pada hari Jumat, 25 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

 


 

1 ‘Sesuatu’ yang memotivasi diri untuk melakukan hal positif

 

 

 

 

 

Claudia Betruchy Bada

 

Saya Claudia Betruchy Bada, dari Manggarai, Flores, NTT, Indonesia. Saat ini sedang belajar di Pendidikan Matematika, Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, Yogyakarta.

 

 

 

“Sungguh tema yang menarik, Pendidikan: Antara Harapan dan Kenyataan. Tema ini menunjukan kepada saya sebuah kenyataan saat ini di mana arus globalisasi semakin kuat, sementara pendidikan di Indonesia belum siap secara maksimal baik fisik maupun mental. Pendidikan masih sebagai obyek yang dapat “diganti” sesuai dengan keinginan pemegang keputusan. Kesadaran orang akan pendidikan masih jauh dari yang diharapkan, lebih lagi kesenjangan pendidikan antara yang di kota dan di desa semakin melebar. Apakah ini yang disebut dengan pemerataan pendidikan di Indonesia?

 

 

 

Berbekal pengetahuan yang saya miliki, saya merasa sudah memberikan kontribusi terhadap pendidikan di Indonesia yaitu dengan membayar uang sekolah. Tapi ternyata semuanya belum cukup, karena masih banyak hal yang belum saya lakukan untuk berkontribusi terhadap pendidikan, karena saya masih belum maksimal membagi pengetahuan saya kepada orang di sekitar saya yang masih membutuhkan banyak pengetahuan.

 

 

 

Stube-HEMAT memberikan “sesuatu” bagi saya yang membuat jalan pikiran saya berubah dan memiliki motivasi baru melakukan hal positif bagi orang lain berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki. Sungguh menyedihkan dan sangat memalukan jika saya terus berpikir bahwa saya sudah berarti bagi orang lain sementara tindakan nyata yang saya lakukan belum ada.

 

 

 

Pengalaman 3 hari bersama Stube-HEMAT sungguh membuat saya merasa beruntung karena memperoleh hal baru yang memperkaya pengetahuan serta bisa lebih menggali potensi yang ada dalam diri saya. Itu semua pemberian cuma-cuma dari Tuhan yang perlu saya kembangkan, bukan untuk diri saya sendiri dan keluarga saja, melainkan bagi sesama, yang semuanya itu untuk memuliakan nama Tuhan. Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan bersekolah dan melakukan hal-hal yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain.

 

 

 

Berbekal kemampuan dan pendidikan yang ada saat ini, sebagai seorang calon guru, saya bertekad merubah sikap menjadi lebih peduli kepada orang lain, peka terhadap permasalahan sosial yang terjadi di sekitar saya, serta berbagi pengetahuan dengan membuka sanggar belajar untuk anak-anak, bersama teman-teman dari pelatihan Stube. Ini merupakan langkah awal untuk menyiapkan fisik dan mental saya dan generasi muda bangsa ini pada umumnya menghadapi persaingan global. ***

 

 



2. Lebih dari Sekedar Bicara

 

 

 

Windy Hendra Supardi

 

Saya Windy Hendra Supardi, dari Sintang, Kalimantan Barat, saat ini sedang menempuh studi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Saat mengikuti pelatihan pendidikan global, saya mendapatkan banyak hal baru. Pelatihan ini mengajarkan saya untuk tidak hanya bicara saja, tetapi bagaimana segera mengimplementasikan apa yang sudah saya dapatkan ke masyarakat sekitar. Beberapa point penting yang menjadi bahan refleksi saya adalah mengenai tujuan pendidikan, menciptakan lingkungan belajar yang baik, dan bagaimana menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

 

 

 

Tujuan pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperhalus perasaan dan memperkokoh kemauan. Mempertajam kecerdasan ini berarti kita harus memahami pengetahuan secara menyeluruh. Kebanyakan orang hanya memahami pengetahuan setengah-setengah saja. Oleh karena itu, banyak orang yang gagal dalam mencapai sesuatu yang besar di dalam hidupnya. Untuk mendukung kesuksesan dalam pendidikan diperlukan sinergi antara guru dan murid. Guru harus menjadi teladan, harus percaya diri dan komunikatif. Guru harus mampu masuk ke dalam kehidupan murid-muridnya agar tidak terbentang jarak yang jauh antara guru dan murid sehingga tercipta suasana komunikatif diantara keduanya. Tanpa hal-hal ini, guru tidak akan dihargai oleh murid-muridnya. Pendidikan juga harus memperkokoh kemauan untuk selalu memiliki persepsi positif dan bertekun dalam menghadapi kegagalan atau pun kesulitan. Pendidikan yang baik harus diikuti dengan pendidikan cinta kasih.

 

 

 

Suasana dan lingkungan menjadi hal penting dalam proses belajar dan setiap proses harus dilalui dengan baik untuk mencapai tingkatan keahlian. Kita harus berani berteman dengan orang yang lebih pandai sehingga dapat membantu memotivasi kita untuk terus belajar. Proses belajar akan lebih efektif apabila kita belajar bersama orang lain, dan kita mampu memberikan kontribusi untuk membantu orang lain. Sesungguhnya, prestasi dinilai dari sejauh mana kita bermakna bagi lingkungan kita, karena orang hidup yang tidak memiliki fungsi sama saja seperti orang mati, tidak ada satupun yang bisa diperbuat. Tujuan belajar itu sendiri adalah untuk memanusiakan manusia. Ini berarti bahwa dengan belajar, orang akan tahu hal yang benar, lebih mengenal siapa diri mereka dan apa yang baik untuk dilakukan.

 

 

 

Pendidikan juga menyiapkan kita menghadapi tantangan multi-dimensi, juga pasar global. Dalam menghadapi hal ini, tidak saja pengetahuan, tetapi juga sisi kepribadian sebagai identitas bangsa Indonesia. Kita harus senantiasa menambahkan kualitas demi kualitas pada diri kita untuk mencapai keberhasilan. ***



3. Stube HEMAT dan Trilogi Tamansiswa

 

 

 

Fransiska Evawati

 

Saya Fransiska Evawati, dari Ketapang, Kalimantan Barat. Saat ini sedang studi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, jurusan Pendidikan Matematika.

 

 

 

Saya melihat misi dari Stube-HEMAT selaras dengan Trilogi Tamansiswa yaitu, TRI NGO  yang dimaknai dengan Ngerti, Ngroso, dan Nglakoni. Tiga hal ini mengingatkan kita agar mengerti ajaran hidup atau cita-cita (selaras dengan misi Stube pertama), kesadaran (misi kedua), dan kesungguhan dalam pelaksanaannya (misi ketiga dan keempat). Tahu dan mengerti saja tidak cukup kalau tidak menyadari dan tidak ada artinya kalau tidak dilaksanakan dan memperjuangkannya. Ilmu tanpa amal adalah kosong dan amal tanpa ilmu adalah pincang.  Saya memahami ini dengan membandingkan Trilogi Tamansiswa dari Ki Hadjar Dewantara. Ternyata setiap kita mendapatkan pendidikan haruslah kita mengerti dan memahami, selanjutnya kita sadari dan terakhir membuat perencanaan, melaksanakan dan memperjuangkannya sebagai bukti nyata.

 

 

 

Dari penyampaian para narasumber di pelatihan, saya mendapatkan pesan inti, bahwa pendidikan saat ini  menuju pada persaingan global yang membawa kita ke dalam persaingan yang semakin ketat, sehingga kita harus semakin berkualitas. Dengan melihat visi dan misi di atas, kita dipersiapkan menghadapi persaingan tersebut, melalui pendidikan yang semakin terarah. Artinya, pendidikan menjadi modal utama dan ketrampilan yang diperoleh dari pendidikan non-formal akan menambah kualitas diri untuk melakukan hal yata dalam kehidupan dan berguna bagi banyak orang.

 

 


“Antara harapan dan kenyataan” bisa dimaknai bahwa kita mempunyai harapan atau mimpi, dan harus berusahakeras mewujudkannya sampai menjadi sebuah kenyataan. Yang lebih penting adalah bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dalam kehidupan, dan setiap usaha yang kita lakukan pasti mempunyai makna sekalipun itu gagal. Kegagalan itu adalah pelajaran untuk bisa maju dan lebih baik lagi. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 24 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

4. Mengapa Kita Tidak Bangga dengan Pendidikan Di Indonesia?

 

 

 

Yosef Andrian Beo

 

 

 

Saya Yosef Andrian Beo, dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Kritikan demi kritikan muncul saat masalah pendidikan diangkat ke permukaan, seperti saat pelatihan  Stube HEMAT di Godean, dengan tema Pendidikan Global: Antara Kenyataan dan Harapan. Delapan puluh persen  pembahasan tentang Pendidikan Global memandang negatif sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia saat ini, sisanya yang dua puluh persen tentang berbagai motivasi untuk sukses. Banyak pendapat menyatakan, kesalahan ada pada sistem pendidikan, manajemen pendidikan pusat, dan bahkan pendidikan dipakai sebagai mainan politik. Lalu, kapan kita bisa bangga dengan pendidikan yang telah membentuk kita sampai saat ini?

 

 

 

Pastilah tidak hanya negara kita saja yang memiliki masalah dengan pendidikan, jadi kita harus bangga dengan pendidikan di Indonesia. Rasa bangga akan membawa dampak positif terhadap pendidikan itu sendiri. Pertama, akan lebih tahu bagaimana mencari solusi atas masalah pendidikan yang diperdebatkan. Misalnya di NTT, angka buta huruf masih tinggi karena fasilitas pendidikan belum memadai dan belum terjangkau rakyat. Dari tahun ke tahun, hal ini belum terselesaikan, bahkan mungkin masalah ini sudah ada sebelum saya lahir. Apakah sekarang sudah ada perubahan? Belum, atau mungkin sedikit, karena sistem dianggap sulit dan rumit.

 

 

 

Saya bangga dengan sistem pendidikan di Indonesia dengan berbagai kenyataan pahitnya. Kurikulum yang terus berubah atau diperbaharui, dianggap sebagai kesalahan sistem, yang membuat masalah bagi masyarakat NTT. Mengapa saya bangga? Pertama, karena seleksi alam akan berfungsi dengan sendirinya. Bagi yang tidak mampu bertahan, bisa mencari alternatif lain, semisal pindah jalur sesuai bakat dan minat diri, seperti seni, teknik mesin, pariwisata, olahraga, tata boga, pertanian dan sebagainya. Kedua, dengan bangga pada pendidikan sendiri, bisa mengembangkan potensi lokal yang unik, apalagi anggaran pendidikan menempati tiga besar dari anggaran negara. Keunikan tersebut akan lebih mudah dilihat oleh dunia.

 

Mengapa kita tidak bangga dengan sekolah-sekolah, perguruan tinggi, atau jutaan pelajar yang kita miliki? Apakah karena standarisasi yang ditetapkan oleh pihak yang tidak mengerti kita? Lupakan standarisasi, ingatlah saja sebuah tempat yang membuat kita bisa bertemu dan berbicara dengan begitu banyak teman. Banyak yang bisa dibanggakan dari pendidikan yang ada di negara kita. Saya juga percaya, para pembaca juga dapat menemukan hal yang membanggakan, kalau mau. Terima Kasih. ***
 

 

 



5. Melahirkan Banyak Ide untuk Beraksi

 

 

 

Efrin Rambu Leki

 

 

 

Saya Efrin Rambu Leki, asal dari Anakalang, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Saat ini studi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Dari pemaparan beberapa narasumber dalam pelatihan Global Education ini, wajah dunia pendidikan di Indonesia  masa kini terlihat masih perlu melakukan pembenahan. Eko Prasetyo, salah seorang narasumber membuka mata saya terhadap keadaan pendidikan yang saat ini dianggap sangat ‘mengerikan’. Bagaimana tidak? Pendidikan dijadikan lahan bisnis bagi sebagian orang tanpa peduli apa yang akan terjadi dengan anak-anak bangsa di masa depan. Saya menjadi orang yang kemudian merasa tidak nyaman melihat keadaan pendidikan yang demikian ini. Dari sinilah saya mulai sadar, mulai belajar peduli dengan keadaan pendidikan yang ada di lingkungan yang saya alami sendiri.

 

 

 

Pengalaman sebagai guru sekolah minggu selama kurang lebih hampir 2 tahun ternyata juga tidak membuat saya memahami cara mendidik yang baik dan benar. Saya hanya mengajar tanpa terpikirkan apakah yang saya ajarkan itu membawa dampak positif bagi mereka atau tidak, yang penting mengajar, itu saja! Dari sesi Eko Prasetyo saya juga belajar bahwa kreativitas dalam mengajar sangatlah penting, untuk itulah kedepannya saya akan lebih kreatif dalam mengemas cara mengajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

 

 

 

Pengalaman yang saya lihat di daerah asal saya, Sumba, NTT, banyak sekali orang yang menjadi guru padahal tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, prinsip mereka yang penting dapat kerja setelah itu dapat gaji. Awalnya saya setuju, toh nantinya juga peserta didiknya juga tetap bisa kuliah dan bekerja, tetapi ternyata itu malah membuat murid-murid di sana mendapat pengetahuan yang dangkal. Apalagi ditambah dengan fasilitas yang sangat minim, akses internet yang susah dan persediaan bahan bacaan yang sangat kurang. Sementara salah satu ukuran keberhasilan pendidikan adalah adanya guru yang berkualitas. Apa yang terjadi jika banyak guru  ‘asal jadi’?

 

Dari pelatihan pendidikan ini saya banyak mempunyai ide, salah satunya  adalah membuka perpustakaan di lingkungan rumah saya. Sebenarnya ide ini sudah saya pikirkan sejak lama dan saya sudah mengumpulkan buku-buku tetapi belum begitu yakin, sekarang saya sudah semakin mantap untuk membuka perpustakaan di lingkungan rumah saya. Mohon dukungan teman-teman. ***

 

 


 

 

6. Berpikir Lebih Luas untuk Melihat Sebuah Masalah

 

 

 

Herman Ngkaia

 

 

 

Saya Herman Ngkaia, asal Sulawesi Tengah. Saat ini sedang menempuh studi di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) YLH Yogyakarta.

 

 

 

Selama  saya  menempuh  pendidikan dari Taman Kanak-Kanak,  sampai saat ini, saya merasakan betapa pentingnya pendidikan itu. Saya mengalami betapa sulitnya mendapatkan kesempatan untuk menempuh sebuah jenjang pendidikan. Bagi saya ilmu itu didapatkan dari proses hidup yang kita lakukan, baik itu di dalam lingkungan sekolah, kampus maupun di dalam sebuah lembaga atau organisasi yang kita ikuti. Jika ilmu hanya dilihat dari simbol gelar saja, kita sudah banyak melihat dan mengalami, bahwa banyak yang tidak menerapkan ilmu atau pengetahuan mereka secara baik-baik, sebagaimana yang dinyatakan Prof. Dr. T. Jacob bahwa negeri ini belum berhasil menuai nilai-nilai pendidikan yang disemai selama ini.

 

 

 

Menyinggung masalah pendidikan di negeri ini masih banyak kita jumpai kesenjangan antara desa dan kota, lebih-lebih lagi daerah-daerah pelosok. Anak-anak kota mendapatkan fasilitas yang sangat memadai dan tenaga guru yang sangat lengkap dibandingkan dengan anak-anak desa. Anak-anak di desa sudah minim fasilitas, minim juga guru berkualitas. Mungkin keadaan ini bisa diibaratkan seperti kata pepatah “orang lain sudah di bulan kita masih di bumi”, artinya anak-anak  di kota sudah banyak menyerap ilmu dibandingkan anak-anak desa atau pelosok.

 

 

 

Jadi bagi kita semua yang bisa menempuh ilmu di kota Yogyakarta, patut bersyukur kepada Tuhan diberi kesempatan untuk menikmati betapa banyaknya ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapatkan di kota Yogyakarta ini, khususnya di lembaga Stube Hemat. Walaupun kita kuliah di universitas yang sangat besar dan fasilitasnya sangat elit, kita tidak pernah mendapatkan berbagai macam ilmu dan pengetahuan serta rasa persaudaran sebagaimana yang kita rasakan di lembaga ini. Semua pengalaman, pengetahuan dan informasi yang didapatkan dari lembaga ini harus kita terapkan di lingkungan kita masing-masing. Semua permasalahan pasti bisa diatasi karena Tuhan juga bekerja bersama kita.

 

 

 

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh Tim Stube HEMAT yang sudah banyak membantu saya untuk membuka wawasan dan berpikir lebih luas untuk mengenal sebuah masalah yang terjadi saat ini.

 

 

 

Semoga setiap kegiatan yang akan dilaksanakan ke depan lebih menarik minat teman-teman mahasiswa yang sedang menempuh ilmu di kota pelajar ini. ***

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 23 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

7. Ternyata Beda! Lebih termotivasi.

 

 

 

Septi Dadi

 

Saya Septi Dadi, dipanggil Putri, dari Sumba Timur, NTT. Saat ini sedang menempuh studi di jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

 

 

 

Pada awal mengikuti kegiatan STUBE–HEMAT, dalam benak saya adalah, ”Ah pasti kegiatannya gitu-gitu saja, dan membosankan”. Bayangan itu muncul karena saya belum berkenalan dengan STUBE–HEMAT dan tidak tahu lembaga itu seperti apa. Saya bersyukur bahwa apa yang saya pikirkan itu tidak menjadi kenyataan, malah sebaliknya lagi sangat menyenangkan.

 

 

 

Dari serangkaian pelatihan yang di berikan kepada kami, saya mendapat banyak pengetahuan baru dan inspirasi baru. Pelatihan ini mengubah pola pikir saya untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan daerah tercinta untuk membuat suatu aksi kreatif yang berguna. Cara berpikir yang awalnya hanya memikirkan kesuksesan diri sendiri dengan pengetahuan yang dimiliki, dapat berkembang untuk memikirkan kesejahteraaan masyarakat, karena sebagai generasi muda saya punya tanggung jawab untuk memberikan suatu perubahan yang positif untuk masyarakat khususnya daerah saya nanti.

 

 

 

Saya termotivasi untuk melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat dan membangun. Saya juga ingin memotivasi kaum muda untuk lebih peduli kepada lingkungan dan masyarakat. Saya setuju untuk membuat sesuatu yang berguna harus dimulai dari hal kecil. Kalau bukan kita siapa lagi? ***

 

 

 

 

 

8. Kita Bukan Gombal1  Diterpa Globalisasi

 

Fajar Dwi Kristyawan

 

 

 

Saya Fajar Dwi Kristyawan, dari Jawa Timur, mahasiswa Theologia, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Pendidikan memampukan seseorang menghadapai tantangan di masa depan sehingga Pendidikan Global merupakan isu hangat.  Namun demikian proses pendidikan menghadapi Globalisasi tak selalu menguntungkan apalagi jika kita tidak waspada menghadapainya, kita bisa hanya menjadi gombal di negeri kita sendiri.

 

 

 

Pertama kali mendengar Pendidikan Global, saya mengira bahwa itu adalah sebuah model pendidikan yang bersifat mengglobal atau mendunia, yang akan mengatasi semua pendidikan di seluruh antero bumi. Karena itu, pelatihan kali ini akan membekali peserta dengan teknik-teknik khusus dalam mendidik dengan model yang dapat diterima di seluruh penjuru dunia. Ternyata, bukan model pendidikan yang mendunia yang saya dapat, tetapi lebih fokus membahas bagaimana pendidikan kita diperhadapkan dengan konteks globalisasi yang sudah mulai membadai di kehidupan kita. Pendidikan di negeri ini kurang siap menghadapi gempuran badai globalisasi.

 

 

 

Gempuran itu nyata bahkan pengaruh-pengaruh dunia luar sudah banyak menjamur. Sebagai contoh pengaruhnya di dunia pendidikan. Beberapa waktu yang lalu, sekolah-sekolah gencar memproklamirkan diri sebagai sekolah berstandar internasional. Bahkan banyak sekolah, baik swasta atau negeri berkompetisi menjadi sekolah Internasional dengan fasilitas dan komponen-komponen persyaratan yang dibutuhkan. Dalam perjalanannya, sekolah-sekolah tersebut menuai kritikan pedas karena terkesan tidak Indonesia, karena malah tidak mencerminkan Pancasila sang pedoman negara.

 

 

 

Globalisasi tak dapat kita hindari, karena sudah merupakan bagian dari perubahan dan perkembangan jaman. Perkembangan teknologi dan infomasi yang semakin pesat, memunculkan istilah gagap teknologi atau gaptek bagi yang tidak bisa mengikutinya. Kalau begitu semakin lama kita bisa kembali terjajah dan tertindas oleh pihak luar. Oleh sebab itu kita harus bisa mengatasinya dengan tepat, sehingga kita tetap memiliki identitas diri sebagai bangsa Indonesia tanpa menjadi komunitas eksklusif yang justru mengerdilkan dan memprimitifkan kita. Di sinilah peran pendidikan diperlukan untuk menghadapi gempuran badai globalisasi yang semakin menderu.

 

 

 

Selama mengikuti proses pelatihan selama tiga hari ini, saya menemukan satu hal yang menurut saya penting untuk menghadapi globalisasi dari segi pendidikan. Satu hal itu adalah kemauan kita sendiri dalam berproses mendapat pendidikan. Proses pendidikan seperti tempat kita berpetualang dalam menimba ilmu, tak hanya dalam ruangan formal terbatas saja, melainkan juga belajar dari luasnya rimba kehidupan manusia. Kita pun akan menjadi pribadi yang mampu bersaing di kancah yang lebih luas dan tinggi dengan karakter kita masing-masing.

 

 

 

Dengan demikian kita tidak akan menjadi gombal di negeri sendiri, menjadi orang pinggiran yang terbuang ketika orang lain menikmati kekayaan negeri ini. Kita harus berani menjadi petualang untuk mengetrapkan ilmu bagi kesejahteraan manusia dan bertahta di singgasana negeri sendiri. Mari kita tunjukkan bahwa kita bukanlah gombal yang terkulai dan terbawa begitu saja diterpaan badai globalisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

1 Gombal adalah bekas baju yang sudah tidak terpakai yang biasanya sudah sangat kotor dan tidak utuh lagi karena lebih sering digunakan sebagai ganti kain lap




9. Belum Utuh Merata

 

 

 

Yohana H. Sambung

 

 

 

Saya Yohana H. Sambung, biasa dipanggil Ira, dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dan sedang menempuh studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan global dan globalisasi mendorong kita melakukan identifikasi dan mencari titik-titik simetris yang bisa mempertemukan dua hal yang tampaknya paradoksal, yaitu pendidikan Indonesia yang berimplikasi nasional dan global. Dampak globalisasi memaksa banyak negara meninjau kembali wawasan dan pemahaman mereka terhadap konsep bangsa, tidak saja karena faktor batas-batas teritorial geografis, tetapi juga aspek ketahanan kultural serta pilar-pilar utama lainnya yang menopang eksistensi mereka sebagai nation state yang tidak memiliki imunitas absolut terhadap intrusi globalisasi.

 

 

 

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan global, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

 

 

 

Tantangan yang saya alami sampai sekarang ini dari saya Taman Kanak-kanak sampai menjadi seorang mahasiswa adalah menyesuaikan diri dalam kurikilum yang selalu berbeda. Di satu sisi itu sangat baik karena mengikuti perkembangan era globalisasi, tetapi para pemegang kebijakan kurang memikirkan para pendidik dan anak didik. Di mana para pendidik harus berusaha keras menyesuaikan kurikulum tersebut untuk dapat diterapkan dan dengan mudah diterima anak didiknya.

 

 


Dari hasil pelatihan yang saya ikuti, saya bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia belum seutuhnya merata. Di daerah pelosok negeri ini masih banyak pelajar yang belum mengenal teknologi, buku yang digunakan masih buku lama, kurikulum yang seharusnya dapat cepat diterapkan tapi kenyataannya lama karena kurangnya tenaga pendidik. Dari berbagai fenomena dan kondisi pendidikan saat ini, bangsa Indonesia seharusnya segera berbenah dan menyadari jangan sampai pendidikan Indonesia terpuruk jauh. Penerapan nilai-nilai karakter bangsa bukan sekedar pelengkap pendidikan yang dipenuhi secara formalistik-administratif belaka, tetapi nilai-nilai karakter adalah jiwa, ruh, dasar dan tujuan utama pendidikan nasional seperti yang dinyatakan Ki Hadjar Dewantara. Tak sekedar mencapai prestasi akademik (cerdas otak), tetapi memiliki budi pekerti luhur yang menjadi inti utama pendidikan nasional kita.***


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 22 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 



10. Sembilan Puluh Persennya Kemana?

 

 

 

Yulian L.A. Sembiring

 

Saya Yulian L.A. Sembiring, dari Wonosari, Gunungkidul. Saat ini sedang menempuh studi di jurusan Ilmu Informatika, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

 

 

Memang mengejutkan apa yang disampaikan Prof. Slamet yang saya temui saat saya mengikuti kegiatan eksposur yang diadakan oleh Stube HEMAT sebagai rangkaian Pelatihan Pendidikan Global ke museum Ki Hadjar Dewantara, Tamansiswa. Beliau sampaikan bahwa orang rata-rata baru memakai 10 persen dari kemampuan otaknya. Hal ini memberikan makna supaya kita lebih mengoptimalkan kinerja otak. Oleh karena itu otak harus selalu digunakan untuk hal-hal yang positif dan membangun. Beliau juga memberikan 5 kiat sukses yaitu, kita harus memulai lebih awal, hidup lebih cerdas, bekerja lebih keras, bekerja lebih cepat, dan memikirkan yang belum dipikirkan orang lain.

 

 

 

Hal lain yang saya dapatkan adalah tentang keteladanan. Salah satu narasumber mengatakan kalau orang lebih percaya pada apa yang kita perbuat daripada apa yang kita katakan. Jadi kita diminta untuk menjadi teladan dalam tingkah laku kita. Seperti seorang Guru yang harus memberikan contoh nyata pada murid-muridnya melalui perbuatanya. Pernyataan tersebut selaras dengan ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, memberi contoh di depan.

 

 

 

Saya juga diingatkan kembali tentang Visi dan Misi yang sudah saya buat untuk hidup saya. Apapun Visi Misi itu, baik jangka pendek ataupun jangka panjang harus kita lakukan dengan tekun dan tidak boleh asal-asalan. Kita dapat memulainya dari hal-hal kecil dulu dari diri kita sendiri, seperti tertulis dalam Lukas 16 : 10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar".

 

 

 

Saya belajar melakukan hal sederhana yang bisa saya lakukan dan menjadi tanggung jawab saya dalam rangka mewujudkan visi besar hidup yang sudah dibuat.***

 

 

 

 

 

 

 

11. Pendidikan Kesadaran Kritis sebagai Sarana Mempersiapkan Generasi Bangsa Millenium.

 

 

 

Paulus Eko Kristianto

 

Saya Paulus Eko Kristianto, dari Surabaya, saat ini sedang menempuh studi tahap akhir Ilmu Theologi, Fakultas Theologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Wacana pendidikan global sudah didengungkan pada pemuda sejak menyongsong abad ke-21. Berbagai alternatif mulai ditawarkan yang ujung-ujungnya berbasis internasional. Hal ini mengandung langkah strategis di mana pemuda diajak untuk bersaing di publik internasional. Namun di sisi lain, langkah ini juga memiliki paradoksnya tersendiri. Paradoks bahwa mentalitas inlander mampir ke kancah pendidikan nasional Indonesia. Apakah seharusnya demikian? Rasanya tidak, pemuda memang harus bersaing dalam dunia global namun mereka harus tetap memegang nilai-nilai kebangsaan perjuangan. Semangat ini dibawa oleh para atlit yang berjuang di perhelatan olah raga internasional, contohnya Sea Games.

 

 

 

Rupanya, warna ini ditangkap Stube-HEMAT sebagai lembaga yang mendampingi mahasiswa dengan memfasilitasi mahasiswa berbagai pelatihan multi issue termasuk Pelatihan Pendidikan Global. Bagi saya, usaha ini perlu diberi apresiasi. Walaupun, tiada gading yang tak retak. Stube pun kurang memberikan distingsi kuat dalam memetakan antara pendidikan nasional, pendidikan alternatif, dan pendidikan global dalam pelaksanaannya walaupun TOR sudah mengarah ke sana. Ketiga corak tersebut memang ada dalam dunia pendidikan dan terkesan overlapping. Tapi bukan berarti, semua berjalan bertabrakan karena semua memiliki idealisme tujuan pendidikan sendiri-sendiri. Pendidikan nasional membidik kajian corak dan karakteristik pendidikan nasional turunan dari kemendiknas menuju tingkat lokal melalui tataran formal. Sedangkan, pendidikan alternatif mencoba mengkritisi pendidikan nasional yang kian meresahkan dan memojokkan aspirasi dan perkembangan naradidik sehingga para pedagog menawarkannya dengan memanfaatkan kearifan lokal. Kemudian, pendidikan global menghelat persiapan partisipasi pemuda dalam kancah globalisasi abad ke-21.

 

 

 

 

Bercermin pada diskursus pendidikan tersebut, saya menawarkan pola pendidikan baru yang mulai harus disajikan dalam mengimbangi abad ke-21 ini yakni pendidikan kesadaran kritis. Banyak hal disajikan globalisasi abad ke-21 tetapi ‘penumpang’ harus peka dan kritis dalam membaca dinamikanya. Dinamika barulah ditangkap bila mereka sedia bergabung dan masuk dalam praksis kemudian berefleksi bersamanya. Kalau poin ini sudah ditangkap, maka transformasi pendidikan menjadi ajang plus untuk mengembangkan praksis dan ini dibutuhkan kerja keras. Akhir kata, selamat mencoba!


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 15 Oktober 2013
oleh adminstube
 

 

Pendidikan: Antara Harapan dan Kenyataan

 

Wisma PGK Shanti Dharma, Godean, 11 – 13 Oktober 2013

 

 

 

 

“Diakui atau tidak, pendidikan Indonesia masih dipengaruhi oleh sistem pendidikan dari luar negeri, dan belum banyak menggali nilai-nilai pendidikan dalam negeri”, demikian Dr. Dwi Siswoyo M.Hum, kepala Prodi S3, Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta menyampaikan materinya pada pelatihan Pendidikan Global yang diadakan oleh Stube HEMAT Yogyakarta. “Akan lebih memprihatinkan lagi apabila masyarakat Indonesia menjadi konsumen Budaya Barat dan mendangkalkan nilai-nilai budaya luhur Indonesia”, imbuhnya mengutip tulisan HAR. Tilaar. Dalam kondisi pendidikan semacam ini anak-anak muda khususnya mahasiswa harus lebih banyak memperlengkapi diri menghadapi tantangan global dengan mengakses kesempatan-kesempatan serta peluang kerjasama.

 

 

 

 

 

 

Tunggul Priyono, SH., M.Hum., dari KOPERTIS wilayah 5 Yogyakarta membuka pintu lebar-lebar untuk segala informasi bagi mahasiswa. Sementara itu Eko Prasetyo, Direktur Social Movement Institute, yang dikenal dengan bukunya “Orang Miskin Dilarang Sekolah” menggugah semangat para peserta dengan kritik-kritik terhadap sistem pendidikan yang membatasi dan mengurung daya kembang anak didik, sehingga anak didik tidak mampu mengembangkan imajinasinya. Selain itu ia juga mendorong peserta untuk belajar dan berkembang melalui organisasi yang diminati. Hal ini juga digarisbawahi oleh narasumber lain, yakni Markus Budiraharjo, Ed.D., dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bertumbuhnya seseorang tidak bisa lepas dari konteks lingkungan dimana dia berasal dan interaksi positif yang membantu pertumbuhan optimal. Secara khusus, kemampuan seseorang berkompetisi di tingkat global, didasari keteguhan memegang nilai-nilai kehidupan dan berpikir holistik.

 

 

 

 

 

 

Eksposur atau kunjungan ke Museum Ki Hadjar Dewantara, Yogyakarta, menjadi sebuah kegiatan untuk mengingat kembali seorang pioner pendidikan nasional beserta pemikiran-pemikiran beliau yang visioner serta keberpihakannya untuk mendidik anak bangsa. Sementara itu, eksposur di INFEST (Institute for Education Development, Social, Religious, and Cultural Studies) mengajak peserta belajar bagaimana membangun kemandirian dalam teknologi informasi, serta melakukan pemberdayaan desa melalui pendampingan masyarakat pedesaan.

 

 

 

 

 

 

Menanggapi pelatihan pendidikan global yang diikuti,  J.F. Anugerah Sihaloho, mahasiswa UKDW mengungkapkan, “Informasi dan pengetahuan yang saya dapatkan di Stube ini belum tentu saya dapatkan di luar bahkan di tempat saya berkuliah. Cakrawala pemahaman saya tentang pendidikan menjadi lebih luas dan saya bisa mengoreksi diri.” Peserta lain yakni Claudia Betruchy Bada, mahasiswa Pendidikan Matematika, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, menambahkan, “Apa yang sudah saya pelajari dalam pelatihan ini akan saya bagikan kepada yang lain. Dengan kompetisi global dan kenyataan pendidikan yang ada saat ini, saya merasa harus terus belajar dan menemukan hal baru untuk menambah pengetahuan saya”.

 

 

 

 

 

 

Beberapa kegiatan peserta sebagai aksi tindak lanjut adalah menulis refleksi pribadi tentang pendidikan, kegiatan belajar bersama anak-anak usia sekolah di sekitar kos di kampung Celeban, Yogyakarta, pendampingan belajar untuk anak-anak usia SD di kampung Maguwoharjo, Sleman, diskusi dan observasi desa untuk melihat potensi pengembangan suatu desa, dan pemberdayaan unit kegiatan mahasiswa dengan melakukan audiensi dengan Kopertis mengenai peluang kegiatan pengembangan diri mahasiswa dan akses studi di luar negeri.

 

 

 

 

Disela-sela pelatihan di atas, dua mahasiswa peserta eksposur lokal ke Halmahera dan Papua berkesempatan membagikan temuan-temuan mereka kepada para peserta pelatihan. Memang diakui bahwa banyak hal ataupun permasalahan yang harus ditangani serius di daerah, khususnya untuk penanganan pengelolaan alam dan pemeliharaan lingkungan. Untuk itu diharapkan, mahasiswa-mahasiswa dari luar Jawa yang telah selesai studi di Yogyakarta untuk segera kembali dan berkontribusi membangun daerahnya.(TR)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook