Mulailah dari Mental 

pada hari Senin, 16 April 2018
oleh adminstube
 

Pernahkah berpikir tentang dunia pertanian kita? Kemungkinan besar tidak, atau mungkin kita tidak terlalu memperhatikan, meskipun setiap hari kita tidak pernah lepas dari olahan hasil pertanian.Pertanian sangat vital bagi keberlangsungan hidup manusia terutama pangan dan sandang. Bukan lagi tren-tren dalam dunia pertanian di Indonesia apabila kita mengacu pada pertanian organik dengan berbagai penawaran produk organik dan keunggulannya, melainkan suatu perubahan dasar pikir dan pola hidup menuju hidup yang lebih baik dan sehat, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga untuk alam itu sendiri.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa melihat pentingnya generasi muda khususnya mahasiswa untuk memahami, menyadari dan terlibat dalam permasalahan pertanian di sekitar kita, oleh karena itu pada tanggal 14 April 2018  bertempat di Omah Cengkir, pukul 10.00 - 14.20 WIB diadakan Diskusi awal berkaitan dengan pertanian organik dan dilanjutkan dengan eksposur ke kebun organik di Pakem. Diskusi ini mengundang Y.B. Cahya Widiyanto, M.Si., Ph.D, dosen Psikologi di Universitas Sanata Dharma dan Antoni Kusuma Wardhana, S.Psi., M.M., praktisi dan penggiat pemasaran hasil pertanian organik.



Pak Cahya akrab dipanggil Pak Johan lebih fokus mengarahkan peserta untuk memperbaiki mental dan mindset mereka agar memiliki mental organik yang peduli dengan alam serta memiliki pemikiran jangka panjang (longterm) bukan jangka pendek (short term), karena pertanian organik merupakan proses panjang tentang bagaimana kepedulian dan kesadaran manusia untuk alam dan kesehatan.



 
Selanjutnya Mas Dhana membuka wawasan peserta bagaimana menawarkan produk organik dengan konsep yang lebih menarik dengan sentuhan inovasi agar bisa lebih diterima oleh pasar. “Sebenarnya menangkap peluang di sektor pertanian ini tidaklah sulit, tetapi tidak bisa dikatakan mudah juga. Terus mencoba dan berinovasi merupakan kunci keberhasilan untuk mendapatkan hasil”, jelasnya.



Dulu saya pernah mengelola dari hulu hingga hilir sendirian dan ternyata saya gagal, maka yang saya lakukan adalah saya fokus ke salah satu bidang saja yaitu marketing produk organik. Urusan menanam biarlah petani karena merekalah yang lebih paham soal itu. Bagian meracik menjadi sajian yang unik ada chefnya sendiri” imbuhnya.

Usai diskusi peserta meninjau salah satu lahan pertanian organik yang dikelola oleh Mas Dhana. Pemilik kebun organik, Pak Ari menjelaskan mulai dari pengelolaan tanah, penyiapan lahan, pengelolaan air dan sampai pada proses pendapatkan sertifikat organik. Lahan ini ditanami beberapa jenis tanaman seperti selada dan tomat. Peserta antusias  mengeksplor kebun dan bertanya banyak mengenai pupuk, penyiapan lahan, dan jenis-jenis tanaman yang ditanam.


Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Pelatihan Pertanian Organik yang akan diselenggarakan pada 4-6 Mei 2018 mendatang. Menarik atau tidak menarik buat Anda, dunia pertanian pasti menentukan kualitas hidup dan keberlangsungan manusia. Jadi, pastikan teman-teman muda untuk ambil bagian dalam pelatihan dan dunia pertanian. (ML)

 


  Bagikan artikel ini

 Menghidupi Gagasan Gusdur

pada hari Rabu, 11 April 2018
oleh adminstube
 
 
 
Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau terkenal dengan sebutan Gus Dur adalah tokoh pluralisme di Indonesia bahkan beliau menjadi Bapak pluralisme Indonesia. Semasa hidupnya beliau lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan masyarakat terutama masyarakat kelas bawah. Gus Dur kecil hidup di pesantren Jombang, Jawa Timur, sebagaimana para anak kiai pada umumnya. Gus Dur kecil sudah terbiasa membaca banyak buku bahkan dari luar pesantren. Sejak usia 5 tahun Gus Dur hijrah ke Jakarta mengikuti ayahnya Kiai Haji Wahid Hasjim yang saat itu menjabat sebagai Menteri Agama pertama di Indonesia. Kesukaannya terhadap buku berawal dari ayahnya yang membawa budaya asing ke dalam pesantren. Kegemarannya membaca tidak berhenti sampai beliau dewasa dan pindah ke Jogja.
 
Selama di Jogja kegemarannya dengan buku yang berasal dari luar pesantren seperti buku bahasa Indonesia dan buku-buku kiri semakin menjadi-jadi. Dari kegemarannya itu Gus Dur tumbuh menjadi orang yang sosialis, manusiawi dan sangat kritis, sederhana dalam bersikap dan bertutur kata. Selain itu Gus Dur sangat menghargai perbedaan, hal ini dibuktikan beliau dengan memiliki dua sahabat karib yang berbeda agama, seperti Ibu Gedong Bagus Oka seorang tokoh pembaharuan Hindu dan aktivis anti kekerasan dari Bali, serta Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr., yang dikenal dengan Romo Mangun.


Bukan hanya sahabat tetapi mereka adalah teman diskusi dalam berbagai hal”, jelas Elga Sarapung direktur Institute DIAN/Interfidei. Kalau Gus Dur ke Jogja, beliau harus bisa bertemu dengan Romo Mangun, mau sesibuk apa pun, begitu juga kalau beliau ke Bali. Ide, gagasan dan nilai-nilai yang dianut Gus Dur inilah yang mendasari mengapa perlu dilaksanakan Kelas Pemikiran Gus Dur. Sebab nilai-nilai hidup yang dianut Gus Dur merupakan nilai universal yang bisa kita pakai dalam kehidupan”, imbuhnya.

Melihat Indonesia saat ini, masyarakat sangat rentan dengan isu SARA atas nama agama. Isu-isu ini digoreng sedemikian rupa sehingga orang mudah terhasut masuk ke dalamnya. Oleh sebab itu Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) ini perlu dilaksanakan agar anak muda bisa belajar dan paham dengan logis gagasan Gus Dur yang sangat Indonesia, baik soal demokrasi, budaya, sosial dan ke-islamannya. Dari empat gagasan Gus Dur tersebut, yang paling mengesankan adalah gagasan sosialnya Gus Dur karena beliau benar-benar turun ke bawah untuk melayani masyarakat yang tertindas.
 
Beliau benar-benar berani menentang ketidakadilan yang terjadi pada saat itu seperti saat beliau mengunjungi masyarakat pengungsi Kedung Ombo dan memperjuangkan hak-hak mereka. Ini adalah bukti bagaimana Gus Dur benar-benar peduli dengan sesama manusia. Gus Dur adalah sosok yang begitu luar biasa dengan semua gagasannya, dan beliau mampu bertanggung jawab dengan semua yang diucapkan. Kelas Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan pada tanggal 7-8 April 2018 ini, diharapkan bisa membuka dan memberi pemahaman yang lebih, terkait siapa Gus Dur, dan apa saja kontribusinya bagi Indonesia.

Tiga puluh satu peserta KPG ini yang rata-rata anak muda membuat rencana tindak lanjut baik personal maupun kelompok, seperti bedah buku tentang GusDurian, atau menulis di media sosial dan blog. Mari bergandeng tangan untuk menjaga tanah air Indonesia tetap aman dan nyaman. (SAP).
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook