pada hari Selasa, 28 Juni 2016
oleh adminstube
Mari Membuat Bio-Briket Sendiri

 

 

 

Alvon Laoli, mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan ITY asal Nias ini memiliki keinginan kuat untuk membagikan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki, yakni membuat bio-briket. Awalnya ia mengikuti pelatihan energi terbarukan dengan tema “Manfaatkan Energi Terbarukan: Kita Bisa Apa?” yang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta yang memfasilitainya berkunjung dan belajar bio-briket di desa Sukunan.

 

 

 

 

 

 

Bio-briket berasal dari daur ulang arang sisa pembakaran sampah organik seperti daun, ranting, kayu dan sebagainya. Cara membuatnya cukup mudah. Mula-mula arang dihancurkan dan dicampurkan dengan adonan tepung kanji lalu dipadatkan dalam pipa berdiameter 10 cm menggunakan palu. Sesudah proses pemadatan dan cetak maka jadilah bio-briket basah, yang selanjutnya akan berakhir dalam proses penjemuran yang memakan waktu 1-2 hari. Apabila sudah kering, bio-briket ini siap digunakan. Prinsip pemakaian bio-briket sama dengan pembakaran arang pada tungku ‘anglo’ dengan kelebihan dapat menciptakan sumber energi alternatif pengganti gas dan lebih irit dibandingkan arang.

 

 

 

Sore itu (27/6/2016) bertempat di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta, Alvon begitu antusias mengajarkan cara membuat bio-briket, ia pun tak segan menyediakan kaus tangan lateks bagi peserta. Alvon tak hanya bicara ia juga memperagakan proses pembuatan yang langsung diikuti oleh peserta. Imel salah satu peserta asal Sekadau, Kalimantan Barat berkata “Pengetahuan dan ketrampilan ini sangat bermanfaat terutama bagi masyarakat pedesaan yang masih mengandalkan kayu bakar, sebab tak bijak rasanya jika kayu bakar terus menerus dipakai tanpa melakukan konservasi”.

 

 

 

Diskusi dan workshop ini berlangsung menarik, semua peserta paham dan memiliki tambahan keterampilan sederhana sebagai bekal untuk mengatasi permasalahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bio-briket adalah ‘alternative-energy’ yang bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan sampah organik. Dengan begitu semua orang sama sekali tidak perlu takut ketika harga minyak tanah dan gas LPG melonjak naik. Arang tetap menjadi alternatif dan bio-briket menjadi solusi efektif dan cerdas.

 

 


Mari kawan muda yang sudah bisa membuat bio-briket, jadilah tutor sebaya dan  menjadi percikan cahaya kecil di ambang ancaman kegelapan krisis energi. Terima kasih Alvon Laoli. (SRB).


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 22 Juni 2016
oleh adminstube
Manfaatkan Energi Terbarukan:
Kita Bisa Apa?
  
 
Keresahan bersama tentang masa depan energi terjawab sudah, dalam pelatihan energi terbarukan bertema “Manfaatkan Energi Terbarukan: Kita Bisa Apa?”. Walau terbilang singkat, 17-19 Juni 2016, pelatihan yang diadakan di Wisma Salam Magelang ini terbukti memantik rasa ingin tahu dan kesadaran peserta mengenai permasalahan energi. Leni, mahasiswi jurusan akuntansi asal Papua mengatakan bahwa di awal pelatihan ia sama sekali tidak mengerti dan sedikit bingung apa itu energi terbarukan, tapi setelah berproses selama tiga hari dalam pelatihan, ia tahu bahwa energi tak dapat dipisahkan dari kehidupannya dan bahkan menurutnya semua orang harus memahami dan bergerak bersama untuk permasalahan energi ini.

Pentingnya Belajar Energi Terbarukan
Hari pertama peserta diajak untuk mengetahui pentingnya belajar energi terbarukan. Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, Ariani Narwastujati memberikan pemahaman konsep dasar mengenai peta penggunaan energi global dan rasio elektrifikasi. Energi terbarukan adalah jawaban bagi pemerataan pembangunan, sebab kebutuhan listrik daerah terpencil dapat dipasok energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya, biogas, tenaga air, angin dsb. Selain rasio elektrifikasi, peserta dikenalkan dengan sumber energi tradisional yang ada di Yogyakarta pengganti LPG yaitu briket yang dibuat dari sampah organik.

 
 
 
  
Menariknya Energi Terbarukan
Hari kedua peserta belajar sejarah ketergantungan energi di Indonesia yang disampaikan oleh Silverio R.L. Aji Santoso, dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma. “Materi ini belum pernah diteliti oleh ahli sejarah Indonesia, tapi memang sejak zaman Sriwijaya Indonesia sudah mengenal minyak bumi, Indonesia juga sempat mengalami kejayaan sebagai negara pengekspor minyak sebelum tahun 1969, ketika Soeharto membuka keran investor asing, pengerukan cadangan energi kita yang tanpa batas ini, disinyalir mempercepat habisnya cadangan minyak dan gas Indonesia”, tuturnya.
 
Energi terbarukan bukan melulu ranah mahasiswa teknik, ujar Irawan dari Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada. “Selama ini terbukti bahwa orang awam di pelosoklah yang jeli melihat potensi energi terbarukan di daerahnya. Semua ilmu mesti bekerja sama dalam PLTMH”, jelasnya lebih lanjut. Ia menambahkan, “Jika ingin membangun sebuah pembangkit energi terbarukan, kita mesti mengenal betul potensi daerah, jangan menilai berdasarkan kunjungan sehari, contoh ada seorang mahasiswa, ia baru sekali berlibur ke pantai tapi sudah menyatakan bahwa potensi angin di lokasi tersebut cocok untuk pembangkit listrik tenaga bayu tanpa memperhitungkan kontinyuitas angin dalam jangka waktu yang panjang”. Sesi ini menarik sebab peserta belajar berbagai macam jenis pembangkit, kegunaannya dan bagaimana merawatnya, terlebih kunjungan ke lokasi yang sudah menerapkan energi terbarukan, seperti Desa Sukunan dan PLTMH Minggir.

Di Sukunan peserta belajar bagaimana membangun biogas dan membuat briket. Harto, narasumber di Sukunan menjelaskan bahwa perlu komitmen bersama di kalangan warga agar tercipta desa mandiri energi, sebab sulit sekali membangun desa mandiri energi di Indonesia, karena kita negara kaya yang dimanja oleh alam.
 
Di PLTMH Minggir peserta diajak memahami kinerja alat dari Jepang. PLTMH ini memanfaatkan kontinyuitas aliran irigasi sebagai pemutar turbin. Hal sederhana ini dapat dilakukan di desa kami namun mahalnya peralatan dan susahnya perawatan menjadi kendala”, ungkap pak Darno pendamping lapangan PLTMH Minggir.
 
Sharing bersama Ricky aktifis Stube HEMAT Yogyakarta  yang sudah bekerja 3 tahun di PLTU Palu, menambah cakrawala peserta tentang realita yang ada mengenai kendala baik dari dalam dan luar perusahaan. Manajemen yang baik berpengaruh positif pada pekerjaan di lapangan. Ia menekankan, “Kita sebagai anak muda harus memiliki etos kerja yang tinggi dan kemampuan problem solver sebab banyak masalah tak terduga muncul sewaktu-waktu, seperti menghadapi warga di sekitar perusahaan bukan hal mudah”.
 
Apa yang Dapat Dilakukan?
Setelah ibadah Minggu, sesi analisa kebijakan energi oleh Ahmad Rahma Wardhana (PSE UGM), membuat peserta mengerti kebijakan energi terbarukan seperti PLN akan membeli listrik yang dihasilkan warga, dengan harga setiap KWH listrik energi terbarukan lebih tinggi dibandingkan sumber listrik dari energi konvensional, juga masalah alat yang sampai saat ini masih diimpor membebani modal awal dan perawatan. Yang bisa anak muda lakukan saat ini adalah mempengaruhi arah kebijakan menjadi lebih pro pada energi terbarukan di masa depan.
 
Sesi follow-up menantang peserta berpikir melakukan sesuatu berkaitan dengan energi. Beberapa peserta akan membagikan ilmu yang didapat selama pelatihan, seperti membuat briket dan kampanye hemat energi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga pemantik kecil ini menyalakan hati dan menggerakkan tangan untuk melakukan sesuatu. Selamat berkarya sederhana kawan. (SRB).

 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 13 Juni 2016
oleh adminstube
STOP!!
TERORISME, RADIKALISME & NARKOBA
Seminar Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DIY
 
 
Terorisme, Radikalisme dan Narkoba bukan berita baru di Indonesia, tiga hal ini sudah terjadi sejak dulu. Terorisme, Radikalisme dan Narkoba menjadi akar permasalahan di Indonesia. Bukan hanya memberikan rasa tidak nyaman, tetapi membuat ketidakstabilan perekonomian negara dan merusak generasi muda. Melihat permasalahan ini Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan seminar mengenai “Sosialisai Bahaya dan Ancaman Terorisme, Radikalisme dan Narkoba bagi Umat Kristen Daerah Istimewa Yogyakarta”.  Kegiataan ini bertujuan untuk melihat sikap gereja-gereja, dan umat Kristen terhadap permasalah ini.
 
 
Seminar yang dilangsungkan 10 Juni 2016, di Wisma Immanuel, Yogakarta ini dihadiri oleh para utusan berbagai gereja-gereja dan lembaga  di DIY. Tiga Tema utama yakni Terorisme, Radikalisme dan Narkoba dijelasakan oleh narasumber yang berkompeten dibidangnya yakni:  Suhariyono, SIP (Kepala Seksi Pencegahan BNNP DIY),  Drs. Susilo Tri Harjoko (Kasubdit IV Ditintelkam Polda DIY), dan Dr. Venny Pungud, Sp.KJ. (SMF Ilmu Kedokteran Jiwa dan FK UKDW-RS Bethesda Yogyakarta).
 
Suhariyono memaparkan bahwa terdapat 24 jenis narkoba di Indonesia yang belum masuk Undang-undang yang berlaku, sehingga hampir setiap tahun Undang-undnag No 35 tahun 2009  harus di amandemen. Saat ini jumlah pengguna narkoba meningkat mencapai 4,7 juta yang tercatat pada BNN tahun 2013. Apabila tidak ada upaya pencegahan dan penanggulangan, maka diproyeksikan pada tahun 2019 akan mencapai 7,4 juta pengguna narkoba. Pada BNNP Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat ada 60 ribu orang penggunan narkoba dari berbagai jenjang seperti penggunan narkoba pemula, teratur, suntik, dan non-suntik.
 
Drs. Susilo Tri Harjoko memaparkan mengenai masalah terorisme dan radikalisme yang terjadi. Penyebab radikalisme bisa dikarenakan tafsir keagamaan yang sempit, kemiskinan dan ketidakadilan struktural. Seringkali pelaku sengaja menyitir ayat-ayat Alquran untuk menggalang orang muslim untuk perbuatan jihat yang dianggap benar. Kasus terorisme DIY sudah ada sejak tahun 2002 dan isu radikal sudah terjadi pada intoleransi agama.
 
Dari ilmu kesehatan, Dr. Venny Pungud, Sp.KJ menjelaskan kerusakan dan kecanduan berat jika menggunakan bahan adiktif tersebut seperti perubahan perilaku, kondisi tubuh dan pola pikir dari orang yang kecanduan narkoba. Hal yang sangat meresahkan adalah pengguna akan merugikan orang lain untuk memuaskan nafsunya.
 
Peserta antusias saat sesi tanya jawab seperti kendala penanganan narkoba dan mengapa kebebasan beragama dibatasi. Ada harapan bahwa Polri dapat mengirimkan buku-buku ke gereja-gereja dan kesatuan tekad 0% pada minuman keras dan alkohol. Pihak Kapolda menyatakan bahwa kepolisian akan mengamankan setiap ibadah yang dilakukan, sementara pihak BNN menjelaskan bahwa saat lembaga ini ada, kondisi di DIY sudah sangat buruk, sehingga proses penanganan sulit dilakukan, tetapi setiap tahunnya mengalami penurunan penguna narkoba.
 
Harapan besar dari pertemuan ini adalah agar umat Kristen mau ikut ambil bagian dalam permasalahan yang tengah dihadapi negara ini dan ada tindak lanjut yang dilakukan. (ITM).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 5 Juni 2016
oleh adminstube
Semangat untuk Belajar dan Berbagi
P R O G R A M   E X P L O R I N G   S U M B A




Bulan Juni tahun 2016 sangat dinanti oleh trio mahasiswa: Junita Samosir, Resky Yulius dan Christian Badai Bulin. Ada apa? Ya, ketiganya akan berangkat dari Yogyakarta menuju Sumba, salah satu pulau di propinsi Nusa Tenggara Timur.
 
Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa di Sumba, tidak di pulau lainnya? Karena di Sumba ada Stube-HEMAT Sumba. Ketiga mahasiswa tersebut menjadi bagian dari enam mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yang akan berangkat ke Sumba dalam program Exploring Sumba dari Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengirim mahasiswa aktivis Stube-HEMAT ke Sumba. Mahasiswa yang dikirim ke Sumba akan berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa, kaum muda dan masyarakat Sumba.


Peserta program Exploring Sumba akan berada di Sumba selama tiga puluh hari. Mereka akan belajar banyak hal mengenai Sumba, dari keadaan masyarakat, sosial budaya, pertanian, lingkungan alam dan pariwisata. Namun, selain belajar, mereka akan berbagi dengan anak muda, masyarakat dan gereja tentang keterampilan dan pengetahuan yang mereka dapatkan selama belajar di Yogyakarta. Jadi program Exploring Sumba menjadi media yang penting untuk saling belajar bagi kedua pihak tersebut.


  
 
Siapa saja ketiga peserta tersebut? Ayo, kenali mereka lebih dekat. Yang pertama adalah Junita Samosir, seorang mahasiswi dari Simalungun, Sumatera Utara. Saat ini Junita, sudah menyelesaikan studi di fakultas Agroteknologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Selama di Sumba, Junita akan berbagi pengetahuan tentang pengolahan hasil pangan seperti yang ia pelajari di kampusnya. “Harapan saya, saya dapat menjadi manfaat bagi masyarakat setempat dan saya dapat belajar pengalaman baru,” ungkapnya.
 
Berikutnya, Resky Yulius, seorang mahasiswa dari Toraja, sebuah daerah di Sulawesi Selatan yang cukup kental tradisi dan budayanya, seperti di Sumba. Saat ini Resky sedang menempuh kuliah di Universitas Kristen Duta Wacana, program studi Manajemen. Selama di Sumba ia akan berinteraksi dan berbagi pengalaman dengan mahasiswa dan anak muda gereja tentang kesiapan diri memasuki dunia kerja maupun menciptakan peluang kerja. Resky berharap, “Saya semakin tahu mengenai kearifan lokal masyarakat Sumba, budayanya, kerajinannya, landscape alamnya dan orang-orangnya. Selain itu, saya juga bisa membagikan ilmu yang saya punya untuk masyarakat Sumba dan bisa diteruskan” paparnya.
 
Peserta ketiga adalah Christian Badai Bulin, seorang mahasiswa Teknik Informatika Universitas Kristen Duta wacana yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Pengetahuan dan keterampilan tentang komputer dan editting yang telah ia peroleh di kampus mendorong Iyan, panggilan akrab Christian, untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman di Stube-HEMAT Sumba, khususnya tentang pembuatan video pendek yang berisi pesan-pesan sosial, kepedulian lingkungan, budaya masyarakat dan pariwisata. Selain itu, Iyan juga memiliki ketrampilan untuk olah vokal, jadi bisa berlatih menyanyi bersama Iyan.
 
Pdt. Dominggus Umbu Deta, S.Th., koordinator Stube-HEMAT Sumba berharap teman-teman dari Yogyakarta mampu menyesuaikan diri dengan keadaan di Sumba sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik kami yang di Sumba dapat menerapkan secara berkelanjutan. Selamat datang di tanah Marapu, selamat berproses di bumi Sumba, teman-teman. Kami siap menyambut kedatangan teman-teman dan bekerjasama untuk kemajuan bersama. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook