pada hari Senin, 26 Mei 2014
oleh Stube HEMAT

 

Renunganku dari Sumba
Oleh Novia Sih Rahayu

Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya  akan melangkahkan kakiku ke sana. Senang sekali rasanya mendapat kesempatan ikut program Exploring Sumba. Selain berbagi ilmu, aku bisa berpetualang dan menjelajah tanah Sumba Timur, sebuah kabupaten dengan padang sabana yang luas, tanah bebatuan, tanah pasir, budaya marapu yang masih kental, dan adat istiadat yang cenderung mewah. Meski diawali kebingungan, karena akan pergi ke tempat yang jauh, yang belum pernah ku kunjungi, aku berusaha membaca artikel tentang Sumba Timur, menonton video wisata di sana, dan mempersiapkan bahan untuk sharing tentang public speaking.

 Rabu, 23 April 2014, sekitar pukul 12.00 WITA, inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Sumba Timur. Mula-mula aku melihat bandara kecil, seperti tanah lapang, bahkan sempat tidak percaya kalau itu adalah sebuah bandara. Selanjutnya kota Waingapu, aku merasa seperti berada di kecamatanku sendiri, namun cuaca kota ini lebih ekstrim dengan panas menyengat. Aku tinggal di rumah Pak Bangun Munthe, Kepala Dinas PU Waingapu. Istrinya adalah Sekretaris DPRD Sumba Timur, yang kupanggil Mama Arif. Mereka dianugerahi 4 orang anak : Arif, Odi, Ico, dan Riris. Aku senang dan nyaman tinggal bersama keluarga ini, seperti tinggal bersama dengan keluarga sendiri. Aku salut dengan Mama Arif karena beliau mengerjakan pekerjaan rumah dengan sigap tanpa mengeluh sedikitpun, walaupun setiap hari beliau harus mencuci gelas dan piring lebih dari 1 ember besar. Bekerja di kantor, melakukan pekerjaan rumah, memperhatikan anak dan suami, dan sebagainya bukanlah pekerjaan mudah. Di saat aku harus bedrest karena sakit haid, keluarga itu memperhatikanku.  Bahkan ketika aku sampai di Jogja, Mama Arif sms bahwa Riris ingin mengembalikan topi pemberianku agar aku tetap di Sumba dan tidak pulang ke Jogja. Sungguh mengharukan.
 
Semula, aku berpikir bahwa orang Sumba itu sulit berinteraksi dengan orang lain, cenderung memasang muka serius dan tidak ramah, kurang menghargai orang lain, dan mudah marah. Setelah aku berinteraksi langsung dengan mereka, apa yang aku pikirkan ternyata salah. Mungkin mindsetku tumbuh dari pengalamanku dengan teman sekelasku dulu, bukan orang Sumba secara keseluruhan.

  
Aku takjub dengan teman-teman yang mengikuti sharing public speaking dan jurnalistik. Selain aktif di Stube HEMAT Sumba, mereka juga aktif di organisasi kepemudaan lainnya, seperti GMNI Waingapu. Rasa minder sempat menyelimutiku karena kebanyakan dari mereka fasih menyampaikan pendapat di depan umum. Akan tetapi rasa itu lenyap ketika mereka memberi kesan positif tentang apa yang aku bagikan berkaitan dengan public speaking. Mereka memperoleh ilmu dan pemahaman baru yang mereka tidak ketahui sebelumnya. Aku pun optimis dalam membagikan ilmu yang aku peroleh selama kuliah. Aku menyadari bahwa ketika aku membagikan ilmu, aku pun belajar. Belajar mengaplikasikan ilmu yang aku peroleh, belajar memahami audience, belajar menghargai pendapat orang lain, belajar untuk tidak sombong, belajar meminta penyertaan dan bimbingan Tuhan, dll. goal yang aku sampaikan adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara di depan umum dan mereka tidak menyerah dalam mengasah kemampuan berpublic speaking.
 
Hidup memang perjuangan. Satu tempat berkelimpahan dengan sumber daya alam, tapi di tempat lain tidak, seperti  di Kanjonga Bakul, dan Praipaha. Aku merasa sedih ketika melihat serombongan anak kecil memegang jerigen untuk mengambil air, karena di sana persediaan air sangat terbatas. Mendapatkan air untuk minum saja sudah bersyukur, apalagi untuk mandi. Di tempat itu tubuhku benar–benar di tempa. Sehingga aku yang biasanya mandi 2 kali sehari dengan limpahan air,  aku hanya mandi 1 kali selama 3 hari di Praipaha, itupun hanya dengan 3 ember kecil. Air benar-benar nikmat Tuhan yang luar biasa. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
 
Exploring Sumba melatihku lebih analitis, mandiri, bijaksana, dan bertanggungjawab. Kegiatan ini membuatku lebih tahan banting, baik secara jasmani maupun mental karena dituntut menyesuaikan diri dengan cuaca, tempat, waktu kegiatan, karakter orang, dan makanan yang ada. Exploring Sumba ini juga membuatku belajar untuk bisa berbagi dengan orang lain, bukan hanya dalam hal materi semata, tetapi juga ilmu pengetahuan, pengalaman, kebahagiaan, semangat, dll. Semakin banyak tempat-tempat yang ingin aku kunjungi dan kenali karakternya, baik orang maupun daerahnya.

 

Aku sangat berterimakasih kepada Stube HEMAT Yogyakarta dan Stube HEMAT Sumba yang telah memberi kesempatan dan menerimaku dengan baik. Terimakasih untuk teman-teman yang telah menyediakan waktu untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan berpetualang bersama. Aku harap kegiatan ini menjadi awal dari sebuah relasi yang baik. ***

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 25 Mei 2014
oleh Stube HEMAT
 

 

30 Hari Menjejak Sumba

 

Yohanes Dian Alpasa

 

 

 

Pada sebuah pertemuan diskusi, seseorang mengatakan di dunia barat, dirinya melihat surga, tetapi tidak melihat Tuhan. Ada banyak tempat yang memukau dan konstruksi manusia sungguhlah menawan. Namun, banyak orang tidak percaya sang Khalik. Di Sumba, aku melihat Surga sekaligus Tuhan. Kehidupan sehari-hari bersalut bersama ungkapan iman setiap minggunya. Hanya saja, aku belumlah menemukan, sebenarnya ada apa di Sumba sehingga beberapa sudut geografisnya masih menyimbolkan kemiskinan yang amat sangat?

 

Sesungguhnya setiap perjalanan selalu menghadirkan pelajaran. Aksen bahasa yang khas, budaya yang asli dan belum bercampur, sistem birokrasi yang membutuhkan pembenahan, dan kehidupan iman yang konsisten tidak banyak berubah di lingkungan gereja, itu semua terjadi di Sumba, sejauh interpretasiku terhadap mereka.

 


 

Di Surga ini, sekali lagi kau dapat melihat Tuhan. Di mana-mana terjadi, kekeluargaan itu dijunjung tinggi. Tuhan sungguhlah di tengah-tengahnya. Pertama kali menjejakkan kaki saya mendengar salam sapa. Teguran dari saudara-saudara di Sumba sungguhlah ramah. Keramahan ini bahkan belumlah banyak saya dapati di Bengkulu, tanah saya dilahirkan, maupun di Yogyakarta, tempat saya menempuh studi teologi.

 

 

 

Setiap orang, baik kenal ataupun tidak, masing-masing seolah berlomba untuk melempar sapaan terlebih dahulu. Ini terjadi di Waingapu dan di Praipaha, dua tempat yang pernah saya jejak dan tinggali. Ucapan ”selamat” untuk mengawali pertemuan dan sapaan menjadi hangat di telinga. Bahkan aku merasakan kedekatan dengan mereka.

 

Terkait dengan kekeluargaan itu, ada dua hal yang aku lakukan. Pertama, mencium hidung orang yang kutemui. Cium hidung adalah simbol bahwa kami sudah dekat, lekat, dan diterima secara karib. Hanya beberapa saat saja saat dua hidung bersinggungan, itu sudah cukup memupuk persahabatan diantara kami. Aku merasa senang dengan cium hidung ini sekalipun hanya mengalaminya dua kali. Itupun bersama seorang pendeta emiritus dan seorang mama disana. Kedua, kedekatan ditandai dengan penghargaan mengunyah ramuan yang terbuat dari Sirih, Pinang kering, dan kapur. Ketiganya dikunyah sebagai sambutan. Setiap orang yang datang bertamu akan disuguhi dengan sirih, pinang, dan kapur laut/gunung.

 

 

 

Untuk menerima penghargaan itu maka aku mengunyah. Pertama yang dikunyah adalah pinang. Kedua sirih yang disalut kapur halus. Pertama teman-teman Sumba agak heran melihatku mengunyah. Bagiku tidak masalah karena di Jogja aku sudah berlatih bersama Fran, seorang temanku yang menempuh Studi Matematika di Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa (UST) Yogya. Mulanya aku bermaksud untuk menerima penghargaan itu. kukunyah dan terasa pahit getir, lalu menjadi hambar, dan kemudian segar. Setiap kali aku mengunyahnya maka gigiku terasa kuat dan tidak sakit lagi. sebenarnya ada dua hal yang kudapat dari sirih itu yaitu penghargaan dan kesehatan gigi.

 


 

 

Pemandangan alam Sumba didominasi oleh bukit-bukit. Orang dengan bebasnya naik Kuda. Ternak dilepas di padang begitu saja. Sabana menghampar seluas mata memandang. Coklat berlekuk seperti permadani coklat. Suplai air diusahakan melalui pipa-pipa oleh PDAM. Ketersediaan air kurasa mencukupi karena terdapat aliran sungai dan mata air di sekitaran Kota Waingapu.

 

 

Satu hal lagi yang kudapati di Sumba, bahwa kekeluargaan itu rupanya memerlukan pengembangan. Orang dapat saling membantu saudaranya yang membutuhkan, tetapi baiklah dirinya juga memikirkan kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Ada saja orang yang rela keluarganya berkekurangan demi membantu saudaranya berpesta. Bantuan itu tetap diserahkan sementara anak masih butuh biaya studi. Namun, pada beberapa tempat di Sumba telah mengembangkan adat lebih bijak dengan tidak memotong hewan terlalu banyak pada setiap perayaannya. Demikian kiranya bahwa Surgaku tetaplah menjadi kenangan di hatiku. Kiranya aku bisa kesana untuk menikmati keindahannya lagi.


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 14 Mei 2014
oleh Stube HEMAT
Duta IYF (Inter-Religious Youth Forum)

 

dari Indonesia ke Jerman

 

 

 

 

 

 

Angga Yudhiyansyah, pemuda aktivis kelahiran Kediri, Jawa Timur 29 tahun yang lalu ini selintas merupakan sosok pendiam. Berkacamata agak tebal dengan sorot mata yang tajam menyampaikan pesan bahwa dia seorang yang berkemauan keras, serius tetapi juga hangat dalam setiap topik pembicaraan, terlebih yang menyangkut pembelaan terhadapa kelompok minoritas yang teraniaya dan tersingkir di tiga kota yakni, Yogyakarta, Cilacap dan Solo.

 

 

 

 

Lulusan CRCS (Center for Religious and Cross Cultural Studies), Gadjah Mada University, tahun 2010-2012, Angga banyak mendapat bekal dalam permasalahan pemahaman mengenai Tuhan dan interpretasinya sesuai dengan keragaman agama yang ada di dunia. Sebagai seorang muslim yang taat diapun belajar bagaimana agama lain mencoba mengkomunikasikan Tuhan dengan berbagai perasaan dan bahasa masing-masing.

 

 

 

Tergabung sebagai relawan di SMI (Social Movement Institute), dalam aktivitas pendampingannya Angga mencoba memetakan apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah, para pemimpin agama dan masyarakat pada umumnya untuk mengatasi permasalahan yang ada terutama masalah-masalah yang melibatkan aliran keagamaan yang berbeda-beda.

 

 

 

Karena sepak terjang dalam permasalahan-permasalahan tersebut, Angga dan dua kandidat lain yakni Firly Annisa (Rumah Sinema) dan Lidia Nofiani (LSIP) terpilih menjadi kandidat yang diajukan oleh Stube HEMAT Yogyakarta kepada panitia IYF di Jerman, yang pada akhirnya memilih Angga sebagai salah satu fasilitator IYF yang akan:

 

 

 

 

 

  • Membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka mengenai MDGs dan membantu mengembangkan tema dan struktur dari IYF di tahun 2015,
  • Bertindak sebagai fasilitator, pemimpin diskusi atau pemateri selama penyelenggaraan forum,
  • Menyebarluaskan pemberitaan mengenai IYF di Indonesia dan membantu memimpin rombongan menghadiri konferensi tahun 2015,
  • Memotivasi masyarakat untuk ambil bagian dalam MDGs,
  • Membangun komunikasi dengan tim perencanaan yang lain selama periode 2014-2015.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta mengucapkan selamat bekerja dan melayani untuk Angga Yudhiyansyah, semoga keberangkatan ke Jerman Juli 2014 untuk mempersiapkan forum di tahun 2015 boleh berjalan dengan baik dan boleh membawa dampak positif untuk kemanusiaan. Tuhan memberkati!***


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 6 Mei 2014
oleh Stube HEMAT
PELATIHAN PERTANIAN ORGANIK DAN KERAGAMAN PANGAN

 

Menggali Ideologi Pangan Kita

 

Wisma Pojok Indah, 2 – 4 Mei 2014

 

 

 

 

 

 

“Salut!”, ungkapan ini layak diberikan kepada peserta pelatihan Pertanian Organik: Keragaman Pangan yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta, mengingat topik pertanian biasanya kurang diminati oleh kaum muda. Namun sebaliknya, tiga puluh mahasiswa dari berbagai kampus dengan antusias mengikuti pelatihan yang bertema ‘Menggali Ideologi Pangan Kita.’ Diselenggarakan Jumat – Minggu, 2 – 4 Mei 2014 di Wisma Pojok Indah Condongcatur, Yogyakarta, pelatihan ini mencoba menggugah ketertarikan dan kesadaran kaum muda mahasiswa terhadap pertanian, khususnya masalah pangan di Indonesia.

 

 

 

 

 

Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., Direktur Stube-HEMAT mengungkapkan potensi bencana pangan yang dihadapi Indonesia dan bahkan dunia, karena populasi yang terus bertambah tidak diimbangi pertambahan produksi pertanian, namun sebaliknya lahan pertanian berkurang karena dikonversi menjadi industri dan pemukiman. Untuk itu sangat penting bagi kita semua menggali ideologi atau konsep berpikir yang menjadi dasar bagi kita dalam mengkonsumsi pangan. Contoh yang sederhana adalah kita seharusnya merasa bangga dengan mengkonsumsi produk makanan ataupun buah lokal dibanding produk impor.

 

 

 

 

Peran Pemerintah dalam Membangun Ketahanan dan Keragaman Pangan diulas secara mendalam oleh Dr. Ir. F. Didiet Heru Swasono. M.P., dekan Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan anggota Dewan Ketahanan Pangan DIY. Pemerintah memang memiliki perangkat regulasi secara sistematis dalam membangun ketahanan pangan, namun keragaman pangan belum dikembangkan optimal. Contohnya, masyarakat Indonesia diseragamkan dengan makan beras, sedangkan tidak semua kawasan di Indonesia cocok untuk menanam padi, namun lebih cocok untuk jagung, sagu, ubi jalar maupun sumber pangan pokok lainnya.

 

 

 

 

TO. Suprapto dari Joglo Tani membongkar paradigma peserta, awalnya mereka menganggap bahwa pertanian tidak memiliki prospek dan tidak diminati oleh kaum muda khususnya mahasiswa, namun jika ditekuni pertanian bisa menghasilkan, bahkan meskipun dilakukan oleh mahasiswa yang tidak belajar di bidang pertanian. Ada empat jenis peluang usaha, antara lain: pertama, usaha pembibitan, dengan memperbanyak bibit, baik secara vegetatif atau generatif, kemudian menjadi bibit, lalu dijual. Contoh bibit sayuran, bibit ikan, penetasan ayam atau itik. Kedua, usaha produksi, yakni mengadakan bibit selanjutnya dibudidayakan, dan hasil produksinya dijual. Contohnya cabe dan ayam kampung. Ketiga, usaha pascapanen, yaitu usaha membeli produk orang lain kemudian diolah dalam bentuk dan rasa yang  lain lalu dijual. Contoh kripik singkong, abon lele, peyek bayam, telur asin. Keempat adalah pemasaran, yaitu membeli hasil produksi orang lain lalu dijual tanpa mengubah bentuk dan rasa. Selain itu TO Suprapto mendorong mahasiswa membangun pola pikir mandiri pangan dengan memetakan potensi diri dan daerahnya, dilanjutkan dengan bertindak, melakukan aktivitas sederhana berkaitan pertanian di lingkungan terkecil, di keluarga, misalnya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran, paling tidak kebutuhan sayuran bisa dipenuhi dari pekarangan sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan ini juga memperkenalkan keragaman pangan nusantara dengan menghadirkan menu daerah asal peserta, antara lain, dari Maluku dan Sulawesi yang mengolah papeda dan sayur ikan kuah kuning. Peserta dari Lampung menghadirkan seruit, nasi jagung, terong dan ikan bakar. Peserta dari Kalimantan menyiapkan minuman yang cukup unik yaitu es lidah buaya. Tak ketinggalan  NTT dengan jagung katema, urap daun singkong dan sambal teri. Jagung katema berbahan jagung, kacang hijau dan kacang tanah yang direbus dengan santan. Meskipun berasal dari berbagai daerah, peserta antusias dan mengapresiasi keragaman makanan tersebut dengan mencicipi semuanya.

 

 

“Kita patut bersyukur karena kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengolah bumi ini, dan kita mesti memelihara dengan penuh tanggung jawab, salah satunya dengan bertani secara organik”, pesan Pdt. Kriswoyo, S.Si dalam ibadah Minggu. Di akhir acara, peserta mengungkapkan rencana  yang akan mereka lakukan setelah pelatihan ini, antara lain: memanfaatkan pekarangan kost untuk menanam sayuran, memanfaatkan plastik bekas untuk polibag, tidak mengkonsumsi bahan pangan dan buah impor dan mengadakan diskusi tentang pertanian.

 

 

 

 

Rosita Suri Leon, mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa prodi Pendidikan Matematika dari Atambua, Belu, NTT mengatakan, “Di pelatihan ini saya mendapat informasi  baru, dan ingin mencoba melakukan apa yang telah didapatkan. Semuanya berjalan baik tapi ada beberapa kegiatan yang kurang tepat waktu.” (TRU)

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook