pada hari Minggu, 31 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Membuka Interaksi
Berbagi Inspirasi
Sosialisasi Stube-HEMAT Yogyakarta
di keluarga Hipmasty
Omah Limasan, 29 Januari 2016
 
 
Manusia dikenal sebagai homo homini socius, makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Tak beda dengan manusia, sebagai sebuah lembaga di dalamnya ada organisme atau manusia, yang membutuhkan interaksi dengan lembaga lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta, membangun relasi dengan berbagai lembaga, komunitas mahasiswa maupun perkumpulan lainnya.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa yang sedang studi di Yogyakarta mengadakan sosialisasi kepada komunitas atau perkumpulan mahasiswa, salah satu di antaranya adalah Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Sumba Timur di Yogyakarta (Hipmasty) yang diadakan pada hari Jumat, 29 Januari 2016 di sekret Stube-HEMAT Yogyakarta. Dihadiri dua belas peserta, dengan komposisi tujuh mahasiswa peserta baru dan lima mahasiswa aktifis Stube-HEMAT Yogyakarta, pertemuan ini dimulai pukul 17.45 WIB. Trustha Rembaka, S.Th selaku penanggung jawab sosialisasi sekaligus sebagai koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta mengawali dengan games ‘Komuni-Kata’. Aturan permainan ini adalah satu peserta menyebutkan satu kata dan peserta di sampingnya menyebutkan sebuah kata yang diawali dari huruf terakhir kata yang diucapkan sebelumnya. Permainan ini menuntut konsentrasi, respon cepat dan kekayaan kosakata peserta. Selama permainan berlangsung suasana sangat ceria dan semua bermain dengan gembira.
 
 

 

 

Sesi berikutnya adalah penjelasan tentang kegiatan Stube-HEMAT. Trustha menjelaskan dengan memutar sebuah video tentang Stube-HEMAT dan kegiatannya. Selanjutnya, ia menjelaskan kelembagaan Stube-HEMAT dan kegiatan yang sudah dilakukan selama tahun 2015, seperti pelatihan, eksposur lokal, exploring Sumba. Pada tahun 2016 ini dibuka kesempatan bagi tiga orang untuk menjadi peserta eksposur lokal dan enam orang untuk exploring Sumba.
 
 
Stube-HEMAT yang hadir sebagai wadah kegiatan alternatif bagi mahasiswa memberi kesempatan kepada mahasiswa mempelajari topik-topik tertentu yang diminati oleh mahasiswa dan belum tentu dipelajari di dunia kampus. Mahasiswa didorong untuk mengenali dirinya dan mengenali potensinya dan cerdas memilih kegiatan yang menunjang potensinya.

 

Rudi, salah satu peserta yang kuliah di Fisipol Universitas Atmajaya Yogyakarta mengatakan, “Saya sebagai perwakilan organisasi sangat berterimakasih karena sudah diundang dalam acara ini dan terkesan karena keramahannya. Pertama-tama, saya sangat mengapresiasi undangan ini karena saya baru pertama kali mengikuti acara seperti ini. Kegiatan di lembaga lain ada pemisahan antara kegiatan spiritual dan sosial. Sedangkan di Stube-HEMAT mengkombinasikan keduanya.
 
Putri, yang kuliah di Pendidikan Matematika UST menambahkan, “Pada awal saya mengikuti kegiatan Stube diajak oleh Frans dan saya banyak bertanya tentang Stube dan kegiatannya. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk ikut pelatihan, saat itu pelatihan Pendidikan Global. Saya sangat senang sebab dalam pelatihan kita dipertemukan dengan berbagai narasumber dan saya bisa mengembangkan diri dan berbagi ilmu kepada teman-teman lain. Hal ini membuat saya semakin penasaran untuk mengikuti kegiatan Stube lainnya. Karena di Stube-HEMAT saya dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang tidak bisa ditemui di luar.”
 
“Jadi, selama teman-teman mahasiswa berada di Yogyakarta dan Stube-HEMAT ada di situ, kelola waktu sebaik-baiknya sehingga bisa mengikuti kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta. Ketika kita berinteraksi dengan berbagai orang dari berbagai kalangan kita akan menemukan inspirasi dan pengalaman yang baru.“ ungkap Sarloce Apang, salah satu tim Stube HEMAT menutup pertemuan ini. (SAP)

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 23 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Roti Untuk Semua

 

Sosialisasi Stube-HEMAT di PMK LPP

 

Jumat, 22 Januari 2016

 

 

 

 

 

 

Serunya mengikuti acara ibadah PMK Lembaga Pendidikan Perkebunan yang diawali dengan ‘games’ yang menguji kekompakan kelompok dan mawas diri. Yang menjadi ukuran untuk menang adalah kelompok yang berhasil mengumpulkan karet gelang terbanyak dalam waktu sepuluh detik sementara yang kalah akan mendapat hukuman. Hukumannya adalah satu orang anggota kelompok bertindak sebagai cermin dan satu anggota lagi sebagai orang yang akan berdandan. Yang berdandan melakukan gayanya saat berdandan dan yang menjadi cermin harus mengikuti gerak-geriknya.

 

 

 

 

Peserta yang awalnya 25 orang dengan dominasi jumlah laki-laki, 21 orang, pada akhirnya genap 36 orang selama proses. Mereka mengikuti dengan serius ibadah yang dipimpin oleh Bapak Jonatan, seorang mahasiswa S2 teologi UKDW yang diundang sore itu oleh pengurus PMK LPP.

 

 

 

Firman Tuhan sore itu tentang “Hidup Baru di Dalam TUHAN” yang diambil dari 2 Korintus 4:1-6; 2 Korintus 4:13-15; dan 2 Korintus 5:1, yang menjelaskan bahwa hidup baru adalah saat kita memiliki iman yang teguh kepada Yesus. Iman teguh akan sangat menentukan kehidupan kita dimasa depan, karena iman percaya membuat kita berani dan ketidakpercayaan membuat kita takut.

 

 

 

Dimulai pukul 18:40 WIB, ibadah berakhir sekitar pukul 20:30 WIB. Memasuki acara umum tim Stube HEMAT, Indah dipersilahkan memaparkan apa dan bagaimana Stube HEMAT sebagai lembaga yang melayani mahasiswa mengenal isu-isu sosial serta memfasilitasi mereka dengan kegiatan eksposur untuk mengenal lebih baik masalah di lapangan. Untuk mereka yang datang dari daerah luar Jawa, ada kesempatan pulang kampung untuk melakukan orientasi kerja, memetakan potensi atau pun masalah daerah. Kesempatan ini bisa diambil saat liburan semester. Bagi yang ingin mengenal Pulau Sumba, disediakan program kunjungan dan berbagi ilmu dengan teman-teman di pulau tersebut.

 

 

 

 

 

 

Program ini baru bagi para mahasiswa yang hadir dan saat terjalin percakapan dengan mereka, ada rasa tertarik mengikuti program ini. Kendala yang saat ini dirasakan adalah beban kuliah paket yang harus mereka jalani karena apabila gagal salah satu mata kuliah saja, maka mereka harus mengulang seluruh mata kuliah dalam paket tersebut. Bagi yang sudah tidak memiliki beban teori bisa lebih leluasa mengikuti kegiatan semacam ini. Bagi yang berminat bisa menghubungi lembaga Stube HEMAT dengan alamat facebook: Humas Stube atau membaca kegiatan ini di blog: stubehemat.blogspot.com atau kirim pesan lewat email stubehemat@yahoo.com. Semoga program ini boleh menjadi berkat seperti roti untuk semua yang membutuhkan, butuh untuk dibentuk, butuh mengenal jaringan dan pengalaman dan dunia di luar kampus.

 

 

 

 


Ibadah berlanjut dan ditutup dengan doa berkat. (SAP)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 13 Januari 2016
oleh Stube HEMAT

Refleksi Kemajemukan

dan Intoleransi di DIY
11 Januari 2016 di Aula Kementerian Agama DIY
 
 
Wahid Institut mencatat DIY sebagai daerah peringkat kedua intoleransi sepanjang tahun 2014 – 2015. Kekerasan yang mengatasnamakan agama terjadi di beberapa tempat. Tentu saja kejadian kekerasan ini kemudian dikait-kaitkan dengan nama yang disandang DIY sebagai ‘City Of Tolerance’. Namun, pemerhati kerukunan tidak tinggal diam. Mereka merespon dan melakukan beberapa hal untuk mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dan keharmonisan di Yogyakarta.
 
Senin, 11 Januari 2016 Lembaga Dian Interfidei menyelenggarakan refleksi bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Kementrian Agama DIY. Refleksi diselenggarakan di Aula lantai 3 Gedung Kementerian Agama DIY.
 
 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta bersama dengan kelompok pemuda mahasiswa, kelompok masyarakat, dan organisasi lain di lingkungan DIY berkumpul dan mendengarkan ceramah yang disajikan oleh tiga narasumber. Narasumber pertama adalah Tommy Apriando (Koordinator Divisi Advokasi AJI Yogyakarta). Narasumber kedua adalah Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D (Pakar Hukum Islam dan Terorisme). Narasumber ketiga adalah Agung Supriyono, SH. Kepala Kesbangpol DIY.
 
Tommy Apriando mengungkapkan media menaruh perhatian besar pada kehidupan dan keharmonisan masyarakat. Setiap gangguan dan kekerasan menjadi bahan liputan utama. Tommy mengakui bahwa redaktur suatu media selalu berhati-hati dalam pemberitaan. Informasi yang disampaikan tidak boleh menimbulkan kebencian atau persepsi keliru dalam masyarakat. Karena kehati-hatian inilah sering hasil liputan lapangan tidak selalu ditayangkan. Tentu saja karena pertimbangan tertentu. Penjelasan tersebut diungkapkan untuk menanggapi pertanyaan peserta tentang upaya media memberitakan kekerasan agama.
 
Prof. Noorhaidi Hasan mengungkapkan pengalamannya sewaktu menempuh studi di Belanda. Di sana tidak ada pembedaan agama. Justru setelah masuk Indonesia anaknya sudah bisa mengidentifikasi tetangga berdasarkan agama. Prof. Noorhaidi mengapresiasi rencana penghapusan kolom agama dalam berbagai blangko administrasi birokrasi. Yang menarik di sini adalah harapan Prof. Noorhaidi terhadap aparat penegak hukum. Menurutnya, kekerasan tidak boleh terjadi di ranah privat. Kekerasan bila diperlukan hanya boleh dilakukan oleh Aparat Negara (polisi) untuk kepentingan ketertiban umum. Tugas polisi adalah menegakkan hukum. Kebebasan beragama sudah dijamin Undang-Undang maka polisi berhak melakukan penindakan (Law Inforcement) untuk mengamankan situasi. Bila ada kekerasan maka polisi berhak bertindak.
 
Badan KESBANGPOL DIY memetakan bahwa 3,7 juta penduduk DIY beraktifitas dalam berbagai bidang. DIY mempunyai magnet tersendiri untuk menarik orang tinggal. Seiring pertambahan penduduk, resiko kriminalitas tentu akan meningkat bila tidak diantisipasi. Dalam aktifitasnya, KESBANGPOL telah melakukan advokasi dan mediasi dalam kehidupan beragama di DIY.
 
Pada akhir sesi, petugas polisi yang hadir memberikan tanggapan dan mengakui ketegasannya perlu ditingkatkan lagi. Kasus yang harus ditangani polisi banyak sekali mencakup semua lini hidup masyarakat.
 
 
Demikian kehidupan kemajemukan kita. Kiranya dapat terpelihara dan menjadi dasar keharmonisan di DIY dan Indonesia pada umumnya. Bagaimanapun juga, silaturahmi dan tegur sapa antar kelompok adalah cara efektif untuk meredam ketegangan dan radikalisme dalam tubuh agama. (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 10 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Hadiri Perayaan Natal Oikumene

 

PMK Institut Teknologi Yogyakarta

 

 

 

Botol-botol bekas air minum kemasan ukuran 1,5 liter disusun rapi menjulang ke atas membentuk formasi piramida. Pendaran lampu warna-warni berkerlap-kerlip seolah mengikat formasi ini. Rupanya kreasi botol ini dimaksudkan sebagai ikon natal pohon terang. Cantik dan kreatif ala mahasiswa lingkungan yang memanfaatkan kembali barang buangan.

 

 

 

“Joy to the world” mengiring ibu Pdt. Sarlin Riri selaku pewarta firman memasuki ruang ibadah beserta Pembina PMK ITY, Bapak Paskalis. Pricil dan Tina mahasiswa STTL dan juga aktifis Stube HEMAT bertindak sebagai pemimpin acara yang diawali dengan sambutan pembina PMK ITY.

 

 

 

Sambutan Pembina dimulai dengan pertanyaan mengapa Tuhan masuk ke dalam keluarga? Karena keluarga adalah Rumah Tuhan” dimana kebaikan itu diharapkan berawal dari keluarga sebagaimana persekutuan pemuda adalah keluarga. Sambutan ini tentu saja ingin menanggapi tema natal PMK hari ini ”Family In Fellowship”, hidup bersama sebagai keluarga Allah.

 

 

Hari Sabtu, 9 Januari 2016, ruang aula Kampus ITY menjadi teduh saat acara penyembahan dan semakin khidmat saat firman Tuhan disampaikan. Menurut Pdt. Sarlin Riri, untuk berdamai tidak perlu langkah rumit. Berdamai adalah seperti perintah Bunda Theresa “pulang dan cintai keluargamu!” Dunia ini kekurangan cinta, buktinya perang dimana-mana, ada banyak perdebatan dan perseteruan. Sementara pada tahun-tahun ini akan banyak terjadi krisis pangan dan harga kebutuhan pokok merangkak naik.

 

Hidup harus diisi pikiran, tingkah laku, dan semua hal yang baik. Sayangnya, masih sering terjadi antar teman saling memaki. Di ruangan kita memuji Tuhan bareng, sementara di lapangan kita berseteru. Kapankah kebaikan akan terjadi kalau begini terus? Hidup bersama bukan hanya soal perut tapi juga bagaimana saling berbagi. Hidup baru bisa disertai pakaian baru dan yang paling penting adalah baju roh yang baru. Hidup bersama sebagai keluarga Allah itu berbagi apa yang dimiliki.

 

 

 

Berbagi berarti saling menyempurnakan hidup. Filipi 2:1-3 menyebutkan supaya kita menjadi sempurna tanpa ada pertikaian, sehati-sepikir, satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. Ibrani 10:24-25, mengingatkan bahwa untuk membangun hal-hal baik maka janganlah kita jauh-jauh dari persekutuan. Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) adalah persekutuan untuk saling menghargai dan mendengar. Kita harus belajar hidup baik untuk menempatkan Tuhan dalam diri kita.

 

 

 

Pdt. Riri menutup khotbahnya dengan anjuran kepada hadirin untuk mengubah mindset atau cara pandang terhadap sesama dan kepada Tuhan. Sesama adalah rekan sekerja kita untuk melayani Tuhan.

 

 

 

 

 

Ibadah Natal kali ini diisi dengan perayaan natal yang menampilkan berbagai persembahan pujian diselingi beberapa sambutan. Sekitar dua ratus orang yang hadir di aula tersebut tentu saja merasa terberkati oleh berita Natal malam itu. Stube-HEMAT mengucapkan terimakasih atas undangan ini dan berharap agar acara dan pelayanan PMK tetap jaya ke depan. (YDA)

 




  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 1 Januari 2016
oleh Stube HEMAT
Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Menyongsong tahun 2016
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook