pada hari Selasa, 24 Desember 2013
oleh Stube HEMAT
Pelayanan Khotbah dan Sekolah Minggu di GKJ Sentolo
Follow-Up Pelatihan Pembangunan Berkelanjutan 2013
 
 
Minggu, 22 Desember 2013, beberapa mahasiswa anggota Stube-HEMAT Yogyakarta melakukan Follow-Up. Follow-Up merupakan bagian dari serangkaian kegiatan pelatihan dan dilakukan secara mandiri. Mahasiswa dapat melakukannya secara pribadi maupun berkelompok ataupun bekerjasama dengan komunitas dan lembaga lokal. Pada sesi follow-up kali ini, Follow-Up dilakukan di GKJ Sentolo, Kulonprogo. Berikut laporan selengkapnya.
Sekelompok mahasiswa yang bertandang ke GKJ Sentolo adalah Windy, Eva, Elis, Vicky, Fajar, Yohanes, dan Yanto. Yanto merupakan anggota pemuda GKJ Sentolo. Kelompok follow-up ini telah mewacanakan perkunjungan kepada empat gereja. Tujuannya jelas yaitu mengumandangkan kemandirian agar masyarakat kembali pada kedaulatan pangan lokal. Masyarakat diharapkan mengerti pentingnya kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem.
Kenyataan sehari-hari membuktikan bahwa tindakan manusia sebagai “penguasa” bumi, telah keluar dari jalur keseimbangan. Mereka membangun dan terus membangun. Mereka bertindak mencari keuntungan. Namun, alhasil, setiap usaha memang mendatangkan keuntungan dan rupanya keuntungan itu hanyalah untuk mereka sendiri. Alam dan masyarakat di sekitar telah menjadi korban.
Materi dalam pelatihan di Awal Desember yang lalu telah mendorong mahasiswa untuk optimis berharap. Setiap orang masih mampu memperoleh keuntungan ekonomi tanpa merusak keseimbangan. Caranya dengan mengembangkan pemahaman, melakukan modernisasi dengan memperhatikan aspek lingkungan.
Setiap orang menyadari bahwa nenek-moyang Indonesia telah melakukan keseimbangan itu. Mereka memperoleh keuntungan ekonomi dan keuntungan sosial. Alam dan lingkungan yang terjaga akan mendatangkan udara bersih, varietas unggul, air bersih, bebas hama penyakit, dan hasil-hasil alam yang bisa dijual. Semuanya itu rupanya telah dihayati oleh leluhur dan penghayatan itu diabaikan oleh generasi yang modern.
Untuk mengingatkan itu semua, mahasiswa kemudian bergerak untuk mengabarkan kembali bahwa kekayaan tradisi kita harus kembali berjaya. Kejayaan itu direngkuh melalui sebuah kemandirian ekonomi, kemandirian budaya, dan kemandirian menggunakan produk-produk lokal.
Untuk membagikan pemahaman itu, kelompok follow-up telah dibagi dalam dua regu. Regu pertama melayani ibadah sekolah minggu. Sekolah minggu dilayankan cerita dengan metode mewarnai gambar. Regu kedua melayani ibadah dewasa di Pepanthan Jangkang dalam bentuk khotbah minggu.
 
 
 
 
Pendeta Gogod, menyampaikan dorongannya agar pelayanan seperti ini dikembangkan dan dimodifikasi sehingga semakin banyak orang dapat mengerti.

 

Pelayanan di Gereja merupakan awal menuju pelayanan yang lebih luas. Diharapkan semakin banyak orang menyadari dan mengerti bahwa pembangunan dan karya manusia senantiasa harus memperhatikan keharmonisan dan keutuhan ciptaan. Selamat mengabarkan pembebasan! (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 3 Desember 2013
oleh Stube HEMAT
Pembangunan? Untuk Siapa?

 

 

 

 

 

 

Stube HEMAT melihat masalah pembangunan sebagai satu simpul masalah yang harus diuraikan terutama jika dikaitkan dengan perkembangan generasi muda saat ini, maka dibuatlah sebuah pelatihan Pembangunan Berkelanjutan dengan tema “Pembangunan? Untuk Siapa?” Bertempat di Wisma Martha Yogyakarta, 29 November – 1 Desember 2013, pelatihan ini diikuti oleh 30 mahasiswa yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti Teologi, Psikologi, Teknik Lingkungan, Teknik Informatika, Pendidikan dll.

 

 

 

Francis Wahono sebagai salah satu fasilitator mengatakan bahwa pembangunan bangsa pada hakikatnya harus dikembalikan sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang majemuk, dan berkearifan lokal.

 

 

 

Konsep pembangunan berkelanjutan yang ideal diharapkan bisa meluruskan kembali jalan pembangunan yang berkelok-kelok seperti dipaparkan Agus Prasetya Ph.D (Dosen Sekolah Pasca Sarjana Pembangunan Berkelanjutan UGM) dalam materi Pemahaman Visi dan Konsep Pembangunan Berkelanjutan yang Ideal. Sejarah pembangunan Indonesia beserta komponennya mesti dipelajari,” kata Andreas Pimpinan Yayasan SHEEP. Dia berpendapat bahwa,Lifestyle yang salah ikut menyumbang dampak negatif pada sejarah pembangunan Indonesia seperti kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, krisis ekonomi dan lain-lain.

 

 

 

Peserta pelatihan diajak berjalan-jalan ke luar dan melihat realita pembangunan. LSM Cindelaras (Condongcatur), WALHI (Kotagede) dan Forum Komunikasi Winongo Asri (Kelurahan Tegalrejo, warga Bantaran Sungai Winongo) menjadi tempat eksposurnya. Mereka berdiskusi tentang metode pendampingan masyarakat dalam mengawal pembangunan. Oleg Yohan pengurus FKWA mengatakan bahwa Komunitas ini terbentuk untuk mengubah paradigma masyarakat tentang sungai yang dulunya halaman “belakang rumah” menjadi “halaman depan rumah”. Hal ini dimaksudkan untuk mengedepankan konsep kebersihan dan kelestarian alam kawasan sungai Winongo, sehingga merubah kawasan yang dulunya kumuh menjadi kawasan wisata sungai pada tahun 2030.

 

 

 

Tri Agus dari BAPPEDA Propinsi DIY memaparkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro rakyat pada pembangunan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa implementasi pelaksanaan pembangunan tersebut terbuka bagi warga yang ingin berpartisipasi aktif didalamnya sehingga memunculkan peluang untuk mengawal sebuah proses pembangunan sebagaimana mestinya.

 

 

 

Di penghujung pelatihan peserta merumuskan rencana tindak lanjut dan membentuk kelompok sharing dan kelompok mengajar. Kelompok sharing yang beranggotakan Anna, Reski, Windy dkk akan melakukan sharing konsep pembangunan berkelanjutan di Gereja-gereja wilayah Yogyakarta dan melakukan penghijauan dilahan kritis. Kelompok mengajar yang beranggotakan Frans, Putri, Ina dkk mengajar tentang konsep pembangunan berkelanjutan dengan membidik kelompok usia dini sebagai sasaran yang bertujuan untuk memperkenalkan dan membentuk generasi muda yang peduli akan keberlanjutan pembangunan yang akan menopang kehidupan di bumi.

 

 

 

 

Sangat mengesankan dan menyenangkan ikut kegiatan pelatihan ini, karena memberi pengetahuan baru di luar latar belakang ilmu saya. Untuk jangka panjang, konsep ini sangat berguna karena bisa diterapkan ketika saya kembali dan membangun daerah,” kata Maria Trifosa mahasiswa jurusan ekonomi Universitas Atmajaya, salah seorang peserta. Selamat membangun! (SRB)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 18 November 2013
oleh Stube HEMAT
Leadership: Menjawab Tantangan Dunia

 

 

Terkejutkah kita kalau umat manusia di dunia ini pada hakikatnya hanya ditentukan oleh beberapa orang saja yang berstatus sebagai pemimpin? Mereka adalah penentu kebijakan-kebijakan seperti ekonomi, perang ataupun perdamaian. Tentu saja kita semua menginginkan pemimpin yang bisa membawa manusia dan dunia menuju kondisi yang lebih baik. Atau bisakah kita menjadi seorang pemimpin yang mampu menjawab tantangan dunia? Ir. Tikno Iensufiie, M.Pd., M.A, staff pengajar Faculty Of Liberal Arts, Universitas Pelita Harapan, Jakarta tertarik meluangkan waktu dan membagikan ilmunya bersama mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Stube HEMAT Yogyakarta dalam pelatihan sehari mengenai kepemimpinan.
 
 
Bertempat di Aula LPP Sinode GKI-GKJ Jateng, Sabtu, 16 November 2013, kegiatan ini cukup menarik buat peserta. Dengan mengusung tema Leadership Menjawab Tantangan Dunia, pelatihan sehari ini terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama membahas Tantangan Leadership dan Teori Leadership sementara sesi kedua membicarakan Motivasi Leadership dan Pengambilan Keputusan. Peserta belajar bahwa keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, perusahaan, bahkan diri sendiri sebagian besar ditentukan oleh kepemimpinan dengan semua keterbatasan dan kelebihannya.
 
 
Paulus, mahasiswa teologia UKDW yang mengikuti kegiatan ini bertanya, ”Apakah untuk menjadi seorang leader harus memiliki akses? Dengan tegas fasilitator mengatakan tidak. Menjadi seorang pemimpin tidak harus memerlukan akses karena pada dasarnya manusia memiliki kehendak bebas (Human Free) yang dilengkapi dengan mental dan fisik yang baik. Jika sifat dan kemampuan dasar itu tidak dimanfaatkan dengan baik akan membuatnya selalu kalah (the loser) bukan menjadi pemenang (the winner). Bahkan kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku, baik perorangan ataupun kelompok yang tidak harus memiliki batasan atau aturan-aturan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan sering kali disamakan dengan manajemen, yang memikirkan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi yang dibatasi oleh tata krama birokrasi dan konsep kepemimpinan sangat dekat dengan konsep kekuasaan. Padahal seorang leader berbeda dengan seorang manager.
 
 
Di akhir sesi disimpulkan bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai pemimpin ketika dia dapat mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan yang semuanya harus mengarah pada: 1) Apakah membuat Tuhan semakin dipermuliakan, 2) Apakah membuat manusia semakin manusiawi, dan 3) Apakah membuat alam lestari. Bagi anak-anak muda hendaknya sebelum memimpin lingkungan yang besar, haruslah berlatih memimpin dalam lingkungan kecil termasuk memimpin dirinya terlebih dahulu.*** (SA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 17 November 2013
oleh Stube HEMAT

 

Wisuda Sekolah Tani Angkatan Pertama
 
 
Program sekolah tani gelombang pertama (kerjasama Jenderal Soedirman Center dan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM) telah berakhir. Utusan Stube-HEMAT Yogyakarta, Yohanes Dian Alpasa telah diwisuda. Wisuda diselenggarakan di pendopo Stupa Donolayan, Jalan Tentara Pelajar Km 12, Ngaglik Sleman, Yogyakarta yang merupakan kantor dari JSC. Penyelenggaraan Wisuda bertepatan hari Pahlawan 10 November. Hadir di sana Wakil Bupati Sleman, Kepala PUSTEK UGM, Direktur JSC, dan masyarakat sekitar. Wisudawan diberi keyakinan dalam mengarungi kehidupan petani. Petani tidak perlu pesimis karena kemandirian adalah mimpi yang akan menjadi nyata jika diperjuangkan.

Dr. Revrisond Baswir atau akrab dipanggil Bang Sony memberikan dukungannya kepada petani. Ia mengungkapkan kemerdekaan adalah perjuangan tiada henti. Kemerdekaan adalah proses yang harus terus menerus diperjuangkan. Maka, kemerdekaan pada dasarnya bukan sekali jadi. Selama beratus tahun bangsa kita dijajah dengan sebutan kolonialisme. Hari-hari ini kita bukan hanya merayakan kemerdekaan tapi juga merayakan 68 tahun neokolonialisme. Kemerdekaan sepertinya merupakan proses pemindahan jajahan dari Jepang, Belanda, ke Amerika Serikat. Walaupun kenyataan berbicara demikian, masyarakat tani harus sadar bahwa perjuangan kita melawan kompeni/penjajah adalah berbeda bentuk tetapi semangatnya harus sama.

Direktur JSC, Ir. Bugiakso memberikan penekanan dan sering ia ucapkan terkait dengan sumber daya alam kita. Kekayaan alam adalah milik negara begitu juga air yang sangat vital buat petani. Mungkin hari ini kita belum bisa mengelola batubara dan emas di Bumi Indonesia, tetapi sumber daya yang lain harus bisa kita olah sendiri. Masyarakat sebenarnya mudah mengelola air. Namun, air di beberapa lokasi justru dikuasai oleh asing. Petani seharusnya mandiri dan jangan sesekali bergantung ataupun minta bantuan asing. Dalam hal ini, Pak Bugi mengutip pernyataan J. F. Kennedy, jangan menuntut apa yang bisa Negara berikan kepada saya, tetapi bertanyalah apa yang bisa saya berikan kepada Negara. Petani harus berdaulat!

Wakil Bupati Sleman, Hj. Yuni Satia Rahayu menyatakan dukungannya kepada petani. Petani harus mandiri dan berdaulat. Setiap program pemerintah daerah memang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Kadangkala program tidak efektif dan tidak tepat sasaran karena sebuah penyelewengan. Kemandirian petani adalah upaya cerdas dalam membangun ketahanan bangsa.

Wisudawan sekolah tani diharapkan memberi dampak pada masyarakat di sekelilingnya. Ilmu yang didapat selama rentang waktu 2 Mei 24 September 2013 harus segera diaplikasikan. Wisuda bukanlah akhir tetapi awal dari sebuah perjuangan baru yang lebih luas. Selamat berjuang para wisudawan! (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 16 November 2013
oleh Stube HEMAT
Informasi Pelatihan
Stube-HEMAT Yogyakarta
 
 
 
Siapkan waktu teman-teman untuk belajar dan menumbuhkan kepedulian terhadap pembangunan dan dinamikanya bagi masyarakat melalui kegiatan Pelatihan dan Eksposur dalam Program Pelatihan Pembangunan Berkelanjutan
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 15 November 2013
oleh Stube HEMAT

Kegiatan Tindak Lanjut (2)

 

 


Anak-Anak Di Sekitar Rumah Kos

 

  

 

 

Rasa kepedulian atas apa yang bisa dilakukan untuk pendidikan yang coba dibangun lewat Pelatihan Pendidikan Global yang kami ikuti di Stube HEMAT, memberi kami inspirasi untuk peduli pada anak-anak di sekitar kos kami yang tidak punya kegiatan positif selepas sekolah. Kami berlima, terdiri dari Uchy, Putry, Herman, Eka, dan Fransiska bersepakat memfasilitasi belajar bersama untuk anak-anak disekitar kos kami. Kegiatan ini dimulai pada hari Sabtu, 2 November 2013. Kami berdua, Putry dan Uchy memulai kegiatan ini bersama anak-anak di sekitar rumah kos.

 

 

 

 

Dengan bermodalkan pengetahuan yang kami peroleh di kampus dan sedikit kreativitas, kami mencoba membantu anak-anak yang saat ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) mengerjakan tugas sekolah. Selanjutnya anak-anak tersebut kami minta untuk menulis cerita mengenai hobi atau hal-hal yang sering mereka lakukan dan senangi.

 

 

 

 

Akhirnya, hasil tulisan dari anak-anak tersebut ditempel menjadi majalah dinding yang menarik. Harapannya hasil belajar bersama dan tulisan yang telah mereka buat dapat memberi motivasi bagi anak-anak untuk terus belajar meski dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

 

 

 

Buat teman-teman mahasiswa lain bisa melakukan hal yang sama di tempat masing-masing. Dengan mempedulikan hal-hal di sekitar, kita bisa andil melakukan sesuatu meski sederhana.

 

 


Selamat mencoba. (OCE).


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 14 November 2013
oleh Stube HEMAT

Kegiatan Tindak Lanjut (1)

 

 

Berpikir Global, Bertindak Lokal
 
 
Practical Education Center (PEC) adalah sebuah lembaga pendidikan tempat Yoel Anto, salah satu aktivis Stube-HEMAT terlibat di dalamnya. Lembaga ini mengembangkan pendidikan bahasa Inggris untuk siswa-siswa sekolah dasar (SD) di daerah setempat. Selaras dengan pemikiran “berpikir global, bertindak lokal”, lembaga ini mencoba membangun konstruksi dari tingkat lokal untuk menjawab tantangan global, salah satunya yakni penguasaaan bahasa Inggris, meskipun ada banyak bahasa asing yang dipakai dalam lingkup global seperti bahasa Mandarin, Jerman, dan Prancis.
 
Bahasa Inggris membantu seseorang memperoleh informasi mancanegara sebanyak-banyaknya, seperti beasiswa untuk studi, berita sosial-politik, isu bisnis terbaru, dan banyak lagi. Yoel yakin bahwa membangun daya saing pada tataran global harus dimulai dengan pembenahan pendidikan di daerah, salah satunya bahasa asing, maka dia lebih termotivasi terlibat mengembangkan lembaga ini setelah mengikuti pelatihan Pendidikan Global yang diselenggarakan Stube-HEMAT.
 
 
 

 

Mahasiswa memiliki peran membangun daerah, salah satunya adalah peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan, terlebih penguasaan bahasa asing untuk menyikapi persaingan global. Sehingga hal yang ditanggungkan di atas pundak pemuda mahasiswa yang studi di Yogyakarta adalah mereka harus pulang dan membangun daerah. Mahasiswa daerah tidak hanya menguasai bahasa lokal dan bahasa Indonesia saja tetapi juga bahasa Inggris. Apabila bahasa kita semakin kaya maka kemampuan bersaing kita akan semakin meningkat.
 
 
 

 

 

 

Pada tanggal 26 Oktober 2013, beberapa mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta berkesempatan mengunjungi lembaga ini untuk belajar sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan di daerah. Lembaga pendidikan bahasa asing belum banyak di daerah, apalagi di daerah pelosok, sehingga bisa dipahami kalau daerah mengalami banyak ketertinggalan. Menyambut persaingan global, tidak salah tentunya apabila kita menyiapkan sumber daya manusia kompetitif mulai dari tingkat lokal.
 
Mari berpikir global bertindak lokal. (YDA)

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 25 Oktober 2013
oleh Stube HEMAT

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

 


 

1 ‘Sesuatu’ yang memotivasi diri untuk melakukan hal positif

 

 

 

 

 

Claudia Betruchy Bada

 

Saya Claudia Betruchy Bada, dari Manggarai, Flores, NTT, Indonesia. Saat ini sedang belajar di Pendidikan Matematika, Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, Yogyakarta.

 

 

 

“Sungguh tema yang menarik, Pendidikan: Antara Harapan dan Kenyataan. Tema ini menunjukan kepada saya sebuah kenyataan saat ini di mana arus globalisasi semakin kuat, sementara pendidikan di Indonesia belum siap secara maksimal baik fisik maupun mental. Pendidikan masih sebagai obyek yang dapat “diganti” sesuai dengan keinginan pemegang keputusan. Kesadaran orang akan pendidikan masih jauh dari yang diharapkan, lebih lagi kesenjangan pendidikan antara yang di kota dan di desa semakin melebar. Apakah ini yang disebut dengan pemerataan pendidikan di Indonesia?

 

 

 

Berbekal pengetahuan yang saya miliki, saya merasa sudah memberikan kontribusi terhadap pendidikan di Indonesia yaitu dengan membayar uang sekolah. Tapi ternyata semuanya belum cukup, karena masih banyak hal yang belum saya lakukan untuk berkontribusi terhadap pendidikan, karena saya masih belum maksimal membagi pengetahuan saya kepada orang di sekitar saya yang masih membutuhkan banyak pengetahuan.

 

 

 

Stube-HEMAT memberikan “sesuatu” bagi saya yang membuat jalan pikiran saya berubah dan memiliki motivasi baru melakukan hal positif bagi orang lain berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki. Sungguh menyedihkan dan sangat memalukan jika saya terus berpikir bahwa saya sudah berarti bagi orang lain sementara tindakan nyata yang saya lakukan belum ada.

 

 

 

Pengalaman 3 hari bersama Stube-HEMAT sungguh membuat saya merasa beruntung karena memperoleh hal baru yang memperkaya pengetahuan serta bisa lebih menggali potensi yang ada dalam diri saya. Itu semua pemberian cuma-cuma dari Tuhan yang perlu saya kembangkan, bukan untuk diri saya sendiri dan keluarga saja, melainkan bagi sesama, yang semuanya itu untuk memuliakan nama Tuhan. Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan bersekolah dan melakukan hal-hal yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain.

 

 

 

Berbekal kemampuan dan pendidikan yang ada saat ini, sebagai seorang calon guru, saya bertekad merubah sikap menjadi lebih peduli kepada orang lain, peka terhadap permasalahan sosial yang terjadi di sekitar saya, serta berbagi pengetahuan dengan membuka sanggar belajar untuk anak-anak, bersama teman-teman dari pelatihan Stube. Ini merupakan langkah awal untuk menyiapkan fisik dan mental saya dan generasi muda bangsa ini pada umumnya menghadapi persaingan global. ***

 

 



2. Lebih dari Sekedar Bicara

 

 

 

Windy Hendra Supardi

 

Saya Windy Hendra Supardi, dari Sintang, Kalimantan Barat, saat ini sedang menempuh studi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Saat mengikuti pelatihan pendidikan global, saya mendapatkan banyak hal baru. Pelatihan ini mengajarkan saya untuk tidak hanya bicara saja, tetapi bagaimana segera mengimplementasikan apa yang sudah saya dapatkan ke masyarakat sekitar. Beberapa point penting yang menjadi bahan refleksi saya adalah mengenai tujuan pendidikan, menciptakan lingkungan belajar yang baik, dan bagaimana menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

 

 

 

Tujuan pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperhalus perasaan dan memperkokoh kemauan. Mempertajam kecerdasan ini berarti kita harus memahami pengetahuan secara menyeluruh. Kebanyakan orang hanya memahami pengetahuan setengah-setengah saja. Oleh karena itu, banyak orang yang gagal dalam mencapai sesuatu yang besar di dalam hidupnya. Untuk mendukung kesuksesan dalam pendidikan diperlukan sinergi antara guru dan murid. Guru harus menjadi teladan, harus percaya diri dan komunikatif. Guru harus mampu masuk ke dalam kehidupan murid-muridnya agar tidak terbentang jarak yang jauh antara guru dan murid sehingga tercipta suasana komunikatif diantara keduanya. Tanpa hal-hal ini, guru tidak akan dihargai oleh murid-muridnya. Pendidikan juga harus memperkokoh kemauan untuk selalu memiliki persepsi positif dan bertekun dalam menghadapi kegagalan atau pun kesulitan. Pendidikan yang baik harus diikuti dengan pendidikan cinta kasih.

 

 

 

Suasana dan lingkungan menjadi hal penting dalam proses belajar dan setiap proses harus dilalui dengan baik untuk mencapai tingkatan keahlian. Kita harus berani berteman dengan orang yang lebih pandai sehingga dapat membantu memotivasi kita untuk terus belajar. Proses belajar akan lebih efektif apabila kita belajar bersama orang lain, dan kita mampu memberikan kontribusi untuk membantu orang lain. Sesungguhnya, prestasi dinilai dari sejauh mana kita bermakna bagi lingkungan kita, karena orang hidup yang tidak memiliki fungsi sama saja seperti orang mati, tidak ada satupun yang bisa diperbuat. Tujuan belajar itu sendiri adalah untuk memanusiakan manusia. Ini berarti bahwa dengan belajar, orang akan tahu hal yang benar, lebih mengenal siapa diri mereka dan apa yang baik untuk dilakukan.

 

 

 

Pendidikan juga menyiapkan kita menghadapi tantangan multi-dimensi, juga pasar global. Dalam menghadapi hal ini, tidak saja pengetahuan, tetapi juga sisi kepribadian sebagai identitas bangsa Indonesia. Kita harus senantiasa menambahkan kualitas demi kualitas pada diri kita untuk mencapai keberhasilan. ***



3. Stube HEMAT dan Trilogi Tamansiswa

 

 

 

Fransiska Evawati

 

Saya Fransiska Evawati, dari Ketapang, Kalimantan Barat. Saat ini sedang studi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, jurusan Pendidikan Matematika.

 

 

 

Saya melihat misi dari Stube-HEMAT selaras dengan Trilogi Tamansiswa yaitu, TRI NGO  yang dimaknai dengan Ngerti, Ngroso, dan Nglakoni. Tiga hal ini mengingatkan kita agar mengerti ajaran hidup atau cita-cita (selaras dengan misi Stube pertama), kesadaran (misi kedua), dan kesungguhan dalam pelaksanaannya (misi ketiga dan keempat). Tahu dan mengerti saja tidak cukup kalau tidak menyadari dan tidak ada artinya kalau tidak dilaksanakan dan memperjuangkannya. Ilmu tanpa amal adalah kosong dan amal tanpa ilmu adalah pincang.  Saya memahami ini dengan membandingkan Trilogi Tamansiswa dari Ki Hadjar Dewantara. Ternyata setiap kita mendapatkan pendidikan haruslah kita mengerti dan memahami, selanjutnya kita sadari dan terakhir membuat perencanaan, melaksanakan dan memperjuangkannya sebagai bukti nyata.

 

 

 

Dari penyampaian para narasumber di pelatihan, saya mendapatkan pesan inti, bahwa pendidikan saat ini  menuju pada persaingan global yang membawa kita ke dalam persaingan yang semakin ketat, sehingga kita harus semakin berkualitas. Dengan melihat visi dan misi di atas, kita dipersiapkan menghadapi persaingan tersebut, melalui pendidikan yang semakin terarah. Artinya, pendidikan menjadi modal utama dan ketrampilan yang diperoleh dari pendidikan non-formal akan menambah kualitas diri untuk melakukan hal yata dalam kehidupan dan berguna bagi banyak orang.

 

 


“Antara harapan dan kenyataan” bisa dimaknai bahwa kita mempunyai harapan atau mimpi, dan harus berusahakeras mewujudkannya sampai menjadi sebuah kenyataan. Yang lebih penting adalah bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dalam kehidupan, dan setiap usaha yang kita lakukan pasti mempunyai makna sekalipun itu gagal. Kegagalan itu adalah pelajaran untuk bisa maju dan lebih baik lagi. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 24 Oktober 2013
oleh Stube HEMAT

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

4. Mengapa Kita Tidak Bangga dengan Pendidikan Di Indonesia?

 

 

 

Yosef Andrian Beo

 

 

 

Saya Yosef Andrian Beo, dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Kritikan demi kritikan muncul saat masalah pendidikan diangkat ke permukaan, seperti saat pelatihan  Stube HEMAT di Godean, dengan tema Pendidikan Global: Antara Kenyataan dan Harapan. Delapan puluh persen  pembahasan tentang Pendidikan Global memandang negatif sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia saat ini, sisanya yang dua puluh persen tentang berbagai motivasi untuk sukses. Banyak pendapat menyatakan, kesalahan ada pada sistem pendidikan, manajemen pendidikan pusat, dan bahkan pendidikan dipakai sebagai mainan politik. Lalu, kapan kita bisa bangga dengan pendidikan yang telah membentuk kita sampai saat ini?

 

 

 

Pastilah tidak hanya negara kita saja yang memiliki masalah dengan pendidikan, jadi kita harus bangga dengan pendidikan di Indonesia. Rasa bangga akan membawa dampak positif terhadap pendidikan itu sendiri. Pertama, akan lebih tahu bagaimana mencari solusi atas masalah pendidikan yang diperdebatkan. Misalnya di NTT, angka buta huruf masih tinggi karena fasilitas pendidikan belum memadai dan belum terjangkau rakyat. Dari tahun ke tahun, hal ini belum terselesaikan, bahkan mungkin masalah ini sudah ada sebelum saya lahir. Apakah sekarang sudah ada perubahan? Belum, atau mungkin sedikit, karena sistem dianggap sulit dan rumit.

 

 

 

Saya bangga dengan sistem pendidikan di Indonesia dengan berbagai kenyataan pahitnya. Kurikulum yang terus berubah atau diperbaharui, dianggap sebagai kesalahan sistem, yang membuat masalah bagi masyarakat NTT. Mengapa saya bangga? Pertama, karena seleksi alam akan berfungsi dengan sendirinya. Bagi yang tidak mampu bertahan, bisa mencari alternatif lain, semisal pindah jalur sesuai bakat dan minat diri, seperti seni, teknik mesin, pariwisata, olahraga, tata boga, pertanian dan sebagainya. Kedua, dengan bangga pada pendidikan sendiri, bisa mengembangkan potensi lokal yang unik, apalagi anggaran pendidikan menempati tiga besar dari anggaran negara. Keunikan tersebut akan lebih mudah dilihat oleh dunia.

 

Mengapa kita tidak bangga dengan sekolah-sekolah, perguruan tinggi, atau jutaan pelajar yang kita miliki? Apakah karena standarisasi yang ditetapkan oleh pihak yang tidak mengerti kita? Lupakan standarisasi, ingatlah saja sebuah tempat yang membuat kita bisa bertemu dan berbicara dengan begitu banyak teman. Banyak yang bisa dibanggakan dari pendidikan yang ada di negara kita. Saya juga percaya, para pembaca juga dapat menemukan hal yang membanggakan, kalau mau. Terima Kasih. ***
 

 

 



5. Melahirkan Banyak Ide untuk Beraksi

 

 

 

Efrin Rambu Leki

 

 

 

Saya Efrin Rambu Leki, asal dari Anakalang, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Saat ini studi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Dari pemaparan beberapa narasumber dalam pelatihan Global Education ini, wajah dunia pendidikan di Indonesia  masa kini terlihat masih perlu melakukan pembenahan. Eko Prasetyo, salah seorang narasumber membuka mata saya terhadap keadaan pendidikan yang saat ini dianggap sangat ‘mengerikan’. Bagaimana tidak? Pendidikan dijadikan lahan bisnis bagi sebagian orang tanpa peduli apa yang akan terjadi dengan anak-anak bangsa di masa depan. Saya menjadi orang yang kemudian merasa tidak nyaman melihat keadaan pendidikan yang demikian ini. Dari sinilah saya mulai sadar, mulai belajar peduli dengan keadaan pendidikan yang ada di lingkungan yang saya alami sendiri.

 

 

 

Pengalaman sebagai guru sekolah minggu selama kurang lebih hampir 2 tahun ternyata juga tidak membuat saya memahami cara mendidik yang baik dan benar. Saya hanya mengajar tanpa terpikirkan apakah yang saya ajarkan itu membawa dampak positif bagi mereka atau tidak, yang penting mengajar, itu saja! Dari sesi Eko Prasetyo saya juga belajar bahwa kreativitas dalam mengajar sangatlah penting, untuk itulah kedepannya saya akan lebih kreatif dalam mengemas cara mengajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

 

 

 

Pengalaman yang saya lihat di daerah asal saya, Sumba, NTT, banyak sekali orang yang menjadi guru padahal tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, prinsip mereka yang penting dapat kerja setelah itu dapat gaji. Awalnya saya setuju, toh nantinya juga peserta didiknya juga tetap bisa kuliah dan bekerja, tetapi ternyata itu malah membuat murid-murid di sana mendapat pengetahuan yang dangkal. Apalagi ditambah dengan fasilitas yang sangat minim, akses internet yang susah dan persediaan bahan bacaan yang sangat kurang. Sementara salah satu ukuran keberhasilan pendidikan adalah adanya guru yang berkualitas. Apa yang terjadi jika banyak guru  ‘asal jadi’?

 

Dari pelatihan pendidikan ini saya banyak mempunyai ide, salah satunya  adalah membuka perpustakaan di lingkungan rumah saya. Sebenarnya ide ini sudah saya pikirkan sejak lama dan saya sudah mengumpulkan buku-buku tetapi belum begitu yakin, sekarang saya sudah semakin mantap untuk membuka perpustakaan di lingkungan rumah saya. Mohon dukungan teman-teman. ***

 

 


 

 

6. Berpikir Lebih Luas untuk Melihat Sebuah Masalah

 

 

 

Herman Ngkaia

 

 

 

Saya Herman Ngkaia, asal Sulawesi Tengah. Saat ini sedang menempuh studi di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) YLH Yogyakarta.

 

 

 

Selama  saya  menempuh  pendidikan dari Taman Kanak-Kanak,  sampai saat ini, saya merasakan betapa pentingnya pendidikan itu. Saya mengalami betapa sulitnya mendapatkan kesempatan untuk menempuh sebuah jenjang pendidikan. Bagi saya ilmu itu didapatkan dari proses hidup yang kita lakukan, baik itu di dalam lingkungan sekolah, kampus maupun di dalam sebuah lembaga atau organisasi yang kita ikuti. Jika ilmu hanya dilihat dari simbol gelar saja, kita sudah banyak melihat dan mengalami, bahwa banyak yang tidak menerapkan ilmu atau pengetahuan mereka secara baik-baik, sebagaimana yang dinyatakan Prof. Dr. T. Jacob bahwa negeri ini belum berhasil menuai nilai-nilai pendidikan yang disemai selama ini.

 

 

 

Menyinggung masalah pendidikan di negeri ini masih banyak kita jumpai kesenjangan antara desa dan kota, lebih-lebih lagi daerah-daerah pelosok. Anak-anak kota mendapatkan fasilitas yang sangat memadai dan tenaga guru yang sangat lengkap dibandingkan dengan anak-anak desa. Anak-anak di desa sudah minim fasilitas, minim juga guru berkualitas. Mungkin keadaan ini bisa diibaratkan seperti kata pepatah “orang lain sudah di bulan kita masih di bumi”, artinya anak-anak  di kota sudah banyak menyerap ilmu dibandingkan anak-anak desa atau pelosok.

 

 

 

Jadi bagi kita semua yang bisa menempuh ilmu di kota Yogyakarta, patut bersyukur kepada Tuhan diberi kesempatan untuk menikmati betapa banyaknya ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapatkan di kota Yogyakarta ini, khususnya di lembaga Stube Hemat. Walaupun kita kuliah di universitas yang sangat besar dan fasilitasnya sangat elit, kita tidak pernah mendapatkan berbagai macam ilmu dan pengetahuan serta rasa persaudaran sebagaimana yang kita rasakan di lembaga ini. Semua pengalaman, pengetahuan dan informasi yang didapatkan dari lembaga ini harus kita terapkan di lingkungan kita masing-masing. Semua permasalahan pasti bisa diatasi karena Tuhan juga bekerja bersama kita.

 

 

 

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh Tim Stube HEMAT yang sudah banyak membantu saya untuk membuka wawasan dan berpikir lebih luas untuk mengenal sebuah masalah yang terjadi saat ini.

 

 

 

Semoga setiap kegiatan yang akan dilaksanakan ke depan lebih menarik minat teman-teman mahasiswa yang sedang menempuh ilmu di kota pelajar ini. ***

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 23 Oktober 2013
oleh Stube HEMAT

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

7. Ternyata Beda! Lebih termotivasi.

 

 

 

Septi Dadi

 

Saya Septi Dadi, dipanggil Putri, dari Sumba Timur, NTT. Saat ini sedang menempuh studi di jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

 

 

 

Pada awal mengikuti kegiatan STUBE–HEMAT, dalam benak saya adalah, ”Ah pasti kegiatannya gitu-gitu saja, dan membosankan”. Bayangan itu muncul karena saya belum berkenalan dengan STUBE–HEMAT dan tidak tahu lembaga itu seperti apa. Saya bersyukur bahwa apa yang saya pikirkan itu tidak menjadi kenyataan, malah sebaliknya lagi sangat menyenangkan.

 

 

 

Dari serangkaian pelatihan yang di berikan kepada kami, saya mendapat banyak pengetahuan baru dan inspirasi baru. Pelatihan ini mengubah pola pikir saya untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan daerah tercinta untuk membuat suatu aksi kreatif yang berguna. Cara berpikir yang awalnya hanya memikirkan kesuksesan diri sendiri dengan pengetahuan yang dimiliki, dapat berkembang untuk memikirkan kesejahteraaan masyarakat, karena sebagai generasi muda saya punya tanggung jawab untuk memberikan suatu perubahan yang positif untuk masyarakat khususnya daerah saya nanti.

 

 

 

Saya termotivasi untuk melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat dan membangun. Saya juga ingin memotivasi kaum muda untuk lebih peduli kepada lingkungan dan masyarakat. Saya setuju untuk membuat sesuatu yang berguna harus dimulai dari hal kecil. Kalau bukan kita siapa lagi? ***

 

 

 

 

 

8. Kita Bukan Gombal1  Diterpa Globalisasi

 

Fajar Dwi Kristyawan

 

 

 

Saya Fajar Dwi Kristyawan, dari Jawa Timur, mahasiswa Theologia, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Pendidikan memampukan seseorang menghadapai tantangan di masa depan sehingga Pendidikan Global merupakan isu hangat.  Namun demikian proses pendidikan menghadapi Globalisasi tak selalu menguntungkan apalagi jika kita tidak waspada menghadapainya, kita bisa hanya menjadi gombal di negeri kita sendiri.

 

 

 

Pertama kali mendengar Pendidikan Global, saya mengira bahwa itu adalah sebuah model pendidikan yang bersifat mengglobal atau mendunia, yang akan mengatasi semua pendidikan di seluruh antero bumi. Karena itu, pelatihan kali ini akan membekali peserta dengan teknik-teknik khusus dalam mendidik dengan model yang dapat diterima di seluruh penjuru dunia. Ternyata, bukan model pendidikan yang mendunia yang saya dapat, tetapi lebih fokus membahas bagaimana pendidikan kita diperhadapkan dengan konteks globalisasi yang sudah mulai membadai di kehidupan kita. Pendidikan di negeri ini kurang siap menghadapi gempuran badai globalisasi.

 

 

 

Gempuran itu nyata bahkan pengaruh-pengaruh dunia luar sudah banyak menjamur. Sebagai contoh pengaruhnya di dunia pendidikan. Beberapa waktu yang lalu, sekolah-sekolah gencar memproklamirkan diri sebagai sekolah berstandar internasional. Bahkan banyak sekolah, baik swasta atau negeri berkompetisi menjadi sekolah Internasional dengan fasilitas dan komponen-komponen persyaratan yang dibutuhkan. Dalam perjalanannya, sekolah-sekolah tersebut menuai kritikan pedas karena terkesan tidak Indonesia, karena malah tidak mencerminkan Pancasila sang pedoman negara.

 

 

 

Globalisasi tak dapat kita hindari, karena sudah merupakan bagian dari perubahan dan perkembangan jaman. Perkembangan teknologi dan infomasi yang semakin pesat, memunculkan istilah gagap teknologi atau gaptek bagi yang tidak bisa mengikutinya. Kalau begitu semakin lama kita bisa kembali terjajah dan tertindas oleh pihak luar. Oleh sebab itu kita harus bisa mengatasinya dengan tepat, sehingga kita tetap memiliki identitas diri sebagai bangsa Indonesia tanpa menjadi komunitas eksklusif yang justru mengerdilkan dan memprimitifkan kita. Di sinilah peran pendidikan diperlukan untuk menghadapi gempuran badai globalisasi yang semakin menderu.

 

 

 

Selama mengikuti proses pelatihan selama tiga hari ini, saya menemukan satu hal yang menurut saya penting untuk menghadapi globalisasi dari segi pendidikan. Satu hal itu adalah kemauan kita sendiri dalam berproses mendapat pendidikan. Proses pendidikan seperti tempat kita berpetualang dalam menimba ilmu, tak hanya dalam ruangan formal terbatas saja, melainkan juga belajar dari luasnya rimba kehidupan manusia. Kita pun akan menjadi pribadi yang mampu bersaing di kancah yang lebih luas dan tinggi dengan karakter kita masing-masing.

 

 

 

Dengan demikian kita tidak akan menjadi gombal di negeri sendiri, menjadi orang pinggiran yang terbuang ketika orang lain menikmati kekayaan negeri ini. Kita harus berani menjadi petualang untuk mengetrapkan ilmu bagi kesejahteraan manusia dan bertahta di singgasana negeri sendiri. Mari kita tunjukkan bahwa kita bukanlah gombal yang terkulai dan terbawa begitu saja diterpaan badai globalisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

1 Gombal adalah bekas baju yang sudah tidak terpakai yang biasanya sudah sangat kotor dan tidak utuh lagi karena lebih sering digunakan sebagai ganti kain lap




9. Belum Utuh Merata

 

 

 

Yohana H. Sambung

 

 

 

Saya Yohana H. Sambung, biasa dipanggil Ira, dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dan sedang menempuh studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan global dan globalisasi mendorong kita melakukan identifikasi dan mencari titik-titik simetris yang bisa mempertemukan dua hal yang tampaknya paradoksal, yaitu pendidikan Indonesia yang berimplikasi nasional dan global. Dampak globalisasi memaksa banyak negara meninjau kembali wawasan dan pemahaman mereka terhadap konsep bangsa, tidak saja karena faktor batas-batas teritorial geografis, tetapi juga aspek ketahanan kultural serta pilar-pilar utama lainnya yang menopang eksistensi mereka sebagai nation state yang tidak memiliki imunitas absolut terhadap intrusi globalisasi.

 

 

 

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan global, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

 

 

 

Tantangan yang saya alami sampai sekarang ini dari saya Taman Kanak-kanak sampai menjadi seorang mahasiswa adalah menyesuaikan diri dalam kurikilum yang selalu berbeda. Di satu sisi itu sangat baik karena mengikuti perkembangan era globalisasi, tetapi para pemegang kebijakan kurang memikirkan para pendidik dan anak didik. Di mana para pendidik harus berusaha keras menyesuaikan kurikulum tersebut untuk dapat diterapkan dan dengan mudah diterima anak didiknya.

 

 


Dari hasil pelatihan yang saya ikuti, saya bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia belum seutuhnya merata. Di daerah pelosok negeri ini masih banyak pelajar yang belum mengenal teknologi, buku yang digunakan masih buku lama, kurikulum yang seharusnya dapat cepat diterapkan tapi kenyataannya lama karena kurangnya tenaga pendidik. Dari berbagai fenomena dan kondisi pendidikan saat ini, bangsa Indonesia seharusnya segera berbenah dan menyadari jangan sampai pendidikan Indonesia terpuruk jauh. Penerapan nilai-nilai karakter bangsa bukan sekedar pelengkap pendidikan yang dipenuhi secara formalistik-administratif belaka, tetapi nilai-nilai karakter adalah jiwa, ruh, dasar dan tujuan utama pendidikan nasional seperti yang dinyatakan Ki Hadjar Dewantara. Tak sekedar mencapai prestasi akademik (cerdas otak), tetapi memiliki budi pekerti luhur yang menjadi inti utama pendidikan nasional kita.***


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 22 Oktober 2013
oleh Stube HEMAT

Seri Perenungan Ulang

 

 



10. Sembilan Puluh Persennya Kemana?

 

 

 

Yulian L.A. Sembiring

 

Saya Yulian L.A. Sembiring, dari Wonosari, Gunungkidul. Saat ini sedang menempuh studi di jurusan Ilmu Informatika, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

 

 

Memang mengejutkan apa yang disampaikan Prof. Slamet yang saya temui saat saya mengikuti kegiatan eksposur yang diadakan oleh Stube HEMAT sebagai rangkaian Pelatihan Pendidikan Global ke museum Ki Hadjar Dewantara, Tamansiswa. Beliau sampaikan bahwa orang rata-rata baru memakai 10 persen dari kemampuan otaknya. Hal ini memberikan makna supaya kita lebih mengoptimalkan kinerja otak. Oleh karena itu otak harus selalu digunakan untuk hal-hal yang positif dan membangun. Beliau juga memberikan 5 kiat sukses yaitu, kita harus memulai lebih awal, hidup lebih cerdas, bekerja lebih keras, bekerja lebih cepat, dan memikirkan yang belum dipikirkan orang lain.

 

 

 

Hal lain yang saya dapatkan adalah tentang keteladanan. Salah satu narasumber mengatakan kalau orang lebih percaya pada apa yang kita perbuat daripada apa yang kita katakan. Jadi kita diminta untuk menjadi teladan dalam tingkah laku kita. Seperti seorang Guru yang harus memberikan contoh nyata pada murid-muridnya melalui perbuatanya. Pernyataan tersebut selaras dengan ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, memberi contoh di depan.

 

 

 

Saya juga diingatkan kembali tentang Visi dan Misi yang sudah saya buat untuk hidup saya. Apapun Visi Misi itu, baik jangka pendek ataupun jangka panjang harus kita lakukan dengan tekun dan tidak boleh asal-asalan. Kita dapat memulainya dari hal-hal kecil dulu dari diri kita sendiri, seperti tertulis dalam Lukas 16 : 10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar".

 

 

 

Saya belajar melakukan hal sederhana yang bisa saya lakukan dan menjadi tanggung jawab saya dalam rangka mewujudkan visi besar hidup yang sudah dibuat.***

 

 

 

 

 

 

 

11. Pendidikan Kesadaran Kritis sebagai Sarana Mempersiapkan Generasi Bangsa Millenium.

 

 

 

Paulus Eko Kristianto

 

Saya Paulus Eko Kristianto, dari Surabaya, saat ini sedang menempuh studi tahap akhir Ilmu Theologi, Fakultas Theologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Wacana pendidikan global sudah didengungkan pada pemuda sejak menyongsong abad ke-21. Berbagai alternatif mulai ditawarkan yang ujung-ujungnya berbasis internasional. Hal ini mengandung langkah strategis di mana pemuda diajak untuk bersaing di publik internasional. Namun di sisi lain, langkah ini juga memiliki paradoksnya tersendiri. Paradoks bahwa mentalitas inlander mampir ke kancah pendidikan nasional Indonesia. Apakah seharusnya demikian? Rasanya tidak, pemuda memang harus bersaing dalam dunia global namun mereka harus tetap memegang nilai-nilai kebangsaan perjuangan. Semangat ini dibawa oleh para atlit yang berjuang di perhelatan olah raga internasional, contohnya Sea Games.

 

 

 

Rupanya, warna ini ditangkap Stube-HEMAT sebagai lembaga yang mendampingi mahasiswa dengan memfasilitasi mahasiswa berbagai pelatihan multi issue termasuk Pelatihan Pendidikan Global. Bagi saya, usaha ini perlu diberi apresiasi. Walaupun, tiada gading yang tak retak. Stube pun kurang memberikan distingsi kuat dalam memetakan antara pendidikan nasional, pendidikan alternatif, dan pendidikan global dalam pelaksanaannya walaupun TOR sudah mengarah ke sana. Ketiga corak tersebut memang ada dalam dunia pendidikan dan terkesan overlapping. Tapi bukan berarti, semua berjalan bertabrakan karena semua memiliki idealisme tujuan pendidikan sendiri-sendiri. Pendidikan nasional membidik kajian corak dan karakteristik pendidikan nasional turunan dari kemendiknas menuju tingkat lokal melalui tataran formal. Sedangkan, pendidikan alternatif mencoba mengkritisi pendidikan nasional yang kian meresahkan dan memojokkan aspirasi dan perkembangan naradidik sehingga para pedagog menawarkannya dengan memanfaatkan kearifan lokal. Kemudian, pendidikan global menghelat persiapan partisipasi pemuda dalam kancah globalisasi abad ke-21.

 

 

 

 

Bercermin pada diskursus pendidikan tersebut, saya menawarkan pola pendidikan baru yang mulai harus disajikan dalam mengimbangi abad ke-21 ini yakni pendidikan kesadaran kritis. Banyak hal disajikan globalisasi abad ke-21 tetapi ‘penumpang’ harus peka dan kritis dalam membaca dinamikanya. Dinamika barulah ditangkap bila mereka sedia bergabung dan masuk dalam praksis kemudian berefleksi bersamanya. Kalau poin ini sudah ditangkap, maka transformasi pendidikan menjadi ajang plus untuk mengembangkan praksis dan ini dibutuhkan kerja keras. Akhir kata, selamat mencoba!


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 15 Oktober 2013
oleh Stube HEMAT
 

 

Pendidikan: Antara Harapan dan Kenyataan

 

Wisma PGK Shanti Dharma, Godean, 11 – 13 Oktober 2013

 

 

 

 

“Diakui atau tidak, pendidikan Indonesia masih dipengaruhi oleh sistem pendidikan dari luar negeri, dan belum banyak menggali nilai-nilai pendidikan dalam negeri”, demikian Dr. Dwi Siswoyo M.Hum, kepala Prodi S3, Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta menyampaikan materinya pada pelatihan Pendidikan Global yang diadakan oleh Stube HEMAT Yogyakarta. “Akan lebih memprihatinkan lagi apabila masyarakat Indonesia menjadi konsumen Budaya Barat dan mendangkalkan nilai-nilai budaya luhur Indonesia”, imbuhnya mengutip tulisan HAR. Tilaar. Dalam kondisi pendidikan semacam ini anak-anak muda khususnya mahasiswa harus lebih banyak memperlengkapi diri menghadapi tantangan global dengan mengakses kesempatan-kesempatan serta peluang kerjasama.

 

 

 

 

 

 

Tunggul Priyono, SH., M.Hum., dari KOPERTIS wilayah 5 Yogyakarta membuka pintu lebar-lebar untuk segala informasi bagi mahasiswa. Sementara itu Eko Prasetyo, Direktur Social Movement Institute, yang dikenal dengan bukunya “Orang Miskin Dilarang Sekolah” menggugah semangat para peserta dengan kritik-kritik terhadap sistem pendidikan yang membatasi dan mengurung daya kembang anak didik, sehingga anak didik tidak mampu mengembangkan imajinasinya. Selain itu ia juga mendorong peserta untuk belajar dan berkembang melalui organisasi yang diminati. Hal ini juga digarisbawahi oleh narasumber lain, yakni Markus Budiraharjo, Ed.D., dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bertumbuhnya seseorang tidak bisa lepas dari konteks lingkungan dimana dia berasal dan interaksi positif yang membantu pertumbuhan optimal. Secara khusus, kemampuan seseorang berkompetisi di tingkat global, didasari keteguhan memegang nilai-nilai kehidupan dan berpikir holistik.

 

 

 

 

 

 

Eksposur atau kunjungan ke Museum Ki Hadjar Dewantara, Yogyakarta, menjadi sebuah kegiatan untuk mengingat kembali seorang pioner pendidikan nasional beserta pemikiran-pemikiran beliau yang visioner serta keberpihakannya untuk mendidik anak bangsa. Sementara itu, eksposur di INFEST (Institute for Education Development, Social, Religious, and Cultural Studies) mengajak peserta belajar bagaimana membangun kemandirian dalam teknologi informasi, serta melakukan pemberdayaan desa melalui pendampingan masyarakat pedesaan.

 

 

 

 

 

 

Menanggapi pelatihan pendidikan global yang diikuti,  J.F. Anugerah Sihaloho, mahasiswa UKDW mengungkapkan, “Informasi dan pengetahuan yang saya dapatkan di Stube ini belum tentu saya dapatkan di luar bahkan di tempat saya berkuliah. Cakrawala pemahaman saya tentang pendidikan menjadi lebih luas dan saya bisa mengoreksi diri.” Peserta lain yakni Claudia Betruchy Bada, mahasiswa Pendidikan Matematika, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, menambahkan, “Apa yang sudah saya pelajari dalam pelatihan ini akan saya bagikan kepada yang lain. Dengan kompetisi global dan kenyataan pendidikan yang ada saat ini, saya merasa harus terus belajar dan menemukan hal baru untuk menambah pengetahuan saya”.

 

 

 

 

 

 

Beberapa kegiatan peserta sebagai aksi tindak lanjut adalah menulis refleksi pribadi tentang pendidikan, kegiatan belajar bersama anak-anak usia sekolah di sekitar kos di kampung Celeban, Yogyakarta, pendampingan belajar untuk anak-anak usia SD di kampung Maguwoharjo, Sleman, diskusi dan observasi desa untuk melihat potensi pengembangan suatu desa, dan pemberdayaan unit kegiatan mahasiswa dengan melakukan audiensi dengan Kopertis mengenai peluang kegiatan pengembangan diri mahasiswa dan akses studi di luar negeri.

 

 

 

 

Disela-sela pelatihan di atas, dua mahasiswa peserta eksposur lokal ke Halmahera dan Papua berkesempatan membagikan temuan-temuan mereka kepada para peserta pelatihan. Memang diakui bahwa banyak hal ataupun permasalahan yang harus ditangani serius di daerah, khususnya untuk penanganan pengelolaan alam dan pemeliharaan lingkungan. Untuk itu diharapkan, mahasiswa-mahasiswa dari luar Jawa yang telah selesai studi di Yogyakarta untuk segera kembali dan berkontribusi membangun daerahnya.(TR)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 26 September 2013
oleh Stube HEMAT

Kelas Menulis (Follow-Up Program Multikultur)

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Menjawab kerinduan untuk melahirkan penulis-penulis muda yang bisa mengakomodir nilai multikultur, Stube HEMAT Yogyakarta membuka kelas menulis dengan tema “Sinkronisasi Kepala, Hati dan Tangan”. Dimulai sejak tanggal 14 September 2013, kelas ini dilakukan pada hari Sabtu setiap minggunya bertempat di Omah Limasan dan diikuti oleh beberapa mahasiswa dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL), Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia (STAKM) dan Universitas Sanata Dharma (USD) yang diharapkan bisa menghasilkan karya tulis dalam 12 kali pertemuan.

 

 

Dibawah bimbingan Wiliam E. Aipipidely, atau Bang Willy, begitu sapaan akrab para peserta, kelas ini diawali dengan pemahaman antara penulisan artikel dan reportase, antara penulis dan wartawan. Sebagai praktisi yang kaya pengalaman dalam menghasilkan tulisan dan buku, ditambah kesehariannya sebagai salah satu aktivis di lembaga Satu Nama bidang demokrasi, William E. A memang memiliki kerinduan membagi ilmu jurnalisme kepada anak muda, sehingga tercipta aliran ilmu dan regenerasi yang diharapkan bisa bermanfaat di kehidupan mendatang.

 

 

 

Di kelas menulis ini peserta belajar memahami tata cara penulisan yang benar secara umum, bagaimana menulis buku, tata cara penulisan opini publik pada koran, tabloid lokal dan nasional, dan mampu menghasilkan karya tulis yang relevan, bermanfaat, terlebih lagi bisa berpihak pada kaum marginal disesuaikan minat masing-masing. Melalui kelas ini peserta mendekonstruksi kembali pemahaman mereka tentang menulis. Mereka juga belajar bagaimana menulis opini pada media cetak, menemukan bahan pendukung, langkah penulisan dan strategi menganalisa headline.

 

 

 

Kelas ini menjadi terasa seru karena tugas menulis langsung diberikan kepada peserta untuk dikumpulkan pada setiap pertemuan untuk diperiksa, dinilai dan dikomentari pembimbing dan peserta lain. Dari semua tulisan yang terkumpul belum bisa dikategorikan sebagai tulisan opini yang bisa dimuat di media cetak, karena belum menyertakan teknik penulisan yang benar seperti metode 5 W 1 H dan solusi yang tepat dari masalah yang diangkat dalam rubrik opini publik. Pertemuan-pertemuan selanjutnya akan menjadi lebih menantang buat peserta.

 

 

Bang Willy menegaskan bahwa menulis merupakan bagian dari aktivitas kehidupan kita sehari–hari, namun hanya sedikit orang yang mengetahui manfaat menulis bahkan makna sesungguhnya dari tulisan mereka belum bisa dipahami secara holistik dan mendalam. Realita menunjukkan bahwa mahasiswa dan pemuda Indonesia menganggap bahwa menulis hanya sebagai sebuah kebiasaan dan syarat untuk mendapatkan nilai atau digunakan hanya pada penyusunan tugas akhir, belum sampai pada tahap menemukan nilai pada sebuah karya tulis. Padahal jika dilihat, karya tulis itu sederhana saja, hanya merupakan sinkronisasi antara kepala, hati dan tangan yang tertuang pada sebuah kertas yang isinya bisa dipertanggungjawabkan dan bermanfaat bagi orang lain. Sebenarnya, dengan tulisan-tulisan sederhana, seorang mahasiswa atau pemuda bisa dikatakan produktif.

 

 


Apa yang akan terjadi dengan pertemuan yang akan datang? Semoga ada peningkatan kemampuan dalam menulis. (SRB)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 25 September 2013
oleh Stube HEMAT

Pemahaman Alkitab Remaja GKJ Mergangsan

 

 

 

REMEHKAH HAL KECIL?

 


 

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar (Lukas 16:10)

 

 

 

Setelah merenung beberapa saat untuk 3 hari terakhir yang sudah dilalui, satu persatu bicara bahwa mereka ada yang tidak belajar, lupa mengerjakan PR, berniat mencontek saat ulangan meski akhirnya ulangan ditunda karena guru tidak masuk, membolos sekolah, dan ada yang tersinggung atas perlakuan teman pada dirinya. Lebih unik lagi ada pula yang mengungkapkan bahwa tiga hari berjalan biasa, tidak ada pengalaman yang mengesankan. Inilah secuplik pengalaman yang mengesankan yang didapat oleh tim kerja Stube HEMAT, Yohanes Dian Alpasa saat membimbing PA remaja di GKJ Mergangsan, Jumat, 20 September 2013.

 





 

Dengan tema “remehkah hal kecil?”, remaja-remaja tersebut diajak merenung agar lebih menyadari perkara–perkara yang ada di lingkungan hidupnya. Dengan menyadari keberadaan perkara, cukup menjadi modal penting untuk mengembangkannya. Mereka diajak untuk melihat diri, potensi dan kesempatan bahkan mereka juga belajar untuk menyadari bahwa mereka sering lalai untuk mengembangkan kesempatan itu. Ketika menyadari bahwa ada banyak kesempatan dilewatkan, sontak mereka tersenyum malu. Beberapa diantara mereka menertawakan pengakuan teman yang lain seperti simbol solidaritas. Inilah yang membuat suasana PA menjadi semarak karena ada canda dalam sharing.

 

Teman-teman remaja itu kemudian tidak hanya sadar tetapi juga belajar seperti menyusun strategi untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang mereka dapat. Dengan tidak meremehkan waktu, kita berharap Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati perkara yang lebih besar.

 

 

 

Ketika ditanya apakah mereka sepakat dengan renungan firman Tuhan dan diskusi malam itu, semua menganggukkan kepala tanda setuju.  Selamat bertumbuh menuju kedewasaan. (YDA)

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 24 September 2013
oleh Stube HEMAT
Metamorfosis: “Proses Menuju Kesempurnaan”

“Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya." Injil Markus pasal 4: 31-32



Tema Metamorfosis di atas diangkat oleh BPH PMK TALENTA Universitas Mercu Buana Yogyakarta dengan harapan agar para  mahasiswa terus berproses dalam perkuliahannya dengan lebih baik dan membuahkan hasil yang sesuai harapan dan cita-cita mereka.

 

 

 

Vicky Tri Samekto dari Stube HEMAT, mengupas metamorfosis ini sebagaimana perumpamaan biji sesawi, dari Injil Markus pasal 4: 31-32. Kerajaan Allah yang penuh damai sejahtera itu ada dalam setiap pribadi manusia dan harus bisa dirasakan bersama-sama, tidak untuk dinikmati sendiri. Artinya ada dampak yang bisa dirasakan bagi orang lain dan lingkungan (masyarakat) di mana kita berada, baik dalam skala kecil maupun besar. Ketika seorang mahasiswa sedang menempuh kuliah harapannya adalah selesai, wisuda dan bekerja untuk meraih kesuksesan. Semua ini tidak bisa meninggalkan proses metamorfosis, yang berarti memperoleh perubahan bentuk, dan itu adalah proses kehidupan.

 

 

 

 

 

 

Proses kehidupan yang memberikan perubahan-perubahan, dari titik awal dilahirkan sampai menuju pada titik kesempurnaan. Kesempurnaan tidak dapat dijelaskan secara detail karena titik kesempurnaan setiap individu berbeda-beda, sampai sejauh mana ia mengupayakan kesempurnaan itu. Setiap individu mengalami proses metamorfosis, berubah dari fase yang satu menuju fase selanjutnyaYang pasti, harapan dari proses perubahan ini bukanlah kegagalan, melainkan kesempurnaan dan keberhasilan untuk menyatakan eksistensinya dalam kehidupan ini. Tentu tidak mudah meraihnya, karena pasti ada hambatan dan rintangan yang menghadang.

 

 

 

 

 

 

Proses mendapatkan kehidupan baru adalah perjalanan yang tidak ada habisnya, semuanya itu adalah proses pencarian yang penuh misteri dan proses itu harus dilandasi keyakinan bahwa proses mampu merubah dan meng-upgrade potensi seseorang. Seperti biji sesawi dalam perumpamaan tentang Kerajaan Allah, hendaknya kehidupan kita juga memancarkan damai sejahtera Kerajaan Allah dalam setiap prosesnya, dimulai dari hal yang paling kecil menjadi hal yang besar.

 

 

 

Persekutuan pada Senin 23 September 2013 tersebut menjadi sangat cair dengan obrolan ringan, pujian, permainan unik, cerita-cerita dan keakraban yang dibangun oleh pengurus PMK dan Stenly Recky Bontinge dari tim kerja Stube HEMAT, yang memperkenalkan program-program pelayanan organisasi ini. Persekutuan yang dihadiri sekitar 30 mahasiswa ini diakhir dengan sebuah ajakan agar mahasiswa PMK Talenta ikut bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakat di mana mereka sekarang berada, karena lingkungan memberi andil dalam proses metamorfosis keberhasilan yang akan diraih.

 


 

 

 

Selamat berposes dalam pencarian dan selamat bermetamorfosis. Tuhan Yesus memberkati. (vicky tri samekto)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 9 September 2013
oleh Stube HEMAT

Program Pelatihan Multikultur

 
Belajar dari Persemaian Cinta Kemanusiaan (PERCIK), Salatiga
7 September 2013
 

Dalam rangkaian belajar Multikultur, pada tanggal 7 September 2013, mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Stube HEMAT Yogyakarta mengunjungi lembaga PERCIK di Salatiga, kurang lebih 88 km arah timur kota Yogyakarta. PERCIK, kepanjangan dari Persemaian Cinta Kemanusiaan, adalah sebuah lembaga yang bergerak di bidang penguatan masyarakat sipil (Civil Society) yang memakai kearifan lokal tempat masyarakat yang bersangkutan hidup dan beraktivitas sehari-hari. Menurut Pradjarto, S.H., Ph.D, salah satu yang menjadi narasumber PERCIK, kebenaran itu muncul dari tataran lokal, bukan secara struktural dirumuskan pemerintah daerah maupun pusat.

Masyarakat lokal dalam suatu daerah juga memiliki kebenarannya sendiri seturut nilai-nilai yang mereka anut sehari-hari. Lebih lanjut, melalui berbagai proses kearifan lokal maka lahirlah apa yang kemudian disebut agama, tata kehidupan, politik, hukum, adat istiadat, dan kebudayaan. Sentuhan khas PERCIK dalam menggarap isu-isu sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat inilah, yang menjadi daya tarik peserta dari Stube HEMAT untuk memperdalam pemahaman Multikultur di PERCIK.
 
Multikultur ala PERCIK memberi dasar bagaimana seseorang bersikap hidup, karena hal ini langsung berkaitan dengan realita pluralitas dari norma yang ada. Namun perlu dicermati bahwa belum tentu dalam norma tersebut kaidah Multikultur mendapat perhatian dan digali maknanya. Orang hanya melihat permukaan saja, tetapi belum tentu memahami apa yang ada di dalam kehidupan bersama.  Pradjarto kembali menegaskan bahwa menerima perbedaan dengan rasa hormat itu adalah Multikultur. Membuang sikap egois, menerima perbedaan, ataupun menghormati kesetaraan harus dilakukan terus-menerus dalam hidup kita. Perbedaan hidup antara Primitif dan Modern hanya dibatasi oleh sikap hidup masing-masing orang. Karena kehidupan modern sudah merusak berbagai sendi kehidupan maka orang ingin kembali pada kearifan lokal.


Diskusi yang dilakukan di lembaga ini sangat menarik karena dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil dengan beberapa tema, seperti lingkungan, perkawinan lintas iman, Sobat muda dan Sobat anak. Para peserta diajak membedah realita kehidupan sehari-hari dan memetakan persoalan dalam kehidupan di tempat asal dan tempat di mana mereka berada saat ini. Masalah lingkungan adalah hal yang sangat nyata dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan karena lingkungan mempengaruhi kehidupan manusia sampai pada kebudayaannya. Manusia tergantung pada lingkungan dan alamnya. Adapun yang berkaitan dengan perkawinan lintas iman, hal ini tidak bisa dihindari karena adanya keberagaman kepercayaan dalam kehidupan. Jika ini terjadi maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengkomunikasikannya.

Komunikasi dengan keluarga dan komunikasi antar pasangan penting dilakukan agar mereka benar-benar sadar dan siap untuk menjalani keputusan yang diambil. Komunikasi adalah kunci penting dalam mengungkap perbedaan, karena tidak mudah orang bisa menerima perbedaan apalagi menyangkut agama. Anak-anak muda perlu disadarkan akan keadaan sosial yang sudah terkotak-kotak oleh berbagai kepentingan, supaya mereka tidak larut dalam perbedaan ini, karena lingkungan sosial mempengaruhi perkembangan setiap pribadi baik jiwa maupun pola pikir. Orang tua harus turut andil memperkenalkan kehidupan yang beranekaragam kepada anaknya dengan mengajarkan langsung dari pengalaman si anak atau pengalaman orang tuanya.
 
Sebagai kesimpulan akhir Pradjarto menekankan bahwa Multikultur harus kita kenal dan kita harus sadar bahwa hidup kita sering tertutup paradigma yang ada. Ketika kita membuka diri, akan banyak pertanyaan yang muncul sehingga jawabannya juga harus nyata. Jika ingin melihat persoalan Multikultur silahkan lihat hal-hal yang ada di sekitar kita. ***



  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 3 September 2013
oleh Stube HEMAT
Cerdas Membaur Meski Multikultur
 
Hotel Kayu Manis, Kaliurang, 30 Agt - 1 Sep 2013

 
Kehidupan yang beranekaragam tidak bisa dipungkiri dalam realita sehari-hari. Konteks kehidupan seperti ini di Indonesia sudah sejak lama terjalin. Maka dari itu Negara ini memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu). Kehidupan yang beranekaragam ini dalam bahasa populer disebut Multikultural. Perbedaan yang ada secara alami tidak menjadi masalah dalam masyarakat, tetapi ketika migrasi penduduk semakin pesat maka pergesekan antar budaya menjadi sangat kelihatan. Gesekan budaya itu akhirnya menjadi permasalahan identitas dari sebuah kelompok masyarakat dari daerah tertentu seperti bisa dicermati pada dampak transmigrasi. Rasa senasib dan sepenanggungan di tanah perantauan secara psikologis mendorong orang untuk membentuk sebuah komunitas.
 
Arus migrasi pelajar dari berbagai kota dan daerah menuju Yogyakarta yang memiliki banyak perguruan tinggi, terjadi cukup tinggi setiap tahunnya dan tidak dapat dipungkiri terjadi pergesekan budaya yang berbeda. Pergesekan budaya yang berbeda bisa menjadi nilai yang positif karena dapat saling melengkapi, tetapi juga bisa mengarah kepada hal yang negatif ketika perbedaan tidak dapat diterima atau bahkan memicu konflik antar kelompok.
 
Pelatihan Multukultur yang dilaksanakan dari tanggal 30 Agustus sampai dengan 1 September 2013 oleh Stube HEMAT menjadi sangat penting untuk memahami perbedaan dan pergesekan budaya yang beragam. Mengambil tema Cerdas Membaur Meski Multikultur, pelatihan ini membawa peserta memahami makna multikultur, menyadari adanya multikultur dalam kehidupan sehari-hari, meminimalisir gesekan budaya yang mengakibatkan konflik, stigma, juga Culture Shock.


Pelatihan ini diawali dengan materi pengantar Multikultural oleh Tim Stube HEMAT, dilanjutkan keesokan harinya materi Multikultural di Indonesia: Penyebab, ragam dan urgensinya oleh DR. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., staf pengajar sosiologi UKSW, Salatiga. Culture Shock menjadi salah satu topik menarik dalam pelatihan ini yang dibahas dengan pendekatan psikologi oleh Drs. Thomas Aquino Prapanca Hary, M.Si., staf pengajar psikologi UST, Yogyakarta. Adapun sikap multikulturalisme dalam keseharian disampaikan oleh William E. Aipipidely, S.T., M.A, dari Yayasan Satu Nama.
 
 
Selama proses pelatihan para peserta diajak berefleksi, instropeksi, menganalisa dan memetakan lingkungan dimana ia berada, suku dan budaya, kebiasaan-kebiasaan yang selalu dijumpai juga mengenal budaya lain dari antar peserta melalui diskusi. Ketika para peserta melakukan eksposure bersama ke Desa Turgo, mereka banyak belajar mengenai kearifan lokal penduduk setempat, nilai kebersamaan, toleransi, keramahtamahan, persaudaraan, penghargaan terhadap alam dan kehidupan yang saling menjaga.
  
 
Pelatihan Multikultur ini ditutup dengan membangun komitmen melalui Rencana Tindak Lanjut yang dibuat oleh peserta yakni dengan: membagikan pengalaman yang didapatkan kepada sahabat dan kepada mahasiswa baru di kampus masing-masing, menindaklanjuti dengan tulisan, membuat bahan ajar Multukultur kepada anak, dan tak kalah seru bagi para mahasiswa pendatang adalah mempelajari bahasa setempat di Yogyakarta, yakni Bahasa Jawa.
 
 
 
 
Selamat menindaklanjuti!

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 1 September 2013
oleh Stube HEMAT

Program Eksposur Lokal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EKSPOSUR LOKAL: “YUK PULANG KAMPUNG!”

 

 

 

Salah satu dukungan Stube-HEMAT Yogyakarta kepada mahasiswa daerah untuk lebih mengenal daerahnya dan sebagai persiapan untuk kembali ke daerah setelah lulus studi di kota ini, adalah program Eksposur Lokal atau Hospitasi. Program ini memberi kesempatan kepada mahasiswa melakukan pengamatan dan pemetaan potensi yang bisa dikembangkan maupun permasalahan yang terjadi di daerah serta membuka jaringan kerja yang diperlukan ketika selesai studi dan kembali ke daerah asal mereka.

 

 

 

Tahun 2013 ini tiga orang mahasiswa terpanggil pulang melihat potensi daerahnya. Mereka adalah: Sarloce Apang, Emilliana R. Eka Rawulun, dan Mario Fransisco Talubun. Sarloce Apang biasa dipanggil Loce (21) berasal dari daerah Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara. Saat ini Loce tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) ‘YLH’ Yogyakarta yang ingin melakukan pengamatan dan pemetaan dampak pertambangan dengan judul Analisa Umum Dampak Pertambangan Nikel di Pesisir Pantai Pulai Gei, Buli Asal – Fayafli, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Ia berharap tulisannya mampu menjadi bahan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai dampak pertambangan nikel di pesisir pantai pulau Gei, Buli – Asal – Fayafli.

 




 

Emilliana R. Eka Rawulun dengan panggilan Eka (22), berasal dari daerah Fak-fak Papua Barat. Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ‘YLH’ Yogyakarta, jurusan Teknik Lingkungan ini mengambil topik Pengamatan Sistem Pengelolaan Limbah Cair RSUD Fak-fak, Papua Barat. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana sistem pengolahan limbah cair di RSUD Fak-fak dan dampak yang muncul apabila limbah cair di RSUD Fak-fak tidak dikelola dengan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

 

 

 

Sementara Mario Fransisco Talubun (22), yang juga berasal dari daerah Fak-fak, Papua Barat, mengambil topik Analisis Pola Tingkah Laku Masyarakat Sekitar Terhadap Keberlangsungan Taman Nasional Wasur, di Merauke, Papua. Mahasiwa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ‘YLH’ Yogyakarta, jurusan Teknik Konservasi Lingkungan ini bertekad untuk mempelajari model-model tingkah-laku masyarakat yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, yang bisa terus dipertahankan untuk mendukung usaha-usaha pelestarian alam dan  menemukan permasalahan sosial yang mempengaruhi kelestarian Taman Nasional Wasur. Lebih jauh lagi dia ingin menggali informasi sejauh mana upaya pemerintah setempat serta proyeksi ke depan untuk mengembangkan Taman Nasional Wasur Papua.

 

 

 

Selamat berproses, teman-teman.

 

 

(trustharembaka)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 7 Juli 2013
oleh Stube HEMAT

Pendampingan Remaja dan Pemuda Gereja

 
 
 
Live – In Remaja Pemuda GKI Pamulang 2013
 
 
Apa perbedaan antara Gadget, smart phone, tab dengan cangkul, arit, atau kapak? Orang awam akan menilai jika gadget adalah hasil dari teknologi tinggi yang  ditemukan di perkotaan dan akan mengesampingkan cangkul, arit, atau kapak. Namun secara tidak sadar cangkul, arit atau kapak merupakan alat penopang kelangsungan hidup manusia dan merupakan produk asli kebudayaan dan peradaban manusia yang tinggi. Globalisasi menyeret manusia ke dalam hidup yang semakin instan, individualis dan kurang peduli akan sesama dan lingkungan.
 
 
Untuk mendekatkan kembali manusia dengan manusia dan lingkungan, dilandaskeinginan untuk belajar dan berinteraksi dengan orang lain yang berlatar belakang hidup berbeda, mengasah kepekaan dan kepedulian sosial, Komisi Remaja dan Pemuda GKI Pamulang berinisiatif melakukan LIVE–IN di Yogyakarta yang didampingi oleh Stube HEMAT Yogyakarta. Bertemakan "Once is enough, if you be grateful”. Live-in dilakukan mulai tanggal 3 - 5 Juli 2013 di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke tempat-tempat kerajinan kreatif khas Yogya seperti kerajinan batik Pandak, Bantul dan kerajinan tanah liat Pundong, dilanjutkan dengan tinggal bersama penduduk yang merupakan warga jemaat GKJ Kemadang yang berada di desa Kemadang, Sumber dan Planjan, Gunungkidul.
 
 
Ada hal menarik ketika peserta berinteraksi dan berproses di tempat-tempat ini. Kerajinan merupakan hal yang unik dimana peserta diajak melihat proses ini sebagai usaha kreatif masyarakat dalam menangkap peluang serta melestarikan budaya dengan tujuan untuk kemandirian masyarakat itu sendiri. Dalam waktu dua jam, peserta tidak hanya belajar mengenal batik dan keramik melainkan juga langsung praktek membuatnya. Semua peserta terlihat antusias karena mereka membuat produk sesuai keinginan dan motif yang disukai, demikian juga tuan rumah, pemilik usaha batik dan keramik, “Saya senang bisa mengajarkan dan mentransferkan ilmu kepada anak–anak muda, generasi penerus sehingga nilai baik dari budaya kita tidak hilang atau dicuri orang luar.”
 
Tak kalah seru pengalaman peserta saat tinggal bersama keluarga di desa dengan latar belakang berbeda selama dua hari. Perbedaan suasana, budaya, aktivitas menjadi hal yang menarik ketika dijalani seperti ke ladang di pagi hari, berpanas-panasan dan mencangkul atau mencari rumput bagi ternak “orang tua“ masing-masing. Juga tak kalah menarik ketika terjadi interaksi antara peserta yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa dengan tuan rumah yang sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia.
 
 
 
Mengunjungi pantai Drini yang terletak di wilayah itu sungguh merupakan pengalaman yang mengesankan bagi peserta yang tidak menyangka ada pantai elok yang tersembunyi di daerah ini.
 
 
Kesan dan nilai yang didapat peserta sangat beragam baik suka maupun duka namun semua peserta bisa menangkap nilai positif dan kebaikan dalam kegiatan tersebut. Kiranya berkat yang dibawa dalam kegiatan ini boleh bermanfaat dan hanya supaya nama Tuhan yang dimuliakan. (SRB)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 18 Juni 2013
oleh Stube HEMAT

Program Energi Terbarukan

 

 




“Berkarya Nyata untuk Masa Depan”

 

 

 

Masyarakat membutuhkan suplai energi yang cukup besar, namun penyediaan masih terbatas, sehingga menimbulkan krisis di berbagai daerah yang menyulitkan kehidupan masyarakat. Keprihatinan atas kondisi ini mendorong untuk menumbuhkan kepedulian dan menjawab kebutuhan masyarakat dengan melihat kembali potensi sumber daya alam terbarukan yang ada di Indonesia, seperti energi surya, energi angin (bayu), dan energi air. Sumber energi lainnya bisa diperoleh dari pengolahan tanaman tertentu serta energi biogas dari kotoran ternak dan limbah sampah.

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan pelatihan Energi Terbarukan sebagai wujud kepedulian dan kontribusi untuk  menjawab permasalahan sosial, khususnya yang berkaitan dengan energi. Pelatihan ini diharapkan bisa memberi pencerahan (enlightment), membangun kesadaran, membuka pemikiran dan pengalaman keterampilan kepada mahasiswa. Bertempat di Wisma PGK Shanti Dharma Godean, kegiatan ini dimulai pada tanggal 14 – 16 Juni 2013.

 

 

 

 

 

 

Pelatihan yang diikuti 38 peserta dari berbagai daerah dan berbagai kampus di Yogyakarta ini dibuka oleh Pdt Dr. Tumpal Tobing, Mag. Theol. Pdt. Bambang Sumbodo,S.Th., M.Min dan Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd. Dari ketiga narasumber tersebut peserta mendengar sedikit banyak mengenai Stube-HEMAT, kegiatan-kegiatannya, serta impian yang ingin digapai bersama anak-anak muda Indonesia untuk mampu menjawab permasalahan sosial yang ada.

 

 

 

 

 

 

Pusat Studi Energi (PSE) UGM menjadi salah satu fasilitator pelatihan ini.  Diwakili oleh Irawan Eko Prabowo S.T. M.Eng., peserta diajak melakukan Analisis Sosial Permasalahan Energi, Kebijakan Energi (Lokal – Global) dan melihat Keberpihakan Pemerintah terhadap Pengembangan Energi Terbarukan. Lebih lanjut, Dr. Deendarliyanto, pimpinan PSE UGM menyampaikan Pemetaan Potensi Sumber Daya (Energi) Terbarukan di Indonesia serta peluang pengembangannya.

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Eksposur, untuk mendekatkan teori dan fakta, membawa peserta secara langsung melihat, mengamati dan mempelajari pemanfaatan energi terbarukan seperti yang ada di Singosaren, Imogiri, Bantul. Di lokasi ini Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) sudah dirintis oleh Mutohar yang merasa terpanggil dengan banyaknya pemberitaan media massa atas krisis energi listrik. Instalasi PLTMh ini diawali sejak tahun 2006, dengan memanfaatkan saluran irigasi untuk menggerakkan generator penghasil listrik yang dimanfaatkan untuk penerangan jalan umum di dusun Singosaren. Hal istimewa dari PLTMh ini adalah menjadi media pembelajaran dan studi banding bagi mahasiswa, dosen dan instansi.

 

 

 

 

 

 

Eksposur kedua adalah instalasi Biogas di Cangkringan, sebuah kawasan relokasi dusun Petung yang terdampak letusan Merapi 2010. Masyarakat didampingi oleh Sarjiyo, seorang praktisi biogas, memanfaatkan kotoran sapi sebagai penghasil gas yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (Angin dan Matahari) (PLTH) di kawasan Pantai Baru Pandansimo menjadi lokasi eksposur selanjutnya. Didampingi  Chriswantoro, seorang teknisi PLTH, peserta mempelajari potensi angin dan sinar matahari, yang berlimpah di kawasan Indonesia, serta mengamati sistem kerja instalasi kincir angin dan panel surya. Keberadaan Pembangkit Listrik ini memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya kawasan Pantai Baru, yang listriknya disuplai dari PLTH ini.

 

 

 

 

 

 

Pelatihan ditutup dengan membangun komitmen melalui Rencana Tindak Lanjut oleh peserta. Pengalaman, pencerahan dan inspirasi baru yang dialami  peserta ditindaklanjuti dengan komitmen pribadi hemat energi, menuliskan essai tentang energi, membagi pengetahuan kepada komunitas kampus, serta kampanye hidup peduli lingkungan.

 

 

 

 

 


(trustha rembaka)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 17 Juni 2013
oleh Stube HEMAT

Diskusi Gender 1

 
Pemahaman Mengenai Gender 
 
Apa itu GENDER, mengapa kita perlu memahaminya? Pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada para peserta oleh Ariani Narwastujati, S.S., M.Pd, fasilitator diskusi “Pemahaman mengenai Gender” di Stube HEMAT.  
 
Yohanes, salah seorang peserta diskusi mencoba menyoroti cerita Alkitab yang harus diakui bahwa pihak laki-laki (ayah) masih lebih dominan dari pada perempuan,  seperti cerita Abraham dan Sara, Daud dan Betsyeba, atau  Ratu Wasti. Cerita-cerita itu berdasar tradisi yang terjadi masa lampau. Sehingga dalam penerapan pada masa ini harus direkonstruksi dengan membangun pemahaman cerita dengan wacana  kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. “Nah gender disini bisa dipahami sebagai paham yang mencoba memberi perspektif bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan,” imbuhnya. 
 
Sementara Trustha mengingatkan bahwa  kaum perempuan secara budaya masih terpinggirkan dalam beberapa cerita Alkitab, karena yang masuk dalam daftar silsilah adalah laki-laki. Namun perlu dicatat juga bahwa ada beberapa kaum perempuan memegang peranan yang sangat penting. misalnya Maria, Rahab, Rut, Debora, Maria Magdalena, dan Ester. Dalam konteks kehidupan Indonesia saat ini, Maria melihat bahwa di daerah Adonara, NTT, kaum perempuan yang kuliah pasti ditertawakan, karena dianggap tidak biasa, lebih-lebih mereka yang kuliah di luar pulau dan merantau jauh, karena mereka beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mencari ilmu tinggi-tinggi. Bahkan kebiasaan setempat memberlakukan  kaum perempuan untuk mengambil makanan belakangan setelah kaum pria pada saat jamuan-jamuan makan.
 
 
Gender sering diidentikkan dengan jenis kelamin (sex), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Secara etimologis kata ‘gender’ berasal dari bahasa Inggris yang berarti ‘jenis kelamin’ (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 265). Proses panjang perbedaan gender antara seorang pria dengan seorang wanita terjadi dan dibentuk oleh kondisi sosial budaya dan kondisi keagamaan.  Karena proses yang panjang ini, gender sering dianggap bersifat kodrati dari Tuhan atau seolah-olah bersifat biologis yang tidak dapat diubah. Selanjutnya, konstruksi sosial budaya, nilai-nilai, mental, emosi-emosi dan faktor lainnya diluar faktor biologis inilah yang dipakai untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga muncul hal-hal seperti larangan perempuan tertawa keras, keluar malam, warna merah jambu adalah warna perempuan, perempuan hanya untuk bekerja di wilayah domestik keluarga, perempuan harus patuh kepada laki-laki dan lain sebagainya. 
 
 
Dari diskusi ini peserta belajar memahami gender dan pembedaan antara laki dan perempuan berdasarkan konstruksi sosial yang ada inilah yang  sebenarnya yang menyebabkan awal terjadinya ketidakadilan gender di tengah-tengah masyarakat. ***
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 16 Juni 2013
oleh Stube HEMAT

Diskusi Gender

 

 

 

"GENDER : Kenali, Pahami dan Bertindak"

 

 

 

 

 

 

Sistem patriarkhi mempunyai kekuatan untuk mengendalikan berbagai aspek kehidupan perempuan  dari ideologi bahkan sampai hal ekonomi. Tidak mengherankan jika kemiskinan juga berkaitan erat dengan perempuan. Sayangnya, bukan hanya praktik budaya yang menguatkan sistem tersebut tapi juga faktor agama. Pemikiran kritis tentang gender seharusnya disebarluaskan di masyarakat, khususnya dikalangan intelektual karena mereka adalah figur yang membawa pengaruh terhadap masyarakat.  Partisipasi mereka mejadi pelaku emansipasi sangat diharapkan.

 

 

Bentuk perlakuan ketidakadilan terhadap perempuan ini salah satunya berakar dari sumber budaya yang masih meninggikan derajat laki-laki dibandingkan perempuan. Meskipun perempuan telah memperjuangkan persamaan  hak dibidang sosial, ekonomi, politik dan budaya  namun perjuangan  ini masih perlu  dilakukan karena sampai saat ini diskriminasi terhadap perempuan  masih sering terjadi, meskipun diera saat ini  tidak hanya perempuan yang mengalami diskriminasi dan ketidakadilan, tetapi laki-laki juga ada yang mengalami dikriminasi dan ketidakadilan.

 


 

Stube HEMAT Yogyakarta bersama-sama dengan mahasiswa yang ingin belajar mengenai permasalahan ini melakukan beberapa kali diskusi dengan beberapa topik yang berbeda.

 

1. Pemahaman mengenai gender

 

2. Gender dipandang dari sudut kebudayaan

 

3. Eksposure dan diskusi di Dusun Setara Gender “Wonolelo”

 

4. Konstruksi Gender

 

5. Kekerasan dalam berpacaran


6. Keberpihakan kebijakan publik pada perempuan


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 7 Juni 2013
oleh Stube HEMAT

Program Energi Terbarukan

 


 
Sebuah pelatihan untuk mahasiswa dan kaum muda, yang memberi inspirasi pemanfaatan sumber energi terbarukan dan membuka wawasan tentang potensi dan sumber energi terbarukan yang dimiliki bangsa Indonesia, serta peluang pengembangannya untuk masyarakat di masa depan.
 
 
 
Kapan?
Jumat - Minggu, 14 - 16 Juni 2013
 
Dimana?
Wisma PGK Shanti Dharma Godean
 
Eksposur?
di Pantai Baru, Srandakan, (Sel Surya dan Angin)
di Singosaren, Imogiri, (Mikrohidro)
di KP 4 Berbah, (Biogas)
 
Apa yang Dibawa?
Alat tulis, dan  Alkitab
perkap pribadi (pakaian dan alat mandi)
 
Kontribusi?
Rp 25.000,-
termasuk akomodasi, transportasi,
materi dan sertifikat
 
Daftarnya?
Trustha 085 629 506 41
Yohanes 087 738 224 576
Stenly 085 878 939 807
Loce 082 195 127 024

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 3 Juni 2013
oleh Stube HEMAT

Latihan Dasar Kepemimpinan Pemuda GKJ se-Klasis Yogyakarta Barat

 
Pengenalan Diri, Kerjasama dan Kesadaran Sosial
  
Regenerasi dalam suatu kepengurusan perlu dilakukan dalam suatu organisasi, bahkan  harus dilakukan dalam rangka menjaga berjalannya organisasi. Pengurus komisi pemuda Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klasis Yogyakarta Barat, yang dikenal dengan Klayoba, mengadakan regenerasi kepengurusannya. Setelah mengadakan regenerasi pengurus, kegiatan dilanjutkan dengan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diadakan Sabtu – Minggu, 1 – 2 Juni 2013 di Dolan Deso Boro, sebuah kawasan outbound di Kulonprogo.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi mitra dan fasilitator dalam LDK pemuda Klayoba yang diikuti 15 peserta membahas tiga topik, yaitu kepemimpinan, kerjasama team, dan kesadaran sosial (social awareness). Trustha Rembaka mengawali sesi tentang pemimpin, harus mengenali diri, potensi yang ada serta percaya diri. Sesi ini mengajak peserta menemukan apa itu pemimpin serta melihat permasalahan kepemimpinan, peserta pun melakukan simulasi menceritakan dirinya di depan para peserta. Peserta pun merasakan ketika setiap peserta mengenali dan memahami karakter masing-masing, interaksi dan kinerja kepengurusan akan semakin baik.
 
Hari pertama ditutup dengan refleksi malam yang dipandu Pdt. Yosef (GKJ Wirobrajan) mengajak peserta merenungkan keberadaan dirinya di dalam dunia karena kasih Tuhan, dan menanggapi panggilan Tuhan untuk melayani.
 
Hari kedua diawali ibadah minggu yang memberi penegasan kepada peserta bahwa mereka telah dipilih dan diutus Tuhan untuk menjadi orang pilihanNya, memegang tanggungjawab kepemimpinan di Klayoba. Sesi tentang teamwork disampaikan oleh Yohanes Dian Alpasa, yang mengingatkan bahwa kerjasama merupakan suatu kebutuhan, manusia tidak bisa bekerja sendiri, namun perlu melibatkan orang lain. Dalam hal ini prinsip saling menerima kelebihan maupun kelemahan dan saling melengkapi. Sesi Outbond yang berupa permainan kerjasama dan kekompakan menjadi media praktek menerapkan teori kepemimpinan dan Teamwork yang telah diterima sebelumnya. Uniknya dari outbond ini adalah permainan outbond berbasis air!!
 
 

 

Rangkaian LDK diakhiri dengan sesi Klayoba dan Social Awareness, yang mana peserta melakukan brainstorming situasi sosial yang ada di sekitar mereka, dan ternyata sebagian besar mengungkapkan permasalahan sosial yang ada di sekitar mereka. Dari hasil temuan masalah-masalah itu, Klayoba mencoba mengambil bagian dalam penyelesaian permasalahan sosial tersebut. Let’s move on kaum muda Klayoba!!
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 23 Mei 2013
oleh Stube HEMAT

Workshop Leadership dan Teamwork Pemuda GKJ Kemadang

 
"Wahai Pemuda Bangkitlah...!!"
 

     Apapun bisa dilakukan demi sebuah pelayanan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Ukuran besar kecilnya pelayanan itu tidak menjadi soal. Banyak sedikit pengabdian yang diberikan tentu akan tetap bermanfaat bagi orang-orang disekitar. Maka, tidak sedikit orang yang berusaha memberikan hidupnya bagi orang lain.
 
     Pada 19-20 Mei 2013, Stube-HEMAT Yogyakarta memberikan pelayanan pendampingan terhadap Remaja Pemuda GKJ Kemadang, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Workshop tentang leadership dan teamwork ini  diselenggarakan di kawasan Pantai Krakal, Gunung Kidul, yang ditempuh selama 2 jam perjalanan dengan sepeda motor dari sekretariat Stube HEMAT. Dengan suasana yang berbeda, workshop ini tentu saja mendatangkan kesenangan tersendiri bagi teman-teman pemuda yang mengikutinya terlebih Pendeta Kristiono, Suratman selaku majelis, Trustha Rembaka dan Vicky dari Stube HEMAT turut aktif menjadi pembicara dan pemateri dalam acara ini. Suratman, yang akrab dipanggil Pak Ratman mengungkapkan keprihatinannya tentang kehidupan pemuda remaja setempat. Mereka butuh motivasi supaya mampu bersekutu dan melayani Tuhan di gereja dengan penuh semangat. Pemikiran serta gagasan untuk memulihkan kembali semangat kaum muda Kemadang terus-menerus didiskusikan dengan Vicky, salah satu anggota tim Stube-HEMAT yang sedang melakukan praktek kejemaatan di GKJ Kemadang. Bak gayung bersambut, maka dicetuskanlah sebuah kegiatan workshop leadership dan teamwork: Wahai Pemuda Bangkitlah!
 
Empat sesi dalam workshop ini tidak membuat jemu karena materi workshop disalut dalam game-game seru yang menggembirakan. Trustha Rembaka membagikan pemahaman terkait pentingnya kekompakan, koordinasi, dan komunikasi dalam sebuah tim. Dia juga menambahkan, pemimpin dan anggota tim tidak lagi melihat orang lain sebagai lawan tetapi  rekan untuk mencapai cita-cita bersama. Vicky menggambarkan bagaimana nabi dan Tuhan Yesus Kristus memimpin masyarakat menghadapi situasi sulit. Nabi-nabi berinisiatif dan berinovasi membuat terobosan bagi masyarakat. Apa yang mereka lakukan tidak selalu berjalan mulus. Yesus ditolak bangsa-Nya karena idenya tidak dipahami oleh masyarakat waktu itu. Ide-ide nabi-nabi terlalu membahayakan sistem yang telah mapan. Alih-alih melakukan pembaharuan justru mereka dianggap sebagai pengacau stabilitas keamanan. Namun, Tuhan Yesus tetap kreatif dalam membimbing masyarakat. Ia mengayomi. Pelan-pelan Tuhan mengajak masyarakat untuk bebas berkreasi dan berinovasi. Masyarakat disadarkan untuk mau melihat betapa mereka sudah dibodohi oleh kekakuan ritus dan tradisi sehingga menjauhkan mereka dari Allah yang penuh kasih. Selanjutnya dengan bersemangat Pak Ratman menceritakan pengalamannya sebagai ketua pemuda  pada era 2004-2009 yang begitu kompak, getol dan all out menyelenggarakan kebaktian dan pelayanan. Pemuda-remaja yang menjauh didekati dan diberi perhatian. Pemuda saat ini tidak boleh kehilangan semangat untuk guyub dan bersatu. Sementara Pdt. Kristiono di sesi terakhir menegaskan bahwa remaja-pemuda hadir dalam dua lini hidup: pelayanan di gereja “bersaksi, bersekutu, melayani” dan pelayanan di masyarakat seperti kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Contohnya pengobatan gratis, penyuluhan, atau pertemuan-pertemuan kebudayaan yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Dua aspek hidup inilah yang melekat dalam diri pemuda-remaja sebagai seorang pemimpin.
 
 
     Kata kunci sebagai kesimpulan workshop ini adalah: (1) Pemuda harus bangkit dan melakukan perubahan, (2) Pemuda harus kompak dan pandai-pandai berkoordinasi, cepat, konsisten, dan bekerjasama, (3) Pemuda jangan pernah lupa bahwa pendahulu-pendahulu kita begitu getol menyemarakkan suasana persekutuan, berkreasilah dalam melayani Tuhan, dan (4)  Pemuda tidak hanya melayani Tuhan di gereja, tetapi harus menjadi pelayan-pelayan di masyarakat dan menjadi agen perubahan. ***

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 20 Mei 2013
oleh Stube HEMAT

Kunjungan Pendeta Tanah Toraja Mamasa

 

 

 
BELAJAR HAL YANG BERBEDA
 
Pendeta belajar pertanian? Apa tidak salah, atau kurang kerjaan? Ternyata itu kenyataan yang terjadi. Enam orang pendeta dari Tanah Toraja Mamasa menyempatkan diri mampir ke Stube HEMAT Yogyakarta, setelah kurang lebih satu bulan melakukan studi banding di  beberapa GKI di Jawa seperti di Solo, Semarang, Bandung dan Jakarta, mereka berniat belajar dan mengetahui apa itu pertanian organik dan bagaimana membuat pupuk organik sebelum pulang ke kampung halaman di Sulawesi.
 
Dijemput dari penginapan mereka di LPPS Samirono, mereka diantar oleh Direktur Eksekutif Stube HEMAT, Ariani Narwastujati dan salah satu board Stube HEMAT, Pdt. Bambang Sumbodo menuju GKJ Jodhog untuk bertemu dengan beberapa petani di paguyuban petani organik Jodhog. Ketua Majelis GKJ Jodhog, Pendeta Harjono, beberapa petani dan koordinator Stube HEMAT Yogyakarta sudah siap di tempat dan dengan ramah menyambut kedatangan rombongan, dilanjutkan perkenalan, makan pagi bersama dan  share pergumulan dalam mengelola pertanian dengan sistem organik.
 
 
Pendeta Dema Mosu, Pdt. Sakala, Pdt. Piersan, Pdt. Mega, Pdt. Irma, dan Pdt. Murni dari Toraja Mamasa sangat antusias mengikuti sharing berkaitan dengan permasalahan pertanian, karena gereja mereka di Mamasa juga berbasis pertanian dengan jemaat petani. “Wah, bisa-bisa yang saya ingat dari satu bulan kunjungan kami untuk studi banding di Jawa adalah pertemuan hari ini,” kelakar Pendeta Dema Mosu. “Karena kami sangat terkesan bagaimana penanganan pertanian organik di GKJ Jodhog yang sungguh menginspirasi kami yang datang dari pedesaan. Ini adalah hal nyata yang bisa kami terapkan di daerah kami,” lanjutnya saat santap siang bersama mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Stube HEMAT Yogyakarta.
 

  

Pendeta Piersan berpesan kepada mahasiswa-mahasiswa daerah yang punya kesempatan belajar di Yogyakarta dan mengenal Stube HEMAT, “Kami menjadi pendeta sampai saat ini dengan bekal hanya dari kampus, kami berusaha keras bagaimana menjawab permasalahan di lapangan. Kalian beruntung bisa belajar apa saja selain di kampus dengan dukungan Stube HEMAT. Bekal kalian untuk pulang menjawab permasalahan lapangan  lebih banyak dari kami. Untuk itu jangan sia-siakan kesempatan ini dan kami akan beritahukan ini ke Sinode supaya anak-anak kami yang di Yogyakarta ini bisa mengenal dan aktif di Stube HEMAT.”**
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 5 Mei 2013
oleh Stube HEMAT

Program Bahasa Asing (Bahasa Inggris)

 
 
TEST TOEFL? SIAPA TAKUT?
 
Saat ini kebutuhan penguasaan bahasa Inggris di kalangan mahasiswa dan pencari kerja tidak bisa dipungkiri lagi dan bahkan menjadi sebuah kewajiban. Perguruan tinggi maupun perusahaan, baik swasta maupun non swasta mensyaratkan para mahasiswa dan pelamar kerja mempunyai kemampuan berbahasa Inggris dan dibuktikan dengan hasil tes TOEFL, dengan skor minimal 450.
 
 
Melihat kebutuhan ini maka Stube HEMAT  sebagai  lembaga yang bergerak dibidang pengembangan mahasiswa dan pemuda, memberikan kesempatan kepada  para mahasiswa untuk berlatih dan mengasah kemampuan dalam penguasaan bahasa Inggris melalui kelas TOEFL  yang di adakan mulai tanggal 6 Februari 2013 sampai dengan 1 Mei 2013 bertempat di kompleks SMK BOPKRI 2, Bintaran, Yogyakarta. Dengan hanya mengganti biaya fotocopy materi, mahasiswa yang tertarik dan merasa membutuhkan program ini bisa bergabung kelas ini.
 
 
Kegiatan pembelajaran ini mengajak peserta berproses mulai dari perkenalan, tes prediksi awal yang meliputi kemampuan penguasaan tata bahasa, pemahaman bacaan, dan mendengarkan. Selang beberapa waktu proses, peserta mendapat tes akhir untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi TOEFL yang sudah diserap. Selain materi TOEFL, peserta juga mendapat ketrampilan berbahasa Inggris lewat games, role play dan permainan sederhana lainnya seperti permainan tebak-tebakan. Ketrampilan ini memudahkan peserta mengingat dan memahami bahasa Inggris. Didampingi instruktur bahasa Inggris, Kencana Devia Candra kelas TOEFL ini mudah dipahami dan diikuti.
 
Atas (ki - ka): Paulus, Vero, Candra, Sofie, Ina, Trustha
Bawah (ki - ka): Iyot, Yohanes
 
Sebagaimana dicanangkan di awal kegiatan, program ini diharapkan secara langsung membantu persiapan para peserta untuk lebih siap mengikuti ujian tes  TOEFL bersertifikat yang diadakan oleh Pusat Bahasa Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Harapan itu terbukti dari para peserta yang merasa terbantu untuk mengerjakan soal-soal dan mendapat nilai tinggi. Meski beberapa peserta merasa belum puas dengan hasil pencapaiannya, mereka bisa mengukur kemampuan diri dan mengetahui usaha-usaha apa yang harus dilakukan di waktu-waktu mendatang untuk mendapat skor yang memuaskan.
 
Para peserta Kelas Bahasa Inggris Stube-HEMAT Yogyakarta
yang mengikuti TOEFL-Like Test di P4B UGM, 23 Mei 2013
 
Bagi teman-teman mahasiswa yang belum terjangkau program ini harap bersabar untuk bisa gabung di lain kesempatan. Silahkan lihat program-program Stube tahun depan. ***
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 19 April 2013
oleh Stube HEMAT

Supervisi ke Stube-HEMAT Sumba

 
SESUATU UNTUK SUMBA
 
Melakukan sesuatu untuk pulau tercinta merupakan kerinduan anak-anak muda yang tergabung di Stube HEMAT Sumba. Dengan bekal pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti program lokal eksposur ke Stube HEMAT Yogyakarta, anak-anak muda ini mencoba berkarya untuk tanah kelahirannya. Sebagai pemula, bukanlah hal sederhana untuk tetap memelihara eksistensinya ditengah gempuran hambatan dan persoalan. Mereka tetap bersemangat untuk menjadi contoh dan untuk menularkan ilmu mereka.
 
Abner Liwar tergerak mengelola  hambaran tanahnya yang beberapa tahun terbengkalai penuh semak belukar dengan menanam sayuran. Dia mencoba mempraktekkan model penanaman lahan kering/pasir yang dia pelajari saat mengikuti ekposur ke Stube HEMAT Yogyakarta. Tanpa bergantung pada air hujan, Abner berhasil mengelola pasokan air untuk menyirami tanaman sayurannya. Panen perdana sayuran sawi dan tomat sudah dirasakan, meskipun demikian dia belum merasa puas. Abner optimis bahwa usaha yang dia rintis akan memberikan hasil yang lebih baik dimasa-masa mendatang. Dia juga bertekad mengembangkan teknik ini sekaligus menularkan kepada teman-temannya yang memiliki permasalahan sama berkaitan dengan pasokan air.
Beda halnya dengan Daniel, Anton dan Oktavianus yang tergerak menggeluti bambu sebagai tanaman yang banyak memiliki potensi yang selama ini belum banyak dilihat oleh orang-orang Sumba. Setelah mengikuti program eksposur ke Stube HEMAT Yogyakarta, khususnya yang berkaitan dengan bambu, mereka bertekad membuat sanggar bambu. Dibantu Pdt. Dominggus Umbu Deta di Kanjonga Bakul, mereka berhasil mewujudkan impian mereka.
 
Beberapa perangkat meja kursi sudah berhasil mereka produksi bahkan sudah ada yang memesan hasil kerajinan mereka. “Yang paling laku adalah nampan bambu di sini, kami menerima banyak pesanan. Dalam satu hari kami bahkan bisa memproduksi 10 nampan bambu. Saat ini kami sedang mengerjakan pesanan furniture dari warga gereja”, tutur Anton. Daniel yang dianggap sebagai tutor untuk kerajinan bambu di daerah tersebut menyampaikan bahwa model pengawetan yang mereka lakukan masih memakai model tradisional yakni model rendam, karena kalau seperti yang dilakukan di Yogya, mereka kesulitan mendapatkan bahan kimia sebagai pengawet.
 
Kerinduan teman-teman muda ini adalah bagaimana mereka bisa kaya inovasi sebagaimana produk-produk bambu yang mereka pernah lihat di Yogyakarta, namun mereka belum tahu teknik pembuatannya. “Apabila Stube HEMAT Yogyakarta membuka kesempatan, mereka ingin belajar lebih lanjut teknik inovasi produk”,  Pdt. Dominggus menyampaikan harapannya yang tentu saja menjadi pemikiran bersama untuk program kedepan.***

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 16 April 2013
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Ekonomi Kelautan

 

Masihkan Kita Berjaya di Laut?
 
 
Dua pertiga luas  dari negara Indonesia merupakan lautan yang memiliki banyak kekayaan didalamnya  dan  apabila diolah dengan baik, dapat menjadi modal penting dalam sektor ekonomi. Ekonomi kelautan penting dipelajari demi tujuan untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat pesisir pantai khususnya.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani, memandang permasalahan ekonomi kelautan penting untuk dipahami mahasiswa. Untuk itu Stube-HEMAT mengadakan Pelatihan Ekonomi Kelautan, yang diadakan pada 12-14 April 2013 di Hotel Adinda Parangtritis dengan Tema “Masihkah Kita Berjaya di Laut?”.
 
Seperti biasanya, acara diawali dengan Ibadah pembuka. Dalam Ibadah ini ada yang berbeda, karena ada drama yang menceritakan tentang seorang nelayan yang melarang anaknya menjadi seperti dirinya dan menginginkan dia menjadi PNS. Trustha Rembaka, S.Th, pengantar ibadah mengungkapakan bahwa disadari atau tidak, Tuhan Yesus memanggil nelayan sebagai muridnya, karena banyak orang tidak menganggap dan memperhitungkan posisi nelayan. Sekarang kita lihat tentang potensi kelautan Indonesia. Banyak sekali tantangan kelautan di Indonesia seperti pemerintah yang kurang peduli, masalah konservasi kelautan dan pencemaran, juga nelayan yang susah melaut.
 
 
Selanjutnya Bapak Geny Fitriadi Fendy memfasilitasi peserta dengan Pemetaan potensi kelautan Indonesia yang dimulai dengan fenomena bahwa negara kita kurang peduli dengan masalah kelautan. Indonesia adalah negara kepulauan yang dipisahkan oleh laut. Akan menjadi sangat rugi apabila kita sebagai orang Indonesia tidak mengetahui potensi laut yang dimiliki negara kita. Laut yang Negara kita miliki ini memiliki potensi yang besar apabila dapat kita kelola dengan baik, dan akan menjadi aneh apabila kita mengimpor dari negara lain. Apabila Indonesia memiliki pikiran laut yang hebat, kita akan kembali maju.
 

Sesi Pendekatan sosial budaya masyarakat kawasan pesisir pantai oleh Anselmus kaba, mengajak peserta untuk mengenal kembali potensi kelautan Indonesia, memetakkan dan menganalisis permasalahan kelautan Indonesia, serta mengetahui pengolahan Ekonomi Kelautan. Peserta diajak belajar menghidupkan kelima indra untuk dapat mengetahui dan merasakan keadaan lingkungan sekitar.
 
Bapak Ponijo, Ketua Paguyuban Nelayan Pantai Kuwaru Bantul mengungkapkan bahwa Pantai Kuwaru dulunya gersang, tetapi karena semangat nelayan pada tahun1992, mereka bisa merubah keadaan seperti saat ini yang hijau karena ditanami cemara udang. Tetapi pada tahun 1997 banyak pohon yang tidak dapat tumbuh karena terjadinya pasang air laut, dan mulai tahun 2000 Pantai Kuwaru banyak dikunjungi wisatawan sampai sekarang, bahkan pada tahun 2009 pengunjung meningkat sampai pendapatan karena wisatanya mencapai 20 juta per hari.
 
Potensi dan masalah kelautan Indonesia disampaikan oleh Prof. Sahala Hutabarat yang menjelaskan bahwa NKRI berbentuk kepulauan, maka kita harus kembali ke masa dimana kita adalah negara kepulauan. Tetapi faktanya pemerintah tidak konsisten sehingga perlu ditumbuh kembangkan nasionalisme agar dapat menyatukan  NKRI kembali seperti dulu lagi. Prof. Sahala menambahkan bahwa tujuan Nasional adalah memajukan dan menyejahterakan bangsa, sementara tujuan pembangunan Milenium Indonesia adalah memberikan kesadaran akan manfaat konsumsi ikan. Potensi laut Indonesia terkandung didalam Terumbu Karang, lamun, dan manggrove. Transportasipun dapat dikembangkan di laut. Hukum, perbankan, birokrasi, dan sinergi dengan sektor lain sampai saat ini belum sepenuhnya mendukung. Disini perlu diperhatikan bahwa kelautan dapat dikembangkan melalui bioteknologi, biofarmasi dan pengembangan wisata bahari.
 
Sesi Pemetaan Keamanan, Pelanggaran dan Penegakan Hukum di Wilayah Perairan disampaikan oleh Kompol Sugiarta dari Polisi Perairan dan Laut DIY. Beliau mengungkapkan bahwa Polairut memiliki tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dibidang perairan, dengan melakukan penindakan terhadap pelanggaran dalam radius 100 m dari bibir pantai. Beberapa contoh penindakan dibidang kelautan seperti pencurian pasir, pencurian ikan, penindakan terhadap kapal daerah lain masuk ke wilayah DIY, serta pemboman yang sering dilakukan nelayan akan merugikan induk ikan dan potensi lain yang ada dilaut.***

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 21 Maret 2013
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Kaum Muda dan Kesehatan

“Anak Muda: Ga’ Sehat Ga’ Asik”
 
Kaum muda saat ini menghadapi perkembangan dunia yang sangat cepat, ditandai dengan majunya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ini juga mempengaruhi lingkungan dan kehidupan manusia yang pada akhirnya mengubah gaya hidupnya. Perubahan keadaan lingkungan dan gaya hidup ini memicu berbagai permasalahan kesehatan.


Berbagai permasalahan seperti HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, bahaya rokok, penyalahgunaan zat adiktif dan narkoba marak terjadi di kalangan kaum muda, selain itu juga minimnya kesadaran berperilaku hidup sehat. Permasalahan tersebut menjadi perhatian Stube-HEMAT Yogyakarta dengan mengadakan pelatihan Kaum Muda dan Kesehatan yang diselenggarakan 1 – 3 Maret 2013 di Wisma Kayu Manis Kaliurang dengan tema “Anak Muda: Ga’ Sehat, Ga’ Asik.”

Peserta pelatihan adalah mahasiswa yang datang dari berbagai  kawasan Indonesia, meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Nusa Tenggara dan Jawa. Selain itu mereka memiliki latar belakang studi yang beragam, seperti Teknik Lingkungan, Kependidikan, Hukum, Teologi, Kesehatan dan Komputer.


Pelatihan diawali oleh koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, Trustha Rembaka, S.Th,  yang memandu peserta melakukan pemetaan permasalahan kesehatan yang terjadi di Indonesia. Kemudian setiap kelompok mencoba mendokumentasi berita-berita tersebut menjadi sebuah kliping, yang akan menjadi perhatian utama dari kelompok yang bersangkutan.


Selanjutnya dokter Veronika Wardani, dari Rumah Sakit Respira Yogyakarta memfasilitasi peserta dengan pemahaman  zat adiktif dan bahaya merokok. Sebuah keprihatinan bersama kalau ternyata dari tahun ke tahun usia rata-rata para perokok pemula semakin muda. Artinya bahwa yang dulunya seseorang mulai merokok itu hanya dikalangan orang-orang dewasa, sekarang ini telah bergeser dikalangan remaja dan anak-anak. Dalam sesi ini terjadi diskusi diantara peserta mengenai permasalahan rokok, ada pihak yang anti rokok, namun ada pihak yang  pro rokok.

Panti Sosial Pamardi Putra (PSPP) Yogyakarta, diwakili oleh Eko Prasetyo, salah seorang penyuluh bahaya narkoba, membeberkan mengenai Bahaya Narkoba dengan menceritakan pengalaman dirinya ketika mengalami ketergantungan obat, namun dengan upaya yang sangat berat pada akhirnya berhasil melepaskan diri dari jerat narkoba dan bahkan mampu memotivasi peserta jangan pernah mencoba narkoba. Pak Eko mengajak mas Mardi, salah satu residen di PSPP, yang menyaksikan bagaimana dirinya terjerat narkoba dan kuatnya keinginan dirinya untuk lepas dari ketergantungan.


Kesehatan Reproduksi (KESPRO) dan HIV /AIDS menjadi salah satu topik bahasan yang difasilitasi oleh Mestri Widodo yang lebih dikenal dengan Mas Wiwid, yang menyampaikan pengalaman penyuluhan tentang Kespro, dengan terlebih dahulu mengajak peserta melakukan brain storming mengenai apa itu kesehatan reproduksi. Jawaban yangsangat beragam menunjukkan bahwa masyarakat belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang Kespro.

Hari ketiga pelatihan diisi oleh Fitri Mustikowati dari RS Bethesda Lempuyangan dengan topik ‘Be Healthy, Be Happy.’ Peserta diajak memiliki pola hidup sehat yang didasari oleh pengenalan terhadap makanan serta kandungan nutrisi dan gizi di dalamnya.

Akhir dari pelatihan ini, peserta membagi diri dalam beberapa kelompok berdasar minat dan kemampuan mereka. Kelompok-kelompok ini mendesain kegiatan tindak lanjut sebagai respon dan tanggungjawab mereka terhadap permasalahan sosial yang ada di sekitar mereka. Beberapa di antaranya: Kelompok Penyuluhan Kesehatan, Kelompok Peduli Lingkungan, dan Kelompok Pendampingan Belajar. (remb)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 17 Maret 2013
oleh Stube HEMAT

Kelas Public Speaking 3

 



 
Jeli Merangkai Kata
 
 
Keberhasilan seseorang dalam Public Speaking, khususnya saat memandu suatu acara, adalah kemampuan dalam memilih dan merangkai kata dan kalimat yang diucapkan. Kemampuan ini dipengaruhi oleh kekayaan kosakata yang dimiliki juga rasa percaya diri.
 
 
Pendapat ini disampaikan oleh Magdalena Bheti Krisindawati yang lebih dikenal dengan panggilan Mbak Magda, seorang penyiar radio, presenter, trainer dan Master of Ceremony yang  cukup tenar di Yogyakarta, dalam latihan Public Speaking yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta pada tanggal 15 Maret 2013. Pertemuan yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa ini benar-benar menginspirasi dan menggugah kemampuan dalam Public Speaking, khususnya dalam memandu acara.
 
 
Pada tahap awal, beberapa peserta bergiliran memandu acara dengan kemampuan dasar yang mereka miliki, kemudian diberik evaluasi mengenai beberapa hal yang perlu diperbaiki. Pada umumnya kesalahan yang banyak dilakukan adalah; penggunaan kata yang berulang-ulang, seperti acara berikutnya adalah..., acara berikutnya adalah.... ; pemilihan kata yang tidak tepat, seperti  “Pembicara dipersilahkan maju ke depan” (maju jelas ke depan), “Peserta segera berbaris untuk diambil fotonya” (berarti setiap peserta sudah membawa foto), “Menginjak acara selanjutnya” (mengapa acaranya diinjak?); dan penyebutan nama dan gelar seseorang. Peserta juga diingatkan untuk menjadi diri sendiri (be your self) ketika memandu acara.
 
Setelah mendapatkan evaluasi dari praktek tahap pertama, peserta kembali berlatih memandu acara, dan tentunya ada perubahan yang dialami peserta, penggunaan kata-kata yang lebih tepat dan penyampaian susunan acara yang lebih sistematis.
 
 
Di akhir pelatihan  peserta diberi kejutan berupa buku karya Mbak Magda berjudul “Tiga Jurus Jitu Jadi MC” , dengan harapan buku ini menjadi inspirasi dan sumber belajar bagi peserta kelas Public Speaking Stube-HEMAT Yogyakarta. (remb)
 
Selamat Berproses
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 6 Maret 2013
oleh Stube HEMAT

Diskusi Ekonomi Kelautan 2

 
 
Ayo ikuti diskusi Ekonomi Kelautan ke-2, kali ini tentang Pengantar Analisis Sosial. Awalnya teman-teman diberi materi dasar, selanjutnya diajak praktek langsung di Malioboro.

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 25 Februari 2013
oleh Stube HEMAT

Kelas Public Speaking 2

 
 
 
Practice Makes Perfect

 

 
 
Kemajuan yang dirasakan peserta Kelas Public Speaking setelah mengikuti pertemuan pertama ternyata menarik minat peserta lainnya untuk mengikuti. Bahkan jumlah peserta meningkat dua kali lipat!! Surprise memang, sekaligus prihatin ternyata mahasiswa ‘haus’ untuk belajar kemampuan softskill.
 
Delapan belas belas peserta mengikuti pertemuan kedua kelas Public Speaking, yang diadakan pada 22 Februari 2013 dengan topik “Bagaimana Mengolah dan Menyampaikan Ide dan Pemikiran secara Sistematis dan Menarik” dengan fasilitator Pdt. Sundoyo, S.Si.
 
Tahap satu, yang dilakukan oleh peserta adalah membuat materi promosi diri yang terdiri: asal usulnya, kelebihan yang dimiliki, keberhasilan yang telah diraih sampai saat ini dan impian yang akan diwujudkan di masa depan. Dalam tahap ini adalah peserta dilatih untuk membuat materi yang akan disampaikan secara sistematis namun tidak bertele-tele.
 
Ketika tampil di depan audiens terlihat ada perbedaan bagi peserta yang telah mengikuti pertemuan pertama dibandingkan peserta baru. Peserta yang mengikuti pertemuan pertama terlihat lebih berani dan mampu membangun interaksi kontak mata, mengelola gerakan tubuh dan memanfaatkan waktu selama dua menit dengan baik.
 
 
Evaluasi dan masukan yang Pdt. Sundoyo, S.Si sampaikan antara lain peserta perlu menentukan fokus dari materi yang akan disampaikan, materi disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, apakah itu acara perkenalan, melamar kerja atau presentasi. Peserta mau tidak mau harus mengenali audiens yang ada di dalamnya. Tak lupa Pdt. Sundoyo juga mengingatkan agar materi itu sistematis, ringkas, dan berkesan maka orang akan selalu mengingat Anda”
 
 
Tugas tahap kedua adalah menyampaikan materi topik bebas dengan audiens anak usia SMP kelas 8. Di tahap inilah peserta ditantang benar-benar jeli mengemas materi sistematis, menarik, sesuai dengan audiens usia SMP kelas 8. Dan benar, sebagian besar materi baik itu bahasa yang digunakan dan cara penyampaian dinilai terlalu tinggi, ada juga yang nampak seperti mengajar di sekolah, materi yang berputar-putar dan bahkan topiknya terlalu luas.
 
Beberapa topik yang diangkat oleh para peserta sebenarnya cukup menarik, misalnya jangan pernah mencoba narkoba, bahaya merokok, tentang fokus belajar diawali dari diri sendiri, ajakan menanam pohon, cinta laut dan beberapa topik lainnya.
 
 
Pdt. Sundoyo memberikan tips untuk tahap ini, selain materi itu sistematis, ringkas dan menarik, peserta diharapkan mampu ‘menjadi seperti’ anak usia SMP kelas 8 agar cara berpikir dan bahasa yang digunakan itu sesuai dengan usia mereka, selain itu Pdt Sundoyo mengingatkan practice makes perfect, peserta dituntut terus menerus mempraktekkan dan melatih kemampuan berbicaranya.
 
Johain Pekaulang, salah satu peserta, mahasiswa fakultas Hukum Universitas Janabadra mengungkapkan kesannya setelah mengikuti kelas Public Speaking, “Saya merasa sangat senang ada kegiatan public speaking, karena menurut saya sangat membantu saya dalam membentuk mental dan bagaimana cara mengatur kata-kata yang baik.”
 
 
Antusiasme peserta dan fasilitator Public Speaking mendorong Stube-HEMAT menindaklanjuti dengan pertemuan ketiga yang direncanakan, 15 Maret 2013 dengan topik “Menguasai Jenis-jenis Acara dan Karakteristiknya.”
 
Selamat berproses teman-teman. (remb)

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 24 Februari 2013
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Ekonomi Kelautan

 
 
D I S K U S I
 
 
 
Ayo, ikuti diskusi tentang
Potensi Laut dan Pesisir Indonesia,
dan temukan 'sesuatu yang bisa dilakukan' sebagai wujud bakti untuk negeri.
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 23 Februari 2013
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Kaum Muda dan Kesehatan

 

 

 

 

 

 

Anak Muda: Ga' Sehat, Ga' Asik


 

 

Dewasa ini dunia berkembang sangat cepat, ditandai dengan majunya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ini juga mempengaruhi lingkungan dan kehidupan manusia yang pada akhirnya mengubah juga gaya hidupnya. Perubahan keadaan lingkungan dan gaya hidup ini memicu timbulnya berbagai permasalahan kesehatan.

 

Media massa memuat pemberitaan penggunaan Napza semakin marak di kalangan kaum muda, tidak hanya di perkotaan namun sudah merambah di daerah-daerah. Selain itu tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang masih rendah di kalangan kaum muda mempengaruhi kesadaran dan kepedulian dirinya terhadap kesehatan reproduksi dan bahkan penderita HIV/AIDS meningkat di kalangan usia produktif.

Mestinya tindakan proaktif untuk hidup sehat akan jauh lebih penting. Apa yang salah dengan hidup masyarakat? Seberapa tinggi kesadaran masyarakat untuk memiliki pola hidup sehat? dan seberapa baikkah informasi dan layanan kesehatan bagi masyarakat? Permasalahan di atas akan dijawab melalui pelatihan ini.


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 17 Februari 2013
oleh Stube HEMAT

Ayo Hilangkan Grogi, Bangun Percaya Diri

 

 

 

 Kelas Public Speaking 1

 

 

 

 

 

Setiap orang dituntut mampu berbicara dan menyampaikan pendapat. Namun kenyataanya kemampuan berbicara di depan umum ternyata tidak semudah yang dibayangkan orang. Berbagai kendala yang dialami antara lain, rasa grogi, tidak percaya diri, tidak tenang dan berkeringat, tidak tahu apa yang akan dikatakan, penyampaian tidak sistematis dan monoton.

 

Mahasiswa yang notabene sebagai kalangan intelektual ternyata mengalami permasalahan tersebut. Mereka merasa perlu upgrade diri mereka dengan membangun rasa percaya diri, melatihan keterampilan berbicara dan mengungkapkan pendapat di depan umum.

 

Permasalahan ini dijawab oleh Stube-HEMAT Yogyakarta dengan mengadakan kelas Public Speaking untuk mahasiswa, yang diadakan selama 4 pertemuan.

 

Pertemuan pertama diadakan 15 Februari 2013 dengan trainer Pdt Sundoyo, S.Si., dengan topik Ayo Hilangkan Grogi, Bangun Percaya Diri. Enam peserta mahasiswa dan tiga team Stube-HEMAT Yogyakarta mengikuti kelas ini. Tahap pertama peserta secara acak mendapat giliran tampil di depan mempromosikan diri mereka dengan alokasi waktu 3 menit. Materi yang disampaikan adalah perkenalan diri, kelebihannya dan minat.

 

Berbagai kejadian unik dan lucu pun terjadi ketika peserta secara spontan tampil di depan, ada yang kehabisan kata-kata, materi belum selesai namun waktu sudah habis, kaki dan suara bergetar dan melakukan gerakan badan yang berulang-ulang dan hanya melihat ke langit-langit ruangan. Namun demikian ada juga peserta yang tampak terbiasa berbicara di depan audiens.

 

Tahap kedua bagi peserta adalah mengambil undian dan melakukan tugas seperti yang tertulis di kertas undian dan boleh menggunakan media bantu untuk mendukung penampilan mereka. Beberapa tugasnya antara lain, menjadi narasumber dalam kampanye tertib lalu lintas, mempromosikan suatu produk, menceritakan tempat wisata unggulan, memberikan sambutan dalam suatu acara.

 

Pdt. Sundoyo, S.Si., memberikan evaluasi kepada peserta, bahwa ada beberapa penyebab grogi, misalnya jarang atau bahkan tidak pernah berdiri dan bicara di depan umum, tidak siap menyampaikan pendapat, penyampaian berbeda dengan usia audiens dan tidak menguasai materi atau topik yang akan disampaikan. Sedangkan masukan yang diberikan adalah memperbanyak latihan, semakin sering berbicara di depan umum akan terbiasa menjadi pusat perhatian, dan memperbanyak informasi dengan banyak membaca.

 

Frans M Wohangara, salah satu peserta, mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa mengungkapkan “Setelah ikut saya mendapatkan perubahan tapi masih kurang dalam mengatur kalimat maupun istilah-istilah.”

 

Kelas Public Speaking akan dilanjutkan pada 22 Februari 2013 dengan topik “Bagaimana Mengolah dan Menyampaikan Ide dan Pemikiran secara Sistematis dan Menarik.” Kemudian 15 Maret 2013 dengan topik “Menguasai Jenis-jenis Acara dan Karakteristiknya.” Dan terakhir 22 Maret 2013 dengan topik “Melatih Kemampuan Ekspresi dan Dramatisasi dalam Public Speaking.”

Jangan sampai ketinggalan!! (remb)


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 5 Februari 2013
oleh Stube HEMAT

Program Orientasi - Leadership, Teamwork & Fun Game

 

'Yang Muda, Yang Memimpin?’
Menjawab Tantangan Kaum Muda menjadi Pemimpin
(Wisma Omah Jawi, Kaliurang, 1 – 3 Februari 2013)

Permasalahan kepemimpinan menjadi topik yang selalu menarik diperbincangkan. Pemimpin yang berkualitas dan berintegritas menjadi harapan dan tuntutan masyarakat, namun realita menunjukkan  bahwa pemimpin-pemimpin yang ada belum optimal mengemban tanggungjawabnya. Kemampuan  memimpin tidak cukup di level pengetahuan bagaimana memimpin, namun perlu keterampilan  dalam berinteraksi dan seni dalam berkomunikasi
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai wadah pembentukan anak muda dan mahasiswa,  ambil bagian membentuk pemimpin-pemimpin muda dalam pelatihan Leadership, Teamwork dan Fun Game, yang diadakan pada 1 – 3 Februari 2013 di Wisma Omah Jawi Kaliurang dengan tema “Yang Muda, Yang Memimpin?” Tema ini menantang setiap peserta untuk bisa layak menjadi pemimpin dalam usia muda.
 
 
Pdt. Bambang Sumbodo, M.Min membuka pelatihan dengan mengajak peserta melakukan refleksi diri, baik sebagai pribadi dan mahasiswa dengan sesuatu yang menjadi panggilan hidup masing-masing. Menjadi pemimpin adalah panggilan atas suatu kondisi yang memerlukan pemimpin bagi kesejahteraan manusia. Seorang pemimpin lahir karena adanya respon atau tanggapan dari dirinya atas ketidakadilan, kemiskinan, kesewenangan atau kebodohan yang terjadi di tempat dia berada.
 
 
Sesi Personal Mapping dan Membangun Karakter Pemimpin dipandu oleh Pdt Novembri Choeldahono, M.A. Peserta digebrak dengan membuat yel-yel dan orasi yang mengobarkan semangat karena gerakan kaum muda harus diwarnai dengan ide-ide baru dan semangat yang menyala-nyala. Dalam sesi ini peserta belajar melakukan pemetaan kepribadian dan ciri khas kepemimpinan yang mereka miliki. Peserta juga diajak merumuskan visi dan misinya sebagai panduan menapak masa depan.
 

 

Sesi Kepemimpinan dan Membangun Karakter Kristiani dipandu oleh Pdt. Dr. Tumpal M.P.L. Tobing yang memancing peserta memikirkan ulang kekuatan iman mereka dan motivasi dalam diri mereka untuk melakukan sesuatu yang baik. Pdt. Tumpal memberikan analogi Raja, Telinga dan Mulut. Raja adalah pikiran yang berkaitan dengan apa yang didengar itulah yang dipikirkan. Selanjutnya, apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita perbuat. Telinga adalah siapakah yang saya dengar. Mulut sebagai alat kita menceritakan raja kepada orang lain. Sebagaimana Samuel Smile menuliskan bahwa, “Taburlah pikiran maka kamu akan menuai perbuatan, taburlah perbuatan maka kamu akan menuai kebiasaan, taburlah kebiasaan maka kamu maka akan menuai karakter, taburlah karakter maka kamu akan menuai masa depan.” Sebagai pendiri Stube-HEMAT, Pdt. Tumpal juga berpesan agar peserta memanfaatkan wadah ini untuk mendapatkan hasil yang optimal.
 
Dalam ibadah minggu pagi, Pdt. Mathelda Yeanne Tadu, S.Si., mengajak peserta meninjau kembali tema pelatihan yaitu “Yang Muda, Yang Memimpin?” Penggunaan ‘tanda tanya’ bisa dimaknai ‘layakkah kaum muda menjadi pemimpin? Melalui pelatihan ini diharapkan kaum muda kristiani terpanggil dan memperlengkapi diri sebagai pemimpin di masa depan.
 
 
Kepemimpinan dan Kepedulian Sosial yang disampaikan oleh Esaol Agustriawan M.A membekali peserta peka terhadap situasi dan permasalahan sosial yang ada di sekitar kehidupan peserta. Kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari situasi dan kenyataan yang ada di masyarakat, oleh karena itu pemimpin harus selalu berinteraksi dan menjadi bagian dari masyarakat sosial serta memiliki empati atau bela rasa terhadap permasalahan yang terjadi.
 
Satu hal menarik dalam pelatihan ini adalah adanya peserta dari Bangladesh yakni Shanta Akhter Sheema, mahasiswa pasca sarjana UNY yang turut melengkapi peserta dengan perspektif bagaimana kaum muda Bangladesh meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan non-formal seperti yang dilakukan Stube-HEMAT di Indonesia.
 
Fun Game dalam pelatihan ini tidak kalah seru, melalui berbagai simulasi permainan kelompok, peserta pelatihan belajar membangun kerjasama dan berkompetisi. VIVA kaum muda! (remb) ***
 
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 25 Januari 2013
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Leadership - Teamwork - Fun Game

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan Leadership – Teamwork – Fun Game mengawali rangkaian kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta di 2013 ini. Pelatihan Leadership ini diadakan sebagai respon atas situasi yang dihadapi kaum muda Kristiani, dimana mereka dituntut tidak saja berhasil dalam studinya namun lebih dari itu, mereka dituntut menjadi pionir dan memiliki jiwa kepemimpinan.

 

 

 

Khususnya bagi mahasiswa luar daerah yang sedang studi di Yogyakarta, ketika mereka kembali ke daerah asal seharusnya mampu menunjukkan hasil belajar mereka selama di Yogyakarta, tidak saja ilmu pengetahuan mereka, namun juga kemampuan dan jiwa kepemimpinan, karakter yang baik dan memiliki kepedulian terhadap permasalahan sosial sekitarnya.

 

 

 

Dalam Pelatihan Leadership – Teamwork – Fun Game ini peserta akan dilatih mengenali model-model kepemimpinan, mengasah jiwa kepemimpinan, membangun kerjasama kelompok serta menumbuhkan kepedulian terhadap permasalahan sosial. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pelatihan, pendampingan pribadi serta keakraban dalam kerjasama kelompok.

 

 

Jadi, jangan sampai melewatkan acara ini!! (remb)


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 15 Januari 2013
oleh Stube HEMAT

Follow Up Pelatihan Masyarakat Sipil : "Workshop Optimalisasi Penggunaan Komputer"

 
 

          Workshop yang berkaitan dengan komputer ini merupakan kerinduan mahasiswa rantau yang tergabung dalam HIMER - Y (Himpunan Mahasiswa Timor Leste dari daerah Ermera yang sedang menempuh kuliah di Yogyakarta), untuk mengajak teman-teman yang merantau studi di kota ini mengoptimalkan kemampuan diri dengan komputer. Dengan mengetahui cara pengoptimalan komputer, diharapkan membantu kelancaran proses penyelesaian tugas-tugas studi yang harus dikerjakan melalui media komputer.

 

 

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan penguatan masyarakat sipil yang diselenggarakan oleh Stube HEMAT beberapa waktu lalu, mahasiswa-mahasiswa HIMER-Y tergugah untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas masyarakat sipil khususnya kelompok mahasiswa, yang diharapkan bisa berkontribusi positif untuk masyarakat, khususnya di Timor Leste ataupun daerah-daerah lainnya saat kembali, setelah menyelesaikan studi di Yogyakarta. Agostino Marques, Mahasiswa AKAKOM Yogyakarta, terpanggil membagi ilmu komputer yang dimilikinya dengan para peserta workshop. 
 
     Workshop sehari yang diselenggarakan pada 12 Januari 2013, di omah Limasan, Nyutran tersebut membekali peserta untuk mengenal gangguan yang terjadi pada perangkat lunak komputer juga mengetahui pentingnya jejaring sosial blogspot sebagai sarana untuk mempromosikan karya tulis maupun video ilmiah mereka.
 
    Peserta berharap masih ada diskusi ataupun workshop lainnya yang terkait dengan permasalahan optimalisasi komputer dan internet karena ada hal menarik dalam dunia komputer yang didapatkan saat mengikuti proses workshop ini.***

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 10 Januari 2013
oleh Stube HEMAT

Pendampingan Siswa SMK BOPKRI 2 Yogyakarta

 

 

 

 

 

MOTIVASI DIRI RAIH PRESTASI

 

Wisma Omah Jawi, Kaliurang, 8 – 9 Januari 2013

 

 

 

 

 

 

Saat-saat menanti ujian nasional merupakan waktu yang mendebarkan bagi setiap siswa. Bayang-bayang kegagalan hadir menguntit harapan akan suatu keberhasilan yaitu predikat ‘lulus’. Begitu juga yang dirasakan siswa-siswi SMK BOPKRI 2, Bintaran, Yogyakarta. Beruntunglah, karena pihak sekolah tanggap akan situasi dan mengajak mereka beberapa saat untuk rekoleksi, melihat kembali apa yang sudah dilakukan dan apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri. Bekerjasama dengan Stube HEMAT Yogyakarta, pihak sekolah bersama-sama melakukan pendampingan untuk memberi ketenangan mental dan spiritual serta memotivasi siswa untuk mantap menghadapi UAS dan UAN.

 

 

 

 

 

 

Diikuti 31 siswa, 4 guru dan 1 karyawan, pendampingan ini diselenggarakan Selasa – Rabu, 8 – 9 Januari 2013 di Wisma Omah Jawi Kaliurang. Stenly R. Bontinge, S.T, salah satu tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta mengawali dengan memperkenalkan lembaga ini beserta kegiatannya dan membangun keakraban antara tim Stube dengan para peserta.

 

 

 

 

 

 

 

 

Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, yang memandu sesi Kekuatiran – Harapan dan Refleksi. Sesi ini memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan kekuatiran yang dihadapi juga harapan mereka secara pribadi. Peserta banyak mengungkapkan kekuatiran tidak mampu menghadapi ujian akhir dan tidak bisa menjadi kebanggaan keluarga. Adapun harapan yang banyak diungkapkan adalah lulus dan mendapat pekerjaan.  Saat refleksi, peserta diajak merenungkan perjalanan hidup yang telah dijalani. Ada beberapa siswa tersentuh dan menangis mengingat kerja keras orang tua, guru dan ada orang-orang yang secara tulus mendukung mereka.

 

 

 

 

 

 

Hari pertama ini ditutup dengan keakraban dan 'sharing' sambil bakar jagung dan roti.

 

 

 

 

 

 

Hari kedua, direktur eksekutif Stube HEMAT, Ariani Narwastujati, S.S. M.Pd. menyampaikan pentingnya manajemen waktu. Siswa-siswi diajak melihat kembali aktivitas keseharian, melihat pengelolaan waktu mereka, kemudian secara interaktif berdialog menemukan bagaimana mengelola waktu secara baik, untuk belajar, pengembangan diri, dan  istirahat. Vicky Tri Samekto pada sesi selanjutnya menyampaikan tentang potensi yang dimiliki siswa-siswi sebagai modal dasar untuk pengembangan diri mereka. Jika pengenalan potensi diri dapat dilakukan dengan baik, maka seseorang akan berkembang secara optimal.

 

 

 

Kegiatan pembekalan ini ditutup dengan kesan pesan dari siswa, guru dan team Stube-HEMAT Yogyakarta. Muncul satu ‘closing statement’ yang bisa menjadi komitmen bersama siswa-siswi, seperti yang diungkapkan Dita, ”Dulu kita masuk SMK BOPKRI 2 bersama-sama, maka kita juga akan lulus bersama-sama pula.” (remb)  ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 1 Januari 2013
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook