pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh Stube HEMAT
VIDEO UNTUK SUARA KEMANUSIAAN

 

Kegiatan studi sosial SMPK BPK Penabur Jakarta

 

saat belajar tentang kekuatan video

 

di Lembaga Kampung Halaman, Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

Banyak sekali cerita dan kisah dalam setiap jejak kehidupan. Ada berbagai kisah, sedih, pergolakan, ketidakadilan, bahagia, atau kisah kegeraman atas pribadi seseorang maupun kelompok. Saat ingin menjerit dan melawan ketika melihat kisah itu, kita sadar, apalah arti sebuah jeritan maupun perlawanan jika hanya sesaat lalu lenyap? Maka dibutuhkan sebuah metode jitu untuk menggaungkan kisah yang terjadi dalam kehidupan agar semua orang dapat mendengar.

 

 

 

Video Sebagai Pilihan Alternatif

 

Dalam upaya menyuarakan sebuah harapan yang dinilai penting, misalnya tentang “hubungan antara mahasiswa perantau dengan masyarakat setempat”. Maka media elektronik menjadi pilihan alternatif seperti dengan membuat video. Mengapa video? Karena harapan dan pesan dari sebuah kejadian dapat diabadikan dan disuarakan kepada semua orang, terlebih perkembangan teknologi sudah membuat masyarakaat Indonesia begitu lekat dengan dunia virtual, lebih-lebih video bisa mudah dan cepat dibuat kemudian diunggah di berbagai jejaring sosial seperti youtube misalnya.

 

 

 

Tahapan membuat Video

 

 

Ima, salah seorang fasilitator dari Kampung Halaman menjelaskan bahwa untuk membuat sebuah video diperlukan skenario naskah yang jelas dan rapi, supaya hasilnya dapat dimengerti oleh semua orang dari berbagai kalangan. Ada empat langkah yang harus diperhatikan yang meliputi; pengalaman dekat, tujuan, penting dan genting serta merdeka.

 

 

 

Pengalaman dekat ialah konteks yang dijumpai sehari hari oleh setiap orang karena video yang baik diangkat berdasarkan konteks sehari-hari yang memiliki nilai bersama ataupun yang menimbulkan sebuah keprihatinan, sehingga patut untuk disuarakan. Ketika video dibuat perlu diingat apa tujuan utamanya. Topik dan pesan dalam video harus jelas sehingga dapat dimengerti dan menggerakkan/menyentuh pemirsa. Penting dan genting dalam sebuah video harus berdasarkan sebuah kebutuhan yang benar-benar penting untuk dipublikasikan, objektif dan tidak boleh subjektif. Video dibuat untuk kepentingan bersama, harapan bersama dan untuk kebaikan bersama. Unsur merdeka dipahami bahwa video dibuat harus dengan penuh kemerdekaan, baik dalam ekspresi, naskah skenario, pembicaraan, pengumpulan data maupun dalam wawancara.

 

 

 

Kekuatan di balik video

 

Video berperan menciptakan ruang dialog. Dari proses pemetaan tujuan, pemetaan sosial, skenario pembuatan video hingga wawancara keberbagai pihak pihak yang terkait itu menjadi celah dialog. Dialog bisa membuka hal-hal yang dianggap bukan sebuah masalah, bisa dipahami bahwa sebenarnya ada permasalahan yang masih terpendam. Harapan yang dikemas dalam video ini dapat membuka kevakuman yang terjadi dalam masyarakat.

 

 

 

 

 

Mari siapkan videomu untuk menyuarakan keadilan, kebersamaan dan kesetaraan. (Piaf)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh Stube HEMAT
MENJADI SAHABAT

 

BAGI SESAMA

 

 

 

 

 

 

 

 

Seorang laki-laki gila berkeliaran menyambut kedatangan rombongan siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur Jakarta di Wisma Pojok, Jl. Kubus, Condong Catur Yogyakarta. Sebuah pemandangan yang tidak sedap tentunya. Celana kumal pendek berwarna coklat, kaos kotor sobek dengan kepala bermahkotakan tas plastik kresek, menjadi balutan tubuh orang gila itu.

 

 

 

 

 

Bertemu dengannya, sungguh menjadi sesuatu yang dihindari semua orang. Lebih-lebih tidak diketahui pasti apakah orang gila tersebut aman, atau tiba-tiba bisa mengamuk dan membahayakan orang yang ada di sekitarnya. Semua mata melihat padanya saat lewat gerbang masuk wisma. Ada yang mulai menggoda orang gila itu, ada yang iseng melempar batu, tetapi ada juga yang memberinya roti dan segelas aqua.

 

 

 

Itulah sajian awal kegiatan studi sosial yang dilakukan siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur tahun ini yang mengambil tema “Menjadi Sahabat Bagi Sesama”. Bersama mahasiswa-mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta, mereka akan melihat, belajar dan berinteraksi dengan masalah-masalah sosial di Yogyakarta. Kunjungan ke Yayasan Kampung Halaman, Sayap Ibu Anak, Sayap Ibu Difabel, Pamardi Putra, Rumah Dome, Topeng Bobung, Batik Jumput, Wayang Sodo, dan Blangkon menjadi agenda kegiatan mereka selama di Yogyakarta. Masing-masing tempat kunjungan mempunyai kisah dan pergumulannya yang diharapkan mengajarkan sesuatu untuk mengasah kepekaan hati serta mempertajam jiwa anak-anak yang masih muda ini menjadi sahabat dan berdamai dengan sesamanya.

 

 

 

 

 

 

Hiruk pikuk Jakarta dan permasalahan metropolitan sejenak ditinggalkan untuk merasakan ketenangan tinggal bersama keluarga-keluarga di Desa Bejiharjo, Gunung Kidul, Yogyakarta. Melihat hidup keseharian masyarakat di sana dan ikut beraktivitas keluarga yang ditinggali menjadi satu aktivitas menarik buat mereka. Gua pindul yang menjadi satu ikon wisata di desa ini, tak luput dari kunjungan mereka. Betapa anak-anak ini diajak untuk langsung melihat dan bagaimana mereka diajarkan bersyukur atas hidup yang mereka miliki dan kuasa Allah atas ciptaannya. Keramahtamahan Pendeta GKJ Bejiharjo beserta majelis dan seluruh jemaat GKJ Bejiharjo yang bersedia membuka pintu bagi siswa-siswi untuk menjadi bagian kehidupan, meski hanya semalam, sungguh menjadi bukti kesatuan tubuh Kristus dalam jemaatnya yang tersebar di mana-mana.

 

 

 

Kumpulan pengalaman selama studi sosial di Yogyakarta, dibagikan dalam sebuah presentasi sederhana yang menarik oleh anak-anak tersebut. “Meskipun capek, tapi nggak terasa, karena kami senang mengikuti kegiatan ini”, tutur salah satu siswa. Pendeta Sundoyo yang membuka dan menutup ibadah menuturkan, “Apa saja yang ditemui dalam studi sosial ini merupakan cerminan kehidupan bangsa Indonesia yang masih banyak pergumulan dan perjuangan, sehingga jadilah bagian yang berfungsi memperbaiki keadaan tersebut, dengan menjadi sahabat bagi sesama dimanapun berada.”

 

 

Dalam acara penutupan itu, seorang siswa meminta maaf telah melempar batu pada orang gila yang menyambut kedatangan mereka, yang ternyata aktivis Stube HEMAT Yogyakarta yang mencoba memancing kepekaan atas lingkungan dan situasi yang ada. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh Stube HEMAT
BANGGA KARYA SENDIRI

 

 

 

 

 

 

Batik merupakan salah satu kekayaan seni warisan budaya masa lampau yang telah menjadikan Negara Indonesia ini memiliki ciri yang khas di mancanegara. Tahun 2009 Indonesia mendaftarakan batik sebagai salah satu warisan budaya di UNESCO. Perkembangan batik yang sudah menempuh perjalanan berabad-abad silam telah melahirkan berbagai jenis dan corak batik yang khas di setiap daerahnya.

 

 

 

Yogyakarta juga ditetapkan sebagai kawasan berbudaya HKI (Hak Kekayaan Intelektual) dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran serta pemahaman masyarakat mengenai peranan dan kontribusi kekayaan intelektual dalam perekonomian, kebudayaan dan kemajuan masyarakat di wilayah Yogyakarta.

 

 

 

Dengan ditetapkan menjadi kawasan berbudaya HKI maka masyarakat Yogyakarta, khususnya di desa Bejiharjo, Kabupaten Gunungkidul juga ingin melestarikan salah satu budaya Indonesia yaitu batik. Di desa Bejiharjo khususnya warga jemaat GKJ Bejiharjo menyambut baik hal ini dan sering mengadakan pelatihan bersama membuat batik. Kegiatan Studi Sosial yang dilakukan oleh siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur Jakarta, didampingi para mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta juga memilih batik sebagai salah satu tempat belajar mereka. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 29 Oktober 2014 dengan tujuan agar siswa-siswi sebagai kaum muda bangga akan karya batik buatan sendiri.

 

  

 

 

 

Ketika siswa-siswi bertemu dengan warga jemaat di GKJ Bejiharjo, mereka menemukan kesenangan sendiri saat mengetahui cara membuat batik, baik itu batik tulis maupun batik jumputan, bahkan bisa membuatnya sendiri. Sebelum dimulai mereka mendapatkan pengarahan dari ibu Pdt. Niluh Wahyuni, S.Th tentang batik dan jenis-jenis batik. Selanjutnya mereka dibagi menjadi dua kelompok yakni  yang membuat batik jumputan dan yang membuat batik tulis.

 

 

 

 

Sudah selayaknya kita harus bangga dan ikut mempertahankan warisan budaya ini agar tidak punah dengan bergantinya zaman. (Sofie)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh Stube HEMAT
Kerajinan Wayang Sada:
Menembus Batas Waktu!
  



Sewaktu kecil, kira-kira pada usia tengahan Sekolah Dasar, mungkin anda tergolong anak-anak pada “umumnya”. Hal umum yang dimaksud adalah anda hidup seperti murid-murid dan tidak memiliki banyak perbedaan: sama-sama hidup di lingkungan desa yang masih asri, tidak ada makanan 3b (berwarna buatan, berpengawet, dan berpenyedap), anda hanya menonton mainan modern di televisi nasional yang satu-satunya disiarkan oleh pemerintah waktu itu, anda hanya bisa menonton iklan makanan yang seolah begitu jauh dan tidak mungkin anda makan di hari itu. Itu semua dialami oleh sebagian anak yang hidup di lingkungan desa.
 
Beranjak dewasa kreatifitas anda bergerak. Anda tidak lagi bergumul dengan angan-angan. Dengan cara-cara sederhana, anda kemudian berusaha mewujudkan apa yang anda pikirkan. Hal-hal kreatif yang anda perbuat diantaranya: membuat layang-layang sendiri, merancang mobil mini dengan kulit jeruk dan sirapan bambu yang dibentuk layaknya truk, mandi di sungai dan bermain-main layaknya penjaga pantai, atau berlagak layaknya koki dengan menggerus batu bata untuk dijadikan seolah-olah seperti makanan.
 
 
 
Sekalipun semua kreativitas itu dilakukan, perasaan “kalah” itu masih tetap ada. Anda tetap merasa tertinggal modernisasi dan tidak bangga akan kreatifitas yang dimiliki. Anda tidak mampu membeli mobil-mobilan dan hanya mampu merancang bambu-bambu menjadi truck. Anda juga tidak mampu membeli boneka dan hanya bisa membangun miniatur dari pelepah pisang! Anda prihatin dan tidak merasa menang. Sepertinya memang tidak semua orang merasa kalah seperti anda. Masih ada satu sosok yang mampu mengimbangi perkembangan jaman, yang mampu menahan gilasan jaman bahkan melawannya! Namanya Pak Marsono, beliau tinggal di Desa Bejiharjo, Gunung Kidul. Dulunya ia adalah penggembala kerbau. Ide untuk membuat wayang dari bahan alam didapatnya dari area penggembalaan kerbau.
 
Biasanya wayang dibuat dari kulit dan diukir. Wayang jenis ini kini menjadi populer dibanding dengan dulu. Harganyapun tidak lagi murah. Kecintaan Pak Marsono terhadap wayang tentulah menginspirasi dirinya untuk membangun berbagai karakter dan jenis wayang. Pada 29 Oktober 2014 yang lalu, sekelompok siswa dari SMPK Tirta Marta BPK Penabur Jakarta mengunjungi Pak Marsono. Karena sudah diinformasikan sebelumnya oleh pendamping dari Stube HEMAT, Pak Marsono memiliki waktu untuk mempersiapkan pertemuan ini dengan lebih leluasa.
 

 

Apa yang ingin ditunjukkan kepada teman-teman SMP ini? Tentu saja, sebuah kreatifitas untuk mengalahkan keterbatasan, dan setiap tantangan selalu menuntut orang-orang untuk lebih kreatif. Dari kunjungan ini, siswa-siswi belajar bersyukur dengan keadaan sekarang dan siap untuk menghargai kreativitas orang lain. Jadi, pikirkanlah sekarang siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam menghadapi tantangan jaman ini? (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh Stube HEMAT
Sayap Ibu Yang Meneduhkan

 

Studi-sosial SMPK Tirta Marta-BPK Penabur

 

 
 

 

Seorang anak berlari menuju ruang depan. Ia diikuti oleh temannya. Kejadian itu berlangsung pada jam sepuluh pagi, tepat jam sekolah dinyatakan selesai. Kelas ini berbeda dengan kelas yang lain. Sekolah ini khas. Penataan ruang dan pembangunan lantai disesuaikan agar roda mampu menggelinding. Bila anda berdiri di depan sekolah saat ini, anda akan melihat seorang anak berlari karena sudah dijemput orang tuanya. Si anak memegang erat bapaknya yang menyetir motor, melaju meninggalkan sekolah yang usai di hari itu. Sementara di sudut sekolah, tepatnya di ujung lorong, seorang anak mendorong kursi roda temannya. Ia mampu mendorong tiga kursi roda berurutan. Saat ia selesai mengantarkan satu teman ke depan maka ia kembali ke belakang untuk mendorong teman yang lain menuju depan. Terlihat ia sudah biasa melakukannya.

 

Dari depan sekolah, muncul sebuah bus besar. Tidak biasanya kendaraan itu parkir di halaman depan. Setelah berhenti beberapa saat, bus itupun terbuka. Dari dalam muncul belasan siswa dengan seragam sama menuju gedung sekolah tadi. Di tangan mereka ada sepotong roti dan sebotol aqua. Sepertinya mereka bukan warga sekolah sini. Mereka seperti berkunjung dan ingin memperhatikan lebih dekat teman-teman yang ada sekolah Sayap Ibu Difabel (cacat ganda). Rombongan itu masuk, menuju ruang kantor. Masih belum diketahui apa tujuan mereka dan siapa yang  akan ditemui.

 

 

 

Rombongan disambut oleh koordinator Sayap Ibu Difabel yang bernama Setyo. “Kami dan semua penghuni panti Sayap Ibu Difabel merasa senang menerima kedatangan ini. Tidak hanya itu, kedatangan teman-teman dari Jakarta bukan sekedar berkunjung tetapi juga ingin melihat lebih dekat, merasa-rasakan kehidupan bersama dengan teman-teman difabel di sini”, Setyo mengawali pembicaraan. Belasan remaja dari SMPK Tirta Martha BPK Penabur Jakarta ini aktif menyimak dan sesekali menulis ungkapan yang disampaikan koordinator.

 

“Anak–anak penghuni disini, memiliki cacat lebih dari satu jenis. Mereka dididik secara intensif dan diberi latihan untuk berkarya seperti layaknya siswa biasa. Apa yang bisa dilihat sekarang adalah hasil kerja keras pembina dan siswa selama beberapa waktu lamanya. Dulu, mereka belum mengerti keterampilan dan pengetahuan”, tutur Setyo. “Sekarang dapat dilihat beberapa teman yang memiliki keterbatasan mental dan fisik telah mampu untuk berkarya. Mereka mampu untuk mengerjakan bengkel sederhana. Mereka mampu mennyanyi dan memainkan beberapa alat musik di studio. Dalam microfon yang direlay ke seluruh ruangan, mereka menyuarakan berita dan bernyanyi layaknya penyiar radio. Seorang pemusik yang bermain drum telah mampu menyabet gelar drummer terbaik DIY”, tambahnya.


 

Teman-teman dari SMPK Tirta Marta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta ini termenung melihat mereka. Entah apa yang mereka bayangkan. Namun demikian, pelukan hangat dan foto bersama menandakan bahwa kebersamaan ini layak untuk diabadikan.

 

 

 

“Pendampingan kepada teman-teman SMPK ini memiliki tujuan agar pertama, mereka tahu bahwa di tempat lain terdapat anak–anak yang mampu merasa gembira dalam berbagai situasi. Apapun keadaan yang mereka miliki bukanlah halangan untuk terus menciptakan harapan dan kegembiraan bersama teman lainnya. Mereka dan kita patut bersyukur karena kegembiraan itu mampu untuk mengubahkan hidup menjadi lebih bermakna”, tutur Yohanes Dian Alpasa, salah seorang pendamping dari Stube HEMAT Yogyakarta, yang menemani perjalanan ke panti.

 

 

Siapa yang tidak senang diperhatikan? Siapa pula yang enggan memperhatikan? Dalam pergaulan ini, saling memperhatikan adalah usaha untuk menjaga agar kegembiraan itu tidak hilang dari diri kita. Tetaplah bersemangat karena mereka, yang tinggal di sekolah ini pun mampu untuk bergembira dalam berbagai kondisi. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh Stube HEMAT
Tinggal Dalam Setengah Bulatan Bola
 
 
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika membaca kalimat di atas? Pasti sedikit membingungkan bukan? Hidup tak pernah bisa diterka, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Seperti juga halnya masyarakat yang tinggga di Desa Nglepen ini. Desa ini dahulu adalah sebuah desa biasa tetapi semenjak gempa, maka desa ini berhias menjadi sebuah desa wisata.
 
Gempa bumi Jogja Tahun 2006 tidak hanya menyisakan kisah duka karena kehilangan anggota keluarga, rumah dan segala harta benda mereka tetapi juga sebuah inovasi arsitektur rumah untuk tinggal dan bangkit dari semua kesedihan guna berbenah diri menata hidup. Dari beberapa tawaran NGO terkait bentuk rumah, warga Nglepen memilih rumah dome sebagai ganti rumah mereka yang hancur. Maka dibangunlah 80 unit rumah dome (71 rumah hunian, 7 sebagai fasilitas umum) di atas tanah seluas 2,3 hektar bekas kebun tebu sebagai ganti desa Nglepen lama.
 
Dengan bergotong-royong, sebuah rumah dome dapat diselesaikan dalam satu hari. Setiap rumah dome memiliki diameter sekitar tujuh meter. Sebuah rumah dome terdiri dari 2 kamar tidur yang ditata di lantai dua, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Selanjutnya kamar mandi dan WC dibangun terpisah dan merupakan fasilitas umum yang disediakan untuk dipakai bersama dalam setiap blok yang terdiri dari enam kepala keluarga. Kebersamaan yang terjalin diharapkan bisa menjaga hubungan sosial dan kemasyarakatan di antara mereka.
 
Pajak tanah sebesar sebelas juta rupiah, selama tiga tahun pertama masih ditanggung NGO, untuk selanjutnya per-rumah dibebani pajak sebesar Rp. 137.000,-/tahun. Pembangun kompleks perumahan dome ini dimulai pada bulan September 2006 dan diresmikan pada bulan Mei 2007. Dengan model arsitektur dome, bangunan ini diklaim sebagai rumah anti gempa karena hanya memiliki kedalaman 20 cm sehingga tidak mudah roboh ketika diterjang gelombang gempa.
 
Rumah dome ini merupakan hal baru bagi adik-adik siswa SMPK Tirta Marta-BPK Penabur, Jakarta yang didampingi Loce dari Stube HEMAT Yogyakarta saat melakukan kunjungan sekaligus belajar di tempat tersebut. Sulasmono selaku fasilitator dan nara sumber dari perumahan dome Nglepen bersemangat menjelaskan kisah masyarakat setempat untuk bangkit meneruskan hidup, meski harus menyesuaikan diri tinggal di rumah dome. Tak lupa Sulasmono mempromosikan Nglepen sebagai desa wisata, khususnya arsitektur rumah.
 

 

“Memang untuk bisa ‘survive’ orang harus terbuka, fleksibel dan belajar beradaptasi dengan hal-hal baru, sebagaimana masyarakat Desa Nglepen yang tinggal di rumah setengah bola”, pesan pendamping menutup perjumpaan siang itu. (Loce)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh Stube HEMAT
Mereka Perlu Kita

 

Panti Asuhan Sayap Ibu (bagian Anak)

 

 

   



Saat kita mendengar kata Panti Asuhan, maka dalam pikiran kita terlintas sebuah tempat penampungan anak-anak  yang dibuang, ditinggalkan, dan tidak diinginkan oleh orang tua mereka. Ada banyak anak bisa ditemukan di panti asuhan dengan kisah mereka yang mengharukan. Tak ada kata yang bisa diucapkan untuk menggambarkan penderitaan anak-anak tersebut.

 

 

 

 

 

 

Satu moment yang sangat bermakna saat kami melihat langsung dan bersentuhan dengan kulit halus para bayi dan balita di panti asuhan ini, yang kisahnya dulu hanya kami dengar dari telinga ke telinga. Dua puluh sembilan Oktober 2014, didampingi tim dari Stube HEMAT Yogyakarta, adik-adik dari SMPK Tirta Marta Pondok Indah Jakarta berkunjung ke panti asuhan Sayap Ibu Yogyakarta dalam acara Studi Sosial, dengan harapan mereka bisa lebih mengerti arti kehidupan dan mau berbagi dengan orang yang membutuhkan sebagaimana tercermin dalam tema “ Menjadi Sahabat Bagi Sesama”.

 

 

 

Kunjungan ini diawali dengan pembicaraan singkat antara pendamping, adik-adik SMPK dan pengurus panti asuhan. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan kepada pengurus, hanya sekedar bertanya sejarah berdirinya panti asuhan. Bapak Jumadi juga menceritakan kisah bayi-bayi tersebut, ada yang ditemukan di tengah jalan, di depan panti asuhan bahkan ada yang diserahkan langsung oleh orang tua mereka.

 

 

 

Setelah pertemuan pengantar, kami masuk ke ruang anak. Di ruangan ini kami melihat beberapa tubuh mungil tertidur lelap di tempat tidur mereka. Mendengar suara dan gerakan kami, mata kecil itu terbuka memandangi kami, mengisyaratkan kepada kami untuk mengangkatnya dari tempat tidur itu dan memeluknya dengan penuh kehangatan

 

 

 

Adik-adik masih merasa takut untuk menggendong bayi-bayi itu dengan bantuan pendamping akhirnya beberpa anak bisa menggendong bayi-bayi itu. Sebagian adik-adik asyik bermain dengan balita dan bayi-bayi yang lain. Pendamping dan beberapa anak bertanya kepada pengasuh tentang bayi-bayi tersebut.

 

 

 

Berapa jumlah bayi dan balitanya? Siapa nama bayi-bayi itu? Bagaimana dengan nasib bayi yang tidak diadopsi dan banyak pertanyaan lain yang diajukan adik-adik. Perbincangan yang kami lakukan dengan balita-balita dan bayi-bayi itu diakhiri sekitar pukul 09.50 WIB. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka, karena meski sesingkat itu rasa sayang telah ada buat mereka. Untuk mengenang moment ini kami berfoto bersama bayi-bayi mungil ini serta pengasuh, adik-adik SMPK dan pengurus.

 

 

Ada hal baru yang kami pelajari yakni berbagi bukan hanya dengan materi saja, tapi dengan waktu yang kita punya, kita dapat berbagi dengan orang yang lain. Dalam kehidupan ini tidak ada seseuatu yang sempurna seperti yang kita inginkan, seperti mempunyai orang tua yang lengkap. Tapi  apa pun keadaan keluarga yang kita miliki, baik itu dalam keadaan perpecahaan ataupun ketidaklengkapan anggota keluarga tetaplah jalani dengan rasa syukur. Karena di setiap duka yang kita alami akan ada kebahagian yang menunggu. Tetap semangat. (ITMS)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook