Mengurangi Masalah dengan Mengolah Limbah (Eksposur Balai PIALAM)

pada hari Jumat, 12 November 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Oleh: Kresensia Risna Efrieno.     

 

Mendengar kata limbah bisa jadi muncul asumsi negatif bahkan antipati, namun kenyataannya hidup manusia tidak bisa lepas dari limbah. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti limbah adalah sisa produksi, bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian, barang rusak atau cacat dalam proses produksi. Limbah ada beberapa macam, dari cair, padat, dan gas. Limbah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan gangguan atau pencemaran. Pembiaran terhadap pencemaran akan merusak bumi sebagai hunian manusia dan makhluk lainnya menjadi tempat yang tidak layak huni. Permasalahan pencemaran mulai dari sampah, polusi udara dan pencemaran air. Permasalahan sampah bisa dikelola dengan konsep 3R (reduce, reuse dan recycle), mengurangi barang yang mudah menjadi sampah, menggunakan kembali dan mengolah ulangPencemaran udara bisa diminimalisir dengan menanam pohon-pohon yang memproduksi oksigen selain regulasi untuk membatasi pencemaran udara. Lalu, bagaimana dengan air yang tercemar karena limbah cair, termasuk limbah cair domestik, seperti air bekas cucian, mandi, septic tank dan aktivitas rumah tangga?

 

 

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta bersama mahasiswa mencari jawab bagaimana mengolah air limbah domestik dengan melakukan eksposur atau kunjungan belajar di Balai Pengelolaan Infrastruktur Air Limbah dan Air Minum Perkotaan (PIALAM) di Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (Kamis, 11/11/2021). Di bagian pertama, para mahasiswa mendapat penjelasan dari kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan, Sudarno, bahwa Balai PIALAM bertanggungjawab untuk menyelenggarakan pengelolaan jaringan dan sistem pengelolaan air limbah pemukiman untuk meningkatkan layanan sistem air limbah terpusat dan pengelolaan sistem jaringan air minum lintas kabupaten/kota serta pengawasan keberlanjutan pelayanan air minum kepada kabupaten/kota. Ia juga memaparkan layanan di Balai PIALAM untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) dan bagaimana proses pengolahan limbah di tiga kabupaten/kota, yaitu Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Distribusi menuju lokasi pengolahan limbah ini memiliki dua cara, yaitu limbah cair domestik yang mengalir dari saluran pipa yang terkoneksi di rumah-rumah dan pengolahan lumpur tinja yang diangkut menggunakan truk khusus.

 

 

Di bagian kedua, mahasiswa bersama Heni, salah satu staff operasional melihat langsung proses pengolahan limbah cair domestik, dimana limbah mengalir dari pipa masuk ke pre-treatment yang terdiri dari penyaringan kasar, lift pumpgrit chamber dan saringan halus yang mana dalam proses ini limbah disaring dan dipompa menuju Grit Chamber atau pengendapan pasir dan dan mealui penyaringan halus. Setelah itu limbah disalurkan ke kolam pengendapan aerob dan anaerob. Endapan lumpur dari kolam diangkut ke bak pengeringan sedangkan air masuk ke kolam pematangan dan ditambah bahan penjernih air sebelum disalurkan ke sungai. Menariknya, ikan digunakan sebagai indikator kelayakan air yang diolah, jika ikan mati maka berarti bahwa paparan limbah masih kuat dan berlaku sebaliknya.

 

 

 

 

 

Proses pengolahan lumpur tinja dipisahkan antara sampah dan limbah cair menggunakan pompa Sludge Acceptance Plant (SAP) Huber. Dari sini sampah akan dikirim ke penampungan sampah, dan limbah cair disalurkan ke Alat Pemisah Lumpur Tinja (APLT). Lumpur akan disalurkan ke bak penampungan sedangkan air limbah akan mendapat treatment koagulasi dan flokulasi untuk mengurangi bau, mengikat lumpur dan menjernihkan air termasuk menghilangkan bakteri-bakteri. Dari hasil ini akan dilihat apakah air sudah berada di titik aman atau tidak. Jika belum, maka proses diulang lagi, dan jika dinilai aman maka air akan disalurkan ke instalasi IPAL.

 

 

Hujan deras sepanjang kegiatan tidak menyurutkan semangat peserta eksposur menjelajah setiap sudut PIALAM, namun beberapa mahasiswa mengaku tidak kuat berada di lokasi tersebut karena tidak terbiasa dengan bau limbah yang sangat kuat. Melalui eksposur program Water Security, Stube HEMAT Yogyakarta mendekatkan mahasiswa dengan realita limbah yang mengancam eksistensi air, dan menghadirkan pengalaman baru dan refleksi, sekaligus menumbuhkan kesadaran atas pentingnya air sehingga muncul gagasan yang bisa mereka lakukan untuk meminimalisir limbah, menjaga air dan lingkungan.


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook