pada hari Jumat, 28 Maret 2014
oleh adminstube
ALOR, Aku Datang!

 

 

 

 

 

 

Alor, sebuah pulau kecil dengan luas 2.119 km², merupakan salah satu dari 92 pulau terluar di Indonesia, terletak di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara. Dengan titik tertinggi 1.839 m, pulau ini dibatasi oleh Laut Flores dan Laut Banda di sebelah utara, Selat Ombai di selatan, serta Selat Pantar di barat. Pulau Alor merupakan salah satu dari dua pulau utama di Kabupaten Alor. Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Di pulau ini terdapat Kota Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor.

 

 

 

 

Di tempat inilah Friskal Gustiani Koho, atau yang dipanggil Ika, melayani GBI Kalabahi Alor. Dengan bekal studi theologia yang diselesaikan di Yogya dan berbagai pelatihan yang diikutinya di Stube HEMAT Yogyakarta, membuatnya optimis akan pelayanan yang dilakukan. Sebagaimana pengalaman yang dimiliki maka fokus pelayanan yang dilakukan berkaitan dengan anak-anak dan orang muda. Memulai pelayanan di tempat baru bukanlah hal yang mudah, tetapi satu keyakinan yang dimilikinya akan pentingnya wadah kegiatan bagi anak muda Alor sebagaimana kegiatan di Stube HEMAT, maka Ika mencoba membuat terobosan dan berjejaring.

 

 

 

 

 

 

 


Meskipun anak-anak muda Alor memiliki kecenderungan untuk hijrah ke Kupang, sebagai kota propinsi, untuk melanjutkan studi ataupun bekerja, beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Tribuana, IKIP Malang kelas Kalabahi, dan rintisan STT merupakan tempat mahasiswa berkumpul yang bisa menjadi jejaring pelayanan untuk anak muda.

 

 

Kekuatan manusia tidaklah seberapa, tetapi kekuatan Tuhan selalu memberi topangan dan menunjukkan arah jalan. Selamat melayani dan berkarya!


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 16 Maret 2014
oleh adminstube
Menjadi Pemilih Cerdas!

 

           


 

Apa yang saudara-saudara lakukan ketika menentukan pilihan? Melihat baiknya? Menimbang untungnya? Atau begitu saja menetak pilihan secara acak? Menentukan pilihan itu memang sulit tetapi harus kita lakukan. Menentukan pilihan haruslah disertai dengan pertimbangan sehingga resiko yang diterima dapat diminimalisir. Memilih pasangan hidup atau memilih calon pemimpin, memilih ketua kelas, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, atau bahkan memilih pemimpin negeri kita, semuanya membutuhkan pertimbangan. Lalu, kita butuh pertimbangan seperti apa?

 

 

 

Tentukan Standar!

 

Untuk menentukan sebuah pilihan maka kita harus punya standar terlebih dahulu. Misalnya pilihan kita harus baik dan mendatangkan kesenangan. Standar lain misalnya seorang ketua kelas haruslah disiplin ataupun patuh terhadap peraturan. Ia harus tekun dan menjadi teladan. Ada banyak standar dan kita harus menentukan beberapa. Pada intinya kita harus punya standar untuk menentukan siapa yang akan kita percayai. Memilih sama artinya dengan mempercayai

 

Tentukanlah standar bagi orang-orang yang kamu percaya sebagai pemimpin kita nantinya. Apakah sang calon pemimpin itu anti-korupsi, apakah pro-gender, atau apakah pro-Inklusi. Masing-masing kita punya standar dan tidak selalu sama. Setiap calon juga punya kapasitas kepedulian yang berbeda.

 

 

 

Kenali Pilihanmu!

 

Mengenali pilihan akan lebih banyak mendatangkan keuntungan daripada kita tidak mengenal pilihan itu sama sekali. Seseorang akan merugi ketika pilihannya tidak tepat. Memilih secara acak tanpa mengenali latar belakang sang calon akan beresiko tinggi. Pemimpin yang sulit dilihat latar belakangnya adalah pemimpin misterius. Bila pada hari kemarin, atau pada masa lalu, seorang calon pemimpin kita tidak disiplin dalam hidupnya maka bukan tidak mungkin bila ia akan bermalas-malasan ketika diserahi mandat memimpin kita.

 

Mengenali calon akan mendatangkan banyak keuntungan. Kita bisa mengenal sang calon dari saudara dekat ataupun dari media. Kita mengerti latar belakang calon pendamping kita maka kita akan lebih mudah memahami pola perilakunya di masa depan. Pemimpin yang sudah korup atau melakukan pelanggaran hukum maka mereka bukan tipikal pemimpin kita. Pemimpin kita yang sesungguhnya haruslah benar-benar memiliki jiwa melayani, berani menegur dan menegakkan hukum, dan mau bekerja keras.

 

 

 

Pemilih Rasional

 

Setelah kita memiliki standar dan memiliki kemampuan untuk melihat latar belakang, kita akan disebut sebagai pemilih rasional. Pemilih rasional punya standar yang baik bagi pilihannya. Pemilih rasional mampu untuk melihat latar belakang dari pilihan itu.

 

Pada PEMILU 2014 ini, Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak saudara-saudara untuk menjadi pemilih rasional. Metode untuk menetapkan standar dan melihat latar belakang sang calon ini dinamakan political tracking. Metode ini sudah dibagikan pada Jumat (14/3) yang lalu, di Persekutuan Mahasiswa Kristen Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (PMK STTL). Kelompok yang membagikan metode ini adalah David Theo (STTL), Lius (APMD), dan Johain (UJB). Didampingi dengan Tim Kerja Stube-HEMAT Yogyakarta, kelompok follow-Up ini membagikan materi yang ia dapatkan pada pelatihan beberapa waktu yang lalu.

 

 

Kiranya metode ini berguna bagi kita semua. Setidaknya, cara sederhana dalam menentukan pemimpin ini diketahui oleh keluarga ataupun saudara dekat kita. Kelompok Follow-up senantiasa bergiat untuk mengajarkan metode ini. Harapannya tentu semakin banyak orang disadarkan dan mampu menjadi pemilih cerdas dan rasional. Kiranya Indonesia semakin maju dan makmur dengan pemilih yang semakin pintar! (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 5 Maret 2014
oleh adminstube
Yogyakarta Rumah Kita Bersama:

 

Sarasehan HUT GKI Gejayan ke-14

 

           

 

 

 

 

Dalam rangka HUT GKI Gejayan ke-14, gereja ini menyelenggarakan sarasehan bertajuk “Yogyakarta Rumah Kita Bersama” yang digelar pada 3 Maret 2014. Beberapa tokoh FPUB lingkungan DIY hadir dalam acara ini. Materi dan ungkapan yang disampaikan beragam sesuai dengan penghayatan iman masing-masing.

 

 

 

 

Tokoh yang hadir disana diantaranya GKR. Hemas, GBPH. H. Prabukusumo, Bapak Sri Purnomo, M. Si, KH. Abdul Muhaimin, Bante Sasanabodi, Rm. Yosef Suyatno Pr., KH. Toha Abdulrahman. Acara disemarakkan oleh kelompok musik Koesplus (De Guder) yang berasal dari Padukuhan Soropadan, Condong Catur, dan kelompok Posyandu Lansia Sejahtera dari padukuhan yang sama. Kelompok Posyandu Lansia ini menyanyikan lagu Menanam Jagung, Gundul-gundul pacul, dan dari Sabang Sampai Merauke.

 

 

 

 

Ketua Majelis GKI Gejayan, Ibu Rina Lusiana, memberikan sambutan dengan mereview peringatan satu tahun yang lalu. Pada tahun yang lalu, Sri Sultan HB X hadir dan menyambut baik gagasan “Yogyakarta Rumah Kita Bersama”.

 

 

 

Acara dibuka oleh GKR. Hemas dengan beberapa poin disampaikan. Berkah kemajemukan dan pluralisme sebagai kekuatan yang menyejahterakan. Ketidakadilan menggusur aliran kepercayaan. Jangan hanya mulut saja berbicara pluralisme, kita jaga city of tolerance. Ancaman konflik selalu ada. Gusti Hemas menambahkan bahwa tidak ada mayoritas dan minoritas di Indonesia.

 

 

 

Dalam acara ini, Stube-HEMAT diundang dan mengutus dua orang yaitu Stenly Recky Bontinge dan Yohanes Dian Alpasa.

 

 

 

Menurut Yohanes, ada banyak hal yang perlu diapresiasi. Pertama, upaya GKI Gejayan untuk menyelenggarakan sarasehan. Inilah ruang untuk berinteraksi, bertatap muka, dan saling mengenal satu sama lain. Sekalipun acara diselenggarakan di Gedung Gereja, suasana harmonis ditunjukkan disana: ada suster yang menyanyikan lagu salawat, pemuda masjid berpadu suara dengan pemuda gereja.

 

 

 

Kedua, diskusi bersama antar pemuka agama ini merupakan tindakan yang mulia. Para pemuka menyamakan visi bersama dalam menyikapi hajatan Nasional PEMILU 2014. Disinyalir terdapat ancaman dalam pemilu ini. Dialog dan bicara bersama antar pemeluk merupakan salah satu cara efektif untuk menjaga kedamaian. Elemen-elemen masyarakat dapat meneladani upaya ini.

 

 

 

Ketiga, gereja tampil tidak hanya dalam dialog tetapi dalam upaya merayakan kebudayaan. Merayakan kebudayaan berarti menggali, mengunggah, dan mengaktualisasikan kembali dalam hidup hari ini. Budaya yang dirayakan adalah budaya berbahasa, bertutur sopan, laku arif, dan berkata tindak dengan sopan.

 

 

 

Visi Stube-HEMAT adalah mengembangkan kaum muda untuk berkarya nyata. Maka ketiga hal yang diapresiasi ini sejalan dengan visi tersebut.

 

 


Ada banyak hal yang bisa dipelajari. Setiap perayaan ulang tahun bukan hanya pertambahan usia saja tetapi juga pertambahan kedewasaan dan hikmat. Umat yang semakin dewasa adalah umat yang semakin berbuah. Ada karya nyata dalam masyarakat baik dalam mengembangkan budaya, perdamaian, peradaban dan kritik terhadap perkembangan itu. Kiranya setiap orang beriman dapat berguna bagi sesama, bangsa dan Negara. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 2 Maret 2014
oleh adminstube
PERKENALAN TEAM STUBE-HEMAT YOGYAKARTA

 

DENGAN PENGURUS KAMPUNG NYUTRAN RW 19/RT 59

 

Sabtu, 1 Maret 2014

 

 

 

 

 

 

‘Tak Kenal maka Tak Sayang’ demikian pepatah yang sering didengar. Ketika seseorang atau lembaga tidak dikenal atau tidak diketahui maka ia tidak mendapat perhatian dan kasih sayang. Karena itu Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga yang melakukan pendampingan kepada mahasiswa Kristiani dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, merasa perlu untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat kampung Nyutran, di mana sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta berada.

 

 

 

 

Sabtu, 1 Maret 2014 bertempat di rumah salah satu warga, Bapak Muh. Pramono Irianto, M.Sn, diadakan pertemuan pengurus kampung Nyutran, RW 19/RT 59 dengan Team Stube-HEMAT Yogyakarta, terdiri dari Ariani Narwastujati, Trustha Rembaka, Vicky Tri Samekto, Stenly R. Bontinge, Sarloce Apang, Sofia Atalia dan Yohanes D. Alpasa.

 

 

 

 

 

 

Dalam pertemuan tersebut Ibu Ariani Narwastujati selaku Direktur Stube-HEMAT Yogyakarta memperkenalkan Stube-HEMAT dengan harapan kiranya keberadaan Stube-HEMAT di kampung Nyutran bisa diterima dengan baik oleh masyarakat dan bahkan bekerjasama memberikan manfaat untuk masyarakat setempat. Lembaga ini juga bisa dipakai sebagai media belajar dan berinteraksi lintas budaya karena aktivis Stube-HEMAT sebagian besar dari luar Pulau Jawa.

 

 

 

 

Selain perkenalan dengan team Stube-HEMAT Yogyakarta, pertemuan yang dipandu oleh Bapak Heniy Astiyanto, SH, selaku ketua RT juga membahas mengenai masalah genangan air yang selalu terjadi di jalan-jalan kampung Nyutran pascahujan deras, masalah tower seluler, arisan warga dan kerja bakti kampung.

 

 

Pertemuan malam itu ditutup dengan ramah tamah antara warga, pengurus dan team Stube-HEMAT dengan makan bersama. Semoga kampung Nyutran semakin maju dan bermartabat dan Stube boleh menjadi bagian di dalamnya. (TRU)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook