Menggagas Solusi Masalah Kesehatan di Nias

pada hari Selasa, 17 November 2020
oleh Putri N.V. Laoli

 

 

Rangkaian pelatihan tentang Masalah Kesehatan di Indonesia yang diadakan oleh Stube HEMAT Yogyakarta benar-benar mendorong saya untuk melihat kembali realitas di kampung halaman saya di Nias, khususnya realitas masalah kesehatan. Memang kenyataan saat ini perhatian masyarakat Indonesia dan dunia masih tersita pada pandemi, namun bukan berarti mengabaikan masalah kesehatan yang lain. Ini terbukti dengan salah satu bagian pelatihan yang memandu peserta melihat kembali permasalahan kesehatan di kampung halaman.

 

Permasalahan kesehatan yang saya amati di kabupaten Nias antara lain kualitas jamban sehat, sarana air bersih dan lantai rumah masih tanah. Berdasarkan data BPS Sumatera Utara 2019, tentang distribusi rumah tangga terhadap penggunaan fasilitas tempat buang air besar dikategorikan sebagai berikut: sendiri 42,15%, bersama 5,12%, MCK umum 0,26%, tidak menggunakan 0,22%, dan tidak ada 52,25% (terbanyak di provinsi Sumatera Utara). Data ini menunjukan bahwa lebih dari 50% rumah tangga di kabupaten Nias tidak memiliki jamban sehat dan layak. Di sisi lain, sumber air minum rumah tangga sangat beragam, dari pompa 1,53%, sumur terlindung 13,60%, sumur tak terlindung 32,22% (terbanyak di provinsi Sumatera Utara), mata air terlindung 7,77%, mata air tak terlindung 32,54% (terbanyak di provinsi Sumatera Utara), air permukaan 1,72%, dan air hujan 7,82%. Sedangkan distribusi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak, yaitu 29,15% (terendah di povinsi Sumatera Utara, meskipun meningkat antara 2014-2018). Berkaitan rumah tangga berlantai tanah, di kabupaten Nias ada 16,30% rumah tangga, yang terbanyak di provinsi Sumatera Utara.

 

 

Realita di atas umum ditemui di desa-desa yang minim akses jalan raya, lampu penerangan, teknologi informasi dan fasilitas umum lainnya. Selain itu penduduk di desa-desa tersebut adalah warga ekonomi pra sejahtera yang hanya mampu membangun rumah kayu dan beralaskan tanah, sehingga wajar kalau sebagian besar rumah mereka belum mempunyai jamban layak maupun air bersih. Bukan berarti penduduk tidak mempedulikan manfaat memiliki jamban dan air higienis tetapi mereka masih memprioritaskan usaha untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga, sehingga kebutuhan fasilitas jamban layak masih berada di nomer sekian, dan menggunakan ladang, parit-parit atau sungai yang berada di belakang rumah. Berkait ketersediaan air, keluarga yang belum memiliki kamar mandi permanen biasanya menggali sumur atau tampungan air yang dipagari tenda atau terpal dengan bambu sebagai penyangga dan biasanya tidak beratap. Tak jarang air berwarna kuning kecoklatan  tetap digunakan untuk mandi, mencuci perabot rumah tangga dan pakaian.

Bagi saya yang kuliah di Ilmu Pemerintahan dengan melihat permasalahan kesehatan ini saya belajar menemukan alternatif-alternatif atas permasalahan yang terjadi di kampung halaman saya, misalnya pemerintah daerah ‘membuka mata’ dan dituntut lebih berperan, misalnya dengan membuka akses terhadap sumber air bersih melalui PDAM meskipun bertahap. Sedangkan berkait ketersediaan jamban dan peningkatan kualitas lantai rumah, pemerintah desa bisa melakukan inisiatif sebagai wujud ‘sense of crisis kebutuhan dasar masyarakat dengan menggalakkan pembangunan jamban rumah tangga yang dimasukkan dalam pembangunan desa untuk meningkatkan kekuatan sosial masyarakat dan peningkatan kualitas hidup.***


  Bagikan artikel ini

Masalah-Masalah Kesehatan di Kampung Halaman

pada hari Rabu, 4 November 2020
oleh Putri N.V. Laoli

Pandemi yang melanda dunia termasuk Indonesia sepanjang tahun ini menjadi cambuk masyarakat memikirkan kembali pola hidup sehat dan lingkungan bersih. Pemerintah sebenarnya sejak lama menghimbau namun kebiasaan baru ini benar-benar terasa penting sejak wabah melanda. Sebagai bagian dari masyarkat, mahasiswa pun tak lepas dari situasi ini, untuk bersungguh-sungguh menerapkan pola hidup bersih dalam hidup keseharian.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah yang sedang kuliah di Yogyakarta mendorong mahasiswa memperhatikan kesehatan tidak saja ketika di perantauan untuk kuliah, tetapi juga mengamati persoalan kesehatan di daerah asalnya, mempelajari dan menemukan gagasan nyata untuk meretas permasalahan lokal bersama masyarakat setempat. Dalam pertemuan sebelumnya peserta membentuk kelompok sesuai asal daerah dan melakukan pemetaan masalah kesehatan didampingi tim Stube-HEMAT Yogyakarta, selanjutnya mereka memaparkan hasilnya melalui presentasi virtual pada 3 November 2020 bersama praktisi kesehatan Sukendri Siswanto, S.Pd., M.Kes., kepala Divisi Kesehatan Primer CD Bethesda.



 

Hasil pemetaan kelompok kawasan Sumatera khususnya kelompok Nias Utara menemukan rawa-rawa dan rumah yang beralaskan tanah, sehingga rawan penyakit kulit, demam berdarah dan diare. Pelayanan dan fasilitas kesehatan masih perlu ditingkatkan, di samping itu ada kebiasaan yang kurang sehat dengan makan langsung tanpa cuci tangan. Kelompok Lampung Tengah mengungkap demam berdarah sebagai masalah kesehatan dominan karena kawasan sering tergenang air dan masyarakat jarang membersihkan lingkungan kecuali saat gotong royong. Selanjutnya kelompok Mentawai mengidentifikasi masalah gizi buruk, sanitasi dan kurangnya air bersih.

 

Kawasan Nusa Tenggara khususnya kelompok Sumba mendeteksi demam berdarah, malaria, dan diare yang cenderung terjadi di tahun ini, sementara kelompok Manggarai menemukan angka kematian ibu dan bayi masih tinggi dan ketersediaan jamban belum merata di setiap rumah. Menyangkut gizi buruk dan stunting ada baiknya melakukan pencegahan selain pengobatan dengan memanfaatkan pangan lokal yang mendukung kebutuhan keluarga. Karena kandungan nutrisinya bagus, daun kelor bisa dimanfaatkan untuk peningkatan gizi sekaligus nutrisi ibu hamil. Alternatif yang bisa dilakukan yaitu menanam sayuran di pekarangan rumah, menggerakkan kader posyandu untuk memantau kesehatan ibu-ibu, dukungan sosial bagi ibu dan calon bayi.

 

Kelompok Konawe, Sulawesi Tenggara menemukan sakit tenggorokan, paru-paru, serta batuk berkepanjangan masih terjadi. Salah satu jurnal kesehatan mengungkapkan bahwa penyakit seperti itu disebabkan salah satunya karena kondisi rumah yang kurang mendukung, kurangnya sirkulasi udara maupun sinar matahari. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat yang tidak memiliki latar belakang medis melihat kondisi sekitar untuk memastikan lingkungan terjaga, serta warga sadar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat? Jika lingkungan rentan TBC dengan gejala batuk berkepanjangan, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan maka tindakan yang bisa dilakukan adalah memotivasi orang dengan gejala tersebut memeriksakan diri ke layanan kesehatan dan memastikan mendapatkan layanan pengobatan.

 

Persoalan kesehatan di kepulauan Aru dengan yang tipikal rumah penduduk berupa rumah panggung dan berada di atas kawasan rawa dan pasang surut laut terungkap dengan kurangnya kesadaran masyarakat setempat membuang sampah pada tempat khusus, jadi mereka cenderung membuang begitu saja di bawah rumah karena berpikir akan hanyut saat air pasang. Tetapi kenyataanya, sampah hanya berpindah tempat sehingga ketika surut sampah akan mengendap dan menjadi tidak sehat serta pusat sarang nyamuk.

 

Dari kelompok Jawa Tengah khususnya Brebes dan Cilacap menemukan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang dilahirkan masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya kesadaran kesehatan ibu dan keluarga, belum meratanya imunisasi yang diterima ibu, bayi dan anak-anak di wilayah setempat yang dipicu lemahnya kemampuan ekonomi, kawasan lingkungan kumuh, dan pemahaman yang salah terkait imunisasi. Penyakit yang terjadi adalah thypus karena sanitasi buruk, pengolahan makanan yang tidak bersih dan lemahnya perilaku cuci tangan. Ini bisa diatasi dengan memperbaiki sanitasi rumah tangga, pengolahan bahan makanan dengan air mengalir dan menggunakan perabot yang bersih.

 

Temuan-temuan tersebut di atas bisa dikelompokkan ke dalam tiga jenis, pertama, penyakit menular seperti diare, TBC, malaria dan demam berdarah. Kedua, penyakit yang tidak menular seperti kolestrol, asam urat, hipertensi, dan asam lambung. Ketiga, kekurangan gizi di kalangan ibu dan anak serta stunting, yang masing-masing membutuhkan penanganan terpadu oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat non medis.

Melalui pemetaan masalah kesehatan di kampung halaman para mahasiswa diajak mengasah kepekaan dan kemampuan analisis serta menumbuhkan empati terhadap realita di sekitarnya. Bahkan menemukan solusi alternatif sebagai jawaban atas masalah kesehatan yang terjadi di Indonesia.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook