Prasangka Menjadi Cinta Melalui Dialog

pada hari Jumat, 20 Maret 2020
oleh adminstube

 

 

Dengan cinta tentu prasangka tidak akan ada bukan? Atau prasangka hadir karena tiadanya cinta? Keduanya mungkin terjadi dan sedang menjadi perenungan saya, Siti Muliana, yang lahir dan besar di Konawe, Sulawesi Tenggara. Saat ini saya sedang menempuh program sarjana pada program studi ilmu al-Qur’an dan tafsir di STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Ketika berbicara tentang toleransi dan termasuk hubungan antar agama, saya mengenal topik ini ketika bersekolah di Yogyakarta sejak 2014 silam. Bagaimanapun, selama masa tumbuh berkembang hingga saat remaja di Sulawesi Tenggara saya tidak pernah sekalipun berinteraksi dengan kelompok masyarakat yang berbeda etnis maupun agama. Namun demikian, dalam pengamatan saya hingga saat ini, masyarakat di daerah asal saya sebagian masih eksklusif terhadap agama lain.

 

 

 

 

Saya menemukan perspektif baru ketika tinggal dan bersekolah di Yogyakarta di pondok pesantren Sunan Pandanaran, walaupun kehidupan sehari-hari berinteraksi dengan sesama yang beragama Islam, namun tidak membuat kami bersikap eksklusif terhadap agama lain, malah sejak dulu hingga kini, pondok pesantren tempat saya tinggal terbuka dan sering menerima kunjungan tamu dalam maupun luar negeri dengan beragam kepercayaannya. KH. Mu’tashim Billah sebagai pimpinan pondok pesantren selalu mengingatkan kami santri-santrinya, “Siapapun yang bertamu ke pondok, harus dilayani dengan baik sampai merasa di rumah.Begitulah pesan beliau, bahkan saat acara puncak haul Gus Dur pada 27 Februari 2020 yang dihadiri oleh tokoh lintas agama, Kyai Tashim sendiri menyambut tamu-tamu dan memastikan mereka mendapat layanan yang baik. Ini teladan yang Kyai tunjukkan dengan sikap pluralisnya dan mesti diadopsi oleh para santrinya.

 

 

 

 

 

 

Perlahan saya semakin tertarik dengan isu-isu toleransi dan kemanusiaan serta hubungannya dengan kebangsaan, sehingga saya bergabung dengan komunitas Gusdurian pada 2018. Ini merupakan wujud kekaguman saya terhadap Gus Dur yang mengedepankan dialog dan menghindari kekerasan sebagai salah satu pendekatan untuk menemukan titik temu perdamaian Papua dan Aceh, konflik berdarah antar etnis dan agama yang terjadi antara 1998-2000, namun tidak semua berhasil karena berbagai kepentingan politik yang masih mencengkeram kuat dan mendominasi. Dari komunitas Gusdurian ini saya pertama kali mengenal Stube-HEMAT Yogyakarta ketika berpartisipasi dalam pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diadakan Stube-HEMAT Yogyakarta dengan tajuk Bersama Merangkai Indonesia pada 6-8 Maret 2020 di Wisma Pojok Indah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Di pelatihan ini saya mendapati bahwa Stube-HEMAT Yogyakarta memberi sumbangsih pada usaha perdamaian melalui pelatihan yang mengedepankan dialog disertai kunjungan ke tempat ibadah umat beragama, sebagai respon atas fenomena keberagaman saat ini yang menggaung di media sosial tanpa terjadi tatap muka sehingga seringkali memunculkan prasangka. Tidak dapat dipungkiri, melalui sharing pengalaman dari sahabat baru yang mengikuti pelatihan ini terungkap prasangka-prasangka yang ada sebelum pelatihan dan dialog terjadi, bahkan masih ada dendam dan trauma masa lalu, belum lagi, politik identitas marak terjadi beberapa tahun lalu. Sikap eksklusif, mengeneralisasi dan truth claim di masyarakat konservatif semakin menunjukkan eksistensinya di media sosial. Kelompok eksklusif sendiri merupakan kelompok yang mengklaim kebenaran hanya miliki mereka (truth claim) dan menolak keyakinan kelompok lain. Realitas tersebut tentu bisa dihilangkan dan disingkirkan melalui pertemuan dan dialog sebagaimana dilakukan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta agar saling terbuka dan mengenal satu dengan yang lain. Selain itu, mari memupuk cinta melalui temu dan dialog. Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

Di akhir pelatihan, peserta baik individu atau kelompok memiliki rencana tindak lanjut pasca pelatihan tersebut. Saya bergabung dalam kelompok yang merancang membuat film pendek bertema keberagaman. Sedangkan secara individu, saya berencana memberikan materi yang saya dapat di pelatihan kepada anak-anak usia remaja yang di bawah ampuan saya di pondok pesantren, khususnya terkait keberagaman. Harapannya, covid-19 yang memaksa kita untuk tetap di rumah dan melakukan social distancing bisa reda dan kami bisa melanjutkan kedua rencana tindak lanjut tersebut demi menyemai sikap toleran dan menghargai keberagaman. (Siti Muliana).

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

  Pygmalion Effect    

pada hari Kamis, 19 Maret 2020
oleh adminstube
Selalu teringat kata-kata ini, ‘perempuan yang menginspirasi dan pemberani’ yang muncul dalam doa yang terucap dari mulut Ayah ke langit agar terus terwujud. Mutiara itu perhiasan, dia akan dijaga keindahannya, tapi tergantung siapa pemiliknya’ ungkapnya. Saya selalu percaya dan membawa dalam doa sampai saya mewujudkannya. Sebagai anak kedua dari 3 bersaudara dan perempuan satu-satunya membuat saya berjuang hidup mandiri. Lulus SMK tahun 2017 sebagai lulusan terbaik serta diterima di kampus seni impian, Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan Desain Interior adalah hadiah besar yang saya dapatkan setelah perjuangan panjang dan mendapat beasiswa Educlinic pada tahun 2016-2017 dengan tanggung jawab besar untuk berkontribusi di masyarakat. Saya suka belajar hal-hal baru sehingga suka bertanya sewaktu di SMK dan akhirnya sering menjadi utusan seminar daerah dan nasional maupun diskusi publik lainnya.

 

 

 

Seperti ada Pygmalion Effect yang selalu saya lihat ke depan bahwa apa yang saya lakukan adalah doa terbaik dan versi terbaik dari sebuah harapan panjang yang membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Pygmalion Effect sendiri adalah istilah tentang ekspektasi yang disematkan kepada seseorang, maka ia akan semakin meningkat kualitasnya dan mencapai ekspektasi tersebut. Ini merupakan bentuk self-fulfilling prophecy, baik secara langsung atau tidak langsung yang mendorong terwujudnya prophecy tersebut. Ini mendorong saya berani mengambil risiko dan tantangan sehingga tumbuh berkali-kali lipat lebih cepat, sebuah lompatan pencapaian yang harusnya terjadi beberapa tahun ke depan tapi terwujud dalam beberapa tahun terakhir. Tantangan lainnya adalah bukan sekedar berani mengambil risiko, tapi juga mampu mengukur resiko yang dihadapi dengan bijak. Mungkin dengan kepintaran seseorang dapat merubah banyak hal tapi perlu jiwa yang bijak untuk mampu mengubah dirinya sendiri.

 


 

Cerita setahun ke belakang, saya mendapat amanah sebagai Presiden Young On Top Yogyakarta. Rasanya masih seperti "am I good enough?" karena banyak orang-orang seumur, lebih senior yang berasal dari kampus yang secara akademis jauh lebih bagus. Apalagi branding YOT Yogyakarta juga harus dijaga, saya dengan background kampus seni seperti memilih keluar dari zona nyaman dan harus belajar extra, dari jarang membaca berita menjadi langganan news, dari jarang membaca buku jadi sering menyambangi perpustakaan dan beli buku. Tujuannya sederhana, supaya bisa nyambung’ ketika berbincang dengan anggota dan flexibel di berbagai topik, agar bisa memberikan valuable feedback kepada mereka. Ternyata, pemimpin sesungguhnya bukan seberapa cerdas ia tampil atau bagaimana pesonanya hadir, tapi tentang makna perilaku setiap manusia dengan keunikan masing-masing. Pemimpin yang mau belajar dan mendengarkan, bertanggung jawab dan berani mengambil risiko. Jawaban ada pada diri kita, be bold with yourself.

 


 

Terlebih ketika aku memilih aktif di Stube-HEMAT Yogyakarta, kegiatan dan value yang diberikan sangat positif. Mendorong berbagai pihak untuk terlibat aktif, dan memberi kesempatan individu baru untuk tumbuh, bahkan karenanya saya berani membuat ‘lompatan besar’ dari Jawa menuju Sumba dalam Exploring Sumba dimana saya benar-benar belajar banyak hal meskipun berbeda agama dan budaya, aku tidak terasing maupun terpisah, malah merasakan perhatian tulus dan bisa saling belajar dan bertoleransi. Juga dalam pelatihan Multikultur beberapa waktu lalu, tantangan lebih ketika menjadi volunteer dengan konsekuensi harus bersiap diri lebih awal sebelum acara berlangsung, kemudian saat berdiskusi dengan teman-teman berbeda agama dan berkunjung ke Vihara Karangdjati, ternyata ada banyak hal yang harus dipahami lebih dalam dan meluruskan asumsi, jangan sampai membuat justifikasi untuk pihak lain. Waktu itu ada yang bertanya kepada saya, "Mengapa Mutiara belajar agama lain?" Jawaban saya sederhana, dengan mempelajari agama berbeda tidak berarti kita meyakininya juga, itu malah semakin menguatkan apa yang telah kita yakini. Belajar memahami berarti memberi ruang saling menghargai dan berbagi kasih dengan banyak orang.

 

 

 

 

Stube menjadi sebuah ekosistem yang dapat membantu kita tumbuh dan membentuk aktualisasi diri dengan baik. Jangan lupa untuk terus memiliki keinginan kuat untuk belajar banyak hal karena dengan mau belajar, kita dapat menemukan banyak kesempatan. Pilihlah ekosistem yang baik untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik pula, lihat bagaimana orang-orang di dalamnya memberi feedback positif. Dari situ akan bertemu orang-orang yang ternyata punya kemiripan visi dan misi. Mereka tidak akan bilang ’wes to koe rasah neko-neko (Sudahlah, kamu tidak perlu macam-macam), tapi mengatakan Bagus, ayoo lanjut lagi’. Dari pemenang nobel atau award, apabila bertemu mereka, mereka seperti padi berisi tapi tetap merunduk. (Mutiara Srikandi).


  Bagikan artikel ini

Merespon Keingintahuan

pada hari Rabu, 18 Maret 2020
oleh adminstube
Perjumpaan saya dengan Stube-HEMAT berlanjut lagi di Yogyakarta setelah sekian lama vakum dari kegiatan di Stube-HEMAT Sumba. Saat ini saya mengikuti kegiatan Stube-HEMAT, tidak lagi di Sumba melainkan di Stube-HEMAT Yogyakarta. Saya Yustiwati Angu Bima, biasa dipanggil Yusti, berasal dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang dari suku Sabu yang lahir dan besar di pulau Sumba termasuk bersekolah dari SD sampai menyelesaikan kuliah di pulau yang sama. Awalnya saya mengenal Stube-HEMAT Sumba saat kuliah Teologi Kependetaan di Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kristen Sumba (STT GKS) di Lewa Sumba Timur, ketika itu dalam pelatihan kerajinan tangan dan pelatihan jurnalistik yang mana manfaat dari pelatihan-pelatihan Stube tersebut terus saya kembangkan dalam studi dan keseharian saya.

 

 

Saat ini saya kuliah Pascasarjana Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, dengan mayor studi Biblika dan minor studi Peace Building. Saat ini saya sedang menyelesaikan thesis dan sebuah penelitian pribadi di salah satu gereja di pulau Sumba terkait dengan teori generasi dan dampaknya terhadap peace-building pada kaum muda. Aktivitas lainnya adalah mentor full-time di asrama Fakultas Teologi  UKDW dan penulis opini di buset-online.com, salah satu majalah online Indonesia di Australia. Dalam menjalani studi S2 ini saya terus mengasah kemampuan menulis, yang membuat saya berdaya saing dalam kualitas akademik dengan teman-teman lain yang meraih gelar sarjana dari kampus-kampus ternama. Selain dari beasiswa saya mendapatkan tambahan uang saku untuk menopang kebutuhan studi ini dengan bekerja dan salah satunya menjadi penulis.

 


 

Dalam pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta yang saya ikuti dari 6-8 Maret 2020 di Wisma Pojok Indah dengan tajuk “Bersama Merangkai Indonesia” saya mengklasifikasikan pelatihan ini sebagai kegiatan inter-religius karena menghadirkan peserta dan narasumber yang memiliki latar belakang daerah dan agama yang berbeda dan ini bersesuaian dengan studi peace building yang sedang saya dalami. Bahkan di salah satu sesi kegiatan yang berupa eksposur ke rumah ibadah, saya memilih Klenteng Poncowinatan untuk lebih mengenal penganut Konghucu di Klenteng Poncowinatan, selain rasa penasaran untuk mengunjunginya. Kenyataan yang terjadi di masa lalu diketahui bahwa peristiwa diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dan kepercayaan Konghucu tidak lepas dari sejarah Indonesia pada masa akhir Orde Baru. Namun sejak 1999 Konghucu diakui negara sebagai agama bukan lagi kepercayaan, maka sejak itu penganut Konghucu leluasa dalam beribadah.

 

 

 



Dalam konteks peace building, Klenteng Poncowinatan merupakan contoh yang baik untuk diteladani, selain tempat ibadah Konghucu, Budha dan Taois, Klenteng juga terbuka untuk semua umat agama untuk berdoa kepada Tuhan Allah atau Sang Pencipta maupun belajar tentang sejarah Klenteng dan penganut Konghucu. Saya juga menemukan pengetahuan baru bahwa Konghucu yang sangat kental dengan identitas Tionghoa juga mengalami akulturasi, seperti altar utamanya adalah untuk dewa Kongco Kwan Tie Koen, biasanya dewa altar utama setiap Klenteng berbeda-beda sesuai letak geografis Klenteng tersebut. Dewa Kongco Kwan Tie Koen sendiri adalah dewa atau penjaga Pantai Selatan, jadi penamaan dan pemaknaan terhadap dewa altar utama adalah upaya kontektualisasi teologi Konghucu ke dalam budaya Jawa. Selain itu, upacara hari-hari besar Konghucu sering dilaksanakan dalam konteks Jawa bahkan nama-nama Dewa atau Dewi di setiap altar ditulis menggunakan aksara Jawa. Jadi sebagai seorang teolog, saya menyimpulkan bahwa bukan hanya Hindu, Kristen dan Islam yang berhasil dalam akulturasi teologinya, Konghucu dan bahkan Buddha melakukan hal yang sama sebagai suatu upaya mendaratkan pengajaran agama ke dalam keberagaman di Indonesia.


 

Di akhir pelatihan, sebagai rangkaian internalisasi dan transfer pengetahuan, para peserta didorong untuk merancang aktivitas lanjutan berkaitan dengan Multikultur dan dialog antar agama yang dilakukan oleh peserta baik pribadi maupun kelompok. Saya dan beberapa teman mahasiswa dari Sumba Timur membangun komitmen bersama untuk merintis pertemuan anak muda lintas agama di Sumba Timur, khususnya Waingapu, sehingga anak muda di Waingapu dari berbagai latar belakang agama memiliki pengalaman bertemu bersama dan berdialog lintas iman tanpa adanya prasangka.

 

 

Pengalaman-pengalaman yang saya temukan membuat saya mengapresiasi kegiatan yang diadakan Stube-HEMAT Yogyakarta karena menyediakan ruang belajar untuk para mahasiswa dan mereka sangatlah beruntung telah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman inter-religius sejak dini sebagai bagian dari peace building. Saya mendorong setiap mahasiswa yang telah terlibat di Stube-HEMAT untuk terus mengembangkan materi yang didapatkan menjadi tindakan etis kehidupan sehari-hari dan memperkuat komitmen melanjutkan kegiatan Stube-HEMAT sebagai respon keingintahuan dalam segala bidang, bukan saja kekayaan materi edukatif tetapi juga karakteristik narasumber dan performa personal dari para peserta. Salam Stube-HEMAT. (Yustiwati Angu Bima).

 


  Bagikan artikel ini

Membongkar Paradigma Lama Mencerahkan Pikiran Baru        

pada hari Selasa, 17 Maret 2020
oleh adminstube
Isu intoleransi marak di Indonesia dan selalu diperbincangkan masyarakat baik dalam obrolan sehari-hari, media sosial, sampai seminar oleh akademisi, organisasi mahasiswa dan praktisi komunitas berkait tema Kebhinnekaan dan Pancasila sebagai penegasan persatuan dan kesatuan bangsa dalam kenyataan bangsa ini yang beragam, wilayah geografis, penduduk, budaya dan agama. Awalnya isu intoleransi menjadi pertanyaan dalam diri saya karena selama di Nias saya hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah dan gereja yang interaksinya cukup baik, identik dengan masyarakat Nias atau Ono Nihadan beragama Kristen Protestan maupun Katolik. Karena mayoritas kristiani ini ada satu tradisi unik, yaitu tiada pesta tanpa babi, artinya setiap acara adat seperti pesta pernikahan, kedukaan, syukuran dan penyambutan tamu selalu menyediakan ‘zimbi mbawi sebagai simbol kebersamaan.

 


 

Pada perkembangannya, orang-orang datang dari pulau Sumatera dan Jawa tinggal di Nias karena pekerjaan dan perdagangan. Sebagian dari mereka beragama Islam dan memakai nama marga Nias dan perlahan terbentuk interaksi baru dalam masyarakat Nias yakni suatu kelompok masyarakat yang hidup berdampingan dalam perbedaan. Namun, tidak dapat dipungkiri pada awalnya kurang senang ketika seorang guru beragama lain tidak mau makan makanan selain dari warung makan yang dikelola orang seagamanya, suara speaker masjid yang setiap sore begitu keras terdengar, berita tentang teroris yang dilakukan oknum agama tertentu, termasuk persepsi awal saya terhadap Katholik, Budha, Hindu, Konghucu adalah agama yang menyembah patung. Itulah serpihan-serpihan pengalaman yang terus ada dalam pikiran saya.

 

 

Setelah melanjutkan studi di Yogyakarta untuk kuliah Ilmu Pemerintahan di STPMD “APMD” Yogyakarta, saya tinggal di kost bersama mahasiswa dari berbagai daerah yang berbeda suku dan agama. Perbedaan sangat saya rasakan dan mendorong rasa ingin tahu saya tentang berbagai hal termasuk agama dan sebagian dari mereka memberi respon baik meski sebagian tidak. Di sini saya belajar menghayati kekhasan sendiri sebagai jati diri sekaligus terus beradaptasi dengan sekitar. Namun demikian, pemberitaan politik identitas, terlebih tentang agama, mayoritas dan minoritas, pribumi dan pendatang marak di media sosial. Dari sudut pandang Ilmu Pemerintahan, isu ini menarik perhatian saya untuk ditelisik lebih dalam mengapa terjadi, dengan mengikuti sejumlah diskusi dan seminar dari berbagai lembaga di Yogyakarta termasuk Stube HEMAT Yogyakarta dengan tema Bersama Merangkai Indonesia di mana saya menjadi bagian di dalamnya.

 


 
 

 

 
Dalam kegiatan ini, saya bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah, berbeda kepercayaan dan kebiasaan hidup, serta memiliki minat bakat masing-masing. Tidak hanya bertemu, tetapi juga tegur sapa, senyum dan pelukan kasih, sampai keberanian mendialogkan lebih dalam tentang keyakinan masing-masing. Tidak ada rasa curiga dan kebencian, yang ada kami saling terbuka mengekspresikan rasa persahabatan dan persaudaraan. Menariknya lagi, saya mendapat kesempatan berkunjung ke tempat ibadah agama lain dan saya memilih Vihara untuk menjawab rasa penasaran saya. Di pelatihan ini saya menemukan penerimaan terhadap keragaman yang memberi semangat baru untuk memahami dan memaknai keindonesiaan sehingga mendorong saya berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa diungkap di sembarang tempat sekaligus menyatakan kasih kepada sesama sebagai wujud nilai-nilai kekristenan. Sebaliknya, saya juga terbuka ketika orang lain ingin tahu lebih dalam tentang suku maupun agama saya. Keterbukaan ini membentuk suatu hubungan manusia yang harmonis dan menerima perbedaan yang ada. Bahkan salah seorang peserta pelatihan mengungkapkan “pada dasarnya, kita mesti memberanikan dan membiasakan diri berada di daerah yang plural, kita bisa hidup berdampingan tanpa merusak keyakinan kita sendiri”

 

 

 

Dari pelatihan ini saya merefleksikan bahwa dalam hidup sehari-hari sikap eksklusif tentang diri sendiri, suku maupun agama bisa muncul bukan secara tiba-tiba, tetapi akumulasi peristiwa-peristiwa sebelumnya dari pengalaman pribadi, lingkungan dan media. Pola pendidikan saat ini belum mampu mengakomodir dan menjadi sarana penyadaran dan penerimaan terhadap keberagaman. Media juga berperan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat yang mudah ‘melahap informasi. Mahasiswa perlu ruang untuk berjumpa langsung dengan orang lain yang berbeda karena mahasiswa tidak bisa mendapat informasi dari media saja. Keberanian diri bertemu dan berdialog dalam perbedaan akan membongkar ‘truth claim yang cenderung menghasilkan kecurigaan, sikap eksklusif, stigma dan stereotype, sehingga mahasiswa memiliki pencerahan dan pemikiran baru tentang hidup berdampingan di tengah keberagaman. (Putri Laoli).


  Bagikan artikel ini

Lebih Terbuka dan Percaya Diri Dalam Keberagaman            

pada hari Senin, 16 Maret 2020
oleh adminstube

Saya, Imelda Nasrani Oktafina Sarumaha, berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara dan kuliah di fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Saya mengenal pertama kali dengan Stube-HEMAT Yogyakarta dari teman satu kos, ketika ia mengajak saya mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta tentang membatik. Kegiatan berupa kunjungan ke Museum Batik Yogyakarta untuk mengenal sejarah batik, motif batik dan alat-alat yang digunakan untuk membatik. Di akhir kunjungan kami ditantang untuk membuat motif batik sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing. Ini sesuatu yang baru dan menarik untuk saya karena saya penasaran dengan apa yang akan saya buat motifnya tentang daerah saya sendiri, yaitu Nias. Beberapa hari kemudian kegiatan berlanjut ke kampung batik Giriloyo Imogiri, Bantul, di mana kami berlatih bagaimana membatik dari menggambar pola sesuai daerah masing-masing, menuangkan lilin di pola sampai mewarnai kain. Saya membuat motif sesuai dengan khas daerah Nias, yaitu lompat batu.



 

Kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta berikutnya yang saya ikuti adalah pelatihan Parenting Skills di Kopeng, Jawa Tengah. Di pelatihan ini kami belajar mengingat kembali pengalaman masa kecil dan bagaimana cara-orang tua memperlakukan anaknya, perlakuan apa yang kita dapatkan dari orang tua kita waktu masih anak-anak sampai besar dan bekal persiapan peserta ketika menjadi orang tua dan memikirkan pola-pola asuh yang kita dapatkan dari masih anak-anak yang relevan untuk diterapkan di masa depan. Ini membuka pemahaman diri saya dan mengenal bagaimana orang tua terhadap anak-anaknya.

 

 

Saat ini saya mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta dalam topik Bersama Merangkai Indonesia, dimana kegiatannya sangat seru, lebih dari ekspektasi saya, saya bisa ketemu orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia, berbagai agama dan beragam jurusan di kampus. Mereka orang-orang yang ingin mewujudkan toleransi dan punya semangat belajar tinggi. Di sini saya bertemu orang-orang yang baru dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Bahkan kesempatan saya pertama kali berkunjung dan belajar di tempat ibadah Hindu, yaitu Pura Jagadnatha, di Banguntapan Bantul, Yogyakarta.

 


 

 

Tim Stube-HEMAT tepat menghadirkan pembicara yang luar biasa, menyampaikan materi yang sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman yang ikut pelatihan. Selama mengikuti pelatihan tersebut, saya mendapat cara pandang baru agama Kristen yang belum saya dapatkan di sekolah dan kampus. Juga, saya mendapat ilmu tentang Islam, Katholik dan Hindu, selain agama yang saya anut. Selain itu, saya juga menemukan cara berdialog dengan teman agama lain dan pengalaman tentang keberagaman dan toleransi di antara perbedaan yang ada.

 


 

Dari pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta Bersama Merangkai Indonesia, saya mengalami suasana indah bertemu dengan teman-teman yang berbeda suku, adat, budaya dan agama. Saya juga mendapatkan cerita pengalaman tentang agama, suku dan budaya lain dari peserta lainnya, menariknya, saya tidak takut lagi untuk sharing pengalaman saya kepada mereka meskipun kami baru mengenal satu sama lain tetapi sudah bisa menciptakan kekompakan dan kerukunan bersama. Jadi saat ini saya bisa lebih bersikap toleransi kepada orang-orang yang berbeda di sekitar saya terlebih saat di kost atau di kampus. Terima kasih Stube-HEMAT. (Imelda Sarumaha).


  Bagikan artikel ini

Menemukan Rajutan Keragaman di Vihara    

pada hari Minggu, 15 Maret 2020
oleh adminstube
Indonesia, negara kepulauan yang kaya akan budaya, suku, ras, agama, sumberdaya alam melimpah, sumberdaya hayati serta anugerah memiliki Bhinneka Tunggal Ika. Menjadi negara yang besar dan juga kaya tentu tidak lepas dari berbagai persoalan salah satunya intoleransi dimana agama menjadi salah satu alat untuk bisa berkuasa. Saya masih ingat betul kerusuhan tahun 1999/2000 di mana pada saat itu agama dipakai untuk berkuasa dan rakyat harus menanggung penderitaan, seperti tidak bisa sekolah, tidak bisa bermain bahkan hak kami sebagai anak dirampas.

 


 

Persoalan yang sebenarnya hanya sepele tetapi bisa memakan korban jiwa ribuan orang tak bersalah hanya karena agama, dimana yang satu merasa lebih benar dari pada yang lain dan yang lain tidak terima diperlakukan tidak adil oleh lainnya. Intoleransi bukanlah hal sepele, tetapi harus menjadi fokus kita bersama untuk terus merajut tali kasih sesama umat beragama, bergandengan tangan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian dari setiap agama dan aliran kepercayaan yang ada bangsa ini.

 

 

Berangkat dari masa lalu yang begitu pahit saya ingin bisa belajar dan bisa mengklarifikasi prasangka saya terhadap umat agama lain agar saya tidak terus berprasangka buruk tentang mereka atau sebaliknya. Kesempatan itu datang dari pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diadakan pada 6-8 Maret 2020 di Wisma Pojok Indah dengan tema Bersama Merangkai Indonesia. Pelatihan ini mengungkap kendala dalam berelasi antar umat beragama sekaligus menyediakan ruang untuk kami saling mengenal dan memahami satu sama lain. Saya berkesempatan berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai daerah, agama dan juga suku, bahkan saya bisa berkunjung ke Vihara Karangdjati, dan itu pertama kalinya saya memasuki tempat ibadah agama Buddha.

 

 

 

Saya sangat terkesan dengan keramahtamahan mereka menyambut kami dan bagaimana Pak Totok Tejamano, S.Ag, selaku ketua Vihara bercerita tentang nilai-nilai ajaran Buddha serta bagaimana Vihara terbuka untuk masyarakat umum tanpa melihat latar belakang agama, sosial, suku maupun pekerjaan apa pun yang ingin datang bermeditasi. Meditasi sendiri memiliki tujuan agar kita bisa mengelola emosi, membuang energi negatif dan mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan kita. Jika kita bisa bahagia maka kita bisa berpikir lebih baik untuk bisa membangun toleransi antar umat beragama dan bagaimana kerukunan itu tercipta. Ini yang menarik bagi saya ketika Vihara menjadi terbuka untuk siapapun tanpa ada prasangka dan membayangkan situasi yang sama untuk setiap agama sehingga kedamaian terwujud di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

Terimakasih Stube-HEMAT Yogyakarta telah memberikan saya kesempatan untuk bisa berkunjung ke Vihara, bertemu teman-teman baru dari Aceh sampai Papua, serta saya bisa mengklarifikasi prasangka saya sebelumnya, sekarang saya meyakini bahwa semua agama itu baik. Jika saya menemukan ada seseorang melakukan hal yang tidak baik, bukan berarti agamanya yang tidak baik, tetapi kembali kepada individunya yang belum mampu menghayati ajaran agamanya dan mewujudkan dalam perilaku sehari-hari. (EP)


  Bagikan artikel ini

Partisipasi Mahasiswa Memangkas Prasangka

pada hari Sabtu, 14 Maret 2020
oleh adminstube

 

Pengalaman mengikuti pelatihan Stube-HEMAT merupakan mutiara bagi generasi muda seperti saya, karena bisa berinteraksi langsung mengenal agama yang berbeda, seperti Islam, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Berjumpa dengan orang-orang yang berbeda agama ternyata menyenangkan. Dengan dilandasi keterbukaaan dan persaudaraan, sehingga jauh dari adanya prasangka, jauh dari rasa sungkan maupun takut, menghapus kesan awal bahwa jika membicarakan agama akan diwarnai kekerasan, pertikaian, dan prasangka-prasangka buruk lainnya. Agama harus kembali pada esensinya, masing-masing mengajarkan kasih, kebaikan dan pengampunan, bukan kekerasan dan pertikaian.

 


 

Saat ini penting dibangun dialog sebagai komunikasi yang hidup antar agama yang berbeda, sehingga pemahaman agama tidak hanya tataran konsep melainkan memperjuangkan tatanan moral dan sikap etis dalam hidup bermasyarakat dan mendorong masing-masing agama tidak lagi mengganggap lebih dominan dari yang lain. Kehidupan beragama tidak saja berhenti pada ritus agama saja melainkan sampai pada sikap orang untuk saling menghargai dan mencintai tanah air sebagai wujud rasa nasionalisme, terlebih generasi muda mahasiswa dapat mengembangkan diri dan menjadi teladan dalam membuka interaksi antar umat beragama dan memperkuat tali persaudaraan.

 




 

Dalam kesempatan ini Stube-HEMAT Yogyakarta memberi pengetahuan baru dengan menolong saya, terlebih saya sebagai mahasiswa Teologi untuk tidak salah paham dengan agama lain dan memberi penilaian yang negatif terhadap pemeluk agama lain, sehingga hal in sangat mendorong saya merintis adanya sikap saling pengertian di antara mahasiswa yang berbeda agama sampai mempunyai sikap toleransi yang sangat tinggi dan mampu menghindarkan segala usaha dan tindakan yang merugikan orang lain supaya akhirnya memberi hasil dengan terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Saya mempelajari apa yang disampaikan Pdt. Dr. Wahyu Nugroho M.A bahwa masing-masing agama memiliki keunikan tersendiri, sehingga penting juga mengajak pemeluk agama lain untuk mengetahui perbedaan-perbedaan yang ada tanpa meninggalkan komitmen keagamaan kita. Justru dengan perjumpaan itu seseorang memperkaya pengetahuan imannya.

 




 

Pengalaman berkunjung dan mengenal lebih dalam tentang Hindu di Pura Jagadnatha, Banguntapan sangat berkesan buat saya. Saya senang bisa bertanya mengenai konsep keselamatan kepada Pak Budi, ketua Pengempon Pura, yang menyambut kedatangan kami dengan terbuka. Ia memaparkan bahwa keselamatan dalam konsep Hindu berdasarkan karma yang berarti perbuatan, yakni barangsiapa yang berbuat baik ia akan menuai yang baik, dan yang jahat pula akan menuai hukuman. Di dalam kitab Upanisad dikatakan bahwa melakukan baik menjadi baik, melakukan jahat menjadi jahat. Karena semuanya bedasarkan karma. Nasib manusia tergantung pada perbuatannya, yaitu karma, bahkan karma juga mempengaruhi hidup yang telah lalu dan yang akan datang.

 




 

Berbagai pengalaman unik yang saya temukan dalam pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta khususnya dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain perlu dirasakan juga oleh mahasiswa lain, sehingga mereka juga mendapat kesempatan bertemu dengan pemeluk agama yang berbeda demi memangkas prasangka dan mewujudkan relasi baik antar pemeluk agama di Indonesia. (Rivaldo Arinanda Padaka)


  Bagikan artikel ini

    Pendalaman Agama, Kemandirian   dan Kemanfaatan Hidup Di Pondok Pesantren Lintang Songo

pada hari Jumat, 13 Maret 2020
oleh adminstube

 

 

 

Relasi antar agama menjadi topik menarik untuk diperbincangkan karena berkaitan dengan asal usul dan sejarahnya, dinamika ketika bertemu budaya lokal, catatan peristiwa relasi harmonis maupun situasi konflik sampai ‘memanfaatkan’ agama untuk kepentingan tertentu. Namun demikian, pengayaan pengetahuan dan pengalaman interaksi antar agama tetap penting, terlebih oleh mahasiswa sebagai masyarakat terdidik yang nantinya menjadi aktor penggerak masyarakat di daerah dan membangun kesadaran keberagaman Indonesia.

 


 

Pemikiran ini mendorong Stube-HEMAT Yogyakarta dalam rangkaian pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama di Wisma Pojok Indah, 6-8 Maret 2020 untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta dengan eksposur ke berbagai tempat ibadah dan berdialog dengan pemuka agama, salah satunya ke Pondok Pesantren Lintang Songo di Piyungan, Bantul, di mana kelompok yang beranggotakan Topik Hidayatullah, Maritjie Kailey, Rivaldo, Aver Gulo, Lenora Nada, Yonatan Prisitiaji, Natra Marten, Rudi Malo, Sukaningtyas, Wilton dan Trustha berdialog dengan pengasuh dan santri dan mengamati kehidupan mereka. Bapak H. Drs. Heri Kuswanto, M.Si merupakan pendiri dan pengasuh pondok pesantren yang berdiri sejak 2006 dengan nama Islamic Study Center (ISC) Aswaja Lintang Songo, dengan harapan menjadi lembaga pendidikan Islam yang bervisi terwujudnya santri yang berkualitas, mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat, santri memiliki pemahaman Islam yang dalam, memiliki keterampilan hidup untuk mandiri dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

 


 

Saat ini ada tujuh puluhan santri dari berbagai daerah dan suku, dari usia anak-anak sampai dewasa, dari pra-sekolah sampai mahasiswa. Sebagai santri mereka bersekolah dan kuliah di lingkungan pesantren maupun di luar, mengaji tauhid, fiqh, akhlak, tarikh, Al Quran dan kitab-kitab lainnya, dan mendalami keterampilan hidup seperti pertanian, peternakan, perikanan, seni budaya dan produksi sabun cuci. Pondok pesantren ini juga menerapkan konsep ‘home-garden’ yaitu memanfaatkan lahan untuk tanaman padi, cabe, sayuran, jeruk, jambu dan mangga, juga memelihara ternak seperti, bebek, kalkun, burung puyuh, kelinci dan kolam ikan. Kemudian cafe sebagai ‘fund-raising’ sekaligus tempat belajar kewirausahaan dari pengolahan makanan sampai tata cara penyajiannya.

 




 

“Kami terbuka dengan berbagai pihak dari dalam dan luar negeri, dan menjadi mitra dialog lintas iman baik tentang ilmu agama maupun keterampilan hidup yang dikembangkan di pondok pesantren ini. Harapan setelah nyantri di tempat ini, mereka memiliki pengetahuan umum dan agama, ketika mereka berkeluarga mereka mandiri secara ekonomi karena bekal keterampilan berwirausaha yang telah dipelajari di sini,” papar Heri Kuswanto.

 


 

Kunjungan ini menjadi pengalaman baru tentang proses pembangunan manusia yang utuh dari sisi spiritual, kemandirian hidup dan keterhubungan dengan alam. Sekarang tidak lagi membahas agama mana yang paling benar tapi hubungan dengan Tuhan nampak dalam hubungan antar manusia dan manusia dengan alam. Hendaknya kita belajar memperlakukan sesama manusia dan memanfaatkan alam dengan baik sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Sang Pencipta. (WIL).

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Pencerahan Hidup di Vihara Karangdjati

pada hari Kamis, 12 Maret 2020
oleh adminstube
 
Perjalanan peserta menuju Vihara Karangdjati dipenuhi rasa antusias sekaligus penasaran karena kegiatan ini, bagian dari pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta pada 6-8 Maret 2020, merupakan pengalaman pertama berinteraksi lintas iman secara langsung berkunjung ke Vihara dan berdialog dengan pemeluk agama Buddha. Di Vihara, Supriyanto salah satu staff menyambut peserta dan menyuguhkan makanan tradisional, seperti kacang rebus, keripik singkong dan nagasari. Dalam sesi perkenalan, para peserta berbagi cerita dan mengobrol ringan sambil menyeduh teh hangat beraroma melati. Wanti menceritakan pengalaman di kampung halamannya di Halmahera. Erik Poae juga mengungkap perbedaan situasi di Halmahera yang mayoritas Kristen dan di Jakarta tempat ia kuliah yang mayoritas Islam. Telik, mahasiswa Hindu dari Bali mengungkap kehidupan beragama di desanya terjalin baik justru di kalangan masyarakat biasa daripada antar tokoh agama dan dia berharap ke depan menjadi lebih baik. Tak ketinggalan, Mutiara dari Bandung menceritakan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat Sumba yang berbeda agama dan tradisi dalam program Exploring Sumba. Sementara Budi dari Riau merasa tidak mengalami ataupun melakukan sikap intoleransi.

 
Selanjutnya, Totok Tejamano, S.Ag, ketua Vihara Karangdjati yang juga Pembina Masyarakat Buddha Kota Yogyakarta mengungkapkan rasa senangnya bertemu mahasiswa yang haus untuk belajar hal baru di Vihara Karangdjati. Ia menuturkan sejarah Vihara Karangdjati sebagai vihara tertua di Yogyakarta telah berdiri sejak tahun 1950 dan diresmikan tahun 1962, meski sebenarnya bangunan utama sudah ada sejak jaman Belanda yakni tempat pemerahan susu sapi. Pada masa itu wilayah Karangjati merupakan lahan perkebunan dan setelah Indonesia merdeka lahan ini menjadi milik Romo Among. Di bagian lain, tahun 1958 Bhante Jinaputta menjalankan vassa dan tinggal di Cetiya Buddha Khirti, milik Tjan Tjoen Gie (Gunavarman Boediharjo) di kampung Sayidan, satu-satunya tempat ibadah pemeluk Buddha di Yogyakarta masa itu. Dari kesepakatan antara Tjan Tjoen Gie dan Romo Among, Bhante Jinaputta tinggal di bangunan bekas tempat pemerahan sapi milik Romo Among dan sejak itu kegiatan keagamaan mulai diadakan di situ. Ada delapan tokoh di Vihara Karangdjati yang dikenal dengan sebutan Djojo 8 (joyo wolu) yang aktif di vihara tersebut, antara lain Romo Among, Tjan Tjoen Gie, Soeharto Djojosoempeno, Djoeri Soekisno, Kho Tjie Hong, Tan Hok Lay, Moesihardjono, dan Krismanto. Vihara mulai berkembang dengan pembangunan pagar keliling dan gapura tahun 1962 dan dinyatakan sebagai berdirinya Vihara. Tahun-tahun berikutnya merupakan masa sulit ketika para perintis meninggal dunia termasuk Romo Among di tahun 1993. Vihara Karangdjati mulai menggeliat kembali tahun 1998 secara bertahap merenovasi bangunan pendukung, altar, kanopi dan pagar sisi barat, bahkan bersamaan perayaan Kathina 2550/2006, keluarga Romo Among menghibahkan tanah vihara kepada Sangha Teravada Indonesia. Perkembangan agama Buddha sampai tahap ini merupakan keterlibatan masyarakat yang saling mendukung dan mencerminkan persaudaraan yang mampu menjawab setiap pergumulan.
 
Totok juga memperkenalkan filosofi Jalan Tengah a la Vihara Karangdjati, yaitu Kesusu selak ngopo, alon-alon yo arep ngenteni opo? (mengapa tergesa-gesa, apa yang dikejar? Mengapa pelan-pelan, apa yang ditunggu?) Filosofi ini mengingatkan apapun yang dilakukan seseorang sebaiknya diawali dengan ketenangan dan tidak terburu-buru, berpikir jernih dan keseimbangan dalam menjalankan. Berkaitan sapaan Namo Buddaya digunakan untuk menyapa atau menyatakan ungkapan hati dengan sungguh-sungguh.

Tidak terasa, obrolan kami semakin serius, mendalam, memicu rasa ingin tahu, tapi tetap santai dan sampai pada pertanyaan yang diajukan peserta, “Pak Totok, mohon maaf sebelumnya, saya ingin tahu apakah Buddha itu menyembah patung Siddharta Gautama?” Pak Totok dan Mas Supri tertawa sambil menjawab, Ya, sebagian besar berpikir bahwa ketika kami menghadap dan bersujud di depan patung, kami sedang berdoa meminta-minta. Sebenarnya tidak demikian karena tradisi itu bermakna ungkapan spiritual maupun semangat untuk mencapai kebuddhaan. Bukan saja untuk mengenang Shiddharta Buddha Gautama sebagai guru utama yang menunjukkan jalan kelepasan, tetapi secara spiritual patung tersebut mempunyai sugesti yang kuat untuk mencapai kebudhaan. Lalu apa yang dimaksud Buddha itu sendiri? Buddha bukan sesuatu yang berbentuk atau nama atau seorang manusia, tetapi suatu gelar yang dapat dicapai oleh Shiddarta, yaitu ‘mencapai suatu tujuan’ melalui ‘pencerahan agung. Kata ‘Buddha sendiri berasal dari kata kerja buddhyang artinya bangun, sadar, mengerti dan tercerahkan dari kegelapan atau kesesatan menuju cahaya kebenaran. Patung Buddha juga digunakan oleh para Buddhis sebagai alat untuk berkonsentrasi dan meditasi dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Sang Hyang Adhi Buddha. Jadi, patung Buddha bukanlah Siddharta sebagai manusia tetapi Tathagata atau Afatara, Sang Adi Buddha”, paparnya.

Dalam akhir pertemuan, Totok menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tetap bergandeng tangan menjaga keutuhan bangsa di tengah kondisi sosial masyarakat saat ini. Politik pecah belah sudah lama terjadi di wilayah nusantara ini dengan mengadu domba raja-raja untuk mendapat kekuasaan, saat ini isu beralih pada istilah-istilah keagamaan, kesukuan serta pribumi atau orang asing. Anak muda, mahasiswa perlu menyadari dan waspada hal tersebut dengan tetap Bersama Merangkai Indonesia. (PUT).

  Bagikan artikel ini

Mengenal dan Menghargai Perbedaan   di Klenteng Tjen Ling Kiong   (Poncowinatan)        

pada hari Rabu, 11 Maret 2020
oleh adminstube

 

Keberagaman Indonesia merupakan berkah yang indah jika masyarakat hidup rukun dan damai. Namun keberagaman sendiri bukan tanpa tantangan dan ujian, terbukti dengan adanya peristiwa yang menunjukkan sikap intoleransi di beberapa daerah di negeri ini, ditambah lagi prasangka dari satu pemeluk agama terhadap agama lain dan sebaliknya. Ini menjadi pendorong bagi Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengadakan pelatihan Multikultur dan dialog Antar Agama dengan tema ‘Bersama Merangkai Indonesia’ pada tanggal 6-8 Maret 2020 di Wisma Pojok Indah, Yogyakarta, dimana para mahasiswa peserta pelatihan belajar tentang prasangka yang bisa menghalangi seseorang berelasi antar agama.

 


 

Sesi eksposur ke berbagai tempat ibadah agama lain menjadi sesi yang menarik karena memberi pengalaman langsung peserta pelatihan berinteraksi dengan agama lain, seperti ke Klenteng Poncowinatan, Pura Jagadnatha, Vihara Karangdjati dan Pondok Pesantren Lintang Songo. Setiap peserta bebas memilih tempat ibadah mana yang ingin dikunjungi untuk mendapatkan pengalaman baru.

 


 

Eksposur ke Klenteng Poncowinatan diikuti 11 mahasiswa dan 1 pendamping. Mereka adalah Yustiwati, Fiany Kasedu, Ram Hara, Oktavianus Talo Pake, Hidayat Badjeber, Roni Aropa, Yulius Servas, Marten Momo Ndara, Daniel, Siti Muliana dan Ibu Ariani. Rombongan eksposur ini disambut oleh Bapak Eka Putera, selaku pengurus Klenteng, dengan ramah dan hangat. Perasaan kagum dan penasaran langsung muncul ketika melangkahkan kaki ke dalam bangunan Klenteng dan terungkap dalam pertanyaan-pertanyaan sepanjang diskusi, seperti ‘kapan Klenteng ini dibangun?, ‘seperti apa sejarahnya?’ dan ‘pemeluk agama apa saja yang beribadah di sini?” Selaku narasumber, Pak Eka menceritakan bahwa Klenteng ini disebut Tjen Ling Kiong, dibangun pada tahun 1881 di tanah pemberian Sultan Hamengkubuwono VII, dengan luas kurang lebih 2.000 m2 dan diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono VII. Awalnya klenteng ini menjadi tempat ibadah agama Konghucu, namun seiring waktu klenteng ini menjadi tempat ibadah tiga agama, akhirnya disebut Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD), yaitu Buddha, Konghucu, dan Taoisme.

 


 

Masyarakat Yogyakarta sendiri mengenal adanya mitos garis imajiner Gunung Merapi sampai ke Pantai Selatan, dan Klenteng ini berada dalam rentang garis lurus antara Gunung Merapi, Tugu Jogja, Kraton dan Pantai Selatan. Warna merah dan kuning emas selalu menghiasi Klenteng ini karena pemeluk Konghucu meyakini bahwa warna merah melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran sedangkan warna kuning melambangkan keberuntungan dan keceriaan. Setiap agama memiliki keunikan dalam menyembah Tuhan dan sarana yang digunakan, termasuk di klenteng ini, ada sebuah beduk dan lonceng yang digunakan saat hari besar Konghucu, khususnya setiap 26 Agustus dan tahun baru Cina (Imlek), serta ada 19 altar pemujaan dewa-dewa dalam agama Konghucu yang memiliki kekuatan masing-masing, seperti dewa langit yang berkuasa di langit dan dewa dapur yang biasanya berada di belakang. Hal menarik dari Klenteng ini adalah selain untuk ibadah, juga tempat wisata dimana pengunjung yang datang tidak selalu beragama Konghucu, bahkan dikunjungi wisatawan mancanegara.

 


 

Yustiwati Angu Bima, salah satu peserta, mahasiswa Teologia UKDW yang berasal dari Sumba mengungkapkan, “Ini pertama kali saya berkunjung ke Klenteng, padahal saya sering lewat dan penasaran dengan bangunan yang unik ini, tetapi saya tidak berani menjawab rasa penasaran saya. Dari eksposur ini saya mendapat pengalaman dan pengetahuan baru dari Pak Eka yang sudah menjelaskan tentang Klenteng dan dewa-dewa dalam agama Konghucu”.

 

 

Seperti pelangi yang indah karena berbeda warna, bahwa pengalaman akan memperkaya diri kita, dengan mengenal, mengerti, dan menghargai perbedaan yang ada, perbedaan bukan alasan bermusuhan tetapi bersama-sama merangkainya menjadi Indonesia. Semua itu berawal dari diri kita. (Thomas Yulianto).


  Bagikan artikel ini

Merawat Toleransi dan Keterbukaan Jiwa   Eksposur ke Pura Jagadnatha        

pada hari Selasa, 10 Maret 2020
oleh adminstube
Toleransi adalah suatu hal yang sangat dirindukan oleh semua orang terutama di Indonesia. Toleransi merupakan suatu kalimat penghubung yang melahirkan cinta kasih sesama umat beragama, berbeda suku ras dan agama. Tetapi jika kita melihat ke belakang ada berbagai macam permasalahan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak menyukai terciptanya kerukunan antar umat bergama di Indonesia. Pemicu maraknya kasus intoleransi disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya bisa jadi karena tidak pernah mengalami perjumpaan langsung.

Menanggapi maraknya permasalahan intoleransi, Stube-HEMAT sebagai wadah bagi mahasiswa yang belajar ke Yogyakarta, hadir untuk memberi ruang bagi anak muda agar bisa memiliki pengalaman perjumpaan langsung dengan agama lain, suku dan juga anak muda dari berbagai daerah. Perjumpaan ini harapannya memberi cara pandang baru bagi anak muda agar mampu memahami kekayaan bangsa ini dan mau merawatnya. Pada tanggal 7 Maret pukul 14.00WIB peserta pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama  diajak berkunjung ke Pura Jagadnata yang berlokasi di Jalan Pura No 370, Desa Plumbon, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Datang berkunjung dan diterima dengan hangat oleh pak Budi sebagai ketua Pengempon Pura dan berdiskusi beberapa hal salah satunya makna Tuhan versi Hindu. Tuhan menurut agama Hindu menurut pak Budi adalah Tuhan yang Universal atau tanpa batas lalu mengapa kita harus berdebat dan mengatakan kalau Tuhan kitalah yang paling hebat? Sedangkan Tuhan itu tanpa batas dan tiada batas. Tuhan juga bisa menjadi apa saja yang dia mau dan tidak terbatas pada satu bentuk yang kita ketahui.

Pemaknaan lain yang luar biasa adalah pada setiap selesai ritual atau sembahyang selalu diberi beras pada dahi, ini melambangkan bahwa setiap umat yang telah selesai mengikuti ritual harapannya setelah keluar dari Mandala Utama atau bagian pura untuk sembayang bisa melahirkan benih-benih kebaikan dan terus menabur kebaikan untuk kemaslahatan umat.
 
Selain belajar tentang hal-hal baik dari ajaran Hindu, struktur bangunan Pura juga menyita perhatian peserta. Dengan teknik memotret yang tepat serasa kita sedang berada di Bali ditambah lagi di sekitar pura ditanami pohon kamboja yang berbunga kuning dan putih sehingga memberi kesan asri dan segar ketika memasuki pura. Pura terbuka untuk umum jika sekedar berfoto di halaman depan yang tidak dibuka untuk umum adalah mandala utama tempat di mana dilakukan upacara dan sembahyang.
 
Agama kita berbeda tetapi kita satu di bawah Bhinneka Tunggal Ika. Mari kita rawat rasa toleransi bersama sebagai anak muda tulang punggung masa depan bangsa ini. (SAP)

  Bagikan artikel ini

Bersama Merangkai Indonesia  

pada hari Senin, 9 Maret 2020
oleh adminstube
‘Kita adalah Indonesia, bersama merangkai Indonesia’ diungkapkan oleh tiga puluh mahasiswa peserta pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta pada tanggal 6-8 Maret 2020 di Wisma Pojok Indah, Yogyakarta. Mereka adalah mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, beragam etnis, agama dan latar belakang studi. Selanjutnya dalam pembukaan, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, M.Min, yang juga board Stube-HEMAT mengingatkan peserta tentang keunikan negara Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan berkembangnya jaman dan teknologi, keunikan ini menjadi tantangan yang tidak mudah ketika ada masalah menyangkut suku, agama, ras dan golongan, akankah kata-kata positif yang terucap? Melalui firman ia mendorong peserta mengungkapkan kata-kata positif agar masyarakat yang majemuk ini tetap bersatu.
 

 

Berkaitan dengan keberagaman di Indonesia dan Stube-HEMAT, Ariani Narwatujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT menekankan pentingnya mahasiswa secara bersama merangkai Indonesia, bukan sembarang merangkai tetapi menyusun kepingan yang berbeda menjadi kesatuan gambar yang lengkap. Ini semangat Stube-HEMAT sebagai wadah belajar mahasiswa dengan beragam latar belakang, daerah, agama, budaya dan program studi, bahkan mendorong mahasiswa ketika selesai kuliah untuk mengembangkan hal-hal positif di daerah asalnya. Melengkapi perkenalan Stube, Mutiara Srikandi, menyampaikan pengalaman peserta program Exploring Sumba, sebagai mahasiswa muslim ia benar-benar merasakan toleransi masyarakat Sumba yang sebagian besar Kristen Protestan, “Pada dasarnya, kita mesti memberanikan dan membiasakan diri berada di daerah yang plural, kita bisa berdampingan tanpa merusak keyakinan kita sendiri” ungkapnya.
 

 

 

 

“Interaksi lintas iman sebenarnya sudah dilakukan oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari di kampus, tempat tinggal mereka masing-masing, namun belum sampai pada dialog lintas iman” papar Pdt Dr. Wahyu Nugroho, MA. Perkembangan teknologi yang semakin maju menjadi tantangan interaksi lintas iman, karena rujukan informasi cenderung bersumber pada dunia maya baik itu informasi yang valid maupun abal-abal, kemudian berkembangnya media sosial di sisi lain membuka ruang interaksi antar manusia dan menjalin hubungan tetapi di sisi lain mengurangi perjumpaan antar manusia yang beragam latar belakang. Padahal perjumpaan secara langsung inilah bisa menjadi pengalaman berharga dan ruang dialog untuk menjawab rasa ingin tahu dan menumbuhkan rasa toleransi dan solidaritas.
 

 

Dalam sesi menelisik jejak agama-agama di Indonesia, Muryana, S.Th. I, M.Hum, mendorong peserta tidak hanya mendalami agamanya sendiri tetapi juga mengenal agama lain dan kepercayaan lokal di Indonesia karena ini akan memperkaya pemahamannya, misalnya buku dengan tulisan arab tidak selalu berkaitan dengan Islam, masuk ke gereja dianggap menjadi Kristen dan kepercayaan lokal dianggap tidak benar. Bahkan pengaruh agama dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia akan terungkap, seperti Buddha pada masa kerajaan Sriwijaya, Hindu saat kerajaan Singosari dan Majapahit, zaman Islam bersama para wali dan kekristenan yang masuk ke Indonesia diawali oleh penginjil dari Eropa, termasuk keberadaan kepercayaan lokal misalnya Marapu di Sumba, Sunda Wiwitan di Jawa Barat dan Kaharingan di Kalimantan.
 

 

 

Melengkapi pengalaman berdialog antar agama peserta melakukan eksposur kelompok ke Kelenteng Poncowinatan, Pondok Pesantren Lintang Songo Piyungan, Pura Jagadnatha dan Vihara Budha Karangdjati untuk mengenal lembaga dan dinamikanya, menggali pendapat pemuka agama tentang keberagaman di Indonesia dan menemukan peran mereka dalam masyarakat yang multikultur. Kemudian melalui film Aisyah Biarkan kami bersaudara, Beta Mau Jumpa, Atas Nama Percaya dan Tanda Tanya mengasah kesadaran dan analisa mereka tentang realitas kehidupan antar umat beragama.
 
 

 

Sebagai tindak lanjut pelatihan ini peserta merancang aktivitas secara pribadi maupun kelompok, seperti membagikan materi dan pengalaman pelatihan bersama komunitas mahasiswa daerah, kampus, pondok pesantren dan gereja, menulis pengalaman dialog lintas iman dan artikel tentang multikultur, keberagaman pangan dan toleransi, membuat vlog dan film pendek tentang keberagaman dan toleransi kemudian diposting di media social, bahkan merancang pertemuan anak muda lintas agama di kampung halaman.
 

 

Perbedaan jangan menjadi alasan untuk perpecahan melainkan tempat untuk belajar dan menumbuhkan toleransi. Sudahkah kita bersyukur atas keberagaman bangsa ini, sudahkah iman percaya kita berdampak baik bagi kemanusiaan? Mari kita wujudkan kedamaian bagi bangsa ini, mari bersama merangkai Indonesia. (TRU).
 



  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook