pada hari Minggu, 7 Juli 2013
oleh adminstube

Pendampingan Remaja dan Pemuda Gereja

 
 
 
Live – In Remaja Pemuda GKI Pamulang 2013
 
 
Apa perbedaan antara Gadget, smart phone, tab dengan cangkul, arit, atau kapak? Orang awam akan menilai jika gadget adalah hasil dari teknologi tinggi yang  ditemukan di perkotaan dan akan mengesampingkan cangkul, arit, atau kapak. Namun secara tidak sadar cangkul, arit atau kapak merupakan alat penopang kelangsungan hidup manusia dan merupakan produk asli kebudayaan dan peradaban manusia yang tinggi. Globalisasi menyeret manusia ke dalam hidup yang semakin instan, individualis dan kurang peduli akan sesama dan lingkungan.
 
 
Untuk mendekatkan kembali manusia dengan manusia dan lingkungan, dilandaskeinginan untuk belajar dan berinteraksi dengan orang lain yang berlatar belakang hidup berbeda, mengasah kepekaan dan kepedulian sosial, Komisi Remaja dan Pemuda GKI Pamulang berinisiatif melakukan LIVE–IN di Yogyakarta yang didampingi oleh Stube HEMAT Yogyakarta. Bertemakan "Once is enough, if you be grateful”. Live-in dilakukan mulai tanggal 3 - 5 Juli 2013 di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke tempat-tempat kerajinan kreatif khas Yogya seperti kerajinan batik Pandak, Bantul dan kerajinan tanah liat Pundong, dilanjutkan dengan tinggal bersama penduduk yang merupakan warga jemaat GKJ Kemadang yang berada di desa Kemadang, Sumber dan Planjan, Gunungkidul.
 
 
Ada hal menarik ketika peserta berinteraksi dan berproses di tempat-tempat ini. Kerajinan merupakan hal yang unik dimana peserta diajak melihat proses ini sebagai usaha kreatif masyarakat dalam menangkap peluang serta melestarikan budaya dengan tujuan untuk kemandirian masyarakat itu sendiri. Dalam waktu dua jam, peserta tidak hanya belajar mengenal batik dan keramik melainkan juga langsung praktek membuatnya. Semua peserta terlihat antusias karena mereka membuat produk sesuai keinginan dan motif yang disukai, demikian juga tuan rumah, pemilik usaha batik dan keramik, “Saya senang bisa mengajarkan dan mentransferkan ilmu kepada anak–anak muda, generasi penerus sehingga nilai baik dari budaya kita tidak hilang atau dicuri orang luar.”
 
Tak kalah seru pengalaman peserta saat tinggal bersama keluarga di desa dengan latar belakang berbeda selama dua hari. Perbedaan suasana, budaya, aktivitas menjadi hal yang menarik ketika dijalani seperti ke ladang di pagi hari, berpanas-panasan dan mencangkul atau mencari rumput bagi ternak “orang tua“ masing-masing. Juga tak kalah menarik ketika terjadi interaksi antara peserta yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa dengan tuan rumah yang sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia.
 
 
 
Mengunjungi pantai Drini yang terletak di wilayah itu sungguh merupakan pengalaman yang mengesankan bagi peserta yang tidak menyangka ada pantai elok yang tersembunyi di daerah ini.
 
 
Kesan dan nilai yang didapat peserta sangat beragam baik suka maupun duka namun semua peserta bisa menangkap nilai positif dan kebaikan dalam kegiatan tersebut. Kiranya berkat yang dibawa dalam kegiatan ini boleh bermanfaat dan hanya supaya nama Tuhan yang dimuliakan. (SRB)
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook