pada hari Kamis, 25 Februari 2016
oleh adminstube
Ketidakadilan: Anak Muda Bisa Apa?
Pelatihan Kekristenan dan Keadilan Sosial
Wisma Retreat Bukit Hermon, Karanganyar, Jawa Tengah
 

Ketidakadilan dan anak muda? Dua hal yang menarik, bahkan judul ini akan menantang setiap anak muda yang membacanya untuk berbuat sesuatu atas situasi tidak adil yang banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang masih muda, belum berpengalaman dan jaringan? Tiga hari pelatihan Stube-HEMAT membantu mengungkap, mengurai, menginspirasi peserta menemukan ‘spirit’ untuk melakukan sesuatu dalam situasi semacam itu.
 
 
Dimulai dengan ibadah pembukaan oleh Fred Keith Hutubessy S.Si.(theol), mahasiswa pascasarjana studi perdamaian UGM, yang menggambarkan bahwa belum semua rakyat Indonesia menikmati pembangunan, terlebih mereka yang tinggal di wilayah Indonesia bagian timur meskipun negara ini merupakan negara yang sangat kaya dengan berbagai macam hasil bumi. Apa yang sebenarnya terjadi? Sudahkah anak muda memahami ketimpangan ini?
 
Modul sepuluh tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan pada jamannya seperti Yusuf, Sifra dan Pua, Musa, Yosua, Elia, Elisa, Amos, Yeremia, Wasti dan Koresh menjadi kisah inspiratif bagi peserta dan menjadi pembicaraan menarik dalam Focus Group Discussion (FGD) mereka. Kisah tokoh-tokoh pemberani ini diikuti kisah konsekuensi, resiko dan dampak dari perjuangan mereka. Peserta digugah untuk mengingat kembali spirit kekristenan berdasar Alkitab yang akan terus memberi semangat para peserta dalam memperjuangkan keadilan.
 
  
 
Pelatihan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Yogyakarta, seperti APMD, ITY, UAJY, UST, LPP, STAK Marturia dan UMBY. Tercatat 39 peserta dengan komposisi 13 peserta perempuan dan 26 peserta laki-laki. Rata-rata mereka berasal dari luar pulau Jawa di antaranya Sumatera, Kalimantan, Sumba, Alor, Flores, Papua dan Maluku Tenggara. Semua peserta sangat antusias mengikuti semua rangkaian acara yang dimulai Jumat (19/02/16) sampai Minggu (21/02/16).
 
 
Dua orang fasilitator yang terus berkarya dan bergumul melawan ketidakadilan dihadirkan dalam pelatihan ini untuk melengkapi wawasan dan pengetahuan jaringan peserta. Mereka adalah Pdt. Paulus Hartono, M. Min (MCC – GKMI) yang membawakan materi tentang pengalaman praksis GKMI memerangi ketidakadilan melalui jalur kultural dan Direktur YAPHI Surakarta, Haryati Panca Putri, S.H. dengan pengalaman LPH YAPHI memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum.
 
Berangkat dari tujuan pelatihan ini, menurut koordinator lapangan, Yohanes Dian Alpasa, “Peserta mampu menceritakan kembali apa yang telah mereka dapatkan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika kelompok yang berlangsung dan puncaknya saat sesi presentasi kelompok. Hal ini berarti semua peserta yang mengikuti pelatihan ini telah memenuhi indikator pencapaian dalam pelatihan Christianity dan Social Justice”.
 
Harapan terbesar adalah ketika mereka paham, mereka mampu berbagi pengetahuan kepada teman-teman mereka yang lain. Pada sesi Follow Up diperoleh lima kelompok follow up dan rata-rata mereka ingin mengadakan diskusi kelompok baik di kampus, di PMK, di komunitas sebagai multiplikasi pengetahuan. Peserta juga dihimbau untuk berbaur cair dengan masyarakat sekitar dimana mereka tinggal untuk menghindari ketidakadilan terjadi atas mereka. (SAP).
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 15 Februari 2016
oleh adminstube
Kesetiaan pada Komitmen

 

Stube-HEMAT Yogyakarta bersama UKMK Hosana Alabare

 

 

 

 

 

 

Duapuluhan mahasiswa bergegas memasuki kampus 2 Universitas Janabadra Yogyakarta. Ada apakah? Ternyata Jumat, 12 Februari 2016 Unit Kegiatan Mahasiswa Kristiani (UKMK) Hosana Alabare mengadakan persekutuan rutin mahasiswa di kampus 2 UJB di Timoho, Yogyakarta.

 

 

 

 

Lenna, seorang mahasiswa asal Kalimantan Barat, mengajak peserta bernyanyi ‘Tetap Setia’ dan dilanjutkan dengan perkenalan. Mahasiswa Universitas Janabadra sangat beragam karena berasal dari berbagai daerah seperti Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.

 

 

 

Renungan PA kali ini disampaikan oleh Trustha Rembaka, S.Th dengan tema “Setia pada Komitmen”, diambil dari Yeremia 35:1-19 yang menceritakan kehidupan kaum orang Rekhab yang hidup menumpang di tanah Israel. Mereka memegang kesetiaan pada pesan leluhurnya untuk hidup dalam kemah, memelihara ternak, tidak minum anggur, tidak bertani dan tidak membangun rumah. Mereka berkomitmen setia pada pesan tersebut. Kesetiaan inilah yang diperhitungkan Tuhan dan mereka takkan terputus melayani Tuhan sepanjang masa. Sikap berbeda ditunjukkan oleh orang Israel pada masa itu yang mengabaikan perintah Tuhan untuk hidup taat dan berharap pada Tuhan, berlaku adil dan tidak menindas rakyat.

 

 

 

 

 

 

Berkaitan dengan kesetiaan dan komitmen mahasiswa, berhubungan langsung dengan keberadaan mereka saat ini di Yogyakarta untuk kuliah. Mereka diajak kembali mengingat momen saat berangkat dari daerah asalnya menuju Yogyakarta untuk kuliah. Apa yang menjadi komitmen saat akan berangkat ke Yogyakarta? Masihkah komitmen itu tetap kuat dalam hati dan pikiran sampai saat ini?

 

 

 

Mahasiswa, ketika sampai di Yogyakarta dibanjiri berbagai tawaran menggoda, seperti tempat hiburan, bersantai, jalan-jalan dan berbagai aktivitas lainnya. Apakah mahasiswa tetap semangat belajar dan berhasil dengan baik atau yang penting lulus dan tidak peduli dengan kualitas dirinya atau bahkan gagal menyelesaikan studi. Seperti terjadi di Yogyakarta beberapa mahasiswa harus mati sia-sia karena minuman oplosan. Pilihan memang banyak, tetapi decision maker-nya adalah mahasiswa itu sendiri. Renungkan kesetiaan kaum orang Rekhab pada komitmen dan Tuhan senantiasa memberkati mahasiswa yang tetap setia pada komitmen belajar dan mengembangkan diri.

 

 

 

“Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai wadah pendampingan dan pengembangan diri yang berorientasi pada mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, bisa menjadi pilihan tempat beraktifitas. Beberapa mahasiswa Universitas Janabadra pun menjadi aktivis di Stube-HEMAT Yogyakarta dan mendapat kesempatan mengembangkan dirinya dan mengenal daerah lain, seperti Sofia meneliti garam gunung di Krayan, Kalimantan Utara dan Herga dari Maluku diutus ke Sumba untuk sosialisasi pentingnya memiliki surat identitas pribadi,” ungkap Trustha.

 

 

 

“Di Stube-HEMAT Yogyakarta ada berbagai kegiatan, silahkan kenali diri dan minat Anda. Kemudian kembangkanlah diri Anda melalui pelatihan-pelatihan tersebut. Salah satu ukuran kualitas seseorang dinilai melalui kesetiaannya terhadap tekad atau komitmen untuk belajar dan mengembangkan dirinya secara utuh,” pungkasnya mengakhiri persekutuan dan sosialisasi Stube-HEMAT Yogyakarta. (TRU)

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 13 Februari 2016
oleh adminstube
Petani, Budaya dan Tuak

 

Menyambut RUU Larangan Minuman Beralkohol

 

Diskusi Publik Minuman Alkohol dari Hulu ke Hilir

 

 

 

Awal Februari ini Yogyakarta digemparkan dengan banyaknya berita kematian yang disebabkan oleh minuman beralkohol yang dioplos dengan berbagai larutan. Informasi terakhir terdapat 26 orang meninggal dunia, dua diantaranya mahasiswi asal Ternate yang meninggal di kamar kostnya karena minum oplosan ini. Hal ini menggugah teman-teman Freedom Society untuk dapat mengambil bagian melakukan kegiatan Diskusi Publik Minuman Alkohol dari Hulu ke Hilir dengan judul “Mengkaji Rancangan Undang-undang Larangan Minuman Beralkohol dari Perspektif Sosial, Ekonomi dan Budaya”, yang diselenggarakan pada Kamis, 11 Februari 2016 bertempat di auditorium Fakultas Filsafat, UGM.

 

 

 

Mengacu dari banyaknya masalah yang ditimbulkan dari bahaya miras ini DPR RI telah membuat Rancangan Undang-undang (RUU) yang bersisi Larangan Minuman Beralkohol. Sayangnya draft RUU tidak bisa dibahas dalam diskusi ini karena memang para fasilitator yang diundang bukan dari DPR RI. Peserta yang hadir cukup banyak berkisar 120 orang dari berbagai kampus. Beberapa narasumber yang hadir, baik dari kalangan akademisi maupun aktivis adalah:

 

 

 

  • Reymond Michael M,  Peneliti Antropologi Universitas Indonesia
  • Adi Christianto, Forum Petani dan Produsen minuman berfermentasi
  • Agus Wahyudi, Institute Keadilan
  • Priyambodo, UPKM / CD Bethesda

 

 

 

 

Masing-masing narasumber memaparkan materi yang beraneka ragam. Salah satunya Reymond Michel M, membuka diskusi dengan tiga pertanyaan: Siapa? Minum apa? Dimana? Dari tiga pertanyaan ini dapat dilihat bahwa minum “Cap Tikus” di daerah Indonesia bagian timur merupakan budaya yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Di Manado para produsen minuman tradisional beralkohol “Cap Tikus” ini menjual produknya bukan hanya untuk diminum, tetapi mereka menjual ke pabrik pembuatan obat-obatan, rumah sakit bahkan ke luar negeri. Sebagian masyarakat di Manado dan Tuban dampingannya “Cap Tikus”, tuak atau arak merupakan minuman penambah tenaga dan pelepas lelah yang diminum sebelum berangkat kerja atau ke ladang dan pada malam hari sebelum istirahat agar ketika bangun badan terasa segar esok harinya. Dari sini lahir semboyan satu sloki tambah darah, dua sloki naik darah dan tiga sloki tumpah darah.

 

 

 

 

 

 

Agus Wahyudi menyampaikan bahwa jika peredaran minuman ini dilarang maka disinyalir akan banyak bermunculan pasar gelap di Indonesia dan ini akan jauh lebih berbahaya sebab bahan yang digunakan pasti tidak jelas dan menambah resiko bagi konsumen. Sementara Priyambodo menambahkan bahwa bahan yang digunakan dalam pembuatan minuman beralkohol tradisional rata-rata adalah bahan-bahan dari alam, seperti mengkudu, pohon enau dan pohon aren. Produsen sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa minum arak atau tuak menyebabkan kematian karena yang meninggal selalu yang minum oplosan. Sangat disayangkan bahwa dampak dari kejadian ini, petani-petani minuman tradisional terkena imbasnya, padahal ini merupakan mata pencaharian mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

 

 

 

Semua narasumber mengusai materinya, tetapi sangat disayangkan tidak ada narasumber yang berkompeten membahas RUU larangan minuman alkohol, sehingga keresahan masyarakat yang dirugikan karena masalah ini dapat tersampaikan. Sebagai kesimpulan dari diskusi ini adalah pemerintah harus benar-benar mengkaji dampak panjang yang akan ditimbulkan dari RUU ini dan bagaimana solusi yang diberikan untuk jutaan masyarakat yang berpenghasilan dari minuman beralkohol tradisional. Semoga menambah khasanah pengetahuan kita semua. (SAP)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 10 Februari 2016
oleh adminstube
Mati Baik-Baik Kawan

 

Sebuah Diskusi Buku di Togamas

 

 

 

 

 

 

Mati baik-baik kawan adalah tema besar yang diusung oleh Social Movement Institute (SMI), Stube-HEMAT Yogyakarta, Tribun Jogja dan Togamas dalam diskusi rutin bulanan pada 6 Februari 2016 lalu di toko buku Togamas, Yogyakarta. Diskusi ini menghadirkan narasumber Martin Aleida, Katrin Bandel dan Romo Baskara T. Wardaya, SJ dan Vicky Tri Samekto sebagai moderator untuk mengkaji kumpulan cerpen: Mati Baik- Baik Kawan, karya Martin Aleida.

 

 

 

Sebagai penulis, Martin Aleida menuturkan bahwa kumpulan cerpen tersebut merupakan potret pengalaman dari sudut pandang sebagai saksi dan korban politik tragedi 1965. Berangkat dari judulnya, Katrin Bandel sebagai kritikus sastra memberikan tanggapan bahwa menurutnya mati baik-baik itu adalah keadaan manusia yang sudah benar benar siap dalam menghadapi kematiannya. Pasca tragedi 1965 banyak orang mati dalam kondisi yang mengenaskan, tanpa ada pangruktilaya (mengurus jenazah), pemakaman yang jelas, lantunan doa, pelayat maupun karangan bunga. Hal tersebut dinamakan sebagai kematian sosial pada zaman itu, oleh karena banyak kematian yang didasari motif dendam pribadi yang tidak terselesaikan. Situasi inilah yang ditangkap dan disajikan oleh Martin Aleida dalam kumpulan cerpennya tersebut.

 

 

Karya ini adalah kumpulan kisah yang sangat jujur dan menggugah empati kemanusiaan. Namun anehnya setelah masa Orba berakir justru tema besar seperti seksualitas dan masyarakat urban yang menjadi trend, dan karya seperti Martin Aleida justru jauh dari sorotan. Katrin Bandel menuturkan bahwa ini merupakan kondisi yang memprihatinkan, sehingga penting bagi kita saat ini untuk terus mendorong dan mengapresiasi karya seperti ini.

 

 

 

Romo Baskara, SJ, menanggapi bahwa kisah yang disajikan dalam buku ini diangkat dari kisah nyata, dari mereka yang mengalami dan  menjadi korban politik tragedi 1965. Buku ini tidak hanya sastrawi melainkan juga sangat manusiawi, menyentuh, menggugah dan mempertanyakan eksistensi manusia. Romo Baskara juga menjelaskan konteks sejarah yang menjadi sudut pandang karya Martin Aleida, bahwa periode tahun 1950an merupakan tonggak yang sangat mempengaruhi situasi politik Indonesia. Namun periode tahun ini jarang mendapat sorotan sejarah meskipun tahun 1950 adalah sejarah Indonesia menjadi NKRI dari negara federal, tahun dimana pertama kali Indonesia mengadakan pemilihan umum secara demokratis, Indonesia menjadi penyelenggara Konferensi Asia-Afrika dan melahirkan UUPA (Undang Undang Pokok Agraria) di akhir tahun 1950an. Namun dalam priode kepemimpinan Presiden Soekarno yang kerakyatan dan anti modal asing ini, ada usaha politik lain untuk mengganjalnya. Perang dingin antara Barat dan Timur sedang bergolak. Blok Timur diprakarsai Soviet memakai seni sebagai alat propaganda untuk mensosialisakikan gagasan pemerintah kepada rakyat untuk berpartisipasi.

 

 

 

Metode propaganda seni tersebut terbukti sangat berhasil di Eropa Timur, Afrika dan beberapa negara Asia. Kemudian blok Barat yang diprakarsai oleh USA juga mensosialisasikan gerakan seni berhaluan abstrak untuk mengimbangi gerakan seni Soviet dan membuat rakyat berpikir elitis, kapitalistis, anti sosialis dan terlepas dari realitas sosial yang terjadi. Seni harus berbicara tentang seni dan harus terlepas dari masalah sosial maupun politik, apalagi untuk mendukung gerakan politik. Cara tersebut bukan hanya sebuah upaya bagaimana cara untuk menyingkirkan orang, tetapi juga cara menyingkirkan pemikiran kritis. Pertentangan dua kutub seni tersebut juga mempengaruhi perkembangan seni dan sastra di Indonesia, antara LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan MANIKEBU (Manifestasi Kebudayaan).

 

 

Sebuah perenungan bersama bagi kita untuk mempertanyakan manfaat sebuah karya dalam konteks kemanusiaan. Semuanya terserah anda. (PIAF).


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 5 Februari 2016
oleh adminstube
CHRISTIANITY AND SOCIAL JUSTICE
 
Latar Belakang
Apakah adil jika beberapa orang terlahir sangat kaya dan memiliki banyak keleluasaan sedangkan yang lain harus hidup bahkan mati dalam kemiskinan atau di bawah tekanan yang membuat menderita? Tidak, hidup tidak adil. Ketidakadilan memang ada di dalam kondisi manusia, tetapi hidup bisa dan harus adil. Ketika manusia cenderung bertindak lalai, maka ketidakadilan dan penderitaan terjadi.
Sayangnya, ketidakadilan ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Hal ini memunculkan pertanyaan: Apa yang seharusnya dilakukan orang-orang Kristen? Dalam masalah sosial, orang Kristen harus benar-benar tahu apa yang ada di hati Tuhan. Allah sangat peduli untuk kesejahteraan orang-orang yang sangat membutuhkan, misalnya janda, anak yatim piatu, orang asing dan orang-orang tertindas atau tidak beruntung dalam masyarakat. Masalah ini menuntut orang Kristen bertindak sebagaimana Tuhan memberi teladan untuk bertindak.
 
 
Tujuan:
1) Peserta sebagai orang Kristen modern dikenal sebagai pemimpin atau memimpin dunia memerangi ketidakadilan sosial. 
 
2) Peserta mampu mendefiniskan “keadilan sosial” dengan jelas dan menemukan prinsip-prinsip Alkitab yang berkaitan dengan keadilan sosial.
 
3) Peserta mampu mengembangkan posisi yang kuat dalam aksi sosial dengan pihak pemerintah khususnya yang menyangkut permasalahan sosial saat ini.
 

 

Peserta: 30 orang
 
Waktu dan Tempat pelaksanaan
Jumat - Minggu, 19 - 21 Februari 2016
Di Rumah Retreat Bukit Hermon
 
Karangpandang, Karanganyar
 
Kontribusi Rp 25.000,00
(Materi, akomodasi dan subsidi transportasi)
 
Segera hubungi team Stube-HEMAT Yogyakarta
atau datang ke Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta
Jln. Tamansiswa, Nyutran MG II/1565C
Yogyakarta 55151
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 1 Februari 2016
oleh adminstube

 
 
 
 
Kehidupan sebagai mahasiswa diwarnai dengan aktivitas intelektual, dimana aspek kognitif, afektif dan psikomotor seorang mahasiswa berpadu dan berkembang menjadi pribadi yang utuh.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai program pengembangan diri yang berorientasi pada mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia yang sedang menempuh studi di Yogyakarta memfasilitasi mahasiswa dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah Bedah Buku.
 
Bedah Buku adalah aktivitas mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta untuk menelaah buku, mengasah daya analitis dan melatih keterampilan dalam menyampaikan pendapat.
 
Diadakan Setiap bulan, hari Jumat pertama/kedua.

  
Berminat??
Hubungi team Stube-HEMAT Yogyakarta
atau datang ke sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta
Jln. Tamansiswa, Nyutran MG II/1565 C
Yogyakarta 55151
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook