Memperkuat Relasi dan Mendalami Kehidupan di Indonesia

pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 

 

 
Tahun 2017 menjadi awal interaksi mahasiswa Indonesia dan Student Christian Movement in India (SCMI) dalam program South to South Exchange Program ke India, yang menumbuhkan antusiasme kedua belah pihak untuk semakin mengenal dan memperkuat relasi sebagai anak muda dari negara di kawasan yang sama, Asia. Kedua negara ini sama-sama sedang berjuang meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan mengacu pada Tujuan Pembangungn Berkelanjutan (SDGs) meskipun ada banyak tantangan sosial, budaya dan kehidupan masyarakat. South to South Exchange program diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pembelajaran bagi mahasiswa dari kedua negara tersebut mengenai isu-isu SDGs. South to South Exchange Program ke Indonesia sebagai tindak lanjut program tahun 2017, dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 29 Agustus 2019 yang didukung oleh Ecumenical Scholarship Program - Brot fur die Welt (BfdW), Jerman.

Program ini memberi kesempatan peserta memahami realita kehidupan mahasiswa di Indonesia; mempelajari keragaman budaya, isu dan tantangan berkaitan kekayaan alam; mengamati praktek pertanian alternatif yang berkelanjutan; dan terlibat dalam dialog lintas iman. Peserta SCMI terdiri dari dua pendamping dan tujuh mahasiswa, yaitu, Tolly Yeptho, Rebekah Rajkumar, Larihun Lyngdoh, Minta Varghese, Santhi Perusetti, Sharon Christy, Imlikokba Kichu dan dua pendamping, yaitu, Inbaraj Jeyakumar dan Ibatista Shylla.

Bersama mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta, mereka mengenal kota Yogyakarta termasuk Sumbu Filosofis kota ini dan mengunjungi kraton Yogyakarta dan kebun binatang Gembira Loka. Berkaitan dengan pertanian berkelanjutan di Indonesia mereka belajar di kawasan Samas, dimana lahan pasir kering dikelola sedemikian rupa menggunakan kompos dan sistem irigasi pipa sehingga menjadi lahan pertanian yang produktif. Para petani setempat memanfaatkan lahan pasir menjadi lahan pertanian yang produktif, seperti bawang merah, cabe, kacang hijau, jagung dan terong. Mengantisipasi permainan harga oleh para tengkulak mereka memperkuat diri melalui koperasi petani yang memfasilitasi modal dan penjualan hasil panen.

 
Sebagai bentuk pengenalan budaya dan sejarah, mahasiswa India berkesempatan mengunjungi candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia. Sebagai salah satu warisan dunia, candi ini sangat megah dan unik dimana susunan setiap batu saling mengunci satu sama lain sehingga struktur candi menjadi kuat, sementara ornamen dan relief candi terpahat detil dan hal itu memukau mereka. Pelatihan Multikultural dan Dialog Antaragama dimana puluhan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta terkumpul dalam pelatihan ini dan menjadi ruang dialog yang berharga karena masing-masing peserta baik dari Indonesia dan India bisa mengenal dan bertukar pengalaman mengenai studi, budaya dan kehidupan. Tak ketinggalan praktek membatik tulis khas Yogyakarta, ‘henna’ seni lukis tangan India dan sajian khas kuliner India, seperti puri, masala, chapati, yoghurt atau pun chai tea melengkapi pemahaman aspek budaya. Dialog dengan organisasi mahasiswa Kristen, GMKI dan menyaksikan film Bumi dan Manusia memberi informasi pergerakan mahasiswa dan sejarah perjuangan bangsa Indonesaia di masa penjajahan, khususnya kehidupan perempuan.


“Saya baru pertama kali menemukan sistem pertanian lahan kering dengan mengolah lahan yang tidak produktif menjadi produktif. Saya pikir ini bisa diterapkan di India sebagai alternatif pertanian di lahan yang kering dan saya ingin membagikan apa yang saya alami di daerah saya, ”ungkap Imlikokba Kichu, salah satu peserta dari India. Ada banyak lagi pengalaman dan kesan positif dari para mahasiswa SCMI atas kegiatan yang dilakukan di Indonesia seperti penataan kota, kebersihan, fasilitas untuk orang cacat, keramahan masyarakat dan masih banyak lagi.

Pertemuan dan interaksi langsung para mahasiswa lintas bangsa ini tentu saja memberi nilai tambah bagi setiap pihak yang terlibat. Mereka saling belajar sekaligus memperbaiki diri sehingga sumber daya manusia bisa lebih berkualitas untuk mengarah pada peningkatan taraf kehidupan manusia secara universal. (TRU).
 
 
 
 
Connecting Soul,
Celebrating Diversity
 
 
Cerdas mengatur perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kunci stabilitas negara dan jaminan rasa aman rakyatnya. Simbol-simbol keagamaan, etnis, ras atau pun kelompok-kelompok tertentu membuat orang terkotak-kotak dalam beragam perbedaan, ditambah lagi syak wasangka dan radikalisme akan menambah kebekuan gap komunikasi dan interaksi antar anggota masyarakat. Pelatihan dengan judul dalam bahasa Indonesia Menghubungkan JiwaMerayakan Perbedaan, menjadi salah satu sumbang sih lembaga Stube HEMAT untuk bangsa ini.
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar-agama Stube-HEMAT Yogyakarta di Hotel Kukup Indah, kawasan pantai Kukup, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat-Minggu 23-25 Agustus 2019, menjadi ajang diskusi dan interaksi mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Utusan Stube-HEMAT dari Bengkulu, aktivis Stube-HEMAT Sumba dan peserta program South to South dari Student Christian Movement of India (SCMI) turut ambil bagian menyumbangkan pemikiran dalam pelatihan tiga hari tersebut.


Connecting Soul Celebrating Diversity mendorong peserta untuk saling mengenal meski beragam latar belakang dan bersama-sama mengkampanyekan keberagaman di Indonesia. Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif, menyampaikan seluk-beluk pelayanan Stube HEMAT, juga keragaman networking di level internasional, yang menuntut setiap individu memahami keberadaannya sebagai bagian dari keragaman itu sendiri. Student Christian Movement of India (SCMI) menjadi salah satu keragaman networking yang dimiliki lembaga ini. Inbaraj Jeyakumar, Sekretaris Umum SCM of India mengungkap rasa senangnya bertemu dengan mahasiswa di Indonesia dan bergerak bersama SCMI untuk memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak asasi manusia, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan kemanusiaan.


Menjawab Keberagaman Agama & Budaya di Indonesia, sebuah tantangan atau peluang? Wening Fikriyati, dari Srikandi Lintas Iman (Srili) membuka pemikiran peserta dengan menulis karakteristik dirinya, misalnya etnis, warna kulit, agama, bentuk rambut, dan karakteristik lainnya. Selanjutnya, peserta diantar memahami syak wasangka melalui ‘games’ menebak benda yang ada dalam sebuah wadah tertutup. Peserta berhasil menyebutkan beberapa benda, namun ada yang terlewat karena ukurannya kecil dan tersembunyi. Dari sini peserta belajar bahwa mudah menilai sesuatu karena sering berjumpa tapi ada yang terlupakan karena jarang berjumpa. Dalam satu wadah Indonesia, keberagaman budaya, etnik, ras dan agama akan tidak harmonis jika tidak dikelola dengan baik, bahkan bisa merusak wadah yang ada. Jadi, wadah ini harus terus terpelihara dengan saling mengenal dan menghargai keberadaan masing-masing melalui interaksi lintas budaya lintas agama, karnaval budaya, dan lain-lain.


 
 
 
Sebagai bukti keragaman yang ada, para peserta mengenakan kostum daerah masing-masing, seperti Lampung, Sumba, Nias, Timor Leste, Kalimantan, Flores, Sumatera Utara dan Jawa dalam parade budaya dengan berjalan kaki berkeliling pantai Kukup sebagai sarana edukasi kepada masyarakat betapa kayanya budaya Indonesia. Parade ini mengawali diskusi tentang Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul bersama Pdt. Christiana Riyadi, Bilal Ahmad dari JAI, Pdt Lucas, dan Budi perwakilan PDHI. Sekolah Kebhinnekaan ini digagas oleh gereja-gereja Klasis Gunungkidul bersama NU, Fatayat, MBI, PDHI, JAI dan lembaga-lembaga lainnya sebagai sarana edukasi kepada remaja lintas agama tentang karakter inklusif dan toleran di Gunungkidul melalui interaksi bersama, menyaksikan film pendek tentang toleransi, berkunjung ke rumah-rumah ibadah, tinggal bersama penduduk yang berbeda agama dan merancang kampanye keberagaman dan toleransi.


 
Selanjutnya peserta mendalami contoh-contoh kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti Sandinganeng di Halmahera daSintuwu Maroso di Poso. Malam pentas budaya dan seni tidak kalah serunya dengan penampilan para peserta melalui nyanyian daerah Kepulauan Aru dan Nias, puisi, gerak lagu dari India dan teater oleh peserta pelatihan. Semakin kuatlah ikatan kebersamaan antar peserta.





Aksi lanjut peserta dengan bekal dan pengalaman baru yang mereka dapat di pelatihan, diwujudkan dalam rencana aksi mereka untuk menyuarakan sikap toleransi, pemahaman inklusi dan kebersamaan melalui video keberagaman, tulisan tentang warisan budaya daerah, diskusi mahasiswa dan partisipasi dalam gerakan lintas agama dan lintas budaya. Harapan nantinya setiap orang menemukan keterkaitan satu sama lain tanpa prasangka dan menemukan keindahan keberagaman di Indonesia. (TRU).





 


 


 

 
 

  Bagikan artikel ini

Connecting Soul, Celebrating Diversity

pada hari Selasa, 27 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Cerdas mengatur perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kunci stabilitas negara dan jaminan rasa aman rakyatnya. Simbol-simbol keagamaan, etnis, ras atau pun kelompok-kelompok tertentu membuat orang terkotak-kotak dalam beragam perbedaan, ditambah lagi syak wasangka dan radikalisme akan menambah kebekuan gap komunikasi dan interaksi antar anggota masyarakat. Pelatihan dengan judul dalam bahasa Indonesia Menghubungkan JiwaMerayakan Perbedaan, menjadi salah satu sumbang sih lembaga Stube HEMAT untuk bangsa ini.
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar-agama Stube-HEMAT Yogyakarta di Hotel Kukup Indah, kawasan pantai Kukup, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat-Minggu 23-25 Agustus 2019, menjadi ajang diskusi dan interaksi mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Utusan Stube-HEMAT dari Bengkulu, aktivis Stube-HEMAT Sumba dan peserta program South to South dari Student Christian Movement of India (SCMI) turut ambil bagian menyumbangkan pemikiran dalam pelatihan tiga hari tersebut.


Connecting Soul Celebrating Diversity mendorong peserta untuk saling mengenal meski beragam latar belakang dan bersama-sama mengkampanyekan keberagaman di Indonesia. Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif, menyampaikan seluk-beluk pelayanan Stube HEMAT, juga keragaman networking di level internasional, yang menuntut setiap individu memahami keberadaannya sebagai bagian dari keragaman itu sendiri. Student Christian Movement of India (SCMI) menjadi salah satu keragaman networking yang dimiliki lembaga ini. Inbaraj Jeyakumar, Sekretaris Umum SCM of India mengungkap rasa senangnya bertemu dengan mahasiswa di Indonesia dan bergerak bersama SCMI untuk memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak asasi manusia, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan kemanusiaan.


Menjawab Keberagaman Agama & Budaya di Indonesia, sebuah tantangan atau peluang? Wening Fikriyati, dari Srikandi Lintas Iman (Srili) membuka pemikiran peserta dengan menulis karakteristik dirinya, misalnya etnis, warna kulit, agama, bentuk rambut, dan karakteristik lainnya. Selanjutnya, peserta diantar memahami syak wasangka melalui ‘games’ menebak benda yang ada dalam sebuah wadah tertutup. Peserta berhasil menyebutkan beberapa benda, namun ada yang terlewat karena ukurannya kecil dan tersembunyi. Dari sini peserta belajar bahwa mudah menilai sesuatu karena sering berjumpa tapi ada yang terlupakan karena jarang berjumpa. Dalam satu wadah Indonesia, keberagaman budaya, etnik, ras dan agama akan tidak harmonis jika tidak dikelola dengan baik, bahkan bisa merusak wadah yang ada. Jadi, wadah ini harus terus terpelihara dengan saling mengenal dan menghargai keberadaan masing-masing melalui interaksi lintas budaya lintas agama, karnaval budaya, dan lain-lain.


 
 
 
Sebagai bukti keragaman yang ada, para peserta mengenakan kostum daerah masing-masing, seperti Lampung, Sumba, Nias, Timor Leste, Kalimantan, Flores, Sumatera Utara dan Jawa dalam parade budaya dengan berjalan kaki berkeliling pantai Kukup sebagai sarana edukasi kepada masyarakat betapa kayanya budaya Indonesia. Parade ini mengawali diskusi tentang Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul bersama Pdt. Christiana Riyadi, Bilal Ahmad dari JAI, Pdt Lucas, dan Budi perwakilan PDHI. Sekolah Kebhinnekaan ini digagas oleh gereja-gereja Klasis Gunungkidul bersama NU, Fatayat, MBI, PDHI, JAI dan lembaga-lembaga lainnya sebagai sarana edukasi kepada remaja lintas agama tentang karakter inklusif dan toleran di Gunungkidul melalui interaksi bersama, menyaksikan film pendek tentang toleransi, berkunjung ke rumah-rumah ibadah, tinggal bersama penduduk yang berbeda agama dan merancang kampanye keberagaman dan toleransi.


 
Selanjutnya peserta mendalami contoh-contoh kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti Sandinganeng di Halmahera daSintuwu Maroso di Poso. Malam pentas budaya dan seni tidak kalah serunya dengan penampilan para peserta melalui nyanyian daerah Kepulauan Aru dan Nias, puisi, gerak lagu dari India dan teater oleh peserta pelatihan. Semakin kuatlah ikatan kebersamaan antar peserta.





Aksi lanjut peserta dengan bekal dan pengalaman baru yang mereka dapat di pelatihan, diwujudkan dalam rencana aksi mereka untuk menyuarakan sikap toleransi, pemahaman inklusi dan kebersamaan melalui video keberagaman, tulisan tentang warisan budaya daerah, diskusi mahasiswa dan partisipasi dalam gerakan lintas agama dan lintas budaya. Harapan nantinya setiap orang menemukan keterkaitan satu sama lain tanpa prasangka dan menemukan keindahan keberagaman di Indonesia. (TRU).





 


 


 

 
 

  Bagikan artikel ini

Festival Wai Humba  Kami Bukan Sumba Yang Menuju Kemusnahan 

pada hari Selasa, 20 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Festival Wai Humba merupakan festival yang diadakan untuk mendekatkan kembali manusia dengan sang Pencipta dan alam sekitar, sekaligus menyatukan empat kabupaten di pulau Sumba, yaitu Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Festival ini wujud ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas berkah air dan refleksi pentingnya menjaga kelestarian alam Sumba.
 
Wai Humba sendiri dari kata Wai/wee yang berarti air dan Humba/zuba yang berarti Sumba. Banyak ditemui nama-nama tempat di pulau Sumba dengan awalan ‘Wai’ seperti Waingapu di Sumba Timur, Waibakul di Sumba Tengah, Waikabubak di Sumba Barat dan Weetabula di Sumba Barat Daya. Bagi masyarakat Sumba, air merupakan sumber dari segala kehidupan di muka bumi dan mereka pantang merusak air dan selalu melakukan sembahyang untuk menjaga kawasan air, agar selalu terberkati dan lestari, serta dijauhkan dari tangan-tangan jahat manusia yang akan merusaknya.
 
Adapun spirit festival ini adalah “Kami Bukan Sumba yang Menuju Kemusnahan”, dalam bahasa daerahnya ‘Nda Humba Li La Mohu Akama (Sumba Timur)’, ‘Da Zuba Da Sagage Mod’da Damo’ (Sumba Barat), ‘Nda Suba Kima Pa Aro Modda Dana’ (Sumba Barat Daya). Spirit tersebut menegaskan kepada siapa pun bahwa, meskipun jaman akan semakin maju, peradaban dan kebudayaan orang Sumba tidak akan musnah atau hancur.
 
Sejak 2012 Festival Wai Humba telah berlangsung 7 kali berpindah lokasi di seluruh pulau Sumba.
Festival Wai Humba I di Sungai Paponggu, kawasan Gunung Tanadaru, Sumba Tengah, 29 Oktober 2012.
Festival Wai Humba II di lereng gunung Yawila, Umma Pande, desa Dikira, Sumba Barat Daya.
Festival Wai Humba III di desa Ramuk, Sumba Timur.
Festival Wai Humba IV di Paponggu, Tanadaru, Sumba Tengah.
Festival Wai Humba V di Kadahang, Haharu, Sumba Timur.
Festival Wai Humba VI di desa Tabera, Desa Doka Kaka, Sumba Barat.
Festival Wai Humba VII di desa Ekapata, Yawila, Sumba Barat Daya.
Festival Wai Humba VIII akan diadakan di Kananggar, Sumba Timur, 18-20 Oktober 2019.
 
Selama 3 hari festival diisi berbagai acara yang berbeda tiap tahunnya, seperti ikrar persaudaraan, pentas seni dan budaya se-Sumba, penghijauan, kalarat wai atau ritual pemberkatan air, diskusi kampung Humba, kunjungan kampung ke kampung dan penghargaan Wai dan Tana Humba. Dari rangkaian kegiatan ini muncul rekomendasi kepada pemerintah daerah, misalnya festival ke VI menghasilkan sepuluh poin rekomendasi kepada pemerintah, dua di antaranya adalah (1) merekomendasikan agar pemerintah melakukan inventarisasi dan melindungi masyarakat adat, tanah ulayat dan hutan di Sumba serta membuat Peraturan Daerah perlindungan masyarakat hukum adat; (2) menjadikan bahasa daerah Sumba sebagai salah satu mata pelajaran/muatan lokal di semua sekolah di Sumba.
 
Respon positif datang dari masyarakat Sumba, bagi masyarakat adat, mereka sangat bersyukur karena festival ini menjadi ruang untuk menjalin dan mempererat tali persaudaraan sesama orang Sumba serta wadah untuk bertukar pandangan tentang masalah dan pemahaman terkait Sumba; bagi generasi muda, festival ini dapat menambah pemahaman baru sekaligus menumbuhkan kecintaan atas tanah Humba. Selain orang-orang Sumba, pengunjung juga dari luar Sumba, karena kegiatan seperti ini menarik dan bisa menemukan wawasan baru tentang budaya lokal yang berbeda dengan budaya mereka.
 
Harapannya, Festival Wai Humba berdampak positif bagi kemajuan Sumba dan menyatukan masyarakat adat Sumba meskipun berbeda daerah administrasi. Kami bukan Humba yang menuju Kemusnahan! (Antonia Maria Oy)

  Bagikan artikel ini

Sandinganeng “Sekawan”

pada hari Minggu, 18 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Setiap daerah memiliki kearifan lokal yang membuat daerah tersebut unik dan punya daya tarik. Kearifan lokal terdiri dari berbagai macam seperti makanan khas, kalimat bijak, peninggalan budaya, pesan moral, etika  dan masih banyak lagi.

Kearifan lokal ini juga dapat kita jumpai di salah satu suku pendatang di desa Puao. Desa  Puao adalah salah satu desa di kecamatan Wasile Tengah di wilayah Kabupaten Halmahera Timur. Desa ini berpenduduk 635 jiwa dengan luas kawasan 474,90 KM. Desa ini didiami suku asli yaitu Tobelo dan suku pendatang seperti Sangihe, Buto, Makasar, Jawa dan Manado. Mayoritas masyarakat yang tinggal di desa ini beragama Kristen protestan dan beberapa Muslim. Kehidupan keseharian masyarakat di sini adalah nelayan dan petani.

Kebanyakan mereka menggeluti kedua pekerjaan itu disesuaikan dengan musimnya. Suku Sangihe adalah salah satu suku pendatang (1973) dari Sulawesi Utara dari Pualu Sangihe (Sangir) yang bisa dibilang sukses dalam melakukan pendekatan sehingga mereka bahkan diberi tanah untuk membangun rumah dan lahan untuk perkebunan. Seiring perkembangan zaman, mereka membangun kampung dan pada tahun 2007 dimekarkan menjadi desa Silalayang.
 
 
Desa Silalayang yang merupakan pemekaran dari desa Puao mayoritas adalah suku Sangihe. Mereka menikah silang dengan suku asli atau sesama suku Sangihe. Sejak 1973, setiap tahunnya selalu ada sanak saudara dari Sangihe yang datang untuk mencari pekerjaan atau sekedar merantau ke daratan Halmahera. Karena pekerjaan utama suku ini adalah melaut maka kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai nelayan.
 
Menariknya saat mereka masuk ke wilayah Halmahera khususnya di Desa Puao mereka membawah semboyan “sandinganeng” yang berarti “sekawan”, “sekelompok”, atau berkawan”. Semboyan itu membuat masyarakat asli desa Puao membuka tangan dan menerima mereka dengan ramah. Semboyan sandinganeng juga membuat  suku Sangihe bisa bertahan tinggal di daerah yang baru tanpa merasa takut dan khawatir sebab sedari awal mereka sudah menghidupi semboyan tersebut.
 
Semboyan itu dapat kita lihat dari etos kerja dari suku Sangihe yang merantau ke tanah Halmahera. Mereka pekerja keras dan selalu berusaha membantu orang sekitar mereka. Hal ini dapat kita jumpai jika berkunjung ke wilayah Halmahera. Selain itu ketrampilan membuat perahu dan juga kepandaian melaut suku Sangihe tidak diragukan lagi.
 
Sampai saat ini semboyan tersebut masih melekat kuat pada suku Sangihe yang berada di desa Silalayang. Semboyang ini dihidupi dengan tidak pernah membuat masalah dengan suku asli daerah setempat. Sebaliknya suku asli yang sering membuat masalah dengan suku Sangihe, seperti anak muda suku asli sering membuat keributan di desa Silalayang, tetapi suku Sangihe tidak menanggapi atau dendam terhadap suku mereka.
 
Semboyan sandinganeng juga dapat kita lihat di desa Silalayag yang saat ini banyak didatangi orang luar daerah seperti, Filipina, Manado, Jawa, Buton, Talaut, Makasar dan beberapa suku Tobelo yang juga tinggal dan menetap di desa ini. Menariknya suku Sangihe tidak pernah membuat keributan malahan mereka hidup rukun. Sampai saat ini suku Sangihe pun masih menggunakan percakapan sehari-hari bahasa Sangihe (Sangir).
 

 

Suku Sangihe yang dulunya pendatang sekarang sudah menjadi masayarakat asli Halmahera dan ikut memberi sumbangsih pemikiran ide dan gagasan dalam menunjang kemajuan desa Silalayang. Keterlibatan suku Sangihe dan pendatang di desa Silalayang dapat dilihat dari terpilihnya kepala desa dari suku Manado campuran Sangihe Bapak Robles Makatika. Seorang kepala desa muda yang visioner dan menjadi panutan bagi anak muda saat ini dengan capaian kemajuan desa Silalayang saat ini dari segi pembangunan infastruktur desa mulai dari kantor desa yang dulunya tidak ada, sekarang ada dan mendapatkan predikat kator terbaik dan paling rapi, ada pasar yang menjual pakaian, sayur mayur dan juga ikan segar. Selain itu dibangun juga dermaga sebagai tempat bersandar perahu nelayan, taxi laut dan juga menjadi tempat spot berswafoto populer di kawasan kecamatan Wasile Tengah.

Desa ini menjadi contoh bagi semua desa di kecamatan Wasile Tengah sebagai desa baru yang berkembang pesat dilihat dari pembangunan infrastruktur yang memadai dan menunjang perekonomian masyarakat. Semboyan sandinganeng bukan hanya sebuah kalimat tetapi benar-benar dihidupi dan terus dijaga sampai hari ini. (ERI)

 


  Bagikan artikel ini

Poso Dalam Sintuwu Maroso

pada hari Sabtu, 17 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Kearifan lokal seringkali diartikan sebagai kebijakan setempat, pengetahuan setempat atau kecerdasan setempat. Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan spesifik dengan budaya tertentu dan mencerminkan cara hidup masyarakat tertentu.

 
Poso adalah salah satu kabupaten yang mempunyai nilai-nilai budaya luhur yang mempersatukan tanah Poso, adapun sebagian orang mengenal Poso sebagai zona merah, terorisme, tanah perkelahian antara agama, banyak pembunuhan bahkan ketika menyangkut perang ideologi, ikut memainkan peran. Di Poso pernah ada upaya menyatukan kekuatan nasionalis dalam medan perpolitikan untuk menghalau gerakan-gerakan primordial yang bisa mengganggu pluralisme dan persatuan Indonesia. Apapun argumentasinya, kekerasan yang membawa kematian banyak orang, termasuk orang-orang yang tidak berdosa tidak bisa dibenarkan.

 
Poso mempunyai satu nilai adat yaitu Sintuwu Maroso yang berasal dari dua suku kata, Sintuwu yang berati persekutuan, persatuan, kesederhanaan dan Maroso yang berati kuat. Jika digabungkan menjadi persekutuan hidup yang kuat. Dimana kehidupan masyarakatnya diwarnai oleh harmoni dan toleransi. Selain itu, ada yang menarik di balik falsafah hidup to poso (orang Poso) dalam bahasa daerah Pamona (bahasa suku Pamona)Poso mempunyai arti “Pecah” dalam bahasa Indonesia, tentu berbanding terbalik dengan nilai adat yang dijunjung oleh orang Poso Sintuwu Maroso. Dapat disimpulkan bahwa walaupun Poso dalam keadaan darurat intoleransi tetapi masyarakat Poso menjunjung tinggi nilai adat dari Sintuwu Maroso yang mempunyai makna, yaitu : TUWU MOMBETUWUNAKA (hidup saling menghargai), TUWU MOMBEPATUWU (hidup saling menghidupi), dan TUWU MOMBESUNGKO (hidup saling menolong).

Sejatinya orang Poso bukanlah masyarakat yang tertutup dengan toleransi sebab Sintuwu Maroso yang mempersatukan hidup masyarakat tetap damai dan sehat sentosa dan hal inilah yang menjadi impian seluruh masyarakat Poso dari dulu sampai sekarang. (FAT)

 


  Bagikan artikel ini

 Ngerti, Ngrasa, Nglakoni  Mengerti, Merasakan dan Melakukan (Kognitif, Afektif dan Psikomotorik)

pada hari Jumat, 9 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Salah satu kelompok masyarakat yang disebut masyarakat Jawa, merupakan masyarakat yang pada umumnya tinggal di bagian tengah pulau Jawa. Masyarakat Jawa dikenal memiliki kekayaan budaya, ajaran-ajaran dan ungkapan-ungkapan yang beragam bahkan bisa dikatakan kompleks karena berkaitan dengan banyak hal dan mendapat pengaruh karena perjalanan sejarah masyarakat Jawa sendiri, misalnya pengaruh Hindu dan Islam. Kebudayaan, ajaran dan ungkapan ini menjadi pedoman hidup sehari-hari dalam berelasi antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sang Mahakuasa, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sekitar. Semua ini merupakan sarana yang diyakini untuk menjaga keseimbangan tatanan hidup bermasyarakat.

Harus diakui bahwa ada berbagai petuah, nasehat dan ungkapan yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa. Salah satunya adalah Ngerti, Ngrasa dan Nglakoni. Petuah ini diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia dan pendiri Tamansiwa.
 
Pengertian sederhana dari Ngerti, Ngrasa dan Nglakoni ini adalah:
Ngerti (Mengerti) :
ini adalah upaya seseorang untuk memperoleh pengetahuan atas sesuatu yang ingin diketahui maupun yang tidak disengaja melalui panca inderanya. Di dalam aspek kognitif ini ia akan mampu mengenali sesuatu, identifikasi dan membuat suatu konsep dari pengetahuan baru yang ia peroleh.
 
Ngrasa (Merasakan):
ini adalah fase afeksi dimana seseorang merasakan dan menghayati apa yang telah ia ketahui, tidak hanya sekedar tahu tetapi menemukan makna di dalamnya. Ini nampak dari perubahan sikapnya karena pengetahuan baru yang telah diperoleh sebelumnya.
 
Nglakoni (Melakukan):
bagian ini merupakan aspek motorik di mana seseorang bertindak, melakukan sesuatu atau keterampilan karena pengetahuan baru yang ia pelajari sebelumnya. Ini merupakan bentuk konsistensi dan keteladanan, melakukan apa yang telah dipelajari sebelumnya.
 
Petuah ini tetap relevan sampai saat ini karena seseorang dari lahir melalui tahapan kehidupan sesuai perkembangan dirinya menuju kedewasaan, selalu mendapatkan pengetahuan baru, merasakan dan melakukan.
 

Dalam kaitan kehidupan manusia di dalam dunia yang penuh dengan keberagaman, dan keberagaman adalah keberadaan hakiki yang ada di dalam dunia, termasuk manusia dan keadaan alam di sekitarnya. Manusia berada di dalamnya dan ia berusaha mengenali dan mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya, dan pada kenyataannya ia tidak bisa melepaskan diri dari lingkungan di sekitarnya. Pengetahuan dan pengalaman baru terhadap keberagaman mendorong seseorang merenungkan dan menghayati kenyataan yang ada. Ini yang membuat seseorang menentukan sikapnya dan menentukan tindakan sebagai respon terhadapnya. 
 
Khususnya di Indonesia dengan keberagaman budaya, etnik, religi dan masyarakat maka langkah-langkah yang perlu diambil adalah ‘Ngerti’ yaitu berupaya memperoleh pengetahuan tentang keberagaman tersebut sehingga menemukan dan mengerti tentang nilai-nilai atau filosofi hidup, keunikan dan ekspresi budaya dari masyarakat lainnya. Kemudian ‘Ngrasa’ atau merasakan dan menghayati keberagaman bukan sebagai ancaman melainkan kenyataan dan kekayaan Indonesia. Selanjutnya ‘Nglakoni’ yaitu mewujudkan dalam tindakan yang menujukkan sikap saling toleransi, keterbukaan melalui kerjasama, gotong royong, sopan santun dan kepedulian pada kemanusiaan dan lingkungan.
 
Ngerti, ngrasa dan nglakoni adalah petuah sederhana tetapi membutuhkan kemauan, kesadaran dan kesungguhan untuk mewujudkan dalam tindakan hidup sehari-hari. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

Stube-HEMAT  Mengakar Dalam Masyarakat 

pada hari Kamis, 8 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 

 

 

Hidup di tengah masyarakat dan belajar menghidupi budaya setempat membuat hidup lebih berarti dimana pun kita berada. Demikian juga Stube HEMAT yang ditempatkan di tengah-tengah masyarakat Yogyakarta, khususnya wilayah RW 19, Nyutran, sudah sepatutnya ambil bagian dalam dinamika kemasyarakatan yang terjadi. Seperti dalam kegiatan menyongsong hari kemerdekaan Indonesia ke-74 tahun, Stube-HEMAT berpartisipasi membagi informasi dalam acara “Dialog Budaya” pada tanggal 14 Agustus 2019, bertempat di kediaman Empu Keris, Eko Supriyono. Dialog Budaya mengangkat tiga topik yakni; Pemahaman Sumbu Filosofis kota Yogyakarta, Sejarah Kampung Nyutran, dan Keris.

Pemahaman sumbu filosofis kota Yogyakarta disampaikan oleh Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, Ariani Narwastujati, dengan menayangkan video pendek yang menarik dan mudah dipahami khalayak. Video tersebut menjadi acuan dasar sederhana mengenai sumbu filosofis kota Yogyakarta yang menempati rangking ke-4 dari 15 video yang dikompetisikan oleh Dinas Komunikasi dan Informasi, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Video dengan sub-title bahasa Inggris bisa diakses pada link:
Video sumbu filosfis menjadi pembuka dialog budaya dan membuat hadirin lebih memahami dan mencintai kota Yogyakarta yang menjujung tinggi nilai-nilai kehidupan, kemanusiaan dan perbedaan ciptaan. Penonton dibuat merenungkan kembali hakikat dilahirkan, mengisi hidup dan proses kembali ke Ilahi.

Topik selanjutnya adalah sejarah kampung Nyutran oleh Endro Gunawan, generasi kesekian warga asli yang mula-mula tinggal di kampung ini. Kampung Nyutran mula-mula bisa diibaratkan sebuah markas prajurit yang berasal dari pulau Madura yang diberi nama Prajurit Nyutra. Prajurit ini menjadi salah satu bagian dari prajurit Kesultanan Yogyakarta yang berasal dari berbagai daerah dan pulau di Nusantara untuk mendukung Sultan.

 
 
Melanjutkan sejarah kampung, dialog mengenai Keris yang dibawakan Eko Supriyono, tidak kalah menariknya. Sudah ratusan, bahkan ribuan keris dihasilkan dari tangannya sejak tahun 1979. Sedikit banyak Eko Supriyono menjelaskan tentang jenis warangka dan juga setiap bentuk warangka memiliki namanya masing-masing. Pada prosesnya keris buatan Indonesia sudah terdaftar di UNESCO sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia pada tahun 2005.


Warga kampung Nyutran terlihat antusias mengikuti acara dialog dan muncul ide agar acara seperti ini dapat diagendakan secara rutin sebagai sarana edukasi masyarakat terkait dengan sejarah kota Yogyakarta, sejarah kampung Nyutran dan juga tentang keris yang juga merupakan salah satu kelengkapan busana adat laki-laki suku Jawa.

Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun, menjadi perenungan bersama apa kontribusi yang dapat kita berikan bagi bangsa dan negara kita ini? Mencintai budaya, saling menghargai dan terus saling mendukung adalah salah satu pilihan yang bisa kita ambil. Sebab tugas kita melahirkan pemimpin yang bijak tanpa melihat suku, ras dan agama. Mari bersatu karena kita Indonesia yang penuh aneka ragam adat istiadat dan sejarah lokalnya. (SAP).

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 8 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT

 

 
 
 
“Napurantano-tano Ranging Masiranggoman,
Tung pe Badanta Padao-dao Tonditta ma
Masigomgoman”
 
 
 
Kebudayaan suku Batak memiliki bermacam-macam istilah untuk menghayati kehidupan, salah satunya mengenai keharmonisan dalam kekerabatan dan persatuan. Suku Batak memiliki 6 suku di dalamnya yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing dan Batak Angkola. Setiap suku Batak memiliki bahasa, budaya dan motif pakaian adat yang berbeda pula. Ciri khas mengenal seseorang yang berasal dari suku Batak adalah dari marganya atau nama keluarga yang diturunkan dari orang tua laki-laki/ayah. Setelah mengenal nama marganya maka akan diketahui orang itu berasal dari suku Batak apa dan darimana asal daerahnya. Beberapa wilayah di Indonesia sering kali dijumpai masyarakat yang berasal dari suku Batak. Suku ini pun terkenal dari cara bicaranya yang keras dan martarombo yaitu mencari hubungan saudara dengan marga yang sama. Maka tak heran jika ada kekerabatan yang sangat erat di antara sesama marga.

Ada istilah Batak yang mengatakan “ Napurantano-tano Rangging Masiranggoman Tung pe Badanta Padao-dao Tonditta ma Masigomgoman”  tano = Lahan, ranging marsiranggoman = saling mengikat, tung = sungguh, pe = punbadan = tubuhpadao-dao = berjarak jauhtondita ma = Jiwa lah. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “pohon sirih yang tumbuh ditanah, batangnya saling mengikat, biarpun badan kita berpisah jiwa kita tetap bersatu”. Meskipun kita berada dalam lokasi yang berbeda tempat, tapi akhirnya kita tetap bersatu.
 
Filosofi ini diambil dari kebudayaan setempat dimana masyarakat di sana dahulu mengkonsumsi sirih. Oleh karena itu, filosofi ini diambil dari pohon sirih. Jika diamati batang pohon ini, ketika tumbuh batang dan ujungnya akan bertemu atau bersatu. Seperti halnya ketika kita pergi ke lokasi yang jauh untuk merantau bekerja ataupun menuntut ilmu suatu saat akan bertemu kembali. Makna ini memberikan pengharapan bagi kita yang memiliki perbedaan baik itu asal daerah, bahasa dan kebudayaan bahwa perbedaan itulah yang melengkapi dan menyatukan kita. Dalam kepercayaan daerah juga memiliki arti ketika badan/tubuh berpisah dengan jiwa, suatu saat pasti akan bertemu kembali.
 
 
Pohon sirih yang meski hidup dengan menumpang pada tanaman lain ini, tidaklah mengambil nutrisi dari tanaman yang ditumpanginya. Bahkan daunnya yang indah berbentuk hati itu malah akan memperindah tanaman yang ditumpanginya. Demikianlah simbol yang dapat kita pelajari yang menggambarkan hidup berdampingan dengan damai dengan keanekaragaman yang ada di tanah Batak bahkan di keseluruhan wilayah Indonesia. Sebagai simbol kerukunan dan perdamaian, tak heran dalam adat istiadat suku tertentu kerap membawa dan atau menyuguhkan daun sirih ini sebagai arti pernyataan hidup harmonis dan tidak saling merugikan.


Satu lagi keunikan pohon sirih bila kita perhatikan tumbuhan ini merambat dari bawah ke atas yang bermakna dalam kehidupan maupun pekerjaan yaitu segala sesuatunya haruslah dimulai dari bawah hingga perlahan-lahan menjadi lebih tinggi dengan tanpa merugikan orang lain. Sudah sebaiknya kita memahami dan menghargai budaya bangsa kita yang luhur ini agar tercipta suatu perdamaian dan persatuan yang harmonis untuk menjaga kekerabatan kita. (ROB).

  Bagikan artikel ini

Faramaw re Fatenow Farumi Kalimat Pemersatu

pada hari Selasa, 6 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Desa Buli adalah ibu kota kecamatan Maba. Kecamatan Maba memiliki luas 408,50 km2 (6% dari keseluruhan Halmahera Timur), berjarak sekitar 46,66 km dari ibukota kabupaten Halmahera Timur. Kecamtan Maba terdiri dari 10 desa yakni Buli, Buli Asal, Buli Karya, Wayafli, Geltoli, Sailal, Pekaulang, Teluk Buli, Gamesan dan Baburino. Tiga nama yang disebutkan terakhir merupakan desa yang baru dimekarkan pada akhir 2012 (https://haltimkab.go.id/kecamatan-maba/).

Secara administratif ibu kota kecamatan berada di Desa Buli, tetapi secara tatanan dan adat semuanya terpusat di Buli Asal. Hal ini dapat kita lihat dari gaya hidup dan juga cara masyarakat Buli Asal mengadakan acara pernikahan yang masih menggunakan adat Buli dan setiap keluarga pasti diajar untuk berbahasa Buli. Berangkat dari cara menghargai budaya dan cara melestarikannya secara turun temurun, ada  cerita menarik tentang kearifan lokal yang masih terus dijaga. Salah satunya adalah kearifan lokal dalam mempersatukan semua suku yang yang tinggal di Kecamatan Maba.
 
Selain suku Asli Buli yang beragama Kristen dan Islam terdapa juga beberapa suku pendatang, diantaranya Maba, Bugis, Sangir, Tobelo, Toraja, Jawa dan beberapa pendatang dari wilayah Halmahera lainnya. Selain itu agama terbesar adalah Kristen dan Islam yang masih mendominasi di wilayah ini. Buli adalah lumbung tambang nikel, emas dan tembaga. Sejak 1997 perusahan pemboran Geomin sudah masuk ke wilayah ini dan berkantor di Desa Buli (sekarang desa Geltoly; yang berarti persimpangan). Selain perusahan tambang, di Buli juga terdapat kantor Pos dan beberapa perusahaan ekpedisi seperti JNE dan Lion Parcel untuk menunjang infrastruktur jual beli online. Kantor Kapolres Halmahera Timur pun masih tetap berada di Desa Buli bukan di ibu kota kabupaten. Selain itu sekarang ini sudah terdapat 1 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), beberapa toko pakaian dan pasar ikan dan sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Situasi Buli saat ini tidak lepas dari usaha para leluhur terutama tetua-tetua adat Buli yang terus berjuang menggiatkan pemahaman filosofi hidup rukun dan saling menghargai. Pada tahun 1998–2000 ada kerusuhan besar di Poso, Maluku dan Halmahera. Kerusuhan tersebut memakan banyak korban jiwa, harta benda, sanak saudara dan memutuskan rantai persaudaraan di antara kakak adik dan saudara.
 
Awal masalah yang tersebar adalah masalah perbatasan dua desa yaitu Kao dan Malifut. Dari masalah tapal batas berubah menjadi sebuah kerusuhan yang merenggut nyawa banyak orang yang tidak berdosa. Kerusuhan terjadi hampir di seantero Halmahera dari Utara sampai Selatan tetapi tidak terjadi di Buli. Berdasarkan beberapa literatur, kerusuhan pecah pada Januari tahun 1999 sampai penandatanganan Piagam Malino II tanggal 13 Februari 2002 
 
Wilayah Buli bisa bertahan dan tidak terjadi kerusuhan sama sekali dikarenakan adanya semboyan kearifan lokal “Faramaw re Fatenow Farumi” yang berarti “Saudara bersaudara”, “Kita Semua Bersaudara” yang didengungkan oleh tetua adat di wilayah Buli. Semboyan tersebut sampai saat ini menjadi pemersatu dan terus dihidupi oleh semua masyarakat di wilayah Buli. Karena semboyan itulah membuat wilayah Buli atau kecamatan Maba aman dari kerusuhan 1999/2000. Semboyan ini selalu diucapkan pada saat membuka pidato pada acara-acara besar di kampung. Bahasa pemersatu ini terbukti bisa menyatukan semua suku, agama dan aliran yang tinggal dan menetap di Buli. Di desa Buli Asal, setiap acara resmi seperti pernikahan atau lepas sambut pendeta baru, kalimat di atas masih terus diucapkan sebagai kalimat pembuka.
 
Terlebih lagi jika akan bergotong-royong membangun gereja, pastori atau fasilitas umum lainnya, kalimat tersebut seperti kunci yang dapat membuka hati setiap orang untuk terlibat membantu atau bekerjasama. Kearifan lokal harus terus kita jaga dan hidupi karena  saat ini dan dimasa depan kita akan terus hidup saling berdampingan dan bersatu walaupun kita berbeda agama, suku dan ras. (SAP)

  Bagikan artikel ini

Belajar Toleransi Dari Budaya Lamaholot

pada hari Senin, 5 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
‘Orang Lamaholot’ adalah sebutan bagi salah satu suku di Nusa Tenggara timur. Suku itu adalah suku Lamaholot. suku asli yang bermukim di Flores Timur, Adonara, Solor dan Lembata, dengan ciri utamanya adalah menggunakan bahasa Lamaholot sebagai bahasa ibu sekaligus bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Lamaholot berasal dari dua (2) kata yakni Lama: kampungHolot: bersambung. Sehingga Lamaholot diartikan sebagai kampung yang bersambung-sambung.
 
Setiap orang yang lahir menjadi bagian keluarga besar Lamaholot sungguh meyakini, setiap rejeki dan kemudahan dalam pekerjaan di mana saja, adalah berkat Lewotana (kampung halaman) dan peran leluhur nenek moyang.

Lewo tanah molo nage kame dore, ti pana akene todok, gawe akene walet (Kampung halaman jalan lebih dulu, baru kami ikut, supaya perjalanan kami tidak ada hambatan dan rintangan). Kame pana mai, seba wata piri tou, buku biliki teratu, balik maan gelekat lewo, gewayan tanah (Kami pergi mencari sesuap nasi, mencari ilmu pengetahuan, pulang kembali untuk mengharumkan nama kampung halaman). Ini menjadi doa setiap orang Lamaholot saat berpergian. Doa yang menyelamatkan sekaligus memberi rejeki saat berada di tanah orang, atau di perantauan.


Leluhur lamaholot telah mewariskan bagaimana hidup berdampingan tanpa permusuhan. Agama datang kemudian. Jauh sebelumnya adalah, keyakinan "taan kakan noo arin. Ake pewone geni" (Hidup berdampingan sebagai sesama saudara. Jangan saling membenci antara satu dengan yang lain).

Bentuk kebersamaan sesama anak Lewotana baik yang ada di kampung halaman, maupun yang ada di perantauan adalah dengan makan bersama. Momen ini yang selalu ditunggu dimana anak kecil, orang dewasa, tua muda, laki-laki atau perempuan dari semua agama tanpa kecuali, hadir dan melebur bersama dalam hajatan makan bersama.

Semua anak Lewotana, mendapat pesan untuk membawa misi perdamaian, persatuan dan tolerasi kepada sesama saudara lain di mana saja ia berada. Melalui hewan yang dikurbankan dan makan bersama, orang tua memberi kekuatan dan berkat kepada semua anak Lewotana dalam melanjutkan pekerjaan dan karya di mana pun ia berada. (MAR).

 


  Bagikan artikel ini

Interaksi Global Menuju Pembangunan Berkelanjutan

pada hari Minggu, 4 Agustus 2019
oleh Stube HEMAT
 
Interaksi global sudah tidak terhindarkan, bahkan menjadi tuntutan khususnya mahasiswa untuk memanfaatkan kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi dan perjumpaan antar manusia tanpa dibatasi jarak, ruang dan waktu yang berguna untuk transfer pengetahuan, menambah pengalaman dan memperluas jaringan demi peningkatan kualitas hidup manusia itu sendiri sesuai indikator tujuan pembangunan berkelanjutan. Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa membuka diri menjadi tuan rumah untuk mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz, Hannover untuk belajar tentang pembangunan berkelanjutan di Indonesia pada tanggal 8-10 Agustus 2019 di Yogyakarta.
 
Kegiatan ini menjadi sarana mahasiswa Indonesia dan Jerman mendalami pemahaman mereka tentang budaya dan sistem politik yang berbeda, membagikan gagasan dan pengalaman berkaitan aspek-aspek dalam pembangunan berkelanjutan, seperti kesehatan, pendidikan lingkungan dan lainnya. Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, Ariani Narwastujati, S.Pd, S.S, M.Pd, menyambut mereka dan memaparkan tentang kota Yogyakarta melalui video dan mempromosikan sumbu filosofis kota ini. Koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, Trustha menceritakan pendampingan Stube-HEMAT di Yogyakarta, Sumba maupun Bengkulu. Andreas Kurschat, koordinator grup dari Hannover memperkenalkan rombongan dan menjelaskan tujuan kedatangan ke Indonesia bersama beberapa mahasiswa untuk mengamati kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat Indonesia, khususnya di Semarang, Jawa Tengah dan belajar keunikan budaya di Yogyakarta bersama Stube-HEMAT.
 
Praktek membatik tulis menjadi pengalaman pertama para mahasiswa dari Hannover menghayati warisan budaya Jawa yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Team Stube-HEMAT mendampingi mereka membatik dari menentukan pola dan menggambar pada kain. Mereka menampakkan antusiasme meskipun pertama kali membatik dan menuangkan malam cair ke kain menggunakan canting. Beberapa kali malam menetes di luar garis pola tetapi tidak menyurutkan semangat mereka dan berlanjut untuk mewarnai batik menggunakan teknik colet.
 
Informasi awal tentang Sumbu Filosofi memancing rasa ingin tahu para mahasiswa dan mendatangi lokasi-lokasi bagian dari Sumbu Filosofi dari Panggung Krapyak ke utara sampai di Alun-Alun Selatan, kemudian dari Tugu ke selatan melewati jalan Marga Utama, Malioboro, Marga Mulya dan Pangurakan sampai Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Kedalaman makna dari simbol-simbol menyita perhatian para mahasiswa untuk meraih kemuliaan hidup manusia, terlebih keberadaan berbagai jenis tanaman dalam Sumbu Filosofis memperkuat adanya perhatian terhadap lingkungan.
 
Diskusi dengan pengurus Community Development Bethesda di Yogyakarta sebagai pendamping masyarakat untuk meningkatkan kualitas kesehatan merupakan bagian Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) yang diwujudkan melalui pendampingan dan pelayanan kesehatan ibu, bayi dan keluarga, kecukupan gizi dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan di beberapa desa di kabupaten Sumba Timur, kabupaten Alor dan kabupaten Malaka, keduanya di Propinsi Nusa Tenggara Timur.
 
Perhatian kampus tentang kualitas kesehatan masyarakat didiskusikan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, dan dokter Teguh Kristian Perdamaian, yang mengampu mata kuliah Ilmu Kedokteran Umum dan Ilmu Kesehatan Masyarakat mengungkap alasan-alasan seseorang menunda urusan kesehatan seperti asuransi, pemeriksaan berkala dan penyembuhan karena (1) rendahnya tingkat pendidikan, karena rendahnya melek huruf, minimnya sosialisasi kesehatan, (2) kendala keuangan, yang berkait non medis seperti biaya transport, konsumsi selama perawatan dan kehilangan income, (3) pengaruh keluarga dan budaya, tentang keputusan keluarga, latar belakang budaya dan pengobatan alternatif, (4) aspek psikologis, kendala emosi dan persepsi masyarakat terhadap penyakit.
 
Kunjungan ke Kraton melengkapi rangkaian belajar tentang komitmen Kraton untuk menjaga warisan budaya yang berupa ajaran-ajaran, filosofi hidup dan beragam wujud seni, serta warisan benda seperti bangunan kraton dan koleksi literatur dan barang-barang antik.
 
Harapannya dengan beragam pengalaman dari interaksi mahasiswa lintas bangsa, observasi lapangan dan diskusi mengajarkan kepada setiap mahasiswa untuk menghargai keberadaan manusia dan nilai-nilai kemanusian demi kelangsungan kehidupan di muka bumi. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook