Mengagumi Batik Mencintai Lingkungan

pada hari Jumat, 14 Desember 2018
oleh adminstube

 

 
 
Menjadi perenungan bersama saat melihat keindahan kain batik yang diproses dalam sebuah rangkaian panjang. Tentu saja hal ini membawa konsekuensi pada kualitas dan harga. Harga yang terjangkau bagi konsumen dan membawa keuntungan kepada produsen, tentu saja menjadi keinginan bersama. Sekalipun sudah ada alternatif pewarnaan alami, di dalam dunia bisnis keuntungan masih menjadi prioritas dan pewarna sintetis yang jauh lebih murah dan terjangkau masih menjadi pilihan. Sebab jika produk pewarna alami yang diproses modern dijual bebas, maka perbandingan harga akan sangat jauh lebih tinggi. Terlebih lagi,proses pewarnaan alami memerlukan beberapa kali pencelupan untuk mendapatkan warna sesuai permintaan.

Sejauh mana para pengrajin batik mengelola limbah hasil pewarnaan dan proses melorot malam? Bukan rahasia apabila para pengrajin batik mewarnai dengan bahan sintesis dan salah satunya naptol. Naptol adalah senyawa kimia dengan rumus : C10H8O; massa molar: 144,17 g/mol; kelarutan dalam air: 0,74 kg/m³; titik didih: 285°C; kepadatan: 1,22 g/cm³; ID ChEBI: 10432. Bahan ini termasuk kedalam limbah B3. Limbah B3 kepanjangan dari Bahan Beracun dan Berbahaya sangat membahayakan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan. Naptol bisa mengakibatkan organisme dalam air mati karena bahan ini bisa mengubah nilai biochemical oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) dalam air. Untuk itu limbah cair atau padat yang mengandung B3 selalu membutuhkan penanganan khusus supaya terurai sempurna dan tidak mencemari lingkungan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Pasal 3 ayat (1), Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan Pengelolaan Limbah B3 yang dihasilkannya.
 
World Batik Summit 2011 di Jakarta menghasilkan sebuah deklarasi bersama, pada point No. 5 yang menyatakan industri batik Indonesia harus didasarkan atas perlindungan alam dan lingkungan, serta riset mengenai penyediaan bahan pewarna tradisional yang alami dalam jumlah besar penting untuk digalakkan (http://www.mongabay.co.id/2012/12/28/ayo-kini-saatnya-berbatik-ramah-lingkungan/). Dr. Ir.Edia Rahayuningsih, M.S, seorang dosen dan peneliti Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada  sudah sejak lama meneliti tanaman indigofera sebagai bahan pewarna pengganti naptol dan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa marga indigofera bisa digunakan sebagai pengganti warna biru(https://ugm.ac.id/id/berita/7678-edia:.kurangi.pencemaran.hidupkan.kembali.pewarna.alam). Warna biru dari serbuk yang dihasilkan memiliki kadar hingga 40 persen, sementara warna biru dari proses biasa kadarnya hanya 15 persen. Bahkan melalui proses yang dikembangkan, hanya memerlukan 3-6 kali pencelupan ((https://ugm.ac.id/id/berita/7678-edia:.kurangi.pencemaran.hidupkan.kembali.pewarna.alami.

 
Memberi pengetahuan kepada pengrajin batik atas pemeliharaan lingkungan sekaligus pemakaian alat pelindung diri (APD) saat melakukan proses pewarnaanmerupakan hal yang sangat penting, supaya tidak terpapar bahan kimia terlalu dekat. Jika sering bersentuhan dengan bahan kimia apalagi tergolong B3 dapat menyebabkan berbagai macam penyakit di kemudian hari seperti kanker kulit.
 
Mari bersama menghargai produk batik dan kain tradisional yang dihasilkan dari proses yang panjang sebab untuk mendapatkan sepotong kain batik yang cantik, lingkungan menjadi taruhannya. Mari mengagumi batik dengan tetap mencintai lingkungan. *SAP

  Bagikan artikel ini

Berguru Di Giriloyo

pada hari Kamis, 13 Desember 2018
oleh adminstube
 
 
 
Akhir tahun 2018 ini diisi dengan sentuhan kegiatan yang sedikit lebih ekspresif, yaitu pelatihan Batik sebagai warisan budaya. Dengan tema “Dari Lokal Menuju Dunia”, kegiatan yang diadakan pada 8 Desember 2018 ini bukanlah yang pertama, tetapi lanjutan kegiatan tanggal 1 Desember 2018. 


Pagi-pagi sekitar pukul 08.30 WIB dengan penuh semangat semua peserta berkumpul disekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mendapatkan arahan apa yang harus dilakukan di tempat batik dan mempresentasikan arti motif lokal yang telah mereka gambar. Dua puluh delapan mahasiswa beserta tim berangkat dengan harapan bisa membatik dengan baik di Giriloyo, Imogiri.
 
 

Kegiatan diawali dengan mengunjungi ‘showroom’ BatikSungsang untuk melihat hasil karya dari para perajin batik. Ada baju, kain, dress, bahkanada banyak produk dari bahanpewarna alami. Selanjutnya berjalan kaki menyusuri jalan dan gang menuju bengkel batik tempat ibu-ibu membatik. Pemilik usaha batik Sunhaji dan istri beserta ibu-ibu pembatik di sana menyambut dengan ramah. Indah, tim kerja Stube HEMAT memandu acara, memberikan beberapa arahan dan perkenalan singkat. Sambil menikmati hidangan tradisional yang disajikan, Sunhaji memberikan materi tentang sejarah singkat batik di Giriloyo dan pegalamannya menekuni dunia batik-membatik. Dari pemaparan yang diberikan, peserta terlihat bertambah antusias dan sudah tak sabar untuk mencanting motifmilik masing-masing.


Meskipun ini merupakan kesempatan yang pertama kali, sebagian besar peserta terlihat sangat lancar menorehkan lilin panas di kain memakai canting. Beberapa peserta ada yang masih dibantu para pecanting. Proses mencanting ternyata mengasyikkan, seiring lilin tertoreh di kain, imajinasi pembatik semakin tertantang untuk terus mengeksplor motif sampai selesai.

 
Selesai makan siang, proses mewarnai merupakan sentuhan akhir kegiatan hari ini.Dari dua pilihan warna yang disajikan yakni merah dan biru, warna biru mendominasi pilihan untuk pewarnaannya. Beberapa langkah yang harus dilakukan: langkah pertama, kain dibasahi dengan air yang telah dicampur detergen TRO kemudian angkat; langkah kedua, kain dimasukkan ke dalam air naptol kemudian angkat; langkah ketiga, kain yang ingin diberi warna merah dimasukkan ke dalam air yang telah dicampur garam merah R dan kain yang ingin diberi warna biru dimasukkan ke dalam air yang telah dicampur garam warna biru B; langkah keempat, proses membersihkan lilin ke dalam air mendidih yang telah dicampur soda abu; dan langkah terakhir, proses pengeringan kain dengan menjemur.

 
Sambil menunggu kain kering, Marianus L. Lejapkoordinator pelatihan memandu sesi tanya jawab, dilanjutkan dengan Trustha Rembaka yang memandu sesi rencana tindak lanjut. Semua peserta siap melakukan tindak lanjut kegiatan dengan membuat motif-motif baru. Pelatihan ini ditutup dengan sesi foto bersama tim, peserta dan pemilik sekaligus pengrajin Batik Sungsang. Selamat berkarya setelah berguru di Giriloyo. (US).


  Bagikan artikel ini

Mengenal 20 Makna Motif Batik

pada hari Rabu, 12 Desember 2018
oleh adminstube
 
 
 
Batik adalah sebuah karya tangan dan warisan budaya yang sangat indah dan penuh makna, sebuah ekspresi perasaan dan pikiran perancangnya, baik sedih, berduka atau pun saat bahagia. Berikut ini terkumpul 20 motif batik dan makna dibalik motif-motif batiktersebut.
 
Batik Beras Tumpah. Batik ini dipakai oleh orang yang sudah menikah dengan harapan dapat mendatangkan kesejahteraan bagi keluarga dengan melimpahnya beras sampai tumpah-tumpah.
 
Batik Pagi SorePada zaman dahulu orang golongan ningrat pasti memiliki lebih dari satu batik, sementara rakyat biasa mereka hanya memiliki satu.Hal ini menumbuhkan ide pada mereka untuk membuat selembar kain batik dengan dua warna yang berbeda, yakni terang dan gelapMotif gelap untuk malam hari, sementara motif terang dipakai pada waktu siang hari.
 
Batik PetaniMotif batik ini cenderung bebas dan beragam seperti bunga-bunga, burung-burung, buah, pohon, hasil bumi dan lain sebagainya yang seringmereka jumpai di sawah.
 
Batik Tiga Negeri. Mengapa tiga negri? Karena motif batik dibuat di Solo, pewarnaan merah di Lasem dan pewarnaan biru di Pekalongan dan menggambarkan perpaduan warna serta corak masing-masing daerah.
 
Batik Gringsing dan Tambal. Gringsing singkatan dari ‘Gering Sumingkir’ memiliki makna bahwa orang yang ‘gering’ atau sedang sakit segera ‘sumingkir’ menghilang atau cepat sembuh. Senada denganGringsing, motif ‘Tambal’ bermakna menambal, memberikekuatan dan kesembuhan.
 
Batik Madu BrontoMadu artinya manis dan Bronto artinya kesenangan. Batik ini biasanya digunakan oleh orang yang sedang kasmaran atau sedang jatuh cinta.
 
Batik Kawung PicisSetiap orang pasti memiliki nafsu hewani sehingga dengan memakai batik motif ini, orang selalu diingatkan untuk mampu menahan hawa nafsu.
 
Batik Sekar JagadSekar artinya bunga, jagad artinya dunia. Batik ini menggambarkan kecantikan, bagi yang memakainya bisa diibaratkan paling cantik di seluruh dunia.
 
Batik Kapal ApiBatik  ini memperlihatkan ekosistem dan interaksi yang terjadi di laut. Sehingga terdapat gambar kapal dan beberapa jenis biota laut.
 
Batik Tirta TejaArtinya orang–orang yang bepergian atau berpindah tempat, lebih cepat beradaptasi dengan tempat yang baru.
 
 
Batik Parang KlitikArtinya ombak yang menabrak karang. Ibaratnya semangat seseorang dalam menyelesaikan masalah seperti ombak yang menabrak karang.

 

 
Batik Pisang BaliDiartikan dengan orang yang hidup di dunia ini hanya sekali, kelak akan kembali kepada yang kuasa
 
Batik Semen Rejo. Diartikan atau harapannya seseorang yang mengenakan batik ini akan memiliki kehidupan yang makmur dimana pun dia berada.
 
Batik Semen GurdoArtinya seseorang yang bisa memiliki kekuasaan kelak dimasa depan.
 
Batik Truntum dan SidoluhurDua jenis batik ini dipakai sebagai hantaran saat lamaran. Jika seorang laki-laki ingin mempersunting gadis pujaan hatinya dia harus datang ke rumah gadis itu dengan membawa kedua jenis batik ini. Dalam waktu satu minggu gadis itu berserta ibunya akan datang ke rumah laki-laki tersebut. Jika kedatangan mereka mengenakan kain batik yang dia serahkan artinya lamaran diterima,namun jika mereka tidak mengenakannya maka berarti lamaran ditolak.
 
Batik Sidomukti. Sido berarti jadi dan mukti berarti mulia dan sejahtera. Motif-motif batik berawalan "sido" mengandung harapan agar keinginan dapat segera tercapai. Batik Sidomukti mengandung harapan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Motif batik yang memiliki harapan yang senada adalah Sidoluhur, harapan untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya.  (https://batik-tulis.com/blog/batik-sidomukti/).
 
Batik Kawung Beton. Makna batik Kawung sendiri ada beberapa, diantaranya adalah pengendalian diri yang sempurna, hati yang bersih tanpa adanya keinginan untuk sombong.(https://www.pemoeda.co.id/blog/batik-kawung)
 
Batik Parang Rusak Seling NitikParang Rusak adalahgambaran kegagahan seorang raja. Pada zaman dahulu hanya sultan yang boleh memakainya. Oleh karena itu ditengah pola batik diselingi titik-titik sehingga bisa dipakai oleh masyarakat luar. Sejak HB ke-VII batik motif parang ini sudah bisa digunakan secara umum tanpa terkecuali.
 
Batik Udan Liris. Udan artinya hujan dan Liris berarti gerimis atau hujan rintik–rintik yang merupakan simbol dari kesuburan, kesejahteraan, dan rahmat dari Tuhan. (https://infobatik.id/makna-motif-batik-udan-liris/).
 
Batik Wahyu Tumurun. Menggambarkan harapan agar mendapat petunjuk, berkah, rahmat, dan anugerah yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Harapan-harapan tersebut seperti  keberhasilan dalam meraih cita-cita, kedudukan ataupun pangkat.(https://infobatik.id/keunikan-makna-filosofi-batik-klasik-motif-wahyu-tumurun/). SAP

  Bagikan artikel ini

Dari Lokal Menuju Dunia Eksposur Museum Batik Yogyakarta  

pada hari Sabtu, 8 Desember 2018
oleh adminstube
 
 
Pelatihan Warisan Budaya: Batik sebagai warisan budaya dan dunia dari Indonesia dengan tema ‘Dari Lokal Menuju Dunia’ membuka kesempatan mahasiswa mendalami segala sesuatu yang berkaitan dengan batik, dari sejarah, filosofi, motif, makna dan bahkan praktek membatik. Hal ini penting, karena akan menjadi sebuah ironi apabila generasi muda Indonesia tidak tahu tentang batik yang sudah diakui dunia sebagai warisan budaya dari Indonesia.
 
Marianus Lejap, koordinator pelatihan menjelaskan alur pelatihan dimana peserta akan mengenal serba-serbi batik di museum Batik Yogyakarta, mendesain batik bermotif khas daerah asal peserta, praktek membatik dan memunculkan ide bisnis berbasis batik.Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta memperlengkapi mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan sehingga mahasiswa memiliki ‘added value’ melalui program-program di dalamnya. Mahasiswa dari berbagai jurusan seperti teknik, ekonomi, ilmu pemerintahan, pendidikan dan teologia tidak saja mendalami ilmunya saja tetapi juga mengenal budaya lokal Yogyakarta seperti Batik dan diharapkan bisa membuat inovasi baru dengan muatan lokal daerah asalnya”, papar Ariani Narwastujati, direktur eksekutif Stube-HEMAT.
 
Pada kesempatan kunjungan ke museum Batik Yogyakarta (1/12/2018), peserta dibagi menjadi dua kelompok kecil untuk mengeksplor museum. Kelompok satu bersama ‘museum tour guide’ yang bernama Didik mengawali dengan belajar sejarah museum yang dirintis keluarga Hadi Nugroho bersama Dewi Sukaningsih, istrinya. Pemandu mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan oleh perintis terhadap kelestarian batik karena lembaran batik berkualitas dipotong-potong demi membuat baju tanpa memikirkan maknanya. Selanjutnya peserta mengamati perlengkapan membatik seperti canting, pemanas, malam, pewarna, stempel motif dan tahapan membatik dari ‘ngeblat’ (menggambar) motif sampai ‘nglorot’ (melunturkan) lilin. Jenis-jenis batik motif khas Kraton terpajang di situ seperti Sidomukti, Parang, dan Kawung. Motif-motif lainnya adalah Udan Liris, Truntum, dan Pisang Bali. Di ruang pamer ada batik motif bledak, batik yang dibuat untuk masyarakat awam dengan motif bernuansa alam seperti dedaunan, hewan dan alam di sekitar manusia. Beberapa peserta ingin tahu motif mana yang cocok untuk anak muda. Didik menyebutkan antara lain Grompol dan Madubronto
 
Kelompok dua mengawali kunjungan dengan mempelajari batik pesisiran bersama pemandu yang bernama Reniyang menjelaskan bahwa batik jenis ini berkembang di kawasan pesisir utara Jawa, seperti Cirebon, Pekalongan, Semarang, Jepara dan Lasem. Motif batik pesisiran mendapat pengaruh dari Cina, Gujarat, Arab, Eropa dan Jepang sehingga motifnya variatif dan berwarna-warni, seperti batik Pekalongan yangdikenal kaya warna, batik Lasem yang khas dengan warna merah darah dan batik tiga negeri, yang dibuat di tiga tempat berbeda, Surakarta, Lasem dan Pekalongan.  Tak kalah menarik kisah di balik Batik pagi sore memiliki cerita ketika jaman Jepang harga kain sangat mahal yang menimbulkan ide desain batik yang memiliki dua wajah dalam selembar kain,sehingga bisa dipakai bergantian pagi dan sore. Ada peserta yang tertarik dengan batik berwarna biru putih yang terlihat anggun, tapi setelah dijelaskanternyata batik tersebut dipakai saat berduka. Tak hanya kain batik, berbagai model baju peranakan, kebaya dan porselen melengkapi pembelajaran hari itu.
 
Usai mengamati beragam koleksi museum peserta membagikan pengalaman baru mereka. Sarlota Wantaar dari Maluku Tenggara, studi Pendidikan Fisika di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui sejarah batik dan memahami bahwa kain batik memiliki pesan-pesan tertentu. Florida da Silva dari Atambua jugastudi di UST mengatakan kalau kunjungan ini mengingatkan dirinya pada masa kecil ketika neneknya mengajak menenun dan mencintai budaya lokal. “Setelah belajar di sini saya jadi tahu kalau pakai baju bermotif batik jangan asal cantik atau asal ganteng saja, karena saat memakainya harus tahu arti dan tujuan motif batik tersebut”, ungkap Florida.
 
Di akhir kunjungan, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta, Trustha mendorong peserta merancang batik motif khas daerah masing-masing dan memikirkanmaknanya. Beberapa gagasan yang muncul antara lain, motif bunga Jeumpa oleh Sinar Silalahi, dari Aceh yang kuliah di UKDW, Redy Hartanto, mahasiswa teologia STAK Marturia menyiapkan motif khas Lampung, Siger dan gajah. Selama satu minggu peserta akan merancang desain dan Sabtu, 8/12/2018 peserta akan membatik desain tersebut. Selamat berimajinasi dan menuangkan ide dalam lembaran kain menjadi batik khas daerah. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Menemukan Motif dan Filosofinya

pada hari Kamis, 29 November 2018
oleh adminstube
 
 
 
Rasa bangga memiliki Batik yang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia mendorong tim Stube-HEMAT ikut menggeluti dan mempelajarinya. Sensasi merancang motif batik pada kain sekaligus memahami makna filosofis motif tersebut bagaikan candu yang merangsang terus mengerjakan sampai selesai dalam lembaran. Semua bangga dengan keindahan dan keunikan desain motif masing-masing yang menonjolkan kearifan lokal daerah asal.
 
 

 

Motif-motif kebanggaan tersebut ada berbagai rupa, seperti motif daun dan buah markisa yang memiliki makna bertumbuh untuk meneduhkan karena tanaman ini bisa cepat bertumbuh, mampu hidup dimana saja, dan daunnya yang lebat bisa dipakai sebagai perindang dan pengayom dari terik matahari, sementara buahnya sarat dengan vitamin. Motif daun asam, yang bahasa Jawanya ‘asem’ memiliki makna membuat orang ‘kesengsem’ atau senang melihatnya. Tim yang berasal dari pulau Sumba menonjolkan motif lokal Sumba mulai dari burung Kakatua, burung Nuri, rumah adat Sumba dan Mamuli khas Sumba yang biasa dipakai masyarakat Sumba sebagai belis untuk urusan perkawinan. Burung Kakatua dan burung Nuri memiliki makna kebersamaan dan persaudaraan selain kicauannya yang indah dan unik. Sementara motif burung Rangkong jenis dada kuning dan burung Bidadari diusung oleh tim dari Halmahera. Burung Rangkong adalah burung adat yang dihormati di Halmahera Timur dan burung Bidadari adalah burung kebanggaan karena hanya ada di Halmahera Utara. Tidak ketinggalan desain motif ikan paus dan alat musik tradisional Tatong diusung oleh anggota tim dari Lembata.

 

 

 
Motif-motif yang sudah digambar dalam selembar kain ini selanjutnya didiskusikan dalamworkshop kecil yang didampingi oleh Heru Santoso, seorang praktisi batik, pada hari jumat 23/11/2018 pukul 18.00-20.00 bertempat di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta. Selain mendiskusikan hasil yang sudah dikerjakan tim, workshop ini sekaligus pembekalan awal mengenai membatik. Dalam pemaparannya Heru Santoso menjelaskan ada tiga jenis batik, yakni batik tulis, cap dan kombinasi tulis dan cap. Seiring perkembangan jaman, muncullah batik jenis baru seperti batik Sibori, Jumput, Celup, Colet, dan Ecoprint. Batik sendiri memang merupakan proses merintangi warna pada kain untuk menghasilkan motif, baik menggunakan lilin/malam, lipatan atau lilitan. “Sebetulnya di luar negeri sudah ada batik khas masing-masing, hanya saja batik dan motif dari Indonesia yang dianggap menarik dan unik dan memiliki tingkat kerumitan yang tinggi sehingga digemari oleh orang-orang dari mancanegara”, paparnya.
 
Dalam menggambar motif perlu ada yang dijadikan pola utama yang kemudian di bagian pinggiran  dihiasi dengan pola pinggiran dan sisanya ditambah isen-isen atau isian pada bagian kain yang masih kosong untuk mempercantik keseluruhan motif.  Sebagai catatan, karena tim adalah pemula, maka disarankan untuk membuat motif yang lebih besar, untuk mempermudah saat proses ‘mencanting’. Untuk motif berupa burung, ikan atau manusia perlu disamarkan dari bentuk aslinya dengan tidak menghilangkan esensi dari motif itu, atau disebut proses Stilasi, karena pada dasarnya membatik berbeda dengan melukis sehingga gambar motif tidak harus sama persis detailnya. Di situlah letak nilai estetika suatu motif.
 
Pewarnaan kain batik sendiri ada beberapa macam. Jika memakai cara celup maka bisa menggunakan Naptol tetapi jika menggunakan teknik colet dengan banyak warna maka yang dibutuhkan adalah Remasol dan kuas untuk memberikan blok pada motif.
 
 
Workshop kecil ini memberikan pencerahan kepada semua tim dalam mendesain motif dan pemilihan warna. Diharapkan proses pembuatan batik selanjutnya dapat berjalan lancar dan menghasilkan karya yang unik. Selamat berproses. (ML).

 


  Bagikan artikel ini

Mengenal Sentra Batik Tulis di Yogyakarta  

pada hari Rabu, 28 November 2018
oleh adminstube
 
 
Pecinta batik tulis tentu merasa tidak lengkap tanpa mengetahui sentra batik tulis di kota Yogyakarta. Ada beberapa lokasi sentra pembuatan batik tulis di kota ini yang sekaligus bisa dijadikan sebagai tempat belajar praktek membatik. Di sini pecinta batik bisa bertemu langsung dengan para pembatik yang terus bersemangat masih bertahan ditengah persaingan yang ada.
 
Kampung batik Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul merupakan salah satu sentra pembuatan batik tulis yang terkenal, bahkan tertua di Bantul, sejak jaman Sultan Agung, raja Kerajaan Mataraman sekitar abad ke-17. Selain tamu lokal, tamu mancanegara juga sering datang berkunjung ke tempat ini untuk belajar membatik. Giriloyo yang terletak di hamparan yang dikelilingi sawah dan hutan jati, menawarkan suasana pedesaan yang nyaman. Beberapa workshop batik menggeliat dengan industri kerajinan batik yang ditopang oleh warga setempat sebagai para perajinnya.
 
Daerah Pajangan juga merupakan sentra batik lain di Kabupaten Bantul yang bisa menjadi tujuan kunjungan para pecinta batik. Aneka kain batik dan baju batik bisa didapatkan di sini dengan harga yang pantas. Puluhan rumah di daerah ini dijadikan tempat pembuatan sekaligus galeri batik oleh warganya yang berprofesi sebagai pengrajin batik.
 
Ada pula sentra Batik Tancep di desa Sendangrejo, Ngawen, Kabupaten Gunugkidul. Batik Tancep memiliki ciri khas yaitu memiliki warna lebih biru keungu-unguan, hijau dan coklat. Sementara itu Kabupaten Kulon Progo juga memiliki batik tulis dengan motif khas yakni motif “gebleg renteng”. Motif ini diambil sebagai simbol makanan khas Kulonprogo yakni ‘gebleg’. Masyarakat maupun pemerintah sangat menghargai ciri khas ini.
 
Munculnya industri batik dengan teknik modern menimbulkan pilihan bagi konsumen membeli produk batik. Ada yang tetap menginginkan batik tradisional ada pula yang ingin membeli batik modern. Membatik dengan cara tradisional memang memerlukan proses yang lama dalam pembuatannya. Selain itu, perawatan untuk kain batik tulis memerlukan perlakuan khusus seperti tidak boleh kena sinar matahari langsung ketika menjemur dan ketika mencuci tidak boleh menggunakan detergent karena akan merusak warna, tetapi memakai ‘lerak’.
 
Saat ini promosi batik tulis dilakukan hingga ke berbagai penjuru dunia sehingga secara tidak langsung memompa semangat para pembatik untuk terus menghasilkan karya. Namun minimnya generasi muda untuk menjadi pembatik menjadi hambatan tersendiri dalam memenuhi pesanan konsumen. Sebagai generasi penerus bangsa melestarikan budaya lokal seperti batik tulis menjadi tanggung jawab bersama, apalagi batik sudah diakui sebagai warisan budaya dunia. (RPA).           

 


  Bagikan artikel ini

Batik: Menembus Batas antar Manusia

pada hari Selasa, 27 November 2018
oleh adminstube
 
 
 
Saat ini penggunaan batik sudah menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Berbagai jenis batik dipakai orang dari kalangan internal kerajaan (kraton) sampai masyarakat awam, dari pejabat sampai rakyat, dari generasi tua sampai anak-anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan dan dari lokal sampai internasional. Betapa batik bisa menjadi bahasa komunikasi antar manusia.
 
Awalnya batik merupakan pakaian eksklusif karena hanya kalangan internal kraton yang menggunakan kain batik, baik itu keluarga raja, kerabat dan pejabat di kraton. Batik sendiri memiliki motif atau simbol tertentu dan memuat pesan yang khusus juga. Penggunaan batik dengan motif tertentu akan menunjukkan eksistensi dan peran seseorang. Di lingkungan kraton Yogyakarta yang dikenal dengan batik klasiknya ada motif-motif tertentu yang hanya digunakan di lingkungan kraton saja karena merupakan suatu simbol dan bermakna khusus, misalnya motif ‘parang rusak barong’ hanya digunakan oleh raja. Motif-motif batik klasik lainnya pun memiliki simbol yang berbeda dan dikenakan di acara-acara tertentu.
 
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya masyarakat, batik semakin menyebar tidak hanya milik lingkungan internal kraton saja yang memakainya tetapi kalangan pebisnis (baca: saudagar) dan akhirnya masyarakat awam pun memakainya. Proses persebaran batik ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Para saudagar memodifikasi motif-motif batik klasik dengan motif-motif lainnya untuk diperjualbelikan dan bisa digunakan oleh masyarakat awam. Ini menjadi latar belakang munculnya istilah batik sudagaran, dari kata ‘saudagar’. Kalangan masyarakat awam pun memunculkan motif-motif tertentu yang berkaitan dengan keseharian mereka seperti satwa, bunga, dedaunan bahkan terkadang motifabstrak.
 
Interaksi dengan bangsa-bangsa lain mendorong percampuran dan akulturasi budaya setempat termasuk motif-motif batik. Pengaruh yang muncul berasal dari India, Timur Tengah, Eropa, China dan Jepang. Mereka berasal dari berbagai bangsa dengan budayanya masing-masing menuju pesisir utara Jawa. Mereka berdagang dan akhirnya menetap di daerah tersebut. Keunikan batik mendorong mereka menggunakan batik dan memodifikasi dengan memasukkan simbol-simbol budaya mereka dalam motif kain batik klasik. Akhirnya dari generasi anak dan cucu mereka muncul istilah batik peranakan. Batik ini merupakan hasil modifikasi motif-motif klasik dengan dengan simbol atau gambar yang khas dari budaya mereka. Dari sisi warna mulai menggunakan berbagai warna dan cenderung cerah dan terkadang gradasi, kemudian dari sisi motif, ada berbagai bentuk pengaruh budaya seperti India dengan gambar ‘meru’ atau gunung, Eropa dengan gambar buket bunga, Timur Tengah muncul dalam gambar figuratif, Cina dengan gambar burung Hong, dan Jepang dengan gambar bunga sakura. Batik peranakan berkembang sebagian besar berada di kawasan pesisir utara Jawa karena berada di kawasan pelabuhan dan perdagangan, seperti Cirebon, Pekalongan, Semarang, Kudus, Jepara dan Lasem.
 
Perkembangan teknologi saat ini menunjang promosi batik tidak lagi lokal tetapi internasional. Semakin banyak orang mengenal batik semakin ia ingin mendalami pesan-pesan di dalamnya. Meskipun ratusan tahun lalu ketika terjadi kolonisasi di Jawa orang-orang Belanda membawa batik dari Jawa ke Belanda untuk dipamerkan. Ternyata batik-batik ini memukau orang-orang Eropa karena unik dan eksotis.
 
Berbagai hal ini menunjukkan bahwa batik memiliki keunikan motif dan pesan yang terkandung di dalamnya, sekaligus mampu beradaptasi sesuai dengan perkembangan masyarakat. Ke depannya, suatu keniscayaan batik bisa menjadi bahasa komunikasi antar manusia dengan berbagai latar belakangnya. (TRU).
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 26 November 2018
oleh adminstube

 

Batik Tourism:
 
Peluang Bisnis Potensial
 
 
Saat ini pemakai batik bukan dari kalangan dewasa saja, melainkan sudah merambah ke kalangan anak-anak hingga remaja. Tentu ini menjadi peluang besar bagi siapa saja, khususnya kalangan anak muda untuk melakukan usaha batik, bisa dimulai dari skala kecil secara bertahap sesuai modal yang dimiliki. Sisi bisnis yang bisa dikembangkan mulai dari pembuatan sampai penjualan kain batik, konveksi berbahan batik dan motifnya, kerajinan tangan atau pun souvenir.
 
Bisnis wisata batik (batik tourism) bisa menjadi alternatif untudikembangkan sebagai pariwisata minat khusus. Ada pun yang bisa dilakukan seperti mengunjungi museum batik yang ada di Yogyakarta, praktek membuat batik, mengunjungi sentra industri batik, dan bertemu dengan para seniman batik di Yogyakarta. Wisatawan lokal maupun internasional yang penasaran dengan batik bisa belajar membatik,mengenal motif dan makna yang ada dalam kain batik. Kegiatan membatik tentu menjadi pengalaman baru bagimereka yang tertarik mengenal dunia batik. Beberapa kawasan sentra batik seperti batik tulis di Giriloyo-Imogiri dan Pajangan-Bantul, batik jumputdi kampung Tahunan-Yogyakarta, atau batik topeng diBobung-Gunungkidul bisa menjadi destinasi kunjungan.Ada pula konsep bisnis batik yang berbeda dan unik seperti inovasi motif-motif lokal daerah di Indonesia diwujudkan dengan teknik batik, dan ini perlu pengetahuan seni dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki karakterisitik budaya yang khas dan unik mulai dari motif, makna, penggunaan hingga proses pembuatannya.
 
Public figure yang bangga mengenakan batik seperti tokoh dunia Nelson Mandela, presiden Afrika Selatan periode 1994-1999, yang berkenalan dengan batik saat mengunjungi Indonesia pertama kali di tahun 1990 dan ia menyukainya. Terbukti, ia selalu mengenakan batik saat bertemu dengan tokoh-tokoh besar lainnya. Bahkan dari kegemarannya berbatik masyarakat Afrika Selatan sampai menamai batik sebagai ‘Mandela's Shirt’ atau ‘bajunya Mandela’ meskipun Mandela telah meninggal pada 5 Desember 2013. Berikutnya, Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia yang jugaboss Microsoftmemakai batik tatkala memberi kuliah umum di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, 9 Mei 2008. Ia memakai batik motif Pisang Bali Manggar saat bertemu dengan anggota kerajaan Mangkunegaran Solo.http://rona.metrotvnews.com/gaya/lKY7e5Jb-10-seleb-tokoh-dunia-pakai-batik-indonesia
 
 
Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Apalagi pemerintah sudah mengesahkan hari batik se-Indonesia sebagai cara mempertahankan dan mengembangkan perbatikan Indonesia. Inilah potensi yang bisa ditangkap dan membuka ide kreatif menciptakan peluang bisnis dalam dunia batik. (ELZ).

  Bagikan artikel ini

Batik Klasik dan Sentuhan Kontemporer

pada hari Selasa, 13 November 2018
oleh adminstube
 
 
Seiring perkembangan seni membatik, banyak hal baru bermunculan seperti motif dan cara pembuatannya yangdapat kita jumpai saat ini. Salah satunya yaitu teknik batik jumputan yang ramai dipraktekkan di Indonesia. Sekalipun banyak bermunculan motif batik kontemporer, batik klasik juga masih tetap memiliki tempat di hati para penggemarnya.

Batik klasik sendiri merupakan batik yang mempunyai nilai seni yang tinggi, hal ini dikarenakan pengerjaan batik ini sangat rumit dan juga memerlukan waktu yang cukup lama. Batik klasik mempunyai pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif, seperti motif kawung, parang, nitik, tuntum, ceplok, tambal, dan lain sebagainya. Jenis kain yang digunakan dalam pembuatan batik klasik juga tidak sembarangan kain, seperti kain katun putih dengan kualitas halus dan juga kain sutera putih (https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120719194547AAlnZJ8&guccounter=1).
 
Untuk mengetahui dan belajar mengenai batik klasik dan perpaduan batik kontemporer yang banyak bermunculan saat ini, Pada Senin 12 November 2018 kami berhasil mewawancarai salah satu pelaku batik, R.M. Kumarhadi Suryoputro,S.(78 thn) di kediamannya. Romo Kumar, demikian sapaan akrabnya,adalah cucu dari Sultan Hamengku Buwono ke VIII. Saat ini beliau menjabat sebagai staf keuangan kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau mengklaim dirinya sebagai seniman batik. Hasil karyanya dijual di toko Kumar batik, yang berlokasi di sekitaran kraton. Sejauh ini beliau hanya membuat pola dan motif batik, putranya yang mengelola toko tersebut dengan brand motif batik tulis limited edition.

Apakah Romo Kumar merasa tersaingi dengan adanyamodel-model batik baru yang bermunculan saat ini?Ternyata beliau sama sekali tidak merasa tersaingi karena batik adalah budaya dan membutuhkan seni untuk bisa menghasilkan sebuah karya. Romo Kumar juga tidak fokus pada motif baku zaman dahulu tetapijuga padu padan dengan model batik kontemporer. Hal ini terlihat jelas dari beberapa karya yang beliautunjukkan kepada kami.
 
Seperti yang kita ketahui membatik berarti menggambar pada kain dan pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam/lilin/kandil, zat padat yang diproduksi secara alami(https://id.wikipedia.org/wiki/Batik). Jika jumputan hanya menggunakan teknik celup apakah disebut batik? Romo Kumar menjawab tetap bisa disebut batik karena menggabungkan teknik batik dengan malam. Artinya membatik memang tak lepas dari model dan tekniknya.
 
Romo Kumar berpesan, ”Batik itu bukan hanya milik orang Jawa, siapa saja boleh membatik dengan bebas dan diusahakan bisa memunculkan motif lokal daerah masing-masing. Sebab batik adalah warisan budaya nusantara yang harus kita lestarikan.” 
 
Hasil karya batik tulis yang dihasilkan dari tangannya dijual dengankisaran harga dua ratus lima puluh ribu - sampai jutaan rupiah per lembar kain. Hasil karya batik yang dihasilkan tidak akan sama dengan milik orang lain karena dia sendiri yang menggambarnya dengan perpaduan motif batik klasik dan modern. Menarik bukanLebih lanjut ingin tahu serba-serbi batik, silahkan pantau terus web/blog Stube HEMAT medio November-Desember 2018terkait dengan Batik. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 12 November 2018
oleh adminstube

 

Batik Tulis:
Tentang Rasa dan
Kreativitas

 

 
 
Pembuatan batik tulis mengharuskan untuk teliti dan sabar. Menyelesaikan proses dari tahap ke tahap dengan mengikuti prosedur yang ada. Tahapan-tahapan tersebutmenjadikan suatu keharusan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Tak lupa melibatakan rasa dan kreatifitas untuk menghasilkan seni yang bagus.
 
Tulisan ini lebih menfokuskan kepada alat dan bahan yang digunakan. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam batik tulis adalah kain, canting, lilin, saringan, pewarna, gawangan, ring/midangan, pensil, penggaris, cawuk (sejenis seng tumpul untuk mengerok lilin) dan gawangan (untuk meletakan batik).
 
Canting merupakan sebuah alat yang digunakan mengambil lilin cair di dalam wadah untuk membuat motif pada kain. Alat ini memiliki tiga bagian utama yaitu nyamplung, cucuk dan gagang. Nyamplung merupakan tempat menampung cairan malam (lilin) yang terbuat dari tembaga. Cucuk merupakan tempat keluarnya malam, dan Gagang merupakan tangkai canting yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu. Tidak hanya sekedar sebagai alat pembuat motif, canting juga memiliki filososi pada bagian-bagiannya.
 
Tiga bagian utama dari canting ini memiliki arti.Gagangmenggambarkan pondasi yang kuat berupa keimanan kepada Tuhaan Yang Maha Esa, kemudian Nyamplung menandakan kebesaran hati dalam menampung semua permasalahan kehidupan, dan Cucuk sendiri melambangkan istilah sedikit bicara banyak bekerja, dimana cucuk ini berukuran kecil dan harus sangat hati–hati jika ingin mengeluarkan malam dari cucuk ini.
 
Menjadi poin penting jika seseorang memahami tentang motif yang akan dibuat. Karena motif memiliki beribu arti dan bentuk. Torehan malam/lilin yang diusapkan melalui canting memiliki banyak bentuk. Canting dibedakan berbagai macam, yaitu:
 
Berdasarkan fungsinya
Canting Reng, Biasanya canting reng digunakan untuk membuat pola awal. Batikan awal hasil mencontoh pola disebut polan. Canting reng bercucuk tunggal.
Canting Isen, adalah canting yang digunakan untuk mengisi bidang batik, maupun mengisi pola utama (polan). Canting isen biasanya bercucuk kecil baik tunggal maupun rangkap. Canting isen memiliki ukuran kecil (0.2 - 0.4) mm, dan sedang (0.5 - 0.7) mm
Canting Blok, adalah canting yang biasanya digunakan untuk ngeblok atau nembok. Biasanya memiliki diameter cucuk yang lebar sehingga malam yang keluar banyak dan dapat mempercepat proses pengeblokan malam. Cantik blok besar 0.8 - 1 mm
 
Berdasarkan banyaknya Cucuk (ujung pipa)
Canting Cecekan bercucuk satu, biasanya memiliki ujung cucuk yang kecil. Canting ini digunakan untuk membuat cecek (titik). Selain untuk membuat cecek, canting ini juga digunakan untuk membuat garis-garis yang kecil.
Canting Loron, berasal dari bahasa jawa loro yang artinya dua. Canting ini memiliki mata cucuk dua yang bentuknya berjajar atas dan bawah. Canting ini digunakan untuk membuat garis rangkap. Di beberapa daerah, canting loron digunakan untuk membuat pinggiran (pola di ujung kain)
Canting Telon, berasal dari bahasa jawa telu yang artinya tiga. Canting ini memiliki susunan bentuk mata cucuk segitiga sama sisi. Canting ini biasanya digunakan untuk membuat isen.
Canting Prapat, berasal dari bahasa jawa papat. Canting ini memiliki empat mata cucuk yang membentuk bujursangkar. Canting ini biasanya digunakan sebagai isen.
Canting Liman, canting bercucuk lima. Canting ini memiliki bentung bujur sangkar dengan satu titik di tengah. Biasa digunakan sebagai isen juga.
Canting byok, adalah canting yang memiliki ujung bercucuk tujuh atau lebih dari tujuh. Canting byok biasanya memiliki jumlah cucuk yang ganjil.
Canting Galaran/Canting Renteng, biasanya memiliki ujung cucuk berjumlah genap, membujur dari atas ke bawah. Canting galaran atau renteng selalu bercucuk genap ; empat buah cucuk atau lebih : biasanya paling banyak enam buah, tersusun dari bawah ke atas.
Warna menjadi salah satu poin keindahan sebuah batik. Warna yang dipilih juga harus mengandung estetika yang tinggi. Disekitar kita banyak sekali tumbuhan yang memiliki pigmen warna yang cocok digunakan sebagai pewarna pakaian tanpa harus merusak alam. Seperti, daun jati dapat menghasilkan warna merah kecokelatan pada batik, daun jambu bijimenghasilkan warna kuning sampai warna kecoklatan pada kainindigo/ tarum (warna biru), kulit secang (warna merah), daun teh (warna cokelat), bawang merah (jingga kecokelatan), daun andong (hijau), kulit buah manggis (merah keunguan, merah, dan juga biru), kunyit (kuning) dan lain-lain.
 
Lilin/malam yang digunakan untuk membuat motif pada kain berbeda dengan lilin biasa. Lilin batik ini pada prinsipnya tidak akan habis (hilang) ketika digunakan untuk membuat batik dan dapat diambil kembali usai proses pembuatan batik berakhir. Berdasarkan jenis dan kegunaannya lilin atau malam batik sendiri dapat dibagi menjadi beberapa varian, di antaranya malam klowong, malam tembokan, dan juga malam biron.
Lilin/malam tembokan digunakan sebagai tembok yang menjaga motif agar dapat dirintangi secara sempurna.
Malam klowong digunakan para perajin untuk menutupi ragam hias dan desain batik yang dilakukan secara rengreng serta nerusi (memblok pada dua sisi permukaan kain). Motif yang akan diblok dengan malam klowong biasanya hanya berupa isen-isen atau pengias dan ornament kain batik.
Malam Tutupan, berfungsi menutupi warna motif tertentu yang ingin dipertahankan pada kain batik setelah melalui proses dicelup atau dicolet. Biasanya malam jenis ini digunakan pada kain batik yang menggunakan banyak warna.
 
Membatik bukan hanya sebuah proses membuat motif pada kain, lebih dari itu batik tulis memiliki nilai-nilai yang tersirat dalam setiap proses membatik. Dengan demikian batik yang merupakan warisan budaya adiluhung tidak hanya sebatas karya seni saja tetapi memiliki makna. (ITM).

 


  Bagikan artikel ini

Melirik Motif Lokal Untuk Batik

pada hari Sabtu, 10 November 2018
oleh adminstube
 
 
Setiap pulau di Indonesia mempunyai ciri khas kekayaan budaya dan seni masing-masing. Hal ini menjadi potensi luar biasa untuk berkreasi menciptakan motif-motif batik baru atau pun mengangkat motif lokal dari pulau-pulau yang ada, terlebih UNESCO telah mengangkat batik sebagai warisan dunia di tahun 2009.

Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk terus berkarya dengan batik, terutama kreasi batik motif lokal, meskipun tidak semua daerah membuat batik. Daerah NTT misalnya, tidak mengenal batik sebagai karya seni. Masyarakat setempat lebih mengenal dan membuat kain maupun sarung tenun ikat dan songket dengan kekayaan motifnya sendiri. Namun demikian, kekayaan lokal berupa motif-motif menjadi aset yang bisa dikembangkan, khususnya dengan teknik batik, karena batik telah berkembang pesat seperti teknologi yang menyebar luas.

Motif-motif lokal yang bisa diangkat menjadi sebuah motif batik misalnya; rumah adat, flora, fauna, orang, tarian, lambang atau pun benda-benda yang mempunyai filosofi dan berarti untuk kebaikan. Beberapa contoh motif-motif lokal yang diangkat dari berbagai daerah Indonesia bagian timur:
 
 
Manggarai, Nusa Tenggara Timur: motif Ranggang atau laba-laba sebagai simbol kejujuran dan kerja keras, dan menegaskan ikatan antara rumah dan kebun.
Ende Lio, Nusa Tenggara Timur: motif gajah yang dipercaya masyarakat lokal sebagai hewan kesayangan para dewa.
Sikka, Maumere, Nusa tenggara Timur: motif Okukirei yang menggambarkan kehidupan nelayan dan hasil laut, berdasarkan kisah nenek moyang penduduk Sikka sebagai pelaut ulung.
Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur: motif udang yang diangkat karena memiliki kebiasaan berjalan beriring-iringan yang melambangkan kawan sepenanggungan. 

 
Papua: motif Cenderawasih  dan alat music Tifa,  menonjolkan kecantikan burung Cenderawasih dan keindahan musik dengan alat Tifa, yang keduanya berwarna keemasan.
Sentani, Papua: motif alur batang kayu yang melingkar-lingkar yang menyimpan makna kekayaan hayati yang dimiliki daerah ini.
Toraja, Sulawesi Selatan: motif kerbau yang melambangkan kebesaran, atau burung Belibis yang menggambarkan kejayaan.
 
Maluku Utara: motif bunga cengkeh sebagai lambang keteguhan dalam memegang prinsip.

 

Perlu diakui bahwa motif-motif lokal Indonesia terlalu banyak untuk dituangkan satu persatu dalam tulisan, juga sangat disayangkan jika terlewat satu pun keindahannya. Selamat berkreasi dengan motif lokal Indonesia, supaya batik lebih mengindonesia. (SIP).

 


  Bagikan artikel ini

Batik Indonesia Dari Masa Ke Masa

pada hari Kamis, 8 November 2018
oleh adminstube
 
 
 
Sudah tahu arti kata batik? Kata batik berasal dari bahasa Jawa, merupakan gabungan dari kata ‘amba’ yang artinya ‘menulis’ dan ‘titik’ yang artinya menitikan malam/lilin dengan menggunakan canting. Sehingga dapat dikatakan bahwa makna batik adalah sebuah proses pembuatan corak kain dengan cara menitikan malam/lilin.
 
G.P. Rouffaer salah satu penulis buku “De Eerste Schipvaart Der Netherland  Naar Oost Indie Onder Cornelis De Houtman (1595-1597)”, berpendapat bahwa teknik membatik kemungkinan besar berasal dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7. Ia juga berpendapat bahwa pola Gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur, dan pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting sehingga ia berkesimpulan bahwa canting juga ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Hal lain yang menunjukan bahwa pola batik yang rumit dan hanya dapat dibuat dengan canting sudah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 adalah ditemukannya ukiran kain yang menyerupai pola batik yang dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan Budha dari Jawa Timur abad ke-13.
 
Batik tidak hanya tercatat dalam literatur Indonesia tetapi juga dalam literatur Eropa. Teknik batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java, London, 1817 tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Pada 1873 saudagar Belanda yang bernama Van Rijekevorsel, memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam pada awal abad ke-19. Mulai saat itu batik semakin dikenal di luar Indonesia. Bahkan sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
 
Pada masa lampau, keterampilan membatik menjadi mata pencaharian para perempuan. Namun sejak era revolusi industri, batik jenis baru muncul, yakni batik cap dan batik cetak,  yang memberikan kesempatan laki-laki masuk ke bidang membatik. Beda halnya dengan masyarakat di pesisir, pekerjaan membatik tidak hanya digeluti perempuan tetapi juga laki-laki. Tradisi membatik memang merupakan tradisi turun temurun dari masyarakat Jawa. Pada waktu lampau motif batik dapat menentukan status sosial penggunanya. Sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta.
 
Dengan pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya dan ditetapkannya Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober, semakin menempatkan batik tak hanya budaya tapi jati diri dan indentitas bangsa Indonesia. (MLL).
 

 

 

  Bagikan artikel ini

Batik: Antara Teknik & Motif

pada hari Rabu, 7 November 2018
oleh adminstube
 
 
Apakah anda memiliki batik dan pernah mengenakannya? Ya, minimal kita punya satu kemeja batik yang kita pakai baik untuk acara semi formal atau pun formal. Batik semakin berkembang dan semakin digemari masyarakat Indonesia, terlebih setelah mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia dan pemeritah menetapkan 2 Oktober sebagai hari batik nasional.
 
Saat pertama kali mendengar kata batik, apa yang ada dalam benak kita? Motifnyakah, jenis kain, atau teknik pengerjaannya? Pada umumnya orang awam memahami batik berdasarkan motif kain, bukan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik adalah “kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.” Berdasarkan pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa sebuah kain disebut batik ketika ada proses penggunaan “malam” atau lilin dalam pewarnaannya untuk merintangi terjadinya percampuran warna pada variasi warna yang diinginkan sesuai pola yang sudah digambar. Jadi batik yang kita kenakan sehari-hari ternyata belum tentu batik ya teman-teman, kemungkinan besar hanya kain bermotif batik. Mengapa disebut motif batik? Karena motif-motif itu banyak dipakai pada kain dengan proses batik.
 
Lalu bagaimana dengan klaim batik untuk jumput dan sibori? Jumput dan shibori tidak memakai lilin untuk menghalangi warna, dengan demikian apakah bisa dikatakan batik? Mengacu pada definisi dalam KBBI di atas, maka jumput dan sibori tidak bisa dikatakan batik, karena tidak menggunakan lilin dalam prosesnya. Awam mengklaimnya batik karena melihat proses penghalangan warna yang dilakukan untuk mendapatkan motif-motifnya, seperti ikatan, lipatan, atau pun lilitan. Sekarang, apakah sudah bisa membedakan mana yang dikatakan batik dan bukan batik?
 
Batik tidak hanya dibuat pada kain tetapi juga bisa dengan menggunakan media lain misalnya kayu. Ukiran patung kayu yang dihiasi motif-motif unik dan khas dengan proses pewarnaan menggunakan malam atau lilin, juga bisa dikatakan hasil dari membatik. Ukiran batik pada patung bisa ditemui di Museum Batik Yogyakarta Jl.Dr. Sutomo 13A Yogyakarta. Satu referensi musem batik yang lain adalah Ullen Sentalu yang berlokasi di Jl. Boyong, Kaliurang Barat, Sleman. (MLJ).

  Bagikan artikel ini

Batik: Menyingkap Makna Menangkap Asa Museum Batik Yogyakarta dan Ullen Sentalu

pada hari Senin, 5 November 2018
oleh adminstube
 

Batik menjadi satu topik pelatihan di Stube-HEMAT Yogyakarta, Warisan Budaya: Batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, terlebih batik telah ditetapkan sebagai salah satu karya agung warisan budaya lisan dan nonbendawi manusia oleh UNESCO pada bulan Oktober 2009. Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang warisan budaya takbenda dan mendorong anak muda ikut melestarikan budaya dan mengenal tokoh-tokoh yang memelihara warisan budaya tersebut.
 
Kain batik bermotif Kawung,Truntum, dan Sidomukti terpajang menyambut pengunjung di Museum Batik yang terletak di Jalan Sutomo no. 13 A, Yogyakarta. Ini adalah museum batik pertama di Indonesia yang memiliki ribuan koleksi kain batik. Museum ini didirikan atas inisiatif keluarga Hadi Nugroho dan R. Ng. Jumima Dewi Sukaningsih pada tahun 1977, karena kecintaannya terhadap batik sekaligus keprihatinan atas potongan-potongan batik sebagai bahan pakaian tanpa memperhatikan makna dari motifnya. Memasuki museum ini, pengunjung dibawa ke suasana masa lampau karena berbagai perabotan dan dekorasi foto kuno, serta koleksi kain-kain batik berumur puluhan bahkan ratusan tahun yang terpajang di sekeliling ruangan, tak ketingggalan  juga berbagai canting dengan fungsinya masing-masing. 

Canting adalah alat membatik yang berupa cawan tembaga untuk lilin cair dan kayu sebagai pegangan. Bahan-bahan lain yang dipakai membuat batik adalah ‘malam’ atau parafin, ‘gondorukem’ (getah damar), sarang tawon dan bahan lainnya. Kata ‘Batik’ bukan merujuk pada kain dengan motif tertentu melainkan sebuah proses menciptakan suatu karya menggunakan malam atau lilin dan pewarnaan. Proses membatik sendiri meliputi Nglowong, menuang lilin pada pola di kain; Nembok, menuang lilin pada gambar pola untuk melindungi warna dasar kain; Medel, memberi warna tahap pertama, biasanya warna gelap;Ngerok, menghilangkan lilin dibagian tertentu menggunakan ‘cawuk’ (alat kerok); Mbironi, melekatkan malam pada bagian tertentu untuk melindungi kain saat pewarnaan tahap kedua; Nyoga, mewarnai kain dengan warna soga atau coklat menggunakan pewarna alami kulit kayu soga; dan Nglorot, membersihkan seluruh lilin di kain dengan merebusnya.

Motif batik memiliki pesan sesuai latar belakang pembuatan, bahkan memuat doa dan harapan. Motif Kawung misalnyamemiliki pesan bahwa sebagai manusia perlu mengingat asal usulnya dan selalu memperbaiki hidup. Awalnya motif ini hanya boleh dipakai oleh raja saja. Motif Truntum, biasanya dipakai oleh orang tua mempelai saat pernikahan sebagai simbol ‘menuntun’ kedua mempelai memasukkehidupan rumah tangga. Motif Sidomukti dipakai saat pernikahan karena memuat doa agar kehidupan keluarga mencapai kebahagiaan. Selain batik Yogyakarta dan Surakarta, ada batik Pesisiran yang berkembang di Cirebon, Pekalongan, Lasem dan Demak dengan warna-warna cerahnya. Motif batik pesisiran lebih variatif karena mendapat pengaruh budaya Cina, India, Eropa, Arab, dan Jepang.
 
Berikutnya adalah Museum Ullen Sentalu di Kaliurang,sebuah museum yang memadukan alam dan pelestarian warisan budaya Jawa Mataraman. Museum ini dirintis oleh keluarga Haryono sejak 1994 dan 1 Maret 1997 dibuka resmiuntuk umum. ‘Ullen Sentalu’ adalah akronim ULating bLENcong SEjatiNeTAtaraning LUmaku yang berarti pancaran cahaya yang menerangi perjalanan kehidupan. Blencong adalah alat penerang di pentas wayang kulit. Arsitektur museum ini unik karena mengkombinasikan bangunan Indis dan modern, sebagian berada di bawah permukaan tanah dan sebagian lagi mengikuti konturnya berupa lorong berliku dan lantai batu. Keunikan lain di Ullen Sentalu adalah tidak ada penjelasan teks dari setiap benda yang dipajang. Paparan langsung dari guide-lah menjadi jembatan interaksi antara benda warisan budaya masa lalu dengan pengunjung untuk menyimak peristiwa masa lampau dan berefleksi di masa kini.


Ruang Batik museum ini menyimpan koleksi batik kuno khas Yogyakarta dengan motif sederhana, berwarna dasar putih, coklat dan warna gelap, sementara koleksi batik Surakarta berwarna kekuningan denganmotif yang lebih detil. Sungguh, warisan budaya masa lampau jika dikemas secara unik dengan memasukkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesatuan dengan alam mampu membangkitkan rasa kagum akan mahakarya manusia sekaligus rasa optimisme memperjuangkan nilai-nilai kehidupan. Ini saatnya menyingkap makna warisan budaya masa lampau dan menangkap pesan-pesan optimis untuk hidup di masa kini. (TRU).



  Bagikan artikel ini

  Taat Agama Bergaul Harmonis Sopan Berkomunikasi (Forum Dialog dan Literasi Media)          

pada hari Rabu, 31 Oktober 2018
oleh adminstube
 
Mengikuti forum dialog dan literasi yang diadakan oleh KOMINFO bekerja sama dengan PGI wilayah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober 2018, di Hotel Tentrem Yogyakarta membawa tambahan wawasan dan pengalaman tersendiri. Mengusung tema ‘Taat Agama, Bergaul Harmonis, Sopan Berkomunikasi’ forum ini dihadiri kurang lebih 70 utusan gereja dan mahasiswa-mahasiswi kristiani.

 
Dalam sambutannya, ketua umum PGI Yogyakarta Pdt. Bambang Sumbodo, S,Th., M.Min menyebutkan bahwa perkembangan teknologi melahirkan budaya baru dan bukan  hanya menjadi kebutuhan saja, teknologi sudah menjadi bagian hidup manusia.
 
Sesi pertama dipandu oleh Nugroho Agung (Yakum Pusat) selaku moderator, mendampingi nara sumber Fariza M. Irawady, Ketua Tim Media Kementerian Polhukam, yang menyampaikan topik kesatuan bangsa. Narasumber memaparkan bahwa Indonesia rentan akan peperangan dan kehancuran karena banyaknya kelompok etnik, suku bangsa dan bahasa. Hasil laporan dari berbagai lembaga dunia, seperrti Price Waterhouse coopers menyampaikan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi lima besar dalam perekonomian, sementara Gallup Global Law and Order menyampikan bahwa Indonesia merupakan 10 negara teraman dari 144 negara. Sayangnya 43% persen masyarakat Indonesia merespon keberhasilan Indonesia dengan negatif. Di akhir sesi nara sumber mengajak peserta untuk tidak menyebarkan hoax maupun ujuran kebencian demi menjaga kesatuan bangsa.
 

 

 

Pembicara kedua adalah Pdt. Retno Ratih dari GKI Manahan mengawali dengan menyampaikan data penggunaan internet di Indonesia saat ini. Menurut hasilHootsuite, pengguna aktif sosial media sebesar 120 juta dan dalam satu hari rata-rata pengguna menghabiskan 8 jam 51 menit menggunakan internet. Fungsi media pun bergeser, yang seharusnya sebagai alat penyampai informasi berubah menjadi media provokasi, yang seharusnya sosialisasi menjadi media politik. Ajaran Kristen mengajarkan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Prinsip-prinsip komunikasi dalam iman Kristen antara lain; bingkai kesataraan dan perdamaian, partisipatoris, memihak pembebasan, membangun kebudayaan dan keberagamaan, profetik dan menantang kepalsuan.
 
Dr. Hendrasmo, pembicara ketiga adalah tenaga ahli Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik menyampaikanhoax atau hatespeech masih menjadi salah satu agenda utama di direktorat jendral informasi dan komunikasi. Menurut data Kominfo pada tahun 2017 terdapat 32 ribu aduan dengan kategori SARA, hoax, pornografi, radikalisme/terorisme dan penipuan online. Dalam 4 tahun terakhir Kominfo sudah memblokir kurang lebih 1 juta situs negatif.  Dalam sesi tanya jawab, Hendrasmo menyampaikan bahwa Kominfo sendiri belum memilik aplikasi untuk memberantas hoax, tapi Kominfo bekerjasama dengan kelompok Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Ketika masyarakat merasa ragu terhadap suatu berita, mereka dapat mengecek kebenarannya melalui aplikasi tersebut atau melaporkan situs tersebut kepada Kominfo. Memang diakui bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan tetap berharap bahwa masyarakat berperan aktif dan membantu.

Sesi lanjutan setelah tanya jawab adalah membuat produk konten yang disampaikan oleh Dwitri Waluyo, dengan memberikan tips-tips bagaimana membuat suatu pemberitaan yang benar. Konten harus bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda tanpa menimbulkan gesekan dengan memperhatikan hipnoratingyaitu pemilihan kata/diksi, besar kecilnya huruf, dan mengandung 5W + 1H. Peserta diminta untuk membuat produk konten berupa meme dengan mengkreasikan ide melalui gambar dan tulisan berupa ajakan untuk tidak menyebarkan hoax danhatespeech. Semua peserta berpartisipasi dalam pembuatan konten tersebut yang selanjutnya dipilih tiga peserta terbaik. Sesi ini menjadi bagian akhir dari forum dialog ini. (ITM).




  Bagikan artikel ini

Mengenal Wildlife Rescue Center (WRC)

pada hari Rabu, 24 Oktober 2018
oleh adminstube
 

Wildlife Rescue Center (WRC) adalah sebuah project di bawah Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta yang memiliki aktivitas utama merehabilitasi dan merawat satwa-satwa liar hasil sitaan negara. Satwa yang dirawat tersebut adalah satwa yang secara hukum tidak boleh dipelihara, diperdagangkan baik secara utuh ataupun mati. Wildlife Rescue Center (WRC) menempati lokasi dengan luas sekitar 14 hektar yang terletak di Jl. Pengasih - Nanggulan, Derwelo, Sendangsari, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.
 
Pengetahuan ini diperoleh para siswa klas IX SMPK Tirtamarta-BPK Penabur Pondok Indah Jakarta yang melakukan kunjungan ke tempat ini sebagai rangkaian studi sosial di Yogyakarta dengan beberapa mahasiswa Stube-HEMAT sebagai pendampingnya. Kunjungan ini diharapkan membangun kepedulian siswa terhadap kelestarian alam, khususnya satwa dan tanaman.
 
Dr. Arini, salah satu dokter hewan yang mengurus dan merawat satwa-satwa yang ada di tempat tersebut memperkenalkan latar belakang didirikannya WRC dan menceritakan kepada siswa-siswi bagaimana cara menangani dan merawat satwa-satwa liar yang ada. Namun pada saat kunjungan ini satwa-satwa liar yang dipelihara dalam karantina tidak dapat dilihat atau dikunjungi oleh manusia karena alasan tertentu seperti penularan sakit-penyakit. Setelah itu siswa-siswi diajak berkeliling dan bermain fun games dalam 2 kelompok. Permainan ini bertujuan supaya para siswa mengenal lebih detil berbagai tanaman dan pepohonan serta macam-macam serangga yang mereka temui. Di akhir kunjungan mereka mempresentasikan apa yang sudah mereka pelajari.

 

Para siswa pun sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Mengenal berbagai macam pepohonan dan jenis-jenis serangga yang mereka temui merupakan hal baru bagi mereka. Lebih mengejutkan lagi ketika mereka diperlihatkan seekor buaya besar di dalam kandang. Ada yang senang ada juga yang berteriak histeris karena ketakutan. Dan ini adalah sesuatu yang menarik bagi mereka karena sebagian dari mereka baru pertama kali melihat buaya secara langsung. Dengan kegiatan Studi Sosial ini, diharapkan siswa-siswi SMPK Tirtamarta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta semakin mengenal, peduli dan cinta terhadap lingkungan alam dan satwa yang ada di dalamnya. (ELZ) 

  Bagikan artikel ini

Menginspirasi Dalam Keterbatasan

pada hari Rabu, 24 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
ASIAN Para Games yang diselenggarakan di Indonesia sudah berakhir dengan capaian para atlet yang luar biasa melampaui target yang ditetapkan di awal. Para atlet yang memiliki kekurangan secara fisik mampu menginspirasi banyak orang lewat prestasi yang membanggakan untuk Indonesia. Semangat hidup dan pantang menyerah ini juga ditemui para siswa dan guru SMPK Tirta Marta-BPK Penabur, Pondok Indah, Jakarta di Sekolah Luar Biasa Ganda-AB Helen Keller, saat berkunjung dan anjang kasih di sana pada tanggal 10 Oktober 2018.
 
Sekolah yang didirikan oleh Yayasan Dena-Upakara ini meneruskan karya misionaris Belanda sejak tahun 1938 di Wonosobo. Sejak tahun 1996, yayasan ini telah mengembangkan pendidikan untuk penyandang tunaganda meliputi tunarungu-netra, tunarungu-low vision dan tunarungu-wicara dengan nama SLB/G-AB Helen Keller Indonesia bertempat di Yogyakarta(http://www.slbhki-jogjakarta.com/tentang-kami).
 
Nama Helen Keller sendiri diambil dari nama seseorang yang lahir normal tetapi pada usia 19 bulan mengalami buta dan tuli dariTuscumbiaAlabama, negara Bagian Amerika pada 1880. Karena susah diajar sampai meginjak usia 7 tahun, Helen Keller diajar oleh seorang guru privat yang bernama Anne Sullivan. Dengan dorongan Anne dan semangat yang dimiliki, Hellen menjadi orang tuna rungu dan tuna netra pertama yang lulus dari Universitas Radcliffe College, cabang dari Universitas Harvard khusus wanita(https://id.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller).Semangat inilah yang ditumbuhkan dan dibangun di SLB/G-AB Helen Keller.
 
Kunjungan ke Helen Keller ini merupakan rangkaian studi sosial dengan tujuan mengenalkan kehidupan yang berbeda jauh dari kehidupan mereka dengan fisik yang lengkap dan kelimpahan materi. Program ini diharapkan membantu menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian siswa pada sesama. Ibu Rina selaku kepala sekolah Helen Keller dengan semangat menjelaskan program dan kurikulum serta mengajak berkeliling untuk melihat aktivitas dari siswa-siswi di sana yang berjumlah kurang lebih 33 anak. Diakui pihak sekolah bahwa mereka kekurangan tenaga pengajar. Suster Yosefa salah satu guru di sekolah ini menyampaikan bahwa mereka berusaha semaksimalmungkin untuk mengajari anak-anak, meskipun idealnya satu guru menghadapi satu murid, namun karena guru mereka terbatas maka satu guru harus mengajari dua sampai tiga bahkan empat orang anak.

Dalam keterbatasan sekalipun mereka tetap nampak bahagia, bermain seperti anak-anak lainnya, tertawa dan mereka menguasai huruf jari untuk berkomunikasi. Tentu saja komunikasi ini mungkin kita sendiri belum tentu bisa. Jika mereka yang memiliki keterbatasan saja tidak merasakan adanya penghalang untuk terus berkarya, tentu saja bagi yang secara fisik sempurna harus terus terinspirasi berkarya dan menjadi berkat bagi banyak orang. (SAP).


  Bagikan artikel ini

Bumi Langit: Alamku Butuh Diriku!

pada hari Senin, 22 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
Berapa harga yang pantas untuk membayar kebaikan alam? Berbicara tentang berapa harga yang pantas untuk membayar kebaikan alam, tidak akan ada nilai yang cukup untuk membayar kebaikan alam. Alam menyediakan segala yang dibutuhkan manusia, tetapi karena keserakahan dan kerakusan manusia, alam mengalami kerusakan. Begitu banyak kerusakan yang terjadi, lihatlah betapa panas suhu bumi beberapa tahun belakangan ini akibat mencairnya glester di kutub utara, banyaknya sampah plastik di lautan yang mengakibatkan rusaknya ekosistem laut. Alam butuh pembaruhan, alam butuh perbaikan.
 
Institut Bumi Langit, merupakan salah satu lembaga yang mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk mengolah alam dengan cara yang baik dan tepat. Sebuah tempat di mana nilai-nilai etika menjadi fondasi dasar dalam hubungan manusia dengan alam, dan antara manusia. Institut ini didirikan pada Mei 2014 dengan konsep pendekatan yang menyeluruh pada kehidupan (permakultur). Kebun Bumi Langit menjadi sarana terbuka bagi masyarakat agar dapat melihat dan belajar bersama mengenai hubungan saling memberi manfaat antara manusia dan lingkungannya.


Institut Bumi Langit menyediakan pelatihan, tempat kursus, tempat magang dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan lingkungan. Fasilitas diberikan dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Pada tanggal 10 Oktober 2018, siswa-siswi SMPK Tirtamarta-BPK Penabur, Pondok Indah, Jakarta didampingi oleh Stube-HEMAT mengunjungi Institut Bumi Langit untuk belajar mengenai hubungan manusia dengan alam.
 
Disambut oleh Ibu Nung, salah satu pengurus Institut Bumi Langit, obrolan dimulai dengan menceritakan sejarah berdirinya Institut Bumi Langit. Siswa-siswi juga diajak untuk melihat kebun Bumi Langit. Terdapat berbagai jenis tanaman sayuran dan buah-buahan organik. Terdapat pula peternakan, pertanian, pengolahan biogas, pengolahan air bersih hingga membuat aliran listrik dengan tenaga surya.


Segala yang terdapat di Bumi Langit sangat ramah lingkungan, air limbah dari aktivitas sama sekali tidak tercemar karena barang-barang yang digunakan tanpa bahan kimia. Mulai dari sabun mandi, sabun cuci hingga makanan pun organik. Semua hasil panen diolah sendiri sehingga menghasilkan makanan yang ramah lingkungan.

Siswa-siswi juga menikmati hasil olahan tani dari kebun Bumi Langit. Kue sorgum, pisang goreng dan air sumur murni. Ibu Nung menjelaskan proses pembuatan kue dan pisaag goreng tersebut. Mulai dari bahan yang semuanya organik hingga proses pembuatannya. Di sesi ini juga Ibu Nung menyampaikan betapa pentingnya menjaga alam dan betapa pentingnya mengkonsumsi makanan organik. Siswa-siswi juga diberikan kesempatan untuk memaparkan hasil analisis selama mengunjungi kebun. Kunjungan diakhiri dengan foto bersama dan pemberian plakat oleh salah satu murid kepada perwakilan institut Bumi Langit. (ITM).


  Bagikan artikel ini

Mencerna Irama Hidup di Omah Cangkem Mataraman

pada hari Minggu, 21 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
Iringan gamelan mengalun merdu menyambut kedatangan siswa-siswi kelas IX SMP Tirtamarta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta di sanggar Omah Cangkem Mataraman di Kawasan Bangunjiwo, Sewon, Bantul. Lima belas peserta yang terdiri dari dua belas siswa, dua guru dan satu pendamping dari Stube-HEMAT Yogyakarta terpesona dengan sambutan Pardiman Djoyonegoro, seorang praktisi pendidikan, seni dan budaya sekaligus pemilik sanggardan beberapa aktivisnya yang mengenakan pakaian tradisional Jawa. Aneka sajian jajan pasar yang tersedia, kawasan sanggar yang teduh, semilir angin dan panorama lembah dengan hamparan sawah dan padi kecoklatan melengkapi suasana sanggar pagi itu. Mengapa ke sanggar ‘Omah Cangkem Mataraman’?
 
Pardiman memaparkan arti nama iniOmah adalah Rumah, Cangkem adalah Mulut dan Mataraman adalah kawasan budaya Mataram. Jadi, Omah Cangkem Mataraman artinya rumah atau tempat untuk menghasilkan suara, bukan sembarang suara tetapi suara-suara kebenaran, harmoni dan ungkapan kecintaan terhadap budaya, khususnya budaya Jawa. Sunggun indah bukan?
 
“Sanggar ini membangun komunikasi generasi dengan warisan budaya leluhur, salah satunya gamelan, bermain janur, dolanan anak, kentongan, tarian, nembang, unggah-ungguh, dll.  Kita tahu bahwa bangsa ini kaya kesenian tradisional, salah satunya gamelan, yang begitu terkenal di level internasional, tapi ironisnya gamelan belum mendunia di dada anak negeri sendiri. Hal ini sangat disayangkan karena keberlangsungan sebuah bangsa tergantung dari generasi dan budayanya. Padahal sejarah telah mencatat bangsa ini termasyhur di dunia internasional karena produk kebudayaannya. Jadi, perlu upaya berkelanjutan agar generasi muda ‘melek’ budaya dan paham potensi seni budaya tanah airnya”, ungkap Pardiman.


Di sanggar ini, peserta mengawali belajar irama hidup dengan merasakan detak jantung. Peserta duduk bersila dan menepuk tangan sesuai irama dan beraturan. Dalam setiap birama, peserta bergiiran mengucapkan satu suku kata secara bebas. Ternyata tidak setiap peserta lancar mengucapkan satu suku kata secara spontan. Berikutnya peserta memperkenalkan diri berkata-kata melodi secara bebas tapi sesuai ‘beat-beat’ yang dipelajari sebelumnya. Hal sama terjadi, peserta nampak ragu-ragu untuk bersuara. Pardiman membesarkan hati para siswa bahwa ini proses belajar menyeimbangkan otak kiri dan kanan dan siswa perlu tekun mempelajari irama dan mengungkapkan kata-kata secara spontan. Pembelajaran berlanjut mengenal satu perangkat gamelan tradisional Jawa. Beberapa siswa memainkan saron, demung, bonang dan gong. Mereka antusias memainkan istrumen-instrumen yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya secara langsung. Peserta juga memainkan kentongan dengan beragam ukuran dan dipukul dengan irama tertentu secara harmonis hingga menjadi sebuah komposisi instrumental. Hal ini membutuhkan usaha keras, karena peserta harus memukul kentongan dalam irama konstan sekaligus menyimak suara kentongan peserta lainnya supaya terwujud volume suara yang seimbang.

 

Benar adanya bahwa manusia harus menghayati kehidupan dirinya, tidak saja dirinya sendiri tetapi juga memikirkan orang lain. Pembelajaran di “Omah Cangkem Mataraman yangmerupakan rangkaian studi sosial memang singkat, namun peserta menemukan semangat untuk membiasakan keseimbangan otak kiri dan otak kanan, menghayati setiap detak jantung sebagai bagian dari irama kehidupan. (TRU).



  Bagikan artikel ini

Anak Milenial Cinta Batik  

pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018
oleh adminstube
 
Kegiatan Pendampingan menjadi aktivitas yang rutin dilakukan Stube-HEMAT Yogyakarta. Stube-HEMAT sebagai Lembaga Pendampingan Mahasiswa dan anak muda mendapat kesempatan untuk mendampingi Studi Sosial siswa-siswi kelas IX SMPK Tirta Marta-BPK Penabur Pondok Indah,Jakarta tahun 2018.

Salah satu kegiatannya adalah kunjungan dan praktik membatik di Batik Sungsang Giriloyo,Imogiri, Kabupaten Bantul. Pada tanggal 10 Oktober 2018 bersama13 orang siswa-siswi, 2 guru dan 2 mahasiswa pendamping dari Stube-HEMAT berkunjung ke lokasi untuk mempelajarisejarah sekaligus praktek pembuatan batik.
 
Siswa-siswi disambut oleh Sunhaji, pemilik sekaligus narasumber yang menjelaskan sejarah batik diGiriloyo, motif-motif batik dan tahapan proses membuatnya. Konon katanya, asal-usul batik tulis Giriloyo bersamaan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri yang terletak di bukit Merak. Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri ini perlu ada yang memelihara dan menjaganya. Untuk itu, keraton menugaskan beberapa abdi dalem untuk melakukan tugas ituInteraksi yang terjadi antara abdi dalem dan masyarakat setempat terutama ibu-ibu, membuka peluang terjadinya transfer ilmu bagaimanacara membatik. Maka tidak mengherankan apabilaketrampilan membatik dengan motif batik halus keraton berkembang di wilayah ini. Seiring dengan berjalannya waktu, keterampilan membatik diwariskan kepada anak atau cucu perempuannya.


Saat praktik membatik, siswa-siswi sangat antusias membuat batik sendiri.Diawali dari proses menggambar pola,lalu digambar dengan menggunakan malam/lilin dengan alat namanyacanting, kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan, setelah itu kain direbus untuk menghilangkan lilin dan kemudian dicuci dan dijemur hingga kering. Walau hasilnya tidak serapih dan sebagus para ibu pembatik di desa Giriloyo namum siswa-siswi bangga dengan hasil karya mereka sendiri. Semangat mereka perlu terus dipupuk untuk selalu mencintai dan bangga menggunakan produk-produk asli Indonesia, salah satunya batik. (ML).

  Bagikan artikel ini

Berapa Harga Sesamaku? Studi Sosial SMPK Tirtamarta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta

pada hari Jumat, 19 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
 
Stube-HEMAT Yogyakarta memberi pendampingan studi sosial bagi siswa-siswi kelas IX SMPK Tiurtamarta – BPK Penabur, Pondok Indah, Jakarta pada tanggal 10-12 Oktober 2018. Kegiatan yang dilakukan berupa aktivitas turun ke bawah (Turba) di 6 lokasi dan tinggal bersama masyarakat (Live-in) di daerah Wates Selatan. Pada studi sosial kali ini, sekolah mengusung judul “Berapa Harga Sesamaku?”. Pasti pembaca akan mengernyitkan dahi dan berpikir apa maksud judul ini? Apakah berarti memasang suatu harga kepada sesama manusia?
 
Menjadi pemikiran bersama para guru dan pendeta sekolah bahwa ada kecenderungan seseorang menilai orang lain berdasar kekayaan yang dimiliki dan kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dipunyai. Pandangan ini tidak tepat karena semestinya seseorang diperhitungkan dari seberapa manfaat dirinya untuk orang lain. Sejalan dengan pemikiran tersebut, lembaga Stube-HEMAT ikut serta dalam pendampingan untuk menanamkan kesadaran ini kepada para siswa melalui kegiatan pendampingan Studi Sosial yang memberi mereka kesempatan berinteraksi langsung dan mengalami secara nyata realita kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan pendampingan sendiri menjadi karakteristik dan spirit Stube-HEMAT karena lembaga ini fokus pada pendampingan anak muda.
 

 

 
Enam lokasi Turba yang dikunjungi yakni: sentra Batik Giriloyo, Yayasan Bumi Langit, Sekolah Helen Keller, Wildlife Rescue Center, Omah Cangkem dan Chumplung Adji. Kelompok Batik praktek membuat batik dan menghayati para lanjut usia yang tetap bersemangat melanjutkan hidup bekerja sebagai pembatik sekaligus melestarikan motif-motif batik tradisional di Batik Sungsang, desa Giriloyo, Imogiri, Bantul. Kelompok Bumi Langit belajar tentang keseimbangan dan keutuhan lingkungan di Bumi Langit Institute, Imogiri. Di sini siswa-siswa mengikuti ‘farm tour’ mengenali ekosistem alam, murbei diolah menjadi selai, cantel atau sorgum menjadi bahan dasar roti, ternak menghasilkan biogas untuk memasak dan pupuk organik dan daur ulang air limbah menjadi layak pakai. Kelompok Omah Cangkem mendalami budaya setempat yakni keterampilan dasar olah vokal dan berlatih menggunakan kentongan menjadi sebuah komposisi lagu di sanggar Omah Cangkem, desa Bangunjiwo, Sewon, Bantul. Kelompok Chumplung Adji melatih kreativitas merangkai kepingan tempurung kelapa menjadi barang yang bermanfaat di Chumplung Adji, sanggar kerajinan tangan di Guwosari, Pajangan Bantul. Sanggar kerajinan tangan ini memanfaatkan limbah tempurung kelapa menjadi bermanfaat dan menguntungkan masyarakat setempat. Kelompok Turba Helen Keller belajar mengasah empati dan kepedulian di sekolah ini, sebuah Sekolah Luar Biasa yang mendampingi anak-anak cacat ganda. Para siswa berdialog dengan para guru tentang panggilan mendampingi anak-anak difabel dan semangat anak-anak difabel untuk mandiri. Kelompok WRC bergerak menuju Pengasih, Kulonprogo, tepatnya di Wildlife Rescue Center (WRC), sebuah lembaga yang memiliki perhatian, merawat dan mengembalikan satwa ke karakter dan habitat aslinya. Di sini siswa mengidentifikasi ciri-ciri tanaman dan berusaha menemukan tanaman tersebut dan mengenal satwa dan habitat aslinya.
 

 

 

Live-in memberi kesempatan siswa-siswa tinggal dan beraktivitas selama tiga hari dua malam dan beraktivitas bersama duapuluh enam keluarga jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Wates Selatan, Kulonprogo yang tersebar di Triharjo (Wates), Depok (Panjatan), Kranggan dan Sidorejo (Galur) dan Jatisari (Lendah). Pendamping dari Stube-HEMAT membantu para siswa mengenal keluarga, lingkungan setempat dan beraktivitas bersama mereka, seperti menanam padi, memberi makan ayam dan memanen telur, menimba air, memandikan ternak, membuat anyaman, memasak, menyapu, membuat kopra, berjualan kelapa muda, menyiram sayuran dan membuat media tanam dan hidroponik. “Sungguh pengalaman yang mengesankan”, ungkap para siswa.
 
 
Bapak Binzamin, salah satu tuan rumah di Galur dan anggota majelis gereja setempat mengungkap rasa senangnya menjadi ‘orang tua angkat’ dan berbagi pengalaman dengan para siswa yang penasaran hidup di desa. Sekalipun singkat, interaksi dengan sesama melalui Turba dan Live-in diharapkan memperkaya pengalaman peserta Studi Sosial untuk memahami sesama, berefleksi tentang seberapa bermanfaat dirinya untuk orang lain, menumbuhkan kesadaran diri atas hidup dan kehidupan serta adaptasi diri terhadap lingkungan. Kiranya proses yang boleh terjadi menajdi bagian pembentukan diri untuk menjadi lebih berkualitas. (TRU).
 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 26 September 2018
oleh adminmarno

 

 
 


Agama-Agama dalam
Pergulatan Politik
di Indonesia

 
Meski masih tahun depan, suhu panas politik di Indonesia sudah terasa menjelang pemilihan presiden, April 2019. Sudah pasti banyak agenda politik yang dirancang oleh 2 pasang kontestan yang akan berlaga. Akankah rakyat terseret dalam pusaran panasnya kompetisi? 

Satu hal yang menarik bahwa GPIB Marga Mulyo Yogyakarta menggelar seminar bertema, “Agama-agama dalam Pergulatan Politik di Indonesia” pada tanggal 22 September 2018. Ada tiga narasumber yang hadiryaituDosen FISIPOL UGM Prof. Dr. Cornelis Lay, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Periode 2000-2005 Prof. Dr. Syafii Maarif, dan Ketua Umum PGI Periode 2004-2014 Pdt. Dr. A. A. Yewangoe. Ketiga narasumber ini menyatakan hal yang sama bahwa agama harus dijadikan landasan moral dan etika dalam kehidupan berpolitik.
 
“Saat ini masyarakat memasuki fase baru dalam politik di Indonesia dimana politik elektoral menjadi hukum baru. Semua orang merasa ikut terlibat di dalam politik. Semua menjadi politisi, gereja menjadi politisi, aktivis menjadi politisi, semua ikut terlibat mengurusi yang seharusnya bukan tugasnya”, tutur Prof. Cornelis. Menurutnya, agama dan politik dapat saling mengisi. Nilai-nilai dalam agama dapat ditransfer ke dalam politik sehingga dalam berpolitik tercipta tatanan yang lebih baik.“Pertarungan antara paham fundamentalis Kristen dan Islam membuat politik Indonesia seakan-akantersandera oleh dua hal itu. Politik identitas makin menguat dan saling membenci”, ujarnya sambil memberikan contoh pertarungan antara Osama Bin Laden dan George W. Bush.
 
Sementara Buya Syafii Maarif mengatakan bahwa agama sebenarnyamemberikan ketenangan dan kedamaian, tetapi pemeluknya justru tidak mempraktekannya. Hal ini bukan salah agama atau kitab sucinya tapi manusia belum memahami apa yang diyakininya. Menipu atas nama agama sangat mudah sekali, ungkapnya penuh semangat. Akal sehat mereka sudah tertimbun oleh syahwat kepentingan-kepentingan. Makanya kita sebagai orang-orang yang waras harus melawan budaya tidak waras. Waras itu penting lho saudara”,ucapnya diikuti gelak tawa dan tepuk tangan peserta seminar. Selanjutnya Buya berpesan, agar generasi muda tidak anti politik. Sementara untuk para pemeluk dari berbagai agama, ketua PP Muhammadiyah (periode 2000-2005) ini berharap supaya ikut terlibat dan tidak menutup mata. Buya juga berpesan untuk semuanya agar terus memupuk tali persudaraan yang otentik dan tidak dibuat-buat.
 
Dalam kesempatan serupa Ketua Umum PGI (periode 2004-2014)Prof. A. Andreas Yewangoe mengatakan bahwa politisasi agama dan agamaisasi politik adalah dua masalah klasik dan sudah tak asing lagi. Kita sebagai orang waras harus terus mengevaluasi diri untuk menanggapi masalah lama ini. “Agama dapat membebaskan dan dapat memperbudak pada saat yang sama”, tuturnya. Tergantung bagaimana cara orangmenginterpretasikan ayat-ayat kitab suci. Jika diinterpretasikan dengan negatif maka akan menjadi ayat-ayat yang menyalahgunakan kekuasaan, berarti di sini agama kehilangan fungsinya, tambahnya tegas.Namun demikian, agama tidak selalu negatif, tuturnya mengingatkan. Kekuasaan yang dilakukan secara positif akan menjadi positif pula. Menurutnya, agama dan politik dapat berjalan bersama dan tidak bertentangan asalkan agamawan pintar memilah antara jalur politik moral dan politik praktis.

Seminar yang dihadiri kurang lebih 200 orang ini ditutup dengan penampilan Interfaith Voices yang menyanyikan lagu-lagu rohani dari berbagai agama.Memang, politik tidak bisa dipisahkan dari manusia--Aristoteles. Hari ini menjadi pelajaran berharga bagi teman-teman mahasiswa Stube HEMAT untuk memahami politik. (SIP).

  Bagikan artikel ini

Menemukan Sisi Lain Sumba dan Bali Kegiatan peserta Germany-Sumba Exchange di pulau Sumba dan Bali

pada hari Kamis, 2 Agustus 2018
oleh adminstube
 
 
 
Kunjungan ke pulau Sumba dan Bali (2-6/08/2018) menjadi lanjutan peserta Student Exchange Germany-Indonesia 2017/2018 setelah Jakarta dan Yogyakarta. Dengan pesawat maskapai Nam Air dari Yogyakarta menuju Waingapu, Sumba Timur, setelah beberapa saat transit di Denpasar, Bali, rombongan mendarat dengan selamat di Sumba. Setibanya di hotel, mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Sumba menyambut para peserta dengan tarian penyambutan khas Sumba Timur yang unik.

 
Di Sumba, para peserta Student Exchange Germany-Indonesia 2017/2018 melakukan sejumlah kegiatan bersama mahasiswa dan team kerja Stube-HEMAT Sumba, seperti mengunjungi sekretariat Stube-HEMAT Sumba dan berdiskusi dengan mahasiswa dan aktivis tentang program dan kegiatan, partisipasi perempuan dalam kegiatan Stube-HEMAT Sumba, serta pengalaman dan tantangan mahasiswa di pulau ini.


 

Selanjutnya, rombonganberkunjung ke rumah Frans Fredi, salah satu aktivis Stube-HEMAT Sumba yang melabel dirinya sebagai petani mudayang berinisiatif mengembangkan pertanian organik mandiri di lahan miliknya dengan menanam padi, sawi, semangka, melon dan cabe. Berikutnya, kunjungan ke taman bacaan Gracia yang dimotori Septi Dadi, eks-aktivis di Stube-HEMAT Yogyakarta, yang telah kembali ke Sumba dan menjadi guru matematika di SMPN 1 Pandawai, Waingapu. Ia memiliki kepedulian terhadap anak-anak dengan merintis taman baca dan sanggar belajar untuk mewadahi anak-anak belajar dan mengembangkan diri.

Sebuah kesempatan besar bagi peserta Student Exchange ketika bisaberdialog dengan Bapak Gideon Mbiliyora, bupati Sumba Timur di rumah dinasnya.Beberapa pokokbahasan yang muncul berkisar kepedulian Bupati terhadap anak muda daerah dan potensi Sumba Timur. Muncul juga kritikan mengenai pengelolaan sampah yang berserakan di Tamah Hiburan Rakyat (THR) dan Bupati menyatakan akan mengingatkan pelaksana acara untuk menyiapkan tempat sampah tambahan. STT Terpadu Waingapu menjadi kunjungan dan dialog berikutnya bersama dosen dan mahasiswa. Beberapa mahasiswa membagi pengalamanselama ikut kegiatan di Stube-HEMAT Sumba dan dosen berharap ada kerjasama lebih erat dengan Stube-HEMAT.
 
STT GKS dan kebun Yayasan Sumba Sejahtera (YSS) yang terletak di Lewa, salah satu kota kecamatan di Sumba Timur menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta. Perjalanan menyusuri jalan berliku dari Waingapu menuju Lewa menawarkan bukit-bukit kecoklatan dan lembah-lembah yang hijau. Di tengah perjalanan, rombongan singgah di rumah Elis, salah satu team kerja Stube-HEMAT Yogyakarta dan rumah Pdt. Dominggus Umbu Deta, koordinator Stube-HEMAT Sumba. Sesampainya di kebun YSS, I Gusti Made Raspita menyambut dengan antusias dan menceritakan kerjasama dengan Stube-HEMAT Sumba yang mendorong anak muda bertindak nyata dalam menghijaukan Sumba.




Dialog bersama dosen dan mahasiswa STT GKS Lewa mengungkap pengalaman dan dampak yang didapat mahasiswa selama ikut kegiatan Stube-HEMAT Sumba seperti Analisa Sosial, Jurnalistik dan pelatihan gender, juga dinamika dan tantangan kehidupan mahasiswa dan dosen STT GKS Lewa. Malamnya, peserta menikmati jamuan makan malam di rumah Rudyolof, salah satu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yang telah kembali ke kampung halaman.

Minggu pagi di Sumba diawali dengan kebaktian pagi di GKS Payeti dan mempersembahkan pujian dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia, sebelum kemudian terbang keDenpasarBali. Di pulau inilah para peserta merasakan gempa rentetan dari gempa besar Lombok saat berkeliling di kawasan Legian. Para peserta dan masyarakat menjadi panik tidak tahu apa yang terjadi, sebuah pengalaman yang sangat berkesan karena merasakan gempa besar secara langsung.

Esok paginya rombongan berkunjung ke Tabanan, tepatnya di Bali Apropriate Technology Institute (BATI) untuk mengamati teknologi sederhana memanfaatkan air untuk listrik mikro dan hidram. Selain itu ada teknologi sederhana untuk memanen air hujan dan memanfatkan air untuk air minum dan irigasi tanaman. Sorenya kami berkunjung ke Pura Luhur Tanah Lot. Pura ini unik karena berada di sebuah tebing dan menjadi seperti pulau tersendiri ketika laut pasang.


Senin, 6 Agustus 2018 menjadi acara perpisahan peserta Student Exchange Germany-Indonesia 2017/2018. Sebuah refleksi dan sharing pengalaman berupa kesan-kesan, perasaan, nilai-nilai kehidupan dan harapan ke depan menjadi akhir dari rangkaian acara di Indonesia.
 
Ungkapan-ungkapan yang terbungkus dalam doa setiap peserta menjadi harapan dan impian yang suatu saat dapat terwujud di waktu yang akan datang. (ELZ).
 

  Bagikan artikel ini

Yogyakarta dan Ceritanya

pada hari Selasa, 31 Juli 2018
oleh adminstube
 
 
 
Kereta api mengantar kami semua dari Jakarta sampai Yogyakarta. Mawar merah cantik yang dibawa Yuda menyambut kedatangan kami. Rasa gembira ada di setiap benak kami, karena di kota ini sekretariat Stube-HEMAT berada dan sebagian besar para aktivis masih menempuh pendidikan di sini. Makan malam bersama pun di gelar di sekretariat Stube dengan dihadiri Board Stube-HEMAT yang menghangatkan suasana.

Keesokan harinya kami mengunjungi Kraton Kesultanan Yogyakarta. Bersama pemandu, kami berkeliling melihat suasana dan peninggalan budaya yang ada di kraton. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Yudohadiningrat juga berkenan memaparkan sejarah dan filosofi budaya Jawa di Yogyakarta, sehingga peserta mengetahui makna nama tempat mulai dari sumbu imajiner Merapi, Tugu, Kraton, Krapyak, sampaiSamudera India.

 
Kesempatan tak terlupakan ketika teman-teman dari Jerman tampil menyanyi lagu Jerman dengan diiringi angklung oleh mahasiswa Indonesia di GKJ Mergangsan. Menghabiskan malam di tempat kos teman-teman Indonesia menjadi pengalaman yang berkesan dengan semua keterbatasan dan kesederhanaan anak-anak rantau.

Dinamika pendidikan khususnya pendidikan Kristen di tengah mayoritas penduduk muslim Indonesia menjadi hal yang menarik untuk didiskusikan, juga keterlibatan pelayanan dalam kesehatan. Kami pun mengunjungi UKDW sebagai salah satu Universitas kristen di kota ini dan Rumah SakitBethesda, berdiskusi dan mendengar banyak hal-tantangan dan kesempatan yang ada. Industri tas Dowa yang memberdayakan dan mengajak warga setempat di dalam proses pembuatan tas sebagai bentuk usaha pengembangan ekonomi menjadi daya tarik tersendiri bagi kami. Tak kalah seru ketika kami berjalan-jalan mengelilingi Malioboro dan menghabiskan waktu bersama di sana.
 
Sunrise di Candi Borobudur menuntut kami semua bangun jam 04.00 pagi. Tidak sia-sialah usaha kami dengan melihat kecantikan matahari, alam dan candi pagi itu. Ketep dan Merapi menjadi tujuan kami selanjutnya. Film singkat tentang gunung Merapi memberi refleksi kepada kami bahwa alam tidak bisa diprediksi, kadang mendatangkan berkat terkadang juga menjadi bencana. 

Hari terakhir di Yogya kami habiskan dengan memasak bersama pada siang hari di sekretariat Stube HEMAT dan menikmati sendratari Ramayana di Candi Prambanan pada malam harinya. Keesokan harinya, pagi-pagi benar kami terbang ke pulau Sumba. (RPA).
 
 

  Bagikan artikel ini

Hand in Hand For A Better World Wisma Pojok Indah, 27-29 Juli 2018

pada hari Senin, 30 Juli 2018
oleh adminstube
 
 
 
Kehadiran mahasiswa internasional yang tergabung dalam pelayanan ESG dan Stube Jerman, membuat pelatihan Stube HEMAT kali ini berbeda. Pelatihan Nilai-nilai Barat dan Timur dengan tema ‘Hand in Hand for A Better World’ menjadi pengalaman baru bagi peserta dari Indonesia karena mereka bisa berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari Jerman dan berbagai negara seperti Nepal, Kamerun, Kuba, Kolombia, Georgia, Ekuador yang kuliah di Jerman dan saat ini mengikuti program pertukaran mahasiswa.
 
 
Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT memaparkan Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa yang memperlengkapi mahasiswa dengan berbagai kegiatan untuk mencapai visi terwujudnya kesadaran manusia, khususnya mahasiswa dan pemuda untuk memahami masalah di sekitarnya. Selanjutnya jejaring internasional Stube-HEMAT, Annette Klinke dari ‘Evangelische Studierenden Gemeinde (ESG)’ memaparkan ESG sebagai wadah untuk mahasiswa yang kuliah di Jerman dan memiliki berbagai kegiatan seperti persekutuan, diskusi dan kunjungan. Tidak jauh berbeda, Esteban Guevara, koordinator Stube Berlin mengenalkan STUBE Berlin sebagai program pembangunan pendidikan yang memiliki kegiatan diskusi, pertemuan akhir minggu dan seminar sehari tentang pembangunan berkelanjutan, lintas budaya, pendidikan dan kerjasama mahasiswa dari negara-negara bagian selatan.

Topik Nilai-nilai Barat dan Timur menjadi menarik karena lahir dariperbedaan pesepsi yang berkembang di tengah masyarakat. Amalinda Savirani, Ph.D, ketua Departemen Politik dan Pemerintahan program Pascasarjana Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta memaparkan bahwa sebenarnya istilah Barat dan Timur itu belum tentu tepat karena Barat dan Timur itu sendiri berkaitan dengan persepsi dan pemahaman yang sudah ditanamkan sebelumnya. Ia juga mengungkap adanya dua pandangan tentang nilai-nilai.Pertama, nilai-nilai dianggap alami dan sudah ada sejak awal. Kedua, nilai-nilai itu dipelihara dankemudian dikembangkan. Ketika seseorang lahir, ia sudah berada dalam lingkungan nilai-nilai, tetapi akan berubah seiring perkembangan usiajaman dan pengalamanHal ini membuat nilai-nilai menjadi berbeda di suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain. Nilai-nilai menjadi bersifat lokal karena berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat setempat. Namun demikian ada nilai-nilai universal yang menjadi kesepakatan bersama dan mesti terus dikampanyekan, seperti kemanusiaan, kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia.
 
Di pelatihan ini empat mahasiswa internasional membagikan pengalaman mereka, seperti Hannah Eichberg, mahasiswa Jerman yang kuliah Teologi Protestan di Universitas Hamburg mengajak peserta merefleksikan kembali sikap nasionalisme dan kecintaan terhadap negeri. Ini penting namun tidak terjebak pada nasionalisme sempit. Onno Hofmann, juga dari Jerman dan kuliah di jurusan Teologi Protestan mengurai kaitan agama dengan nilai-nilai di masyarakat. Kemudian, Prapti Maharjan, mahasiswa dari Nepal yang kuliah di Universitas Teknik Berlin mendiskusikan isu kelapa sawit di Indonesia. Kelapa sawit memang menjadi primadona perkebunan di kawasan Sumatera dan Kalimantan karena menjadi sumber mata percaharian penduduk setempat. Kemudian, minyak sawit menjadi salah satu bahan pembuatan berbagai produk yang dikenal secara global. Namun di sisi lain, maraknya perkebunan sawit memicu pembukaan lahan yang mengancam keragaman hayati, kebutuhan air tanah dan konflik atas penggunan lahan. Ini menjadi pemikiran bersama tentang kelapa sawit dan minyak sawit, tidak saja memikirkan manfaatnya tetapi dampak lingkungannya. Carlos Tamayo, mahasiswa Kuba yang sedang studi bidang ekonomi mengingatkanpentingnya kemampuan komunikasi lintas budaya di era globalMenurutnya, kemampuan ini penting dimiliki oleh seseorang karena akan membantu beradaptasidengan lingkungan baru, mengambil sikap dan menyelesaikan tanggung jawab.

Pelatihan ini memberi kesempatan peserta berdialog dalam kelompok kecil dengan berbagai topik yang meliputi gaya hidup, agama, politik, seni budaya dan etos kerja. Peserta menemukan pencerahan dari topik-topik tersebut. Tak ketinggalan, acara ‘bonfire’ yang mampu mendekatkan peserta menjadi lebih akrab.


Di akhir pelatihan, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, Trustha Rembaka, mendorong peserta untuk secara mandiri dan proaktif menindaklanjuti pengalaman yang mereka dapatkan selama pelatihan, seperti membagikan pemahaman baru tentang nilai-nilai kepada mahasiswa yang lain, organisasi dan komunitas yang mereka ikuti.

Nilai-nilai di masyarakat bisa berbeda karena negara, daerah, dan budaya, namun nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, kehidupan dan kesejahteraan manusia tetap menjadi nilai-nilai universal dan pemersatu untuk selalu bergandengan tangan menciptakan dunia yang lebih baik. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

Memulai Langkah di Indonesia: Jakarta

pada hari Rabu, 25 Juli 2018
oleh adminstube
 
 
 
Dua puluh dua Juli 2018 pun tiba, satu per satu peserta Germany-Indonesia Exchange 2017/2018 melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Sembilan mahasiswa dan dua pendamping dari ESG dan Stube Jerman datang ke Indonesia sebagai balasan mahasiswa Stube-HEMAT Indonesia yang telah berkunjung ke Jerman tahun 2017bersamaan peringatan 500 tahun reformasi gereja. Team Stube-HEMAT Indonesia bersama Pdt. Tumpal Tobing, yang membawa program Stube sampai di Indonesia menyambut kedatangan mereka.

Sekolah Tirta Marta-BPK Penabur, GKI Pondok Indah dan PP-GMKI
Pelayanan pendidikan yang dilakukan oleh GKI Pondok Indah lewat Yayasan Pendidikan Tirta Marta-BPK Penaburmenjadi tujuan kunjungan pertama. Di tempat inilah Pdt. Tumpal melayani sebagai pendeta sekolah. Peserta mendapat kesempatan berdialog dengan siswa dan guru pendamping sertaberinteraksi dengan para majelis gereja tentang tantangan pelayanan pendidikan saat ini di Indonesia. Character building menjadi penekanan utama di sekolah ini selain sarana pendukung danekstra kurikuler yang menunjang untuk membentuk sumber daya manusia yang kompetitif.
 
Dialog dengan Pengurus Pusat GMKI Pusat di Jakarta, Sahat MP Sinurat dan Alan Christian Singkali, membuka kesempatan untuk saling mengenal organisasi masing-masing yang berpihak pada gerakan anak muda untuk membangun bangsa dan membuka peluang kerjasama di waktu yang akan datang, baik itu ESG, Stube Jerman dan Stube-HEMAT Indonesia dan GMKI.

Sekretariat DPR RI dan kawasan Kota Tua
Mengenal Indonesia, demokrasi dan sistem perpolitikan Indonesia menjadi salah satu agenda yang menarik. Lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema di ruang Abdul Muis, Wisma Nusantara yang megah mengawali pertemuan hari itu. Selanjutnya peserta mendengar penjelasan bagaimana langkah-langkah pengambilan kebijakan, alokasi anggaran, dan topik lainnya. Di tempat ini peserta juga mengunjungi museum DPR RI untuk mengenal perjalanan sejarah dan demokrasi di Indonesia.
 
Kawasan Kota Tua di Jakarta Utara dan sejarahnya disampaikan  olehPius Ledjap,seorang pemandu wisata local. Diawali dengan cerita keberadaan ‘Engelse Burg’,jembatan tertua di Indonesia yang dibangun 1628, peserta mulai menyusuri kawasan ini. Museum Bahari dengan beragam jenis perahu tradisional dari Sabang sampai Merauke, perlengkapan pelayaran, dan berbagai gambar-gambar yang berkaitan pelayaran; Menara Syahbandar, tempat pengawasan lalu lintas kapal di pelabuhan Batavia;Kawasan kota tua dan lapangan Fatahillah, yang saat ini berkembang menjadi ruang publik masyarakat danterus dijaga kelestarian lingkungan besertaarsitektur bangunannya.

Perkampungan Budaya Betawi dan Ciliwung Merdeka
Kemacetan jalan-jalan di Jakartamenjadi pengalaman nyata para peserta saat mengunjungi Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. “Kawasan ini menjadi rintisan pusat pelestarian Budaya Betawi yang meliputi dokumentasi literatur budaya, alat-alat yang berkaitan acara tradisi, arsitektur bangunan khas, makanan khas dan flora yang jamak ditemui di sini, ungkap Kang Indra, fasilitator PBB, asli suku Betawi. Peserta juga dengan gembira membuat sendiri Kerak telor, salah satu makanan khas suku Betawi.
 
Kunjungan dan dialog di Sanggar Ciliwung Merdeka dan kesempatan melihat Mall Grand Indonesia, menyuguhkan kelengkapan sisi kehidupan Jakarta. Ignatius Sandyawan Sumardi, pemimpin Sanggar terus konsisten berpihak dan memberi perhatian kepada masyarakat marjinal yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung. Keberadaan masyarakat di pinggir sungai kerap dipandang sebagai sampah kota dan mengganggu pemandangan. Sanggar ini mendorongmereka berani memperjuangkan hidup melalui kebersamaan dan keberagaman, memperkuat kemandirian ekonomi dan menyalurkan ekspresi dalam seni budaya.Sementara di sisi lain, Mall Grand Indonesiamenyajikan kemilau kota, pertokoan kelas atas yang gemerlap dan gaya hidup modern. Dua keadaan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan di Jakarta. (TRU).



 

  Bagikan artikel ini

Kuliah di Luar Negeri: Mengapa Tidak?

pada hari Selasa, 10 Juli 2018
oleh adminstube
 
 
 
 
Menempuh studi di luar negeri sangat diminati oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia. Terlebih jika studi itu diperoleh lewat jalur beasiswa. Banyak mahasiswa berlomba-lomba ingin mendapatkannya. Tentu saja perlu waktu persiapan dan perjuangan yang lebih supaya kesempatan itu semakin dekat.
 
Sabtu 7 Juli 2018, Stube-HEMAT Yogyakarta. Stube HEMAT mendapat kehormatan kunjungan alumni yang saat ini mengajar di Universitas Nusa Cendana, Kupang, yakni Julianti Marbun, M.Si dan rekannya, alumni S2 University of Canberra Australia bernama Tanda Soalagogo Sirait, M.Si. Tanda melanjutkan studi perencanaan wilayah dan kota, dengan konsentrasi pembangunan di wilayah urban, melalui beasiswa dari pemerintah Australia. Diskusi ini diikuti 13 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, asal daerah dan kampus di Yogyakarta.

Ada lima hal penting yang menurut Tanda perlu dipersiapkan ketika ingin kuliah di Luar Negeri.Pertama, Tertarik pada bidang tertentu: Setiap orang tentu memiliki minat maupun ketertarikan yang berbeda-beda dan jika belum tahu harus menemukan hal apa yang menarik untuk diri kita. Kedua, Be proactively smart: Perlu adanya inisiatif untuk mencari informasi-informasi berkaitan dengan beasiswa kuliah di luar negeri. Perhatikan juga apakah informasi tersebut diperoleh dari sumber resmi atau bukan. Ketiga, Be a smart explorer: Lihatlah skema penerimaan mahasiswa karena tentu setiap kampus berbeda-beda, seperti batas akhir pengumpulan administrasi, dll. Selain itu juga cari dosen ataupun Profesor untuk mendapatkan surat rekomendasi yang biasa disebut dengan LoA (Letter of Agreement). Tingkatkan kualitas bahasa Inggris dan ikuti tes TOEFL/IELTS untuk mencapai skor tinggi. Karena keadaan maupun cuaca di luar negeri berbeda dengan tempat asal, maka penting buat kita untuk menjaga stamina. Keempat, Asah diriInterpersonal skills sangatlah penting untuk melatih kepercayaan diri kita ketika bertemu dengan orang-orang baru. Aktiflah berorganisasi baik itu dalam lingkup lokal atau internasional dan raihlah nilai akademik maupun non akademik sebaik-baiknya. Seperti pengalamannya mengikuti Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI), sangat menambah rasa percaya diri. Kelima,Tingkatkan kualitas ibadah: Berserah diri karena semua yang kita kerjakan haruslah disertai dengan pertolongan Tuhan supaya setiap hal dapat berjalan dengan baik.
 
Mari persiapkan diri menyongsong masa depan dengan melihat banyak kesempatan dan peningkatan kualitas diri. Viva mahasiswa. (RPA).

 

 

  Bagikan artikel ini

Membuka Hati dalam Kebersamaan Buka Puasa Bersama ke-2

pada hari Jumat, 8 Juni 2018
oleh adminstube
 
 
 
Perjumpaan langsung antar manusia yang berbeda latar belakang etnik, agama, pendidikan dan daerah merupakan pengalaman otentik yang berharga yang akan memberikan pencerahan dan pembaharuan cara pandangseseorangPemikiran ini yang menjadi pijakan awal Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan acara buka bersama pada hari Selasa 5 Juni 2018. Ini menjadi acara Buka Puasa Bersama ke-2 setelah sebelumnya di hari Rabu, 30 Mei 2018. 

Buka Puasa Bersama ke-2 ini menjadi sarana menjalin silaturahmi antara Stube-HEMAT Yogyakarta, mahasiswa dan komunitas. Tercatat ada dua puluh dua peserta hadir dalam acara ini, mereka antara lain empat orang dari tim kerja, enam mahasiswa aktivis dan jejaring, dan dua belas peserta yang baru pertama kali bertandang ke sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.

Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta menyambut gembira kehadiran para peserta dan menyampaikan harapan bahwa silaturahmi antar jejaring ini bisa diperkuat lagi ke depannya, terkhusus dengan komunitas mahasiswa Youth Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Dariperkenalan yang dilakukan, ternyata peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah di Indonesia yangmencakup Banten, Jawa Barat, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Barat, Madura, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.
 
Acara menjadi lebih akrab saat dilakukan permainan ‘mix & match’ di mana setiap peserta mengambil satu kartu dan di kartu tersebut tertulis nama propinsi di Indonesia atau ibukotanya. Selanjutnya mereka harus mencari pasangan dari kartu tersebut, seperti Sulawesi Tenggara dengan Kendari, Sumatera Barat dengan Padang, dan Nusa Tenggara Timur dengan Kupang. Peserta juga harus bercerita sejauh mana pengenalan mereka tentang propinsi atau ibukota yang tertulis di kartu. Games ini mendorong tiap peserta untuk mengingat ulang, bercerita dan belajar kembali propinsi atau ibu kota propinsi sekaligus keunikan dan keragaman yang ada di Indonesia.
 
Penampilan puisi berjudul ‘Nyanyian Angsa’ karya WS Rendra oleh Achmad Salahuddin, salah satu peserta yang kuliah di Universitas Islam Negeri ‘Sunan Kalijaga’ Yogyakarta melengkapi suasana buka puasa bersama ke-2 ini. Puisi ini bercerita tentang seorang pelacur yang sedang sakit, diabaikan, dihindari orang saat berada di ambang kematian. Kritik adanya stigma terhadap pelacur, ketidakadilan fasilitas kesehatan terhadap masyarakat lemah, pilih kasih rohaniwan dalam melayani umatnya dan bahkan sikap cuek masyarakat terhadap sesamanya. Puisi tersebut mengajak semua orang merenung kembali akan kepedulian dan kepekaan diri terhadap realitas sosial dan penderitaan yang dialami oleh orang lain.
 
Seusai berbuka puasapeserta masih saling bercerita tentang aktivitas masing-masing, studi, asal daerah dan pengalaman selama kuliah di Yogyakarta. Di bagian ini terungkap keinginan dari beberapa peserta untuk saling bertukar informasi tentang kegiatan mahasiswa dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta.

Kiranya buka puasa bersama ke-2 ini benar-benar bisa membangun dan mewujudkan relasi yang baik dan kuatantar mahasiswa, antar komunitas, dan mahasiswa dengan komunitas yang mendukung belajar mahasiswa selama di Yogyakarta. (ELS).
 

  Bagikan artikel ini

Dua Jam Mengenal Indonesia

pada hari Kamis, 31 Mei 2018
oleh adminstube
 
 
Indonesia saat ini sedang ‘prihatin terkait isu intoleran. Satu agama dengan lainnya salingberkompetisi dan mengklaim diri paling unggul. Situasi ini membuat anak muda enggan bergaul dengan teman lain keyakinan karena ada stigma negatif yang dibangun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terlebih pascateror dan tragedi bom Surabaya tanggal 13 Mei 2018.

Melihat situasi ini, Stube Hemat Yogyakarta mengambil bagian untuk membangun silaturahmi lintas iman dengan mengadakan buka puasa bersama. Acara ini dihadiri hampir kurang lebih 15 orang peserta dan 6 orang panitia pelaksanapada Rabu, 30 Mei 2018 di Sekretariat Stube-HEMAT.
 
Selain untuk bisa saling mengenal dan mengenalkan diri satu dengan yang lain acara ini menyajikan kuis Nusantara untuk lebih mengenal Indonesia dan keindonesiaan.Kebanyak yang hadiradalah mahasiswa dari luar Jogja dan bahkan luar Jawa, seperti Nusa Tenggara Barat, Lampung, Kalimantan dan Nusa Tenggara TimurSuasana menjadi lebih hidup dan meriah saat peserta diajak terlibat dalam kuis/ Cerdas Cermat Nusantara. Semangatmengenal kembali keberagaman dan kekayaan yang dimiliki Indonesia dari Sabang sampai Merauke,seperti pulau-pulau terluar Indonesia, ibu kota propinsi, tempat bersejarah di Jogja, lagu tradisional, pakaian tradisional, dan kota-kota bersejarah masa penjajahan sampai kemerdekaan, terpancar dari setiap peserta.

Dari hasil games yang di pandu oleh Indah, salah satu tim Stube-HEMAT, ternyata tidak banyak yang familiar dengan beberapa kota yang ada di Sulawesi padahal kota-kota tersebut merupakan ibu Kota Propinsi. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk bisa lebih mengenal Indonesia lebih baik lagi. Karena dengan begitu kita sebagai anak muda, tidak mudah diprovokasi dengan berbagai isu negatif yang sengaja dibangun karena kita sudah lebih dulu tahu dan paham dengan keberagaman serta kekayaan yang dimiliki oleh negara kita tercinta ini. Acara berlangsung meriah sekalipun peserta yang hadir 75% baru saling mengenal, tetapi mereka semangat dan sangat aktif untuk berinteraksi.


Dengan lebih mengenal Indonesia maka kita akan semakin mencintai negara kita. Pergesekan terjadi karena adanya ketidak percayaan yang sengaja dibangun diantara kita, terutama anak muda yang mudah tersulut emosinya. Jika anak muda tidak diberi pemahaman yang benar maka keputusan yang diambil sudah pasti tidak sejalan dengan Pancasila.
 
Acara ini sedikit banyak mengakomodir anak muda bisa bertemu dan saling merangkul teman-teman lintas imanuntukberkomunikasi. Jika permasalahan dapat diselesaikan dengan komunikasi maka tidak akan ada kekerasan yang memakan korban jiwa.Mari bergandengan tangan, bahu membahu melawan ketidakadilan yang mengatasnamakan agama. (SAP).
 

  Bagikan artikel ini

Datang, Lihat, Lakukan dan Aku Bisa! Kelompok Follow-up Mahasiswa Asal NTT  

pada hari Jumat, 25 Mei 2018
oleh adminstube
 
 
Manusia memiliki kemampuan berpikir dan rasa ingin tahu yang besar, ia akan berusaha mencari jawab pertanyaan yang mengganggu pikirannya sampai mendapat jawaban. Rasa penasaran ini juga menyelimuti benak para peserta pelatihan Pertanian Organik Stube-HEMAT Yogyakarta (4-6 Mei 2018) ketika mendengar TO Suprapto, salah satu fasilitator dalam pelatihan tersebut yang memaparkan tentang pertanian terpadu dan pemanfaatan bahan lokal untuk pupuk cair.
 
Berbekal semangat dan keinginan belajar yang kuat,Rabu, 23 Mei 2018, kelompok mahasiswayang terdiri darilima orang ini(yang notabene berasal dari NTT)pergi ke Godean, tepatnya ke Joglo Tanimilik TO Suprapto, untuk mendalami pembuatan pupuk cair karena mereka adalah anak petani tetapi belum tahu bagaimana membuat pupuk cair dari bahan yang ada di daerah, karena mereka jarang memanfaatkan bahan lokal menjadi pupukdengan harapan mereka bisa menerapkannya ketika pulang ke daerah asal. Mereka adalah Bram (mahasiswa Pertanian), Daniel (mahasiswa Ilmu Pemerintahan), Chindy Rawambaku (mahasiswa Teknik Sipil) dan Elisabeth Uru Ndaya (mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris) keempatnya dari pulau Sumba dan Ikha Manu (mahasiswa Psikologi dari Soe).

Aktivitas di Joglo Tani diawali dengan berkunjung ke bagian pembuatan pupuk cair dan pupuk padat. Di sini peserta berdiskusi dengan Bowo, adik kandung TOSuprapto, tentang urine kelinci sebagai salah satu contoh bahan pupuk cair, sekaligus praktek mengenal bahan-bahan pembuatan pupuk cair, menakar bahan-bahannya hingga siap difermentasi. Mereka praktek bersama-sama para siswa SMK yang juga belajar di sana.
 
Bahan pembuatan pupuk cair yaitu, urin sapi 20 liter, rempah-rempah/empon-empon 2 kg, buah-buahan busuk, tetes tebu 1 liter, guano kohe 2 kg, daun gamal dan batang pisang. Proses pembuatannya adalah sebagai berikut: rempah-rempah diiris kecil dan direbus, setelah mendidih, bahan tadi didinginkan dan dicampur dengan urin sapi, tetes tebu, buah-buahan busuk, daun gamal, dan batang pisang yang sudah dicacah. Bahan-bahan tadi dimasukkan dalam ember dan ditutup rapat selama sekitar dua minggu supaya berfermentasi. Setelah dua minggu, pupuk cair sudah jadi dan siap digunakan. Jika tidak ada urin sapi, bahan pupuk cair bisa menggunakan air kelapa, dan tetes tebu bisa diganti gula merah. Pupuk cair ini bermanfaat untuk meningkatkan kadar hara dalam tanah karena ada kandungan nutrisi organik dan menyegarkan tanaman. Manfaat lain menggunakan empon-empon adalah membunuh hama yang ada di dalam tanah karena sifat bawaan empon-empon yang cenderung panas.


Bram Mila, salah satu peserta mengungkapkan, “Kesan yang saya dapat adalah cara praktek pembuatan POC (Pupuk Organik Cair) memang sangat mudah dan tidak terlalu butuh biaya untuk bahannya, karena semua tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan sebagai bahan pupuk maupun insektisida. Sekarang saya bisa membuat POC sendiri dengan bahan kunyit dan halia (jahe), masing-masing satu kg.”
 
Memang sudah terbukti bahwa proses belajar dengan datang, lihat, lakukan akan membuat seseorang menguasai suatu materi pembelajaran dengan lebih baik. Karena itu, anak muda, mulai kenali bahan-bahan lokal di daerahmu dan manfaatkanlah untuk meningkatkan produksi pertanian masyarakat. (ELS).
 

  Bagikan artikel ini

Kelapa Halmahera: Potensi yang Terabaikan

pada hari Jumat, 25 Mei 2018
oleh adminstube
 
 
 
“Tanamlah apa yang kau makan, dan makanlah apa yang kau tanam, untuk bisa mandiri pangan!” Ungkapan ini benar-benar menggelitik dua bersaudara yang saat itu mengikuti pelatihan pertani anorganik Stube-HEMAT, medio Mei 2018. “Kami menanam kelapa, apakah kami juga harus makan kelapa setiap hari?” Pasti ada cara buat potensi kelapa Halmahera yang sejauh ini baru isi buahnya saja yang dimanfaatkan.

Sekilas Halmahera: pulau berbentuk huruf K kecil yang berada di timur pulau Sulawesi ini merupakan pulau penghasil pala, cengkeh, kelapa dan hasil laut yang melimpahseperti timun laut, ikan kerapu, ikan tuna dan cakalang. Karena hasil alamnya, Portugis dan Spanyol saling berebut pengaruh dan kekuasaan di pulau ini.Saat ini Halmahera sudah menjadi provinsi sendiri yaitu provinsi Maluku Utara yang sebelumnya di bawah provinsi Maluku. Provinsi ini memiliki banyak wisata bawah laut, selain wisata budaya dan peninggalan sejarah bahkan memiliki kesultanan yang sampai saat ini masih berdiri kokoh yaitu kesultanan Ternate & Tidore.
 
Magnet wisata menjadi luar biasa setelah ditunjang infrastruktur yang terus diperbaharui untuk menunjang produktivitas masyarakat Maluku Utara atau Moluku Kieraha. Halmahera Timur merupakan salah satu kabupaten termuda dari semua kabupaten yang ada diprovinsi Maluku Utara. Terdapat banyak suku yang hidup berbaur di dalam kabupaten, seperti suku Tobelo, Maba, Buli yang merupakan suku asli dan ada juga yang pendatang seperti suku Jawa, Bugis, Toraja, Sanger dan lainnya.
 
Di kabupaten Halmahera Timur sendiri terdapat 9 kecamatan. Salah satu kecamatan yang merupakan penghasil beras adalah kecamatan Wasile Tengah. Di kecamatan ini terdapat banyak transmigran dari Jawa yang kebanyakan berprofesi sebagai petani dan menjual hasil pertanian ke Tobelo dan Buli. Masyarakat asli di daerah ini kebanyakan suku Tobelo, Papua dan Sanger yang sudah datang ke tanah Halmahera jauh sebelum Indonesia merdeka. Mereka sudah menjadi masyarakat asli yang tinggal di beberapa desa seperti Hatetabako, Puao, Kakaraino & Nyaolako. Empat desa ini merupakan desa pesisir. Desa Puao dan Hatetabako sendiri merupakan desa yang berdekatan dan rata-rata masyarakatnya nelayan dan petani. Petani di desa ini memiliki ratusan ton hasil kelapa yang setiap tahun panen tetapi belum ada pemanfaatan dari limbah kelapa sendiri selain kopra. Kegelisahan ini sangat dirasakan oleh anak muda yang sudah studi di Jogja & Jakarta, seperti Witno dan Erik. Mereka berdua merupakan saudara sepupu yang tinggal berbeda desa.

Kegelisahan ini mereka ungkapkan saat mengikuti pelatihan pertanian Organik yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta. Karena kegelisahan mereka, Stube berusaha mengajak mereka berkunjung ke salah satu tempat olahan bathok kelapa yang produknya sudah dikirim ke berbagai negara baik Asia dan Eropa yaitu Chumplung Adji Craft’ yang berada di dusun Santan, Pajangan, Bantul, Yogyakarta.
 
Sampai di sana mereka begitu antusias mengetahui manfaat kelapa dari A hingga Z beserta produk turunannya, sehingga sangat termotivasi untuk segera menyelesaikan studi dan segera pulang kampung ke Puao dan Hatetabako, sebab potensi kelapa yang luar biasa yang mereka milikisama sekali belum dilirik untuk menjadi komoditi sumber penghidupan masyarakat. Padahal di sepanjang garis pantai desa mereka banyak sekali pohon kelapa. Selain untuk kopra dan minyak kelapa untuk memasak tidak ada lagi olahan lanjutan.

Sejauh mata memandang di tepi pantai dan di bawah pohon kelapa pasca panen hanya tumpukan sampah bathok kelapa yang dibiarkan lapuk dan dibakar. Padahal diChumplung Adji Craft’ ini, dari bathok kelapanya saja dapat dijadikan berbagai kreasi seperti cangkir, mangkok, tempat aksesoris, tempat tisu, tas, kancing baju dan lainnya, belum lagi batang kelapanya yang bisa dijadikan sendok, garpu dan aneka produk kreatif lainnya.


Pergumulan dan harapan untuk bisa memanfaatkan limbah kelapa atau bahkan mengalihkan dari kopra yang harganya juga tidak menentu ke kerajinan sangat mungkin dilakukan di masa mendatang. Saat ini dari dusun Santan-Yogyakarta untuk Indonesia, maka harapannya dalam waktu 4-5 tahun ke depan dari Puao & Hatetabako-Maluku Utara, untuk Indonesia. (SAP).

  Bagikan artikel ini

Apa Kabar Lumbung Pangan Kita?

pada hari Selasa, 8 Mei 2018
oleh adminstube

 

 

Merosotnya kualitas tanah akibat pemakaian unsur kimia, gagal panen, serangan hama tanaman, kasus keracunan pangan karena kontaminasi bahan kimia dan mikrobiologi, membuat manusia berpikir betapa pentingnya menjaga alam dengan mengurangi bahan kimia dan menggantinya dengan bahan organik atau pupuk kandang dan bahan-bahan alami lainnya untuk menghasilkan pangan yang sehat, pangan yang organik. Pangan organik berasal dari sistem pertanian organik yang menerapkan manajemen untuk memelihara ekosistem untuk mencapai produktivitas berkelanjutan dengan melakukan pengendalian gulma, hama dan penyakit melalui berbagai cara seperti daur ulang residu tumbuhan dan ternak, seleksi dan pergiliran tanaman, manajemen pengairan, pengolahan lahan dan penanaman, serta penggunaan bahan-bahan hayati.

 

 

 

Kecenderungan manusia untuk memakai pupuk dan mengkonsumsi makanan organik merupakan satu langkah maju untuk menyelamatkan bumi dari bencana dan kerusakan lingkungan yang berkelanjutan, dan itu menjadi tugas dan tanggung jawab semua orang untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga alam tempat manusia hidup bersama.

 

 

 

Dari berbagai permasalahan lingkungan, petani dan pertanian, serta pola hidup masyarakat khususnya mahasiswa yang sering tidak memperhitungkan makanan organik dan sehat, Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan Pelatihan Pertanian Organik “Apa Kabar Lumbung Pangan Kita?” Tema ini memberi pemahaman kepada mahasiswa pentingnya pertanian organik bagi keberlangsungan hidup dan rantai ekosistem alam.

 

 

 

Pelatihan yang dilakukan selama tiga hari dua malam, mulai dari 4-6 Mei 2018 di wisma Camelia Kaliurang menghadirkan TO Suprapto, tokoh tani organik dari “Joglo Tani” Yogyakarta, yang membawakan konsep dasar pertanian organik dengan menekankan ‘makan apa yang kita tanam, tanam apa yang kita makan, sehingga kita bisa berdaulat atas pangan sekaligus mengkonsumsi makanan sehat dari produk organik. TO Suprapto juga memberi peluang studi bagi setiap anak muda yang tidak mampu, untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi, dengan catatan harus jurusan pertanian

 

 

 

Agar peserta mampu melakukan pemetaan potensi dan resiko di daerah mereka, Dr. F. Didiet Heru Swasono, M.P., dosen Pertanian Universitas Mercu Buana, fakultas Agro Teknologi menyampaikan tentang pentingnya sertifikasi organik sebagai standar perlindungan konsumen berdasarkan peraturan menteri dan standar nasional Indonesia, serta perlunya kemampuan melakukan pemetaan baik itu sosial budaya dan lingkungan bagi peserta untuk kampung halaman mereka.

 

 

 

Untuk menyelaraskan antara materi dengan fakta lapangan maka pada hari kedua, semua peserta melakukan eksposur ke dua tempat, yakni Kelompok Wanita Tani Bumi Lestari” di desa Sembung, Purwobinangun, Pakem dan kebun buah dan pertanian Kuncup yang dikelola oleh Dedy Tri Kuncoro. Kedua tempat ini merupakan representasi dari pertanian organik yang sudah berjalan dan bahkan berinovasi dalam pembuatan pupuk. “Bumi Lestari” sendiri merupakan salah satu titik dari beberapa titik Lumbung Mataraman yang digagas oleh Sri Sultan HB X.

Sementara di kebun buah dan pertanian “Kuncup yang dikelola oleh Dedy mengembangkan tabulampot (tanam buah dalam pot) yang juga sudah dipasarkan ke luar daerah dan sayuran organik yang secara rutin diproduksi dan dipasarkan di Yogyakarta. Keberpihakan Kuncup dalam edukasi pertanian organik mewujud dalam lahan penelitian mahasiswa dan wahana kunjungan wisata dan belajar pertanian. Di sini peserta tertarik pada pemanfaatan limbah telur sebagai bahan pembuatan pupuk organik.
 
 
 

 

Berbicara pertanian tidak akan lepas dari ekonomi dan politik negeri ini. Indonesia yang saat itu diangankan bisa swasembada beras membuka lebar masuknya berbagai macam jenis pupuk kimia demi revolusi hijau. Rahmat Jabaril (seniman, tokoh kampung kreatif Dago Pojok), Eko Prasetyo (Social Movement Institute) dan Paguyuban Petani Organik Jodhog, melengkapi percakapan dan pemikiran mengenai kemandirian, kreativitas, isu-isu penyerobotan tanah, tantangan petani Indonesia dan kesejahteraan rakyat.

 

 

 

Dua puluh tujuh peserta sangat antusias mengikuti acara pelatihan tiga hari ini dan merencanakan tindak lanjut, seperti membawa komunitas baru berkunjung ke paguyuban petani, mendalami pemanfaatan kelapa, mempromosikan pangan dan pertanian organik di media sosial, menanam obat herbal organik dan belajar pembuatan pestisida organik.

 


Siapa saja berhak mendapatkan kehidupan yang layak dan sehat. Kehidupan yang sehat dan layak dibarengi dengan pola pikir dan pola hidup sehat yang seimbang. Maka sebagai generasi muda penerus bangsa, mari budayakan hidup sehat agar kita bisa menjadi agent of change dan mampu melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas dan hidup layak bahkan mandiri di negeri sendiri. (SAP).


  Bagikan artikel ini

KAMU BELA HAM (KA-um MU-da BELA-jar HAM)  

pada hari Selasa, 8 Mei 2018
oleh adminstube
 
 
Ada suasana yang berbeda di hari Sabtu, 5 Mei 2018 di salah satu gedung Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Beberapa anak muda dan mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang studi berkumpul dalam acara KAMU BELA HAM. Acara apakah itu? Ya, KAMU BELA HAM (KA-um MU-da BELA-jar HAM) merupakan workshop yang diinisiasi oleh Amnesty International Indonesia (AI) dan Social Movement Institute (SMI) untuk memperkenalkan dasar-dasar Hak Asasi Manusia (HAM) kepada kaum muda dan membangun kepedulian dan kepekaan generasi muda terhadap HAM di lingkungan mereka.
 
Partisipasi Stube-HEMAT Yogyakarta dalam workshop ini merupakan bagian dari rangkaian panjang sejak Desember tahun lalu sebagai jejaring Amnesty International Indonesia dan Social Movement Institute di Yogyakarta. Sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta, Stube-HEMAT Yogyakarta melihat pentingnya kaum muda memahami HAM dan implementasi sehari-hari sehingga Stube mengutus Wilton Paskalis dan Robertus Ngongo, keduanya mahasiswa dari Sumba yang aktif dalam kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi peserta dalam workshop.

Di awal workshop, Eko Prasetyo, SH., dari SMI memaparkan gambaran umum HAM menurut Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM), yang mana HAM merupakan hak yang melekat pada seseorang dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun dan atau dalam bentuk apa pun. HAM ini sangat sensitif, mengapa? Karena berhubungan erat dengan kehidupan tiap individu atau kelompok. Bukan berarti bertindak semaunya, tanpa etika atau moral, tapi pada kebebasan mendapat pendidikan, berpendapat, meningkatkan kualitas hidup, menikmati alam bebas dan sebagainya tanpa ada ikatan yang membatasinya. konsep HAM menurut DUHAM telah disepakati oleh semua negara, namun realitanya belum berjalan sesuai dari yang telah disepakati.

DUHAM ini adalah respon dari Perang Dunia II yang mengakibatkan bencana kemanusiaan, sehingga muncul gerakan dari berbagai negara yang bergabung di PBB dan menghasilkan DUHAM pada 10 Desember 1948. Nilai-nilai dasar DUHAM memuat kemajuan kebebasan, keadilan, perdamaian dan mengembangkan pengakuan universal dan penghormatan HAM yang terangkum menjadi 30 pasal yang mencakup: (1) hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya; (2) pengakuan martabat yang melekat pada semua manusia yang tidak dapat dicabut sebagai dasar bagi kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia; (3) adanya pengakuan universal bahwa HAM berlaku bagi semua manusia; (4) memajukan penghormatan atas HAM melalui pengajaran dan pendidikan serta upaya progresif baik secara nasional, maupun internasional. Salah satu contoh kasus internasional adalah pendudukan Israel atas tanah Palestina, sehingga orang-orang Palestina mengalami intimidasi, pembatasan akses dan kesulitan dalam menjalani hidup sehari-hari.
 
Pemaparan HAM dan relevansinya di Indonesia dan kaum muda diungkapkan oleh Sri Muhyati, yang menyatakan bahwa HAM relevan dengan Indonesia dan kaum mudanya. HAM sebagai cita-cita kemerdekaan, dijamin konstitusi UUD 1945, sesuai dengan hak-hak dasar yang wajib dipenuhi dan dilindungi negara. HAM sebagai cita-cita proklamasi kemerdekaan dan termuat dalam pasal-pasal dan pembukaan UUD 1945. Hidup sebagai manusia dan bangsa terjajah pernah dialami Indonesia, yang mana bangsa dan rakyat Indonesia kehilangan hak hidupnya. Perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan HAM karena mengembalikan martabat manusia. Abdurrahman Wahid, yang dikenal dengan Gus Dur, tokoh bangsa dan mantan presiden Republik Indonesia mengungkapkan ‘memanusiakan manusia’, artinya manusia harus dimuliakan, namun realitanya masih perlu diperjuangkan. Pelanggaran HAM di Indonesia pernah terjadi saat peristiwa 1965, ketika orang-orang ditangkap dan dihukum tanpa pengadilan, penyiksaan fisik dan psikis.

Amnesty International sendiri merupakan organisasi nirlaba yang berdiri sejak 1960 yang dirintis oleh Peter Benenson, seorang pengacara di Inggris. Saat itu ia mengetahui ada dua mahasiswa Portugis yang bersulang untuk kemerdekaan. Ia menulis surat pembaca ke surat kabar dan akhirnya ditanggapi secara luas menuntut pembebasan hak-hak mereka. Sedangkan Amnesty International berdiri di Indonesia sejak Desember 2017. Fokus Amnesty International fokus pada gerakan global kampanye perlindungan HAM.
 
Workshop KAMU BELA HAM ini menjadi bagian pengenalan dasar-dasar HAM kepada kaum muda dan titik awal gerakan baru kesadaran terhadap HAM di Yogyakarta, karena ribuan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Yogyakarta untuk belajar, sehingga pembelajaran HAM menjadi penting bagi mereka sebagai bekal ketika menempuh studi mereka di Yogyakarta dan saat kembali di daerah asalnya masing-masing. (Wilton Paskalis dan Robertus Ngongo).

  Bagikan artikel ini

 Mulailah dari Mental 

pada hari Senin, 16 April 2018
oleh adminstube
 

Pernahkah berpikir tentang dunia pertanian kita? Kemungkinan besar tidak, atau mungkin kita tidak terlalu memperhatikan, meskipun setiap hari kita tidak pernah lepas dari olahan hasil pertanian.Pertanian sangat vital bagi keberlangsungan hidup manusia terutama pangan dan sandang. Bukan lagi tren-tren dalam dunia pertanian di Indonesia apabila kita mengacu pada pertanian organik dengan berbagai penawaran produk organik dan keunggulannya, melainkan suatu perubahan dasar pikir dan pola hidup menuju hidup yang lebih baik dan sehat, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga untuk alam itu sendiri.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa melihat pentingnya generasi muda khususnya mahasiswa untuk memahami, menyadari dan terlibat dalam permasalahan pertanian di sekitar kita, oleh karena itu pada tanggal 14 April 2018  bertempat di Omah Cengkir, pukul 10.00 - 14.20 WIB diadakan Diskusi awal berkaitan dengan pertanian organik dan dilanjutkan dengan eksposur ke kebun organik di Pakem. Diskusi ini mengundang Y.B. Cahya Widiyanto, M.Si., Ph.D, dosen Psikologi di Universitas Sanata Dharma dan Antoni Kusuma Wardhana, S.Psi., M.M., praktisi dan penggiat pemasaran hasil pertanian organik.



Pak Cahya akrab dipanggil Pak Johan lebih fokus mengarahkan peserta untuk memperbaiki mental dan mindset mereka agar memiliki mental organik yang peduli dengan alam serta memiliki pemikiran jangka panjang (longterm) bukan jangka pendek (short term), karena pertanian organik merupakan proses panjang tentang bagaimana kepedulian dan kesadaran manusia untuk alam dan kesehatan.



 
Selanjutnya Mas Dhana membuka wawasan peserta bagaimana menawarkan produk organik dengan konsep yang lebih menarik dengan sentuhan inovasi agar bisa lebih diterima oleh pasar. “Sebenarnya menangkap peluang di sektor pertanian ini tidaklah sulit, tetapi tidak bisa dikatakan mudah juga. Terus mencoba dan berinovasi merupakan kunci keberhasilan untuk mendapatkan hasil”, jelasnya.



Dulu saya pernah mengelola dari hulu hingga hilir sendirian dan ternyata saya gagal, maka yang saya lakukan adalah saya fokus ke salah satu bidang saja yaitu marketing produk organik. Urusan menanam biarlah petani karena merekalah yang lebih paham soal itu. Bagian meracik menjadi sajian yang unik ada chefnya sendiri” imbuhnya.

Usai diskusi peserta meninjau salah satu lahan pertanian organik yang dikelola oleh Mas Dhana. Pemilik kebun organik, Pak Ari menjelaskan mulai dari pengelolaan tanah, penyiapan lahan, pengelolaan air dan sampai pada proses pendapatkan sertifikat organik. Lahan ini ditanami beberapa jenis tanaman seperti selada dan tomat. Peserta antusias  mengeksplor kebun dan bertanya banyak mengenai pupuk, penyiapan lahan, dan jenis-jenis tanaman yang ditanam.


Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Pelatihan Pertanian Organik yang akan diselenggarakan pada 4-6 Mei 2018 mendatang. Menarik atau tidak menarik buat Anda, dunia pertanian pasti menentukan kualitas hidup dan keberlangsungan manusia. Jadi, pastikan teman-teman muda untuk ambil bagian dalam pelatihan dan dunia pertanian. (ML)

 


  Bagikan artikel ini

 Menghidupi Gagasan Gusdur

pada hari Rabu, 11 April 2018
oleh adminstube
 
 
 
Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau terkenal dengan sebutan Gus Dur adalah tokoh pluralisme di Indonesia bahkan beliau menjadi Bapak pluralisme Indonesia. Semasa hidupnya beliau lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan masyarakat terutama masyarakat kelas bawah. Gus Dur kecil hidup di pesantren Jombang, Jawa Timur, sebagaimana para anak kiai pada umumnya. Gus Dur kecil sudah terbiasa membaca banyak buku bahkan dari luar pesantren. Sejak usia 5 tahun Gus Dur hijrah ke Jakarta mengikuti ayahnya Kiai Haji Wahid Hasjim yang saat itu menjabat sebagai Menteri Agama pertama di Indonesia. Kesukaannya terhadap buku berawal dari ayahnya yang membawa budaya asing ke dalam pesantren. Kegemarannya membaca tidak berhenti sampai beliau dewasa dan pindah ke Jogja.
 
Selama di Jogja kegemarannya dengan buku yang berasal dari luar pesantren seperti buku bahasa Indonesia dan buku-buku kiri semakin menjadi-jadi. Dari kegemarannya itu Gus Dur tumbuh menjadi orang yang sosialis, manusiawi dan sangat kritis, sederhana dalam bersikap dan bertutur kata. Selain itu Gus Dur sangat menghargai perbedaan, hal ini dibuktikan beliau dengan memiliki dua sahabat karib yang berbeda agama, seperti Ibu Gedong Bagus Oka seorang tokoh pembaharuan Hindu dan aktivis anti kekerasan dari Bali, serta Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr., yang dikenal dengan Romo Mangun.


Bukan hanya sahabat tetapi mereka adalah teman diskusi dalam berbagai hal”, jelas Elga Sarapung direktur Institute DIAN/Interfidei. Kalau Gus Dur ke Jogja, beliau harus bisa bertemu dengan Romo Mangun, mau sesibuk apa pun, begitu juga kalau beliau ke Bali. Ide, gagasan dan nilai-nilai yang dianut Gus Dur inilah yang mendasari mengapa perlu dilaksanakan Kelas Pemikiran Gus Dur. Sebab nilai-nilai hidup yang dianut Gus Dur merupakan nilai universal yang bisa kita pakai dalam kehidupan”, imbuhnya.

Melihat Indonesia saat ini, masyarakat sangat rentan dengan isu SARA atas nama agama. Isu-isu ini digoreng sedemikian rupa sehingga orang mudah terhasut masuk ke dalamnya. Oleh sebab itu Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) ini perlu dilaksanakan agar anak muda bisa belajar dan paham dengan logis gagasan Gus Dur yang sangat Indonesia, baik soal demokrasi, budaya, sosial dan ke-islamannya. Dari empat gagasan Gus Dur tersebut, yang paling mengesankan adalah gagasan sosialnya Gus Dur karena beliau benar-benar turun ke bawah untuk melayani masyarakat yang tertindas.
 
Beliau benar-benar berani menentang ketidakadilan yang terjadi pada saat itu seperti saat beliau mengunjungi masyarakat pengungsi Kedung Ombo dan memperjuangkan hak-hak mereka. Ini adalah bukti bagaimana Gus Dur benar-benar peduli dengan sesama manusia. Gus Dur adalah sosok yang begitu luar biasa dengan semua gagasannya, dan beliau mampu bertanggung jawab dengan semua yang diucapkan. Kelas Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan pada tanggal 7-8 April 2018 ini, diharapkan bisa membuka dan memberi pemahaman yang lebih, terkait siapa Gus Dur, dan apa saja kontribusinya bagi Indonesia.

Tiga puluh satu peserta KPG ini yang rata-rata anak muda membuat rencana tindak lanjut baik personal maupun kelompok, seperti bedah buku tentang GusDurian, atau menulis di media sosial dan blog. Mari bergandeng tangan untuk menjaga tanah air Indonesia tetap aman dan nyaman. (SAP).
 

  Bagikan artikel ini

10 Ide Menjawab Realita

pada hari Senin, 5 Maret 2018
oleh adminstube
 


Berikan kesempatan kepada anak muda, maka perubahan terjadi. Ini semangat Stube-HEMAT Yogyakarta melalui pelatihan Spiritualitas di hotel Satya Nugraha, 23-25 Februari 2018, yang mendorong anak muda dan mahasiswa mengungkapkan ide mereka untuk daerah asal.


 
Yance Yobee,
Seorang mahasiswa dari kabupaten Dogiyai, Papua yang saat ini menempuh studi di Teknik Sipil,Universitas Janabadra. Di daerah saya masih banyak kecenderungan untuk berjudi, membuang sampah sembarangan bahkan di selokan dan hidup tidak sehat. Hal-hal ini tidak baik dan saya ingin sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan, seperti rutin membersihkan saluran drainase, mengolah ladang dengan baik supaya panen meningkatbisa dikonsumsi sendiri dan dijual, juga sosialisasi kepada masyarakat tentang masa kadaluarsa suatu produk.Saya berharap masyarakat mendapat pemahaman baru, kondisi ekonomi, lingkungan dan sosial masyarakat semakin membaik. Perbaikan kondisi ekonomi dan sosial ini akan mengurangi permasalahan sosial daerah setempat”.


Maria Modesthy Tefa,
Seorang muda dari desa Kakaniuk, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur yang saat ini sedang kuliah di Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Kawasan Malaka Tengah berupa dataran sedang (270-537 mdpl) dan sebagian besar masyarakat adalah petani, sebagian lain adalah Pegawai Negeri Sipil, kepolisian, swasta dan lainnya. Ada sebuah anekdot di sana, setinggi apa pun pendidikanmu dan di mana pun kerjamu, akhirnya kembali pegang parang dan tajak (berkebun) juga”.
 
 

 

Di pelatihan Spiritualitas ini saya mengenal Credit Union Cindelaras Tumangkar dan menyadari kondisi ekonomi desa saya masih rendah. Mengapa demikian? Tidak mudah menjawab karena berkaitan banyak aspek. Saya juga mendengar pengalaman petani organik desa Jodhog menjadi petani bermartabat melalui bertani organik. Di daerah saya petani menggunakan bahan kimia untuk pupuk, mematikan rumput dan membunuh hama sehingga lahan semakin rusak. Menurunnya kualitas lahan, gagal panen karena pestisida berlebihan telah terjadi, bahkan orang tua saya pernah mengatakan kalau tanah sekarang tidak sesubur dulu”.

 

 
Walau pendidikan saya belum tinggi, tapi saya memiliki pengetahuan tentang lingkungan dan ingin berbagi. Saya termotivasi untuk membagikan ide bertani organik kepada keluarga dan mengurangi bahkan meninggalkan bahan kimia. Saya juga akan mendalami pertanian organik di Jodhog bersama teman-teman daerah yang ada di Yogyakarta. Saya berharap suatu saat nanti daerah saya menjadi lumbung pertanian organik, seperti di Jodhog. Kapan? Tidak tahu, tetapi harus dimulai dari sekarang”.


Monika Maritjie Kailey,
Saat ini kuliah di Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, berasal dari Kepulauan Aru, Maluku. Saya tertarik untuk banyak-banyak sharing berkaitan dengan cross culture understanding dan positive mind-set. Hal ini didorong dari menceritakan kesalahpahaman cara berpakaian dan budaya yang ada di daerah tertentu. Mari kita perbaiki ‘mindset’ kita dengan tidak cepat mengatakan ‘ini salah’ atau ‘itu benar’, ini pantas’ dan ‘itu tidak pantas’tapi berpikir positif bahwa berbeda daerah artinya berbeda budaya. Rasa percaya diri dibangun dari keluarga dan lingkungan untuk kita tumbuh”.
 
Jika seseorang ingin dihargai, maka hargailah orang lain terlebih dahulu, lebih tepatnya berperilaku sesuai dengan ruang dan budaya di mana kita tinggal dan sesuaikanlah gaya hidup dengan tempat di mana kita berada. Langkah-langkahnya adalah, pertama, berpikir positif terhadap sesama, kedua, akrabkan diri dengan lingkungan dan orang-orang sekitar, ketiga, hargai orang lain dan keempat, berperilaku sesuai dengan budaya dan kebiasaan setempat”.



Ram Hara,
“Saya kuliah di Universitas Janabadra jurusan Akuntansi, asal dari Mare, Maybrat, Sorong, Papua Barat. Dalam pelatihan Spiritualitas ini saya mendapat gambaran arah ekonomi Indonesia ke depan, di mana internet berperan di banyak hal, salah satunya bisnis dan ekonomi. Saya memikirkan daerah asal saya yang sudah ada akses internetnya, namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal, hanya sekedar membuka media sosial dan situs lainnya, posting foto, status bahkan mengakses situs porno. Pengguna internet didominasi anak-anak di bawah umur karena rendahnya pengetahuan orangtua tentang internet.
 
Saya berpikir perlunya mendorong masyarakat untuk meningkatkan manfaat berinternet. Saat saya liburan nanti saya ingin merealisasikan ide-ide saya kepada masyarakat di daerah asal saya seperti sosialisasi menggunakan internet dengan baik dan bermanfaat, mendorong orang tua ikut mendidik anaknya dengan baik. Selain itu saya juga ingin bekerjasama dengan Komunitas Pelajar Mahasiswa Mare (KPMM) Yogyakarta atau organisasi kedaerahan lainnya.


Wilton Paskalis Dominggus Ama,
“Saya berasal dari Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur dan kuliah di Magister Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Di masa lalu nilai ekonomi suatu barang masih rendah karena kebutuhan manusia sudah tersedia di alam, tetapi sekarang nilai barang semakin tinggi karena persediaan di alam berkurang. Kepentingan ekonomi menjadi prioritas dibanding lainnya, misalnya spiritual, sosial dan lingkungan. Selain itu, rendahnya Sumber Daya Manusia berdampak pada rendahnya kreativitas dan daya saing. Tidak jarang tuntutan ekonomi mendorong munculnya kriminalitas.
 
Keseimbangan spiritual dan ekonomi perlu diwujudkan karena spiritualitas adalah relasi manusia dengan Tuhan yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari, seperti mencukupi kebutuhan jasmani dan interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Saya memiliki beberapa ideyang pertama, perhatian pada pendidikan spiritualitas sejak anak-anak. Kedua, meningkatkan kesadaran iman, hubungan antar sesama dan partisipasi dalam organisasi kemasyarakatan. Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan keempat, melatih keterampilan atau minat seseorang sesuai potensi daerah, seperti pertanian, peternakan dan budaya tradisional di Sumba sebagai peluang pariwisata di Sumba.


Anggita Getza Permata,
“Saya tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan kuliah di Universitas Sanata Dharma jurusan Sastra Inggris. Saya melihat permasalahan di sekitar saya antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat gawai untuk menambah pendapatan. Sebagian orang dewasa dan lansia menggunakan gawai hanya untuk mengobrol di media sosial seperti Whatsapp, tidak tahu manfaat lainnya. Sebagian lagi tahu manfaatnya tetapi belum tahu cara menggunakan gawai untuk bisnis.
 
Saya ingin memberi tahu orang-orang di sekitar saya tentang ekonomi digital dan pentingnya mengenal itu, membantu mereka menemukan ide-ide produk yang akan dikomersilkan, dan mengajarkan pengoperasian gawai untuk menunjang bisnis.


Elliana Hastuti,
Dari Solo Jawa Tengah, saat ini kuliah di Psikologi, Universitas Sanata DharmaSetelah mengikuti pelatihan Spiritualitas, saya memetakan situasi sosial yang terjadi di sekitar saya dan menemukan orang-orang berpendidikan tinggi masih menganggurtetapi di sisi lain, perusahaan-perusahaan terus membuka lowongan pekerjaan. Ada apa dengan situasi ini? Mestinya orang-orang berpendidikan tinggi memiliki kemampuan untuk bekerja dan integritas yang baik dan perusahaan tidak kekurangan pekerja. Selain itu, anak-anak berhak mendapat pendidikan yang layak, karena kepribadian bangsa dibentuk sejak anak-anak”.
 
Ide-ide yang muncul dalam diri saya adalah, pertama, mengumpulkan orang-orang yang menganggur dan melakukan edukasi tentang pekerjaan, bakat dan minat yang ia miliki, kemudian mengembangkan. Kedua, melalukan sosialisasi pentingnya karakter dan kepribadian anak yang kuat dan baik, menanamkannya dalam diri anak, salah satunya melalui gereja (sekolah minggu). 


Danial Ndilu Hamba Banju,
“Pemahaman yang saya dapatkan dari pelatihan Spiritualitas Stube-HEMAT Yogyakarta ini adalah cara pandang saya yang semakin luas tentang Sumba. Ini penting karena saya kuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan STPMD-APMD Yogyakarta. Kita tahu kalau kawasan Sumba mulai berkembang, baik itu pembangunan wilayah, pariwisata, perdagangan, pendidkan dan teknologi. Namun pertanyaannya adalah apakah masyarakat sudah siap dengan perkembangan ini, seperti apa partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan sejauh mana manfaat pembangunan terhadap masyarakat. Karena itu, ada ide-ide yang muncul yang bisa dilakukan di desa saya di Kahaungu Eti, Sumba Timur, seperti, perlunya dialog antara pemerintah dan masyarakat tentang arah pembangunan, mendalami manfaat dan dampak dari pembangunan yang akan dilakukan, perlunya masyarakat menjaga kearifan lokal masyarakat setempat, dan generasi muda perlu melibatkan diri dalam perencanaan pembangunan dan pelaksanaan pembangunan.


Chindiani Rawambaku,
“Permasalahan dan situasi sosial yang terjadi di daerah saya, Tanbundung, Sumba Timur, NTT adalah kurangnya pertanian lahan basah, kurangnya pengairan irigasi, kurangnya lahan pertanian dan kurangnya perhatian pemerintah di bidang pertanian. Dari pelatihan Spiritualitas ini saya tergerak untuk melakukan sesuatu untuk desa saya, yaitu menyampaikan ide penggunaan bahan organik kepada petani, menggunakan pupuk alami dan membasmi hama bukan dengan pestisida tetapi bahan alami. Ini sudah saya sampaikan kepada orang tua saya dan mereka merespon dengan baik. Kemudian mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun irigasi untuk pertanian”.


Erfan Nubatonis,
“Asal saya dari Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur dan studi di Manajemen Rumah Sakit,STIE IEU. Saya menemukan pencerahan setelah mengikuti pelatihan Spiritualitas Stube-HEMAT Yogyakarta dan pikiran saya terbuka kalau spiritualitas harus mewujud dalam tindakan. Saya dibantu untuk melihat realita yang terjadi di desa asal saya, Amarasi, Kupang, NTT yang selalu kesulitan air ketika musim kemarau dan kesehatan kurang diperhatikan. Mereka berjalan beberapa kilometer untuk mengambil air menggunakan jerigen untuk minum dan memasak.
 
Saya ingat di Gunungkidul Yogyakarta, pernah mengalami hal yang sama dan penduduk membangun tandon air. Ini bisa diwujudkan di daerah saya, penduduk perlu memiliki tandon air sederhana. Karena itu saya berinisiatif pergi ke Gunungkidul dan mempelajari pembuatan tandon air, sistem memanen air hujan dan penghijauan. Sekembalinya dari Yogyakarta saya ingin berbagi cara mengatasi kekeringan melalui memanen air hujan ketika musim penghujan, membangun tandon air sederhana dan menanam untuk penghijauan.
 
Selain itu, saya juga menyadari kalau pohon kelapa banyak tumbuh di daerah saya. Selama ini penduduk memanfaatkan pohon kelapa hanya buahnya dan untuk kayu bakar. Tetapi di Yogyakarta saya menemukan berbagai kerajinan dari pohon kelapa. Saya ingin mempelajari kerajinan kelapa di Yogyakarta dan setelah kembali dari Yogyakarta saya akan mengajak penduduk mengolah produk dari pohon kelapa sebagai pendapatan sampingan keluarga. Memang, kreativitas itu harus dimulai dari dalam diri saya.


Setiap karya besar berawal dari sebuah ide, spiritualitas Kristen harus mewujud dalam karya-karya pelayanan. Anda ditunggu mewujudkannya. (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

Exploring Sumba

pada hari Minggu, 4 Maret 2018
oleh adminstube
 
 
 

Latar Belakang:
Pulau Sumba memiliki keterbatasan kemudahan akses seperti pendidikan, transportasi, informasi dan teknologi, padahal pulau ini sebenarnya memiliki modal dasar potensial yang mencakup alam, budaya dan manusia. Mahasiswa di seluruh Indonesia yang bergabung di Stube HEMAT Yogyakarta bisa berbagi kemampuan dengan mahasiswa yang bergabung di Stube-HEMAT Sumba bersama dengan masyarakat Sumba.
 
Kegiatan ini akan meningkatkan pemahaman atas perbedaan yang dimiliki kedua belah pihak, membuka kesempatan untuk mempromosikan Sumba, dan menemukan berbagai jalan keluar sebagai hasil dari interaksi dan berjejaring.
 
 
Tujuan:
Peserta menemukan pengalaman hidup baru dalam perbedaan latar belakang budaya yang mereka miliki dan memahami alam, budaya dan modal dasar manusia di Sumba.
 
Peserta mempelajari bagaimana beradaptasi, memahami, menghargai orang lain dengan perbedaan dalam sebuah kegiatan yang dilakukan bersama dengan memberikan keterampilan dan pengetahuan yang mereka miliki yang diperlukan oleh masyarakat setempat.
 
Peserta berjejaring dengan aktivis Stube HEMAT di Sumba untuk mempromosikan pendidikan, pertanian organik, kesehatan dan sanitasi, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan untuk peningkatan pendapatan melalui pengolahan produk-produk lokal, dll.


Indikator:
Peserta tinggal bersama masyarakat Sumba selama satu bulan.
 
Peserta membuat kegiatan bersama dengan jejaring yang baru di Sumba berdasarkan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki dalam bidang pendidikan, pertanian, peningkatan keterampilan, aplikasi teknologi, dll.
 
Peserta mengunjungi dan membuat jejaring dengan aktivis Stube-HEMAT.


Peserta:
3 (tiga) orang
 
Pengalaman peserta Exploring Sumba di tahun-tahun sebelumnya:
 

https://stubehemat.blogspot.co.id/2017/10/saling-bertemu-belajar-dan-berbagi-i.html

https://stubehemat.blogspot.co.id/2017/03/refleksi-exploring-sumba-seni-peran.html

https://stubesumba.blogspot.co.id/2015/12/exploring-sumba-sarloce-danjulianti.html

https://stubesumba.blogspot.co.id/2015/07/berbagiilmu-dan-mengenal-sumba-bersama.html

https://stubehemat.blogspot.co.id/2015/04/a-rti-h-idup-refleksi-exploring-sumba.html

https://stubehemat.blogspot.co.id/2015/04/rasanya-seperti-m-i-m-p-i-refleksi.html

https://stubehemat.blogspot.co.id/2014/05/30-hari-menjejak-sumba-yohanes-dian.html

https://stubehemat.blogspot.co.id/2014/05/renunganku-dari-sumba-oleh-novia-sih.html



 

 


  Bagikan artikel ini

Spiritualitas: Kontribusi Etika Kristen dalam Dunia Ekonomi

pada hari Selasa, 27 Februari 2018
oleh adminstube
 

 

Jumat – Minggu, 23-25 Februari 2018
di Hotel Satya Nugraha, Yogyakarta
 
 
 
Perkembangan teknologi menjadi faktor yang berpengaruh atas terjadinya revolusi industri yang selanjutnya akan memunculkan tatanan ekonomi baru sebagai respon perubahan nilai seperti salah satunyaadalah nilai etis dalam dunia ekonomi dilihat dari sisi iman Kristen.

Topik ini menarik tiga puluh enam mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta pada hari Jumat-Minggu, 23-25 Februari 2018 bertema Spiritualitas: Kontribusi Etika Kristen dalam dunia Ekonomi. Peserta diharapkan menemukan wujud etika Kristen dalam dunia ekonomi saat ini dan mampu merumuskan suatu rencana tindakan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.
 
Beberapa orang yang berpengalaman di bidangnya memfasilitasi pelatihan ini, seperti Ariani Narwatujati, S.S., M.Pd., Direktur Stube-HEMAT menantang peserta untuk meningkatkan kualitas dirinya untuk berkompetisi di level internasional, kemudian Dr. Murti Lestari, M.Si, dosen Fakultas Ekonomi UKDW mengungkapkan perkembangan ekonomi yang sangat pesat sampai pada ekonomi digital, teknologi tidak saja untuk sistem informasi tetapi menjadi platform aktivitas ekonomi, perdagangan, pembayaran dan bidang lainnya. Saat ini sebagian besar orangbisa mengakses ekonomi secara digital dan memanfaatkannya. Penguasaan terhadap pengetahuan dan teknologi akan menjadi dasar berkembangnya ekonomidigital yang akan meningkatkan efektifitas dan kesejahteraan. Namun masayarakat harus tetap waspada terhadap kejahatan berbasis teknologi.
 
Pdt. Yahya Wijaya, Th.M., Ph.D., dosen Fakultas Teologia UKDW menjelaskan bahwa saat ini teologi dan ekonomi tidak bisa saling terpisah tetapi harus beriring mewujudkan kesejahteraan. Perlu pemahaman etis setiap orang untuk mempertemukan filosofi-filosofi keduanya, antara lain 1) Ekonomi harus berpusat pada Allah sebagai pemilik sejati segala sesuatu. 2) Ekonomi harus berorientasi pada manusia, melayani manusia, memenuhi kebutuhan manusia, mendorong kesetaraan dan keadilan. 3) Ekonomi harus menghargai kinerja, menghasilkan produk dan layanan yang berkualitas, baik, aman, inovatif, efisien, terpercaya dan berkelanjutan. 4) Ekonomi harus berwawasan lingkungan, memperhatikan keseimbangan ciptaan, menggunakan sumber daya alam yang terbatas dengan hati-hati, dan 5) Ekonomi harus melayani masyarakat, pelayanan bagi semua pihak demi membangun masyarakat yang stabil, damai, dan lestari.




Peserta membagi diri dalam tiga kelompok untuk mendalami sistem ekonomi alternatif. Kelompok satu berdialog dengan Sudarwanto, pengurus Credit Union Cindelaras Tumangkar untuk mengenal koperasi keuangan pemberdayaan masyarakat. Kelompok dua mempelajari koperasi syariah bersama Iwa Khairuttaqwa, kepala cabang Koperasi Syariah Badan Tamwil Muhammadiyah (BTM) Surya, dan kelompok tiga berdialog dengan Pdt. Harjono bersama petani organik di Jodhog, Bantul yang memiliki visi menjadi petani bermartabat melalui bertani secara organik, memulihkan sawah, menyediakan pangan sehat untuk keluarga, kemandirian dalam bibit, pupuk dan pemasaran hasil dan menjalin persaudaraan lintas iman.

Wawasan peserta semakin diperkuat dengan hadirnya praktisi bisnis, antara lain drg. Pipin Ikawati (Fresh Dental), Daniel D. Nugraha (DN rental alat berat) dan D. Sugiarto (Tosan Offset), yang mengungkap kerasnya dunia bisnismenghadapi tantangan dan persaingan, tetapi mereka tetap berbisnis dengan disiplin, terus belajar dan berkembang, menjaga kepercayaan rekan kerja dan memperhatikan kondisi karyawan dan konsumen.


Interaksi peserta mengenai nilai-nilai etismemancing pemikiranakan situasi sosial dan lingkungan di sekitarnya dan kampung halaman yang memunculkan ide-ide aksi. Ram Hara, mahasiswa UJB dari Sorong, Papua Barat merasa terpanggil pulang kampung saat libur untuk berbagi bagaimana pesatnya perkembangan teknologi dan manfaatnya untuk kemajuan daerah. Yenlis Mencanda, atau Cindy menjadi teringat akan kebun kakao di kampung halamannya di Pandolo, Poso dan tertarik untuk membuatnya lebih produktif.Pemanfaatan kakao bisa dimulai dari biji kakaosebagai bahan baku coklat dan masih banyak turunanlainnya dari kakao yang bisa dihasilkan. Kawasan kebun juga bisa ditata sedemikian rupa sehinggamenarik untuk dikunjungi. Maria M. Tefa, mahasiswi dari kabupaten Malaka, NTT yang kuliah di ITY tergerak untuk membagi ide bertani mandiri dan organik di desanya. Selama ini petani tidak bisa menentukan sendiri harga panen dan hasil panen selalu dihargai rendah. Sementara Chindiani Rawambaku, mahasiswa Sumba Timur, NTT yang kuliah di UST mengungkapkan bahwa ia mendapat pencerahan dan wawasan baru tentang ekonomi digital dan bagaimanaberbisnis yang peduli pada orang lain. 

Anak muda dan mahasiswa sudah semestinya cerdas memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan diri danmewujudkan nilai-nilai etis dalam ekonomi demi peningkatan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat dan lingkungan. Jadi sekarang, hai anak muda, apa idemu? (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

Yogyakarta dan Perubahaan

pada hari Rabu, 21 Februari 2018
oleh adminstube
 
 

Berkurangnya ruang publik di Yogyakarta, cepat atau lambat, akan mengubah manusia tidak lagi sebagai makhluk sosial, tetapi menjadi makhluk individualis. Minimnya ruang yang bisa dijadikan tempat bertukar pikiran, berkomunikasi atau sekedar merasakan kebersamaan tanpa ada batas-batas sosial yang terstruktur menggiring orang masuk pada dunianya masing-masing.

Banyak tempat sudah disulap menjadi tempat-tempat komersial, bahkan dijadikan indikator dari kelas mana seseorang berasal. Hal ini menjadi kekuatiran bersama beberapa komunitas yang ada. Komunitas Social Movement Indonesia (SMI), Stube-HEMAT, Tribunjogja, dan Toga Mas Affandi, mengadakan kegiatan diskusi buku untuk membuka ruang bagi anak muda dan mahasiswa bisa bertemu, berkomunkiasi dan bertukar ide.
 
Pada kesempatan ini buku yaang dibedah milik Selo Soemardjan berjudul “Perubahan Sosial di Yogyakarta”. Diadakan pada tanggal 19 Febuari 2018, bertempat di Toko Buku Toga Mas, Gejayan, Yogyakarta, bedah buku ini menghadirkan pembicara Eko Prasetyo (Ketua SMI), Elanto Wijoyono (Warga Berdaya Yogyakarta), Anna Marsiana (Konsultan Developer NGO di Indonesia), dan dipandu oleh Hening Wikan (Mahasiswa Fisipol UGM) sebagai moderator.

Elanto menjelasakan bahwa perubahan di Yogyakarta bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, dan saat ini masih menjadi pertanyaan apakah sudah terjadi lagi perubahan di Yogyakarta setelah era revolusi seperti yang tertulis di buku. Sampai sekarang belum menemukan kepastian jawabannya.
 
Menurut Anna Marsiana, Yogyakarta bukan hanya sebuah kota, tetapi sebuah proses dinamis, tempat bertemunya banyak aspek, elemen-elemen masyarakat yang berbeda. Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam melihat perubahaan yang terjadi, yakni (1) aspek sejarah, (2) Peta pergerakan masyarakat merespon dinamika yang lebih cepat, dan (3) peranan masing-masing individu.  
 
Dalam kesempatan bedah buku ini, Eko Prasetyo mengambarkan proses perubahan sosial pasca kolonialisme dan tentang aliran kiri. Bahwa pada masa itu keberhasilan ide-ide revolusi sosial sangat diminati, saat itu muncul tiga besar partai politik yang dipegang oleh kelompok kiri. Di bagian akhir buku Selo Soemardjan ini terdapat petuah-petuah yang sangat teoritis. Petuah tersebut menyatakan bahwa proses perubahan sosial terjadi karena bermula dari perubahan-perubahaan dari luar. Ketika kaum kapitalis masuk dan tidak mau mengikuti sistem yang berlaku, kelompok ini yang mewakili perubahaan sosial di Yogyakarta. Terjadilah kesenjangan sosial yang sangat terlihat tajam di Yogyakarta.
 
Pada sesi tanya jawab, Rintar warga Jogja bertanya, “Apakah keistimewaan yang ada saat ini masih mendukung sistem tradisonal atau harus dimodifikasi?” Penanya yang lain, Rafit warga Jogja, “Apakah perubahaan itu terjadi begitu saja atau ada yang merubahnya, dan siapa yang memegang kedaulatan?”
 
Menanggapi pertanyaan itu Elanto mengatakan bahwa pemerintahan desa saat ini bukan lagi tradisional tapi sudah rasional dan perubahanaan ada yang terencana dan ada yang tidak terencana. Sedangkan Ana menanggapi pertanyaan tersebut dengan menyatakan bahwa sistem tradisonal tidak lagi menjadi acuan utama karena undang-undang desa merupakan peluang bagi semua masyarakat untuk menyuarakan ide dan gagasannya sementara perubahaan itu bisa dikendalikan dan direncanakan.
 
Di akhir statement Eko Prasetyo mengutip tulisan Selo Soemardjan, “ketika rakyat tidak mampu memuaskan sosialnya maka dia akan  menjadi rakyat yang komersial dan kompetitif”. Maka dari itu kita butuh individu-individu yang mau bergerak dalam permasalahan ini. Mari kita kembalikan kota ini menjadi kota pelajar yang berciri khas kritis, berani, dan progresif. 
 
Sementara Elanto mengajak setiap anak muda yang ada di Yogyakarta ini untuk saling bertukar ide untuk permasalahan-permasalahan yang terjadi. Selanjutnya, Ana mengakhiri dengan pengakuan bahwa perbedaan dan keanekaragaman merupakan pondasi di Yogyakarta sejak awal dan situasi ini diakomodir oleh banyak pihak, sehingga semua anak muda yang hadir di acara  bedah buku tersebut diajak untuk terjun langsung ke lapangan, melihat realita dan memperbaikinya. Jangan merasa ketika meluncurkan ‘statement’ di sosial media, sudah cukup melakukan pergerakan. (ITM)

  Bagikan artikel ini

Merindu dari Gereja ke Gereja

pada hari Selasa, 20 Februari 2018
oleh adminstube
 
 
“Seperti mentari yang bersinar
Seperti itu kasih Bapa
Seperti gelombang samudra
Takkan pernah berhenti Kau mengasihiku………”
 
Penggalan pujian dari Vocal Group (VG) mahasiswa Stube-HEMAT mengalun di tengah kebaktian jam ke-4 di GKJ Mergangsan (11/2/18). Masih dengan membawakan pujian yang sama VG ini beraksi kembali di GKJ Brayat Kinasih (18/02/18). Selain kerinduan dari beberapa mahasiswa untuk melayani dengan pujian, kelompok VG ini sekalian mengenalkan program pelayanan Stube-HEMAT untuk para pemuda dan mahasiswa.

Lagu pujian dengan judul “Kasih Bapa” ini dipilih karena para personil VG yang semuanya anak rantau dari luar pulau Jawa ini benar-benar merasakan betapa Tuhan sungguh mengasihi hidup mereka. Meskipun jauh dari kampung halaman dan orang tua. Tuhan menjaga dan memelihara dengan mempertemukan mereka dalam gereja dan jemaat-jemaatNya sehingga mereka merasa tidak sendiri bahkan menemukan keluarga baru.
 
Rasa mendapat keluarga juga ditemukan saat mereka tergabung dalam program Stube-HEMAT, sebuah pelayanan untuk para mahasiswa dan pemuda di Yogyakarta. Selain itu program pengembangan melalui pelatihan-pelatihan yang ada dirasakan memberi nilai tambah serta mengubah pola pikir dan memampukan untuk melihat peluang-peluang serta jejaring. Hal-hal seperti inilah yang ingin dibagikan kepada banyak lagi mahasiswa dan pemuda, khususnya dari dua gereja yang dilayani.
 
Fei, aktivis mahasiswa sekaligus pelatih VG ini menyampaikan harapan, ”Kerinduan melayani dengan pujian dari gereja ke gereja ini diharapkan terus berlanjut, bahkan bisa dibentuk tim VG Stube HEMAT yang siap mengikuti event-event baik di lingkungan gereja atau pemerintahan. Saya siap membantu untuk melatih”, pungkasnya dengan semangat. (SAP)

  Bagikan artikel ini

Kolaborasi Memperjuangkan Hak Asasi Peluncuran Amnesty Indonesia, network hearing dan pertemuan bersama

pada hari Senin, 22 Januari 2018
oleh adminstube
 
 
 
Berbagai berita pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masih mewarnai headline media massa internasional maupun nasional. Ini menjadi tantangan karena HAM sendiri merupakan prinsip-prinsip moral yang menjadi standar perilaku manusia dan dilindungi sebagai hak-hak hukum, termuat dalam Deklarasi PBB, seluruh manusia terlahir bebas dan sama dalam hak dan derajatnya. Mereka dihargai dengan suatu alasan dan kesadaran dan memandang serta memperlakukan orang lain dalam semangat persaudaraan, (terjemahan sederhana).
 
Pemikiran ini menjadi semangat Stube-HEMAT Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam gerakan perjuangan HAM di Indonesia khususnya Yogyakarta bersama Social Movement Institute (SMI) dan Amnesty Indonesia (AI). AI adalah perwakilan Amnesty International di Indonesia sebagai gerakan global non-pemerintah untuk mengkampanyekan HAM dalam Deklarasi Universal HAM dan standar internasional lainnya.
 
Pemahaman HAM perlu terus diupayakan dan dikampanyekan bersama-sama oleh berbagai pihak yang konsen pada HAM. Dari brainstorming pertemuan bersama pada 24 Januari 2018 di kantor SMI Yogyakarta muncullah pemikiran kritis tentang ide Sekolah HAM untuk mahasiswa. Mengapa mahasiswa? Karena mahasiswa memiliki idealisme, semangat dan energi menjadi agent of change menuju masyarakat yang sadar HAM dan Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan di mana mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia kuliah di kota ini.
 
Pertemuan ini merupakan rangkaian panjang sejak deklarasi Amnesty Indonesia pada tanggal 8 Desember 2017 di Masjid Mataram Kotagede. Pada saat itu Agung Supriyono, SH, kepala Kesbangpol DIY mewakili Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur DIY meresmikan Amnesty International Indonesia dan mengungkapkan bahwa Indonesia terdiri dari bermacam budaya, agama dan keragaman lainnya. Perlu adanya kebersamaan untuk mempertahankan keadaan ini. Semangat persatuan dan kesatuan dalam keselarasan bisa diraih jika keadilan dan hak asasi manusia tercapai.
 
Sehari sesudahnya, 9 Desember 2017 di Joglo Omah Jowo diadakan sebuah pertemuan jejaring yang difasilitasi oleh Usman Hamid, direktur eksekutif AI untuk network hearing, yaitu mengumpulkan isu-isu yang berkaitan dengan pelanggaran HAM yang terjadi di DIY. Beberapa lembaga yang berpartisipasi antara lain Social Movement Institute (SMI), Resist, Corner Club UGM, Mitra Wacana, LkiS, Amartya, LBH Yogyakarta, Tribunjogja, Stube-HEMAT Yogyakarta dan beberapa peserta lainnya. Pertemuan ini merumuskan isu-isu penting antara lain: 1) Kebebasan berekspresi, berpendapat dan berorganisasi, 2) Kebebasan beragama dan menjalankan ibadah, 3) Diskriminasi ras dan identitas masyarakat tertentu, 4) Tindakan aparat keamanan yang berlebihan atau terlambat menangani suatu kasus, 5) Kebebasan pers ketika meliput suatu peristiwa, 6) Hak ekonomi sosial seperti konflik tanah, pasir besi, gusur paksa dan hak anak, 7) Membongkar ilusi ketakutan terhadap isu-isu tertentu dan perlu membangkitkan kembali rasa nasionalisme, dan 8) Memperjuangkan kebebasan akademik di kampus.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta melihat pentingnya mahasiswa sadar terhadap HAM sehingga Stube ikut ambil bagian dalam kolaborasi ini. Kedepannya mahasiswa sadar HAM mampu mewujdukan bagi dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya saat kembali ke daerahnya masing-masing. (RBN).

 


  Bagikan artikel ini

Melangkah Mengenal Keberagaman   Ala KB/TK Amartya

pada hari Sabtu, 20 Januari 2018
oleh adminstube
 
 
 
Selasa, 16 Januari 2018 menjadi hari yang berkesan bagi siswa-siswa dan fasilitator Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak (KB/TK) Amartya yang terletak di Banuwitan, Baturetno, Banguntapan, Bantul karena mereka mengadakan kunjungan belajar ke GKJ Mergangsan untuk mengenal tempat ibadah agama Kristen dan hari raya Natal.
 
Kegiatan ini merupakan wujud dari pemikiran panjang Eko Prasetyo dan Irma Mulyani, inisiator berdirinya KB/TK Amartya sebagai sekolah inklusi dan Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai jejaring Eko Prasetyo, salah satu inisiator SMI (Social Movement Institute) bergerak bersama dalam bidang pendidikan anak muda dan mengkampanyekan keberagaman dan perdamaian.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta mendukung adanya inisiatif pengenalan keberagaman dan menumbuhkan toleransi di Indonesia yang beragam budaya, agama dan bahasa, apalagi sejak awal, sejak anak-anak melalui sebuah pembelajaran secara nyata atau ‘experiential learning’ berinteraksi langsung dengan keberagaman yang ada.
 
 
Pada hari itu dua belas siswa dan empat fasilitator berkunjung ke GKJ Mergangsan dan antusias mendengar penjelasan Pdt. Hendra Kurniawan, S.Si, salah satu pendeta di GKJ Mergangsan tentang kekristenan, gereja dan hari raya natal. Ada berbagai ungkapan jujur terungkap dari siswa-siswa saat masuk dalam gedung gereja, seperti ternyata di dalam gereja banyak kursi-kursinya, kalau di masjid tidak ada kursi, di gereja koq ada gamelan dan alat-alat musik lainnya dan senang bisa melihat pohon natal dari dekat.
 
 

 

“Saya menanggapi dengan baik dan mengapresiasi atas kunjungan yang dilakukan KB/TK Amartya karena dengan kunjungan tersebut pemikiran anak dapat terbuka untuk hidup dalam toleransi beragama. Selain itu, saya melihat ada respon baik untuk menjalin kebersamaan yang nampak dalam diri guru-gurunya,” ungkap Pdt. Hendra Kurniawan, S.Si.
 
Irma Mulyani, salah satu fasilitator yang juga pendiri KB/TK Amartya sangat berterima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan sehingga kegiatan kunjungan ke GKJ Mergangsan bisa terwujud dan menjadi pengalaman baru bagi siswa-siswa dan para fasilitator KB/TK Amartya bisa mengunjungi gereja dan mengenal hari raya Natal.
 

 

Benarlah adanya bahwa pengalaman perjumpaan secara langsung bisa menumbuhkan kesadaran seseorang terhadap keberagaman dan menjaganya dalam harmoni. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Berinteraksi dan Perkuat Motivasi Meet-up with Nancy dan Anne

pada hari Selasa, 9 Januari 2018
oleh adminstube
 
 
 
Anak muda (baca: mahasiswa) identik dengan semangat, suka tantangan dan mencari hal-baru dan memiliki energi untuk melakukan berbagai aktivitas demi menjawab rasa ingin tahunya. Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa berbagai daerah di Indonesia yang studi di Yogyakarta melihat karakteristik ini dan membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkembang optimal dengan sebuah dialog bersama Three Nancy Sinaga dan Anne Ruland yang akan berkunjung ke beberapa kota di Indonesia, salah satunya Yogyakarta, sehingga mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta bisa berinteraksi langsung dan bertukar pikiran dengan mahasiswa Indonesia yang studi di luar negeri dan mahasiswa dari Jerman.
 
 
Awalnya Nancy mendapat informasi dari koleganya di Köln, Jerman bahwa ada Stube di Indonesia sehingga ia dan Anne ingin mengenal lebih dekat Stube-HEMAT Yogyakarta. Setelah beberapa kali berkontak melalui email akhirnya pertemuan terwujud pada hari Jumat, 5 Januari 2018 di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta dan dihadiri lima belas mahasiswa.
 
Nancy berasal dari Sumatera Utara dan kuliah di Hochschule Koblenz dan Anne Ruland dari Jerman dan kuliah di Hochschule Köln, Jerman. Keduanya mengambil kuliah di jurusan yang sama, Soziale Arbeit (Kesejahteraan Masyarakat). Nancy mengungkapkan dirinya lulus dari Universitas Negeri Medan kemudian mengajar bahasa Inggris. Di masa rekonstruksi pascagempa dan tsunami di Aceh 2005 ia berkenalan dengan kolega dari luar negeri dan terus menjalin kontak dengan mereka. Dari perjumpaan dan interaksi itu ia termotivasi melanjutkan hidup di luar negeri. Ia mengikuti program Aupair Jerman, sebuah program pertukaran budaya untuk pemuda dari luar Jerman untuk tinggal bersama dan menjadi bagian dari keluarga tersebut. Tentu ada persyaratan yang mesti dipenuhi, seperti usia, suka tantangan baru, suka anak-anak dan mampu adaptasi dengan dunia luar. Ia tinggal di keluarga Jerman dan mendapat kursus bahasa Jerman dari keluarga asuhnya.
 
Ia mengakui bahwa hidup mahasiswa di luar negeri nampak menyenangkan dan mewah, tetapi sebenarnya ada tantangan berat seperti ‘culture shock’ perbedaan budaya di Indonesia dan Jerman, regulasi pemerintah Jerman untuk pendatang dan ketentuan studi yang tak mudah yang mesti dipenuhi. Ia menyarankan kepada mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di luar negeri harus kuat mental, suka tantangan dan menemukan hal-hal baru, aktif komunikasi dan ramah kepada setiap orang.
 
 
Sedangkan Anne mengatakan bahwa ini adalah kunjungan pertamanya di Indonesia. Ia bersyukur bertemu dengan mahasiswa di Indonesia yang ramah. Ia memaparkan studi tentang pekerja sosial yang mencakup berbagai bidang tindakan dan dilengkapi praktik teori dan praktik yang intensif. Topik ini mendalami dunia pekerja sosial, profesi dan etika pekerja sosial, sejarah pekerja sosial, sistem sosial dan sosial politik di Jerman dan cakupan kerja bagi pekerja sosial. Dengan menyelesaikan program studi ini mahasiswa memperoleh dasar untuk program master pascasarjana. Mereka berdua memilih jurusan ini karena lulusan memiliki cakupan kerja yang luas, tidak saja di lembaga atau departemen pemerintah namun bisa di lembaga non pemerintah bahkan di perusahaan swasta.
 

 

Mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta antusias menanggapi Nancy dan Anne dan menyampaikan pertanyaan, seperti bagaimana cara menjadi peserta program Aupair Jerman. Ada dua cara aplikasi program ini, pertama, secara pribadi di mana calon peserta mendaftar secara online dan harus memiliki jaminan sejumlah uang atau keluarga di Jerman, atau kedua, melalui agen di mana calon peserta mengajukan aplikasi melalui agen dengan konsekuensi biaya yang berbeda. Berikutnya, apakah Nancy akan kembali ke Indonesia, dan ia menyatakan belum tahu kapan kembali ke Indonesia. Anne juga mengungkapkan alasannya kuliah di jurusan itu karena ia suka berinteraksi dan membantu orang lain.
 

 

Jadi, teruslah berinteraksi dengan jejaring internasional, perkuat motivasi dan tingkatkan kemampuan berbahasa asing. Terbuka kesempatan untuk mengembangkan diri dan go internasional. (TRU)

 


  Bagikan artikel ini

Efektif Kelola Waktu   Siap Hadapi Ujian

pada hari Senin, 8 Januari 2018
oleh adminstube
 
 
 
Ujian adalah salah satu proses menuju ke tahapan yang lebih tinggi. Setiap ujian memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Berkaitan dengan ujian akhir yang diberlakukan di tingkat SD, SMP dan SMA diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas. Dalam proses persiapkan ujian ada beberapa pihak bertanggung jawab di dalamnya, seperti guru di sekolah, siswa dan orang tua siswa. Pihak sekolah biasanya melakukan penambahan jam belajar, les privat dan pembekalan siswa. Tidak menutup kemungkinan siswa-siswi mengikuti les privat di luar sekolah.
 
 
Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh SMK BOKPRI 2 adalah pembekalan siswa persiapan ujian kelas XII Tahun Pelajaran 2017 – 2018 pada hari Jumat Jumat-Sabtu, 5-6 Januari 2018 di hotel Satriafi, Kaliurang, Sleman. Tujuan pihak sekolah mengadakan kegiatan ini adalah mempersiapkan mental mereka dalam mengikuti ujian yang akan datang, mengetahui sejauh mana kesiapan siswa-siswi mereka baik secara mata pelajaran dan kesiapan mental menghadapi Ujian Nasional, selain itu mengajak mereka rileks dan tidak canggung saat menghadapi ujian nantinya, ungkap Dra. Rusmiyati yang menjadi ketua panitia.
 
 
Ada tiga puluh tiga siswa dan lima guru mengikuti pembekalan yang terbagi menjadi beberapa sesi. Stube-HEMAT Yogyakarta, sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dan anak muda diundang menjadi salah satu fasiltitator dan Stube mengutus Trustha Rembaka dan Sarloce Apang untuk memandu sesi di hari Jumat, 5 Januari 2018.
 
Sarloce Apang memaparkan tentang Stube-HEMAT dan kegiatannya. Sedangkan Trustha memaparkan materi Kunci Sukses Ujian: Cerdas Mengelola Waktu. Ia mengawali sesi dengan memandu peserta menulis kegiatan mereka dari pagi sampai malam di kertas yang dibagikan. Selanjutnya Sarloce memilih beberapa peserta untuk membacakan kegiatan mereka dalam sehari, seperti Julian, yang mengambil jurusan Tata Boga memulai hari dengan bangun pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah makan, mandi, nonton film sambil main hp, jam 22.15 tidur. Anggi, yang mengambil jurusan Patiseri, bangun pagi jam 6 dan mandi, sekolah, tidur, bangun dan mandi, makan malam, main hp dan tidur jam 23.00. Berikutnya Novi, dari jurusan Tata Boga bangun lebih pagi dari peserta sebelumnya, kemudian bersiap ke sekolah, pulang sekolah langsung makan, mandi, makan malam dan jam 21.00 sudah tidur. Dari paparan peserta bisa diketahui sejauh mana mereka memanfaatkan waktu yang ada. Ternyata mereka belum memanfaatkan waktu dengan efektif dan masih diisi menonton televisi dan main hp bahkan tidak belajar sama sekali.
 

 

Trustha juga memaparkan waktu 24 jam dalam sehari ke dalam tiga bagian. 8 jam untuk tidur, 9 jam untuk sekolah dan 7 jam lainnya yang harus dimanfaatkan dengan baik. Ia mengajak peserta mengisi waktu 7 jam dengan kegiatan efektif dengan memiliah mana yang penting dan mendesak, pent