pada hari Selasa, 20 Desember 2016
oleh Stube HEMAT
Menumbuhkan Cinta
untuk Kampung Halaman
 
 
Berada di kampung halaman ketika liburan semester menjadi pilihan sebagian mahasiswa yang sedang kuliah di Yogyakarta. Stube-HEMAT Yogyakarta dengan program Eksposur Lokal mendorong mahasiswa merancang suatu kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitar ia tinggal. Program ini membantu mahasiswa menumbuhkan kepeduliannya terhadap daerah asalnya, memetakan potensi daerah dan hambatannya, membuka jejaring dengan pihak lain dan melakukan orientasi kerja setelah selesai studi di Yogyakarta. Ada tiga mahasiswa yang menjadi peserta program ini, siapa saja mereka?



 
Agustinus Soleh
Ia sering dipanggil Agus, mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Sekolah Tinggi Pembangunan  Masyarakat Desa ‘APMD’ yang berasal dari Long Alango, Malinau, Kalimantan Utara. Perjalanan ke kampung halaman ditempuh beberapa hari dan perlu nyali kuat. Betapa tidak, ia berangkat dari Yogyakarta menuju Tarakan menggunakan pesawat udara, dilanjutkan dari Tarakan menuju Bahau Hulu menggunakan perahu melawan derasnya arus sungai. Tak hanya itu, di tengah perjalanan ia dan beberapa penumpang bermalam di tepi sungai dan berganti perahu yang lebih kecil karena ada batu-batu besar di sepanjang sungai.
Sesampai di kampung halaman ia melakukan pemetaan potensi desanya. Ia melakukan pendekatan dengan warga desa, mewawancarai perangkat desa dan kecamatan setempat, ketua adat, kepala adat, kelompok anak muda, kelompok tari ibu-ibu, kelompok tari anak dan remaja, kelompok tari orang dewasa, kelompok kerajinan tangan dan kelompok musik adat. Ia juga mengikuti kerja bakti desa, melatih seni tari adat bagi anak-anak SD, SMP dan remaja, mengisi tari tunggal dan mengamati hutan tanah ulen.
 
Ia menemukan potensi yang bisa dikembangkan seperti hutan lindung Tanah Ulen, tari-tarian adat, panorama alam, kuburan batu, kerajinan tangan. Ia juga merasan bahwa kehadirannya mendapat respon dan sambutan yang baik dari masyarakat. Mereka berharap agar Agus bisa pulang saat liburan dan membuat kegiatan bersama masyarakat.




Elisabeth Uru Ndaya
Elis kuliah di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Ia tertarik mendalami tenun karena ia menemukan kenyataan bahwa sebagian anak muda Sumba Timur menggunakan kain tenun Sumba tetapi tidak mengetahui motif dan makna pada kain tenun tersebut. Bahkan tidak jarang kain tenun yang dipakai motifnya kurang sesuai dengan acara yang diikuti. Ini ironis karena kain tenun merupakan warisan budaya yang menjadi ciri khas daerah Sumba Timur.
 
Saat liburan ia bertekad mendalami tenun tradisional dengan mendatangi desa (kampung) pembuat tenun, seperti kampung Kalu, kampung Prailiu, kampung Padadita dan kampung Palindi di kecamatan Kambera, Waingapu. Setelah belajar beberapa minggu ia menemukan berbagai gambar dan makna, misalnya gambar buaya lambang kebesaran raja, gambar papanggang simbol hamba/atta, gambar andung atau tengkorak lambang perang, gambar ayam simbol ritual kepercayaan marapu, gambar kuda sebagai hewan dalam masyarakat Sumba dan gambar mamuli simbol mahar perkawinan adat.
 
Proses tenun memerlukan alat dan bahan, seperti piapak (penggulung benang), wanggi pamening (pemintal), kapala (alat ikat benang yang siap digambar), tenung (alat tenun), wurung (merendam pewarna), lesung (penumbuk akar mengkudu), benang halus (sutra), benang kasar (wol), akar mengukudu (merah/kombu), daun lira (wora/biru), pohon ijju dan kemiri (kuning) dan kapur untuk pengawet kain.
 
Kelestarian tenun Sumba Timur perlu terus dijaga, tetapi sayangnya hanya sedikit generasi muda yang mau menekuni keterampilan membuat kain tenun tradisional Sumba Timur. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi masyarakat Sumba Timur untuk terus menjaga keberadaan tenun tradisional.




Johain Pekaulang
Seorang fresh graduate jurusan Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta. Ia berasal dari Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara. Sesuai ilmunya, ia ingin tahu sejauh mana penerapan hukum adat di Buli dalam penyelesaian perkara pidana seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman.
 
Sekitar tahun 1980 masyarakat Buli masih lekat dengan adat-istiadat. Jika terjadi pelanggaran atau kejahatan, dalam bahasa hukum disebut tindak pidana, sering diselesaikan secara musyawarah atau kekeluargaan yang berakhir damai antara korban dan pelaku, bisa juga penyelesaian dengan denda adat. Selain itu, ketika ada pernikahan, musik yang sering dimainkan adalah lalayon dan diiringi tari lalayon dan cakalele. Gotong-royong pun masih umum dijumpai dan masih berlaku sistem barter. Namun Dalam kurun waktu 1990 – 2000 perkembangan zaman dan pengaruh budaya luar berdampak, hukum adat di Buli perlahan ditinggalkan sehingga jika terjadi pelanggaran atau kejahatan cenderung diselesaikan secara hukum nasional. Musik serta tarian lalayon pun sudah jarang dimainkan.
Selain itu, diawal ia berhipotesa bahwa saat pulang ia hanya akan menemukan kasus perkelahian dan seks bebas di kalangan anak muda, tetapi ternyata terjadi peningkatan kasus korupsi dan kasus pencurian di Buli, persaingan yang tidak sehat antar anak muda dan organisasi, saling menjatuhkan satu sama lain, tidak peduli terhadap kampung sendiri dan bahkan cenderung untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Hal-hal ini membuatnya sedih dan membuatnya terpanggil untuk kembali untuk mengajarkan ilmu dan pengalamannya kepada anak-anak muda demi terbangunnya karakter masyarakat Buli yang lebih baik, memiliki hidup yang berguna bagi masyarakat.
 
Pengalaman-pengalaman yang ditemukan tiga anak muda ketika berada di kampung halamannya di atas bagai sebuah sentuhan kecil namun nyata yang mampu mengubah sikap dan cinta seseorang untuk berkomitmen melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk kampung halamannya. (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 10 Desember 2016
oleh Stube HEMAT
EXPLORING SUMBA 2016

 

Berbagi Pengalaman dan

 

Saling Belajar

 

 

 

 

 

 

Sebuah perjalanan mengunjungi daerah baru untuk mengenal masyarakat dan budaya merupakan kesempatan yang sangat berharga. Terlebih lagi kesempatan berinteraksi dan saling belajar dengan masyarakat setempat mengenai keberagaman yang ada di Indonesia. Stube-HEMAT Yogyakarta memberi kesempatan kepada mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta untuk berkunjung ke Sumba, salah satu pulau di Nusa Tenggata Timur. Tidak setiap orang bisa berkunjung ke Sumba menikmati keelokan alam, keunikan budaya dan masyarakatnya.

 

 

 

Ada beberapa mahasiswa yang berani menerima tantangan menjelajah Sumba untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Siapa saja mereka?

Pertama adalah Junita Samosir, seorang lulusan Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Di Sumba, ia membagi pengetahuan tentang budidaya sayuran organik kepada penduduk di Laimbonga, Sumba Timur. Praktek membuat kebun percontohan melibatkan penduduk setempat antara lain observasi ketersedian lahan, pengolahan lahan, persiapan benih dan pengairan sampai perawatan tanaman. Setelah hampir satu bulan hasilnya bisa dipanen bersama penduduk setempat. Selain itu, Junita juga membagikan keterampilan mengolah labu kuning menjadi puding karena kandungan gizinya sangat tinggi terutama sebagai sumber karbohidrat, vitamin dan mineral. Penduduk sangat antusias mengolah labu kuning karena biasanya labu kuning hanya sebagai makanan babi atau direbus biasa.

 



 

Berikutnya adalah Resky Yulius, seorang mahasiswa Manajemen Universitas Kristen Duta Wacana yang berasal dari Toraja. Ada dua hal yang ia lakukan di Sumba, yaitu berbagi pengalaman dengan mahasiswa STT GKS tentang menulis dan membuat curriculum vitae atau CV sebagai wujud kesiapan diri memasuki dunia kerja maupun menciptakan peluang kerja dan mendokumentasi berbagai hal yang menarik di Sumba, seperti budaya, kerajinan tangan dan landscape alamnya.

 



 

Peserta ketiga adalah Christian Badai Bulin, seorang mahasiswa Teknik Informatika Universitas Kristen Duta Wacana yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Ia membuat beberapa video pendek yang menceritakan tentang Sumba, antara lain penguburan adat Marapu, suasana salah satu pantai di Sumba dan prosesi menggunakan pakaian adat. Harapannya video pendek yang dihasilkan ini bisa digunakan sebagai dokumentasi dan promosi wisata di Sumba.
 

 



 

Keadaan kesehatan masyarakat Sumba menjadi perhatian Imelda Dewi Susanti, lulusan Stikes Bethesda Yogyakarta yang berasal dari Sekadau, Kalimantan Barat. Ia berbagi pengalaman dengan masyarakat dan jemaat GKS Kaliuda, Sumba Timur untuk mengenal penyakit herediter (hipertensi dan diabetes millitus) dan penanganannya termasuk mengolah minuman herbal dari labu. Selain itu, ia juga sosialisasi pola hidup bersih dan sehat, mengecek tekanan darah dan melakukan praktek senam kesehatan untuk anak muda di Kaliuda.

 


 

 

Peserta kelima adalah Yohanes Dian Alpasa, alumnus teologi Universitas Kristen Duta Wacana yang berasal dari Bengkulu. Ia mewawancarai para aktivis Stube-HEMAT Sumba yang menjadi peserta eksposur ke Stube-HEMAT Yogyakarta dalam kurun waktu 2010-2016 untuk mengetahui sejauh mana program ini bermanfaat dan diterapkan di daerah asal. Dua puluh sembilan peserta berhasil ia wawancarai, sembilan orang via telepon dan dua orang tidak berhasil ditemui karena bekerja di lain pulau.

 

 

 
 
 

 

Peserta keenam adalah Vicky Tri Samekto, alumnus teologi STAK Marturia. Dengan bekal kemampuan teater yang dia miliki, Vicky mencoba mendorong dan memberi wadah anak muda untuk mengekspresikan diri dalam olah suara dan tubuh. Latihan-latihan teater menjadi salah satu praktek sederhana ekspresi diri. Tentu saja ekspresi tersebut mengangkat tema-tema sosial dan anak muda.

 


 

Itulah berbagai karya anak muda sekalipun sederhana tetapi mampu menginspirasi sesama. Stube-HEMAT Yogyakarta terus-menerus mendorong dan memotivasi anak muda untuk mewujudnyatakan idealisme dan pengalamannya sehingga bermanfaat untuk masyarakat.(TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 5 Desember 2016
oleh Stube HEMAT
Hidup Dekat Sedulur Sikep

 

Live-in bersama Komunitas Sedulur Sikep

 

di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah

 

 

 

 

‘Experiential Learning’ menjadi salah satu metode pembelajaran yang dilakukan Stube-HEMAT ketika melaksanakan program-programnya. Metode ini memberi nilai tambah kepada mahasiswa sebagai peserta program, karena mereka dapat berinteraksi secara langsung dengan pihak-pihak yang ada dan menemukan pengalaman-pengalaman pribadi yang memberi kesan dan pesan bagi mereka.

 

 

 

Metode ini diterapkan Stube-HEMAT Yogyakarta dalam program HAM pada 2-4 Desember 2016. Pelatihan diadakan di Hotel Cailendra Extension, Yogyakarta dan Live-in bersama Komunitas Sedulur Sikep di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah yang diikuti oleh dua puluh tiga peserta mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Yogyakarta.

 

 

 

Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta membuka kegiatan dengan renungan tentang janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Kesempatan belajar ini adalah berkat Tuhan, maka, gunakanlah sebaik-baiknya untuk mengetahui apa yang baik, mengembangkan diri dan menerapkannya demi kebaikan bersama. Selanjutnya Trustha memperkenalkan Stube-HEMAT dan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, yaitu live-in bersama komunitas Sedulur Sikep.

 

 

 

Dr. Budiawan, pengajar dari Prodi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM memaparkan sejarah singkat masyarakat Samin, istilah lain dari Sedulur Sikep. Diawali oleh Samin Surosentiko yang melakukan perlawanan terhadap Belanda atas pungutan pajak. Uniknya perlawanannya dilakukan tanpa kekerasan. Gerakan ini terus berkembang dan akhirnya Belanda menangkap Samin Surosentiko dan diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Meski demikian ajaran Samin ini terus dipegang oleh pengikut-pengikutnya yang setia bahkan sampai saat ini. Mengenai istilah Samin sendiri merupakan sebutan dari pihak luar, sedangkan pengikut mereka menyebut sebagai Sedulur Sikep.

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya, jam 5.30 pagi peserta berangkat menggunakan bus dari Yogyakarta menuju Sukolilo yang ditempuh hampir lima jam. Sesampainya di Sukolilo, rombongan langsung menuju ke dusun Bombong, kediaman Gunritno, tokoh Sedulur Sikep di Sukolilo. Sambutan yang ramah dan bersahabat menjadi ciri khas komunitas ini.

 

 

 

Ariani Narwastujati, direktur eksekutif Stube-HEMAT Yogyakarta menyampaikan rasa terima kasih karena para mahasiswa boleh berkegiatan dan mengenal komunitas Sedulur Sikep di Sukolilo. Kami ingin belajar mengenai sikap hidup, kesederhanaan, kejujuran, sistem kehidupan masyarakat setempat dan kecintaan terhadap pertanian dan lingkungan.

 

 

 

Gunritno mengungkapkan bahwa para sedulur Sikep menerima kedatangan para mahasiswa dan memberi kesempatan untuk belajar bersama dengan mereka dan mahasiswa bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Ia berharap proses belajar tidak berhenti pada saat Live-in saja tetapi ada tindak lanjut yang dilakukan oleh para mahasiswa. Ia bercerita tentang prinsip sebagai Sedulur Sikep harus hidup jujur (pikiran, ucapan, dan tindakan), ora srei, drengki, tukar padu, dahpen kemeren, mbedog colong (bahasa Jawa). Artinya dalam bahasa Indonesia adalah: tidak iri, tidak dengki, tidak perang mulut (apalagi berkelahi), tidak menipu, tidak mencuri, dan selalu berlaku baik dan benar.

 

 

 

Sedulur Sikep sangat menghormati kehidupan. Kami menghormati Bumi seperti ibu. Bumi adalah Ibu Pertiwi yang melahirkan hidup dan memberi kecukupan sepanjang masa. Menghormati dan merawat keseimbangan alam dengan demunung (tidak serakah) adalah kunci selamat menjalani hidup. ”Sebab kalau tidak, alam akan menata keseimbangannya sendiri,” ia menjelaskan.

 

 

 

Menata keseimbangan berarti ‘genepe alam’ (genapnya pranata alam), melalui berbagai bentuk bencana. ”Manusia adalah bagian dari alam. Karena itu harus dandan-dandan (memperbaiki sikap), supaya jangan ada korban dan dampak lebih besar dari proses itu,” lanjutnya.

 



 

Berbagai cerita menarik dan pengalaman baru ditemui oleh para peserta yang tinggal di empat lokasi keluarga Sedulur Sikep. Di rumah mbak Siti di Bombong, peserta menemukan kemandirian dan peran seorang peremuan yang tangguh, mampu mengerjakan lahan pertanian dengan baik, dan tak sungkan untuk ikut membangun rumahnya. Di rumah ini bahan bakar untuk memasak menggunakan biogas dari limbah kotoran sapi yang dimiliki keluarga ini.

 



 

Berikutnya di rumah Ibu Gunarti di Bowong, selain menemukan tekad komunitas Sedulur Sikep bekerja hanya sebagai petani, para peserta juga menemukan kenyataan bahwa anak-anak dalam keluarga Sedulur Sikep tidak bersekolah formal, tetapi dididik dalam keluarga tentang sikap hidup jujur, rendah hati, tidak sombong, tidak boleh iri dan tidak boleh mengambil milik orang lain.

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

Sedangkan di rumah pak Wargono di Galiran, meski peserta sempat kesulitan berkomunikasi karena komunitas Sedulur Sikep biasa menggunakan bahasa Jawa. Namun akhirnya bisa terjalin komunikasi yang dekat. Peserta perempuan berkesempatan belajar menggunakan kain, karena komunitas Sedulur Sikep punya prinsip bahwa celana panjang adalah pakaian laki-laki. Peserta menemukan keramahan dan kekerabatan yang erat ketika berkunjung ke rumah keluarga Sedulur Sikep lainnya di Galiran

 



 


Terakhir, peserta yang tinggal di rumah mbah Wargono di Kaliyoso menceritakan pengalaman perjalanan menegangkan menggunakan bus melewati persawahan dan ketika berada di sawah untuk mencabut bibit padi dan ditanam di hamparan sawah yang benar-benar subur dan melimpah airnya. Sebuah anugerah alam yang sudah semestinya dilestarikan keberadaannya.

 




 

Dua kelompok yang ada di Bombong dan Bowong sempat datang ke Omah Kendeng, yang dikenal sebagai tempat belajar dan pertemuan Sedulur Sikep di Sukolilo. Pada saat itu ada pertemuan dari berbagai pihak yang membahas perjuangan untuk menjaga pelestarian pegunungan Kendeng dari ancaman perusakan karena industri.
 

 

Pegunungan Kendeng menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya karena pegunungan itu menghasilkan mata air, lahan yang subur, tempat hidup flora dan fauna. Jadi, sudah selayaknya Pegunungan Kendeng dijaga kelestarian lingkungannya. Salam Kendeng...Lestari! (TRU).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook