Ragam Tanaman Pelindung Mata Air

pada hari Rabu, 15 Desember 2021
oleh Trustha Rembaka

Hasil Pendalaman Program Water Security

 

Oleh Trustha Rembaka.          

“Tak kenal maka tak sayang”, pepatah yang sering terucap untuk mengkiaskan sesuatu yang belum familier sehingga perhatian pun minim. Ini berkait minimnya pengenalan tanaman yang bermanfaat sebagai pelindung mata air. Gagasan di atas muncul dari diskusi mahasiswa dengan topik Water Security Stube HEMAT Yogyakarta, bahwa perubahan iklim sudah terjadi, bahkan dirasakan di Indonesia, terlihat dari meningkatnya kasus kekeringan maupun peningkatan curah hujan yang melanda di berbagai wilayah yang mengakibatkan banjir, erosi dan tanah longsor. Kejadian-kejadian ini seharusnya membuat kita harus lebih waspada dan mawas diri, melakukan upaya-upaya menabung air dengan melindungi sumber mata air dengan mengelola kawasan resapan supaya aliran (run-off)  air permukaan dapat diredam, bahkan bisa ditahan, yang selanjutnya meresap ke dalam tanah. Ada beberapa tanaman yang bermanfaat sebagai pelindung mata air, antara lain:

 

Aren, Enau (Arenga pinnata)

 

 

Pohon aren kurang mendapat perhatian orang karena tumbuh liar di hutan, lereng dan tampilannya yang kurang menarik dan bahkan terkesan kotor karena tampilan kulit permukaannya. Namun sebenarnya memiliki manfaat dari akar, batang, ijuk, buah, daun, dan bunga. Aren bisa tumbuh di berbagai jenis tanah, tidak membutuhkan perawatan khusus, toleran dengan tanaman lainnya dan perakaran yang kuat sehingga cocok ditanam di lahan marjinal atau sebagai tanaman konservasi yang bernilai ekonomis. Perakaran pohon aren cukup dalam dan melebar sehingga bisa mencegah erosi atau longsor.

 

Bambu Petung (Dendrocalamus sp. Poaceae)

 

 

Tanaman bambu memiliki akar rimpang yang sangat kuat sehingga mengikat tanah dan air dengan baik. Secara ekologi tanaman bambu berfungsi meningkatkan volume air dalam tanah, konservasi lahan dan perbaikan lingkungan. Bambu mampu menjaga keseimbangan lingkungan karena sistem perakaran serabutnya bermanfaat untuk memproteksi tanah dari erosi, menjaga kemampuan menyimpan air dan menahan limpasan air. Saat curah hujan tinggi tanah di sekitar rumpun bambu tidak jenuh air bahkan sangat cepat diresapkan dalam waktu yang singkat. Fungsi lainnya adalah penyerapan karbondioksida.

 

Beringin (Ficus Benjamina)

 

 

Beringin merupakan tumbuhan dari keluarga Ficus yang sering dimanfaatkan sebagai tumbuhan peneduh dan konservasi air karena perakarannya dapat menyimpan air dengan baik sehingga sering ditanam di sekitar kawasan sumber air. Beringin termasuk jenis pohon yang  mudah tumbuh dan beradaptasi dengan tempat tumbuhnya, dari tanah liat, berpasir, basah bahkan kawasan karst. Perakaran beringin mampu menembus lapisan batuan dan celah batu, dengan akar di dalam tanah dan akar gantung yang membentuk jaringan yang terkoneksi sehingga memperkuat struktur tumbuh beringin.

 

 

Salah satu jenis beringin lainnya adalah Bulu atau Beringin Pencekik (Ficus annulata). Pohon ini dinamakan beringin pencekik karena keunikannya, ketika batangnya menempel pada tanaman lain ia akan membelit bahkan lama kelamaan mencekik tanaman yang ditumpanginya hingga mengering bahkan mati. Ini yang menyebabkan pohon bulu ini mendapat label beringin pencekik.

 

Gayam (Innocarpus fagifer)

 

 

Gayam merupakan tanaman multimanfaat yang telah menjadi tumbuhan langka. Salah satu keunggulan tanaman gayam adalah sistem perakarannya, dengan karakteristik kekar dan padat sehingga tidak mudah rubuh, menjadi penahan banjir, dan erosi bantaran sungai. Akar gayam dapat menembus tanah sehingga berfungsi sebagai biopori sehingga air cepat meresap. 

 

Trembesi (Albizia saman)

 

 

Tumbuhan ini populer sebagai tanaman peneduh namun perakarannya yang menjangkau kawasan yang luas membuatnya kurang disukai karena bisa merusak bangunan di sekitarnya. Trembesi memiliki kemampuan menyerap air tanah dengan kuat bahkan air mentes dari tajuknya. Keunikannya daunnya sensitif terhadp cahaya dan menutup otomatis ketika cahaya meredup, sore atau mendung. Pohon ini dikenali dengan dahan pohon yang membentuk seperti payung, bahkan lebarannya bisa melebihi tinggi pohonnya. Selain memiliki kemampuan konservasi air, trembesi juga mampu menyerap karbondioksida dengan baik dibanding pohon lainnya, sehingga pohon ini ditanam secara massif di sekitar jalan raya untuk menurunkan konsentrasi karbondioksida.

Sungguh menakjubkan mengungkap kekayaan flora di Indonesia yang memiliki manfaat konservasi air sehingga keberadaan air dan sumber-sumber air akan terus lestari, sebagai usaha pelestarian air yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bertindak? Kalau tidak sekarang, kapan dimulai? Salam lestari.***


  Bagikan artikel ini

Tanam Pohon & Lestarikan Daerah Tangkapan Air (Eksposur ke Komunitas Resan, Gunungkidul)

pada hari Minggu, 12 Desember 2021
oleh Trustha Rembaka, S.Th
Oleh Trustha Rembaka, S.Th.          

Pepohonan menempati bagian penting dalam daur hidrologi untuk menjaga eksistensi air. Melalui akar pepohonan, air hujan akan meresap ke dalam tanah dan tersimpan sebagai cadangan air tanah. Semakin sedikit pepohonan semakin sedikit potensi air hujan yang ‘tertangkap’ dalam tanah dan semakin rendah kemampuan resap air ke dalam tanah. Ini mengakibatkan suatu daerah cenderung gersang dan kehilangan daya serap tanah, dan saat musim kemarau, tidak ada lagi cadangan air yang bisa dimanfaatkan.

 

 

Namun tidak banyak orang paham peran pohon dalam siklus hidrologi sehingga cenderung abai terhadap keberadaan pepohonan, terlebih pepohonan yang memiliki fungsi konservasi air seperti beringin dan gayam yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi dibanding tanaman budidaya lain seperti sengon, jati, akasia dan mahoni. Penyadaran terhadap konservasi air perlu terus digalakkan di masyarakat sampai bisa terwujud gerakan bersama, sebagaimana yang dilakukan Stube HEMAT Yogyakarta dalam program Water Security. Program ini memperkaya pengalaman mahasiswa melakukan aksi penanaman pepohonan yang berfungsi untuk konservasi air, bersama Komunitas Resan Gunungkidul di bantaran sungai Tanjung, desa Bleberan, kecamatan Playen, Gunungkidul (Sabtu, 11/12/2021).

 

 

 

 

 

Para mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta mendalami filosofi pergerakan Komunitas Resan, pemetaan wilayah geologi Gunungkidul, pengenalan jenis tanaman dan penanaman pohon di bantaran sungai. Edi Padmo, pionir Komunitas Resan memaparkan keprihatinannya, “Saya merasa prihatin atas hilangnya mata air-mata air di Gunungkidul dan berhasrat memperhatikan kembali sumber air-sumber air di kawasan Gunungkidul. Gerakan ini menjadi ruang aksi orang-orang dari beragam latar belakang yang peduli kelestarian air. Saya yakin, perlahan namun pasti, semakin banyak kawasan mata air, tangkapan mata air, dan hutan desa mendapat ‘sentuhan’ komunitas Resan bersama kelompok masyarakat setempat”. Sedangkan Irsyad Martias, dari Antropologi Universitas Brawijaya memaparkan realita permasalahan air di Gunungkidul belum menjadi prioritas pembangunan daerah, terbukti dengan perhatian pembangunan diarahkan pada pengembangan kawasan wisata dan sarana jalan dibandingkan pembangunan instalasi penyediaan air bersih yang berkualitas dan akses untuk mempermudah masyarakat mendapatkannya. Sedangkan Budi, praktisi pertanian organik memandu mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta mengidentifikasi jenis-jenis tanaman yang memiliki fungsi konservasi air, seperti Nyamplung, Gayam, Beringin, Loa dan beberapa jenis lainnya. Ia juga memaparkan bahwa masing-masing anggota komunitas berperan untuk membuat pembibitan pohon.

 

 

Dalam aksi penanaman pohon di kawasan bantaran sungai Tanjung, mahasiswa Stube HEMAT tidak canggung melebur bersama para peserta aksi yang berasal dari beragam elemen masyarakat seperti anggota komunitas, masyarakat dan perangkat desa setempat, dan jejaring komunitas di sekitar Gunungkidul. Mereka menyusuri bantaran sungai, menyeberang sungai, mencangkul lubang tanam, menanam bibit tanaman dan memasang tiang penyangga. Kolaborasi ini kian berkesan dengan pertukaran pengalaman berkaitan permasalahan air di berbagai daerah asal mahasiswa, seperti banjir yang terjadi di Sintang, Kalimantan Barat, kesulitan mengakses air bersih saat musim kemarau di Manggarai dan Sumba.

 

 

 

 

 

Benarlah bahwa kepedulian terhadap air tidak hanya wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan, meski nampak sederhana tindakan penanaman pohon akan memberikan manfaat dan menjaga kelestarian air. Saatnya anak muda mahasiswa mengambil bagian dalam aksi bersama untuk melestarikan air.

 

 


  Bagikan artikel ini

Kerentanan Ketersediaan Air di Nias

pada hari Kamis, 9 Desember 2021
oleh Arviani Zalukhu

Oleh: Arviani Zalukhu.     

 

 

 

Satu hal penting yang mesti dimiliki oleh anak muda adalah kepekaan terhadap masalah di sekitarnya. Ada beragam cara untuk mengenalnya, salah satunya adalah dengan mengikuti kegiatan yang mengenalkan anak muda dengan isu-isu sosial di sekitarnya. Ternyata ini saya temukan ketika saya mengenal Stube HEMAT Yogyakarta, sebagai tempat bagi mahasiswa untuk melihat sekelilingnya. Berbagai kegiatan yang dilakukan menjadi bagian dari kenyataan yang terjadibahkan saya sendiri tidak menyadarinya, seperti satu program semester ini tentang Ketahanan Air. Dari beberapa kegiatan yang saya ikuti, saya menyadari akan pentingnya air baik dari kualitas, ketersediaan, maupun isu-isu lain yang berkaitan dengan air.

 

 

 

 

Saya Arviani Benedicta Zalukhumahasiswa Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Daerah (APMD)asal Nias Utara provinsi Sumatera Utara. Pulau Nias merupakan salah satu pulau yang berada di sisi barat Sumatera yang menyimpan cerita tentang budaya, adat istiadat dan keunikan alam dan masyarakatnya. Keindahan alam Nias bisa terlihat dari keragaman panorama pantai dan ombak lautnya. Namun, bukan berarti Nias tidak memiliki masalah yang bisa mengancam kehidupan masyarakatnya. Dalam tulisan ini saya akan membahas permasalahan tentang air yang ada di daerah saya, berdasarkan salah satu berita yang saya baca dengan judul, “Air Kerap Macet, Direktur PDAM Tirtanadi Cabang Nias Selatan Akui Kerusakan Mesin Pompa.” 

 

 

Berdasarkan berita tersebut, permasalahan yang terjadi di Nias ialah sulitnya masyarakat mendapatkan air bersih secara lancar karena suplai air dari PDAM kerap macet, khususnya di daerah Nias Selatan. Kemacetan ini disebabkan karena mesin pompa air yang sering rusak, kebocoran pipa, dan kurangnya kapasitas penampungan air. Yang paling menjadi masalah adalah dari empat unit mesin pompa yang tersedia hanya satu unit yang dapat beroperasi. Jadi, ketika ada masalah yang terjadi pada air, akan sangat menggangu keberlangsungan hidup masyarakat. Seperti permasalahan yang ada di Nias Selatan, masyarakat mengalami krisis air untuk kebutuhan sehari-hari, mereka sulit mengakses air bersih yang digunakan untuk air minum maupun air dalam kebutuhan yang lain.

 

 

Sebuah masalah pasti ada solusinyaPermasalahan kurangnya kapasitas penampungan air, bisa dilakukan  penambahan infrastruktur khusus penampungan air maupun peningkatan SDM untuk pemeliharaan alat-alat yang ada. Memang harus diakui pemerintah sendiri memiliki prioritas pembangunan yang lebih urgent atau berdampak langsung kepada masyarakat, misalnya pembangunan jalan yang dapat menganggu kelancaran aliran air, atau karena terjadi kebocoran pada pipa-pipa lama. Selain pihak PDAM, sebenarnya masyarakat bisa memanfaatkan sumber daya yang adacontohnya air hujan. Ketika air hujan ditampung dan masyarakat melakukan filtrasi dan elektrolisis maka air tersebut bisa dikonsumsi.

Pengalaman baru dan terbukanya wawasan ini muncul setelah saya mengikuti kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta yang mengajak mahasiswa belajar secara langsung di instalasi pengolahan limbah cair, instalasi pengolahan air sungai menjadi air minum dan instalasi pengolahan air milik PDAM Kota Yogyakarta. Mari teman-teman muda mulai pedulilah dengan permasalahan sosial yang ada di sekitarmu. ***


  Bagikan artikel ini

Krisis Air Bersih di Wilayah Sukoharjo

pada hari Rabu, 8 Desember 2021
oleh Ina Nur Azizah
Oleh: Ina Nur Azizah.     

 

Saya Ina Nur Azizah Fajar Aryani, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta asal dari Sukoharjo, salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini terletak sekitar 10 km sebelah selatan Surakarta dan berbatasan langsung di sebelah utara dengan kota Surakarta, di sebelah timur dengan kabupaten Karanganyar, dan di selatan dengan kabupaten Wonogiri dan kabupaten Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta). Sekilas dari kacamata awam, kabupaten ini termasuk beruntung karena pembangunan sarana dan prasarananya cukup lancar dan wilayahnya cukup berkembang dengan slogan MAKMUR (Maju Aman Konstitusional Mantap Unggul Rapi).

 

 

 

 

Namun, bukan berarti Sukoharjo jauh dari krisis yang bisa mengancam masyarakat, seperti krisis air bersih yang baru-baru ini terjadi. Dilansir dari Suara Merdeka Solo (https://solo.suaramerdeka.com/solo-raya/pr-051142734/lima-desa-di-sukohaerjo-mulai-kesulitan-air-bersih-bpd-gelontor-121-tangki-air, terdapat lima desa di Sukoharjo yang mulai kesulitan air bersih. Ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelontorkan 121 tangki air. Air merupakan sumber kehidupan setiap makhluk hidup, artinya, keberadaan air harus dijaga kelestariannya. Lima desa yang mengalami krisis air bersih adalah desa Tawang di Kecamatan Weru, desa Kamal, Puron dan Ngasinan di kecamatan Bulu, dan Desa Kedungjambal di kecamatan Tawangsari. Lantas bagaimana bisa wilayah Sukoharjo mengalami krisis air bersih, apa penyebabnya? Apakah wilayah-wilayah tersebut akan terus mengalami masalah yang sama? Apakah dropping air menjadi solusi yang terbaik?

Krisis air bersih yang terjadi disebabkan oleh kekeringan. Tiga kecamatan tersebut menjadi langganan kekeringan saat kemarau. Pemerintah pun melalui BPBD Kabupaten Sukoharjo (setelah ada pengajuan bantuan) langsung menyalurkan 121 tangki dengan kapasitas 4.000 liter/tangki. Dari hasil pemantauan, desa-desa di wilayah ini sudah banyak yang bisa mengatasi krisis air bersih dengan menggali sumur-sumur, setidaknya enam titik sumur yang dibuat.

 

 

Krisis air bersih menjadi hal yang urgent. Solusi pemerintah dengan memberikan bantuan air bersih memang sudah semestinya harus dilakukan dan masyarakat berhak mendapatkan kehidupan yang layak di suatu wilayah. Namun, permasalahan tidak selesai begitu saja. Diakui bahwa wilayah yang mengalami krisis air bersih semakin berkurang dengan menggali sumur untuk mendapatkan air. Air yang digali dari sumur merupakan air tanah. Itu artinya, mereka sama saja membuat permasalahan baru. Lepas dari krisis air bersih, bisa saja dikemudian hari muncul permasalahan lain, seperti rusaknya permukaan tanah ataupun siklus hidrologi. Permasalahan lainnya adalah habisnya cadangan air yang berguna untuk menyeimbangkan tekanan permukaan tanah yang menyebabkan longsor ataupun penurunan permukaan tanah. Hal-hal seperti ini seharusnya perlu mendapat perhatian.

 

 

Dari situasi di atas, muncul dari pengalaman interaksi saya mengikuti kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta tentang Water Security, dimana mahasiswa melihat realita masalah air di sekitarnya dan mencoba menemukan gagasan sebagai kontribusi mahasiswa terhadap realitas masalah tersebut. Saya sendiri memiliki gagasan solusi yang bisa diambil adalah selain pemerintah memberikan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, penting juga memberi penyuluhan bagaimana mengolah dan memanfaatkan air secara bijak, terlebih saat ini sudah masuk musim penghujan. Ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dan kelestarian air tanah. Untuk masyarakat yang sudah terlanjur menggali sumur juga perlu dibekali pengetahuan tentang dampak negatif dari penggalian sumur ini, sehingga warga bisa beralih ke PDAM atau ke sumber-sumber air di permukaan.***


  Bagikan artikel ini

Huru-Hara Mencari Air di Musim Kemarau

pada hari Selasa, 7 Desember 2021
oleh Patrisia Jabur

 

Oleh Patrisia Jabur.    

 

 

 

 

Realita tentang air dan problematikanya perlahan menguat dalam diri saya. Pada awalnya saya tahu permasalahan tentang air tetapi tidak menggeluti lebih dalam. Perhatian ini muncul ketika saya mengikuti kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta yang mendorong peserta termasuk saya melihat kembali permasalahan berkaitan air khususnya di kampung halaman. Saya, Patrisia Oktaviani Jabur dari pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya di kabupaten Manggarai Timur. Saat ini saya sedang kuliah di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta jurusan Ilmu Komunikasi.

 

 

 

Berita tentang air kerap kali terjadi mana-mana bahkan terjadi di daerah-daerah terpencil di Indonesia, salah satunya adalah di daerah Ranakolong, Manggarai Timur. Saya menemukan satu berita dengan judul “Krisis Air bersih, ada ‘Parade Jerigen di Ranakolong, Manggarai Timur” dhttps://ekorantt.com/2019/11/23/krisis-air-bersih--ada-parade-jerigen-di-ranakolong-manggarai-timur/ Berita ini menginformasikan bahwa salah satu masalah yang paling sering dialami oleh warga Manggarai Timur Khususnya warga Desa Ranakolong adalah krisis atau kekurangan air bersih. Hal ini sering terjadi, dan lebih parah lagi saat musim kemarau, debit air akan akan berkurang. Saat musim kemarau warga di sana harus mengumpulkan tampungan air seperti jerigen sebanyak-banyaknya untuk menimba air di tempat yang menyediakan air atau sumber air. Untuk mendapatkan air pun masyarakat harus menampung air untuk kebutuhan sehari-hari dan persediaan jangka panjang.

 

 

 

Sebagai penduduk kabupaten tetangga, saya mengamati bahwa sebenarnya ketersediaan air di daerah ini bisa tercukupi andai saja masyarakat di sana tidak menebang pohon sembarangan yang berakibat  berkurangnya sumber mata air dan kekeringan terus terjadi. Di sisi lain, pemerintah juga perlu lebih  memperhatikan masyarakat dalam masalah ketersediaan air. Berdasarkan berita di atas saya menanggapi bahwa memang tidak salah masyarakat di Desa Ranakolong mengeluh berkaitan dengan air karena sekarang sangat sulit untuk memperoleh air bersih apalagi dengan pemahaman masyarakat yang minim berkaitan proses pengelolaan dan penyediaan air bersih itu sendiri, selain lambatnya respon pihak yang berkompeten dalam menangani masalah pipa atau bak penampungan yang rusak.

Dari keadaan ini saya memahami bahwa pertamaperlu menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi menebang hutan atau pohon sembarangan, karena keberadaan pepohonan sebagai syarat utama terkumpulnya air atau sumber-sumber mata air. Kedua, masyarakat perlu mendapat sosialisasi pentingnya penanaman kembali hutan yang telah ditebang, dan yang ketiga, pemerintah harus turut membantu  ketersediaan air di daerah Desa Ranakolong, baik dengan gotong royong menanam pohon maupun menyiapkan bak penampung air yang cukup besar untuk mencukupi kebutuhan air warga sehingga saat musim kemarau tidak lagi terjadi krisis air.

 

 

Kesadaran terhadap realitas permasalahan air bersih bisa terjadi di mana pun, termasuk di daerah di mana saya berasal. Kesadaran akan suatu permasalahan tidak muncul otomatis, tetapi perlu pemantik untuk menumbuhkan kesadaran yang menghubungkan seseorang dengan realitas sosial yang ada dan mendorong seseorang berpartisipasi memperhatikan lingkungannya. Terimakasih Stube HEMAT yang telah membuka mata saya melihat realita permasalahan air. ***


  Bagikan artikel ini

Krisis air bersih: haruskah terus berulang? (Perjuangan Mencari Air Bersih di Beamese, Manggarai)

pada hari Senin, 6 Desember 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Oleh Kresensia Risna Efrieno.    

 

 

Siapa yang tidak membutuhkan air? Yah, tentu saja setiap kita pasti membutuhkan air, bahkan melakukan apa pun demi mendapatkan pasokan air. Berbicara tentang air apa yang kita pikirkan tentang air? Minum? Masak? Atau Mandi? Tahukah kita bahwa pada faktanya tidak setiap orang bisa memperoleh air untuk keperluan sehari-hari dengan mudah. Ini artinya masih ada sebagian masyarakat yang mengalami krisis akan air, khususnya air bersih. Tulisan ini merupakan ekspresi gagasan yang muncul dari rangkaian kegiatan pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta tentang Water Security, dimana para mahasiswa sebagai peserta melihat kembali pentingnya air dan problematika, dihubungkan dengan suatu berita atau kejadian yang berkaitan dengan air. Dari salah satu media online yang memberitakan realita krisis air bersih di masyarakat, https://kumparan.com/florespedia/warga-desa-beamese-manggarai-alami-krisis-air-bersih-1uRK3ysD17Y dengan judul Warga Desa Beamese, Manggarai, Alami Krisis Air Bersih.

 

 

Berdasarkan berita di atas, bahwa penduduk desa Beamese mengalami kesulitan memperoleh air apalagi ketika musim kemarau yang panjang. Inilah yang menjadi bukti bahwa masih ada penduduk yang kesulitan untuk memperoleh air. Mereka mengalami situasi ini hampir setiap tahun di saat musim kemarau. Kerusakan pada bak penampung air yang mereka miliki menjadi penghambat mendapatkan air bersih. Karena masalah ini akhirnya mereka sering berebutan untuk mendapatkan air, karena mata air memiliki debit kecil, juga harus berbagi air minum dan kebutuhan pertanian. Fenomena yang terjadi di Bea Mese ini menjadi salah satu masalah yang cukup memprihatinkan. Kenapa? Karena masyarakat harus menimba air secara bergilir bahkan ada yang harus datang malam hari untuk mendapatkan air dan tidak didahului penduduk lainnya. Beamese sendiri merupakan satu dari dua puluh tujuh desa di kecamatan Cibal kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur yang memiliki kondisi geografis berbukit-bukit.

 

 

Air yang menjadi kebutuhan dasar manusia memang terbatas, dari kualitas maupun kuantitas. Keterbatasan ketersediaan air baik kualitas maupun kuantitas menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan manusia akan air khususnya air bersih, belum lagi soal kemampuan masyarakat mengakses air dan apakah air sudah terdistribusi merata ke setiap lapisan masyarakatTak heran jika masyarakat Beamese meminta menambahkan satu sumur lagi untuk menambah pasokan air kebutuhan harian mereka.

 

 

Dari masalah di atas sebenarnya sumur bukan satu-satunya solusi bagi warga Beamese untuk mendapatkan air. Perlu ada edukasi yang membuka pemikiran masyarakat bahwa penting sekali untuk mengetahui dari mana saja mereka bisa memperoleh air. Dalam hal ini masyarakat perlu mendapat edukasi dan arahan dalam bentuk apapun agar bisa mendapatkan air meski di musim kemarau sekalipun. Ini bisa dimulai dengan pengenalan tentang pentingnya penanaman pohon yang bermanfaat untuk konservasi air sebagai upaya memperkuat kawasan tangkapan air di sekitar mata air. Selain itu, masyarakat didorong untuk menampung air hujan saat musimnya dan mempersiapkan fasilitas yang memadai seperti bak penampung air. Menurut saya ini cocok untuk masyarakat agar bisa mendapat pasokan air yang cukup saat musim kemarau, sehingga kebutuhan air bisa terpenuhi serta tidak semena-mena menguras air dalam tanah. Pemerintah menjadi motor penting dalam menanggulangi masalah ini agar tidak menjadi peristiwa yang berulang setiap tahun.

 

 

Pemikiran tentang masalah, analisa dan problem solving ini saya temukan dalam pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta, terlebih dengan jurusan kuliah saya di komunikasi saya bisa belajar melihat permasalahan, melakukan analisa dan menyajikan gagasan-gagasan secara baik, dan harapannnya ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan ini bisa bermanfaat di kampung halaman saya, Manggarai Nusa Tenggara Timur.


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook