pada hari Jumat, 11 Desember 2015
oleh adminstube
Gender: Teori Dan Praktik
 
Di Kampung Halaman
Diskusi Mahasiswa tentang Gender

Stube-HEMAT Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan maskulinitas dan feminitas pada 27-29 November 2015. Diskusi kecil sebagai tambahan agar lebih banyak lagi mahasiswa yang berbicara mengenai gender serta sharing permasalahannya dilakukan pada tanggal 9 Desember 2015 di Sawah Resto.



Acara ini memunculkan cakrawala manfaat baru. Selain mengenal Stube-HEMAT secara lebih dekat, mereka mengasah kembali pengetahuan feminis yang dimiliki, serta mendapatkan teman baru antar kampus (UKDW, STIKES Bethesda, dan STAK Marturia). Sekalipun mayoritas teman-teman mahasiswa yang hadir berlatar prodi teologi, mereka merasakan bahwa isu gender tidak lekang oleh waktu – selalu baru bila dibicarakan dan digumuli. Mereka tidak saja memapar teori yang didapat tetapi juga pengalaman di kampung halaman.
 
Pascah Hariyanto, seorang aktifis Stube-HEMAT Yogyakarta yang berasal dari Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, sekarang menempuh studi Pendidikan Agama Kristen di STAK Marturia bertutur, “Dalam keluarga harus ada keseimbangan. Tugas-tugas yang ada harus dibagi secara proporsional”.

Sementara Bagus, seorang mahasiswa dari Jember, Jawa Timur berpendapat, “Pembedaan laki-laki dan perempuan itu dimulai dari lingkungan. Lingkungan itu konstruksi, seperti nasihat orang tua pada umumnya kepada anak gadisnya bahwa kalau nanti tidak bisa masak, bagaimana mau jadi istri yang baik”. Sebelum masuk jurusan teologi, Bagus pernah tinggal bersama mentor di Surabaya. Dia melihat pembagian tugas dalam keluarga yang sehat seperti tugas cuci baju adalah suami dan masak adalah tugas istri.
 
Reza, yang berasal dari Kediri, Jawa Timur, menambahkan bahwa fenomena yang saat ini terjadi adalah cowok pinter masak dan cewek bisa membereskan kerusakan genteng. Dulu memang cewek dan cowok punya tugas sendiri tapi sekarang standarnya cair.
 
Anggi, berasal dari daerah yang sama dengan Reza, yaitu Kediri, mengakui tidak begitu mendalami ilmu feminis. Namun, ia sepakat pada kesetaraan. Secara teologis dua insan diciptakan oleh Allah. Laki-laki dibentuk oleh Allah. Wanita diciptakan dari tulang rusuk bagian atas. Sekalipun prosesnya berbeda, hak dan kewenangannya tetap dijamin oleh semesta.
 
Eko, menunjukkan bahwa masyarakat sudah melakukan kesetaraan. Mereka saling membantu dan bergotong royong. Di kampungnya, Tanjung Bintang, Tanjung Karang, Lampung, beberapa gadis yang sudah menginjak dewasa, biasanya jadi TKI di luar negeri. Saat pulang kampung mereka punya uang dan menganggap seolah-olah laki-laki tak punya kuasa. Dalam hal ini, kesetaraan disepakati oleh Eko tetapi dia tidak sepakat apabila kemudian uang yang mendominasi. Pembagian kerja harus menjadi kesepakatan bersama dan sepakat jangan sampai kesetaraan gender ini menyimpang.
 
Erly, mahasiswa STIKES Bethesda yang berasal dari Sumba Barat Daya mengatakan bahwa ia hanya tahu praktek-praktek di rumah saja. Pekerjaan kakak laki-lakinya banyak dilakukan di luar rumah. Diakui bahwa laki-laki memang dominan dalam pembagian warisan.


Weweh, nama akrab dari Alva Kurniawan yang berasal dari Pugung Raharjo, Lampung. Penghargaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan sudah dimulai ketika ada kegiatan sosial bersama, seperti hajatan. Laki-laki dan perempuan seolah-olah sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Pada umumnya, laki-laki mengambil pekerjaan yang memerlukan tenaga besar, sementara perempuan selalu mengambil bagian di dapur.
 
Pinto, yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah, menggambarkan rutinitas dan kehidupan sebagian besar perempuan dan ibu-ibu bekerja. Ada ruang-ruang yang dibatasi sehingga sekalipun mereka bekerja mereka tetap mengurus rumah juga.
 

Kesetaraan hadir dengan berbagai ragam bentuk dan pengertian. Kesetaraan bukan bentuk baku yang tidak bisa berubah karena sewaktu-waktu bisa luntur dan berubah. Untuk menjaga agar kesetaraan tetap terpelihara maka diskusi, kerja bersama, dan refleksi harus senantiasa dilakukan. Kiranya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tetap hadir dan kita perjuangkan dalam kehidupan. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 7 Desember 2015
oleh adminstube

Pohon Cemara:

Semangat dan Harapan

 

 

 

 

 

Berbagi, apakah yang terlintas di dalam pikiran kita? Sudahkah kita mengerti dan mampu melakukannya? Saya rasa semua orang belum mampu mendeskripsikan dengan baik apa itu kata berbagi.

 

 

 

Minggu pagi itu (6/12/2015) cuaca di Yogyakarta mendung, tetapi kami tetap melaju dengan sepeda motor menuju pantai Samas, memenuhi undangan teman-teman Reispirasi untuk mengikuti kegiatan konservasi pesisir pantai dengan menanam pohon Cemara Udang atau Cemara Pantai (Casuarina Equisetifolia).

 

 

 

 

 

 

Kurang lima menit dari pukul 10 pagi, kami (Loce, Yohanes, Stenly dan Frans) tiba di pantai Samas. Disambut oleh Mas Deny dan beberapa temannya, kami berbincang-bincang sebentar dan langsung mengambil posisi masing-masing. Saya berpartner dengan Yohanes menancapkan bambu sebagai pengarah untuk menggali lobang, Stenly dan Frans menggali lubang dan memasukan bibit satu per satu ke dalam lubang tersebut, sementara Mas Deny dan teman-temannya mengangkut bibit dan pupuk kompos dari rumah ke pesisir pantai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan penanaman Cemara Udang sendiri menurut Mas Deny selain untuk penghijauan juga sebagai langkah konservasi yang bermanfaat untuk pencegahan dan mengurangi abrasi di pesisir pantai Samas ini. Sebagaimana perlu diketahui, pada bulan Agustus 2013 pernah terjadi abrasi yang sangat merugikan masyarakat yang tinggal dekat pesisir, akibatnya beberapa rumah ikut rusak berat terkena abrasi pantai ini bahkan beberapa rumah ada yang roboh tergerus abrasi. Kegiatan menanam pohon cemara udang ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya abrasi dan menjadi benteng hembusan angin laut yang mengandung garam. Pembatas atau “barrier” ini juga dipakai untuk konservasi penyu agar tidak terjadi disorientasi pada keberlangsungan kehidupan penyu yang dipelihara di sini.

 

 
Dalam waktu kurang lebih lima setengah jam, kami berhasil menanam 220 pohon cemara dengan peserta berjumlah tujuh orang. Satu langkah kecil yang kami lakukan hari itu diharapkan dapat memberi dampak baik dan mampu menyadarkan masyarakat sekitar pesisir pantai Samas agar mau ikut terlibat menanam pohon cemara karena akan banyak membawa keuntungan bagi masyarakat itu sendiri.

 

 

Kegiatan menanam pohon cemara merupakan pemaknaan kami terhadap kata berbagi. Apakah yang kamu bagikan hari ini? (SAP)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook