pada hari Jumat, 21 Oktober 2016
oleh adminstube
PEDULI KESEHATAN JASMANI

 


 

Dengan begitu banyak tawaran dan godaan, anak muda sering tidak bisa memilih bagaimana mengisi waktunya dengan baik. Olah raga menjadi salah satu cara sehat menyalurkan hobi dan memanfaatkan waktu dengan positif bagi anak muda.

Kamis, 20 Oktober 2016, peserta pelatihan Youth Problem Stube-HEMAT Yogyakarta kompak mengisi waktu bersama dengan olah raga. Mikhael bersama dengan 14 teman lain dari beberapa kampus dengan semangat bertanding futsal di MU Futsal, Jl. Kusumanegara Yogyakarta.

 

 

 

Apa yang menjadi dasar mereka tergerak melakukan kegiatan ini sebagai tindak lanjut pelatihan? Kegiatan ini pada dasarnya adalah aksi sederhana baik individu maupun kelompok dari peserta yang sudah mendapatkan pengalaman pelatihan Stube. Pelatihan Youth Problem yang mereka ikuti membuat mereka tergerak untuk lebih menjaga diri dan mempersiapkan diri. Mereka mengerti apa itu masa depan tetapi belum mempersiapkannya. Mereka juga mengerti apa yang menjadi resiko kebiasaan buruk yang dilakukan tetapi belum punya cara untuk benar-benar menghindarinya. Minggu-minggu ini mereka mulai sadar dan melakukan langkah sederhana untuk menanggulangi masalah kaum muda yang menjangkiti sebagian kaum muda.

 

 

 

Masalah seperti sex bebas, kemalasan, etos belajar, etos kerja menurun, dan gaya hidup hedonis termasuk pola makan yang tidak teratur menyebabkan kondisi jasmani anak-anak muda saat ini tidak selalu fit dan rentan terhadap penyakit. Untuk menjaganya, anak-anak muda bisa mencegah dengan berbagai cara.

 

 

 

Cara-cara pemeliharaan jasmani bisa dilakukan dengan olahraga, meditasi, membaca buku, dan menghindari makanan yang mengandung pewarna, pengawet, dan penyedap. Mikha dan Arius, mahasiswa Institut Tekhnologi Yogyakarta baru saja memasuki dunia kampus dan menjalani semester satu pada program studinya mencoba untuk melakukan follow-up dalam bidang olahraga. Mula-mula anggota follow-up hanya empat orang tetapi direspon cepat oleh teman-teman Stube yang lain.

 

 

 

Yohanes Dian Alpasa berpendapat, ”Follow-up olah raga memang belum dapat dikategorikan dalam aksi nyata yang berdampak pada orang banyak di luar anggota komunitas. Olahraga ini terkesan hanya berlaku untuk anggota kelompok saja. Namun, saya yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk respon atas pemahaman hidup sehat yang mereka peroleh dalam pelatihan. Mereka sudah belajar bekerja dalam kelompok dan berkoordinasi dalam tim”. “Bekerja dalam kelompok menjadi barang mahal di tengah lingkungan hidup yang individual. Kita membutuhkan anak muda yang bisa mengorganisir setiap aksi sederhana dan mau terus belajar menjadi seorang pemimpin”, imbuhnya. Satu tim kecil yang nantinya terus belajar dan terus melatih diri untuk menjadi besar seperti pengalaman seorang anggota Stube yang sudah mengikuti pelatihan sejak 2013, Putri Dadi,”...kami pernah menjuarai piala rektor untuk futsal putri.”

 

Setelah pertandingan peserta berdiskusi soal kelanjutan dari tindakan ini. Olahraga seperti ini akan menjadi lebih bermanfaat bila mengikutsertakan pemuda-pemuda dari berbagai elemen seperti pemuda gereja, PMK, dan kelompok pemuda lain. Direncanakan pertandingan dengan komunitas lain akan digelar dalam waktu dekat. Semakin rutin berolahraga maka semakin sehat jasmani anak-anak muda. Kiranya semakin banyak anak muda yang peduli pada kesehatan tubuh jasmaninya. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 16 Oktober 2016
oleh adminstube
Revival and Blessing Explotion
Bersama Stube-HEMAT Yogyakarta dalam
Penerimaan Anggota Baru (PAB)
PMK ITY ‘YLH’ Yogyakarta
Sabtu, 15 Oktober 2016 di Wisma PGK Shanti Dharma,
Godean Sleman

Regenerasi menjadi bagian penting dari keberadaan suatu organisasi untuk  menjaga keberlanjutan dan kesinambungan kehidupan organisasi melintasi perjalanan waktu. Selain itu regenerasi menjadi wahana memperkuat spirit atau semangat suatu organisasi sehingga bisa mencapai tujuannya.
 
Persekutuan Mahasiswa Kristiani (PMK) ITY ‘YLH’ Yogyakarta sebagai wadah mahasiswa kristiani yang ada di kampus Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) ‘YLH’ menjadi penting keberadaannya di tengah-tengah kehidupan mahasiswa khususnya di lingkup kampus ITY. Melalui kegiatan PAB yang diadakan Jumat – Minggu, 14 – 16 Oktober 2016 di Wisma PGK Shanti Darma, tiga puluh enam peserta disiapkan secara mental, spiritual, komitmen dan teamwork menjadi generasi penerus dari persekutuan ini.
 
Pengurus PMK ITY meminta Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut dalam sesi Revival and Blessing Explotion, yang berarti kegerakan dan ledakan berkat. Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta diutus memfasilitasi acara tersebut. Peserta diajak memikirkan ulang makna tema tersebut dan menemukan berkat seperti apa yang mereka akan hasilkan dan bisa berdampak besar untuk orang lain.

Beberapa peserta menjawab, untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan (Dino), lulus dengan nilai baik dan membahagiakan orang tua, memberikan penyadaran lingkungan di daerah asalnya (Mira), dan menggerakkan perbaikan dan revolusi bangsa (Jesicca). Ini menjadi mimpi besar bagi peserta yang mengungkapkan impiannya atau blessing yang mereka miliki.

Ada tulisan yang terpahat di sebuah nisan di Westminster Abbey tahun 1100 M tentang seseorang ketika masih muda mempunyai impian untuk mengubah dunia, tetapi ketika dewasa ia menyadari bahwa impiannya sulit diwujudkan. Ia kemudian merevisi impiannya menjadi mengubah bangsanya. Ketika semakin menua mimpinya berganti menjadi mengubah keluarganya tetapi hal itu tidak pernah terwujud. Ia merenungkan kembali, ternyata impian untuk mengubah dunia harus diawali dengan mengubah dirinya menjadi lebih baik. Kemudian kebaikan itu mengubah keluarga dan akhirnya berdampak lebih luas.
 
Para peserta PAB diajak untuk merenungkan kembali tentang impian mereka untuk kegerakan dan ledakan berkat. Sebuah perubahan besar mau tidak mau diawali dengan perubahan kecil yang terjadi di dalam dirinya. Selanjutnya masing-masing peserta menentukan satu hal yang ada dalam dirinya yang perlu dikembangkan dan sesuatu hal yang tidak baik yang perlu dihilangkan. Beberapa peserta mengungkapkan antara lain ketekunan, kedisiplinan dan semangat itu harus dimiliki, di sisi lain kemalasan, lalai dengan kesehatan dan terlambat itu harus dibuang dari dirinya. Diharapkan perubahan itu bisa dirasakan keluarganya dan mampu mengubah keluarga dan lingkungan yang lebih luas.
 
 
Di akhir sesi peserta ditantang untuk berkomitmen terhadap perubahan berawal dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil dan dilakukan sejak hari ini. Selamat berproses menjalani perubahan menuju pribadi yang lebih baik. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016
oleh adminstube
Arrow Generation

 

Penerimaan Anggota Baru PMK ITY

 


 
 
 

 

Sabtu, 15 Oktober 2016, Stube-HEMAT Yogyakarta diundang menjadi fasilitator Program Penerimaan Anggota Baru Persekutuan Mahasiswa Kristen Institut Teknologi Yogyakarta (PAB PMK-ITY).

 

 

 

Sesi yang disampaikan bertajuk “Arrow Generation” atau generasi anak panah dengan pemateri Yohanes Dian Alpasa. Tiga puluh delapan mahasiswa baru menjadi peserta PAB ini. Mereka berusaha menyimak paparan yang disampaikan. Generasi anak panah berasal dari pemahaman bahwa anak muda itu seperti anak panah yang melesat dengan visi, mimpi, dan tujuan hidup. Anak-anak ini kuat dan diperkuat serta digunakan oleh tangan-tangan yang tangguh. Ungkapan anak muda sebagai anak panah muncul pada kitab Mazmur pasal 127 dan digunakan oleh sebagian gereja sebagai dasar penyadaran warganya bahwa mereka bukanlah generasi yang sembarangan. Sesi ini dibuka dengan pertanyaan, ”Apa yang menjadi cita-cita anda?” Beberapa mahasiswa tidak bisa menjawabnya, sungguh disayangkan. Namun, tidak berhenti di situ, karena peserta PAB didorong untuk memiliki dan merumuskan cita-cita mereka hari itu juga. Tanpa cita-cita maka hidup seperti anak panah tanpa target, terbang tak tentu arah, terkulai, layu, dan patah.

 

 

 

Paparan kemudian dilanjutkan dengan gambaran anak muda hari ini yang mudah mengeluh. Pramoedya Ananta Toer menyebut bahwa orang-orang Indonesia pernah terjerembab dalam tiga hal yang memperbudak. Pertama, orang-orang Indonesia pernah diperbudak oleh ketakutan. Kedua, diperbudak oleh kebodohan. Ketiga, diperbudak oleh penyakit. Keadaan ini bisa saja berulang bilamana generasi sekarang mudah mengeluh dan tidak bisa memaknai kehidupan.

 

 

 

Kehidupan mahasiswa pada dasarnya adalah kehidupan yang penuh dengan kegembiraan. Tidak semua anak muda di kampung kita bisa bersekolah dan melanjutkan studi sampai jenjang perguruan tinggi. Jadi tidak perlu lagi dilewati dengan keluhan dan ratap. Seorang yang ada dalam generasi anak panah tahu bahwa yang dihadapi bukan lagi pergumulan, tetapi setiap penugasan kuliah adalah panggilan untuk bergembira dan merayakan kehidupan, merayakan anugerah Tuhan yang sudah jatuh pada kita.

 

 

 

Mayoritas peserta adalah mahasiswa baru sehingga masing-masing tentu memiliki pengalaman yang masih segar soal kehidupannya di Sekolah Menengah Atas. Sekali mereka menjejakkan kaki di Yogyakarta maka mereka sudah meletakkan cita-cita ke depan. Yohanes menyampaikan lebih lanjut, “Banyak pemuda jatuh karena tidak memiliki cita-cita, tetapi banyak juga yang mampu menentukan masa depannya karena memiliki harapan, cita-cita dan tujuan hidup. Seorang generasi anak panah harus mampu merumuskan apa yang menjadi cita-citanya kelak”.

 

 

Sesi ini ditutup dengan masing-masing peserta menuliskan apa yang akan mereka lakukan dan harapkan terjadi dalam tiga tahun kedepan. (YDA).


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 12 Oktober 2016
oleh adminstube
YOUTH PROBLEM

 

Dear Masa Depan, Tunggu Saya!

 


 

Berbicara anak muda sering kali dikaitkan dengan beberapa hal seperti keberanian, rasa ingin tahu, coba-coba, diet ketat, begadang, seks bebas, narkoba, jomblo, hawa nafsu, dan masih banyak lagi situasi yang bisa digambarkan dan dikaitkan dengan darah muda. Kehidupan anak muda memang dipenuhi gejolak emosi dan semangat yang membara. Anak-anak muda yang mengalami permasalahan dalam kehidupannya biasanya jauh dari kehidupan sosial masyarakat dan buruknya lagi, masyarakat cenderung mengabaikannya.

 

 

 
Banyaknya permasalahan dalam kehidupan anak muda, Stube-HEMAT Yogyakarta yang merupakan wadah belajar bagi mahasiswa yang belajar di Yogyakarta, mengadakan pelatihan yaitu berkaitan dengan anak muda dengan tema “Youth Problem”.

Tujuan dari pelatihan ini agar peserta mampu mengenali kebiasan hidup yang mengancam nilai kehidupan, dan mampu menempatkan diri dan berkomitmen melakukan kebiasaan hidup yang baik. Harapannya adalah peserta mampu memanfaatkan potensi yang ada di dalam diri mereka untuk mengambil bagian dalam setiap kegiatan sosial masyarakat serta dapat menjadi anak muda yang mandiri, tegas dan bertanggung jawab bagi diri sendiri, keluarga ,dan masyarakat.

 


 

 

Pelatihan yang di mulai dari Jumat, 7 Oktober hingga Minggu, 9 Oktober 2016 di Wisma Camelia Kaliurang km 21.5 berjalan lancar, meski cuaca kurang bersahabat. Semua peserta nampak sangat antusias mengikuti semua sesi yang sudah dibuat panitia sampai pelatihan berakhir.

 


 

 

Dua orang pemateri yang memiliki keahlian dalam bidang mereka masing-masing dihadirkan dalam pelatihan ini. Yang pertama, Kuriake Kharismawan, S.Psi,. M.Psi, dosen psikologi UNIKA Soegijapranata, Semarang dan yang kedua adalah Pdt. Hendri Wijayatsih, MA dosen Theologi UKDW Yogyakarta. Para pemateri menyampaikan hal-hal yang terkait dengan Pemetaan Pribadi: Menemukan Diri Saya yang Sesungguhnya; Mengembangkan Diri dari Apa Yang Ada dalam Diri; dan Aku dengan Perspektif yang Baru.

 


 

 

Di akhir pelatihan peserta merancang satu kegiatan tindak lanjut. Dalam kegiatan follow up ini peserta mengelompokkan diri kedalam tujuh kelompok yang terdiri dari pembuatan video dokumenter tentang pendapat beberapa orang mengenai seks bebas (Rudi), diskusi dan sharing di kalangan mahasiswa PMK ITY (Selvi & Tamjos), kelompok olah raga futsal untuk mempererat hubungan anak-anak muda kampus melalui kegiatan positif (Mika), berbagi cerita kepada teman-teman kos dan kampus (Endang), mengadakan diskusi dan melakukan penghijauan di Asrama Marturia (Ike & Titin), diskusi lanjutan dengan teman-teman mahasiswa Sanata Dharma (Septi & Dodie), serta menulis artikel tentang Masalah Generasi Muda (Agus & Umbu Wahi).

 


 


Perkembangan zaman selalu memberi dan menantang anak muda dengan permasalahannya, namun dengan sedikit sentuhan dari Stube-HEMAT, teman-teman muda dapat memilih, mengambil keputusan dan berkomitmen melakukan kebiasaaa hidup yang sehat, baik dan mampu memberi dampak positif bagi dirinya, teman-teman sekitar, keluarga, dan masyarakat secara luas. (SA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 3 Oktober 2016
oleh adminstube
Batik Anti Terorisme

 

 

 

 
Satu Oktober tidak pernah dilupakan masyarakat Indonesia untuk memperingati Kesaktian Pancasila. Pancasila terbukti ampuh menjaga keutuhan Negara meskipun negara seringkali mendapatkan ancaman baik dari dalam maupun dari luar. Selama Republik ini berdiri, Pancasila menjadi perekat dasar kehidupan berbangsa. Selain hari itu menjadi penting untuk dirayakan dengan khidmat, 1 Oktober juga dirayakan sebagai hari batik.

 

 

 

 
Dalam rangka itulah Seminar Batik Anti-terorisme dan bedah buku yang ditulis oleh ibu Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed. ini diselenggarakan. Bertempat di Ruang Seminar Harun Hadiwijono, Universitas Kristen Duta Wacana pada 1 Oktober 2016, tiga orang pembicara itu yaitu Prof. Ir. Sunarru Samsi Haryadi, M.Sc, Prof. Noorhaidi Hasan, dan Farsijana Adeney Risakotta Ph.D dihadirkan. Tiga keynote speaker memaparkan seputar terorisme yang dianggap menjadi ancaman serius bagi keutuhan kehidupan berbangsa.

 

 

 

Profesor Sunarru menggambarkan kehidupan desa di negeri ini yang memiliki nilai-nilai luhur yang sangat layak untuk ditiru. Nilai-nilai ini tumbuh dan dikembangkan oleh masyarakat lokal dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mereka bersatu dan berikat dalam rangkaian harmoni yang indah. Nilai-nilai itu seperti terlihat di Keujruen Blang di Aceh, Baralek Kapalo Banda di Sumatera Barat, Lembaga Adat Sasi di Papua, Lembaga adat Soa di Maluku, Upacara Adat Negeri Hatu, Lembaga Adat Dalihan Na Tolu di Sumatera Utara, Adat Wiwitan Pedesaan Jawa, Suku Tengger di Pegunungan Bromo, atau sedulur Sikep Masyarakat Samin Pegunungan Kendeng. Nilai-nilai ini terpelihara dalam kehidupan masyarakat lokal Indonesia.

 

 

 

Profesor Noorhaidi dalam paparannya mengklaim bahwa Indonesia adalah negara terbaik dalam pencegahan dan penanganan terorisme. Amerika dan Eropa serta Malaysia dan Singapura punya badan sendiri dalam penanganan terorisme. Badan ini efektif untuk menanggulangi bahaya teror. Indonesia tidak punya. Keadaan itu membuat masyarakat berinisiatif untuk menanggulangi bahaya teror dengan cara mereka sendiri. Kekuatan sipil berusaha mengambil peran dalam usaha pencegahan dan penanggulangan teror. Inilah yang membuat Indonesia menjadi kuat.

 

 

 

Ibu Farsijana memapar soal Pancasila yang pernah digunakan suatu rezim untuk melakukan tekanan terhadap masyarakat. Namun, Pancasila tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Pancasila harus selalu dipakai untuk mencerdaskan. Hari ini kesaktian Pancasila itu perlahan dirasakan. Masyarakat tidak lagi menjadi target mobilisasi kepentingan politik. Rakyat dalam jaman ini dididik dalam cara yang kreatif dengan berorganisasi. Mereka diajak untuk bekerja dan berproduksi. Dengan organisasi dan berproduksi, rakyat menjadi yakin bahwa mereka mampu untuk menentukan masa depannya sendiri.

 

 

Lalu apa kaitan antara terorisme dengan batik? Ya. Terorisme mengancam keutuhan negara sementara batik membuat setiap orang bersatu dalam Republik ini. Bu Aniek selaku pembedah buku memaparkan soal konsep penanganan radikalisme yang selama ini belum signifikan. Ia menawarkan cara budaya dalam menanggapi masalah terorisme yang selama ini muncul. Batik menjadi salah satu alternatif untuk menjaga keharmonisan. Menurutnya, Batik tidak saja berperan untuk mendokumentasikan nilai-nilai luhur dari ajaran masa lalu, namun Batik juga bernilai ekonomis dan mengandung nilai pendidikan. Satu batik bisa dikerjakan oleh dua puluh orang. Bila usaha batik dikelola dengan sungguh maka akan menghidupi banyak orang di jaman serba sulit ini. Dengan batik, orang kembali belajar nilai-nilai dan keteladanan. Motif dan corak batik menggambarkan ajaran tertentu soal perjuangan, keprihatinan, dan kesabaran. Seperti motif soal wayang Pandawa yang mengisahkan bahwa kebaikan akan mendapat tempatnya sendiri dalam meraih kemenangan.

 

Kiranya harapan akan kekuatan budaya untuk menanggulangi terorisme bisa mewujud dalam sebuah karya, kinerja dan produksi yang menghidupi umat. (YDA).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook