Melek Pangan Lokal: Mudah, Murah, Melimpah

pada hari Jumat, 3 Juni 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh: Kresensia Risna Efrieno.          

 

 

 

Dilihat dari segi kekayaan alamnya, Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, bahkan terbukti sejak zaman penjajahan dimana negara-negara lain ingin menguasai Indonesia karena kekayaan alamnya. Kita semestinya bersyukur akan hal itu. Sadarkah bangsa Indonesia akan potensi yang luar biasa ini? Apa yang bisa kita lakukan terhadap kekayaan sumber daya alam tersebut? Siapa yang harus berinisiatif mengolahnya atau dibiarkan begitu saja? Pemikiran ini menjadi titik pijak Stube-HEMAT sebagai lembaga yang concern terhadap anak muda supaya terbuka kesadarannya akan kekayaan bangsa ini dan mengupayakannya untuk kesejahteraan.

 

 

 

Inisiatif untuk melihat kembali potensi pangan lokal menjadi topik diskusi mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta (Kamis2/6/2022) sebagai bagian dari program Keanekaragaman Hayati: Inisiatif Pangan Lokal. Para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengidentifikasi potensi-potensi lokal di daerah asal mereka dan memetakan produk yang sudah dihasilkan. Selanjutnya mereka mendiskusikan produk turunan seperti apa yang bisa dihasilkan darinya. FX Mujiyono, seorang praktisi hadir sebagai narasumber yang membagikan pengalaman mengolah potensi lokal agar memiliki nilai tambah. Hadir juga board Stube HEMAT Pdt. Em. Bambang Sumbodo, M.Min dan Direktur Eksekutif Stube HEMAT Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd.

 

 

 

 

Di awal diskusi para mahasiswa memetakan potensi lokal yang unik dari daerah mereka masing-masing. Ini menjadi langkah awal untuk membawa mahasiswa menyadari kekayaan potensi lokal yang ada di daerahnya. Selanjutnya FX Mujiyono mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara tropis yang kaya hayati dan tambang. Tidak ada hasil alam yang tidak bisa kita olah, termasuk di daerah-daerah. Ia membagikan pengalamannya selama berkiprah mengolah potensi lokal, khususnya di provinsi  NTT, seperti pupuk organik dan pengembangan pertanian, kemudian produk fermentasi dari tanaman buah dan rempah, seperti  anggur, salak, kopi, kayu manis dan pisang. Ia memilih bahan-bahan ini karena prinsip 3 M, yaitu Mudah, Murah dan Melimpah, seperti salak. Fermentasi salak sebagai langkah alternatif yang bisa dilakukan saat panen raya sehingga tetap menguntungkan petani. Temuan-temuan baru pengolahan pangan lokal akan muncul dari kesadaran akan kekayaan pangan lokal dan mencari tahu apa yang bisa dihasilkan sebagai produk turunannya. Produk-produk ini pun punya peluang masuk ke pasar global, dari semangat lokal menuju global.

 

 

Para peserta antusias menyimak paparan narasumber dan merespon dengan tanggapan dan pertanyaan, seperti Mensi, mahasiswa dari Sumba, NTT membagikan pengalamannya. “Di tempat saya jambu mete cukup banyak, tapi kami hanya menjual kacangnya karena kami tidak tahu cara mengolah buahnya untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baruKami sering membakar kacang mete untuk menghasilkan minyak.” Selvi Lum, peserta lainnya dari Kepulauan Aru menceritakan buah raja dan buah tongki dari mangrove yang mudah ditemui di kawasan pesisir. Ia juga belum tahu bagaimana mengolahnya supaya memiliki nilai tambah.

Wawasan baru ini akan menggerakkan para mahasiswa memanfaatkan potensi pangan lokal yang dimiliki dan menemukan nilai tambah sebagapoin penting untuk eksis dan mandiri. Indonesia memiliki kekayaan alam yang bisa diolah agar memiliki nilai tambah, tetapi apakah setiap kita mau menyadari dan mempelajarinya?  ***

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook