pada hari Jumat, 25 Juli 2014
oleh adminstube
Menjadi Inisiator Penggerak,
Mulailah dari diri sendiri
 
 
 
 

 

Minggu, 22 Juni 2014, menjadi pengalaman baru saya, karena pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sumba Timur dan melihat secara langsung kondisi masyarakat yang berada di bagian Indonesia bagian timur. Masyarakat Sumba Timur sangat ramah, mereka akan memberikan senyum manis dari bibir mereka ketika melihat orang baru. Beberapa hari pertama, saya tinggal bersama salah satu tim Stube HEMAT Sumba yakni keluarga Bapak Yulius Anawaru.
 

 

 

Di awal memulai kegiatan, saya mendapat kesempatan untuk memaparkan apa yang akan dikerjakan di Sumba pada rapat koordinasi tim. Saat-saat itu merupakan libur semester mahasiswa, sehingga tim Stube pun kesulitan mengumpulkan para aktivis mahasiswa yang rata-rata kembali ke kampung, sehingga beberapa hari setelah pemaparan, saya belum menemukan cara bagaimana program kegiatan akan saya jalankan. Ada rasa kecewa muncul dalam hati, karena tim Stube HEMAT Sumba yang mengenal lapangan tidak juga memberikan terobosan dalam situasi seperti ini. “Mungkinkah apa yang ingin saya bagikan dirasa tidak penting buat mereka?” sebersit pemikiran muncul dalam benak saya.
 

 

Melihat kondisi tersebut maka saya terus memutar otak mencari jalan keluar dan berinisiatif mengumpulkan beberapa mahasiswa aktivis yang masih ada di Waingapu untuk merealisasikan rencana kegiatan. Bak gayung bersambut, beberapa mereka seperti Yoga, Abner, Ydt, Dani dan Haris ingin berbagi bersama dalam forum-forum diskusi. Situasi ini mengajar saya bahwa motor penggerak sesuatu adalah berawal dari diri kita sendiri. Saya bersyukur ada rekan–rekan aktivis Stube HEMAT Sumba yang mau bersama-sama dan menemani sekitar satu bulan saya di Sumba.
 
Satu minggu sebelum pulang saya berkesempatan berkunjung ke Desa Mbatakapidu, sebuah desa yang dulu rawan pangan tetapi sekarang menjadi desa swasembada pangan, bahkan menjadi desa tujuan studi banding desa-desa di luar Sumba. Semua pencapaian itu tidak lepas dari sosok seorang Bapak yang bernama Umbu Yacob Tanda. Beliau mempunyai hati untuk kembali ke desa untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk mengisi hari-hari di masa pensiunnya.  Dari sosok Bapak ini, saya belajar dan merenung kembali bahwa kehidupan ini adalah anugrah dari Tuhan. Hidup yang nantinya harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan jika suatu saat Tuhan panggil pulang ke rumah bapa di surga. Beliau juga berpesan, “Semasa hidup ini berikanlah yang terbaik untuk memberi dampak yang baik bagi sekitar kita, dan itu dimulai dari diri sendiri”.
 
Program exploring Stube HEMAT Sumba akan senantiasa mengingatkan saya akan fungsi inisiator penggerak untuk memberi dampak positif melebihi apa yang kita bayangkan. Ini menjadi tantangan saya! (HRG)
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 18 Juli 2014
oleh adminstube
Logistik, Logika dan Hati

 

Refleksi Exploring Sumba

 

 

 

 

 

 

Spread your little wings and fly away, fly away, far away, pull yourself together, cos you know you can do better that’s because you‘re a free man.

 

 

 

Penggalan lirik lagu Queen di atas merupakan salah satu pemicu yang memotivasi saya mengikuti program eksploring Sumba.

 

 

 

 

Logistik. Minggu pertama dan kedua, saya mencoba berbagi dengan kelompok ibu-ibu yang konsen pada pertanian organik yang bernama Rinjung Pahamu, yang berarti Ingin Baik. Kelompok ini terbentuk dari kegelisahan ibu-ibu akan melonjaknya harga komoditas hortikultura impor di pasaran. Mereka memiliki lahan pertanian seluas 25 are (2.500 m2) yang terletak di desa Wangga. Kelompok ini mengajar saya akan arti berbagi, karena meskipun pendapatan masing-masing anggota yang berjumlah 25 orang tersebut masih di bawah garis kemiskinan, namun rasa senasib sepenanggungan mengalahkan ego setiap individu, di tengah bangsa yang pejabatnya menonjolkan ego pribadi, sementara pemuda-mahasiswanya  hanya pintar text-book yang berpihak pada para pemilik modal. Semoga mereka belajar pada ketulusan ibu-ibu sederhana nan lugu ini.

 

 

 

 

 

 

Logika. Minggu ketiga saya fokus untuk berbagi ilmu peternakan babi dan lingkungan. Mereka menanggapi topik ini dengan cukup antusias, sebab Sumba tak bisa lepas dengan peternakan, terlebih untuk kebutuhan adat. Topik lingkungan yang terkait dengan tambang, menimbulkan perdebatan alot dikalangan mahasiswa, ada pro dan kontra. Sebagian besar menolak tambang dengan berbagai argumentasi demikian halnya sekelompok kecil yang bisa menerima proyek itu. Namun diakhir diskusi semua bersama-sama menyamakan visi, yakni pada dasarnya diterima atau ditolaknya usaha tambang tersebut tak lepas dari daya dukung lingkungan dan masyarakat.

 

 

 

Hati. Hari-hari terakhir di Sumba diisi dengan mengunjungi beberapa tempat di wilayah Sumba selatan. Tanggal 15 Juli 2014, kami mengikuti pembukaan sidang Sinode GKS (Gereja-Gereja Kristen di Sumba) yang diselenggarakan di Ramuk, sebuah desa kecil bahkan mungkin terpencil di lereng Gunung Wanggameti. Kondisi jalan yang rusak tak menyurutkan niat kami untuk sampai ke tujuan. Kekesalan akan beratnya medan terhapus oleh indahnya alam Sumba dengan untaian bukit dan lembah yang terjalin memanjang seakan membentuk lukisan alam. Sungguh merupakan pemandangan yang eksotis. Saat saya di daerah Tana Rara, tempat ini memiliki tanah merah yang menawan, warnanya pink dan jarang ditemukan di daerah lain. Selanjutnya daerah Tarimbang memiliki potensi wisata pantai yang luar biasa, sayang PEMDA setempat belum optimal mengelolanya, sehingga salah satu warga Jerman yang bernama Peter mencoba memanfaatkan potensi tersebut dengan membangun cottage di puncak bukit yang menawarkan pemandangan indah lepas pantai Tarimbang.

 

 

 




Satu bulan di Sumba memberi saya pemahaman teologis bahwa “saya bukan dari dunia, jangan mengejar harta dunia, persiapkanlah hartamu di langit dan bumi baru nanti, kerjakanlah untuk Allah lewat sesamamu manusia, dimanapun mereka berada termasuk di Sumba”. Akhirnya, terima kasih Keluarga Ka Lius, Ka Yanto, Pdt Domi, Abner, Yoga, Anton, Pak Daniel kelompok tani Rinjung Pahamu, teman-teman GMNI, GMKI cabang Sumba Timur terkhusus Stube HEMAT yang telah memberi pelajaran berharga bagi kami, semoga program ini adalah halaman awal dari buku interaksi dengan pulau Sumba. (SRB)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 7 Juli 2014
oleh adminstube
PELAKSANAAN UU DESA NO 6 TAHUN 2014:

 

Menuju Desa yang Berdaulat, Berdikari

 

dan Berkepribadian Pancasila

 


  

 

Setelah melalui perjuangan panjang yang melelahkan serta hiruk pikuk demonstrasi yang memenuhi ruang-ruang publik ditambah ancaman boikot terhadap pelaksanaan program-program strategis pemerintahan, akhirnya pemerintah dan DPR RI mengabulkan tuntutan para kades dan perangkat desa dengan mengesahkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Selanjutnya undang-undang ini disebut UU Desa, menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa yang tidak memuaskan para Kepala Desa dan aparatur desa.

 

 

 

Sabtu, 5 Juli 2014, Community Development Bethesda bekerja sama dengan Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen Indonesia (JKLPK), YAKKUM, Forum LPK Jateng-DIY, Universitas Kristen Duta Wacana dan YEU menyelenggarakan sarasehan bertema: “Pelaksanaan UU Desa Nomor 6 Tahun 2014 menuju desa yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian Pancasila” dengan narasumber Prof. Dr. Wuryadi selaku Dewan Pendidikan DIY dan Krisdyatmiko, Direktur IRE DIY (Institute for Research and Empowerment) dan juga Dosen PSDK Fisipol UGM. Stube-HEMAT Yogyakarta mengutus Sofiya Atalia dan Sarloce Apang menghadiri sarasehan untuk mencermati dan bisa menyikapi UU Desa yang akan diimplementasikan di 72.944 desa di Indonesia.

 

 

Acara dibuka dengan menyanyi lagu ‘Indonesia Raya’ dan sambutan perwakilan JKLPK. Sri Bayu Selaadji (CD Bethesda) selaku moderator memandu acara yang diisi pemaparan dari Prof. Dr. Wuryadi yang membahas  pasal 3 UU Nomor 6 tahun 2014 mengenai peraturan desa berasaskan: rekognisi, subsidiaritas, keberagamaan, kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan, musyawarah, demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan dan keberlanjutan. Kedudukan desa menguat sebagai bagian dari NKRI dan pengakuan kewenangan desa berdasarkan: asal-usul, skala lokal, dan pelimpahan. UU Desa ini muncul karena beragamnya pengenalan kita tentang desa. Seolah-olah UU Desa ini menyatakan bahwa desa merupakan tataran paling dasar dalam struktur kepemerintahan padahal di bawah desa masih ada pedukuhan. Momen pembangunan karakter bangsa kita sudah berhenti pada tahun 70-an, idealnya harus terjadi secara berkelanjutan.

 

 

Krisdyatmiko memaparkan lima manfaat UU Desa: pertama, membangun kemandirian desa: jaminan sumberdaya keuangan dari APBN untuk penyelenggaraan pembangunan serta revitalisasi penataan aset desa. Kedua, mengatasi apatisme warga: memperkuat partisipasi dalam kebijakan dan penyelenggaraan desa. Ketiga, memperkuat pilar demokrasi desa: check and balances system pemerintahan dan pembangunan desa. Keempat, memperbaiki pelayanan publik: penyelenggaraan pemerintahan desa untuk kebutuhan warga. Kelima, merevitalisasi modal sosial desa: untuk pemberdayaan lokal (nilai, mekanisme dan institusi sosial ekonomi warga).

 

 

Disahkannya UU Desa ini patut disambut gembira karena UU ini mencantumkan kebijakan-kebijakan progresif dan strategis bagi kemajuan dan perkembangan desa, menghargai eksistensi desa dan peranan aparatur desa, karena desa memiliki kedudukan serta peranan penting dalam sistem ketatanegaraan kita. Disamping itu, UU Desa juga menunjukkan ketegasan dengan adanya pemberian sanksi kepada kepala desa yang tidak menjalankan kewajibannya. Sanksi berupa teguran tertulis, pemberhentian sementara dan pemberhentian tetap. Ini tentu positif untuk mendorong kinerja dan disiplin pemerintah desa. Semoga impian atas desa yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian Pancasila dapat diwujudkan bersama. (SAY)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 6 Juli 2014
oleh adminstube
J.F.H. Sagrim, Ilmuwan Muda dari Maybrat

 

“Berkarya dari Papua untuk Peradaban Manusia”

 

 

 

 

 

 

Tak pernah terbayang, teman yang sudah pulang ke kampung halaman, merasa rindu berkumpul lagi dengan teman-teman di Stube HEMAT Yogyakarta. Ditengah kesibukan mengurus proses penerbitan buku barunya, Sabtu, 5 Juli 2014 ia meluangkan waktu datang bertandang untuk menyapa dan menyemangati teman-teman muda yang sedang belajar menulis di sekretariat Stube HEMAT.

 

 

Juan Franklin Hamah Sagrim, atau yang biasa akrab disapa dengan panggilan Sagrim, lahir dan besar di Maybrat, Sorong, Papua yang merupakan daerah kebanggaannya. Ia merupakan alumnus program study Teknik Arsitektur di Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan juga merupakan aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta pada tahun 2008. Selama dua bulan terakhir ini ia bekerja sebagai  salah satu staf ahli di Papua Barat tepatnya di Manokwari. Salah satu hobi yang menjadi pekerjaannya adalah menulis.

 

 

 

Menulis merupakan hal yang ia sukai sejak masa SMA. Ia sudah menulis buku pertamanya tentang cerita rakyat yang diterbitkan pada saat itu oleh Pustaka Pelajar. Dari kerja keras yang selama ini dilakukannya, ia sudah berhasil menulis 27 karangan. Ada empat prinsip dasar yang dia pegang yakni; pertama, ada kemauan dari diri sendiri untuk menulis, kedua, ada tujuan yang ingin dicapai, ketiga, adanya imajinasi dalam jiwa yang kuat dan yang keempat, menjadikan orang lain sebagai motivasi penggerak.

 

 

 

Kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari Pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta yang pernah ia ikuti pada tahun 2008. Dari banyak pelatihan yang ia ikuti di lembaga ini, yang paling berkesan baginya adalah pelatihan pengembangan potensi diri, dimana ia dapat lebih tahu potensi dirinya dan mengenal dunia sebenarnya. Dari pelatihan inilah Sagrim mulai terpacu untuk mengembangkan kemampuan dan potensi dirinya.

 

 

 

 

 

 

Sagrim memberikan pesan dan kesan kepada teman-teman Stube-HEMAT bahwa kita sebagai manusia membutuhkan tempat dan pikiran. Kita harus mencari tempat dimana kita bisa mengekspresikan diri dan menemukan jati diri. Kita tidak bisa mengetahui diri kita sendiri tanpa ada orang lain maka kita harus berkaca pada orang lain. Sagrim menambahkan, “Kita jangan melihat Stube-HEMAT hanya sebagai yayasan atau organisasi tetapi benar-benar sebagai wadah yang Tuhan persiapkan untuk setiap orang yang belum mengenali dirinya secara pribadi. Tuhan mempersiapkan lembaga ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan saya sendiri mengalami. Saya mengenali diri saya lewat lembaga ini. Tuhan memberkati lembaga ini”. (SAY)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 4 Juli 2014
oleh adminstube
ANAK MUDA DAN GUNUNG API PURBA
 

 

Gunung api purba di desa Nglanggeran kabupaten Gunung Kidul memiliki hamparan batu yang elok, cocok bagi mereka yang menyukai tracking. Selain jalur pendakian dan lokasi panjat tebing, sebuah embung atau waduk buatan di puncaknya sangat cocok untuk melepas lelah dengan menikmati sunrise ataupun sunset. Tempat ini juga menyediakan fasilitas bagi yang ingin live-in guna menikmati suasana pedesaan. Cukup menarik sebagai tujuan wisata dan petualangan bukan?

Bagaimana kawasan ini bisa menjadi tujuan wisata yang sangat “menjual”? Spirit awal inilah yang jauh lebih menarik untuk dikaji sebagai bahan referensi usaha pemberdayaan masyarakat pedesaan dan spirit itu harus disebarluaskan dikalangan anak muda. Sugeng Handoko selaku pihak pengelola dan penggagas kawasan wisata gunung api purba memaparkan bahwa semula keadaan gunung api purba ini dianggap tak ada nilainya dan sangat mustahil memberi hasil bagi masyarakat setempat, meskipun di sisi lain gunung purba ini punya mata air yang menghidupi warga.  Dengan adanya mata air tersebut warga sangat menjaga gunung ini.
 
Pada tahun 2006 terjadi sebuah moment alam gempa bumi yang sangat dahsyat dan tak akan pernah terlupakan oleh masyarakat Yogyakarta. Bencana ini membawa pengaruh besar bagi warga Nglanggeran karena memompakan semangat gotong royong dan membentuk solidaritas, khususnya pemuda karang taruna. Semangat solidaritas ini menjadi modal utama yang memudahkan mereka saling berbagi informasi kegiatan untuk bisa dilakukan bersama. Perubahan lain yang terjadi di desa Nglanggeran pasca gempa bumi adalah beberapa titik mata air menjadi kering, sehingga warga melakukan berbagai upaya untuk menjaga agar sumber mata air jangan sampai habis.
 
Tahun 2007 merupakan proses awal tercetusnya ide pengelolaan kawasan gunung api purba ini secara serius dan berkesinambungan. Berawal dari sebuah kegiatan Malam Keakraban mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan di gunung api purba, tempat ini mulai mendapat perhatian untuk dirintis sebagai kawasan wisata. Menurut Sugeng Handoko hal yang terberat adalah proses perintisan, karena ide tersebut sulit diterima masyarakat di kawasan gunung api purba ini. Anggapan yang melekat di masyarakat adalah bahwa hamparan gunung batu tersebut tidaklah memiliki makna apa-apa, sehingga menjadi hal aneh dan mustahil ketika warga disana mendengar bahwa kawasan tersebut akan dijadikan kawasan wisata.
 
Proses utama yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran warga setempat dan merubah cara pandang,” tutur Sugeng Handoko. Situasi tidak mudah juga dialami ketika dia berupaya menjejaringkan karang taruna dengan lembaga pemerintah supaya mendapatkan support dana karena tidak begitu saja langsung mendapat support, tetapi melalui proses yang panjang. Pihak pemerintah ingin melihat upaya awal yang dilakukan para pemuda karang taruna. Setelah melihat prospek kawasan gunung api purba dan kematangan program kedepan yang dikerjakan pemuda karang taruna, maka pemerintahpun menggelontorkan bantuan dana pengembangan. Terobosan lain yang dilakukan bersama pemuda karang taruna adalah mencari dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan seperti Bank, Pertamina dan BUMN lainnya. “Proses mencari jejaring donor untuk pengembangan sebuah kawasan inilah yang harus terus menerus dilakukan. Hal ini menjadi sangat sulit karena mula-mula kami tidak memiliki akses informasi atau kurang memahami prosedur cara membuat proposal dan minimnya kekuatan lobby dengan pihak donor”, Sugeng Handoko menambahkan.
 
Pelatihan Social Entrepreneurship yang digagas Stube HEMAT Yogyakarta tanggal 22 – 24 Agustus 2014 mendatang, menjadi salah satu cara penyebarluasan spirit dan gagasan yang berkaitan dengan pengembangan potensi kawasan dan pemberdayaan masyarakat, sebagaimana dilakukan oleh Sugeng Handoko di Nglanggeran. Tentunya masih banyak kawasan di pelosok Indonesia yang memiliki potensi yang tidak kalah eksotisnya dengan gunung api purba ini. Sehingga menjadi sangat penting bagi anak-anak muda daerah yang tergabung di Stube HEMAT memahami social entrepreneurship dan belajar melihat potensi yang ada di daerah mereka masing-masing.
 

Diskusi yang menarik dengan Sugeng Handoko sudah menambah wawasan team Stube dan beberapa aktivis yang mengikuti kunjungan ke Nglanggeran pada 2 Juli 2014. Selanjutnya, diharapkan mahasiswa-mahasiswa yang tertarik pada isu ini bisa bergabung dalam Pelatihan Social Entrepreneurship yang dibuat oleh Stube HEMAT. ***~Piaf~



  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook