pada hari Selasa, 29 September 2015
oleh adminstube
Potensi Indonesia Sebagai
Poros Maritim Dunia
Ruang Driyarkara, Universitas Sanata Dharma,
28 September 2015
 

 

 
Indonesia menjadi poros maritim dunia? Mengapa tidak? Kita punya potensi ke sana. Berikut potensinya jelas Endang Susilowati, seorang pengajar pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, memaparkan argumentasinya berdasarkan penelitian yang selama ini ditekuni. Setidaknya ada enam potensi yang kita miliki: posisi geografis yang menguntungkan, kondisi wilayah dan hasil alam melimpah, luas wilayah teritorial dan panjangnya garis pantai, jumlah penduduk yang tidak asing dengan laut, karakter peraturan perundangan yang mendukung bahari, dan kebijakan pemerintah beraspek maritim.
 
Ruang Seminar Driyarkara, Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma, hiruk-pikuk dipenuhi oleh puluhan mahasiswa yang siap mendengar dan berdiskusi pada acara kuliah umum tersebut. Dengan bersemangat dan penuh keyakinan, Endang menyampaikan materinya sehingga mahasiswa antusias memperhatikan. Dua tim Stube-HEMAT Yogyakarta, Stenly Recky Bontinge dan Yohanes Dian Alpasa diutus untuk menghadiri kuliah umum ini.
 
 
Di awal paparannya Endang menyitir syair Bung Karno,”...usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali.” Ide-ide untuk membangkitkan romantisme kemaritiman sesungguhnya sudah ada dalam benak pendiri bangsa ini. Mereka yakin bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai laut, bangsa yang aktifitasnya di laut akan lebih sibuk daripada irama gelombang itu sendiri. Era 1950-an, wilayah teritorial RI hanya 3 mil laut. Artinya, laut di luar batas itu bukanlah kekuasaan RI dengan konsekuensi kapal-kapal besar bebas hilir mudik dekat teritorial Indonesia dan itu akan berdampak pada kehidupan ekonomi, sementara kapal-kapal militer asing akan mempengaruhi stabilitas keamanan. Karena dampak yang dihasilkan tidak selalu positif, maka pemerintahan di era Bung Karno, melalui deklarasi Juanda 13 Desember 1957 menyatakan bahwa NKRI adalah Negara kesatuan yang juga menguasai laut di antara pulau-pulaunya. Tanah, air, dan udara adalah wilayah kesatuan kekuasaan RI.
 
 
Pembicaraan tentang laut kemudian menghasilkan UNCLOS pada 10 Desember 1982 yang kemudian diratifikasi RI pada 1985 yang dituangkan dalam UU No.17 tahun 1985. Istilah archipelago yang diterjemahkan sebagai negara kepulauan sebenarnya kurang tepat karena Archipelago berasal dari kata arch (besar, utama) dan pelagos (laut), sehingga sejarawan A. B. Lapian menerjemahkan Archipelago State sebagai Negara Laut Besar yang ditaburi oleh pulau-pulau. Wilayah RI yang terdiri dari pulau-pulau memberi kekayaan potensi yang berlimpah; potensi geografis, potensi sejarah dan budaya Maritim, potensi kelautan (cadangan migas, tambang, dan pangan), potensi pariwisata, potensi industri, dan potensi jasa maritim.
 
 
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, semangat peserta kuliah umum masih belum kendur. Pada sesi pertanyaan, Yohanes menanyakan keberadaan relief kapal layar pada candi Borobudur, Visi Maritim presiden Joko Widodo, dan keuntungan perkembangan Maritim bagi mahasiswa dan masyarakat pegunungan lainnya. Endang menanggapi, “Layar dan kapal memang ada dalam relief candi Borobudur. Silahkan nanti dicek dan dipahami. Itulah gambaran sejarah kejayaan laut dari nenek moyang Indonesia. Visi Indonesia menjadi poros Maritim memang didengungkan oleh presiden Jokowi. Kalau sekarang terjadi perubahan nama misalnya dari Jalur Ekspedisi Gadjah Mada kepada Jalur Laksamana Cheng-Ho maka itu tidak perlu menjadi persoalan. Konsep kelautan memang belum menemukan bentuk yang definitif maka perkembangan konsep di sana-sini masih dapat dikreasikan.
 

 

Siapapun kita harus bergerak dari tradisi sendiri. Orang-orang yang ada di gunung maupun pesisir yang tidak berlatar kehidupan bahari, tidak perlu memaksakan diri untuk hanyut dalam pembicaraan tentang laut. Yang bertani silahkan bertani, maksimalkan potensi darat, teruslah berkarya dan jadilah produktif. Maka kejayaan RI akan siap dipandang dan disambut dengan girang. (YDA).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 24 September 2015
oleh adminstube
Tak Hanya Bicara, Mereka Berkarya!

 

Presentasi Peserta Program  Eksposur Lokal

 

  

 

 

 

 

 

 

Masa liburan semester selalu ditunggu-tunggu mahasiswa, karena mereka bisa bersantai, melepas ketegangan selama studi. Ada pula mahasiswa yang bekerja part-time dan sebagian lagi pulang liburan di daerah asalnya. Stube-HEMAT Yogyakarta melalui program eksposur lokal memberi kesempatan kepada mahasiswa yang akan pulang untuk merancang kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat di mana ia berasal. Hal ini akan membantu mereka membuka jejaring sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah asal, mendapat waktu untuk melakukan orientasi kerja setelah menyelesaikan studi di Yogyakarta, dan bisa membuat pemetaan potensi daerah mereka beserta hambatannya.

 

 

 

Tiga mahasiswa peserta eksposur lokal tahun 2015 adalah Selsius Imanuel Malailo (mahasiswa STPMD APMD jurusan Ilmu Pemerintahan), Wilton Paskalis Dominggus Ama (mahasiswa INSTIPER, jurusan kehutanan), dan Yoviani Minarti Rauf (mahasiswa UST, jurusan matematika).

 

 

 

 

Selsius Immanuel Malailo, biasa dipanggil Nuel, berasal dari desa Air Kenari, kecamatan Teluk Mutiara, kabupaten Alor, propinsi Nusa Tenggara Timur. Setelah selesai melakukan eksposur lokal, Nuel mempresentasikan temuannya di Stube HEMAT Yogyakarta pada 27 Juli 2015. Sesuai bidang studi yang digeluti, ia tertarik meneliti sejauh mana partisipasi masyarakat di desanya dalam proses pembuatan peraturan desa. Dari hasil wawancara dengan perangkat desa dan masyarakat setempat, ia mengambil kesimpulan bahwa masyarakat sudah terlibat langsung dan aktif dalam setiap proses melalui pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh desa. Namun ada sebagian kecil masyarakat yang tidak mengikuti secara langsung karena aktivitas sehari-hari yang tidak bisa ditinggalkan. 

 

 

 

 

Dalam hal ini ia menggagas: pertama, perlu wadah atau forum pertemuan yang menjaring aspirasi warga; kedua, perlu ada badan khusus yang mengelola pemanfaatan air desa, dan ketiga, perlu pendataan bantuan sosial dan masyarakat penerima.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wilton Paskalis Dominggus Ama, biasa dipanggil Wilton berasal dari Waingapu, Sumba Timur, mempresentasikan hasil ekposur lokalnya di sekret Stube HEMAT Yogyakarta pada 1 Agustus 2015. Sesuai dengan studinya di Kehutanan Instiper, ia tertarik dengan pembudidayaan Cendana. Ia berharap dengan pemilihan inang yang tepat dalam budidaya Cendana maka populasi tanaman Cendana akan semakin meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit Cendana yang ditanam dengan inang tanaman Krokot pertumbuhannya lebih cepat dibanding inang yang lain, seperti lamtoro, nila dan turi.

 

 

 

 

 


Selain itu, Wilton juga melakukan sosialisasi penanaman Cendana kepada pelajar di SMA dan SMK di sekitar Waingapu. Ada enam sekolah yang menjadi lokasi penanaman Cendana yang diadakan antara 14 – 19 Mei 2015.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yoviani Minarti Rauf, biasa dipanggil Atik, berasal dari Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Ia mempresentasikan hasil eksposur lokalnya pada tanggal 22 September 2015. Ia prihatin dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan menjaga lingkungan. Ketika pulang, ia mengadakan penelitian dan sosialisasi pentingnya hidup bersih dan sehat. Pengamatan yang dilakukan Atik menunjukkan bahwa di kampungnya yang berjumlah 20 kepala keluarga, hanya 7 rumah yang memiliki fasilitas WC.

 

 

 

 

 

 

 

Pendekatannya kepada kepala desa untuk sosialisasi kesehatan mendapat tanggapan positif dengan diadakannya pertemuan sosialisasi kesehatan dan komitmen untuk mengadakan arisan pembangunan WC di desa Golo Pongkor. Selain itu, Atik juga mengajak anak-anak usia SD belajar bersama tentang pelajaran sekolah, pengetahuan hidup bersih, tata cara bersikap dan berbicara dengan orang lain, dan bagaimana menciptakan rasa saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lain. Di hari Minggu, ia mengalokasikan waktunya membimbing anak-anak sekolah minggu dan mengajarkan tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di Paroki Kerahiman Ilahi, Sok Rutung.

 

 

 

  

  

Luar biasa bukan liburan mereka? Teman muda, tetaplah melangkah maju dan berkarya untuk masyarakat. (TRU)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook