pada hari Minggu, 31 Juli 2016
oleh adminstube
Membuat Biobriket di Desa Salam
 
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan kesempatan bagi mahasiswa menerapkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki di dalam kehidupan sehari-hari dan masyarakat. Salah satu aktivis Stube HEMAT, Elyzz Takadjanji, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sarjana Wiyata, tengah mengikuti program ini dari universitasnya sejak pertengahan Juli sampai akhir Agustus 2016. Beberapa program yang dilakukan terinspirasi dari kegiatan yang pernah diikutinya di Stube HEMAT Yogyakarta berkaitan dengan Energi Alternatif dan kesehatan.
 

 

 
Berawal dari pelatihan Energi alternatif (07/2016) yang mengajarkan bagaimana mengolah sampah menjadi biobriket, Minggu, 30 Juli 2016 kelompok Follow Up Biobriket diundang untuk membagikan ketrampilan membuat biobriket kepada masyarakat Desa Salam, Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dua orang mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta, Tamjos (Fakultas Energi) dan Alvon (teknik lingkungan) tergerak untuk berangkat dan mengajarkan ketrampilan tersebut pada masyarakat setempat.
 
Pukul sembilan pagi, bertepatan dengan waktu kerja bakti warga, mereka terlihat antusias mebagikan ilmu membuat biobriket sederhana. Tamjos bertindak sebagai juru bicara dan Alvon menjadi “juru rangkai” biobriket. Warga terlihat antusias mengikuti diskusi tersebut, terutama ibu-ibu. Mereka bahkan tak jijik ikut “mengobok-obok” arang tanpa kaus tangan.
 
Salah satu pertanyaan penting dilontarkan Bu Prapti,”Mengapa kita harus repot membuat biobriket, sementara sudah ada arang kayu?” Dengan bijak Tamjos menjawab, “Benar, tetapi perlu ibu ketahui bahwa bahan baku arang berasal dari kayu dan itu sungguh tidak ramah lingkungan. Jika setiap hari kita menebang kayu hanya untuk dijadikan arang, maka hutan akan gundul. Bahan baku biobriket tidak berasal dari pohon yang ditebang, kita bisa memanfaatkan daun-daun yang berguguran, ranting-ranting patah, pelepah pohon keras yang jatuh ke tanah, atau dahan yang dipangkas. Arang dari bahan-bahan tersebut bisa diambil untuk dijadikan biobriket”. Tamjos menambahkan pula,”Nah Bapak-Bapak, Ibu-ibu, saat kita sudah terbiasa menggunakan biobriket, kita tidak perlu khawatir kalau sewaktu-waktu harga gas Elpiji 3 kg, minyak tanah atau kayu bakar melonjak”.
 
Menutup diskusi menarik pagi itu kami disuguhi teh hangat dan gorengan ala kadarnya sambil diselingi canda tawa ketika seorang Bapak berceloteh, “Mas-mas, mbak-mbak sering-seringlah main ke sini untuk cuci mata sebab di sini banyak pemandangan alam dan kesenian daerah yang tidak ada di Jogja”. Kami serentak menjawab, “Nggih Pak!”
 
Selamat kawan-kawan, sudah berhasil menjalin persahabatan dengan warga desa dan teruslah menularkan semangat energi terbarukan. (SRB).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 25 Juli 2016
oleh adminstube
PROGRAM BISNIS KREATIF

 

 

 

 

 

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh ekonomi kreatif. Berdasarkan perhitungan BPS periode 2010-2013, ekonomi kreatif menyumbang 7,8% PDB Indonesia.

 

 

 

Pada era Global Digital Economy (GDE), peran teknologi dibutuhkan dunia bisnis, tercatat beberapa subsektor bisnis kreatif yang membutuhkan teknologi yakni: aplikasi game, arsitektur, desain multimedia, fashion, film, animasi video, fotografi, kerajinan, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio. kreatifitas yang memanfaatkan teknologi dan informasi sangat dibutuhkan dalam berbisnis agar mampu bertahan.

 

 

 

Indonesia ditantang masuk dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal ini adalah peluang, tantangan dan resiko yang mau tidak mau siap untuk dihadapi. Tidak hanya sekedar menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi kreatifitas berbisnis yang kemudian menjadi alternatif dan meningkatkan nilai tambah secara sosial, budaya dan lingkungan. Kekayaan alam, budaya dan banyaknya penduduk akan menghasilkan potensi besar terlebih jika digabungkan dengan kreatifitas yang dimiliki.

 

 

 

Melihat realita yang ada, Indonesia malah dijadikan pangsa pasar dalam dunia bisnis, karena banyaknya jumlah penduduk dan masyarakat yang konsumtif dan negara lain mengambil peluang dengan mengekspor produk ke Indonesia. Kemampuan manajerial produk yang minim berdampak Indonesia lebih sebagai konsumen bukan produsen.

 

 

 

Sebagai generasi penerus, mahasiswa diharapkan mampu menyadari potensi dan kreatifitas yang dimiliki. Mahasiswa dengan kemampuan intelektual dan sosial yang dimilikinya, diharapkan mampu berkembang bukan sekedar survive. Dengan mengembangkan kreatifitas yang dimiliki dan berani memulai bisnis berbasis kreatifitas ide, mahasiswa mampu menentukan kesejahteraannya sendiri.

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta menghadirkan pelatihan Bisnis Kreatif sebagai upaya membekali memulai bisnis, mengembangkan kreatifitas yang nantinya akan menjadi bekal dalam berbisnis. Pada akhirnya mahasiswa diharapkan dapat merumuskan ide dalam bentuk konsep dan mengaplikasikannya melalui manajemen aset, manajemen produksi, dan manajemen jaringan.

 

 

 

Tujuan:

 

1) Peserta mendapat kesempatan mendengar 'sharing experience' dari beberapa pelaku ekonomi kreatif berkaitan dengan tantangan dan prospek.

 

2) Peserta belajar bagaimana memulai bisnis kreatif, bagaimana mengelola modal uang dan dengan siapa mereka harus melakukan jejaring.

 

3) Peserta termotivasi memunculkan konsep pemikiran orisinal mereka yang berbeda, bisnis yang unik dan memiliki identitas sendiri.

 

 

 

Hasil pelatihan

 

Peserta memiliki ide-ide bisnis kreatif

 

Peserta memiliki proposal start-up bisnis

 

 

 

Bentuk Kegiatan

 

Diskusi (Sabtu, 6 Agustus 2016

 

Tema: Mengenal Dunia Game dan SosMed”

 

oleh Yohanes Andri Wardhana

 

 

 

Pelatihan (Jumat – Minggu, 12 – 14 Agustus 2016)

 

Tema: Temukan Kreatifmu, Lakukan Bisnismu

 

 

 

Design Start Up

 

 

 

Presentasi

 

 

 

Eksposur/Meet-up (pascapelatihan)

 

Menyesuaikan proposal start-up peserta

 

 

 

Lokasi: Praktisi Jasa, Kerajinan, Desain

 

Penerbitan, Kuliner, dll.

 

 

 

Materi :

 

Perkenalan Stube HEMAT

 

(Memberikan pemahaman tentang apa itu Stube-HEMAT, apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan)

 

 

 

Galeri Bisnis Kreatif

 

(Membahas mengenai beberapa jenis bisnis kreatif yang saat ini berkembang/trend)

 

 

 

5W1H Memulai Bisnis Kreatif

 

(Membahas cara mendesain ide bisnis, strategi memulai bisnis dan membaca peluang bisnis)

 

 

 

Pengelolan Bisnis: Manajemen Keuangan

 

(Membahas tentang bagaimana mengelola bisnis, memanajemen keuangan dan memperoleh modal bisnis)

 

 

 

Praktek Desain Bisnis – Start Up

 

(Melakukan praktek mendesain bisnis yang akan dirintis. Dalam bentuk catatan sederhana (hardcopy).

 

 

 

Presentasi Desain Bisnis

 

(Peserta menyampaikan seain ide bisnis yang akan dilakukan / Start Up. Proposal peserta akan dilombakan dan proposal terpilih akan mendapat subsidi modal.

 

 

 

Fasilitator:

 

Tim Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Yohanes Andri Wardhana

 

Kelik Tananto

 

Anung Budiyanto

 

UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) Kota Yogyakarta

 

 

 

 

 

Tempat

 

Wisma Lentera Kasih, Kalibawang, Kulon Progo

 

 

 

Kontribusi

 

Rp 25.000,00

(Akomodasi, materi, sudsidi transport, sertifikat)


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 15 Juli 2016
oleh adminstube
PLTN, Siapkah Kita?

 

Kunjungan Belajar ke Pusat Sains Dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN

 

(Rangkaian Eksposure Pelatihan Energi Terbarukan)

 


 
 

 

Keinginan mengetahui lebih pasti tentang nuklir membawa beberapa mahasiswa aktifis Stube HEMAT Yogyakarta berkunjung dan berdiskusi di PSTA BATAN - Badan Tenaga Nuklir Nasional (14/7/2016), Jl. Babarsari Kotak Pos 6101, Sleman, D.I Yogyakarta 55281. Kunjungan ini merupakan bagian eksposur pelatihan energi terbarukan yang sudah diselenggarakan beberapa waktu lalu (17-19/6/2016). Tetapi, mengapa nuklir? Bukankah nuklir tidak termasuk dalam komponen energi terbarukan? Pertanyaan ini wajar bagi mereka yang tidak mengikuti pelatihan, sebab mereka tidak tahu jika di awal pelatihan salah satu harapan peserta adalah ingin mengetahui sumber energi baru yaitu nuklir, tanpa mengecilkan potensi energi terbarukan Indonesia.

 

 

 

Pengalaman Perdana

 

Mengunjungi reaktor nuklir, merupakan kunjungan pertama dan pengalaman perdana bagi semua yang mengikuti kegiatan ini termasuk bagi Direktur Eksekutif Stube HEMAT. Standar prosedur pengamanan masuk sebuah reaktor nuklir termasuk ketat, karena tidak sembarang orang dapat memasuki area ini, dimulai dari gerbang masuk, kartu identitas dan barang bawaan mendapat pengawasan. Sambutan tuan rumah/ PSTA BATAN sangat baik, sejak pintu masuk ada petugas yang menyambut dan menjelaskan kegiatan dan proses apa saja yang terjadi di tempat ini, sampai diantar menuju ruang seminar. Rombongan Stube-HEMAT diterima langsung oleh Kepala PSTA BATAN Yogyakarta DR. Susilo Widodo dan Mantan Deputi BATAN RI DR. Ferhat Azis. Kesempatan mendengar “kuliah umum” dan bertanya jawab langsung dengan dua orang “decision maker” lembaga ini merupakan hal langka.

 

 

 

Mencengangkan

 

Rencana pembangunan PLTN di Jepara, Jawa Tengah menuai pro dan kontra masyarakat. Selama ini orang hanya mendengar dampak buruk nuklir, tanpa mendapat penjelasan dari pihak-pihak yang pro dan kontra dan berkompeten di bidangnya. Nuklir tidak selamanya berdampak buruk, karena menurut penjelasan Dr. Susilo, ahli dalam standar pengamanan radiasi, nuklir merupakan teknologi yang berguna bagi masyarakat, contohnya rontgen dalam bidang kedokteran, radiasi nuklir bisa memperpendek beberapa varietas padi unggulan sehingga bisa cepat dipanen, radiasi dapat mengawetkan makanan dalam kemasan, seperti bantuan makanan yang dikirim bagi korban bencana di Bangladesh. Secara sederhana, radiasi nuklir itu aman karena hanya seperti nelayan memaparkan ikan pada radiasi sinar matahari untuk membuat ikan asin awet.

 

 

 

Reaktor nuklir di Yogyakarta belum memenuhi syarat sebagai pembangkit listrik sebab daya yang dihasilkan hanya 100 KW. Meskipun demikian, reaktor ini tetap berada di bawah pengawasan IAEA (Badan Tenaga Nuklir Internasional).

 

 

 

Dr. Ferhat Azis, menjelaskan bahwa nuklir sangat bermanfaat bagi umat manusia.  Pembangkit listrik tenaga nuklir misalnya, harganya akan sangat terjangkau, karena 1 kapsul uranium (bahan nuklir) seberat 7 gram bisa menghasilkan listrik setara yang dihasilkan oleh 3,5 barel minyak bumi atau 2 ton batu bara. Tragedi Chernobyl dan Fukushima bisa diatasi dengan kemajuan teknologi Generasi 3+ yang artinya semua peralatan yang dipakai sangat canggih dan memiliki sistem untuk memperkecil resiko ledakan dan radiasi. PLTN 3G+ didesain tahan gempa, tsunami, ledakan, dan memiliki sistem mati (shut down) otomatis ketika terjadi human error atau kegagalan yang tidak teratasi manusia. Sehingga, Dr. Ferhat menambahkan, kita tidak perlu khawatir dengan ledakan besar nuklir, sebab potensi ledakan besar nuklir hanya terjadi jika uranium yang dipakai mengalami proses pengayaan dari 20% sampai 80% sementara pada umumnya PLTN maksimal melakukan pengayaan hanya mencapai 20%.

 

 

 

Melihat Reaktor

 

Melihat reaktor “Kartini” di belakang ruang seminar membuat kami semua takjub. Standar prosedur keamanan begitu ketat seperti tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam ruang reaktor, menggunakan jas laboratorium dan sepatu kain sebagai pelapis alas kaki. Reaktor ini dipakai sebagai tempat penelitian dan beroperasi saat ada permintaan dari pihak luar untuk melakukan berbagai pengujian nuklir. Reaktor berbentuk tampungan air ini berprinsip kerja memanaskan air melalui reaksi fusi berantai uranium dan uap air dipakai untuk memutar turbin sebagai pembangkit listrik.

 

 

 

Dr. Ferhat mengatakan bahwa para ahli nuklir Indonesia siap menjalankan PLTN, karena memiliki kemampuan dan kompetensi, bahkan Indonesia adalah salah satu negara pengekspor komponen PLTN ke Eropa salah satunya ke Finlandia.

 

 

Hari itu merupakan pembelajaran berharga untuk memahami bahwa nuklir tidak selalu merusak. Marilah kaum muda belajar menyiapkan diri, dimulai dari energi terbarukan sederhana, sebab negara dengan rasio elektrifikasi tinggi mengindikasikan negara maju. Sudah siapkah kita menciptakan kemajuan bangsa? (SRB).


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 10 Juli 2016
oleh adminstube
REFLEKSI EXPLORING SUMBA
Belajar, Berproses, Berbagi dan
Bahagia di Tanah Marapu
 


Sejak melihat dari jendela pesawat hingga menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Marapu, saya langsung merasakan bahwa sejauh mata memandang saya sudah berada di Sumba. Berbeda jika saya mengunjungi daerah lain, terkadang saya masih suka menyangkutpautkan atau menyamakan satu daerah dengan daerah lainnya. Namun pulau Sumba adalah sebuah surga yang berbeda, Sumba memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri yang mampu membuat saya betah berlama-lama di pulau ini.
 
Berada di tanah Sumba selama sebulan mengajarkan banyak pembelajaran dan pengalaman berharga kepada saya, bahkan pengalaman-pengalaman yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan dari Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengunjungi salah satu daerah di Timur dan Selatan Indonesia ini.
 
Belum ada 24 jam saya di Sumba, ada kejadian yang baru pertama kali saya alami, yaitu digigit seekor anjing di pinggir jalan kota Waingapu. Gigitan itu menimbulkan luka tapi tidak cukup parah. Dua teman baru di Sumba mengagetkan saya karena mereka mengatakan bahwa digigit seekor anjing adalah hal biasa di Sumba. Luka saya cukup dibersihkan dan diberi betadine, padahal yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah kuatir terkena rabies. Namun kekuatiran saya tidak terjadi.
Pengalaman menarik lainnya adalah perjalanan menuju desa Laimbonga. Selama perjalanan tidak henti-hentinya dalam hati memanjatkan rasa takjub dan syukur kepada Tuhan atas ciptaan yang luar biasa atas Sumba. Alam Sumba menyegarkan mata saya dengan panorama padang rumput savanna yang seolah tidak berujung dan ditemani oleh kawanan kuda dan sapi yang sedang menikmati sarapan pagi.
 
Keindahan alam Sumba seimbang dengan sulitnya menyusuri jalan menuju desa Laimbonga. Jalan hampir tidak beraspal hanya berbatu dan berpasir. Motor harus didorong melewati anak sungai tanpa jembatan. Tidak terhitung berapa kali melewati jalan mendaki dan turunan curam hingga saya terpaksa turun dari motor dan mendorongnya. Hal yang sama terjadi ketika saya datang lagi ke Laimbonga bersama Iyan, salah satu teman yang ikut Exploring Sumba.
 
Pengalaman lain yang berkesan adalah ketika di desa Laimbonga dan langsung menuju salah satu rumah warga yang akan menguburkan mayat dengan adat Marapu. Saat kami tiba, sudah cukup banyak warga desa yang berkumpul untuk mengikuti upacara penguburan. Kami diterima oleh kepala desa yang juga ayah dari Rambu Etty dan pihak keluarga yang sedang berduka. Sirih pinang disajikan sebagai lambang penerimaan tamu. Salah satu anggota keluarga menjelaskan kepada kami bahwa jenazah yang akan dikuburkan ketika meninggal usianya sudah lanjut dan telah disimpan lebih dari setahun, sedangkan jenazah lainnya ketika meninggal usianya sekitar dua tahun dan telah disimpan kurang dari setahun.
 
Saat prosesi, kami tidak ingin melewatkan kesempatan ini dengan mendokumentasikan prosesi penguburan tersebut. Ada ritual doa untuk mengantar kedua jenazah ke tempat penguburan yang persis berada di depan rumah dengan diiringi isak tangis dari beberapa ibu yang masih ada ikatan keluarga. Uniknya, peti kayu  jenazah dan sudah direkat erat dengan semen tersebut dibuka kembali menggunakan linggis untuk mengambil jenazah dari peti masing-masing dan dimasukkan ke dalam liang kubur, yang sebelumnya sudah dilapisi dengan beberapa lembar kain Sumba. Beberapa hal mirip dengan cara penguburan yang dilakukan di daerah saya di Toraja, Sulawesi Selatan, khhususnya dalam hal menyimpan jenazah dengan waktu yang cukup lama.
 
Pengalaman berkesan lainnya adalah saya melihat beberapa rumah penduduk Sumba, yang mungkin lebih tepat pondok, karena ukuran rumah mereka sama besar dengan kamar kost saya di Yogyakarta. Saya berpikir dengan rumah sekecil itu, ada berapa anggota keluarga yang tinggal di dalamnya? Bagaimana mereka leluasa untuk beraktivitas di dalam rumah? Bagaimana aktivitas MCK-nya?
 
Saat itu saya tertegun sejenak, menyadari bahwa masih sangat banyak masyarakat di negeri ini yang tidak mampu merasakan kesejahteraan dari negaranya sendiri. Kemudian saya sadar bahwa saya beruntung pernah mendapat pengalaman ini. Sebagai seorang mahasiswa, sudah menjadi tanggung jawab saya bersama ribuan mahasiswa lain di negeri ini yang nantinya menyelesaikan perkuliahan dan akan memulai pengabdian bagi negeri dan membangun kesejahteraan masyarakatnya.

 
Saya menyadari bahwa selama di Sumba ada banyak kekurangan dan banyak hal telah dipelajari. Tidak mudah beradaptasi terhadap Sumba dan sekitarnya dan hal tersebut baru benar-benar saya rasakan dan sesali sekembalinya ke Yogyakarta. Namun saya bahagia karena pernah berbagi ilmu dengan penuh keikhlasan kepada masyarakat dan anak-anak Sumba.

Akhir kata, belajar, berproses, berefleksi, bekerja, sharing dan traveling itu menyenangkan selama kita bahagia dengan kesederhanaan yang ditawarkan. (Resky).


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 7 Juli 2016
oleh adminstube
REFLEKSI EXPLORING SUMBA
Karejoi ma aha naung di oloi ho*
apa yang sudah dimulai harus diselesaikan!
(Bahasa Batak)
 
 
Exploring Sumba merupakan sebuah program Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mahasiswa yang ingin mengenal Pulau Sumba dan berbagi informasi dan pengetahuan yang dimiliki dengan pemuda-mahasiswa dan masyarakat setempat. Saya merupakan salah satu peserta yang ikut dalam program ini. Saya bersemangat untuk berangkat karena termotivasi dari ajakan kakak tingkat di kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta, yang bernama Elisabeth. Kebetulan, ia pernah ke Sumba dan menjadi peserta program yang sama. Jadi, saya semakin bersemangat untuk ikut dan ingin punya pengalaman baru tentang daerah Timur dan tentunya bisa berinteraksi dengan orang-orang di sana.
 
Seiring berjalannya waktu, semakin dekat dengan waktu keberangkatan ke Sumba, saya semakin penasaran dan tidak sabar ingin segera sampai di Sumba. Tetapi nyali itu tiba-tiba menciut begitu saja, hanya karena informasi yang saya dapat dari kakak tingkat saya. Ia bercerita bahwa orang-orang di sana keras-keras dan ada semacam kebiasaan buruk, yaitu kurang bisa disiplin. Saya percaya saja, karena saya jumpai hal demikian ketika bertemu beberapa orang-orang dari kawasan timur yang ada di Yogyakarta.
 
Dua hari sejak mendapat berita itu membuat saya seperti tidak ingin berangkat. Tapi setelah  dua hari kemudian saya kembali semangat karena dapat motivasi dari orang tua saya yang mengatakan dalam bahasa Batak  ”karejoi ma aha naung di oloi ho, tumagon ma maila daripada paila-ilahon,“ yang artinya apa sudah dimulai harus diselesaikan, lebih baik malu daripada malu-maluin.
 
Nasihat ini membangkitkan kembali semangat saya. Dan apapun cerita tentang Sumba dan bahkan yang menakut-nakuti sekalipun, saya tidak akan menyerah begitu saja. Karena kegagalan itu ada karena tidak ada usaha. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.
 

 
Akhirnya, setelah berada di Sumba dan berproses selama kurang lebih tiga puluh hari, saya sangat bersyukur akan kesempatan ini. Saya bisa menginjakkan kaki di tanah Marapu tepatnya di usia saya yang genap 23 tahun. Semua itu tidak serta merta ada pada saya, namun saya merasa bahwa ada rencana yang indah yang sedang Tuhan rancang untuk sebuah perjalanan hidup saya. Awalnya saya takut akan berinteraksi dengan orang baru, wilayah yang baru dan suku yang baru.



Ternyata ketakutan itu tidak terjadi selama saya di Sumba. Bahkan yang saya rasakan di sana ada kenyamanan dan sifat karakter orang yang penuh dengan kasih. Saya sangat bersyukur mengenal Stube-HEMAT dan bisa menjadi bagian di dalamnya. Semoga ke depannya semakin aktif dan semakin peduli dengan sesama. (Junita).

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook