pada hari Selasa, 29 Maret 2016
oleh adminstube
Jogja Asat

 

Pembangunan, Isu Lingkungan dan Sikap Kita

 

 

 

“Jogja asat” bukan hanya ungkapan dalam dunia maya tapi juga dalam dunia nyata. Mural yang menjadi simbol kreatifitas seniman jalanan juga menggambarkan fenomena ini. “Jogja Asat” menyimpan pesan keprihatinan dan peringatan bagi sebagian masyarakat yang hidup di Kota Yogyakarta dan sekitarnya akan ancaman kekurangan air.

 

 

 

 

 

 

Topik keadilan sosial dengan membahas Jogja Asat menjadi pembicaraan panas peserta Stube yang pernah mengikuti pelatihan Christianity And Social Justice 2016, yang selanjutnya membentuk kelompok follow-up bernama Enviro 16. Kelompok ini terdiri dari 6 orang mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Mereka adalah Timotius, Olive, Cindy, Lili, Martina, dan Mendo, ditambah 3 mahasiswa baru (Agus, Eman, Peter) dan 2 perwakilan dari Stube-HEMAT (Yohanes dan Stenly). Bertempat di sekretariat Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) ITY, Senin, 28 Maret 2016 mereka mulai berdiskusi mengenai pengenalan isu aktual tentang pembangunan dan dampak lingkungan di seputar Yogyakarta.

 

 

 

Diawali dengan kisah Yohanes mengenai Yogyakarta tempo dulu dengan romantika masa lalu dimana banyak orang berjalan kaki, pepohonan rindang di kanan kiri jalan, orang-orang lalu lalang bersepeda dengan gembira, sementara anak-anak mudanya menemukan cinta di Yogyakarta yang teduh. Tapi sekarang semua sudah berubah. Pembangunan menyeruak di segala bidang. Pembangunan baik fisik dan non-fisik digalakkan untuk mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Pembangunan tidak saja soal pembangunan pemikiran luhur, tetapi juga soal pembangunan gedung-gedung besar. Penghisapan air tanah banyak dilakukan oleh gedung-gedung besar, khususnya hotel dan mall menjadi pemicu keringnya sumur-sumur di sekitarnya. Masyarakat mulai merasakan kesulitan mendapatkan air. Jogja pun dianggap mulai ‘asat’.

 

 

 

Setiap pembangunan bukan hanya mendatangkan hal positif, tetapi juga hal negatif. Orang merasakan keuntungan tetapi ada juga yang merasakan keresahan. Orang resah karena kualitas lingkungan semakin menyusut dan orang berteriak agar pembangunan harus adil memperhatikan aspek lingkungan. Peserta diskusi yang merupakan mahasiswa studi lingkungan, tentu saja mengenal isu-isu lingkungan dengan lebih baik. Ternyata anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena secara akademik mereka belajar tentang pembangunan dan dampak pembangunan yang ditimbulkan dan berfokus pada isu nasional seperti tambang, perkebunan, dan industri. Artinya, isu lokal Yogyakarta tidak menjadi bahan perkuliahan sekalipun menarik dan penting.

 

 

 

Agus, seorang peserta diskusi, mengomentari pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dibangunnya pabrik-pabrik mempengaruhi kehidupan ekonomi, budaya, dan lingkungan daerah. Di bidang ekonomi, pembangunan menaikkan pendapatan dan arus uang ke daerah. Artinya, pembangunan berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi. Di bidang budaya, perkembangan industri juga mempengaruhi gaya hidup seperti konsumsi semakin tinggi sementara budaya menabung tidak lagi menjadi konsentrasi. Pada aspek lingkungan, pembangunan di daerah sebagian menguntungkan tetapi perlu juga koreksi dan pembenahan karena ada perusahaan yang memenuhi kriteria AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), tetapi ada juga yang tidak memenuhi kriteria, sehingga pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup pun terjadi. Industri dan perusahaan yang dimaksud Agus ini adalah perusahaan tambang, pariwisata, perkebunan dan sarana-prasarana umum.

 

 


Kelompok diskusi ini berharap semoga semakin banyak teman-teman yang sadar akan perubahan lingkungan dan semakin arif dalam mengelola pemanfaatannya. Kelompok ini juga berharap dapat membagikan pemahaman cinta lingkungan kepada sebanyak mungkin orang, agar semakin banyak orang sadar bahwa lingkungan itu penting untuk dijaga. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan yang berkeadilan. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 25 Maret 2016
oleh adminstube
Memangkas Ketidakadilan Sejak Dini
 
 
Mengajarkan keadilan sosial bukan hal mudah, terlebih untuk anak usia dini. Namun bagi Domi (mahasiswa Theologi STAK Marturia) dan Jeri (mahasiswa fak. Pertanian UST) hal ini bisa diatasi. Dengan berkolaborasi dua mahasiswa ini membuat semuanya mudah dan menarik karena Domi berbakat mengajar sementara Jeri hebat meramu coretan pensil menjadi gambar komik. Keduanya tidak menyia-nyiakan talenta tersebut sehingga terciptalah materi pengajaran Keadilan sosial dengan memakai tokoh Alkitab. Mengajarkan materi ini sejak usia dini akan memperkokoh karakter dasar untuk menjunjung rasa keadilan”, ujar Domi dan Jeri mantap.
 
Gambar-gambar komik itu dipakai sebagai bahan ajar untuk anak sekolah minggu kelas kecil (usia 5-8 tahun) di GKJ Ambarukmo Pepanthan Nologaten dengan tema “Berapapun harganya” (Yoh.12: 1-8). Sosok pada gambar tersebut adalah beberapa tokoh yang ada dalam Alkitab. Sosok yang menjadi bahan cerita saat itu adalah Yudas, seseorang yang memelihara ketidak adilan sejak dalam pikirannya. Yudas menyalahgunakan jabatannya sebagai bendahara komunitas pengikut Yesus. Iri hati melandanya saat Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu seharga 300 dinar atau setara dengan $ 10.000. Ia mengecam tindakan itu sebagai pemborosan dan berkedok membela anak-anak yatim. Sementara bagi Maria, tindakan itu sebagai ungkapan syukur atas mujizat yang dilakukan Yesus dengan membangkitan saudaranya yang bernama Lazarus dari kematian. Kehidupan lebih berharga dari uang seberapapun.
 
Materi yang berat jika hanya menjelaskan tokoh  tanpa disertai aktivitas sehingga Domi dan Jeri mengajak anak-anak mewarnai gambar dari tokoh-tokoh dalam cerita sesuka hati. Beberapa anak terlihat mengangguk-anggukkan kepala, sesekali terdengar suara sahut menyahut antara Domi dan mereka “siapa yang licik?” spontan anak-anak menjawab “Yudas, kak”. Lalu dilanjutkan “kalau begitu perbuatannya jangan di.....?” “tiru kaka” teriak sepuluh murid di ruangan itu.
 
Domi mengatakan, “Anak-anak itu suka diajak menggambar, mereka termotivasi menguasai materi sebab diilustrasikan dalam gambar. Saya percaya walau sederhana tapi pengalaman ini akan membekas di hati mereka, sehingga ketidakadilan dari dalam pikiran pribadi berangsur-angsur dipangkas sejak usia dini”. Jeri pun terlihat bangga dengan karyanya yang dihargai dan disukai anak-anak.  Saat ini ia sedang mengerjakan komik tokoh Alkitab berbahasa Sumba karena ia rindu membagikan pengalaman bagaimana berlaku adil dari tokoh Alkitab pada anak usia dini di kampung halamannya.
 
 

 

Teruslah berkarya kawan berdua! Anak-anak menantikan tokoh apa yang akan digambaru ntuk  minggu berikutnya. Semoga tumpukan indah memori kolektif ini menuntun “teman-teman usia dini” mengamalkan sila ke 5 Pancasila ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ di masa depan.(SRB).

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 15 Maret 2016
oleh adminstube
Bertani di Lahan Sempit

Perkembangan ilmu pengetahuan semakin hari semakin berkembang. Dari zaman ke zaman selalu terjadi perubahan yang sangat jelas terlihat, salah satunya dalam bidang pertanian. Bagi masyarakat pedesaan, bertani identik dengan lahan yang luas dan tanah kosong. Tetapi bagaimana dengan masyarakat perkotaan? Hal inilah yang menjadi perhatian Pascah Hariyanto dalam melakukan bedah buku pada hari Jumat (11/03/16) pukul 17.00 – 19.00 WIB di Limasan dengan judul buku ‘Panen Sayur Secara Rutin di Lahan yang Sempit’.

 
Diskusi bedah buku dibuka oleh Yohanes sebagai pemandu acara dan dilanjutkan oleh Sarloce sebagai moderator. Acara dimulai dengan bermain games, menulis tujuh jenis sayur yang mudah ditanam pada lahan pekarangan yang sempit. Beberapa peserta mampu menuliskan sampai tujuh jenis sayur tetapi yang lain tidak.
 
Diskusi berjalan hangat sebab beberapa peserta sudah beberapa kali mengikuti kegiatan Stube. Sembilan peserta dan lima tim Stube mampu membuat seru jalannya diskusi. Pascah memulai dengan menjelaskan alur dari profil penulis, penerbit, jumlah halaman, alasan pemilihan buku dan lainnya.
 
Diskusi semakin hangat ketika masuk dalam sesi tanya jawab. Jerry menanyakan apa perbedaan menanam di lahan pasir dan tanah biasa, sementara Nuel ingin mengetahui bagaimana mengukur kadar keasaman tanah atau pH tanah secara sederhana, dan Tasya menanyakan jenis sayur yang memiliki nilai gizi tinggi. Penjelasan pertanyaan-pertanyaan tersebut berturut-turut adalah sebagai berikut: sebelum ditanami, lahan pasir sudah diolah terlebih dahulu dengan memberikan kotoran sapi, kompos dan unsur-unsur penyubur tanah pada lapisan atas, dibiarkan terakumulasi dengan pasir sehingga dapat memenuhi unsur hara tanah dan siap ditanami; cara tradisional mengetahui kadar keasaman adalah dengan mengamati apakah ada cacing di dalam tanah, apabila ada maka kadar keasaman tanah tersebut sudah pas; sayur memiliki kandungan gizi masing-masing yang bervariasi dan semuanya dibutuhkan tubuh manusia.
 
Bedah buku ini memberi banyak pemahaman dan cara pandang baru melihat dunia pertanian. Salah satu cara lain menanam di lahan sempit adalah dengan hidroponik, tetapi yang paling sederhana adalah menanam di pot-pot kecil dengan mendaur ulang sampah botol plastik untuk dapat dijadikan tempat menanam. Selamat mencoba berkebun di lahan sempitmu. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 10 Maret 2016
oleh adminstube
Pemuda Kristen Pejuang Keadilankah?
 
Sebuah Tantangan dan Panggilan
 
Berbicara tentang keadilan tidak akan pernah ada habisnya, terus menjadi isu hangat yang diperdebatkan oleh banyak golongan. Hal yang ingin dirasakan semua orang adalah adil dalam kewajiban dan hak. Bagi pemerintah, yang menjadi tolok ukur keberhasilan suatu program adalah apakah semua orang sudah mendapatkan hak yang sama dalam program tersebut. Tapi realita yang terjadi, keadilan sangat sulit dirasakan maupun diterapkan.
 
 
Senin, 07 Maret 2016 beberapa mahasiswa dari beberapa kampus di Yogyakarta, yaitu STPMD ‘APMD, UMBY, STAK Marturia, LPP, UST mengadakan diskusi bersama teman-teman dari Unit Kegiataan Mahasiswa Nasrani (UKMN) TALENTA Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Diskusi tersebut bertepatan dengan kegiataan ibadah rutin dengan pembicara Chobas dari STPMD ‘APMD yang mengangkat topik “Keadilan dipandang dari aspek Politik, Sosial, dan Agama: Pemuda Kristen Bisa Apa?”
 
Chobas menyampaikan teori keadilan menurut Aristoteles yang mencakup keadilan komutatif, keadilan distributif, keadilan kodrat alam, keadilan konvensional, dan keadilan perbaikan. Sementara keadilan dengan pendekatan politik dan sosial disampaikan dengan banyak contoh sehingga pendengar mudah memahaminya. Yohanes 5: 30-31 yang berbunyi “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar” menjadi penutup pembahasan keadilan dengan pendekatan agama.
 
Veni, mahasiswi fakultas Agroteknologi Mercu Buana bertanya, “Apa yang harus dilakukan seseorang yang berpolitik pun tidak tahu, apalagi harus memerangi ketidakadilan?” Chobas menanggapi pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa berpolitik itu universal, semua orang mempunyai hak untuk berpolitik, tapi di dalam politik mempunyai tingkatan-tingkatan, contoh figur Ahok dan Ahmad Dhani, dimana kemampuan orang dalam berpolitik harus diasah baru bisa terjun dalam dunia politik.
 
Muda tidak selamanya belum siap, karena usaha, kerja keras, dan keinginan menjadi hal utama yang harus dimiliki anak muda khususnya pemuda Kristen yang mendasarkan iman kepada Tuhan Yesus harus menjadi pejuang untuk memerangi ketidakadilan yang berada di lingkungan sekitar. (ITM)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 3 Maret 2016
oleh adminstube
Pemuda Kristen Pejuang Keadilankah?
 
Sebuah Tantangan dan Panggilan
 
Berbicara tentang keadilan tidak akan pernah ada habisnya, terus menjadi isu hangat yang diperdebatkan oleh banyak golongan. Hal yang ingin dirasakan semua orang adalah adil dalam kewajiban dan hak. Bagi pemerintah, yang menjadi tolok ukur keberhasilan suatu program adalah apakah semua orang sudah mendapatkan hak yang sama dalam program tersebut. Tapi realita yang terjadi, keadilan sangat sulit dirasakan maupun diterapkan.
 
 
Senin, 07 Maret 2016 beberapa mahasiswa dari beberapa kampus di Yogyakarta, yaitu STPMD ‘APMD, UMBY, STAK Marturia, LPP, UST mengadakan diskusi bersama teman-teman dari Unit Kegiataan Mahasiswa Nasrani (UKMN) TALENTA Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Diskusi tersebut bertepatan dengan kegiataan ibadah rutin dengan pembicara Chobas dari STPMD ‘APMD yang mengangkat topik “Keadilan dipandang dari aspek Politik, Sosial, dan Agama: Pemuda Kristen Bisa Apa?”
 
Chobas menyampaikan teori keadilan menurut Aristoteles yang mencakup keadilan komutatif, keadilan distributif, keadilan kodrat alam, keadilan konvensional, dan keadilan perbaikan. Sementara keadilan dengan pendekatan politik dan sosial disampaikan dengan banyak contoh sehingga pendengar mudah memahaminya. Yohanes 5: 30-31 yang berbunyi “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar” menjadi penutup pembahasan keadilan dengan pendekatan agama.
 
Veni, mahasiswi fakultas Agroteknologi Mercu Buana bertanya, “Apa yang harus dilakukan seseorang yang berpolitik pun tidak tahu, apalagi harus memerangi ketidakadilan?” Chobas menanggapi pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa berpolitik itu universal, semua orang mempunyai hak untuk berpolitik, tapi di dalam politik mempunyai tingkatan-tingkatan, contoh figur Ahok dan Ahmad Dhani, dimana kemampuan orang dalam berpolitik harus diasah baru bisa terjun dalam dunia politik.
 
Muda tidak selamanya belum siap, karena usaha, kerja keras, dan keinginan menjadi hal utama yang harus dimiliki anak muda khususnya pemuda Kristen yang mendasarkan iman kepada Tuhan Yesus harus menjadi pejuang untuk memerangi ketidakadilan yang berada di lingkungan sekitar. (ITM)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 1 Maret 2016
oleh adminstube
EXPLORING SUMBA
 
 
DESKRIPSI
Sebuah program Stube-HEMAT Yogyakarta yang mengirim mahasiswa aktivis Stube-HEMAT ke Sumba. Mahasiswa yang dikirim ke Sumba akan berbagi pengetahuan dan keterampilan mereka kepada mahasiswa dan kaum muda Sumba
 
AKTIVITAS YANG DILAKUKAN
Berinteraksi dengan mahasiswa (diskusi topik-topik aktual)
Membantu belajar membangun dan mengelola jejaring
Berbagi pengetahuan dan keterampilan yang bisa diterapkan di Sumba
 
PERSYARATAN PESERTA
Aktif sebagai peserta program Stube-HEMAT Yogyakarta
Berasal dari daerah selain dari Sumba
Mengajukan proposal dan presentasi
Mengikuti pembekalan peserta Exploring Sumba
Pernyataan kesanggupan peserta dan tidak mengganggu kuliah
 
LAIN-LAIN
Dibuka kesempatan untuk 6 orang di tahun 2016
Berada di Sumba sekitar 30 hari
 
Informasi lebih lanjut hubungi
Trustha Rembaka, S.Th (081392772211)
atau datang ke Sekretariat
Stube-HEMAT Yogyakarta
Jln. Tamansiswa, Nyutran MG II/1565 C,
Yogyakarta

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook