Berbagi Pengetahuan dan Belajar Peduli Alam

pada hari Kamis, 27 Mei 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Berbagi Pengetahuan dan Belajar Peduli Alam

 

 

Oleh: Kresensia Risna Efrieno

 

 

Belajar adalah kesempatan untuk mengetahui berbagai hal yang belum diketahui. Dengan belajar kita sadar pentingnya mengenal segala sesuatu yang ada dan hidup bersama kita di lingkungan yang besar dan luas. Namun, apakah kita bisa memanfaatkan kesempatan itu dan membuatnya menjadi sebuah pengalaman? Pernahkah berpikir bahwa setelah apa yang kita pelajari, penting juga untuk berbagi dengan sesama kita yang belum mengetahuinya?

 

 

 

 

Kesempatan luar biasa bagi saya saat pertama bergabung dalam Stube HEMAT Yogyakarta yang merupakan sebuah lembaga pengembangan sumber daya manusia khususnya mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta. Bergabung bersama Stube adalah cara Tuhan membawa saya pada kesempatan belajar dan memperkaya pengalaman hidup. Bersama Stube HEMAT Yogyakarta banyak hal yang saya pelajari dan saya temukan dalam “Climate Change and Life Survival”  program.  Saya belajar tentang perubahan iklim, penyebab serta apa dampaknya bagi kehidupan manusia, lalu bagaimana mengurangi dampak resikonya. Hal yang membuat saya tertarik dengan Stube HEMAT yaitu tantangan bagi peserta untuk melanjutkan berbagi pengetahuan yang didapat setelah pelatihan. Ini membuktikan bahwa pengetahuan yang didapat tidak berakhir setelah pelatihan usai, tetapi mendorong peserta untuk terus bergerak membagikan pengetahuan yang didapatkannya. Hal ini membuat skills peserta tidak berhenti pada proses belajar, tetapi berlanjut pada proses mengajar dalam kegiatan berbagi pengetahuan dengan yang lain.

 

 

Pengalaman-pengalaman baru menjadi bekal bagi saya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk berbagi kepada orang lain. Kesempatan ini datang saat saya bertemu dan berbincang dengan Sukaningtyas, seorang guru Pendidikan Agama Kristen di SMKN 3 Wonosari, yang juga aktivis Stube HEMAT Yogyakarta ketika masih mahasiswa. Saya mendapat kesempatan untuk membagikan materi tentang pemulihan alam kepada siswa Kristen di sekolah tersebut sebagai bagian dari mata pelajaran agama Kristen (29/04/2021)Para siswa mengamati situasi lingkungan alam yang rawan di Gunungkidul, khususnya tempat di mana mereka tinggal selanjutnya menemukan penyebab mengapa menjadi rawan, antara lain, kekeringan, pencemaran bakteri e-coli di sungai di Wonosari, pohon ditebang dan angin puting beliung. Selanjutnya mereka merumuskan kegiatan yang bisa mereka lakukan sebagai wujud perhatian terhadap alam. Mereka menentukan aksi mereka berupa penanaman pohon buah yang dibeli dengan hasil iuran mereka. Penanaman pohon dilakukan di lingkungan Gereja Kristen Jawa Bejiharjo Gunungkidul (26/05/2021). Siswa tidak hanya belajar mata pelajaran agama Kristen tetapi tahu bagaimana bertindak wujud dari peduli alam.

 

 

Kerap kali kita menganggap bahwa belajar adalah hanya ingin mengenal dan mengetahui, tanpa kita sadari ada banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan apa yang kita pelajari dan bahkan tergerak menjadi pelaku dari ilmu yang kita bagikan. Pertemuan bersama siswa-siswi ini menjadi nilai tambah bagi saya sebagai mahasiswa Komunikasi lebih terampil berbicara di depan publik. Jadi, mari berbagi pengetahuan, menyampaikan apa yang kita ketahui dan menjadi pemantik api dalam kegelapan pengetahuan. ***

 

 

  Bagikan artikel ini

Ruben Sonhibu, Inisiator Muda dari Munaseli

pada hari Rabu, 5 Mei 2021
oleh Trustha Rembaka

Mengembangkan desa berbasis ekowisata desa

 

Topik yang menarik saat ini adalah membincangkan kiprah anak muda dalam partisipasinya mengembangkan desa. Keberadaan anak muda yang punya ‘hati’ untuk desa atau kampung halaman merupakan berkah dan patut didukung, meski perjuangan tidak mudah karena ada beragam tantangan dan situasi. Namun bukan berarti melemahkan semangat anak muda untuk berkiprah, sebaliknya, menemukan strategi untuk bisa ‘menembus’ penghalang yang ada secara halus dan cerdik.

Kiprah anak-anak muda yang berjuang memajukan desanya pun merambah sampai di kawasan Alor, tepatnya di Munaseli di pulau Pantar. Adalah Ruben Sonhibu, anak muda yang memiliki semangat tinggi, mengambil inisiatif untuk mengembangkan kampung halamannya, perlahan namun pasti bergerak maju dan berkembang. Motivasi, semangat dan pengalaman Ruben terungkap dalam wawancara ini.

 

Pertama-tama, apakah Ruben bisa menceritakan di awal untuk perkenalan diri, berasal dari daerah mana, pendidikan yang pernah ditempuh, dan apa aktivitas yang dilakukan sekarang.

 

Ruben: Saya Ruben Sonhibu, Sarjana Peternakan, berasal dari desa Munaseli, kecamatan Pantar, kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya menamatkan pendidikan di Universitas Universitas Nusa Cendana Kupang jurusan Peternakan. Saat ini aktivitas saya bekerja sebagai wiraswasta, khususnya pelaku usaha sosial dan wisata di Munaseli.

Sebenarnya seperti apa keadaan di Munaseli, kampung halaman Ruben?

Ruben: Gambaran umum tentang keadaan Munaseli sekarang adalah masyarakatnya merupakan masyarakat tradisional dan kehidupan masyarakat juga masih tradisional baik cara hidupnya, bertani dan berdagang, dalam hal ini barter barang atau natura. Dalam hal pelestarian budaya, alam, lingkungan masih terjaga dengan baik, meskipun secara musim, di musim kemarau mengalami kekeringan. Namun demikian hubungan masyarakat dan toleransi antar umat beragama masih terjaga dengan baik sampai saat ini. Jangan lupa, keramahtamahan masyarakat di kampung masih sangat tinggi.

Mengapa Ruben tertarik untuk mengembangkan desa wisata di Munaseli? Ide awalnya seperti apa?

Ruben: Ketertarikan untuk mengembangkan Desa Ekowisata di Munaseli karena saya melihat potensi alam, budaya, dan bahari atau kelautan yang masih alami, belum dikelola dengan baik, artinya produktif dan bermanfaat untuk masyarakat. Karena itu, saya bepikir ini adalah peluang besar bagi kehidupan masyarakat ke depan. Dari situ timbul ide untuk merintis desa ekowisata.

Ide awalnya bertepatan dengan saya terpilih menjadi ketua BUMDes Manusirikoko Munaseli, dengan modal awal ini saya bersama teman-teman membuka hubungan kerja sama dengan beberapa Lembaga Swadaya Mandiri (LSM) di kabupaten Alor untuk mendukung ide-ide kami, sekaligus mendampingi merintis ekowisata berbasis desa dan bersama team BUMDes memetakan potensi yang ada di desa.

Strategi yang Ruben lakukan itu seperti apa untuk memulai mengajak masyarakat? Apa yang menjadi tantangan keadaan di Munaseli?

Ruben: Strategi yang saya lakukan bersama teman-teman melakukan pendekatan dengan para tetua adat untuk membangun desa ekowisata, seperti mengumpulkan kembali cerita-cerita tentang kerajaan Munaseli, pemugaran kembali situs peninggalan asli bersama tetua adat di kampung. Tantangan besar sebenarnya kembali pada Sumber Daya Manusia masih sangat kurang dan belum muncul kesadaran anak muda di kampung untuk bersama-sama membangun ekowisata berbasis desa. Dengan penduduk setempat dikerjasamakan dengan menyiapkan perkakas dan cara hidup yang tradisional.

Apa yang menjadi kunci dalam mengembangkan Munaseli?

Ruben: Harus ada kerja sama yang baik antara BUMDes,  pemerintah desa, pemuka agama, tetua adat dan masyarakat di kampung Munaseli, dilandasi semangat kerja dan kemauan bersama untuk membuat perubahan di desa menjadi lebih baik.

 

Saat ini apa yang menjadi unggulan atau yang menarik di Munaseli?

 

Ruben: Munaseli masih menyimpan kekayaan berupa wisata yang unik dan budaya tradisional Pantar yang sangat kental, Munaseli mempunyai potensi alam, budaya dan bahari bawah laut yang masih alami. Wisatawan yang datang ke Munaseli akan mempelajari sejarah kerajaan Munaseli, koleksi alat tradisional seperti pengupas dan pemarut kelapa, penggiling jagung atau padi dan bagaimana menggunakannya, beraktivitas bertani secara tradisional atau wisata bahari apakah berenang maupun menyelam melihat terumbu karang dan jika pas hari pasar, bisa berbelanja di pasar dengan sistem barter.

Inilah bukti, ketika anak muda memiliki semangat berkiprah dan mendapat kesempatan untuk melakukannya, maka perubahan baik itu akan terjadi dan membawa harapan kemajuan untuk masyarakat khususnya di desa. Harapannya, wawancara ini menginspirasi anak muda di penjuru tanah air untuk suatu kemandirian, kreativitas dan melakukan gerakan positif untuk kampung halamannya.***


  Bagikan artikel ini

Menelaah Praktek Demokrasi di Indonesia

pada hari Minggu, 2 Mei 2021
oleh Thomas Yulianto

 

Setelah melakukan diskusi pertama dan kedua, Stube HEMAT terus menggali lebih dalam tentang Demokrasi pada diskusi ke-3 (Sabtu, 1/05/ 2021) di Wisma Pojok Indah, Condongcatur, Yogyakarta dengan tema “Menelaah Praktek dan Strategi Demokrasi Pendalaman Demokrasi Di Indonesia”. Narasumber dalam diskusi ketiga ini yaitu Dr. Budiawan, dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan George B.L Panggabean sebagai praktisi dan mantan politisi.

Acara dimulai pukul 09:30 WIB dipimpin oleh Daniel Prasdika dan Kresensia Risna Efrieno sebagai MC. Awal dari diskusi ini Putri Laoli sebagai moderator melontarkan pertanyaan, “Apa yang mahasiswa pahami tentang demokrasi?” Menurut Ari Gunawan sebagai peserta menyampaikan pendapatnya, “Demokrasi berasal dari kata demos dan kratos yang artinya kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, semuanya kembali kepada rakyat itu sendiri.”

Dr. Budiawan memaparkan materi tentang sejarah demokrasi mulai dari kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1949), Republik Indonesia Serikat (1949-1950), Konstitusi RIS menjadi UUD sementara (1950-1959), Demokrasi terpimpin (1959-1966), Era Orde Baru (1966-1998), dan Era Reformasi (1998-sekarang). Di akhir penyampaian materi, Dr. Budiawan memberikan kesimpulan bahwa tahun 1998  s.d. sekarang terjadi eforia demokrasi, kebebasan dalam demokrasi diagung-agungkan bahkan cederung menjadi ‘kebablasan’. George B.L Panggabean memaparkan beberapa materi yang berhubungan dengan pengalaman yang telah dilalui, “Demokrasi tidak terlepas dari budaya yang sedang berkembang, suatu budaya mewarnai pertumbuhan demokrasi tersebut. Ciri demokrasi ada rakyat, ada musyawarah dan ada hak asasi manusia.”

 

Dari materi yang disampaikan oleh kedua narasumber ini, memicu rasa penasaran Ari Surida tentang materi yang disampaikan oleh Dr. Budiawan mengenai maksud dengan demokrasi kebablasan. Dr. Budiawan memperjelas pernyataannya bahwa demokrasi disebut kebablasan karena ada ukuran yang dipakai, seperti ukuran perundang-undangan. Sehingga apabila sudah tidak sesuai dengan perundang-undangan lagi, maka disebut kebablasan. Menurut George B.L Panggabean, demokrasi sekarang ini telah menyimpang dari jalurnya, seperti hilangnya kaderisasi, dan tahapan-tahapan melahirkan seorang pemimpin organisasi. Semua orang yang memiliki cukup modal (uang, pengaruh, populer) bisa dengan cepat menduduki jabatan-jabatan politis tanpa melalui proses tersebut di atas. Sehingga setiap pemimpin memberikan asumsi masing-masing pada demokrasi dan hal itu dibiarkan oleh kelompok kekuatan yang ada di dalam masyarakat.

Teori dan realita yang terjadi pasti berbeda, tujuan dari demokrasi sendiri adalah baik adanya, namun karena pelaku-pelaku tidak bisa menjalankan demokrasi secara baik akhirnya esensinya berbeda. Setiap pemimpin demokrasi seharusnya mengusahakan kesejahteraan, jika pemimpin demokrasi tidak mampu mengusahakan kesejahteraan, itu adalah pemimpin yang gagal, dan jika demokrasi tidak mengusahakan kesejahteraan itu bukan demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi layak untuk terus diperjuangkan.***

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (34)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 540

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook