Jangan Biarkan Seorang Pun Terbelakang

pada hari Senin, 23 Mei 2022
oleh Trustha Rembaka, S.Th.
Oleh: Trustha Rembaka, S.Th.          

 

Jangan Biarkan Seorang Pun Terbelakang menjadi tagline program Pendidikan di Era Teknologi Maju oleh Stube HEMAT Yogyakarta. Pelatihan ini diselenggarakan di Wisma Pojok Indah, Condongcatur, Yogyakarta (20-22/05/2022), untuk menggugah mahasiswa ‘melek’ realita sosial, seperti teknologi mengambil alih pekerjaan manusia, bonus demografi, kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah; dan menginspirasi dua puluhan mahasiswa lebih adaptif terhadap kemajuan teknologi sekaligus memandu mahasiswa agar mampu bertindak sebagai agen yang menjembatani kesenjangan teknologi.

 

 

 

 

Kondisi terbelakang di sini berarti seseorang yang tidak mampu memperoleh pendidikan yang memadai, ekonomi lemah dan kualitas kesehatan rendah, sehingga tidak punya banyak pilihan untuk mewujudkan kesejahteraan hidup. Kualitas SDM perlu mendapat perhatian untuk ditingkatkan dan ini menjadi  perhatian Stube HEMAT, seperti yang disampaikan oleh Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., Direktur Eksekutif Stube HEMAT Yogyakarta.  Sebenarnya pemerintah Indonesia terus mengupayakan SDMnya memiliki kualifikasi seperti; mau bekerja keras, dinamis, terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mendapatkan kualifikasi semacam itu maka harus ada kebijakan dan peta jalan yang mengarah pada peningkatan kualitas SDM. Namun perlu diakui bahwa banyak tantangan berat menghadang, dari dunia pendidikan terjadi kesenjangan karena kondisi geografis, fasilitas pendidikan satu daerah dengan daerah lain, kualitas anak didik dan dukungan keluarga, budaya masyarakat setempat dan keterjangkauan akses komunikasi dan teknologi.

 

 

Mengelola lembaga pendidikan swasta saat ini menghadapi tantangan berat, hal ini terungkap ketika Dr. Drs. Mulyo Prabowo, M.Pd. dari Yayasan BOPKRI menyampaikan bahwa jumlah sekolah dan anak didik  terus berkurang, namun demikian yayasan terus memperjuangkan eksistensi sekolah, melatih SDM dan mempromosikannya. Sementara Endah Nurshinta, M.Pd., kepala sekolah SMA BOPKRI Banguntapan menceritakan tantangan sekolah dengan input SDM anak didik yang terbatas, sehingga perlu extra pendampingan kepada mereka, menaikkan branding sekolah dan memperluas promosi sekolah. Demikian pula gereja merespon kemajuan teknologi untuk melayani jemaat dengan menyediakan ibadah secara streaming, persekutuan doa online, persembahan cashless dan peningkatan ekonomi jemaat dengan pemasaran melalui grup media sosial, bahkan membantu gereja lain untuk meningkatkan kemampuan teknologinya, dinamika pelayanan gereja ini dipaparkan oleh Pdt Bambang Sumbodo, M.Min, pendeta emeritus GKJ Mergangsan, sekaligus pengurus Stube HEMAT.

 

 

Bagi mahasiswa, kemajuan teknologi menjadi tantangan, mau tidak mau kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi, memanfaatkan gadget dan aplikasi untuk studi sangat diperlukan. Mahasiwa memetakan aplikasi yang ‘support’ kuliah bersama Aditya Wikan Mahastama, M.Cs., dosen teknologi informasi UKDW. Dari proses terungkap bahwa aplikasi desain, editing video, statistik dan aplikasi berkaitan studi teologi menjadi kebutuhan para peserta. Selanjutnya, para peserta membagi dalam kelompok untuk mengenal tentang aplikasi-aplikasi tersebut.

 

 

 

 

Berbicara pendidikan tidak bisa lepas dari Ki Hadjar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan keutuhan pengetahuan dan perilaku.  Keutuhan itu bisa dicapai dengan pendekatan kesenian yang dikembangkan dalam metode Sariswara. Peserta pelatihan mengenal Metode Sariswara bersama Cak Lis, nama akrab Listyo H Kris (Laboratorium Sariswara). Metode Sariswara merupakan metode belajar melalui kesenian yang menggabungkan pengalaman indra, sastra, gerak dan memuat nilai-nilai, ajaran kebaikan yang dikemas menjadi sebuah cerita, permainan atau ritus yang akan memunculkan sikap gotong royong, toleransi, kecintaan terhadap sesama dan alam. Kemudian para peserta diminta menggali permainan-permainan di daerah mereka dan mempraktekkannya sebagai upaya melestarikan nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya. Para peserta juga diajak menyaksikan film bertema pendidikan, seperti Flying Colour, Hichki dan Freedom Writers untuk memahami pendidikan holistik, bahwa pendidikan tidak saja berkaitan antara anak didik dan guru, tetapi juga sekolah dan kebijakannya, kondisi keluarga dan lingkungan yang kondusif. Masing-masing harus menyadari posisi dan tanggungjawabnya untuk bekerjasama membentuk ekosistem yang menunjang keberhasilan proses pendidikan.

 

 

Pelatihan ini membuat Eufemia Sarina, salah satu peserta yang belum memanfaatkan teknologi secara penuh, tergerak menjadi lebih aktif memakai teknologi untuk mencari informasi berkait pariwisata, sesuai studinya. Ia juga ingin membantu teman-temannya mengoperasikan aplikasi editing video. Menjembatani kesenjangan teknologi tak selalu menunggu sampai seseorang memiliki pengetahuan tinggi, tetapi dimulai dari kemauan berbagi keterampilan berbasis teknologi. Siapkah kita tidak membiarkan seorang pun terbelakang?***

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook