pada hari Kamis, 26 September 2013
oleh adminstube

Kelas Menulis (Follow-Up Program Multikultur)

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Menjawab kerinduan untuk melahirkan penulis-penulis muda yang bisa mengakomodir nilai multikultur, Stube HEMAT Yogyakarta membuka kelas menulis dengan tema “Sinkronisasi Kepala, Hati dan Tangan”. Dimulai sejak tanggal 14 September 2013, kelas ini dilakukan pada hari Sabtu setiap minggunya bertempat di Omah Limasan dan diikuti oleh beberapa mahasiswa dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL), Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia (STAKM) dan Universitas Sanata Dharma (USD) yang diharapkan bisa menghasilkan karya tulis dalam 12 kali pertemuan.

 

 

Dibawah bimbingan Wiliam E. Aipipidely, atau Bang Willy, begitu sapaan akrab para peserta, kelas ini diawali dengan pemahaman antara penulisan artikel dan reportase, antara penulis dan wartawan. Sebagai praktisi yang kaya pengalaman dalam menghasilkan tulisan dan buku, ditambah kesehariannya sebagai salah satu aktivis di lembaga Satu Nama bidang demokrasi, William E. A memang memiliki kerinduan membagi ilmu jurnalisme kepada anak muda, sehingga tercipta aliran ilmu dan regenerasi yang diharapkan bisa bermanfaat di kehidupan mendatang.

 

 

 

Di kelas menulis ini peserta belajar memahami tata cara penulisan yang benar secara umum, bagaimana menulis buku, tata cara penulisan opini publik pada koran, tabloid lokal dan nasional, dan mampu menghasilkan karya tulis yang relevan, bermanfaat, terlebih lagi bisa berpihak pada kaum marginal disesuaikan minat masing-masing. Melalui kelas ini peserta mendekonstruksi kembali pemahaman mereka tentang menulis. Mereka juga belajar bagaimana menulis opini pada media cetak, menemukan bahan pendukung, langkah penulisan dan strategi menganalisa headline.

 

 

 

Kelas ini menjadi terasa seru karena tugas menulis langsung diberikan kepada peserta untuk dikumpulkan pada setiap pertemuan untuk diperiksa, dinilai dan dikomentari pembimbing dan peserta lain. Dari semua tulisan yang terkumpul belum bisa dikategorikan sebagai tulisan opini yang bisa dimuat di media cetak, karena belum menyertakan teknik penulisan yang benar seperti metode 5 W 1 H dan solusi yang tepat dari masalah yang diangkat dalam rubrik opini publik. Pertemuan-pertemuan selanjutnya akan menjadi lebih menantang buat peserta.

 

 

Bang Willy menegaskan bahwa menulis merupakan bagian dari aktivitas kehidupan kita sehari–hari, namun hanya sedikit orang yang mengetahui manfaat menulis bahkan makna sesungguhnya dari tulisan mereka belum bisa dipahami secara holistik dan mendalam. Realita menunjukkan bahwa mahasiswa dan pemuda Indonesia menganggap bahwa menulis hanya sebagai sebuah kebiasaan dan syarat untuk mendapatkan nilai atau digunakan hanya pada penyusunan tugas akhir, belum sampai pada tahap menemukan nilai pada sebuah karya tulis. Padahal jika dilihat, karya tulis itu sederhana saja, hanya merupakan sinkronisasi antara kepala, hati dan tangan yang tertuang pada sebuah kertas yang isinya bisa dipertanggungjawabkan dan bermanfaat bagi orang lain. Sebenarnya, dengan tulisan-tulisan sederhana, seorang mahasiswa atau pemuda bisa dikatakan produktif.

 

 


Apa yang akan terjadi dengan pertemuan yang akan datang? Semoga ada peningkatan kemampuan dalam menulis. (SRB)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 25 September 2013
oleh adminstube

Pemahaman Alkitab Remaja GKJ Mergangsan

 

 

 

REMEHKAH HAL KECIL?

 


 

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar (Lukas 16:10)

 

 

 

Setelah merenung beberapa saat untuk 3 hari terakhir yang sudah dilalui, satu persatu bicara bahwa mereka ada yang tidak belajar, lupa mengerjakan PR, berniat mencontek saat ulangan meski akhirnya ulangan ditunda karena guru tidak masuk, membolos sekolah, dan ada yang tersinggung atas perlakuan teman pada dirinya. Lebih unik lagi ada pula yang mengungkapkan bahwa tiga hari berjalan biasa, tidak ada pengalaman yang mengesankan. Inilah secuplik pengalaman yang mengesankan yang didapat oleh tim kerja Stube HEMAT, Yohanes Dian Alpasa saat membimbing PA remaja di GKJ Mergangsan, Jumat, 20 September 2013.

 





 

Dengan tema “remehkah hal kecil?”, remaja-remaja tersebut diajak merenung agar lebih menyadari perkara–perkara yang ada di lingkungan hidupnya. Dengan menyadari keberadaan perkara, cukup menjadi modal penting untuk mengembangkannya. Mereka diajak untuk melihat diri, potensi dan kesempatan bahkan mereka juga belajar untuk menyadari bahwa mereka sering lalai untuk mengembangkan kesempatan itu. Ketika menyadari bahwa ada banyak kesempatan dilewatkan, sontak mereka tersenyum malu. Beberapa diantara mereka menertawakan pengakuan teman yang lain seperti simbol solidaritas. Inilah yang membuat suasana PA menjadi semarak karena ada canda dalam sharing.

 

Teman-teman remaja itu kemudian tidak hanya sadar tetapi juga belajar seperti menyusun strategi untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang mereka dapat. Dengan tidak meremehkan waktu, kita berharap Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati perkara yang lebih besar.

 

 

 

Ketika ditanya apakah mereka sepakat dengan renungan firman Tuhan dan diskusi malam itu, semua menganggukkan kepala tanda setuju.  Selamat bertumbuh menuju kedewasaan. (YDA)

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 24 September 2013
oleh adminstube
Metamorfosis: “Proses Menuju Kesempurnaan”

“Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya." Injil Markus pasal 4: 31-32



Tema Metamorfosis di atas diangkat oleh BPH PMK TALENTA Universitas Mercu Buana Yogyakarta dengan harapan agar para  mahasiswa terus berproses dalam perkuliahannya dengan lebih baik dan membuahkan hasil yang sesuai harapan dan cita-cita mereka.

 

 

 

Vicky Tri Samekto dari Stube HEMAT, mengupas metamorfosis ini sebagaimana perumpamaan biji sesawi, dari Injil Markus pasal 4: 31-32. Kerajaan Allah yang penuh damai sejahtera itu ada dalam setiap pribadi manusia dan harus bisa dirasakan bersama-sama, tidak untuk dinikmati sendiri. Artinya ada dampak yang bisa dirasakan bagi orang lain dan lingkungan (masyarakat) di mana kita berada, baik dalam skala kecil maupun besar. Ketika seorang mahasiswa sedang menempuh kuliah harapannya adalah selesai, wisuda dan bekerja untuk meraih kesuksesan. Semua ini tidak bisa meninggalkan proses metamorfosis, yang berarti memperoleh perubahan bentuk, dan itu adalah proses kehidupan.

 

 

 

 

 

 

Proses kehidupan yang memberikan perubahan-perubahan, dari titik awal dilahirkan sampai menuju pada titik kesempurnaan. Kesempurnaan tidak dapat dijelaskan secara detail karena titik kesempurnaan setiap individu berbeda-beda, sampai sejauh mana ia mengupayakan kesempurnaan itu. Setiap individu mengalami proses metamorfosis, berubah dari fase yang satu menuju fase selanjutnyaYang pasti, harapan dari proses perubahan ini bukanlah kegagalan, melainkan kesempurnaan dan keberhasilan untuk menyatakan eksistensinya dalam kehidupan ini. Tentu tidak mudah meraihnya, karena pasti ada hambatan dan rintangan yang menghadang.

 

 

 

 

 

 

Proses mendapatkan kehidupan baru adalah perjalanan yang tidak ada habisnya, semuanya itu adalah proses pencarian yang penuh misteri dan proses itu harus dilandasi keyakinan bahwa proses mampu merubah dan meng-upgrade potensi seseorang. Seperti biji sesawi dalam perumpamaan tentang Kerajaan Allah, hendaknya kehidupan kita juga memancarkan damai sejahtera Kerajaan Allah dalam setiap prosesnya, dimulai dari hal yang paling kecil menjadi hal yang besar.

 

 

 

Persekutuan pada Senin 23 September 2013 tersebut menjadi sangat cair dengan obrolan ringan, pujian, permainan unik, cerita-cerita dan keakraban yang dibangun oleh pengurus PMK dan Stenly Recky Bontinge dari tim kerja Stube HEMAT, yang memperkenalkan program-program pelayanan organisasi ini. Persekutuan yang dihadiri sekitar 30 mahasiswa ini diakhir dengan sebuah ajakan agar mahasiswa PMK Talenta ikut bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakat di mana mereka sekarang berada, karena lingkungan memberi andil dalam proses metamorfosis keberhasilan yang akan diraih.

 


 

 

 

Selamat berposes dalam pencarian dan selamat bermetamorfosis. Tuhan Yesus memberkati. (vicky tri samekto)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 9 September 2013
oleh adminstube

Program Pelatihan Multikultur

 
Belajar dari Persemaian Cinta Kemanusiaan (PERCIK), Salatiga
7 September 2013
 

Dalam rangkaian belajar Multikultur, pada tanggal 7 September 2013, mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Stube HEMAT Yogyakarta mengunjungi lembaga PERCIK di Salatiga, kurang lebih 88 km arah timur kota Yogyakarta. PERCIK, kepanjangan dari Persemaian Cinta Kemanusiaan, adalah sebuah lembaga yang bergerak di bidang penguatan masyarakat sipil (Civil Society) yang memakai kearifan lokal tempat masyarakat yang bersangkutan hidup dan beraktivitas sehari-hari. Menurut Pradjarto, S.H., Ph.D, salah satu yang menjadi narasumber PERCIK, kebenaran itu muncul dari tataran lokal, bukan secara struktural dirumuskan pemerintah daerah maupun pusat.

Masyarakat lokal dalam suatu daerah juga memiliki kebenarannya sendiri seturut nilai-nilai yang mereka anut sehari-hari. Lebih lanjut, melalui berbagai proses kearifan lokal maka lahirlah apa yang kemudian disebut agama, tata kehidupan, politik, hukum, adat istiadat, dan kebudayaan. Sentuhan khas PERCIK dalam menggarap isu-isu sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat inilah, yang menjadi daya tarik peserta dari Stube HEMAT untuk memperdalam pemahaman Multikultur di PERCIK.
 
Multikultur ala PERCIK memberi dasar bagaimana seseorang bersikap hidup, karena hal ini langsung berkaitan dengan realita pluralitas dari norma yang ada. Namun perlu dicermati bahwa belum tentu dalam norma tersebut kaidah Multikultur mendapat perhatian dan digali maknanya. Orang hanya melihat permukaan saja, tetapi belum tentu memahami apa yang ada di dalam kehidupan bersama.  Pradjarto kembali menegaskan bahwa menerima perbedaan dengan rasa hormat itu adalah Multikultur. Membuang sikap egois, menerima perbedaan, ataupun menghormati kesetaraan harus dilakukan terus-menerus dalam hidup kita. Perbedaan hidup antara Primitif dan Modern hanya dibatasi oleh sikap hidup masing-masing orang. Karena kehidupan modern sudah merusak berbagai sendi kehidupan maka orang ingin kembali pada kearifan lokal.


Diskusi yang dilakukan di lembaga ini sangat menarik karena dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil dengan beberapa tema, seperti lingkungan, perkawinan lintas iman, Sobat muda dan Sobat anak. Para peserta diajak membedah realita kehidupan sehari-hari dan memetakan persoalan dalam kehidupan di tempat asal dan tempat di mana mereka berada saat ini. Masalah lingkungan adalah hal yang sangat nyata dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan karena lingkungan mempengaruhi kehidupan manusia sampai pada kebudayaannya. Manusia tergantung pada lingkungan dan alamnya. Adapun yang berkaitan dengan perkawinan lintas iman, hal ini tidak bisa dihindari karena adanya keberagaman kepercayaan dalam kehidupan. Jika ini terjadi maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengkomunikasikannya.

Komunikasi dengan keluarga dan komunikasi antar pasangan penting dilakukan agar mereka benar-benar sadar dan siap untuk menjalani keputusan yang diambil. Komunikasi adalah kunci penting dalam mengungkap perbedaan, karena tidak mudah orang bisa menerima perbedaan apalagi menyangkut agama. Anak-anak muda perlu disadarkan akan keadaan sosial yang sudah terkotak-kotak oleh berbagai kepentingan, supaya mereka tidak larut dalam perbedaan ini, karena lingkungan sosial mempengaruhi perkembangan setiap pribadi baik jiwa maupun pola pikir. Orang tua harus turut andil memperkenalkan kehidupan yang beranekaragam kepada anaknya dengan mengajarkan langsung dari pengalaman si anak atau pengalaman orang tuanya.
 
Sebagai kesimpulan akhir Pradjarto menekankan bahwa Multikultur harus kita kenal dan kita harus sadar bahwa hidup kita sering tertutup paradigma yang ada. Ketika kita membuka diri, akan banyak pertanyaan yang muncul sehingga jawabannya juga harus nyata. Jika ingin melihat persoalan Multikultur silahkan lihat hal-hal yang ada di sekitar kita. ***



  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 3 September 2013
oleh adminstube
Cerdas Membaur Meski Multikultur
 
Hotel Kayu Manis, Kaliurang, 30 Agt - 1 Sep 2013

 
Kehidupan yang beranekaragam tidak bisa dipungkiri dalam realita sehari-hari. Konteks kehidupan seperti ini di Indonesia sudah sejak lama terjalin. Maka dari itu Negara ini memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu). Kehidupan yang beranekaragam ini dalam bahasa populer disebut Multikultural. Perbedaan yang ada secara alami tidak menjadi masalah dalam masyarakat, tetapi ketika migrasi penduduk semakin pesat maka pergesekan antar budaya menjadi sangat kelihatan. Gesekan budaya itu akhirnya menjadi permasalahan identitas dari sebuah kelompok masyarakat dari daerah tertentu seperti bisa dicermati pada dampak transmigrasi. Rasa senasib dan sepenanggungan di tanah perantauan secara psikologis mendorong orang untuk membentuk sebuah komunitas.
 
Arus migrasi pelajar dari berbagai kota dan daerah menuju Yogyakarta yang memiliki banyak perguruan tinggi, terjadi cukup tinggi setiap tahunnya dan tidak dapat dipungkiri terjadi pergesekan budaya yang berbeda. Pergesekan budaya yang berbeda bisa menjadi nilai yang positif karena dapat saling melengkapi, tetapi juga bisa mengarah kepada hal yang negatif ketika perbedaan tidak dapat diterima atau bahkan memicu konflik antar kelompok.
 
Pelatihan Multukultur yang dilaksanakan dari tanggal 30 Agustus sampai dengan 1 September 2013 oleh Stube HEMAT menjadi sangat penting untuk memahami perbedaan dan pergesekan budaya yang beragam. Mengambil tema Cerdas Membaur Meski Multikultur, pelatihan ini membawa peserta memahami makna multikultur, menyadari adanya multikultur dalam kehidupan sehari-hari, meminimalisir gesekan budaya yang mengakibatkan konflik, stigma, juga Culture Shock.


Pelatihan ini diawali dengan materi pengantar Multikultural oleh Tim Stube HEMAT, dilanjutkan keesokan harinya materi Multikultural di Indonesia: Penyebab, ragam dan urgensinya oleh DR. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., staf pengajar sosiologi UKSW, Salatiga. Culture Shock menjadi salah satu topik menarik dalam pelatihan ini yang dibahas dengan pendekatan psikologi oleh Drs. Thomas Aquino Prapanca Hary, M.Si., staf pengajar psikologi UST, Yogyakarta. Adapun sikap multikulturalisme dalam keseharian disampaikan oleh William E. Aipipidely, S.T., M.A, dari Yayasan Satu Nama.
 
 
Selama proses pelatihan para peserta diajak berefleksi, instropeksi, menganalisa dan memetakan lingkungan dimana ia berada, suku dan budaya, kebiasaan-kebiasaan yang selalu dijumpai juga mengenal budaya lain dari antar peserta melalui diskusi. Ketika para peserta melakukan eksposure bersama ke Desa Turgo, mereka banyak belajar mengenai kearifan lokal penduduk setempat, nilai kebersamaan, toleransi, keramahtamahan, persaudaraan, penghargaan terhadap alam dan kehidupan yang saling menjaga.
  
 
Pelatihan Multikultur ini ditutup dengan membangun komitmen melalui Rencana Tindak Lanjut yang dibuat oleh peserta yakni dengan: membagikan pengalaman yang didapatkan kepada sahabat dan kepada mahasiswa baru di kampus masing-masing, menindaklanjuti dengan tulisan, membuat bahan ajar Multukultur kepada anak, dan tak kalah seru bagi para mahasiswa pendatang adalah mempelajari bahasa setempat di Yogyakarta, yakni Bahasa Jawa.
 
 
 
 
Selamat menindaklanjuti!

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 1 September 2013
oleh adminstube

Program Eksposur Lokal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EKSPOSUR LOKAL: “YUK PULANG KAMPUNG!”

 

 

 

Salah satu dukungan Stube-HEMAT Yogyakarta kepada mahasiswa daerah untuk lebih mengenal daerahnya dan sebagai persiapan untuk kembali ke daerah setelah lulus studi di kota ini, adalah program Eksposur Lokal atau Hospitasi. Program ini memberi kesempatan kepada mahasiswa melakukan pengamatan dan pemetaan potensi yang bisa dikembangkan maupun permasalahan yang terjadi di daerah serta membuka jaringan kerja yang diperlukan ketika selesai studi dan kembali ke daerah asal mereka.

 

 

 

Tahun 2013 ini tiga orang mahasiswa terpanggil pulang melihat potensi daerahnya. Mereka adalah: Sarloce Apang, Emilliana R. Eka Rawulun, dan Mario Fransisco Talubun. Sarloce Apang biasa dipanggil Loce (21) berasal dari daerah Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara. Saat ini Loce tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) ‘YLH’ Yogyakarta yang ingin melakukan pengamatan dan pemetaan dampak pertambangan dengan judul Analisa Umum Dampak Pertambangan Nikel di Pesisir Pantai Pulai Gei, Buli Asal – Fayafli, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Ia berharap tulisannya mampu menjadi bahan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai dampak pertambangan nikel di pesisir pantai pulau Gei, Buli – Asal – Fayafli.

 




 

Emilliana R. Eka Rawulun dengan panggilan Eka (22), berasal dari daerah Fak-fak Papua Barat. Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ‘YLH’ Yogyakarta, jurusan Teknik Lingkungan ini mengambil topik Pengamatan Sistem Pengelolaan Limbah Cair RSUD Fak-fak, Papua Barat. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana sistem pengolahan limbah cair di RSUD Fak-fak dan dampak yang muncul apabila limbah cair di RSUD Fak-fak tidak dikelola dengan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

 

 

 

Sementara Mario Fransisco Talubun (22), yang juga berasal dari daerah Fak-fak, Papua Barat, mengambil topik Analisis Pola Tingkah Laku Masyarakat Sekitar Terhadap Keberlangsungan Taman Nasional Wasur, di Merauke, Papua. Mahasiwa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ‘YLH’ Yogyakarta, jurusan Teknik Konservasi Lingkungan ini bertekad untuk mempelajari model-model tingkah-laku masyarakat yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, yang bisa terus dipertahankan untuk mendukung usaha-usaha pelestarian alam dan  menemukan permasalahan sosial yang mempengaruhi kelestarian Taman Nasional Wasur. Lebih jauh lagi dia ingin menggali informasi sejauh mana upaya pemerintah setempat serta proyeksi ke depan untuk mengembangkan Taman Nasional Wasur Papua.

 

 

 

Selamat berproses, teman-teman.

 

 

(trustharembaka)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook