wisma Camelia, Jalan Kaliurang km 21,5. Pakem.

 

Eksposur: Tentatif waktunya

 

Di Yayasan Sayap Ibu, Balai Sosial Pamardi Putra,

 

dan lokasi lainnya

 

 

 

SASARAN

 

Mahasiswa/Aktivis kampus dan Pemuda Gereja,

 

untuk 30 orang peserta

 

10 Peserta yang pernah mengikuti pelatihan Stube sebelumnya

 

20 peserta baru (belum pernah mengikuti pelatihan)

 

 

 

VOLUNTEER

 

Agustinus Soleh (mahasiswa STPMD APMD)

 

Natasya Derman (mahasiswa Univ Sarjanawiyata Tamansiswa)

Selsius Imanuel Malailo (mahasiswa STPMD APMD)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 7 September 2016
oleh Stube HEMAT
PERKUAT MOTIVASI Bersama Stube-HEMAT

 

Pengenalan Lingkungan Kampus (PLK)

 

Institut Teknologi Yogyakarta

 

Kampus ITY, Senin, 5 September 2016

 


 

Yogyakarta menjadi tujuan belajar anak-anak muda dari berbagai penjuru nusantara untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Berbagai jurusan studi yang didukung fasilitas pendidikan yang baik menjadi daya tarik mahasiswa baru. Selain situasi kota Yogyakarta yang nyaman untuk belajar dan biaya hidup yang terjangkau, mudahnya akses informasi menambah ketertarikan mahasiswa baru untuk melanjutkan studi di kota ini.


Hal ini terungkap dalam Pengenalan Lingkungan Kampus (PLK) Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) 5 – 7 September 2016 yang bertema “Orientasi Mahasiswa dalam Pembentukan Pribadi yang Berkarakter Kritis, Harmonis dan Berintegritas untuk ITY yang lebih Baik”. PLK 2016 diikuti 202 peserta mahasiswa baru ITY yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu sesinya membahas Motivasi dengan fasilitator Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

Di awal sesi,  fasilitator mengundang enam mahasiswa untuk menyusun peta Indonesia. Meskipun sempat mengalami kesulitan, mereka akhirnya mampu menyusun dengan baik fragmen-fragmen peta pulau-pulau Indonesia. Selanjutnya, para mahasiswa baru diingatkan untuk cerdas dan bijak ketika berada di Yogyakarta. Bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru dan berbeda dibandingkan daerah asalnya, berbaur dengan masyarakat di mana mereka tinggal, menjaga fokus pada tujuan mereka ke Yogyakarta untuk belajar dan sampai pada kesadaran bahwa ilmu mereka bermanfaat untuk sesama dan lingkungan.

 

 

 

Pada kenyataannya, berbagai berita muncul di media tentang dinamika mahasiswa, dari berita yang membanggakan seperti mahasiswa mendampingi suatu desa mengolah jahe menjadi minuman sirup jahe, menjadi pemuda pelopor DIY, melakukan edukasi lingkungan kepada siswa SD, kerjabakti bersama warga sekitar kost dan menginspirasi warga suatu desa mengembangkan batik printing. Namun, di sisi lain ada berita menyedihkan ketika mahasiswa saling bermusuhan karena berbeda daerah, terlibat narkoba dan pergaulan bebas, drop out dan bahkan mati sia-sia karena miras oplosan, gantung diri dan pembunuhan.

 

 

Fasilitator mengingatkan bahwa motivasi terkuat adalah dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu dan merupakan suatu usaha yang dapat menyebabkan seseorang tergerak melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Selanjutnya, peserta diajak mengingat kembali pesan-pesan dari orang-orang terdekat mereka ketika akan berangkat ke Yogyakarta, merenungkan pesan-pesan itu dan menuliskannya menjadi tulisan motivasi pribadi dan kemudian ber-sharing dengan teman-teman kelompok.

 

 

 

Salah satu peserta, Puri, dari Wonogiri, Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ia akan kuliah serius, ia sadar bahwa kesempatan untuk kuliah adalah berkat yang sangat berharga, ia tidak mampu melanjutkan studi di perguruan tinggi jika tidak ada orang lain yang tergerak membiayai studinya.

 

 

 

Fasilitator memberi kesempatan kepada Agustinus Soleh, mahasiswa APMD yang berasal dari Long Alango, di pedalaman Kalimantan Utara untuk berbagi cerita perjalanan ke Yogyakarta. Dari desanya di Long Alango, ia harus berjuang selama tiga sampai empat hari menggunakan perahu melewati sungai yang sangat deras dan berbatu-batu menuju Tarakan. Sebelum akhirnya naik pesawat dari Tarakan menuju Yogyakarta.

 

 

 

Di akhir sesi, fasilitator mengajak peserta dan panitia untuk bersama-sama menyanyi lagu Tanah Airku, sebagai panggilan untuk membaktikan ilmu kepada negeri ini. Beberapa peserta pun menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu tersebut.

 

 

Selamat belajar di Yogyakarta dan membaktikan ilmu untuk negeri, teman-teman. (TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 5 September 2016
oleh Stube HEMAT
IDE MUNCUL, LANGSUNG LAKUKAN

 

 

 

 
Memunculkan ide bisnis bukanlah hal yang mudah dan cepat. Butuh ketekunan dan ketelitian melihat potensi yang ada. Saat ide itu muncul, belum tentu orang langsung meng-eksekusinya. Mereka masih memikirkan modal, jejaring dan banyak hal lain sehingga saat banyak ide muncul, menjadi biasa-biasa saja. Tetapi ketika ide muncul dan langsung segera melakukannya, maka hasilnya akan segera bisa terlihat. Status mahasiswa bukan alasan untuk tidak berbisnis, seperti yang dilakukan 4 mahasiswa berikut. Meski masih dalam tahap perintisan, mereka tetap berusaha menjadi pelaku bisnis. Pelatihan Bisnis Kreatif yang dilakukan Stube-HEMAT beberapa waktu yang lalu memberi wadah dan kesempatan kepada peserta mahasiswa untuk mengenal dunia bisnis kreatif beserta peluang-peluangnya.

 

Mahasiswa yang sering disapa Frans ini bukan sekali, dua kali saja berbisnis, dari menjual jasa menjadi tukang antar anak sekolah, jasa waiter di sebuah restoran asing, membuka reparasi elektronik, membuat gerobak angkringan, hingga sekarang mulai menekuni bisnis fashion sablon baju, dengan unggulan tinta sablon yang dipakai dan desain ekslusif sesuai pesanan. Beberapa kaos sudah terjual dan sekitar dua puluh empat dalam proses pemesanan. Motivasi menekuni bisnis ini melihat peluang di kampung halamannya, Sumba Timur yang kaya akan potensi wisata dan memerlukan banyak cendera mata bagi para wisatawan yang mengunjunginya. Mahasiswa lulusan pendidikan matematika, Universitas Sarjanawiyata (UST) Yogyakarta ini menyatakan akan mengembangkan bisnis di kampung halamannya dengan resiko yang harus dihadapi seperti bahan baku. Namun demikian dia bercita-cita untuk mengatasinya sehingga bisa membuka lapangan kerja bagi anak muda Sumba. “Dengan mengikuti pelatihan Stube HEMAT, saya terbantu membuka wawasan dan menantang saya melakukan sesuatu untuk Sumba”, katanya.


 

Nuel, mahasiswa lulusan ilmu pemerintahan, di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan APMD Yogyakarta, termotivasi melakukan bisnis dan menjadi anak yang tidak selalu tergantung pada keluarga. Nuel tertarik menjual batik ke daerah asalnya. “Peluang batik masih cukup tinggi, harga pasaran batik di Yogyakarta lebih murah dibandingkan dengan pasaran di Alor”, jelasnyaUsaha jasa menjual barang menjadi usaha sampingan yang di lakukanya seperti penjualan sepeda motor bekas, penyedian seragam olahraga dan juga berbagai kebutuhan yang dipesan oleh pelanggan dari Alor, Kupang dan Maluku. Pelatihan Bisnis Kreatif telah menambah motivasinya merintis usaha.

 


 

Merubah kain bekas menjadi tas cantik menjadi keinginan Irma, seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Kristen di STT GKS Lewa, Sumba. Bermula dari menonton acara kreatif di televisi, membuat dia menjadi tertarik untuk menekuninya namun dia masih perlu pembelajaran dan metode-metode. Kesempatan belajar ke Yogyakarta menjadi peluang untuk bisa memperdalam ilmu menjahit yang dimilikinya. Sepulang dari Jogja, usaha ini mulai lebih serius dilakukan hingga dia mendapat kepercayaan dipinjami sebuah mesin jahit dari kampus. Irma sangat gembira dan saat ini dia mendapat pesanan cover alkitab.


 

Termotivasi dari hobi dan keinginan untuk memperoleh penghasilan sendiri membuat mahasiswa ekonomi pembangunan yang disapa Fredy ini memulai usahanya. Dengan mengamati peluang di Sumba Timur, yang hanya memiliki dua percetakan, dia memilih menekuni bisnis percetakan dan sablon terlebih saat mendapat kesempatan belajar selama satu bulan di Yogyakarta. Pelatihan Bisnis Kreatif di Stube HEMAT memperluas pemahamannya mengenai jaringan, sasaran pemasaran produk, pengadaan alat-alat dan bahan, manajamen pasar, promosi, dan antisipasi terjadinya resiko.

 

 

Kisah sederhana dari keempat muda-mudi ini semoga dapat memotivasi pembaca. Berbisnis bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Muda bukan menjadi hambatan untuk berkembang. Penuhi diri dengan rasa ingin tahu dan berkembang, maka keseuksesan akan menghampiri kita. Salam sukses buat anak muda. (ITM).


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 15 Agustus 2016
oleh Stube HEMAT
Exposure to Stube Germany and
International Youth Camp 2017
 
 
Stube-HEMAT Indonesia merupakan program pengembangan diri yang berorientasi pada mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia. Exposure to Stube Germany and International Youth Camp dilaksanakan untuk meningkatkan persaudaraan internasional antar pemuda dan aktivis Stube yang ada di Jerman, serta berpartisipasi dalam International Youth Camp (IYC) peringatan 500 tahun reformasi gereja, yang akan diikuti sekitar 300 peserta dari 20 negara. Selain untuk mengenal pelayanan Stube Germany, peserta berkumpul untuk belajar mengenal Martin Luther, sejarah dan perkembangan sampai saat ini. Peserta juga aktif berpartisipasi dalam bentuk saling mengenal budaya dan keberagaman melalui pertunjukan seni, berbagi cerita dan ide dan diskusi kelompok.
 
Stube-HEMAT Indonesia mengundang mahasiswa menjadi peserta dalam kegiatan Exposure to Stube Germany and International Youth Camp yang diadakan mulai tanggal 26 Juli – 7 Agustus 2017 di Wittenburg, Jerman.
 
Persyaratan peserta
 
  1. Mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta dan Sumba, dan kesanggupan mengikuti kegiatan Stube-HEMAT bagi peserta yang belum pernah mengikutinya.
  2. Berusia antara 18 – 25 tahun.
  3. Memiliki kemampuan komunikasi bahasa Inggris aktif.
  4. Memiliki keterlibatan dalam kegiatan masyarakat.
  5. Berpartisipasi secara aktif dalam setiap kegiatan program, dialog dan presentasi.
  6. Menunjukkan komitmen untuk mau belajar dan kerjasama internasional.
  7. Berpikiran terbuka, menghargai perbedaan dan penuh rasa ingin tahu.
  8. Memiliki kemampuan seni dan keterampilan.
  9. Kondisi kesehatan yang prima dan pribadi yang tangguh.
  10. Tahun 2018 peserta masih berada di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menerima kunjungan balik dari Stube-Germany.
  11. Lolos dalam tes seleksi peserta.

 

 
Biaya Kontribusi: 210 € per orang.
(akomodasi, konsumsi dan transport)
 
Pengambilan dan penyerahan formulir:
24 Agustus – 4 September 2016
 
Di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.
Jl. Tamansiswa, Nyutran MG 2 / 1565 C.
Yogyakarta 55151
 
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Trustha Rembaka, S.Th., (081392772211)
Email: stubehemat@yahoo.com
Blog: stubehemat.blogspot.com
FB: Humas Stube

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 11 Agustus 2016
oleh Stube HEMAT
Temukan Kreatifmu

 

Lakukan Bisnismu

 


 

Bisnis dan Kreatif, dua topik pembicaraan yang menarik! Sebagian orang ingin menekuni bisnis untuk meraih kesuksesan dan saat ini tak sedikit mahasiswa sukses berbisnis di usia muda. Kunci dari semua itu adalah kreativitas manusia. Kreativitas  manusia dan inovasi  merupakan sumber ekonomi yang paling utama. Membuka wawasan dan menumbuhkan ide kreatif menjadi maksud Stube-HEMAT mengadakan pelatihan bisnis kreatif selama tiga hari yang berusaha memotivasi, menginspirasi dan membekali peserta untuk mengenal dan terjun dalam dunia bisnis yang kreatif.

 

 

 

 

 

 

 
Program diawali dengan diskusi awal bersama Yohanes Andri Wardhana, seorang General Manager perusahaan Sebangsa yang bergerak di bidang pengembangan media komunitas, dengan topik aplikasi game dan bisnis dalam dunia digital. Diskusi awal dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2016 di Sekretariat Stube-HEMAT yang membahas perkembangan dunia internet, data pengguna media sosial, Facebook, Line, Instagram dan lain-lain yang ada di Indonesia, serta peluang bisnis lewat game dan dunia maya.

 

 

Kegiatan berlanjut dengan pelatihan 12-14 Agustus 2016 di Wisma Lentera Kasih, Kalibawang, Kulonprogo. Peserta didorong untuk menciptakan ide-ide bisnis yang kreatif di hari pertama. Mereka diminta memikirkan perlunya berbisnis di era saat ini. Trustha Rembaka di dalam ibadah pembuka menyampaikan peluang mengenai hal-hal di sekitar yang bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk saling memotivasi dan membicarakan ide-ide kreatif dalam berbisnis.

 

 

Pelatihan ini mengundang beberapa fasilitator yang ahli di bidangnya, yang juga merupakan praktisi bisnis. UMKM Yogyakarta diwakili Sugiyanto, Sos., M.M., menyampaikan tentang 5W+1H yang meliputi: Bisnis apa yang ingin dilakukan? Siapa yang akan menjadi jejaring? Mengapa memilih bisnis tersebut? Dimana bisnis akan dimulai? Kapan akan memulai bisnis? Selain itu ada  tiga poin penting dalam bisnis yang disampaikan yakni “Ikhlas, Cerdas dan Tangkas”.



Materi dengan cara permainan membuat suasana jadi menyenangkan terlebih dengan hadirnya pengusaha muda batik kreatif Miftahudin Nur Ihsan yang menggeluti motif batik yang disesuaikan tema tertentu.

 

Kemudian dilanjutkan topik permodalan usaha dan menghitung laba bersama praktisi bisnis Kelik Tananto, yang menekuni bidang mebel. Pemateri lain adalah Anung Budiyanto (agen media cetak di DIY), Sugeng Handoko (pelopor desa wisata Nglanggeran, Gunungkidul). Anung menyampaikan tentang naik-turunnya bisnis media cetak terlebih di era digital dimana orang bisa mengakses berita dan informasi dengan cepat dan murah.  Sementara Sugeng Handoko yang merupakan pemuda pelopor pengembangan desa wisata Nglanggeran menyampaikan suka duka merintis dan memelihara semangat masyarakat komunitas di sekitaran Gunung Api Purba tersebut.

 

 

 
Sesi praktek desain bisnis memberi kesempatan kepada peserta menyampaikan rencana bisnis yang akan ditekuni, dan dikritisi oleh ketiga pemateri. Satu peserta yang bernama Mitha, mahasiswa UST menyampaikan ide bisnis tentang pembuatan aksesoris berkhas budaya sumba barat daya dengan bahan tanduk kerbau.

 

 

 

 

Pada sesi terakhir peserta diminta merumuskan bisnis yang lebih spesifik dan mempresentasikan desain bisnis mereka. Beberapa diantaranya adalah Erwiana (bisnis hijab), Cindy (bisnis fashion online), Ata (Salon anyam), Umbu Wahi (Pembuatan patung tradisional), dan Nuel (fashion).

 

 

 

Sesi presentasi ini menjadi akhir dari serangkaian pelatihan. Sukses di usia muda jelas tidak mudah, tetapi tidak mustahil, karena hanya perlu kemauan untuk berkembang dan tidak pernah bosan mencoba. Memang tidak semua orang punya bakat bisnis, tetapi semua orang bisa mempelajarinya. Selamat menggapai sukses. (ITM).


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 10 Agustus 2016
oleh Stube HEMAT
Keuangan Aman, Keluarga Nyaman
Belajar Manajemen Keuangan Keluarga
bersama Stube-HEMAT Yogyakarta
Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa UST Pedepokan 96
 
 
“Ada pepatah Jawa, ‘mangan ora mangan sing penting kumpul’ (makan atau tidak makan yang penting tetap berkumpul) artinya meskipun kondisi keluarga tidak mampu, keluarga tetap berkumpul.  Saat ini pepatah tersebut sudah berubah menjadi ‘pisah ra masalah sing penting mangan’ (pisah tidak masalah yang penting bisa makan). Mengapa begitu? Hal ini terjadi karena desa dianggap tidak memiliki potensi dan tidak bisa menjual kelebihan yang ada, namun seiring perkembangan jaman, perubahan menunjukkan hal positif, khususnya di Gunungkidul. Desa-desa di wilayah ini sudah dikenal karena potensi alam dan wisatanya”, ungkap Trustha mengawali sarasehan bersama ibu-ibu di Dusun Waduk, Kecamatan Patuk, Gunungkidul bersama mahasiswa KKN UST padepokan 96.
 
Kegiatan sarasehan yang berlangsung pada hari Rabu, 10 Agustus 2016 ini digagas oleh mahasiswa KKN UST padepokan 96 yang dikoordinir oleh Elisabeth Uru Ndaya, yang juga mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta.
 
Dalam paparannya, Trustha Rembaka, S.Th, yang juga koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta mengungkapkan bahwa keluarga yang harmonis menjadi impian setiap keluarga. Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkannya, salah satunya adalah pengelolaan keuangan. Pengelolaan keuangan keluarga meliputi usaha mendapatkan penghasilan yang tetap, kedua orang tua bekerja, mencari penghasilan tambahan, bisnis sampingan, menabung, investasi dan cara lainnya.
 

 

Terkadang berapa pun besar penghasilan, di akhir bulan keuangan masih minus. Jadi, masalahnya bukan pada besarnya penghasilan, tetapi bagaimana mengelolanya. Mengatur keuangan sepertinya sulit, apalagi sudah berkeluarga, tetapi tidak sesulit yang dibayangkan. Ada beberapa langkah yang bisa dipelajari, antara lain:
 
Membuat perencanaan keuangan, mencatat berapa banyak pendapatan yang dimiliki, mengatur apa saja yang harus dibelajakan atau digunakan dan berapa yang akan disimpan. Perencanaan ini harus realistis, termasuk anggaran rekreasi keluarga untuk membangun keharmonisan keluarga.
 
Mulai menabung, karena tabungan membuat perasaan aman dan keuangan stabil. Saat menerima gaji atau hasil panen langsung sisihkan sejumlah uang untuk ditabung. Biasanya penduduk desa menabung dalam wujud emas, ternak, sapi, kambing atau kerbau.
 
Membedakan antara keinginan dan kebutuhan, karena keduanya sangat mirip, keinginan dianggap sebagai kebutuhan. Misalnya tetangga membeli motor, kemudian ikut-ikutan beli motor meskipun kredit. Ini tidak baik karena hanya menuruti keinginan. Keluarga membuat daftar yang harus dibeli kemudian tentukan yang prioritas.
 
Menghindari hutang atau kredit, sebisa mungkin, hindarkan dari hutang alias kredit! Kemudahan proses pembayaran membuat seseorang lupa diri tetapi kredit juga tetap dibutuhkan. Jadi, keluarga harus mengatur berapa besar angsurannya.
 
Berinvestasi, keluarga harus memikirkan kehidupan di masa depan. Ada cara berinvestasi yang bisa dilakukan penduduk desa, seperti emas, tanah dan menanam pohon, biasanya jati dan mahoni karena nilainya akan naik seiring berjalannya waktu.
 
Saat itu ibu-ibu diajak bertukar pengalaman. Dari percakapan yang ada terungkap bahwa terkadang pengeluarannya lebih besar dari pemasukan, terlebih saat sedang banyak sumbangan manten atau sripah (melayat). Beberapa ibu berpendapat bahwa mereka lebih suka kredit daripada menabung karena barang bisa langsung dimiliki meski belum punya uang sebanyak harga barang tersebut. Beberapa diantara mereka juga sudah melakukan investasi secara turun temurun, misalnya memelihara ternak sebagai tabungan dan menanam pohon jati sebagai investasi jangka panjang.


Di akhir sarasehan tersebut ibu-ibu diajak untuk mulai praktek mengatur keuangan keluarga. Hal ini memang tidak mudah tetapi bisa dilakukan secara sederhana demi kebahagiaan keluarga di masa yang akan datang. Selamat mencoba. (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 31 Juli 2016
oleh Stube HEMAT
Membuat Biobriket di Desa Salam
 
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan kesempatan bagi mahasiswa menerapkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki di dalam kehidupan sehari-hari dan masyarakat. Salah satu aktivis Stube HEMAT, Elyzz Takadjanji, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sarjana Wiyata, tengah mengikuti program ini dari universitasnya sejak pertengahan Juli sampai akhir Agustus 2016. Beberapa program yang dilakukan terinspirasi dari kegiatan yang pernah diikutinya di Stube HEMAT Yogyakarta berkaitan dengan Energi Alternatif dan kesehatan.
 

 

 
Berawal dari pelatihan Energi alternatif (07/2016) yang mengajarkan bagaimana mengolah sampah menjadi biobriket, Minggu, 30 Juli 2016 kelompok Follow Up Biobriket diundang untuk membagikan ketrampilan membuat biobriket kepada masyarakat Desa Salam, Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dua orang mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta, Tamjos (Fakultas Energi) dan Alvon (teknik lingkungan) tergerak untuk berangkat dan mengajarkan ketrampilan tersebut pada masyarakat setempat.
 
Pukul sembilan pagi, bertepatan dengan waktu kerja bakti warga, mereka terlihat antusias mebagikan ilmu membuat biobriket sederhana. Tamjos bertindak sebagai juru bicara dan Alvon menjadi “juru rangkai” biobriket. Warga terlihat antusias mengikuti diskusi tersebut, terutama ibu-ibu. Mereka bahkan tak jijik ikut “mengobok-obok” arang tanpa kaus tangan.
 
Salah satu pertanyaan penting dilontarkan Bu Prapti,”Mengapa kita harus repot membuat biobriket, sementara sudah ada arang kayu?” Dengan bijak Tamjos menjawab, “Benar, tetapi perlu ibu ketahui bahwa bahan baku arang berasal dari kayu dan itu sungguh tidak ramah lingkungan. Jika setiap hari kita menebang kayu hanya untuk dijadikan arang, maka hutan akan gundul. Bahan baku biobriket tidak berasal dari pohon yang ditebang, kita bisa memanfaatkan daun-daun yang berguguran, ranting-ranting patah, pelepah pohon keras yang jatuh ke tanah, atau dahan yang dipangkas. Arang dari bahan-bahan tersebut bisa diambil untuk dijadikan biobriket”. Tamjos menambahkan pula,”Nah Bapak-Bapak, Ibu-ibu, saat kita sudah terbiasa menggunakan biobriket, kita tidak perlu khawatir kalau sewaktu-waktu harga gas Elpiji 3 kg, minyak tanah atau kayu bakar melonjak”.
 
Menutup diskusi menarik pagi itu kami disuguhi teh hangat dan gorengan ala kadarnya sambil diselingi canda tawa ketika seorang Bapak berceloteh, “Mas-mas, mbak-mbak sering-seringlah main ke sini untuk cuci mata sebab di sini banyak pemandangan alam dan kesenian daerah yang tidak ada di Jogja”. Kami serentak menjawab, “Nggih Pak!”
 
Selamat kawan-kawan, sudah berhasil menjalin persahabatan dengan warga desa dan teruslah menularkan semangat energi terbarukan. (SRB).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 25 Juli 2016
oleh Stube HEMAT
PROGRAM BISNIS KREATIF

 

 

 

 

 

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh ekonomi kreatif. Berdasarkan perhitungan BPS periode 2010-2013, ekonomi kreatif menyumbang 7,8% PDB Indonesia.

 

 

 

Pada era Global Digital Economy (GDE), peran teknologi dibutuhkan dunia bisnis, tercatat beberapa subsektor bisnis kreatif yang membutuhkan teknologi yakni: aplikasi game, arsitektur, desain multimedia, fashion, film, animasi video, fotografi, kerajinan, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio. kreatifitas yang memanfaatkan teknologi dan informasi sangat dibutuhkan dalam berbisnis agar mampu bertahan.

 

 

 

Indonesia ditantang masuk dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal ini adalah peluang, tantangan dan resiko yang mau tidak mau siap untuk dihadapi. Tidak hanya sekedar menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi kreatifitas berbisnis yang kemudian menjadi alternatif dan meningkatkan nilai tambah secara sosial, budaya dan lingkungan. Kekayaan alam, budaya dan banyaknya penduduk akan menghasilkan potensi besar terlebih jika digabungkan dengan kreatifitas yang dimiliki.

 

 

 

Melihat realita yang ada, Indonesia malah dijadikan pangsa pasar dalam dunia bisnis, karena banyaknya jumlah penduduk dan masyarakat yang konsumtif dan negara lain mengambil peluang dengan mengekspor produk ke Indonesia. Kemampuan manajerial produk yang minim berdampak Indonesia lebih sebagai konsumen bukan produsen.

 

 

 

Sebagai generasi penerus, mahasiswa diharapkan mampu menyadari potensi dan kreatifitas yang dimiliki. Mahasiswa dengan kemampuan intelektual dan sosial yang dimilikinya, diharapkan mampu berkembang bukan sekedar survive. Dengan mengembangkan kreatifitas yang dimiliki dan berani memulai bisnis berbasis kreatifitas ide, mahasiswa mampu menentukan kesejahteraannya sendiri.

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta menghadirkan pelatihan Bisnis Kreatif sebagai upaya membekali memulai bisnis, mengembangkan kreatifitas yang nantinya akan menjadi bekal dalam berbisnis. Pada akhirnya mahasiswa diharapkan dapat merumuskan ide dalam bentuk konsep dan mengaplikasikannya melalui manajemen aset, manajemen produksi, dan manajemen jaringan.

 

 

 

Tujuan:

 

1) Peserta mendapat kesempatan mendengar 'sharing experience' dari beberapa pelaku ekonomi kreatif berkaitan dengan tantangan dan prospek.

 

2) Peserta belajar bagaimana memulai bisnis kreatif, bagaimana mengelola modal uang dan dengan siapa mereka harus melakukan jejaring.

 

3) Peserta termotivasi memunculkan konsep pemikiran orisinal mereka yang berbeda, bisnis yang unik dan memiliki identitas sendiri.

 

 

 

Hasil pelatihan

 

Peserta memiliki ide-ide bisnis kreatif

 

Peserta memiliki proposal start-up bisnis

 

 

 

Bentuk Kegiatan

 

Diskusi (Sabtu, 6 Agustus 2016

 

Tema: Mengenal Dunia Game dan SosMed”

 

oleh Yohanes Andri Wardhana

 

 

 

Pelatihan (Jumat – Minggu, 12 – 14 Agustus 2016)

 

Tema: Temukan Kreatifmu, Lakukan Bisnismu

 

 

 

Design Start Up

 

 

 

Presentasi

 

 

 

Eksposur/Meet-up (pascapelatihan)

 

Menyesuaikan proposal start-up peserta

 

 

 

Lokasi: Praktisi Jasa, Kerajinan, Desain

 

Penerbitan, Kuliner, dll.

 

 

 

Materi :

 

Perkenalan Stube HEMAT

 

(Memberikan pemahaman tentang apa itu Stube-HEMAT, apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan)

 

 

 

Galeri Bisnis Kreatif

 

(Membahas mengenai beberapa jenis bisnis kreatif yang saat ini berkembang/trend)

 

 

 

5W1H Memulai Bisnis Kreatif

 

(Membahas cara mendesain ide bisnis, strategi memulai bisnis dan membaca peluang bisnis)

 

 

 

Pengelolan Bisnis: Manajemen Keuangan

 

(Membahas tentang bagaimana mengelola bisnis, memanajemen keuangan dan memperoleh modal bisnis)

 

 

 

Praktek Desain Bisnis – Start Up

 

(Melakukan praktek mendesain bisnis yang akan dirintis. Dalam bentuk catatan sederhana (hardcopy).

 

 

 

Presentasi Desain Bisnis

 

(Peserta menyampaikan seain ide bisnis yang akan dilakukan / Start Up. Proposal peserta akan dilombakan dan proposal terpilih akan mendapat subsidi modal.

 

 

 

Fasilitator:

 

Tim Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Yohanes Andri Wardhana

 

Kelik Tananto

 

Anung Budiyanto

 

UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) Kota Yogyakarta

 

 

 

 

 

Tempat

 

Wisma Lentera Kasih, Kalibawang, Kulon Progo

 

 

 

Kontribusi

 

Rp 25.000,00

(Akomodasi, materi, sudsidi transport, sertifikat)


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 15 Juli 2016
oleh Stube HEMAT
PLTN, Siapkah Kita?

 

Kunjungan Belajar ke Pusat Sains Dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN

 

(Rangkaian Eksposure Pelatihan Energi Terbarukan)

 


 
 

 

Keinginan mengetahui lebih pasti tentang nuklir membawa beberapa mahasiswa aktifis Stube HEMAT Yogyakarta berkunjung dan berdiskusi di PSTA BATAN - Badan Tenaga Nuklir Nasional (14/7/2016), Jl. Babarsari Kotak Pos 6101, Sleman, D.I Yogyakarta 55281. Kunjungan ini merupakan bagian eksposur pelatihan energi terbarukan yang sudah diselenggarakan beberapa waktu lalu (17-19/6/2016). Tetapi, mengapa nuklir? Bukankah nuklir tidak termasuk dalam komponen energi terbarukan? Pertanyaan ini wajar bagi mereka yang tidak mengikuti pelatihan, sebab mereka tidak tahu jika di awal pelatihan salah satu harapan peserta adalah ingin mengetahui sumber energi baru yaitu nuklir, tanpa mengecilkan potensi energi terbarukan Indonesia.

 

 

 

Pengalaman Perdana

 

Mengunjungi reaktor nuklir, merupakan kunjungan pertama dan pengalaman perdana bagi semua yang mengikuti kegiatan ini termasuk bagi Direktur Eksekutif Stube HEMAT. Standar prosedur pengamanan masuk sebuah reaktor nuklir termasuk ketat, karena tidak sembarang orang dapat memasuki area ini, dimulai dari gerbang masuk, kartu identitas dan barang bawaan mendapat pengawasan. Sambutan tuan rumah/ PSTA BATAN sangat baik, sejak pintu masuk ada petugas yang menyambut dan menjelaskan kegiatan dan proses apa saja yang terjadi di tempat ini, sampai diantar menuju ruang seminar. Rombongan Stube-HEMAT diterima langsung oleh Kepala PSTA BATAN Yogyakarta DR. Susilo Widodo dan Mantan Deputi BATAN RI DR. Ferhat Azis. Kesempatan mendengar “kuliah umum” dan bertanya jawab langsung dengan dua orang “decision maker” lembaga ini merupakan hal langka.

 

 

 

Mencengangkan

 

Rencana pembangunan PLTN di Jepara, Jawa Tengah menuai pro dan kontra masyarakat. Selama ini orang hanya mendengar dampak buruk nuklir, tanpa mendapat penjelasan dari pihak-pihak yang pro dan kontra dan berkompeten di bidangnya. Nuklir tidak selamanya berdampak buruk, karena menurut penjelasan Dr. Susilo, ahli dalam standar pengamanan radiasi, nuklir merupakan teknologi yang berguna bagi masyarakat, contohnya rontgen dalam bidang kedokteran, radiasi nuklir bisa memperpendek beberapa varietas padi unggulan sehingga bisa cepat dipanen, radiasi dapat mengawetkan makanan dalam kemasan, seperti bantuan makanan yang dikirim bagi korban bencana di Bangladesh. Secara sederhana, radiasi nuklir itu aman karena hanya seperti nelayan memaparkan ikan pada radiasi sinar matahari untuk membuat ikan asin awet.

 

 

 

Reaktor nuklir di Yogyakarta belum memenuhi syarat sebagai pembangkit listrik sebab daya yang dihasilkan hanya 100 KW. Meskipun demikian, reaktor ini tetap berada di bawah pengawasan IAEA (Badan Tenaga Nuklir Internasional).

 

 

 

Dr. Ferhat Azis, menjelaskan bahwa nuklir sangat bermanfaat bagi umat manusia.  Pembangkit listrik tenaga nuklir misalnya, harganya akan sangat terjangkau, karena 1 kapsul uranium (bahan nuklir) seberat 7 gram bisa menghasilkan listrik setara yang dihasilkan oleh 3,5 barel minyak bumi atau 2 ton batu bara. Tragedi Chernobyl dan Fukushima bisa diatasi dengan kemajuan teknologi Generasi 3+ yang artinya semua peralatan yang dipakai sangat canggih dan memiliki sistem untuk memperkecil resiko ledakan dan radiasi. PLTN 3G+ didesain tahan gempa, tsunami, ledakan, dan memiliki sistem mati (shut down) otomatis ketika terjadi human error atau kegagalan yang tidak teratasi manusia. Sehingga, Dr. Ferhat menambahkan, kita tidak perlu khawatir dengan ledakan besar nuklir, sebab potensi ledakan besar nuklir hanya terjadi jika uranium yang dipakai mengalami proses pengayaan dari 20% sampai 80% sementara pada umumnya PLTN maksimal melakukan pengayaan hanya mencapai 20%.

 

 

 

Melihat Reaktor

 

Melihat reaktor “Kartini” di belakang ruang seminar membuat kami semua takjub. Standar prosedur keamanan begitu ketat seperti tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam ruang reaktor, menggunakan jas laboratorium dan sepatu kain sebagai pelapis alas kaki. Reaktor ini dipakai sebagai tempat penelitian dan beroperasi saat ada permintaan dari pihak luar untuk melakukan berbagai pengujian nuklir. Reaktor berbentuk tampungan air ini berprinsip kerja memanaskan air melalui reaksi fusi berantai uranium dan uap air dipakai untuk memutar turbin sebagai pembangkit listrik.

 

 

 

Dr. Ferhat mengatakan bahwa para ahli nuklir Indonesia siap menjalankan PLTN, karena memiliki kemampuan dan kompetensi, bahkan Indonesia adalah salah satu negara pengekspor komponen PLTN ke Eropa salah satunya ke Finlandia.

 

 

Hari itu merupakan pembelajaran berharga untuk memahami bahwa nuklir tidak selalu merusak. Marilah kaum muda belajar menyiapkan diri, dimulai dari energi terbarukan sederhana, sebab negara dengan rasio elektrifikasi tinggi mengindikasikan negara maju. Sudah siapkah kita menciptakan kemajuan bangsa? (SRB).


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 10 Juli 2016
oleh Stube HEMAT
REFLEKSI EXPLORING SUMBA
Belajar, Berproses, Berbagi dan
Bahagia di Tanah Marapu
 


Sejak melihat dari jendela pesawat hingga menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Marapu, saya langsung merasakan bahwa sejauh mata memandang saya sudah berada di Sumba. Berbeda jika saya mengunjungi daerah lain, terkadang saya masih suka menyangkutpautkan atau menyamakan satu daerah dengan daerah lainnya. Namun pulau Sumba adalah sebuah surga yang berbeda, Sumba memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri yang mampu membuat saya betah berlama-lama di pulau ini.
 
Berada di tanah Sumba selama sebulan mengajarkan banyak pembelajaran dan pengalaman berharga kepada saya, bahkan pengalaman-pengalaman yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan dari Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengunjungi salah satu daerah di Timur dan Selatan Indonesia ini.
 
Belum ada 24 jam saya di Sumba, ada kejadian yang baru pertama kali saya alami, yaitu digigit seekor anjing di pinggir jalan kota Waingapu. Gigitan itu menimbulkan luka tapi tidak cukup parah. Dua teman baru di Sumba mengagetkan saya karena mereka mengatakan bahwa digigit seekor anjing adalah hal biasa di Sumba. Luka saya cukup dibersihkan dan diberi betadine, padahal yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah kuatir terkena rabies. Namun kekuatiran saya tidak terjadi.
Pengalaman menarik lainnya adalah perjalanan menuju desa Laimbonga. Selama perjalanan tidak henti-hentinya dalam hati memanjatkan rasa takjub dan syukur kepada Tuhan atas ciptaan yang luar biasa atas Sumba. Alam Sumba menyegarkan mata saya dengan panorama padang rumput savanna yang seolah tidak berujung dan ditemani oleh kawanan kuda dan sapi yang sedang menikmati sarapan pagi.
 
Keindahan alam Sumba seimbang dengan sulitnya menyusuri jalan menuju desa Laimbonga. Jalan hampir tidak beraspal hanya berbatu dan berpasir. Motor harus didorong melewati anak sungai tanpa jembatan. Tidak terhitung berapa kali melewati jalan mendaki dan turunan curam hingga saya terpaksa turun dari motor dan mendorongnya. Hal yang sama terjadi ketika saya datang lagi ke Laimbonga bersama Iyan, salah satu teman yang ikut Exploring Sumba.
 
Pengalaman lain yang berkesan adalah ketika di desa Laimbonga dan langsung menuju salah satu rumah warga yang akan menguburkan mayat dengan adat Marapu. Saat kami tiba, sudah cukup banyak warga desa yang berkumpul untuk mengikuti upacara penguburan. Kami diterima oleh kepala desa yang juga ayah dari Rambu Etty dan pihak keluarga yang sedang berduka. Sirih pinang disajikan sebagai lambang penerimaan tamu. Salah satu anggota keluarga menjelaskan kepada kami bahwa jenazah yang akan dikuburkan ketika meninggal usianya sudah lanjut dan telah disimpan lebih dari setahun, sedangkan jenazah lainnya ketika meninggal usianya sekitar dua tahun dan telah disimpan kurang dari setahun.
 
Saat prosesi, kami tidak ingin melewatkan kesempatan ini dengan mendokumentasikan prosesi penguburan tersebut. Ada ritual doa untuk mengantar kedua jenazah ke tempat penguburan yang persis berada di depan rumah dengan diiringi isak tangis dari beberapa ibu yang masih ada ikatan keluarga. Uniknya, peti kayu  jenazah dan sudah direkat erat dengan semen tersebut dibuka kembali menggunakan linggis untuk mengambil jenazah dari peti masing-masing dan dimasukkan ke dalam liang kubur, yang sebelumnya sudah dilapisi dengan beberapa lembar kain Sumba. Beberapa hal mirip dengan cara penguburan yang dilakukan di daerah saya di Toraja, Sulawesi Selatan, khhususnya dalam hal menyimpan jenazah dengan waktu yang cukup lama.
 
Pengalaman berkesan lainnya adalah saya melihat beberapa rumah penduduk Sumba, yang mungkin lebih tepat pondok, karena ukuran rumah mereka sama besar dengan kamar kost saya di Yogyakarta. Saya berpikir dengan rumah sekecil itu, ada berapa anggota keluarga yang tinggal di dalamnya? Bagaimana mereka leluasa untuk beraktivitas di dalam rumah? Bagaimana aktivitas MCK-nya?
 
Saat itu saya tertegun sejenak, menyadari bahwa masih sangat banyak masyarakat di negeri ini yang tidak mampu merasakan kesejahteraan dari negaranya sendiri. Kemudian saya sadar bahwa saya beruntung pernah mendapat pengalaman ini. Sebagai seorang mahasiswa, sudah menjadi tanggung jawab saya bersama ribuan mahasiswa lain di negeri ini yang nantinya menyelesaikan perkuliahan dan akan memulai pengabdian bagi negeri dan membangun kesejahteraan masyarakatnya.

 
Saya menyadari bahwa selama di Sumba ada banyak kekurangan dan banyak hal telah dipelajari. Tidak mudah beradaptasi terhadap Sumba dan sekitarnya dan hal tersebut baru benar-benar saya rasakan dan sesali sekembalinya ke Yogyakarta. Namun saya bahagia karena pernah berbagi ilmu dengan penuh keikhlasan kepada masyarakat dan anak-anak Sumba.

Akhir kata, belajar, berproses, berefleksi, bekerja, sharing dan traveling itu menyenangkan selama kita bahagia dengan kesederhanaan yang ditawarkan. (Resky).


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 7 Juli 2016
oleh Stube HEMAT
REFLEKSI EXPLORING SUMBA
Karejoi ma aha naung di oloi ho*
apa yang sudah dimulai harus diselesaikan!
(Bahasa Batak)
 
 
Exploring Sumba merupakan sebuah program Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mahasiswa yang ingin mengenal Pulau Sumba dan berbagi informasi dan pengetahuan yang dimiliki dengan pemuda-mahasiswa dan masyarakat setempat. Saya merupakan salah satu peserta yang ikut dalam program ini. Saya bersemangat untuk berangkat karena termotivasi dari ajakan kakak tingkat di kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta, yang bernama Elisabeth. Kebetulan, ia pernah ke Sumba dan menjadi peserta program yang sama. Jadi, saya semakin bersemangat untuk ikut dan ingin punya pengalaman baru tentang daerah Timur dan tentunya bisa berinteraksi dengan orang-orang di sana.
 
Seiring berjalannya waktu, semakin dekat dengan waktu keberangkatan ke Sumba, saya semakin penasaran dan tidak sabar ingin segera sampai di Sumba. Tetapi nyali itu tiba-tiba menciut begitu saja, hanya karena informasi yang saya dapat dari kakak tingkat saya. Ia bercerita bahwa orang-orang di sana keras-keras dan ada semacam kebiasaan buruk, yaitu kurang bisa disiplin. Saya percaya saja, karena saya jumpai hal demikian ketika bertemu beberapa orang-orang dari kawasan timur yang ada di Yogyakarta.
 
Dua hari sejak mendapat berita itu membuat saya seperti tidak ingin berangkat. Tapi setelah  dua hari kemudian saya kembali semangat karena dapat motivasi dari orang tua saya yang mengatakan dalam bahasa Batak  ”karejoi ma aha naung di oloi ho, tumagon ma maila daripada paila-ilahon,“ yang artinya apa sudah dimulai harus diselesaikan, lebih baik malu daripada malu-maluin.
 
Nasihat ini membangkitkan kembali semangat saya. Dan apapun cerita tentang Sumba dan bahkan yang menakut-nakuti sekalipun, saya tidak akan menyerah begitu saja. Karena kegagalan itu ada karena tidak ada usaha. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.
 

 
Akhirnya, setelah berada di Sumba dan berproses selama kurang lebih tiga puluh hari, saya sangat bersyukur akan kesempatan ini. Saya bisa menginjakkan kaki di tanah Marapu tepatnya di usia saya yang genap 23 tahun. Semua itu tidak serta merta ada pada saya, namun saya merasa bahwa ada rencana yang indah yang sedang Tuhan rancang untuk sebuah perjalanan hidup saya. Awalnya saya takut akan berinteraksi dengan orang baru, wilayah yang baru dan suku yang baru.



Ternyata ketakutan itu tidak terjadi selama saya di Sumba. Bahkan yang saya rasakan di sana ada kenyamanan dan sifat karakter orang yang penuh dengan kasih. Saya sangat bersyukur mengenal Stube-HEMAT dan bisa menjadi bagian di dalamnya. Semoga ke depannya semakin aktif dan semakin peduli dengan sesama. (Junita).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 28 Juni 2016
oleh Stube HEMAT
Mari Membuat Bio-Briket Sendiri

 

 

 

Alvon Laoli, mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan ITY asal Nias ini memiliki keinginan kuat untuk membagikan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki, yakni membuat bio-briket. Awalnya ia mengikuti pelatihan energi terbarukan dengan tema “Manfaatkan Energi Terbarukan: Kita Bisa Apa?” yang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta yang memfasilitainya berkunjung dan belajar bio-briket di desa Sukunan.

 

 

 

 

 

 

Bio-briket berasal dari daur ulang arang sisa pembakaran sampah organik seperti daun, ranting, kayu dan sebagainya. Cara membuatnya cukup mudah. Mula-mula arang dihancurkan dan dicampurkan dengan adonan tepung kanji lalu dipadatkan dalam pipa berdiameter 10 cm menggunakan palu. Sesudah proses pemadatan dan cetak maka jadilah bio-briket basah, yang selanjutnya akan berakhir dalam proses penjemuran yang memakan waktu 1-2 hari. Apabila sudah kering, bio-briket ini siap digunakan. Prinsip pemakaian bio-briket sama dengan pembakaran arang pada tungku ‘anglo’ dengan kelebihan dapat menciptakan sumber energi alternatif pengganti gas dan lebih irit dibandingkan arang.

 

 

 

Sore itu (27/6/2016) bertempat di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta, Alvon begitu antusias mengajarkan cara membuat bio-briket, ia pun tak segan menyediakan kaus tangan lateks bagi peserta. Alvon tak hanya bicara ia juga memperagakan proses pembuatan yang langsung diikuti oleh peserta. Imel salah satu peserta asal Sekadau, Kalimantan Barat berkata “Pengetahuan dan ketrampilan ini sangat bermanfaat terutama bagi masyarakat pedesaan yang masih mengandalkan kayu bakar, sebab tak bijak rasanya jika kayu bakar terus menerus dipakai tanpa melakukan konservasi”.

 

 

 

Diskusi dan workshop ini berlangsung menarik, semua peserta paham dan memiliki tambahan keterampilan sederhana sebagai bekal untuk mengatasi permasalahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bio-briket adalah ‘alternative-energy’ yang bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan sampah organik. Dengan begitu semua orang sama sekali tidak perlu takut ketika harga minyak tanah dan gas LPG melonjak naik. Arang tetap menjadi alternatif dan bio-briket menjadi solusi efektif dan cerdas.

 

 


Mari kawan muda yang sudah bisa membuat bio-briket, jadilah tutor sebaya dan  menjadi percikan cahaya kecil di ambang ancaman kegelapan krisis energi. Terima kasih Alvon Laoli. (SRB).


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 22 Juni 2016
oleh Stube HEMAT
Manfaatkan Energi Terbarukan:
Kita Bisa Apa?
  
 
Keresahan bersama tentang masa depan energi terjawab sudah, dalam pelatihan energi terbarukan bertema “Manfaatkan Energi Terbarukan: Kita Bisa Apa?”. Walau terbilang singkat, 17-19 Juni 2016, pelatihan yang diadakan di Wisma Salam Magelang ini terbukti memantik rasa ingin tahu dan kesadaran peserta mengenai permasalahan energi. Leni, mahasiswi jurusan akuntansi asal Papua mengatakan bahwa di awal pelatihan ia sama sekali tidak mengerti dan sedikit bingung apa itu energi terbarukan, tapi setelah berproses selama tiga hari dalam pelatihan, ia tahu bahwa energi tak dapat dipisahkan dari kehidupannya dan bahkan menurutnya semua orang harus memahami dan bergerak bersama untuk permasalahan energi ini.

Pentingnya Belajar Energi Terbarukan
Hari pertama peserta diajak untuk mengetahui pentingnya belajar energi terbarukan. Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, Ariani Narwastujati memberikan pemahaman konsep dasar mengenai peta penggunaan energi global dan rasio elektrifikasi. Energi terbarukan adalah jawaban bagi pemerataan pembangunan, sebab kebutuhan listrik daerah terpencil dapat dipasok energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya, biogas, tenaga air, angin dsb. Selain rasio elektrifikasi, peserta dikenalkan dengan sumber energi tradisional yang ada di Yogyakarta pengganti LPG yaitu briket yang dibuat dari sampah organik.

 
 
 
  
Menariknya Energi Terbarukan
Hari kedua peserta belajar sejarah ketergantungan energi di Indonesia yang disampaikan oleh Silverio R.L. Aji Santoso, dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma. “Materi ini belum pernah diteliti oleh ahli sejarah Indonesia, tapi memang sejak zaman Sriwijaya Indonesia sudah mengenal minyak bumi, Indonesia juga sempat mengalami kejayaan sebagai negara pengekspor minyak sebelum tahun 1969, ketika Soeharto membuka keran investor asing, pengerukan cadangan energi kita yang tanpa batas ini, disinyalir mempercepat habisnya cadangan minyak dan gas Indonesia”, tuturnya.
 
Energi terbarukan bukan melulu ranah mahasiswa teknik, ujar Irawan dari Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada. “Selama ini terbukti bahwa orang awam di pelosoklah yang jeli melihat potensi energi terbarukan di daerahnya. Semua ilmu mesti bekerja sama dalam PLTMH”, jelasnya lebih lanjut. Ia menambahkan, “Jika ingin membangun sebuah pembangkit energi terbarukan, kita mesti mengenal betul potensi daerah, jangan menilai berdasarkan kunjungan sehari, contoh ada seorang mahasiswa, ia baru sekali berlibur ke pantai tapi sudah menyatakan bahwa potensi angin di lokasi tersebut cocok untuk pembangkit listrik tenaga bayu tanpa memperhitungkan kontinyuitas angin dalam jangka waktu yang panjang”. Sesi ini menarik sebab peserta belajar berbagai macam jenis pembangkit, kegunaannya dan bagaimana merawatnya, terlebih kunjungan ke lokasi yang sudah menerapkan energi terbarukan, seperti Desa Sukunan dan PLTMH Minggir.

Di Sukunan peserta belajar bagaimana membangun biogas dan membuat briket. Harto, narasumber di Sukunan menjelaskan bahwa perlu komitmen bersama di kalangan warga agar tercipta desa mandiri energi, sebab sulit sekali membangun desa mandiri energi di Indonesia, karena kita negara kaya yang dimanja oleh alam.
 
Di PLTMH Minggir peserta diajak memahami kinerja alat dari Jepang. PLTMH ini memanfaatkan kontinyuitas aliran irigasi sebagai pemutar turbin. Hal sederhana ini dapat dilakukan di desa kami namun mahalnya peralatan dan susahnya perawatan menjadi kendala”, ungkap pak Darno pendamping lapangan PLTMH Minggir.
 
Sharing bersama Ricky aktifis Stube HEMAT Yogyakarta  yang sudah bekerja 3 tahun di PLTU Palu, menambah cakrawala peserta tentang realita yang ada mengenai kendala baik dari dalam dan luar perusahaan. Manajemen yang baik berpengaruh positif pada pekerjaan di lapangan. Ia menekankan, “Kita sebagai anak muda harus memiliki etos kerja yang tinggi dan kemampuan problem solver sebab banyak masalah tak terduga muncul sewaktu-waktu, seperti menghadapi warga di sekitar perusahaan bukan hal mudah”.
 
Apa yang Dapat Dilakukan?
Setelah ibadah Minggu, sesi analisa kebijakan energi oleh Ahmad Rahma Wardhana (PSE UGM), membuat peserta mengerti kebijakan energi terbarukan seperti PLN akan membeli listrik yang dihasilkan warga, dengan harga setiap KWH listrik energi terbarukan lebih tinggi dibandingkan sumber listrik dari energi konvensional, juga masalah alat yang sampai saat ini masih diimpor membebani modal awal dan perawatan. Yang bisa anak muda lakukan saat ini adalah mempengaruhi arah kebijakan menjadi lebih pro pada energi terbarukan di masa depan.
 
Sesi follow-up menantang peserta berpikir melakukan sesuatu berkaitan dengan energi. Beberapa peserta akan membagikan ilmu yang didapat selama pelatihan, seperti membuat briket dan kampanye hemat energi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga pemantik kecil ini menyalakan hati dan menggerakkan tangan untuk melakukan sesuatu. Selamat berkarya sederhana kawan. (SRB).

 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 13 Juni 2016
oleh Stube HEMAT
STOP!!
TERORISME, RADIKALISME & NARKOBA
Seminar Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DIY
 
 
Terorisme, Radikalisme dan Narkoba bukan berita baru di Indonesia, tiga hal ini sudah terjadi sejak dulu. Terorisme, Radikalisme dan Narkoba menjadi akar permasalahan di Indonesia. Bukan hanya memberikan rasa tidak nyaman, tetapi membuat ketidakstabilan perekonomian negara dan merusak generasi muda. Melihat permasalahan ini Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan seminar mengenai “Sosialisai Bahaya dan Ancaman Terorisme, Radikalisme dan Narkoba bagi Umat Kristen Daerah Istimewa Yogyakarta”.  Kegiataan ini bertujuan untuk melihat sikap gereja-gereja, dan umat Kristen terhadap permasalah ini.
 
 
Seminar yang dilangsungkan 10 Juni 2016, di Wisma Immanuel, Yogakarta ini dihadiri oleh para utusan berbagai gereja-gereja dan lembaga  di DIY. Tiga Tema utama yakni Terorisme, Radikalisme dan Narkoba dijelasakan oleh narasumber yang berkompeten dibidangnya yakni:  Suhariyono, SIP (Kepala Seksi Pencegahan BNNP DIY),  Drs. Susilo Tri Harjoko (Kasubdit IV Ditintelkam Polda DIY), dan Dr. Venny Pungud, Sp.KJ. (SMF Ilmu Kedokteran Jiwa dan FK UKDW-RS Bethesda Yogyakarta).
 
Suhariyono memaparkan bahwa terdapat 24 jenis narkoba di Indonesia yang belum masuk Undang-undang yang berlaku, sehingga hampir setiap tahun Undang-undnag No 35 tahun 2009  harus di amandemen. Saat ini jumlah pengguna narkoba meningkat mencapai 4,7 juta yang tercatat pada BNN tahun 2013. Apabila tidak ada upaya pencegahan dan penanggulangan, maka diproyeksikan pada tahun 2019 akan mencapai 7,4 juta pengguna narkoba. Pada BNNP Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat ada 60 ribu orang penggunan narkoba dari berbagai jenjang seperti penggunan narkoba pemula, teratur, suntik, dan non-suntik.
 
Drs. Susilo Tri Harjoko memaparkan mengenai masalah terorisme dan radikalisme yang terjadi. Penyebab radikalisme bisa dikarenakan tafsir keagamaan yang sempit, kemiskinan dan ketidakadilan struktural. Seringkali pelaku sengaja menyitir ayat-ayat Alquran untuk menggalang orang muslim untuk perbuatan jihat yang dianggap benar. Kasus terorisme DIY sudah ada sejak tahun 2002 dan isu radikal sudah terjadi pada intoleransi agama.
 
Dari ilmu kesehatan, Dr. Venny Pungud, Sp.KJ menjelaskan kerusakan dan kecanduan berat jika menggunakan bahan adiktif tersebut seperti perubahan perilaku, kondisi tubuh dan pola pikir dari orang yang kecanduan narkoba. Hal yang sangat meresahkan adalah pengguna akan merugikan orang lain untuk memuaskan nafsunya.
 
Peserta antusias saat sesi tanya jawab seperti kendala penanganan narkoba dan mengapa kebebasan beragama dibatasi. Ada harapan bahwa Polri dapat mengirimkan buku-buku ke gereja-gereja dan kesatuan tekad 0% pada minuman keras dan alkohol. Pihak Kapolda menyatakan bahwa kepolisian akan mengamankan setiap ibadah yang dilakukan, sementara pihak BNN menjelaskan bahwa saat lembaga ini ada, kondisi di DIY sudah sangat buruk, sehingga proses penanganan sulit dilakukan, tetapi setiap tahunnya mengalami penurunan penguna narkoba.
 
Harapan besar dari pertemuan ini adalah agar umat Kristen mau ikut ambil bagian dalam permasalahan yang tengah dihadapi negara ini dan ada tindak lanjut yang dilakukan. (ITM).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 5 Juni 2016
oleh Stube HEMAT
Semangat untuk Belajar dan Berbagi
P R O G R A M   E X P L O R I N G   S U M B A




Bulan Juni tahun 2016 sangat dinanti oleh trio mahasiswa: Junita Samosir, Resky Yulius dan Christian Badai Bulin. Ada apa? Ya, ketiganya akan berangkat dari Yogyakarta menuju Sumba, salah satu pulau di propinsi Nusa Tenggara Timur.
 
Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa di Sumba, tidak di pulau lainnya? Karena di Sumba ada Stube-HEMAT Sumba. Ketiga mahasiswa tersebut menjadi bagian dari enam mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yang akan berangkat ke Sumba dalam program Exploring Sumba dari Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengirim mahasiswa aktivis Stube-HEMAT ke Sumba. Mahasiswa yang dikirim ke Sumba akan berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa, kaum muda dan masyarakat Sumba.


Peserta program Exploring Sumba akan berada di Sumba selama tiga puluh hari. Mereka akan belajar banyak hal mengenai Sumba, dari keadaan masyarakat, sosial budaya, pertanian, lingkungan alam dan pariwisata. Namun, selain belajar, mereka akan berbagi dengan anak muda, masyarakat dan gereja tentang keterampilan dan pengetahuan yang mereka dapatkan selama belajar di Yogyakarta. Jadi program Exploring Sumba menjadi media yang penting untuk saling belajar bagi kedua pihak tersebut.


  
 
Siapa saja ketiga peserta tersebut? Ayo, kenali mereka lebih dekat. Yang pertama adalah Junita Samosir, seorang mahasiswi dari Simalungun, Sumatera Utara. Saat ini Junita, sudah menyelesaikan studi di fakultas Agroteknologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Selama di Sumba, Junita akan berbagi pengetahuan tentang pengolahan hasil pangan seperti yang ia pelajari di kampusnya. “Harapan saya, saya dapat menjadi manfaat bagi masyarakat setempat dan saya dapat belajar pengalaman baru,” ungkapnya.
 
Berikutnya, Resky Yulius, seorang mahasiswa dari Toraja, sebuah daerah di Sulawesi Selatan yang cukup kental tradisi dan budayanya, seperti di Sumba. Saat ini Resky sedang menempuh kuliah di Universitas Kristen Duta Wacana, program studi Manajemen. Selama di Sumba ia akan berinteraksi dan berbagi pengalaman dengan mahasiswa dan anak muda gereja tentang kesiapan diri memasuki dunia kerja maupun menciptakan peluang kerja. Resky berharap, “Saya semakin tahu mengenai kearifan lokal masyarakat Sumba, budayanya, kerajinannya, landscape alamnya dan orang-orangnya. Selain itu, saya juga bisa membagikan ilmu yang saya punya untuk masyarakat Sumba dan bisa diteruskan” paparnya.
 
Peserta ketiga adalah Christian Badai Bulin, seorang mahasiswa Teknik Informatika Universitas Kristen Duta wacana yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Pengetahuan dan keterampilan tentang komputer dan editting yang telah ia peroleh di kampus mendorong Iyan, panggilan akrab Christian, untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman di Stube-HEMAT Sumba, khususnya tentang pembuatan video pendek yang berisi pesan-pesan sosial, kepedulian lingkungan, budaya masyarakat dan pariwisata. Selain itu, Iyan juga memiliki ketrampilan untuk olah vokal, jadi bisa berlatih menyanyi bersama Iyan.
 
Pdt. Dominggus Umbu Deta, S.Th., koordinator Stube-HEMAT Sumba berharap teman-teman dari Yogyakarta mampu menyesuaikan diri dengan keadaan di Sumba sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik kami yang di Sumba dapat menerapkan secara berkelanjutan. Selamat datang di tanah Marapu, selamat berproses di bumi Sumba, teman-teman. Kami siap menyambut kedatangan teman-teman dan bekerjasama untuk kemajuan bersama. (TRU).

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 10 Mei 2016
oleh Stube HEMAT
PEDULIKU PADAMU
Mahasiswa Bermasyarakat dan Bekerjasama
Komunitas Mahasiswa Peduli Lingkungan (KMPL)
 
 
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta di Wisma Panti Semedi, Klaten pada 22 - 24 April 2016 menjadi pendorong peserta menindaklanjuti dengan kegiatan yang menyentuh realitas sosial. Beberapa peserta mahasiswa berbasis di STPMD “APMD” merespon positif hal tersebut dengan membangun kerjasama di tengah-tengah masyarakat yang beragam suku, agama dan budaya. Mereka membuat sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Mahasiswa Peduli Lingkungan (KMPL). Aksi nyata komunitas ini diperlihatkan dengan melakukan kerjasama dengan Komunitas Pemuda Gendeng dan warga masyarakat RW 20 Gendeng diwujudkan dalam bakti sosial bersih kampung.
 

 

Aksi bakti sosial ini berlangsung pada hari Minggu, 08 Mei 2016 di wilayah RW 20 Gendeng, Kelurahan Baciro yang dimulai pukul 06.00 – 09.20 WIB. Kegiatannya adalah membersihkan ruas jalan Timoho, lingkungan masjid Anwar Rasyid dan selokan air yang tersumbat sampah. Tujuan dari KMPL adalah mewujudkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan terjalinnya hubungan antar warga masyarakat di kampung Gendeng baik warga asli maupun para pendatang. Untuk kegiatan pertama kali ini diikuti sekitar 35 orang yang terdiri dari mahasiswa, pemuda dan warga masyarakat setempat.
 

 

Pascakegiatan aksi bakti sosial, Komunitas Pemuda Gendeng dan warga masyarakat Gendeng mengundang KMPL untuk hadir dalam HUT ke-13 Komunitas Pemuda Gendeng (KOMPAG) yang diselenggarakan pada hari Minggu, 15 Mei 2016. Dalam acara HUT KOMPAG tersebut, Koramil setempat memberi tanggapan positif terhadap kaum muda Indonesia yang mau bermasyarakat dan menyampaikan pesan untuk menjauhi narkoba dan jangan sekali-kali penasaran dengan hal itu. Berikutnya, Ketua RW Gendeng mengucapkan terima kasih kepada KMPL dan berharap kerjasama yang sudah ada terus terjalin. Puncak acara berupa penyerahan penghargaan kepada masyarakat yang dibagi beberapa kategori, yaitu kategori pemuda berkreasi yang diraih pemuda Kampung Gendeng, ketegori anak cerdas diberikan kepada anak-anak Kampung Gendeng dan kategori mahasiswa kritis dan berelasi diberikan kepada KMPL atas inisiatif dan partisipasi dalam kegiatan bersama masyarakat.
 
Dengan demikian, pesan penting dari kegiatan ini adalah keberagaman yang ada di tengah masyarakat tidak bisa dijadikan alasan permusuhan, tetapi keberagaman tersebut disatukan dalam sebuah wadah kerjasama sehingga bisa kokoh menopang persatuan dan kesatuan Indonesia. Terus berkreasilah anak muda untuk bangsa! (CAR).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 8 Mei 2016
oleh Stube HEMAT
Belajar Keberagaman
 
di Vihara Mendut

Sabtu, 7 Mei 2016 dua puluhan mahasiswa mengadakan kunjungan belajar atau eksposur ke Vihara Mendut. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta. Vihara Mendut merupakan salah satu bangunan religi Buddha di desa Mendut, Magelang, Jawa Tengah. Di dalam vihara, lingkungan cukup asri dan terjaga dalam kerapiannya, dinaungi pepohonan dan taman dengan berbagai ornamen dan monumen Buddha, para peserta eksposur terkagum dan merasakan suasana damai yang kontemplatif ketika memasukinya.

Yohanes menjadi pemandu diskusi eksposur mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta dan Bhikkhu Atthapiyo sebagai tuan rumah dengan ramah memfasilitasi eksposur di Vihara Mendut. Beliau  sangat antusias dan mengapresiasi kehadiran mahasiswa sebagai generasi masa depan untuk mengenal keberagaman yang ada di Indonesia.
 
Trustha Rembaka, S.Th., koordiantor Stube-HEMAT Yogyakarta mengungkapkan rasa terima kasih kepada pihak Vihara Mendut yang diwakili Bhikkhu Atthapiyo atas kesempatan yang diberikan kepada Stube dan mahasiswa untuk berdialog dan belajar bersama tentang agama Buddha dan relasi di tengah masyarakat yang majemuk.
 
Bhikkhu Atthapiyo memperkenalkan diri dan mengungkapkan bahwa beliau menjadi Bhikkhu pertama dari Flores, NTT. Umat Buddha di Indonesia berada di bawah naungan Sangha Theravada Indonesia (STI). Vihara di Mendut ini mulai dibangun tahun 1970an oleh Bhikkhu Pannavaro. Meskipun di sekitar vihara tidak ada umat Buddha, keberadaan vihara memberikan manfaat untuk masyarakat setempat, karena mereka bisa bekerja di lingkungan vihara dan berdagang di sekitar vihara Mendut.
 
Aktivitas di vihara Mendut tidak hanya untuk umat Buddha, tetapi ada yang terbuka untuk masyarakat umum, salah satunya adalah aktivitas bermeditasi, yang diselenggarakan setiap akhir tahun. Aktivitas ini dilakukan selama 10 hari dan diikuti bukan hanya oleh masyarakat umum tetapi juga  turis mancanegara. Inti dari meditasi adalah melihat dengan mata batin terhadap dirinya sendiri. Di fase itu seseorang belajar berdamai dengan dirinya sendiri dan kemudian berdamai dengan orang lain. Seseorang, sebelum berdamai dengan diri sendiri, ia tidak akan bisa berdamai dengan orang lain.

 
Pada kesempatan kunjungan ini, Bhikkhu Atthapiyo menjelaskan sejarah perkembangan Buddha dari awal dan keberadaannya di Indonesia sampai saat ini. Lebih lanjut, beliau bercerita tentang Bhikkhu dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, mengikis keserakahan, menghapus kebencian dan memerangi kebodohan batin, dan selanjutnya mewujudkan kehidupan yang dilandasi empat bahasa kasih: cinta kasih, belas kasih, ikut berbahagia ketika orang lain bahagia dan keseimbangan batin.
 

 
Rasa ingin tahu bahkan mungkin ‘penasaran’ peserta diungkapkan secara jujur dalam sesi tanya jawab membuat dialog semakin akrab dan Bhikkhu Atthapiyo menanggapinya dengan ramah. Pertanyaan tentang ajaran Buddha dan hari besarnya, kehidupan seorang Bhikkhu, ornamen-ornamen yang ada di lingkungan vihara dan tentang meditasi.

Setelah berdialog, kami berkesempatan berkeliling kawasan vihara dipandu oleh Bhikkhu Atthapiyo. Mahasiswa juga bisa mendengar filosofi kolam air dengan tanaman teratai, dimana di tengah air yang keruh teratai tetap bisa berbunga indah. Patung-patung Buddha banyak menghiasi halaman dengan keindahan dan keunikannya, tergantung daerah dan negara asal seperti India, Thailand dan Myanmar. Pohon Bodhi (ficus religiosa L) dan pohon Sala (shorea robusta) disebut juga cannon ball tree, stupa, tugu Ashoka, lonceng raksasa bisa ditemukan di sana sebelum masuk ke dalam ruang meditasi.
  


 
“Ini sebuah pengalaman baru yang saya rasakan ketika mengikuti eksposur di vihara, khususnya tentang berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dan berelasi dengan orang lain” ungkap Grace, salah seorang peserta.
 
 
Selamat merenungkan pengalaman baru, bermeditasi dan menemukan kesadaran bahwa Indonesia kaya akan keragaman. (TRU).

 

  



  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 26 April 2016
oleh Stube HEMAT
Muda, Beda dan Berkarya

 

Pelatihan Multikultur & Dialog Antar Agama

 

Panti Semedi, Klaten, Jawa Tengah, 22-24 April 2016

 

 

 

 

 

 

Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama yang digelar Stube HEMAT dengan tema “Muda, Beda dan Berkarya” berusaha menyampaikan pesan dan mengingatkan kembali anak muda mahasiswa akan keberagaman yang dimiliki Indonesia beserta tantangan yang harus dihadapi sebagai konsekuensi yang dikandung dari keragaman itu sendiri. Kegiatan Pelatihan ini disambut baik oleh 25 orang peserta yang hadir dari berbagai kampus, jurusan dan daerah. Semua peserta sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan selama tiga hari tersebut.

 

 

 

 

 

 

Mengawali program dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Mlangi seminggu sebelum mengikuti pelatihan, peserta yang sebagian besar mahasiwa kristiani memiliki sentuhan dan bekal akan perspektif keberagaman. Mereka juga diingatkan kembali akan budaya daerah masing-masing yang beragam dengan pesona baju tradisional dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa, Kalimantan, Batak, Sumba, dan Flores yang dipakai oleh beberapa peserta. Kumandang lagu-lagu daerah di hari pertama pelatihan sungguh membawa suasana ke-Indonesia-an yang kaya akan suku, budaya dan bahasa.

 

  

 

Pelatihan ini mendorong peserta membuat jejaring dengan berbagai kalangan yang berbeda latar belakang, melatih peserta menemukan solusi atas ketidakharmonisan antar etnis dan agama, menyemangati peserta mampu menyebarkan pemahaman bukan sekedar toleransi melainkan kerjasama untuk kemanusiaan, juga memotivasi peserta mengembangkan diri membuat dialog bersama antar agama dalam masyarakat serta aktif menangani konflik yang muncul.

 

Sesi-sesi yang diikuti oleh peserta dalam pelatihan ini meliputi Mengenal Multikultur, Berinteraksi dengan Forum Kebersamaan Umat Beragama Klaten, Pemetaan Potensi Konflik di Indonesia, FGD masing-masing daerah dan Merancang Kegiatan Tindak Lanjut sebagai wujud pemerolehan pengetahuan baru dalam pelatihan. Narasumber yang terlibat dalam pelatihan selain tim internal Stube-HEMAT adalah Gus Jazuli Kasmani dari Pesantren Saleh Akrom Nusantara (PeSAN), pemuka agama dari berbagai agama dan keyakinan di Klaten, Pdt. Izak Y.M. Lattu. Ph.D dari UKSW dan Pdt. Krisapndaru, S.Th.

 

 

 

“Kehadiran para pemuka agama dan keyakinan dari FKUB Kebersamaan Klaten ini sangat berkesan dan menginspirasi saya untuk mengusahakan pertemuan para tokoh lintas agama di daerah asal saya karena menurut saya memberi kesejukan suasana ditengah masyarakat yang majemuk,” ungkap Charly mahasiswa APMD dari Manggarai. Kekompakan FKUB Kebersamaan Klaten sangat kuat dirasakan para peserta dengan kehadiran para tokohnya mengisi satu sesi dalam pelatihan.

 

 

 

“Kekuatan kearifan lokal yang sudah ada di setiap suku di Indonesia ini perlu terus-menerus digali, dan diwariskan turun-temurun sehingga generasi penerus selanjutnya tidak kehilangan nilai-nilai luhur nenek moyangnya dan menganggap setiap perbedaan yang ada merupakan ancaman yang harus dimusnahkan. Kerusuhan-kerusuhan antar etnis, suku dan agama tidak perlu terjadi seperti di Ambon apabila masyarakat di sana benar-benar menghayati nilai-nilai luhur Pela Gandong yang sudah ada. Bagaimana arsitek pilar masjid menjadi penyangga gereja dan sebaliknya. Kearifan ini perlu dicertakan terus turun-temurun”, pesan Pdt. Izak Y.M. Latu, Ph.D dalam sesinya.


 

 

Pada akhir sesi, peserta diminta merumuskan kegiatan sebagai wujud pemahaman baru yang mereka dapat selama pelatihan. Diseminasi pemahaman multikultur lewat diskusi, tulisan dan kerja nyata dalam masyarakat menjadi pilihan-pilihan kegiatan yang dilakukan.

 

 

 

Dalam perjalanan pulang Klaten-Yogyakarta, peserta diberi kesempatan melihat Candi Plaosan, sebuah candi yang didirikan pada abad ke 9 Masehi. Candi ini perpaduan budaya Hindu dan Buddha yang tercipta karena pernikahan campur antara Rakai Pikatan yang mendirikan Candi Prambanan yang berlatarbelakang Hindu dan Putri Pramodhawardani dari Dinasti Sailendra yang berlatar belakang agama Buddha. Dari Candi ini peserta belajar bahwa penerimaan keberagaman sudah terjadi sejak dahulu kala.


Muda, Beda dan Berkarya, menggugah para peserta sebagai anak muda yang menyadari keberagaman dan harus memiliki perbedaan dalam kualitas dan melakukan karya untuk bangsa. (ARN).

  

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 20 April 2016
oleh Stube HEMAT
EKSPOSUR LOKAL

 


 

 

EKSPOSUR LOKAL

 

Sebuah program Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mahasiswa melakukan suatu aktivitas di daerah asal. Mahasiswa didorong untuk memikirkan dan mendalami daerah lokal setelah beberapa tahun belajar di Yogyakarta.

 

 

 

AKTIVITAS YANG DILAKUKAN

 

 

 

  • Pemetaan potensi dan tantangan di daerah asal.
  • Membagikan pengetahuan dan pengalaman yang dipelajari selama studi di Yogyakarta
  • Orientasi kerja dan membuka jejaring di daerah asal

 

 

 

PERSYARATAN PESERTA

 

 

 

  • Aktif sebagai peserta program Stube-HEMAT Yogyakarta
  • Mengajukan proposal dan presentasi
  • Mengikuti pembekalan peserta Eksposur Lokal
  • Pernyataan kesanggupan dan tidak mengganggu kuliah

 

 

 

LAIN-LAIN

 

 

 

  • Dibuka kesempatan untuk 3 orang di tahun 2016
  • Waktu pelaksanaan Maret - November (Menyesuaikan liburan peserta

 

 

 

 

 

Informasi lebih lanjut hubungi

 

Trustha Rembaka, S.Th (081392772211)

 

atau datang ke Sekretariat

 

Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Jln. Tamansiswa, Nyutran MG II/1565 C,

Yogyakarta


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 18 April 2016
oleh Stube HEMAT
Stube-HEMAT Yogyakarta
Kunjungi Pesantren Mlangi
 

Pesantren dipandang sebagai sarana pendidikan iman dan agama Islam. Memang demikianlah adanya. Pesantren menjadi wadah bimbingan iman, karakter, dan pekerti bagi setiap anak bangsa yang beragama Islam. Namun, sejarah menyatakan pesantren tidak melulu mengajar soal agama. Pesantren juga mengajar soal kebangsaan. Kenyataan itu dibuktikan dengan perjuangan warga pesantren dalam mengusir penjajah Belanda yang telah merendahkan martabat bangsa Indonesia sebagai manusia.

Sabtu, 16 April 2016, Stube-HEMAT Yogyakarta mengunjungi Pesantren As-Sallafiyyah, Mlangi, Sleman, DIY. Rombongan Stube-HEMAT Yogyakarta sejumlah 31 orang berdialog dengan Gus Irwan Masduki pengasuh Ponpes. Beliau selesai menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan kemudian pulang menyelenggarakan pendidikan di negerinya, Indonesia.
Perkunjungan Stube-HEMAT Yogyakarta telah menjadi agenda program Multikultur dan Dialog Antar agama. Peserta program diharapkan mampu untuk menunjukkan identitasnya di tengah keberagaman sekaligus tidak kaku dalam berinteraksi dengan komunitas lain. Bagaimanapun juga, interaksi dan dialog adalah suatu kenyataan yang tidak bias dipungkiri di negeri ini. Untuk mengembangkan kesatuan dalam keberagaman, kita perlu berinteraksi dan berdialog. Maka, Stube-HEMAT Yogyakarta mengunjungi komunitas keagamaan dan komunitas budaya di lingkungan DIY.
 
“Di sini pesantren sekaligus sekolahan,” ungkap Gus Irwan dalam membuka diskusi. Gus Irwan mengatakan santri di sini sebagian adalah mahasiswa di kampus terdekat seperti UTY, UIN, Gadjah Mada, dan UII. Santri dengan mahasiswa non-pesantren tidak jauh berbeda. Mahasiswa non-pesantren dapat berdoa di rumah indekosnya, sementara santri memiliki waktu berdoa yang secara disiplin dilakukan setiap hari.
 
Kegiatan bersama mahasiswa lain kampus juga diselenggarakan tetapi tidak rutin karena padatnya jadwal pesantren, seperti berdiskusi dengan Orang Muda Katolik ataupun dengan komunitas lain. Sekalipun jadwal padat, santri tetap melakukan kegiatan ini dengan mengirim wakilnya untuk berdiskusi.

Gus Irwan mengungkapkan pendapatnya tentang perbedaan perspektif menafsir suatu teks. Setiap penafsiran dipengaruhi oleh perspektif, maka untuk menafsir satu ayat dalam kitab suci, orang-orang tidak selalu sama dalam menyajikan hasil penafsiran. Setiap penafsiran dipengaruhi oleh budaya yang membentuk perspektif setiap orang. Gus Irwan sendiri mengakui bahwa dirinya terbuka pada perbedaan. Agama yang diturunkan dari Tuhan itu punya sisi kebaikan. “…Tidak ada agama yang turun dari Tuhan yang ajarkan kekerasan,” ungkap Gus Irwan.
 
Lalu kenapa masih saja ada kekerasan? Gus Irwan mengakui ada saja ajaran yang melegalkan kekerasan dengan alasan-alasan tertentu. Perang beda agama itu terjadi untuk memperjuangkan kebebasan beragama bukan untuk paksa orang masuk agamanya,” tambah Gus Irwan.
 
Gus Irwan kemudian menceritakan pengalamannya mengunjungi gereja di Sinai, Mesir. Toleransi sudah ada di sana sejak jaman Nabi. Bahkan ada gereja yang masih menyimpan surat dari Nabi Besar Muhammad SAW bahwa gereja ini tidak boleh dihancurkan. Sungguh indah toleransi di jaman itu.
 
Pertanyaan kemudian muncul. Satu per satu teman-teman Stube saling memberi pertanyaan dan dijawab oleh Gus Irwan.
  
 
Perkunjungan dan perjumpaan dengan Gus Irwan dan santrinya merupakan pengalaman baru. Sebagian teman-teman Stube mengakui bahwa ini pertama kalinya mereka mengunjungi pesantren. “…ternyata anak pesantren ramah dan baik,” demikian kata Apong, mahasiswa peserta Stube yang hadir di hari itu. Mari terus berjejaring dan bekerjasama dalam perbedaan yang indah. (YDA).

 

 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 9 April 2016
oleh Stube HEMAT
SEMUA ORANG BISA MENULIS

 


 

Dunia menulis bukanlah dunia tukang, yang dilakukan secara bertahap dan berulang. Dunia menulis adalah dunia ide. Ide akan terbentuk dengan terbentuknya pola pikir secara empiris, adanya dimensi konseptual, mereduksi fenomena, dan mempertajam analisa. Hal ini yang dibagikan Rudyolof Immanuel Malo, mahasiswa Sosiologi Universitas Atmajaya Yogyakarta yang bersumber dari buku berjudul “Kiat Menulis di Media Massa”. Tergolong buku terbitan lama, tetapi dengan pengalaman Rudy sebagai pemimpin redaksi Majalah Komunitas Mahasiswa NTT UAJY, buku ini menarik dan penting bagi pemula.

 

 

 

Buku Rendi Panuju terbitan UGM tahun 1994 ini menjadi bahan diskusi teman-teman Stube-HEMAT Yogyakarta pada hari Jumat, 08 April 2016 di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta. Buku “Kiat Menulis di Media Massa” menjadi pilihan Rudy untuk dibagikan kepada teman-teman. Dengan pengalaman yang dimilikinya tentang menulis di media massa semakin membuat diskusi bertambah berbobot. Dengan ilmu yang berasal dari buku dan pengalamannya secara langsung membuat peserta semakin terdorong ingin tahu mengenai dunia menulis.

 

Rudy juga menyampaikan tips-tips agar tulisan dimuat di media massa. Hal yang harus diperhatikan adalah memilih media massa yang dituju, dan tulisan yang sesuai untuk kita. Secara teknis topik, judul harus diperhatikan. Rudy juga menjelaskan bahwa tulisan juga harus memiliki fakta atau data yang tersedia, jangan hanya opini. Bagi mahasiswa sebaiknya juga mengirimkan tulisan dari kampus, atau menjelaskan diri sebagai mahasiswa suatu universitas.

 

Diskusi menjadi ramai ketika sesi tanya jawab karena banyak hal yang ingin diketahui peserta seperti Agus, mahasiswa STPMD APMD bertanya apakah ada undang-undang yang melindungi karya penulis, sementara Nuel bertanya mengenai kiat menumbuhkan kemauan untuk menulis. Selanjutnya Trustha ingin mengungkap berapa kali menulis artikel dan gagal, sampai akhirnya tulisannya berhasil dimuat. Menjawab semua itu Rudy menyatakan bahwa undang-undang perlindungan hak cipta sudah ada dan bisa dicari lebih lanjut di internet atau toko buku. Menganggap menulis suatu kesenangan atau hobby bisa membuat penulis terus semangat menulis, selain itu Rudy juga menyarankan agar seseorang yang ingin menulis masuk dalam komunitas menulis agar kemampuannya terasah dan dengan sendirinya bisa memotivasi selalu ingin menulis. Setiap usaha pasti sudah biasa mengalami kegagalan di awal, hanya bagaimana mengesampingkan rasa pesimis itulah menjadi kunci utama. Tidak terhitung berapa kali kegagalan yang Rudy alami agar tulisannya dimuat di media massa sampai akhirnya berhasil dimuat.

 


Bedah buku memberi pengetahuan baru dalam menulis, membuka wawasan dalam dunia penulisan dan menjadi bekal di masa yang akan datang. Buat mahasiswa kemampuan menulis bisa dijadikan bekal dalam penulisan skripsi. Dengan kemauan keras, siapa saja dapat menulis. Ingatlah kata-kata bijak yang berbunyi: Jika anda ingin mengenal dunia maka banyaklah membaca, jika anda ingin dikenal dunia maka menulislah. Selamat mencoba. (ITM).


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 29 Maret 2016
oleh Stube HEMAT
Jogja Asat

 

Pembangunan, Isu Lingkungan dan Sikap Kita

 

 

 

“Jogja asat” bukan hanya ungkapan dalam dunia maya tapi juga dalam dunia nyata. Mural yang menjadi simbol kreatifitas seniman jalanan juga menggambarkan fenomena ini. “Jogja Asat” menyimpan pesan keprihatinan dan peringatan bagi sebagian masyarakat yang hidup di Kota Yogyakarta dan sekitarnya akan ancaman kekurangan air.

 

 

 

 

 

 

Topik keadilan sosial dengan membahas Jogja Asat menjadi pembicaraan panas peserta Stube yang pernah mengikuti pelatihan Christianity And Social Justice 2016, yang selanjutnya membentuk kelompok follow-up bernama Enviro 16. Kelompok ini terdiri dari 6 orang mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Mereka adalah Timotius, Olive, Cindy, Lili, Martina, dan Mendo, ditambah 3 mahasiswa baru (Agus, Eman, Peter) dan 2 perwakilan dari Stube-HEMAT (Yohanes dan Stenly). Bertempat di sekretariat Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) ITY, Senin, 28 Maret 2016 mereka mulai berdiskusi mengenai pengenalan isu aktual tentang pembangunan dan dampak lingkungan di seputar Yogyakarta.

 

 

 

Diawali dengan kisah Yohanes mengenai Yogyakarta tempo dulu dengan romantika masa lalu dimana banyak orang berjalan kaki, pepohonan rindang di kanan kiri jalan, orang-orang lalu lalang bersepeda dengan gembira, sementara anak-anak mudanya menemukan cinta di Yogyakarta yang teduh. Tapi sekarang semua sudah berubah. Pembangunan menyeruak di segala bidang. Pembangunan baik fisik dan non-fisik digalakkan untuk mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Pembangunan tidak saja soal pembangunan pemikiran luhur, tetapi juga soal pembangunan gedung-gedung besar. Penghisapan air tanah banyak dilakukan oleh gedung-gedung besar, khususnya hotel dan mall menjadi pemicu keringnya sumur-sumur di sekitarnya. Masyarakat mulai merasakan kesulitan mendapatkan air. Jogja pun dianggap mulai ‘asat’.

 

 

 

Setiap pembangunan bukan hanya mendatangkan hal positif, tetapi juga hal negatif. Orang merasakan keuntungan tetapi ada juga yang merasakan keresahan. Orang resah karena kualitas lingkungan semakin menyusut dan orang berteriak agar pembangunan harus adil memperhatikan aspek lingkungan. Peserta diskusi yang merupakan mahasiswa studi lingkungan, tentu saja mengenal isu-isu lingkungan dengan lebih baik. Ternyata anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena secara akademik mereka belajar tentang pembangunan dan dampak pembangunan yang ditimbulkan dan berfokus pada isu nasional seperti tambang, perkebunan, dan industri. Artinya, isu lokal Yogyakarta tidak menjadi bahan perkuliahan sekalipun menarik dan penting.

 

 

 

Agus, seorang peserta diskusi, mengomentari pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dibangunnya pabrik-pabrik mempengaruhi kehidupan ekonomi, budaya, dan lingkungan daerah. Di bidang ekonomi, pembangunan menaikkan pendapatan dan arus uang ke daerah. Artinya, pembangunan berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi. Di bidang budaya, perkembangan industri juga mempengaruhi gaya hidup seperti konsumsi semakin tinggi sementara budaya menabung tidak lagi menjadi konsentrasi. Pada aspek lingkungan, pembangunan di daerah sebagian menguntungkan tetapi perlu juga koreksi dan pembenahan karena ada perusahaan yang memenuhi kriteria AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), tetapi ada juga yang tidak memenuhi kriteria, sehingga pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup pun terjadi. Industri dan perusahaan yang dimaksud Agus ini adalah perusahaan tambang, pariwisata, perkebunan dan sarana-prasarana umum.

 

 


Kelompok diskusi ini berharap semoga semakin banyak teman-teman yang sadar akan perubahan lingkungan dan semakin arif dalam mengelola pemanfaatannya. Kelompok ini juga berharap dapat membagikan pemahaman cinta lingkungan kepada sebanyak mungkin orang, agar semakin banyak orang sadar bahwa lingkungan itu penting untuk dijaga. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan yang berkeadilan. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 25 Maret 2016
oleh Stube HEMAT
Memangkas Ketidakadilan Sejak Dini
 
 
Mengajarkan keadilan sosial bukan hal mudah, terlebih untuk anak usia dini. Namun bagi Domi (mahasiswa Theologi STAK Marturia) dan Jeri (mahasiswa fak. Pertanian UST) hal ini bisa diatasi. Dengan berkolaborasi dua mahasiswa ini membuat semuanya mudah dan menarik karena Domi berbakat mengajar sementara Jeri hebat meramu coretan pensil menjadi gambar komik. Keduanya tidak menyia-nyiakan talenta tersebut sehingga terciptalah materi pengajaran Keadilan sosial dengan memakai tokoh Alkitab. Mengajarkan materi ini sejak usia dini akan memperkokoh karakter dasar untuk menjunjung rasa keadilan”, ujar Domi dan Jeri mantap.
 
Gambar-gambar komik itu dipakai sebagai bahan ajar untuk anak sekolah minggu kelas kecil (usia 5-8 tahun) di GKJ Ambarukmo Pepanthan Nologaten dengan tema “Berapapun harganya” (Yoh.12: 1-8). Sosok pada gambar tersebut adalah beberapa tokoh yang ada dalam Alkitab. Sosok yang menjadi bahan cerita saat itu adalah Yudas, seseorang yang memelihara ketidak adilan sejak dalam pikirannya. Yudas menyalahgunakan jabatannya sebagai bendahara komunitas pengikut Yesus. Iri hati melandanya saat Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu seharga 300 dinar atau setara dengan $ 10.000. Ia mengecam tindakan itu sebagai pemborosan dan berkedok membela anak-anak yatim. Sementara bagi Maria, tindakan itu sebagai ungkapan syukur atas mujizat yang dilakukan Yesus dengan membangkitan saudaranya yang bernama Lazarus dari kematian. Kehidupan lebih berharga dari uang seberapapun.
 
Materi yang berat jika hanya menjelaskan tokoh  tanpa disertai aktivitas sehingga Domi dan Jeri mengajak anak-anak mewarnai gambar dari tokoh-tokoh dalam cerita sesuka hati. Beberapa anak terlihat mengangguk-anggukkan kepala, sesekali terdengar suara sahut menyahut antara Domi dan mereka “siapa yang licik?” spontan anak-anak menjawab “Yudas, kak”. Lalu dilanjutkan “kalau begitu perbuatannya jangan di.....?” “tiru kaka” teriak sepuluh murid di ruangan itu.
 
Domi mengatakan, “Anak-anak itu suka diajak menggambar, mereka termotivasi menguasai materi sebab diilustrasikan dalam gambar. Saya percaya walau sederhana tapi pengalaman ini akan membekas di hati mereka, sehingga ketidakadilan dari dalam pikiran pribadi berangsur-angsur dipangkas sejak usia dini”. Jeri pun terlihat bangga dengan karyanya yang dihargai dan disukai anak-anak.  Saat ini ia sedang mengerjakan komik tokoh Alkitab berbahasa Sumba karena ia rindu membagikan pengalaman bagaimana berlaku adil dari tokoh Alkitab pada anak usia dini di kampung halamannya.
 
 

 

Teruslah berkarya kawan berdua! Anak-anak menantikan tokoh apa yang akan digambaru ntuk  minggu berikutnya. Semoga tumpukan indah memori kolektif ini menuntun “teman-teman usia dini” mengamalkan sila ke 5 Pancasila ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ di masa depan.(SRB).

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 15 Maret 2016
oleh Stube HEMAT
Bertani di Lahan Sempit

Perkembangan ilmu pengetahuan semakin hari semakin berkembang. Dari zaman ke zaman selalu terjadi perubahan yang sangat jelas terlihat, salah satunya dalam bidang pertanian. Bagi masyarakat pedesaan, bertani identik dengan lahan yang luas dan tanah kosong. Tetapi bagaimana dengan masyarakat perkotaan? Hal inilah yang menjadi perhatian Pascah Hariyanto dalam melakukan bedah buku pada hari Jumat (11/03/16) pukul 17.00 – 19.00 WIB di Limasan dengan judul buku ‘Panen Sayur Secara Rutin di Lahan yang Sempit’.

 
Diskusi bedah buku dibuka oleh Yohanes sebagai pemandu acara dan dilanjutkan oleh Sarloce sebagai moderator. Acara dimulai dengan bermain games, menulis tujuh jenis sayur yang mudah ditanam pada lahan pekarangan yang sempit. Beberapa peserta mampu menuliskan sampai tujuh jenis sayur tetapi yang lain tidak.
 
Diskusi berjalan hangat sebab beberapa peserta sudah beberapa kali mengikuti kegiatan Stube. Sembilan peserta dan lima tim Stube mampu membuat seru jalannya diskusi. Pascah memulai dengan menjelaskan alur dari profil penulis, penerbit, jumlah halaman, alasan pemilihan buku dan lainnya.
 
Diskusi semakin hangat ketika masuk dalam sesi tanya jawab. Jerry menanyakan apa perbedaan menanam di lahan pasir dan tanah biasa, sementara Nuel ingin mengetahui bagaimana mengukur kadar keasaman tanah atau pH tanah secara sederhana, dan Tasya menanyakan jenis sayur yang memiliki nilai gizi tinggi. Penjelasan pertanyaan-pertanyaan tersebut berturut-turut adalah sebagai berikut: sebelum ditanami, lahan pasir sudah diolah terlebih dahulu dengan memberikan kotoran sapi, kompos dan unsur-unsur penyubur tanah pada lapisan atas, dibiarkan terakumulasi dengan pasir sehingga dapat memenuhi unsur hara tanah dan siap ditanami; cara tradisional mengetahui kadar keasaman adalah dengan mengamati apakah ada cacing di dalam tanah, apabila ada maka kadar keasaman tanah tersebut sudah pas; sayur memiliki kandungan gizi masing-masing yang bervariasi dan semuanya dibutuhkan tubuh manusia.
 
Bedah buku ini memberi banyak pemahaman dan cara pandang baru melihat dunia pertanian. Salah satu cara lain menanam di lahan sempit adalah dengan hidroponik, tetapi yang paling sederhana adalah menanam di pot-pot kecil dengan mendaur ulang sampah botol plastik untuk dapat dijadikan tempat menanam. Selamat mencoba berkebun di lahan sempitmu. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 10 Maret 2016
oleh Stube HEMAT
Pemuda Kristen Pejuang Keadilankah?
 
Sebuah Tantangan dan Panggilan
 
Berbicara tentang keadilan tidak akan pernah ada habisnya, terus menjadi isu hangat yang diperdebatkan oleh banyak golongan. Hal yang ingin dirasakan semua orang adalah adil dalam kewajiban dan hak. Bagi pemerintah, yang menjadi tolok ukur keberhasilan suatu program adalah apakah semua orang sudah mendapatkan hak yang sama dalam program tersebut. Tapi realita yang terjadi, keadilan sangat sulit dirasakan maupun diterapkan.
 
 
Senin, 07 Maret 2016 beberapa mahasiswa dari beberapa kampus di Yogyakarta, yaitu STPMD ‘APMD, UMBY, STAK Marturia, LPP, UST mengadakan diskusi bersama teman-teman dari Unit Kegiataan Mahasiswa Nasrani (UKMN) TALENTA Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Diskusi tersebut bertepatan dengan kegiataan ibadah rutin dengan pembicara Chobas dari STPMD ‘APMD yang mengangkat topik “Keadilan dipandang dari aspek Politik, Sosial, dan Agama: Pemuda Kristen Bisa Apa?”
 
Chobas menyampaikan teori keadilan menurut Aristoteles yang mencakup keadilan komutatif, keadilan distributif, keadilan kodrat alam, keadilan konvensional, dan keadilan perbaikan. Sementara keadilan dengan pendekatan politik dan sosial disampaikan dengan banyak contoh sehingga pendengar mudah memahaminya. Yohanes 5: 30-31 yang berbunyi “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar” menjadi penutup pembahasan keadilan dengan pendekatan agama.
 
Veni, mahasiswi fakultas Agroteknologi Mercu Buana bertanya, “Apa yang harus dilakukan seseorang yang berpolitik pun tidak tahu, apalagi harus memerangi ketidakadilan?” Chobas menanggapi pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa berpolitik itu universal, semua orang mempunyai hak untuk berpolitik, tapi di dalam politik mempunyai tingkatan-tingkatan, contoh figur Ahok dan Ahmad Dhani, dimana kemampuan orang dalam berpolitik harus diasah baru bisa terjun dalam dunia politik.
 
Muda tidak selamanya belum siap, karena usaha, kerja keras, dan keinginan menjadi hal utama yang harus dimiliki anak muda khususnya pemuda Kristen yang mendasarkan iman kepada Tuhan Yesus harus menjadi pejuang untuk memerangi ketidakadilan yang berada di lingkungan sekitar. (ITM)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 3 Maret 2016
oleh Stube HEMAT
Pemuda Kristen Pejuang Keadilankah?
 
Sebuah Tantangan dan Panggilan
 
Berbicara tentang keadilan tidak akan pernah ada habisnya, terus menjadi isu hangat yang diperdebatkan oleh banyak golongan. Hal yang ingin dirasakan semua orang adalah adil dalam kewajiban dan hak. Bagi pemerintah, yang menjadi tolok ukur keberhasilan suatu program adalah apakah semua orang sudah mendapatkan hak yang sama dalam program tersebut. Tapi realita yang terjadi, keadilan sangat sulit dirasakan maupun diterapkan.
 
 
Senin, 07 Maret 2016 beberapa mahasiswa dari beberapa kampus di Yogyakarta, yaitu STPMD ‘APMD, UMBY, STAK Marturia, LPP, UST mengadakan diskusi bersama teman-teman dari Unit Kegiataan Mahasiswa Nasrani (UKMN) TALENTA Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Diskusi tersebut bertepatan dengan kegiataan ibadah rutin dengan pembicara Chobas dari STPMD ‘APMD yang mengangkat topik “Keadilan dipandang dari aspek Politik, Sosial, dan Agama: Pemuda Kristen Bisa Apa?”
 
Chobas menyampaikan teori keadilan menurut Aristoteles yang mencakup keadilan komutatif, keadilan distributif, keadilan kodrat alam, keadilan konvensional, dan keadilan perbaikan. Sementara keadilan dengan pendekatan politik dan sosial disampaikan dengan banyak contoh sehingga pendengar mudah memahaminya. Yohanes 5: 30-31 yang berbunyi “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar” menjadi penutup pembahasan keadilan dengan pendekatan agama.
 
Veni, mahasiswi fakultas Agroteknologi Mercu Buana bertanya, “Apa yang harus dilakukan seseorang yang berpolitik pun tidak tahu, apalagi harus memerangi ketidakadilan?” Chobas menanggapi pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa berpolitik itu universal, semua orang mempunyai hak untuk berpolitik, tapi di dalam politik mempunyai tingkatan-tingkatan, contoh figur Ahok dan Ahmad Dhani, dimana kemampuan orang dalam berpolitik harus diasah baru bisa terjun dalam dunia politik.
 
Muda tidak selamanya belum siap, karena usaha, kerja keras, dan keinginan menjadi hal utama yang harus dimiliki anak muda khususnya pemuda Kristen yang mendasarkan iman kepada Tuhan Yesus harus menjadi pejuang untuk memerangi ketidakadilan yang berada di lingkungan sekitar. (ITM)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 1 Maret 2016
oleh Stube HEMAT
EXPLORING SUMBA
 
 
DESKRIPSI
Sebuah program Stube-HEMAT Yogyakarta yang mengirim mahasiswa aktivis Stube-HEMAT ke Sumba. Mahasiswa yang dikirim ke Sumba akan berbagi pengetahuan dan keterampilan mereka kepada mahasiswa dan kaum muda Sumba
 
AKTIVITAS YANG DILAKUKAN
Berinteraksi dengan mahasiswa (diskusi topik-topik aktual)
Membantu belajar membangun dan mengelola jejaring
Berbagi pengetahuan dan keterampilan yang bisa diterapkan di Sumba
 
PERSYARATAN PESERTA
Aktif sebagai peserta program Stube-HEMAT Yogyakarta
Berasal dari daerah selain dari Sumba
Mengajukan proposal dan presentasi
Mengikuti pembekalan peserta Exploring Sumba
Pernyataan kesanggupan peserta dan tidak mengganggu kuliah
 
LAIN-LAIN
Dibuka kesempatan untuk 6 orang di tahun 2016
Berada di Sumba sekitar 30 hari
 
Informasi lebih lanjut hubungi
Trustha Rembaka, S.Th (081392772211)
atau datang ke Sekretariat
Stube-HEMAT Yogyakarta
Jln. Tamansiswa, Nyutran MG II/1565 C,
Yogyakarta

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 25 Februari 2016
oleh Stube HEMAT
Ketidakadilan: Anak Muda Bisa Apa?
Pelatihan Kekristenan dan Keadilan Sosial
Wisma Retreat Bukit Hermon, Karanganyar, Jawa Tengah
 

Ketidakadilan dan anak muda? Dua hal yang menarik, bahkan judul ini akan menantang setiap anak muda yang membacanya untuk berbuat sesuatu atas situasi tidak adil yang banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang masih muda, belum berpengalaman dan jaringan? Tiga hari pelatihan Stube-HEMAT membantu mengungkap, mengurai, menginspirasi peserta menemukan ‘spirit’ untuk melakukan sesuatu dalam situasi semacam itu.
 
 
Dimulai dengan ibadah pembukaan oleh Fred Keith Hutubessy S.Si.(theol), mahasiswa pascasarjana studi perdamaian UGM, yang menggambarkan bahwa belum semua rakyat Indonesia menikmati pembangunan, terlebih mereka yang tinggal di wilayah Indonesia bagian timur meskipun negara ini merupakan negara yang sangat kaya dengan berbagai macam hasil bumi. Apa yang sebenarnya terjadi? Sudahkah anak muda memahami ketimpangan ini?
 
Modul sepuluh tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan pada jamannya seperti Yusuf, Sifra dan Pua, Musa, Yosua, Elia, Elisa, Amos, Yeremia, Wasti dan Koresh menjadi kisah inspiratif bagi peserta dan menjadi pembicaraan menarik dalam Focus Group Discussion (FGD) mereka. Kisah tokoh-tokoh pemberani ini diikuti kisah konsekuensi, resiko dan dampak dari perjuangan mereka. Peserta digugah untuk mengingat kembali spirit kekristenan berdasar Alkitab yang akan terus memberi semangat para peserta dalam memperjuangkan keadilan.
 
  
 
Pelatihan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Yogyakarta, seperti APMD, ITY, UAJY, UST, LPP, STAK Marturia dan UMBY. Tercatat 39 peserta dengan komposisi 13 peserta perempuan dan 26 peserta laki-laki. Rata-rata mereka berasal dari luar pulau Jawa di antaranya Sumatera, Kalimantan, Sumba, Alor, Flores, Papua dan Maluku Tenggara. Semua peserta sangat antusias mengikuti semua rangkaian acara yang dimulai Jumat (19/02/16) sampai Minggu (21/02/16).
 
 
Dua orang fasilitator yang terus berkarya dan bergumul melawan ketidakadilan dihadirkan dalam pelatihan ini untuk melengkapi wawasan dan pengetahuan jaringan peserta. Mereka adalah Pdt. Paulus Hartono, M. Min (MCC – GKMI) yang membawakan materi tentang pengalaman praksis GKMI memerangi ketidakadilan melalui jalur kultural dan Direktur YAPHI Surakarta, Haryati Panca Putri, S.H. dengan pengalaman LPH YAPHI memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum.
 
Berangkat dari tujuan pelatihan ini, menurut koordinator lapangan, Yohanes Dian Alpasa, “Peserta mampu menceritakan kembali apa yang telah mereka dapatkan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika kelompok yang berlangsung dan puncaknya saat sesi presentasi kelompok. Hal ini berarti semua peserta yang mengikuti pelatihan ini telah memenuhi indikator pencapaian dalam pelatihan Christianity dan Social Justice”.
 
Harapan terbesar adalah ketika mereka paham, mereka mampu berbagi pengetahuan kepada teman-teman mereka yang lain. Pada sesi Follow Up diperoleh lima kelompok follow up dan rata-rata mereka ingin mengadakan diskusi kelompok baik di kampus, di PMK, di komunitas sebagai multiplikasi pengetahuan. Peserta juga dihimbau untuk berbaur cair dengan masyarakat sekitar dimana mereka tinggal untuk menghindari ketidakadilan terjadi atas mereka. (SAP).
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 15 Februari 2016
oleh Stube HEMAT
Kesetiaan pada Komitmen

 

Stube-HEMAT Yogyakarta bersama UKMK Hosana Alabare

 

 

 

 

 

 

Duapuluhan mahasiswa bergegas memasuki kampus 2 Universitas Janabadra Yogyakarta. Ada apakah? Ternyata Jumat, 12 Februari 2016 Unit Kegiatan Mahasiswa Kristiani (UKMK) Hosana Alabare mengadakan persekutuan rutin mahasiswa di kampus 2 UJB di Timoho, Yogyakarta.

 

 

 

 

Lenna, seorang mahasiswa asal Kalimantan Barat, mengajak peserta bernyanyi ‘Tetap Setia’ dan dilanjutkan dengan perkenalan. Mahasiswa Universitas Janabadra sangat beragam karena berasal dari berbagai daerah seperti Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.

 

 

 

Renungan PA kali ini disampaikan oleh Trustha Rembaka, S.Th dengan tema “Setia pada Komitmen”, diambil dari Yeremia 35:1-19 yang menceritakan kehidupan kaum orang Rekhab yang hidup menumpang di tanah Israel. Mereka memegang kesetiaan pada pesan leluhurnya untuk hidup dalam kemah, memelihara ternak, tidak minum anggur, tidak bertani dan tidak membangun rumah. Mereka berkomitmen setia pada pesan tersebut. Kesetiaan inilah yang diperhitungkan Tuhan dan mereka takkan terputus melayani Tuhan sepanjang masa. Sikap berbeda ditunjukkan oleh orang Israel pada masa itu yang mengabaikan perintah Tuhan untuk hidup taat dan berharap pada Tuhan, berlaku adil dan tidak menindas rakyat.

 

 

 

 

 

 

Berkaitan dengan kesetiaan dan komitmen mahasiswa, berhubungan langsung dengan keberadaan mereka saat ini di Yogyakarta untuk kuliah. Mereka diajak kembali mengingat momen saat berangkat dari daerah asalnya menuju Yogyakarta untuk kuliah. Apa yang menjadi komitmen saat akan berangkat ke Yogyakarta? Masihkah komitmen itu tetap kuat dalam hati dan pikiran sampai saat ini?

 

 

 

Mahasiswa, ketika sampai di Yogyakarta dibanjiri berbagai tawaran menggoda, seperti tempat hiburan, bersantai, jalan-jalan dan berbagai aktivitas lainnya. Apakah mahasiswa tetap semangat belajar dan berhasil dengan baik atau yang penting lulus dan tidak peduli dengan kualitas dirinya atau bahkan gagal menyelesaikan studi. Seperti terjadi di Yogyakarta beberapa mahasiswa harus mati sia-sia karena minuman oplosan. Pilihan memang banyak, tetapi decision maker-nya adalah mahasiswa itu sendiri. Renungkan kesetiaan kaum orang Rekhab pada komitmen dan Tuhan senantiasa memberkati mahasiswa yang tetap setia pada komitmen belajar dan mengembangkan diri.

 

 

 

“Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai wadah pendampingan dan pengembangan diri yang berorientasi pada mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, bisa menjadi pilihan tempat beraktifitas. Beberapa mahasiswa Universitas Janabadra pun menjadi aktivis di Stube-HEMAT Yogyakarta dan mendapat kesempatan mengembangkan dirinya dan mengenal daerah lain, seperti Sofia meneliti garam gunung di Krayan, Kalimantan Utara dan Herga dari Maluku diutus ke Sumba untuk sosialisasi pentingnya memiliki surat identitas pribadi,” ungkap Trustha.

 

 

 

“Di Stube-HEMAT Yogyakarta ada berbagai kegiatan, silahkan kenali diri dan minat Anda. Kemudian kembangkanlah diri Anda melalui pelatihan-pelatihan tersebut. Salah satu ukuran kualitas seseorang dinilai melalui kesetiaannya terhadap tekad atau komitmen untuk belajar dan mengembangkan dirinya secara utuh,” pungkasnya mengakhiri persekutuan dan sosialisasi Stube-HEMAT Yogyakarta. (TRU)

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 13 Februari 2016
oleh Stube HEMAT
Petani, Budaya dan Tuak

 

Menyambut RUU Larangan Minuman Beralkohol

 

Diskusi Publik Minuman Alkohol dari Hulu ke Hilir

 

 

 

Awal Februari ini Yogyakarta digemparkan dengan banyaknya berita kematian yang disebabkan oleh minuman beralkohol yang dioplos dengan berbagai larutan. Informasi terakhir terdapat 26 orang meninggal dunia, dua diantaranya mahasiswi asal Ternate yang meninggal di kamar kostnya karena minum oplosan ini. Hal ini menggugah teman-teman Freedom Society untuk dapat mengambil bagian melakukan kegiatan Diskusi Publik Minuman Alkohol dari Hulu ke Hilir dengan judul “Mengkaji Rancangan Undang-undang Larangan Minuman Beralkohol dari Perspektif Sosial, Ekonomi dan Budaya”, yang diselenggarakan pada Kamis, 11 Februari 2016 bertempat di auditorium Fakultas Filsafat, UGM.

 

 

 

Mengacu dari banyaknya masalah yang ditimbulkan dari bahaya miras ini DPR RI telah membuat Rancangan Undang-undang (RUU) yang bersisi Larangan Minuman Beralkohol. Sayangnya draft RUU tidak bisa dibahas dalam diskusi ini karena memang para fasilitator yang diundang bukan dari DPR RI. Peserta yang hadir cukup banyak berkisar 120 orang dari berbagai kampus. Beberapa narasumber yang hadir, baik dari kalangan akademisi maupun aktivis adalah:

 

 

 

  • Reymond Michael M,  Peneliti Antropologi Universitas Indonesia
  • Adi Christianto, Forum Petani dan Produsen minuman berfermentasi
  • Agus Wahyudi, Institute Keadilan
  • Priyambodo, UPKM / CD Bethesda

 

 

 

 

Masing-masing narasumber memaparkan materi yang beraneka ragam. Salah satunya Reymond Michel M, membuka diskusi dengan tiga pertanyaan: Siapa? Minum apa? Dimana? Dari tiga pertanyaan ini dapat dilihat bahwa minum “Cap Tikus” di daerah Indonesia bagian timur merupakan budaya yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Di Manado para produsen minuman tradisional beralkohol “Cap Tikus” ini menjual produknya bukan hanya untuk diminum, tetapi mereka menjual ke pabrik pembuatan obat-obatan, rumah sakit bahkan ke luar negeri. Sebagian masyarakat di Manado dan Tuban dampingannya “Cap Tikus”, tuak atau arak merupakan minuman penambah tenaga dan pelepas lelah yang diminum sebelum berangkat kerja atau ke ladang dan pada malam hari sebelum istirahat agar ketika bangun badan terasa segar esok harinya. Dari sini lahir semboyan satu sloki tambah darah, dua sloki naik darah dan tiga sloki tumpah darah.

 

 

 

 

 

 

Agus Wahyudi menyampaikan bahwa jika peredaran minuman ini dilarang maka disinyalir akan banyak bermunculan pasar gelap di Indonesia dan ini akan jauh lebih berbahaya sebab bahan yang digunakan pasti tidak jelas dan menambah resiko bagi konsumen. Sementara Priyambodo menambahkan bahwa bahan yang digunakan dalam pembuatan minuman beralkohol tradisional rata-rata adalah bahan-bahan dari alam, seperti mengkudu, pohon enau dan pohon aren. Produsen sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa minum arak atau tuak menyebabkan kematian karena yang meninggal selalu yang minum oplosan. Sangat disayangkan bahwa dampak dari kejadian ini, petani-petani minuman tradisional terkena imbasnya, padahal ini merupakan mata pencaharian mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

 

 

 

Semua narasumber mengusai materinya, tetapi sangat disayangkan tidak ada narasumber yang berkompeten membahas RUU larangan minuman alkohol, sehingga keresahan masyarakat yang dirugikan karena masalah ini dapat tersampaikan. Sebagai kesimpulan dari diskusi ini adalah pemerintah harus benar-benar mengkaji dampak panjang yang akan ditimbulkan dari RUU ini dan bagaimana solusi yang diberikan untuk jutaan masyarakat yang berpenghasilan dari minuman beralkohol tradisional. Semoga menambah khasanah pengetahuan kita semua. (SAP)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 10 Februari 2016
oleh Stube HEMAT
Mati Baik-Baik Kawan

 

Sebuah Diskusi Buku di Togamas

 

 

 

 

 

 

Mati baik-baik kawan adalah tema besar yang diusung oleh Social Movement Institute (SMI), Stube-HEMAT Yogyakarta, Tribun Jogja dan Togamas dalam diskusi rutin bulanan pada 6 Februari 2016 lalu di toko buku Togamas, Yogyakarta. Diskusi ini menghadirkan narasumber Martin Aleida, Katrin Bandel dan Romo Baskara T. Wardaya, SJ dan Vicky Tri Samekto sebagai moderator untuk mengkaji kumpulan cerpen: Mati Baik- Baik Kawan, karya Martin Aleida.

 

 

 

Sebagai penulis, Martin Aleida menuturkan bahwa kumpulan cerpen tersebut merupakan potret pengalaman dari sudut pandang sebagai saksi dan korban politik tragedi 1965. Berangkat dari judulnya, Katrin Bandel sebagai kritikus sastra memberikan tanggapan bahwa menurutnya mati baik-baik itu adalah keadaan manusia yang sudah benar benar siap dalam menghadapi kematiannya. Pasca tragedi 1965 banyak orang mati dalam kondisi yang mengenaskan, tanpa ada pangruktilaya (mengurus jenazah), pemakaman yang jelas, lantunan doa, pelayat maupun karangan bunga. Hal tersebut dinamakan sebagai kematian sosial pada zaman itu, oleh karena banyak kematian yang didasari motif dendam pribadi yang tidak terselesaikan. Situasi inilah yang ditangkap dan disajikan oleh Martin Aleida dalam kumpulan cerpennya tersebut.

 

 

Karya ini adalah kumpulan kisah yang sangat jujur dan menggugah empati kemanusiaan. Namun anehnya setelah masa Orba berakir justru tema besar seperti seksualitas dan masyarakat urban yang menjadi trend, dan karya seperti Martin Aleida justru jauh dari sorotan. Katrin Bandel menuturkan bahwa ini merupakan kondisi yang memprihatinkan, sehingga penting bagi kita saat ini untuk terus mendorong dan mengapresiasi karya seperti ini.

 

 

 

Romo Baskara, SJ, menanggapi bahwa kisah yang disajikan dalam buku ini diangkat dari kisah nyata, dari mereka yang mengalami dan  menjadi korban politik tragedi 1965. Buku ini tidak hanya sastrawi melainkan juga sangat manusiawi, menyentuh, menggugah dan mempertanyakan eksistensi manusia. Romo Baskara juga menjelaskan konteks sejarah yang menjadi sudut pandang karya Martin Aleida, bahwa periode tahun 1950an merupakan tonggak yang sangat mempengaruhi situasi politik Indonesia. Namun periode tahun ini jarang mendapat sorotan sejarah meskipun tahun 1950 adalah sejarah Indonesia menjadi NKRI dari negara federal, tahun dimana pertama kali Indonesia mengadakan pemilihan umum secara demokratis, Indonesia menjadi penyelenggara Konferensi Asia-Afrika dan melahirkan UUPA (Undang Undang Pokok Agraria) di akhir tahun 1950an. Namun dalam priode kepemimpinan Presiden Soekarno yang kerakyatan dan anti modal asing ini, ada usaha politik lain untuk mengganjalnya. Perang dingin antara Barat dan Timur sedang bergolak. Blok Timur diprakarsai Soviet memakai seni sebagai alat propaganda untuk mensosialisakikan gagasan pemerintah kepada rakyat untuk berpartisipasi.

 

 

 

Metode propaganda seni tersebut terbukti sangat berhasil di Eropa Timur, Afrika dan beberapa negara Asia. Kemudian blok Barat yang diprakarsai oleh USA juga mensosialisasikan gerakan seni berhaluan abstrak untuk mengimbangi gerakan seni Soviet dan membuat rakyat berpikir elitis, kapitalistis, anti sosialis dan terlepas dari realitas sosial yang terjadi. Seni harus berbicara tentang seni dan harus terlepas dari masalah sosial maupun politik, apalagi untuk mendukung gerakan politik. Cara tersebut bukan hanya sebuah upaya bagaimana cara untuk menyingkirkan orang, tetapi juga cara menyingkirkan pemikiran kritis. Pertentangan dua kutub seni tersebut juga mempengaruhi perkembangan seni dan sastra di Indonesia, antara LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan MANIKEBU (Manifestasi Kebudayaan).

 

 

Sebuah perenungan bersama bagi kita untuk mempertanyakan manfaat sebuah karya dalam konteks kemanusiaan. Semuanya terserah anda. (PIAF).


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 5 Februari 2016
oleh Stube HEMAT
CHRISTIANITY AND SOCIAL JUSTICE
 
Latar Belakang
Apakah adil jika beberapa orang terlahir sangat kaya dan memiliki banyak keleluasaan sedangkan yang lain harus hidup bahkan mati dalam kemiskinan atau di bawah tekanan yang membuat menderita? Tidak, hidup tidak adil. Ketidakadilan memang ada di dalam kondisi manusia, tetapi hidup bisa dan harus adil. Ketika manusia cenderung bertindak lalai, maka ketidakadilan dan penderitaan terjadi.
Sayangnya, ketidakadilan ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Hal ini memunculkan pertanyaan: Apa yang seharusnya dilakukan orang-orang Kristen? Dalam masalah sosial, orang Kristen harus benar-benar tahu apa yang ada di hati Tuhan. Allah sangat peduli untuk kesejahteraan orang-orang yang sangat membutuhkan, misalnya janda, anak yatim piatu, orang asing dan orang-orang tertindas atau tidak beruntung dalam masyarakat. Masalah ini menuntut orang Kristen bertindak sebagaimana Tuhan memberi teladan untuk bertindak.
 
 
Tujuan:
1) Peserta sebagai orang Kristen modern dikenal sebagai pemimpin atau memimpin dunia memerangi ketidakadilan sosial. 
 
2) Peserta mampu mendefiniskan “keadilan sosial” dengan jelas dan menemukan prinsip-prinsip Alkitab yang berkaitan dengan keadilan sosial.
 
3) Peserta mampu mengembangkan posisi yang kuat dalam aksi sosial dengan pihak pemerintah khususnya yang menyangkut permasalahan sosial saat ini.
 

 

Peserta: 30 orang
 
Waktu dan Tempat pelaksanaan
Jumat - Minggu, 19 - 21 Februari 2016
Di Rumah Retreat Bukit Hermon
 
Karangpandang, Karanganyar
 
Kontribusi Rp 25.000,00
(Materi, akomodasi dan subsidi transportasi)
 
Segera hubungi team Stube-HEMAT Yogyakarta
atau datang ke Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta
Jln. Tamansiswa, Nyutran MG II/1565C
Yogyakarta 55151
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 1 Februari 2016
oleh Stube HEMAT

 
 
 
 
Kehidupan sebagai mahasiswa diwarnai dengan aktivitas intelektual, dimana aspek kognitif, afektif dan psikomotor seorang mahasiswa berpadu dan berkembang menjadi pribadi yang utuh.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai program pengembangan diri yang berorientasi pada mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia yang sedang menempuh studi di Yogyakarta memfasilitasi mahasiswa dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah Bedah Buku.
 
Bedah Buku adalah aktivitas mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta untuk menelaah buku, mengasah daya analitis dan melatih keterampilan dalam menyampaikan pendapat.
 
Diadakan Setiap bulan, hari Jumat pertama/kedua.

  
Berminat??
Hubungi team Stube-HEMAT Yogyakarta
atau datang ke sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta
Jln. Tamansiswa, Nyutran MG II/1565 C
Yogyakarta 55151
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 31 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Membuka Interaksi
Berbagi Inspirasi
Sosialisasi Stube-HEMAT Yogyakarta
di keluarga Hipmasty
Omah Limasan, 29 Januari 2016
 
 
Manusia dikenal sebagai homo homini socius, makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Tak beda dengan manusia, sebagai sebuah lembaga di dalamnya ada organisme atau manusia, yang membutuhkan interaksi dengan lembaga lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta, membangun relasi dengan berbagai lembaga, komunitas mahasiswa maupun perkumpulan lainnya.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa yang sedang studi di Yogyakarta mengadakan sosialisasi kepada komunitas atau perkumpulan mahasiswa, salah satu di antaranya adalah Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Sumba Timur di Yogyakarta (Hipmasty) yang diadakan pada hari Jumat, 29 Januari 2016 di sekret Stube-HEMAT Yogyakarta. Dihadiri dua belas peserta, dengan komposisi tujuh mahasiswa peserta baru dan lima mahasiswa aktifis Stube-HEMAT Yogyakarta, pertemuan ini dimulai pukul 17.45 WIB. Trustha Rembaka, S.Th selaku penanggung jawab sosialisasi sekaligus sebagai koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta mengawali dengan games ‘Komuni-Kata’. Aturan permainan ini adalah satu peserta menyebutkan satu kata dan peserta di sampingnya menyebutkan sebuah kata yang diawali dari huruf terakhir kata yang diucapkan sebelumnya. Permainan ini menuntut konsentrasi, respon cepat dan kekayaan kosakata peserta. Selama permainan berlangsung suasana sangat ceria dan semua bermain dengan gembira.
 
 

 

 

Sesi berikutnya adalah penjelasan tentang kegiatan Stube-HEMAT. Trustha menjelaskan dengan memutar sebuah video tentang Stube-HEMAT dan kegiatannya. Selanjutnya, ia menjelaskan kelembagaan Stube-HEMAT dan kegiatan yang sudah dilakukan selama tahun 2015, seperti pelatihan, eksposur lokal, exploring Sumba. Pada tahun 2016 ini dibuka kesempatan bagi tiga orang untuk menjadi peserta eksposur lokal dan enam orang untuk exploring Sumba.
 
 
Stube-HEMAT yang hadir sebagai wadah kegiatan alternatif bagi mahasiswa memberi kesempatan kepada mahasiswa mempelajari topik-topik tertentu yang diminati oleh mahasiswa dan belum tentu dipelajari di dunia kampus. Mahasiswa didorong untuk mengenali dirinya dan mengenali potensinya dan cerdas memilih kegiatan yang menunjang potensinya.

 

Rudi, salah satu peserta yang kuliah di Fisipol Universitas Atmajaya Yogyakarta mengatakan, “Saya sebagai perwakilan organisasi sangat berterimakasih karena sudah diundang dalam acara ini dan terkesan karena keramahannya. Pertama-tama, saya sangat mengapresiasi undangan ini karena saya baru pertama kali mengikuti acara seperti ini. Kegiatan di lembaga lain ada pemisahan antara kegiatan spiritual dan sosial. Sedangkan di Stube-HEMAT mengkombinasikan keduanya.
 
Putri, yang kuliah di Pendidikan Matematika UST menambahkan, “Pada awal saya mengikuti kegiatan Stube diajak oleh Frans dan saya banyak bertanya tentang Stube dan kegiatannya. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk ikut pelatihan, saat itu pelatihan Pendidikan Global. Saya sangat senang sebab dalam pelatihan kita dipertemukan dengan berbagai narasumber dan saya bisa mengembangkan diri dan berbagi ilmu kepada teman-teman lain. Hal ini membuat saya semakin penasaran untuk mengikuti kegiatan Stube lainnya. Karena di Stube-HEMAT saya dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang tidak bisa ditemui di luar.”
 
“Jadi, selama teman-teman mahasiswa berada di Yogyakarta dan Stube-HEMAT ada di situ, kelola waktu sebaik-baiknya sehingga bisa mengikuti kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta. Ketika kita berinteraksi dengan berbagai orang dari berbagai kalangan kita akan menemukan inspirasi dan pengalaman yang baru.“ ungkap Sarloce Apang, salah satu tim Stube HEMAT menutup pertemuan ini. (SAP)

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 23 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Roti Untuk Semua

 

Sosialisasi Stube-HEMAT di PMK LPP

 

Jumat, 22 Januari 2016

 

 

 

 

 

 

Serunya mengikuti acara ibadah PMK Lembaga Pendidikan Perkebunan yang diawali dengan ‘games’ yang menguji kekompakan kelompok dan mawas diri. Yang menjadi ukuran untuk menang adalah kelompok yang berhasil mengumpulkan karet gelang terbanyak dalam waktu sepuluh detik sementara yang kalah akan mendapat hukuman. Hukumannya adalah satu orang anggota kelompok bertindak sebagai cermin dan satu anggota lagi sebagai orang yang akan berdandan. Yang berdandan melakukan gayanya saat berdandan dan yang menjadi cermin harus mengikuti gerak-geriknya.

 

 

 

 

Peserta yang awalnya 25 orang dengan dominasi jumlah laki-laki, 21 orang, pada akhirnya genap 36 orang selama proses. Mereka mengikuti dengan serius ibadah yang dipimpin oleh Bapak Jonatan, seorang mahasiswa S2 teologi UKDW yang diundang sore itu oleh pengurus PMK LPP.

 

 

 

Firman Tuhan sore itu tentang “Hidup Baru di Dalam TUHAN” yang diambil dari 2 Korintus 4:1-6; 2 Korintus 4:13-15; dan 2 Korintus 5:1, yang menjelaskan bahwa hidup baru adalah saat kita memiliki iman yang teguh kepada Yesus. Iman teguh akan sangat menentukan kehidupan kita dimasa depan, karena iman percaya membuat kita berani dan ketidakpercayaan membuat kita takut.

 

 

 

Dimulai pukul 18:40 WIB, ibadah berakhir sekitar pukul 20:30 WIB. Memasuki acara umum tim Stube HEMAT, Indah dipersilahkan memaparkan apa dan bagaimana Stube HEMAT sebagai lembaga yang melayani mahasiswa mengenal isu-isu sosial serta memfasilitasi mereka dengan kegiatan eksposur untuk mengenal lebih baik masalah di lapangan. Untuk mereka yang datang dari daerah luar Jawa, ada kesempatan pulang kampung untuk melakukan orientasi kerja, memetakan potensi atau pun masalah daerah. Kesempatan ini bisa diambil saat liburan semester. Bagi yang ingin mengenal Pulau Sumba, disediakan program kunjungan dan berbagi ilmu dengan teman-teman di pulau tersebut.

 

 

 

 

 

 

Program ini baru bagi para mahasiswa yang hadir dan saat terjalin percakapan dengan mereka, ada rasa tertarik mengikuti program ini. Kendala yang saat ini dirasakan adalah beban kuliah paket yang harus mereka jalani karena apabila gagal salah satu mata kuliah saja, maka mereka harus mengulang seluruh mata kuliah dalam paket tersebut. Bagi yang sudah tidak memiliki beban teori bisa lebih leluasa mengikuti kegiatan semacam ini. Bagi yang berminat bisa menghubungi lembaga Stube HEMAT dengan alamat facebook: Humas Stube atau membaca kegiatan ini di blog: stubehemat.blogspot.com atau kirim pesan lewat email stubehemat@yahoo.com. Semoga program ini boleh menjadi berkat seperti roti untuk semua yang membutuhkan, butuh untuk dibentuk, butuh mengenal jaringan dan pengalaman dan dunia di luar kampus.

 

 

 

 


Ibadah berlanjut dan ditutup dengan doa berkat. (SAP)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 13 Januari 2016
oleh Stube HEMAT

Refleksi Kemajemukan

dan Intoleransi di DIY
11 Januari 2016 di Aula Kementerian Agama DIY
 
 
Wahid Institut mencatat DIY sebagai daerah peringkat kedua intoleransi sepanjang tahun 2014 – 2015. Kekerasan yang mengatasnamakan agama terjadi di beberapa tempat. Tentu saja kejadian kekerasan ini kemudian dikait-kaitkan dengan nama yang disandang DIY sebagai ‘City Of Tolerance’. Namun, pemerhati kerukunan tidak tinggal diam. Mereka merespon dan melakukan beberapa hal untuk mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dan keharmonisan di Yogyakarta.
 
Senin, 11 Januari 2016 Lembaga Dian Interfidei menyelenggarakan refleksi bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Kementrian Agama DIY. Refleksi diselenggarakan di Aula lantai 3 Gedung Kementerian Agama DIY.
 
 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta bersama dengan kelompok pemuda mahasiswa, kelompok masyarakat, dan organisasi lain di lingkungan DIY berkumpul dan mendengarkan ceramah yang disajikan oleh tiga narasumber. Narasumber pertama adalah Tommy Apriando (Koordinator Divisi Advokasi AJI Yogyakarta). Narasumber kedua adalah Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D (Pakar Hukum Islam dan Terorisme). Narasumber ketiga adalah Agung Supriyono, SH. Kepala Kesbangpol DIY.
 
Tommy Apriando mengungkapkan media menaruh perhatian besar pada kehidupan dan keharmonisan masyarakat. Setiap gangguan dan kekerasan menjadi bahan liputan utama. Tommy mengakui bahwa redaktur suatu media selalu berhati-hati dalam pemberitaan. Informasi yang disampaikan tidak boleh menimbulkan kebencian atau persepsi keliru dalam masyarakat. Karena kehati-hatian inilah sering hasil liputan lapangan tidak selalu ditayangkan. Tentu saja karena pertimbangan tertentu. Penjelasan tersebut diungkapkan untuk menanggapi pertanyaan peserta tentang upaya media memberitakan kekerasan agama.
 
Prof. Noorhaidi Hasan mengungkapkan pengalamannya sewaktu menempuh studi di Belanda. Di sana tidak ada pembedaan agama. Justru setelah masuk Indonesia anaknya sudah bisa mengidentifikasi tetangga berdasarkan agama. Prof. Noorhaidi mengapresiasi rencana penghapusan kolom agama dalam berbagai blangko administrasi birokrasi. Yang menarik di sini adalah harapan Prof. Noorhaidi terhadap aparat penegak hukum. Menurutnya, kekerasan tidak boleh terjadi di ranah privat. Kekerasan bila diperlukan hanya boleh dilakukan oleh Aparat Negara (polisi) untuk kepentingan ketertiban umum. Tugas polisi adalah menegakkan hukum. Kebebasan beragama sudah dijamin Undang-Undang maka polisi berhak melakukan penindakan (Law Inforcement) untuk mengamankan situasi. Bila ada kekerasan maka polisi berhak bertindak.
 
Badan KESBANGPOL DIY memetakan bahwa 3,7 juta penduduk DIY beraktifitas dalam berbagai bidang. DIY mempunyai magnet tersendiri untuk menarik orang tinggal. Seiring pertambahan penduduk, resiko kriminalitas tentu akan meningkat bila tidak diantisipasi. Dalam aktifitasnya, KESBANGPOL telah melakukan advokasi dan mediasi dalam kehidupan beragama di DIY.
 
Pada akhir sesi, petugas polisi yang hadir memberikan tanggapan dan mengakui ketegasannya perlu ditingkatkan lagi. Kasus yang harus ditangani polisi banyak sekali mencakup semua lini hidup masyarakat.
 
 
Demikian kehidupan kemajemukan kita. Kiranya dapat terpelihara dan menjadi dasar keharmonisan di DIY dan Indonesia pada umumnya. Bagaimanapun juga, silaturahmi dan tegur sapa antar kelompok adalah cara efektif untuk meredam ketegangan dan radikalisme dalam tubuh agama. (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 10 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Hadiri Perayaan Natal Oikumene

 

PMK Institut Teknologi Yogyakarta

 

 

 

Botol-botol bekas air minum kemasan ukuran 1,5 liter disusun rapi menjulang ke atas membentuk formasi piramida. Pendaran lampu warna-warni berkerlap-kerlip seolah mengikat formasi ini. Rupanya kreasi botol ini dimaksudkan sebagai ikon natal pohon terang. Cantik dan kreatif ala mahasiswa lingkungan yang memanfaatkan kembali barang buangan.

 

 

 

“Joy to the world” mengiring ibu Pdt. Sarlin Riri selaku pewarta firman memasuki ruang ibadah beserta Pembina PMK ITY, Bapak Paskalis. Pricil dan Tina mahasiswa STTL dan juga aktifis Stube HEMAT bertindak sebagai pemimpin acara yang diawali dengan sambutan pembina PMK ITY.

 

 

 

Sambutan Pembina dimulai dengan pertanyaan mengapa Tuhan masuk ke dalam keluarga? Karena keluarga adalah Rumah Tuhan” dimana kebaikan itu diharapkan berawal dari keluarga sebagaimana persekutuan pemuda adalah keluarga. Sambutan ini tentu saja ingin menanggapi tema natal PMK hari ini ”Family In Fellowship”, hidup bersama sebagai keluarga Allah.

 

 

Hari Sabtu, 9 Januari 2016, ruang aula Kampus ITY menjadi teduh saat acara penyembahan dan semakin khidmat saat firman Tuhan disampaikan. Menurut Pdt. Sarlin Riri, untuk berdamai tidak perlu langkah rumit. Berdamai adalah seperti perintah Bunda Theresa “pulang dan cintai keluargamu!” Dunia ini kekurangan cinta, buktinya perang dimana-mana, ada banyak perdebatan dan perseteruan. Sementara pada tahun-tahun ini akan banyak terjadi krisis pangan dan harga kebutuhan pokok merangkak naik.

 

Hidup harus diisi pikiran, tingkah laku, dan semua hal yang baik. Sayangnya, masih sering terjadi antar teman saling memaki. Di ruangan kita memuji Tuhan bareng, sementara di lapangan kita berseteru. Kapankah kebaikan akan terjadi kalau begini terus? Hidup bersama bukan hanya soal perut tapi juga bagaimana saling berbagi. Hidup baru bisa disertai pakaian baru dan yang paling penting adalah baju roh yang baru. Hidup bersama sebagai keluarga Allah itu berbagi apa yang dimiliki.

 

 

 

Berbagi berarti saling menyempurnakan hidup. Filipi 2:1-3 menyebutkan supaya kita menjadi sempurna tanpa ada pertikaian, sehati-sepikir, satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. Ibrani 10:24-25, mengingatkan bahwa untuk membangun hal-hal baik maka janganlah kita jauh-jauh dari persekutuan. Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) adalah persekutuan untuk saling menghargai dan mendengar. Kita harus belajar hidup baik untuk menempatkan Tuhan dalam diri kita.

 

 

 

Pdt. Riri menutup khotbahnya dengan anjuran kepada hadirin untuk mengubah mindset atau cara pandang terhadap sesama dan kepada Tuhan. Sesama adalah rekan sekerja kita untuk melayani Tuhan.

 

 

 

 

 

Ibadah Natal kali ini diisi dengan perayaan natal yang menampilkan berbagai persembahan pujian diselingi beberapa sambutan. Sekitar dua ratus orang yang hadir di aula tersebut tentu saja merasa terberkati oleh berita Natal malam itu. Stube-HEMAT mengucapkan terimakasih atas undangan ini dan berharap agar acara dan pelayanan PMK tetap jaya ke depan. (YDA)

 




  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 1 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Menyongsong tahun 2016
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook