pada hari Sabtu, 20 Desember 2014
oleh adminstube

 

Pesona Tanah Sumba
oleh Yoel Tri Sugianto



Saya, Yoel Tri Sugianto, asal dari Lampung, Sumatera, menjadi salah satu pengajar bahasa Inggris dan Matematika di sebuah lembaga pendidikan Practical Education Center (PEC) Yogyakarta. Kegiatan lain yang sedang saya kerjakan adalah merintis karier di bidang musik dengan membuat lagu dan rekaman. Kegiatan dan pengalaman tersebut membuat saya terus bersemangat dalam menjalani hidup.
 
 
Stube-HEMAT Yogyakarta, sebuah wadah bagi aktivis dan mahasiswa untuk mengembangkan kreasi dan mendidik untuk terjun di dunia kerja nyata menawari saya mengikuti kegiatan Exploring Sumba dengan harapan saya bisa membagikan kemampuan saya di bidang bahasa Inggris dan menyanyi. Saya tertarik dan tertantang untuk melakukan kegiatan exploring di Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan resiko harus meninggalkan pekerjaan di Yogyakarta untuk sementara waktu.
 
Perjalanan ke Sumba dimulai 12 November 2014 menggunakan pesawat dan transit di Bali selama 1 malam. Keesokan harinya, 13 November 2014 adalah awal menginjakkan kaki di tanah Sumba. Saya merasakan sambutan hangat dari teman-teman Stube-HEMAT Sumba, antara lain Apriyanto Hangga, Yulius Anawaru dan Bapak Pdt. Dominggus Umbu Deta, S.Th., koordinator Stube-HEMAT Sumba. Kehangatan tersebut tidak berhenti di situ, para mahasiswa yang berada di Sekretariat Stube-HEMAT Sumba melakukan hal yang sama. Awalnya saya membayangkan bahwa orang-orang dari Indonesia timur adalah orang yang berwatak keras dan menyeramkan, namun semua itu dapat terbantahkan dengan sikap mereka yang luar biasa baik terhadap saya.
 
Ada banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan di tanah Sumba. Hal pertama saya lihat adalah daerah berbukit-bukit yang dipenuhi oleh bebatuan dan padang rumput terbentang sangat luas dengan bebasnya kerbau, kuda dan babi berada di sana. Saya benar-benar menikmati pemandangan tersebut yang hampir jarang saya temui di tanah Jawa termasuk di tanah kelahiran saya di Lampung. Pengalaman itu mengingatkan saya pada cerita Alkitab bergambar di sekolah minggu yang menceritakan keadaan di Yerusalem dengan padang luas dan berbatu yang di sekitarnya terdapat domba-domba peliharaan. Pemandangan pantai yang indah dengan pasir putih, air laut yang jernih, langit yang biru dan ditambah dengan awan putih pun tak kalah menarik. Lukisan indah Sang Kuasa tergambar dengan jelas di depan kedua mata saya. Begitu luar biasa dan menakjubkan.
 
Kuasa indah dari Yang Kuasa tidak berhenti di pemandangan indah tanah Sumba saja, kekayaan alamnya pun begitu luar biasa, salah satunya adalah ‘Bunga Desember’. Bunga Desember di Sumba berbeda dengan di Jawa. Bunga Desember di Jawa seperti bunga Dandelion yang berwarna merah namun kokoh sedangkan bunga Desember di Sumba seperti bunga Sakura di Jepang namun warnanya merah api. Dari hal tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa Indonesia juga memiliki bunga Sakura meski disebut bunga Desember. Seindah-indahnya pemandangan dan kekayaan alam di Sumba tetap harus dilindungi dan dilestarikan karena kerusakan maupun kepunahan bisa saja terjadi.
 
Hal lain yang saya temukan di Sumba di luar program Stube-HEMAT Sumba adalah ide dan kreativitas dari penduduk asli Sumba, Anton dan Dhany. Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang unik untuk menginspirasi banyak orang, dengan berkreasi membuat hiasan unik dari kerang-kerang yang berserakan di pinggir pantai. Bagi kebanyakan orang kerang-kerang itu dianggap sampah, namun bagi Anton dan Dhany, mereka memiliki nilai tambah dan menjadi sumber pemasukan tambahan.
 

 

Tidak banyak yang bisa saya bagikan kepada teman-teman muda di Sumba, dengan segala keterbatasan kemampuan dan skill yang saya miliki, saya berharap bisa memberi warna dalam kehidupan teman-teman Sumba di Stube yang selalu bersemangat untuk belajar hal-hal baru. Tuhan memberkati. (YOEL).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 15 Desember 2014
oleh adminstube
Kebun Sayur ala Petani Gimbal

 

Yoel - Weweh

 

 

 

Yoel menyiram tanaman sawi

 

Bagaimana tanggapan orang ketika melihat anak muda, mahasiswa dan tidak memiliki latar belakang petani berani turun ke sawah dan mengolah kebun sayur? Kenyataannya Yoel Yoga Dwianto, dipanggil Yoel Beler dan Alva Kurniawan yang akrab dipanggil Weweh mampu melakukan itu! Keduanya berasal dari Lampung dan saat ini kuliah di Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta. Mereka punya prinsip sederhana namun kuat: “Kalau kami mampu, dalam hal ini menanam sayur, mengapa harus menunggu orang lain melakukannya?” Prinsip inilah yang mendorong mereka membuka sepetak lahan sayur.

 

 

 

Terinspirasi selepas mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta tentang Pertanian Organik dan Keragaman Pangan, Yoel dan Weweh bertekad mewujudkan angan memiliki kebun sayur. Kebun sayur ini adalah cara mereka untuk mandiri pangan, khususnya sayuran, mengurangi pengeluaran konsumsi dan mewujudkan prinsip hidup sehat, karena diolah tanpa pupuk kimia.

 

Add caption

 

 

 

Awalnya mereka menanam cabe di depan kamar kos. Ketika mereka mencangkul tiba-tiba datang seorang ibu yang akrab dipanggil Mak Yah. Dengan penasaran Mak Yah menanyakan alasan mereka mencangkul di halaman kos. Kemudian Yoel dan Weweh pun menceritakan ‘mimpi’ mereka.

 

 

 

 

Bak gayung bersambut, Mak Yah menawarkan sebagian lahan sawahnya untuk mereka olah sebagai lahan sayur. Yoel dan Weweh antusias menyanggupi tawaran itu dan keesokan harinya mulai menyiapkan lahan untuk menanam sayur. Aktivitas yang dilakukan oleh Yoel dan Weweh mengundang berbagai respon. Ada yang senyum-senyum, sebagian terheran-heran dan ada juga yang meragukan. Situasi ini terjadi karena mereka berdua adalah anak muda, mahasiswa Teologia, bukan petani dan bahkan memiliki penampilan rambut gimbal. Namun jangan salah sangka, semangat dan komitmen mereka sangat kuat untuk memulai sebuah kebun sayur. Bahkan seorang petani yang bersebelahan sawahnya mengungkapkan keheranannya, ‘koq bisa ya panen mereka lebih baik, padahal aku petani sedangkan mereka masih mahasiswa dan bukan kuliah di pertanian?’

 

 

 

 

 

 

 

 

Kacang Panjang

 

Gambas / Oyong

 

Di kebun sayur ini ditanam cabe, kacang panjang, jipang, bayam, kangkung, gambas pare dan tomat dengan sistem tumpangsari. Mereka mengupayakan bibit dari pemberian dan barter dengan teman-teman yang memiliki kesamaan visi tentang kemandirian pangan. Setelah satu dan dua bulan berlalu, mereka telah panen kangkung, bayam, kacang panjang dan pare. Hasil panen sebagian dikonsumsi sendiri dan sebagian lagi diberikan kepada Mak Yah yang membuka warung makan.

 

 

 

Kebun kacang panjang dilihat dari atas

 

  

 

Menyiapkan kolam ikan

 

 

 

Saat ini Yoel dan Weweh sedang menyiapkan kolam ikan sebagai satu langkah maju mewujudkan pertanian terpadu. Yoel pun membuka kesempatan jika ada yang berminat untuk membantu pengadaan bibit ikan. Mereka berdua menyadari bahwa kebun sayur ini adalah langkah kecil yang dilakukan anak muda untuk sebuah kemandirian. Ia berpesan untuk anak muda lainnya, ‘jangan malu untuk berbuat sesuatu yang membawa kebaikan!’ Selamat berkebun Yoel dan Weweh, tetap semangat!! (TRU)

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 25 November 2014
oleh adminstube
Program Pelatihan Populasi, Pasar dan Tenaga Kerja:
Memperbarui Semangat yang Baru?
Wisma PGK Shanti Dharma Godean, 21- 23 November 2014
 

 

 

 

 

Judul di atas membuat bingung! Bagaimana mungkin hal baru diperbaharui? Ya benar, tidak semua orang mudah memahami judul itu. Mari sejenak kita renungkan beberapa hal yang melatarbelakangi pembuatan judul itu.

 

 

 

 

Akhir November 2014, Yogyakarta sering diguyur hujan. Temperatur udara sedikit banyak mempengaruhi kesehatan dan stamina, namun demikian puluhan mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta tetap melangsungkan aktivitasnya: berlatih, berdiskusi, dan merancangkan aktivitas lanjutan. Aktivitas itu terkemas rapi dalam pelatihan berjudul Carpe Diem: Petiklah Harimu!

 

 

 

 

 

 

Pelatihan dikemas selama dua malam tiga hari di Wisma PGK Shanti Dharma, Godean, pada 21 – 23 November 2014. Pelatihan ini mencakup beberapa aktivitas seperti perkenalan, perenungan, permainan beregu, ice-breaking, diskusi, dan sharing. Sungguh antusiasme dan semangat muda mahasiswa Stube ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang hadir. Sejumlah empat puluh tujuh orang dari berbagai fakultas, kampus, jurusan, semester, daerah, dan tradisi, bertemu, berolah pikir dalam diskusi di satu ruangan.

 

 

 

 

Setelah saling berkenalan, mereka belajar lebih lanjut apa itu Lembaga Stube, sebuah lembaga pendampingan mahasiswa yang membekali mahasiswa dengan berbagai pengetahuan, keterampilan dan pengalaman. Selanjutnya peserta diharapkan mampu mengembangkan daerahnya yang kaya potensi.

 

 

 

 

Hadi Sutarmanto, dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada, membagikan materi tentang teori psikologis yang dipakai untuk seleksi penerimaan pekerja. Macam–macam kebutuhan perusahaan membuat seleksi diperketat. Tidak selamanya pekerja dengan pengetahuan dan kemampuan relasional yang tinggi dapat mudah diterima bekerja. Seorang yang memiliki keterampilan biasa dapat saja diterima karena sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

 

 

 

 

Martuti, aktivis buruh dari Sragen mengisi sesi ketiga. Ia menampilkan film tentang buruh dan kehidupannya yang mengungkap bagaimana kesejahteraan pekerja diabaikan demi keuntungan maksimal sebuah perusahaan. Buruh tidak sempat untuk memikirkan investasi hidup maupun usaha lain, sehingga perlindungan terhadap buruh mutlak diperlukan. Sesi berikutnya adalah Sri Hartati dari BPPM DIY yang mengungkapkan pengalaman dalam mendampingi perempuan dan masyarakat di DIY. Kinardi dari Dewan Pimpinan Daerah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPD KSPSI), mengisi sesi berikutnya. Beliau banyak membahas tentang birokrasi dan keberpihakan pemerintah untuk buruh.

 

 

 


 

Sesi akhir pelatihan Populasi, Pasar, dan Tenaga Kerja ini diampu oleh DR. Murti Lestari M.Si., peneliti bidang Ekonomi Pembangunan. Topik yang dibahas adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sebuah topik penting tetapi belum terlalu populer di kalangan mahasiswa. Berlakunya MEA ini membuat persaingan di segala bidang menjadi semakin luas, dari tingkat nasional sampai pada tingkat regional. Namun demikian, di satu sisi kita mendapatkan kesempatan yang lebih luas karena MEA membuat penduduk ASEAN lebih mudah berpindah tempat di lingkungan Asia Tenggara. Dengan demikian kita bisa bekerja di berbagai negara di Asia Tenggara. Namun demikian di sisi lain, jumlah pekerja non-Indonesia di wilayah Indonesia ini menjadi semakin banyak pula. Ketidaksiapan kita akan merugikan diri kita sendiri. Untuk itu kita harus siap untuk bersaing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada sesi penutup, Follow-Up yang ingin dilakukan peserta adalah menyebarluaskan topik ini kepada mahasiswa yang lain dan kegiatan persiapan menghadapi persaingan dengan peningkatan kualitas diri dan wirausaha. Semoga menjadi berkat bagi kita semua. (YDA).

 

 

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 11 November 2014
oleh adminstube
 

 

Jurnalisme Investigasi

 

 

 

 

Membela yang benar adalah sebuah tugas mulia. Menyuarakan kebenaran adalah sendi untuk membangun peradaban luhur. Namun, apa jadinya bila kebenaran itu dibungkam dan yang sampai kepada kita adalah kebenaran semu? Maka yang terjadi adalah kita semua tertipu dan menganggap tipuan itu sebagai kebenaran sejarah. Lalu, apa yang terjadi bila suara kebenaran itu menutupi orang- orang yang berbuat salah?

 

 

 

 
Empat mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta hadir mengikuti Pelatihan Jurnalisme Investigasi yang diselenggarakan SMI (Social Movement Institute) pada tanggal 8 dan 9 November 2014. Pelatihan ini bertujuan melatih kaum muda untuk lebih mengenal kenyataan di sekelilingnya. Setiap pengumpulan data dan pelaporan harus dilakukan cermat agar menghasilkan berita yang penting dan menarik publik. Empat orang wartawan dari media Tempo, Tribun Jogja, Jakarta Post, serta Allan Nairn, seorang jurnalis investigasi dari Amerika yang pernah dipenjarakan militer Indonesia saat kerusuhan Timor-Timur, pasca jajak pendapat.

 

 

Bambang dari Jakarta Pos mengungkapkan bahwa produk jurnalisme investigasi sangat sulit dihasilkan karena mempunyai kerumitan tertentu. Biasanya yang melakukan jurnalistik investigasi ini adalah wartawan senior yang cukup berpengalaman dan memiliki jaringan luas. Jurnalisme investigasi rumit karena harus melakukan riset awal untuk mendapatkan penajaman dan gambaran utuh. Investigasi merupakan hasil kerja tim. Observasi harus dilakukan dengan terjun ke lapangan yang beresiko karena biasanya lapangan selalu mengandung konflik.

 

 

 

Wartawati dari Koran Tempo juga turut diundang. Ia sedang mendalami kasus pembunuhan wartawan Udin dan membagikan sharing-nya tentang wawancara dan penggalian riset. Teknik wawancara harus membuat narasumber nyaman dan akrab. Selanjutnya, keamanan narasumber menjadi tanggung jawab kita.

 

 

 

Ikrom dari Tribun Jogja menyatakan bahwa jurnalisme investigasi tergolong sulit. Di dalamnya terkandung usaha untuk verifikasi data dan konfirmasi. Dua belah pihak yang bertentangan atau berbeda harus ditunjukkan pernyataannya untuk menunjukkan bahwa karya jurnalistik kita berimbang dalam menguak fakta.

 

 

 

Seri pamungkas dari rangkaian acara adalah pemaparan dari Allan Nairn. Dia bercerita mengenai beberapa investigasi yang dia lakukan pada peristiwa pembantaian yang terjadi di Peru dan Guatemalla. Dia juga banyak bercerita tentang sejarah bangsa ini yang bertabur tangis dan darah.

 

 

Untuk mengasah kemampuan peserta pelatihan, mereka diminta  melakukan observasi layanan BPJS di dua rumah sakit yakni RSUD Wirosaban dan RS. Hidayatullah. Dari pelatihan ini beberapa teman mengakui peningkatan kemampuan untuk bertanya dan menggali data.

 

 

Akhirnya, setiap kebenaran yang disuarakan oleh karya–karya investigasi, kiranya dapat menyadarkan setiap orang bahwa kejahatan ada di sekeliling mereka dan mereka harus bertindak menyuarakan kebenaran berdasarkan fakta dan data seta menentang kejahatan itu. Selamat bergerak! (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
VIDEO UNTUK SUARA KEMANUSIAAN

 

Kegiatan studi sosial SMPK BPK Penabur Jakarta

 

saat belajar tentang kekuatan video

 

di Lembaga Kampung Halaman, Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

Banyak sekali cerita dan kisah dalam setiap jejak kehidupan. Ada berbagai kisah, sedih, pergolakan, ketidakadilan, bahagia, atau kisah kegeraman atas pribadi seseorang maupun kelompok. Saat ingin menjerit dan melawan ketika melihat kisah itu, kita sadar, apalah arti sebuah jeritan maupun perlawanan jika hanya sesaat lalu lenyap? Maka dibutuhkan sebuah metode jitu untuk menggaungkan kisah yang terjadi dalam kehidupan agar semua orang dapat mendengar.

 

 

 

Video Sebagai Pilihan Alternatif

 

Dalam upaya menyuarakan sebuah harapan yang dinilai penting, misalnya tentang “hubungan antara mahasiswa perantau dengan masyarakat setempat”. Maka media elektronik menjadi pilihan alternatif seperti dengan membuat video. Mengapa video? Karena harapan dan pesan dari sebuah kejadian dapat diabadikan dan disuarakan kepada semua orang, terlebih perkembangan teknologi sudah membuat masyarakaat Indonesia begitu lekat dengan dunia virtual, lebih-lebih video bisa mudah dan cepat dibuat kemudian diunggah di berbagai jejaring sosial seperti youtube misalnya.

 

 

 

Tahapan membuat Video

 

 

Ima, salah seorang fasilitator dari Kampung Halaman menjelaskan bahwa untuk membuat sebuah video diperlukan skenario naskah yang jelas dan rapi, supaya hasilnya dapat dimengerti oleh semua orang dari berbagai kalangan. Ada empat langkah yang harus diperhatikan yang meliputi; pengalaman dekat, tujuan, penting dan genting serta merdeka.

 

 

 

Pengalaman dekat ialah konteks yang dijumpai sehari hari oleh setiap orang karena video yang baik diangkat berdasarkan konteks sehari-hari yang memiliki nilai bersama ataupun yang menimbulkan sebuah keprihatinan, sehingga patut untuk disuarakan. Ketika video dibuat perlu diingat apa tujuan utamanya. Topik dan pesan dalam video harus jelas sehingga dapat dimengerti dan menggerakkan/menyentuh pemirsa. Penting dan genting dalam sebuah video harus berdasarkan sebuah kebutuhan yang benar-benar penting untuk dipublikasikan, objektif dan tidak boleh subjektif. Video dibuat untuk kepentingan bersama, harapan bersama dan untuk kebaikan bersama. Unsur merdeka dipahami bahwa video dibuat harus dengan penuh kemerdekaan, baik dalam ekspresi, naskah skenario, pembicaraan, pengumpulan data maupun dalam wawancara.

 

 

 

Kekuatan di balik video

 

Video berperan menciptakan ruang dialog. Dari proses pemetaan tujuan, pemetaan sosial, skenario pembuatan video hingga wawancara keberbagai pihak pihak yang terkait itu menjadi celah dialog. Dialog bisa membuka hal-hal yang dianggap bukan sebuah masalah, bisa dipahami bahwa sebenarnya ada permasalahan yang masih terpendam. Harapan yang dikemas dalam video ini dapat membuka kevakuman yang terjadi dalam masyarakat.

 

 

 

 

 

Mari siapkan videomu untuk menyuarakan keadilan, kebersamaan dan kesetaraan. (Piaf)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
MENJADI SAHABAT

 

BAGI SESAMA

 

 

 

 

 

 

 

 

Seorang laki-laki gila berkeliaran menyambut kedatangan rombongan siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur Jakarta di Wisma Pojok, Jl. Kubus, Condong Catur Yogyakarta. Sebuah pemandangan yang tidak sedap tentunya. Celana kumal pendek berwarna coklat, kaos kotor sobek dengan kepala bermahkotakan tas plastik kresek, menjadi balutan tubuh orang gila itu.

 

 

 

 

 

Bertemu dengannya, sungguh menjadi sesuatu yang dihindari semua orang. Lebih-lebih tidak diketahui pasti apakah orang gila tersebut aman, atau tiba-tiba bisa mengamuk dan membahayakan orang yang ada di sekitarnya. Semua mata melihat padanya saat lewat gerbang masuk wisma. Ada yang mulai menggoda orang gila itu, ada yang iseng melempar batu, tetapi ada juga yang memberinya roti dan segelas aqua.

 

 

 

Itulah sajian awal kegiatan studi sosial yang dilakukan siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur tahun ini yang mengambil tema “Menjadi Sahabat Bagi Sesama”. Bersama mahasiswa-mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta, mereka akan melihat, belajar dan berinteraksi dengan masalah-masalah sosial di Yogyakarta. Kunjungan ke Yayasan Kampung Halaman, Sayap Ibu Anak, Sayap Ibu Difabel, Pamardi Putra, Rumah Dome, Topeng Bobung, Batik Jumput, Wayang Sodo, dan Blangkon menjadi agenda kegiatan mereka selama di Yogyakarta. Masing-masing tempat kunjungan mempunyai kisah dan pergumulannya yang diharapkan mengajarkan sesuatu untuk mengasah kepekaan hati serta mempertajam jiwa anak-anak yang masih muda ini menjadi sahabat dan berdamai dengan sesamanya.

 

 

 

 

 

 

Hiruk pikuk Jakarta dan permasalahan metropolitan sejenak ditinggalkan untuk merasakan ketenangan tinggal bersama keluarga-keluarga di Desa Bejiharjo, Gunung Kidul, Yogyakarta. Melihat hidup keseharian masyarakat di sana dan ikut beraktivitas keluarga yang ditinggali menjadi satu aktivitas menarik buat mereka. Gua pindul yang menjadi satu ikon wisata di desa ini, tak luput dari kunjungan mereka. Betapa anak-anak ini diajak untuk langsung melihat dan bagaimana mereka diajarkan bersyukur atas hidup yang mereka miliki dan kuasa Allah atas ciptaannya. Keramahtamahan Pendeta GKJ Bejiharjo beserta majelis dan seluruh jemaat GKJ Bejiharjo yang bersedia membuka pintu bagi siswa-siswi untuk menjadi bagian kehidupan, meski hanya semalam, sungguh menjadi bukti kesatuan tubuh Kristus dalam jemaatnya yang tersebar di mana-mana.

 

 

 

Kumpulan pengalaman selama studi sosial di Yogyakarta, dibagikan dalam sebuah presentasi sederhana yang menarik oleh anak-anak tersebut. “Meskipun capek, tapi nggak terasa, karena kami senang mengikuti kegiatan ini”, tutur salah satu siswa. Pendeta Sundoyo yang membuka dan menutup ibadah menuturkan, “Apa saja yang ditemui dalam studi sosial ini merupakan cerminan kehidupan bangsa Indonesia yang masih banyak pergumulan dan perjuangan, sehingga jadilah bagian yang berfungsi memperbaiki keadaan tersebut, dengan menjadi sahabat bagi sesama dimanapun berada.”

 

 

Dalam acara penutupan itu, seorang siswa meminta maaf telah melempar batu pada orang gila yang menyambut kedatangan mereka, yang ternyata aktivis Stube HEMAT Yogyakarta yang mencoba memancing kepekaan atas lingkungan dan situasi yang ada. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
BANGGA KARYA SENDIRI

 

 

 

 

 

 

Batik merupakan salah satu kekayaan seni warisan budaya masa lampau yang telah menjadikan Negara Indonesia ini memiliki ciri yang khas di mancanegara. Tahun 2009 Indonesia mendaftarakan batik sebagai salah satu warisan budaya di UNESCO. Perkembangan batik yang sudah menempuh perjalanan berabad-abad silam telah melahirkan berbagai jenis dan corak batik yang khas di setiap daerahnya.

 

 

 

Yogyakarta juga ditetapkan sebagai kawasan berbudaya HKI (Hak Kekayaan Intelektual) dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran serta pemahaman masyarakat mengenai peranan dan kontribusi kekayaan intelektual dalam perekonomian, kebudayaan dan kemajuan masyarakat di wilayah Yogyakarta.

 

 

 

Dengan ditetapkan menjadi kawasan berbudaya HKI maka masyarakat Yogyakarta, khususnya di desa Bejiharjo, Kabupaten Gunungkidul juga ingin melestarikan salah satu budaya Indonesia yaitu batik. Di desa Bejiharjo khususnya warga jemaat GKJ Bejiharjo menyambut baik hal ini dan sering mengadakan pelatihan bersama membuat batik. Kegiatan Studi Sosial yang dilakukan oleh siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur Jakarta, didampingi para mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta juga memilih batik sebagai salah satu tempat belajar mereka. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 29 Oktober 2014 dengan tujuan agar siswa-siswi sebagai kaum muda bangga akan karya batik buatan sendiri.

 

  

 

 

 

Ketika siswa-siswi bertemu dengan warga jemaat di GKJ Bejiharjo, mereka menemukan kesenangan sendiri saat mengetahui cara membuat batik, baik itu batik tulis maupun batik jumputan, bahkan bisa membuatnya sendiri. Sebelum dimulai mereka mendapatkan pengarahan dari ibu Pdt. Niluh Wahyuni, S.Th tentang batik dan jenis-jenis batik. Selanjutnya mereka dibagi menjadi dua kelompok yakni  yang membuat batik jumputan dan yang membuat batik tulis.

 

 

 

 

Sudah selayaknya kita harus bangga dan ikut mempertahankan warisan budaya ini agar tidak punah dengan bergantinya zaman. (Sofie)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
Kerajinan Wayang Sada:
Menembus Batas Waktu!
  



Sewaktu kecil, kira-kira pada usia tengahan Sekolah Dasar, mungkin anda tergolong anak-anak pada “umumnya”. Hal umum yang dimaksud adalah anda hidup seperti murid-murid dan tidak memiliki banyak perbedaan: sama-sama hidup di lingkungan desa yang masih asri, tidak ada makanan 3b (berwarna buatan, berpengawet, dan berpenyedap), anda hanya menonton mainan modern di televisi nasional yang satu-satunya disiarkan oleh pemerintah waktu itu, anda hanya bisa menonton iklan makanan yang seolah begitu jauh dan tidak mungkin anda makan di hari itu. Itu semua dialami oleh sebagian anak yang hidup di lingkungan desa.
 
Beranjak dewasa kreatifitas anda bergerak. Anda tidak lagi bergumul dengan angan-angan. Dengan cara-cara sederhana, anda kemudian berusaha mewujudkan apa yang anda pikirkan. Hal-hal kreatif yang anda perbuat diantaranya: membuat layang-layang sendiri, merancang mobil mini dengan kulit jeruk dan sirapan bambu yang dibentuk layaknya truk, mandi di sungai dan bermain-main layaknya penjaga pantai, atau berlagak layaknya koki dengan menggerus batu bata untuk dijadikan seolah-olah seperti makanan.
 
 
 
Sekalipun semua kreativitas itu dilakukan, perasaan “kalah” itu masih tetap ada. Anda tetap merasa tertinggal modernisasi dan tidak bangga akan kreatifitas yang dimiliki. Anda tidak mampu membeli mobil-mobilan dan hanya mampu merancang bambu-bambu menjadi truck. Anda juga tidak mampu membeli boneka dan hanya bisa membangun miniatur dari pelepah pisang! Anda prihatin dan tidak merasa menang. Sepertinya memang tidak semua orang merasa kalah seperti anda. Masih ada satu sosok yang mampu mengimbangi perkembangan jaman, yang mampu menahan gilasan jaman bahkan melawannya! Namanya Pak Marsono, beliau tinggal di Desa Bejiharjo, Gunung Kidul. Dulunya ia adalah penggembala kerbau. Ide untuk membuat wayang dari bahan alam didapatnya dari area penggembalaan kerbau.
 
Biasanya wayang dibuat dari kulit dan diukir. Wayang jenis ini kini menjadi populer dibanding dengan dulu. Harganyapun tidak lagi murah. Kecintaan Pak Marsono terhadap wayang tentulah menginspirasi dirinya untuk membangun berbagai karakter dan jenis wayang. Pada 29 Oktober 2014 yang lalu, sekelompok siswa dari SMPK Tirta Marta BPK Penabur Jakarta mengunjungi Pak Marsono. Karena sudah diinformasikan sebelumnya oleh pendamping dari Stube HEMAT, Pak Marsono memiliki waktu untuk mempersiapkan pertemuan ini dengan lebih leluasa.
 

 

Apa yang ingin ditunjukkan kepada teman-teman SMP ini? Tentu saja, sebuah kreatifitas untuk mengalahkan keterbatasan, dan setiap tantangan selalu menuntut orang-orang untuk lebih kreatif. Dari kunjungan ini, siswa-siswi belajar bersyukur dengan keadaan sekarang dan siap untuk menghargai kreativitas orang lain. Jadi, pikirkanlah sekarang siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam menghadapi tantangan jaman ini? (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
Sayap Ibu Yang Meneduhkan

 

Studi-sosial SMPK Tirta Marta-BPK Penabur

 

 
 

 

Seorang anak berlari menuju ruang depan. Ia diikuti oleh temannya. Kejadian itu berlangsung pada jam sepuluh pagi, tepat jam sekolah dinyatakan selesai. Kelas ini berbeda dengan kelas yang lain. Sekolah ini khas. Penataan ruang dan pembangunan lantai disesuaikan agar roda mampu menggelinding. Bila anda berdiri di depan sekolah saat ini, anda akan melihat seorang anak berlari karena sudah dijemput orang tuanya. Si anak memegang erat bapaknya yang menyetir motor, melaju meninggalkan sekolah yang usai di hari itu. Sementara di sudut sekolah, tepatnya di ujung lorong, seorang anak mendorong kursi roda temannya. Ia mampu mendorong tiga kursi roda berurutan. Saat ia selesai mengantarkan satu teman ke depan maka ia kembali ke belakang untuk mendorong teman yang lain menuju depan. Terlihat ia sudah biasa melakukannya.

 

Dari depan sekolah, muncul sebuah bus besar. Tidak biasanya kendaraan itu parkir di halaman depan. Setelah berhenti beberapa saat, bus itupun terbuka. Dari dalam muncul belasan siswa dengan seragam sama menuju gedung sekolah tadi. Di tangan mereka ada sepotong roti dan sebotol aqua. Sepertinya mereka bukan warga sekolah sini. Mereka seperti berkunjung dan ingin memperhatikan lebih dekat teman-teman yang ada sekolah Sayap Ibu Difabel (cacat ganda). Rombongan itu masuk, menuju ruang kantor. Masih belum diketahui apa tujuan mereka dan siapa yang  akan ditemui.

 

 

 

Rombongan disambut oleh koordinator Sayap Ibu Difabel yang bernama Setyo. “Kami dan semua penghuni panti Sayap Ibu Difabel merasa senang menerima kedatangan ini. Tidak hanya itu, kedatangan teman-teman dari Jakarta bukan sekedar berkunjung tetapi juga ingin melihat lebih dekat, merasa-rasakan kehidupan bersama dengan teman-teman difabel di sini”, Setyo mengawali pembicaraan. Belasan remaja dari SMPK Tirta Martha BPK Penabur Jakarta ini aktif menyimak dan sesekali menulis ungkapan yang disampaikan koordinator.

 

“Anak–anak penghuni disini, memiliki cacat lebih dari satu jenis. Mereka dididik secara intensif dan diberi latihan untuk berkarya seperti layaknya siswa biasa. Apa yang bisa dilihat sekarang adalah hasil kerja keras pembina dan siswa selama beberapa waktu lamanya. Dulu, mereka belum mengerti keterampilan dan pengetahuan”, tutur Setyo. “Sekarang dapat dilihat beberapa teman yang memiliki keterbatasan mental dan fisik telah mampu untuk berkarya. Mereka mampu untuk mengerjakan bengkel sederhana. Mereka mampu mennyanyi dan memainkan beberapa alat musik di studio. Dalam microfon yang direlay ke seluruh ruangan, mereka menyuarakan berita dan bernyanyi layaknya penyiar radio. Seorang pemusik yang bermain drum telah mampu menyabet gelar drummer terbaik DIY”, tambahnya.


 

Teman-teman dari SMPK Tirta Marta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta ini termenung melihat mereka. Entah apa yang mereka bayangkan. Namun demikian, pelukan hangat dan foto bersama menandakan bahwa kebersamaan ini layak untuk diabadikan.

 

 

 

“Pendampingan kepada teman-teman SMPK ini memiliki tujuan agar pertama, mereka tahu bahwa di tempat lain terdapat anak–anak yang mampu merasa gembira dalam berbagai situasi. Apapun keadaan yang mereka miliki bukanlah halangan untuk terus menciptakan harapan dan kegembiraan bersama teman lainnya. Mereka dan kita patut bersyukur karena kegembiraan itu mampu untuk mengubahkan hidup menjadi lebih bermakna”, tutur Yohanes Dian Alpasa, salah seorang pendamping dari Stube HEMAT Yogyakarta, yang menemani perjalanan ke panti.

 

 

Siapa yang tidak senang diperhatikan? Siapa pula yang enggan memperhatikan? Dalam pergaulan ini, saling memperhatikan adalah usaha untuk menjaga agar kegembiraan itu tidak hilang dari diri kita. Tetaplah bersemangat karena mereka, yang tinggal di sekolah ini pun mampu untuk bergembira dalam berbagai kondisi. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
Tinggal Dalam Setengah Bulatan Bola
 
 
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika membaca kalimat di atas? Pasti sedikit membingungkan bukan? Hidup tak pernah bisa diterka, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Seperti juga halnya masyarakat yang tinggga di Desa Nglepen ini. Desa ini dahulu adalah sebuah desa biasa tetapi semenjak gempa, maka desa ini berhias menjadi sebuah desa wisata.
 
Gempa bumi Jogja Tahun 2006 tidak hanya menyisakan kisah duka karena kehilangan anggota keluarga, rumah dan segala harta benda mereka tetapi juga sebuah inovasi arsitektur rumah untuk tinggal dan bangkit dari semua kesedihan guna berbenah diri menata hidup. Dari beberapa tawaran NGO terkait bentuk rumah, warga Nglepen memilih rumah dome sebagai ganti rumah mereka yang hancur. Maka dibangunlah 80 unit rumah dome (71 rumah hunian, 7 sebagai fasilitas umum) di atas tanah seluas 2,3 hektar bekas kebun tebu sebagai ganti desa Nglepen lama.
 
Dengan bergotong-royong, sebuah rumah dome dapat diselesaikan dalam satu hari. Setiap rumah dome memiliki diameter sekitar tujuh meter. Sebuah rumah dome terdiri dari 2 kamar tidur yang ditata di lantai dua, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Selanjutnya kamar mandi dan WC dibangun terpisah dan merupakan fasilitas umum yang disediakan untuk dipakai bersama dalam setiap blok yang terdiri dari enam kepala keluarga. Kebersamaan yang terjalin diharapkan bisa menjaga hubungan sosial dan kemasyarakatan di antara mereka.
 
Pajak tanah sebesar sebelas juta rupiah, selama tiga tahun pertama masih ditanggung NGO, untuk selanjutnya per-rumah dibebani pajak sebesar Rp. 137.000,-/tahun. Pembangun kompleks perumahan dome ini dimulai pada bulan September 2006 dan diresmikan pada bulan Mei 2007. Dengan model arsitektur dome, bangunan ini diklaim sebagai rumah anti gempa karena hanya memiliki kedalaman 20 cm sehingga tidak mudah roboh ketika diterjang gelombang gempa.
 
Rumah dome ini merupakan hal baru bagi adik-adik siswa SMPK Tirta Marta-BPK Penabur, Jakarta yang didampingi Loce dari Stube HEMAT Yogyakarta saat melakukan kunjungan sekaligus belajar di tempat tersebut. Sulasmono selaku fasilitator dan nara sumber dari perumahan dome Nglepen bersemangat menjelaskan kisah masyarakat setempat untuk bangkit meneruskan hidup, meski harus menyesuaikan diri tinggal di rumah dome. Tak lupa Sulasmono mempromosikan Nglepen sebagai desa wisata, khususnya arsitektur rumah.
 

 

“Memang untuk bisa ‘survive’ orang harus terbuka, fleksibel dan belajar beradaptasi dengan hal-hal baru, sebagaimana masyarakat Desa Nglepen yang tinggal di rumah setengah bola”, pesan pendamping menutup perjumpaan siang itu. (Loce)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
Mereka Perlu Kita

 

Panti Asuhan Sayap Ibu (bagian Anak)

 

 

   



Saat kita mendengar kata Panti Asuhan, maka dalam pikiran kita terlintas sebuah tempat penampungan anak-anak  yang dibuang, ditinggalkan, dan tidak diinginkan oleh orang tua mereka. Ada banyak anak bisa ditemukan di panti asuhan dengan kisah mereka yang mengharukan. Tak ada kata yang bisa diucapkan untuk menggambarkan penderitaan anak-anak tersebut.

 

 

 

 

 

 

Satu moment yang sangat bermakna saat kami melihat langsung dan bersentuhan dengan kulit halus para bayi dan balita di panti asuhan ini, yang kisahnya dulu hanya kami dengar dari telinga ke telinga. Dua puluh sembilan Oktober 2014, didampingi tim dari Stube HEMAT Yogyakarta, adik-adik dari SMPK Tirta Marta Pondok Indah Jakarta berkunjung ke panti asuhan Sayap Ibu Yogyakarta dalam acara Studi Sosial, dengan harapan mereka bisa lebih mengerti arti kehidupan dan mau berbagi dengan orang yang membutuhkan sebagaimana tercermin dalam tema “ Menjadi Sahabat Bagi Sesama”.

 

 

 

Kunjungan ini diawali dengan pembicaraan singkat antara pendamping, adik-adik SMPK dan pengurus panti asuhan. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan kepada pengurus, hanya sekedar bertanya sejarah berdirinya panti asuhan. Bapak Jumadi juga menceritakan kisah bayi-bayi tersebut, ada yang ditemukan di tengah jalan, di depan panti asuhan bahkan ada yang diserahkan langsung oleh orang tua mereka.

 

 

 

Setelah pertemuan pengantar, kami masuk ke ruang anak. Di ruangan ini kami melihat beberapa tubuh mungil tertidur lelap di tempat tidur mereka. Mendengar suara dan gerakan kami, mata kecil itu terbuka memandangi kami, mengisyaratkan kepada kami untuk mengangkatnya dari tempat tidur itu dan memeluknya dengan penuh kehangatan

 

 

 

Adik-adik masih merasa takut untuk menggendong bayi-bayi itu dengan bantuan pendamping akhirnya beberpa anak bisa menggendong bayi-bayi itu. Sebagian adik-adik asyik bermain dengan balita dan bayi-bayi yang lain. Pendamping dan beberapa anak bertanya kepada pengasuh tentang bayi-bayi tersebut.

 

 

 

Berapa jumlah bayi dan balitanya? Siapa nama bayi-bayi itu? Bagaimana dengan nasib bayi yang tidak diadopsi dan banyak pertanyaan lain yang diajukan adik-adik. Perbincangan yang kami lakukan dengan balita-balita dan bayi-bayi itu diakhiri sekitar pukul 09.50 WIB. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka, karena meski sesingkat itu rasa sayang telah ada buat mereka. Untuk mengenang moment ini kami berfoto bersama bayi-bayi mungil ini serta pengasuh, adik-adik SMPK dan pengurus.

 

 

Ada hal baru yang kami pelajari yakni berbagi bukan hanya dengan materi saja, tapi dengan waktu yang kita punya, kita dapat berbagi dengan orang yang lain. Dalam kehidupan ini tidak ada seseuatu yang sempurna seperti yang kita inginkan, seperti mempunyai orang tua yang lengkap. Tapi  apa pun keadaan keluarga yang kita miliki, baik itu dalam keadaan perpecahaan ataupun ketidaklengkapan anggota keluarga tetaplah jalani dengan rasa syukur. Karena di setiap duka yang kita alami akan ada kebahagian yang menunggu. Tetap semangat. (ITMS)


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 16 September 2014
oleh adminstube
PELATIHAN STUBE-HEMAT YOGYAKARTA

 

Pembangunan, Ruang Publik

 

dan Perubahan Sosial

 

 

 

 

 

 

Pembangunan merupakan suatu keadaan dimana ada perbaikan. Pembangunan yang terjadi saat ini apakah benar sudah membawa perbaikan? Daerah-daerah pemekaran baru mulai dari desa, kabupaten dan provinsi marak terjadi, yang berarti ada pembangunan berskala kecil atau pun besar, tetapi pernahkah kita berpikir apa dampak yang mengikuti dari pembangunan yang dilakukan? Teknologi informasi yang mengalami kemajuan pesat memudahkan semua orang berkomunikasi, mengekspresikan perasaan dan menyampaikan pendapat namun undang-undang yang menyertai sebagai aturan main banyak tidak dipahami oleh penggunanya.

Stube-HEMAT Yogyakarta melalui pelatihan Pembangunan, Ruang Publik dan Perubahan Sosial yang memberi pemahaman serta langkah yang dapat dilakukan orang muda untuk menyikapi pembangunan yang terjadi, apa yang sudah terjadi di ruang publik dan implikasinya pada kehidupan sosial.


 

 

Pelatihan yang dilakukan Sabtu – Mingggu, 13 – 14 September 2014 menghadirkan Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd (Direktur Stube-HEMAT), Dr. Budiawan dari Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM dan William Aipipidely S.T., M.A selaku koordinator Nasional UNDEF dan Yayasan Satu Nama. Sesi awal berupa Mind Map yang membantu peserta mengetahui akar dari suatu permasalahan dan peserta diajak bermain peran dalam permasalahan yang ada. Pemahaman ruang publik dan ruang privat dalam masyarakat menjadi sorotan dalam sesi kedua dimana masyarakat yang terbiasa dengan struktur pemerintahan kerajaan tidak memiliki pemahaman ruang privat karena apa yang dimilikinya dipahami sebagai milik raja atau yang berkuasa.




Sesi terakhir menyampaikan topik cerdas dan bijak di ruang publik khususnya media sosial dengan mengajak peserta memberi kualitas pada apa yang ditulisnya supaya berdampak lebih besar dan konstruktif dalam mengekspresikan perasaan, pikiran dan permasalahan di sekitar mereka sehingga yang membaca mendapat inspirasi, motivasi dan pengetahuan baru.

 

 

 

 

Di akhir pelatihan, para peserta membuat rencana aksi yang dimulai dari diri masing-masing dengan bertekad memberi kualitas pada apa yang ditulisnya di media sosial. “Kami akan mengajak teman-teman mahasiswa, khususnya yang berasal dari Sumatera untuk belajar budaya di Yogyakarta dan berusaha memperbaiki kesan bahwa anak-anak dari Sumatera itu keras dan tidak tahu sopan-santun, sebagaimana peristiwa yang terjadi di media sosial yang tidak mengenakkan warga Yogya baru-baru ini” tutur Indah, salah seorang peserta dari Medan, Sumatera Utara.


  

  



Tidak mustahil akan membuahkan hasil jika ini menjadi sebuah agenda gerakan bersama, bukan? Ingatlah bahwa orang bijak selalu menyelesaikan hidupnya dengan persahabatan. (SAP) ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 31 Agustus 2014
oleh adminstube
Pemuda dan Penguatan

 

Identitas Kebangsaan

 

Melalui Kebudayaan Untuk

 

Membangun Semangat Kewargaan

 

 

 

 

 

 

Seminar kebangsaan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 28 Agustus 2014 lalu dibuat karena rasa keprihatinan akan pudarnya nasionalisme dan kebangsaan pada kalangan anak muda saat ini. Sebagai langkah strategis, isu kebudayaan diangkat menjadi kunci dalam menanamkan semangat kebangsaan dan nasionalisme anak muda.

 

 

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta turut ambil bagian dengan mengirimkan beberapa aktivis untuk berpartisipasi menyumbangkan pemikiran. Mereka adalah; Sapti Dadi, Elisabeth Uru Ndaya mahasiswa UST, Alva Kurniawan dan Vicky Tri Samekto mahasiswa Teologi Stak Marturia. Adapun narasumber yang mengkritisi perubahan sosial yang sedang terjadi adalah Subkhi Ridho, M.Hum, (Dosen UMY), Abdur Rozaki M.Si, (Dosen UIN Kalijaga) dan Dr. Lukas Ispandriarno  (Dosen Komunikasi UAJY).

 

Dr. Lukas Ispandriarno dalam materinya mengungkapkan bahwa melunturnya semangat kebangsaan dan nasionalisme di Indonesia karena kemajuan dalam segala bidang tidak disertai dengan antisipasinya pasca runtuhnya ORBA. Setiap perubahan dan kemajuan memiliki sisi positif dan negatif, tinggal bagaimana mengoptimalkan apa yang positif dan menekan dampak negatif. Kemajuan dalam bidang teknologi informasi (media massa) memberi andil besar terhadap perubahan paradigma anak muda dalam bersosialisasi karena akses informasi begitu cepat diperoleh, contohnya akses internet yang sudah begitu familiar ditambah menjamurnya berbagai merk gadget yang notabene konsumen terbesarnya adalah anak muda. Hal ini sangat berbeda ketika ORBA berkuasa karena informasi massa dibatasi oleh penguasa pada masa itu. Pesatnya perkembangan informasi massa seharusnya bisa menjadi media kampanye untuk mengangkat isu kebangsaan dan semangat nasionalisme.

 

 

 

Dalam sesi lain, Subkhi Ridho M.Hum menyambung materi dengan mengangkat peranan pemuda Islam dalam gerakan kebangsaan yang menekankan betapa pentingnya menghargai budaya multikultur yang saat ini sudah terkikis. Kehidupan multikultur sudah semenjak zaman nenek moyang  terjalin, dan sebenarnya itulah yang mempersatukan kehidupan bangsa Indonesia hingga saat ini. Pada kesempatan itu juga Abdur Rozaki, M.Si melengkapi dengan menggarisbawahi betapa pentingnya organisasi mahasiswa saat ini, tentunya yang bersifat progresif dan kritis terhadap fenomena yang terjadi dalam gejolak kebangsaan.

 

 

 

Mahasiswa seharusnya mampu membuahkan tulisan dan pemikiran kritis dalam mengangkat isu nasionalisme dan kebangsaan, sebagai media kampanye dan edukasi kepada anak muda dan masyarakat luas. Di sinilah para pemuda kembali dituntut menjadi agen perubahan dalam mengoptimalkan sisi positif dari perubahan zaman dan teknologi informasi dalam berkampanye mengangkat isu nasionalisme, kebangsaan dan edukasi. Jika pemuda abai terhadap hal ini, maka masa depan bangsa Indonesia akan menjadi suram karena terancam perpecahan. Maka dari itu, siapa lagi yang harus bertindak kalau bukan para pemuda sebagai generasi penerus bangsa? Mari mulai dari kita! (PIAF)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 26 Agustus 2014
oleh adminstube
Pelatihan Social Entrepreneurship
Saatnya yang Muda Berkarya
Wisma Martha, 22 – 24 Agustus 2014
  
 

  

“Setelah mengikuti pelatihan Social Entrepreneurship, banyak hal baru yang saya dapat. Kegiatan ini membuka wawasan saya khususnya tentang daerah asal saya, Sumba. Semoga saya dapat terus dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya” ungkap Abisag Ndapatara, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yang berasal dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Aby, panggilan akrabnya, menjadi peserta pelatihan Social Entrepreneurship Stube-HEMAT Yogyakarta, Jumat – Minggu, 22 – 24 Agustus 2014 di Wisma Martha Yogyakarta.
 

 

Pelatihan yang diikuti 33 peserta dari berbagai kampus dibuka dengan perkenalan peserta yang memperkenalkan diri menggunakan bahasa daerah masing-masing dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Trustha Rembaka, S.Th., menjelaskan bahwa pelatihan ini membantu mahasiswa mengasah kemampuan dan menumbuhkan kepedulian terhadap permasalahan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Peserta diharapkan mampu melihat, menemukan dan mengembangkan potensi daerah asal mereka dan menjawab permasalahan yang terjadi di sana. Selanjutnya, peserta diharapkan kreatif dan berani memunculkan inovasi dalam pembangunan masyarakat.
 

 

 
Stenly R. Bontinge, S.T, menyampaikan tentang Stube-HEMAT, sejarah lembaga dan kegiatannya. Sesi ini dilengkapi dengan sharing pengalaman Hery Alberth Gardjalay, mahasiswa fakultas Hukum, Universitas Janabadra, asal Dobo, Maluku yang diutus ke Sumba dalam program Exploring Sumba. Sedangkan Pascah Hariyanto, mahasiswa Teologia STAK Marturia Yogyakarta di saat libur kuliah ia kembali ke desa asalnya, Pisang Jaya, OKU Timur, Sumatera Selatan untuk mengamati hama tikus dan ancaman gagal panen serta peran gereja dalam mendampingi petani untuk menghadapi masalah tersebut.Tidak ketinggalan Septi Dadi yang akrab dipanggil Putry, di masa libur kuliah, ia kembali ke daerah asalnya, Sumba, untuk meneliti tingkat putus sekolah siswa SMA kelas 11 di Waingapu tahun 2010 – 2014. Penelitian yang berkaitan dengan angka-angka statistik ini sejalan dengan kuliahnya di Pendidikan Matematika UST.
 
Pemahaman Social Entrepreneurship dan ruang lingkupnya dipaparkan oleh I Nyoman Matheus dari LPM Pelita Kasih, yang memiliki pengalaman mendampingi dan memberdayakan masyarakat. Kemudian Y. Endro Gunawan memandu peserta melakukan pemetaan daerah asal peserta, baik itu masalah maupun juga potensinya.
 
 
Sesi Eksposur berupa kunjungan belajar di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran (GAP). Peserta dibagi dua kelompok lokasi kunjungan yaitu, gunung api purba dan embung Nglanggeran. Masing-masing kelompok mengamati dan mendalami awal mula pengembangan kawasan GAP Nglanggeran. Sugeng Handoko, S.T., sebagai inspirator pengembangan kawasan GAP menceritakan awal perintisan kawasan wisata GAP dan pentingnya partisipasi masyarakat. Bahkan, Sugeng Handoko mendorong peserta untuk berani mewujudkan ide-ide kreatif mereka ke dalam proposal rintisan kegiatan. Pdt. Bambang Sumbodo, M.Min, menantang peserta untuk kreatif dan inovatif ketika menghadapi masalah kaum muda, juga tidak gengsi ketika melakukan suatu karya.
 
 


Di akhir acara, peserta merumuskan desain kegiatan kreatif untuk menjawab permasalahan sosial yang terjadi di sekitar mereka, antara lain: Kelompok Angles, yang melihat permasalahan keuangan mahasiswa dengan merintis angkringan lesehan. Kemudian kelompok Ramah Lingkungan, yang melihat lahan yang menganggur dan rusaknya tanah karena pupuk kimia, karena itu peserta mencoba membuat pupuk ramah lingkungan dan menanam sayuran di sekitar rumah kos. Sedangkan kelompok Sajojo melihat kecenderungan anjloknya harga salak ketika panen raya, tertantang mengadakan kegiatan alternatif pemanfaatan kebun salak. Kemudian kelompok Umba Paraing yang tergerak mendampingi komunitas ibu petani sayuran di Waingapu di tengah keterbatasan akses informasi mengenai sayuran. Sedangkan peserta dari Alor memiliki ide untuk mengenalkan pantai Mali di pulau Alor. Selamat berproses. Saatnya yang Muda Berkarya. (TRU)
 
 



  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 25 Agustus 2014
oleh adminstube
HAPUSKAN
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
& LINDUNGILAH HAK ANAK
(PWKI Cabang Sleman & Stube-HEMAT)
 
 

 

Menjadi persoalan bagi seseorang saat mengalami bahkan mengungkap kepahitan berupa kekerasan dalam keluarga, karena pada umumnya hal tersebut dianggap aib yang tidak boleh diketahui orang lain. Namun di lain pihak, hal itu menyangkut rasa keadilan dan perlindungan hukum seseorang sehingga mengingat pentingnya kesadaran akan perlindungan hukum atas hak-hak yang dimiliki, PWKI Cabang Sleman mengontak Stube HEMAT yang bekerjasama dengan praktisi hukum lembaga perlindungan hukum lembaga perlindungan perempuan dan anak dari P2TPA “Rekso Dyah Utami”, Setyoko S.H., M.Hi, untuk melakukan sarasehan bersama semua pengurus anak cabang yang bertempat di GKJ Ngento-ento, Jl. Jogja-Ngapak km 13, Sleman, Yogyakarta (24/8/2014).
 
"Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, dan psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan, perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi", merupakan tindakan kekerasan sebagaimana tercantum pada pasal 1 Deklarasi Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan PBB, 1993.
 
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan situasi yang sering terjadi dalam keluarga yang meliputi: 1) suami, isteri, dan anak; 2) orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga.
 
Bentuk-bentuk KDRT menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam  rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :
 
  1. Kekerasan fisik: kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.
  2. Kekerasan psikis: kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.
  3. Kekerasan seksual: kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara yang tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
  4. Penelantaran rumah tangga: penelantaran rumah tangga meliputi dua tindakan yaitu: 1) orang yang mempunyai kewajiban hukum atau karena persetujuan atau perjanjian memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut dalam lingkup rumah tangga namun tidak melaksanakan kewajiban tersebut. 2) setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam dan di luar rumah tangga sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

 

Setyoko juga menyampaikan bahwa anak juga memiliki hak istimewa untuk dilindungi oleh negara. Anak adalah bayi sampai orang berumur 18 tahun. Barang siapa yang menelantarkan anak, maka terancam pidana minimal 3 tahun sehingga hal ini harus menjadi perhatian para orang tua bagaimana memperlakukan putra-putrinya. Pada kesempatan itu beberapa peserta yang semuanya ibu mengajukan pertanyaan seputar topik pembicaraan.
 
 
“Ibu-ibu jangan khawatir, kalau memiliki persoalan yang berkaitan dengan topik yang kita bicarakan pada siang hari ini bisa menghubungi kantor kami di no. Telp. 0274-540529 Rekso Dyah Utami dekat balai kota Timoho. Seluruh konsultasi dan perlindungan tidak dipungut biaya dan dijamin negara”, Setyoko menyampaikan pesan penutup dalam acara tersebut.***
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 22 Agustus 2014
oleh adminstube
MEMBEDAH RADIKALISME

 

DAN EKSKLUSIVITAS

 

 

 

DI KALANGAN ANAK MUDA

 

 

 

 

 


Semua orang pasti terhenyak dan tidak habis pikir saat mengetahui bahwa banyak anak muda terjerat masuk kelompok-kelompok radikal. Beberapa keluarga lapor polisi bahwa mereka telah kehilangan anak-anak mereka selama beberapa hari, bahkan beberapa bulan. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana bisa seorang mahasiswa dari universitas ternama di kota ini dicuci otaknya sehingga tertarik masuk dan terlibat dalam jaringan fundamentalis dan bahkan radikal?

 

 

 

 

 

 

Pemuda GKJ Mergangsan bersama Stube HEMAT menggelar acara diskusi malam pada hari Kamis, 21 Agustus 2014, yang diikuti dengan antusias oleh sekitar dua puluh lima orang pemuda-pemudi. Menempati ruang aula belakang, diskusi malam itu mengundang Eko Prasetyo, direktur Social Movement Institute sebagai nara sumbernya, dipandu oleh Yohanes Dian Alphasa, swalah seorang anggota tim kerja Stube HEMAT.

 

 

 

 

 

 

“Radikalisme muncul tidak semata-mata dilatarbelakangi ideologi, tetapi karena terbatasnya ruang publik masayarakat untuk bisa bertemu. Setiap hari, setiap saat, bertemu dengan orang-orang itu saja. Sama jurusannya, sama asal daerahnya, sama agamanya lagi! Mana ruang publik untuk anak muda berinteraksi dengan yang lain yang berbeda?” kritiknya. Eko Prasetyo dibesarkan dikalangan pesantren yang taat, bahkan bergaul dengan yang bukan muhrimnya dianggap tabu. Titik balik keterbukaannya terjadi setelah tiba di Yogyakarta untuk menempuh kuliah di Fakultas Hukum UII dan banyak berjumpa dengan perbedaan, bahkan diskusi pribadinya dengan mendiang Romo Mangun. “Generasi muda Indonesia kurang dilatih bekerjasama dalam perbedaan. Sekolah-sekolah dengan basis agama berkontribusi secara tidak langsung menanamkan eksklusivitas,” imbuhnya.

 

 

 

Menurutnya beberapa hal yang turut berkontribusi memunculkan semangat radikal adalah rasa kekecewaan dan merasa menjadi pihak yang dikalahkan oleh sistim politik dan struktur sosial yang mengkotak-kotakkan manusia. Rasa percaya diri yang berlebihan atas diri, kelompok dan komunitasnya membuat orang merasa lebih tinggi dari yang lain dan rasa tersebut menyuburkan eksklusivitas.

 

 

 

Verdy, ketua Pemuda GKJ Mergangsan menyatakan bahwa dia  baru saja mengikuti workshop temu pengurus organisasi pemuda lintas agama yang diselenggarakan oleh Departemen Agama DIY yang dirasa cukup mewadahi untuk interaksi dan perjumpaan lintas agama, meskipun diakui bahwa forum-forum tersebut masih terkesan formalitas.  Menanggapi hal itu, Jalu salah seorang pemuda peserta diskusi menghimbau kepada semua pemuda yang hadir bahwa srawung yang dalam bahasa Indonesia disebut bermasyarakat atau berbaur menjadi satu kegiatan yang sangat penting dilakukan karena dengan pertemanan dekat dan tulus, maka segala perbedaan dan rasa saling curiga bisa dihilangkan.

 

 

Diskusi malam itu ditutup dengan satu tekad bahwa pemuda GKJ Mergangsan bertekad ‘membuka gerbang gereja’ mengikat tali persaudaraan dan siap bekerjasama dengan siapa saja. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 18 Agustus 2014
oleh adminstube
 Aksi Teater Stube-HEMAT

 

“Matinya Kemerdekaan”

 

 

 

 

 


Tembang ‘Sepasang Mata Bola’ mengalun merdu membuka acara malam tirakatan HUT Indonesia ke-69 di Kampung Nyutran, RW 19, Yogyakarta (16/8/2014), membawa hadirin bernostalgia mengenang perjuangan para pahlawan di masa-masa kemerdekaan. Disusul dengan beberapa lagi warga yang tampil dengan lagu-lagu perjuangan lama. Anak-anak pun tidak mau ketinggalan unjuk kebolehan. Mereka menari dan menyanyi dengan riang gembira. Malam tirakatan kali ini terlihat spesial, karena tidak hanya warga yang menghadiri acara tersebut, tetapi juga beberapa warga pendatang dan mahasiswa dari luar Yogyakarta yang berdomisili di kampung Nyutran. Mereka merasa tertarik karena acara tirakatan kali ini terlihat beda dari biasanya dengan adanya pementasan teater, sebab saat ini tak banyak pementasan teater mandiri dengan kritik sosial yang dapat dinikmati karena sudah banyak didominasi pertunjukkan yang bersifat hiburan semata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertunjukan teater ini didukung oleh para aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta dan warga  RW 19 Nyutran yang saling mengisi menjadi aktor dan pendukung. Bertempat di rumah salah satu keluarga warga RW 19, Keluarga Bapak Eko Supriyono, acara tirakatan ini diselenggarakan dengan sederhana tapi meriah. Penampilan teater besutan Bandel Elyas ini mengusung judul “Matinya Kemerdekaan”, sebuah pertunjukan simbolik yang disuguhkan untuk menyentil penonton, mengingatkan kembali akan makna kemerdekaan dan nasionalisme. Secara garis besar alur cerita bertutur tentang semakin tergadainya nasionalisme anak bangsa, yang diwakili terjadinya sebuah pertentangan dalam sebuah keluarga akibat hadirnya  investor properti yang akan membeli tanah dan anak-anak pemilik rumah tergoda menjualnya, padahal pihak orang tua mati-matian mempertahankannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita ini mengajak penonton merenung kembali akan kekayaan nasional Indonesia yang banyak dikuasai oleh investor asing. Apakah kemerdekaan yang sudah berjalan selama 69 tahun ini benar-benar memerdekaan anak bangsa? Ataukah kemerdekaan ini lambat laun menemui ajalnya karena adanya penjajahan dalam bentuk lain? Selain itu teater ini juga bermaksud menyampaikan pesan akan pentingnya ruang publik untuk masyarakat sebagai tempat bertemu dan berinteraksi, tidak hanya mengejar pembangunan fisik seperti mall, supermarket, hotel, dan gedung-gedung lainya sebagai simbol kemajuan.

 

 

 

“Senang rasanya bisa berpartisipasi malam ini, memperingati HUT RI ke 69, karena saya mahasiswa rantau maka nasionalisme menjadi perekat sesama rakyat Indonesia, semoga bukan hanya di drama tapi di kehidupan sehari-hari saya dapat mengisi kemerdekaan sesuai amanat Founding Father demi kemajuan bangsa”, komentar Loce salah seorang tim Stube HEMAT Yogyakarta asal Halmahera yang malam itu berperan sebagai Tutik anak pemilik tanah yang menentang invasi sang investor. “Weh, apik yo penampilane drama mau mbengi”, spontan tanggapan seorang warga dalam bahasa Jawa mengomentari pentas teater Stube HEMAT yang sudah dia tonton. Dia berharap akan ada pementasan lain dengan cerita yang lain dan lebih menarik.

 

 

Selamat HUT RI ke 69, majulah Indonesia, Garuda selalu di dadaku.*** SRB


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 12 Agustus 2014
oleh adminstube
PROGRAM PELATIHAN

 

SOCIAL ENTREPRENEURSHIP

 

 

 

‘Saatnya yang Muda Berkarya’

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah program pelatihan untuk mahasiswa yang mengasah kemampuan dan menumbuhkan kepedulian dan keterpanggilan mahasiswa terhadap permasalahan sosial. Pelatihan ini mendorong kaum muda mahasiswa menjadi pelopor yang berani bergerak, memunculkan inovasi dan kreativitas yang mendukung bahkan berperan dalam kegiatan pembangunan masyarakat.

 

Program Sosial Entrepreneurship ini melatih kaum muda mahasiswa mampu melihat, menemukan dan mengembangkan potensi-potensi di wilayahnya demi menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat. Proses mendapatkan solusi yang inovatif atas permasalahan sosial yang ada dengan melibatkan masyarakat setempat untuk berpartisipasi. Bahkan, pelaku social entrepreneurship ini mengadopsi sebuah misi menciptakan dan melestarikan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan sosial.

 

 

 

Materi-materi

 

 

 

  1. Pengenalan Stube-HEMAT dan kegiatannya.
  2. Apa dan Bagaimana Entrepreneurship dan Social Entrepreneurship. Social Entrepreneurship dan Ruang Lingkupnya (Contoh-contoh Social Entrepreneurship).
  3. Mengasah Kejelian dalam Memetakan Masalah dan Potensi Suatu Wilayah/daerah.
  4. Eksposur: Pengamatan Lapangan ke Kawasan Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran.
  5. Bagaimana Merintis, Membangun dan Memperkuat Kemampuan Internal Pelaku Socal Entrepreneurship.
  6. Bagaimana Mengembangkan dan Memperkuat Jejaring (Proposal, Marketing, Pariwisata) dalam Social Entrepreneurship.
  7. Diskusi Kelompok dan Olah Data Hasil Pengamatan untuk Rintisan Social Entrepreneur
  8. Pesentasi Hasil Pengamatan, Analisa dan Desain Social Entrepreneurship.

 

 

 

Fasilitator:

 

I Nyoman Matheus, M.Min.

 

(Praktisi, LPM Pelita Kasih Yogyakarta)

 

Yohanes Endro Gunawan

 

(Praktisi Pengembangan Masyarakat)

 

Sugeng Handoko, S.T.

 

(Praktisi, Gunung Api Purba Nglanggeran)

 

Team Stube-HEMAT Yogyakarta

 

 

 

Waktu dan Tempat

 

Jumat – Minggu, 22 – 24 Agustus 2014

 

Di Wisma Martha

 

Jalan Rejowinangun 15A Yogyakarta

 

(jalan timur Gembira Loka ke selatan 400 meter)

 

 

 

Kontribusi Rp 25.000,00

 

Penginapan, Akomodasi, Materi, Sertifikat

 

Subsidi Transportasi

 

 

 

Kontak Team Stube-HEMAT Yogyakarta

Trustha, Vicky, Stenly, Sofie, Loce, Yohanes


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 11 Agustus 2014
oleh adminstube
Diskusi Mahasiswa

 

Apa Itu Social Entrepreneurship?

 

 

 

 

 

 

 

“Seorang Entrepreneur adalah dia yang berani mandiri dan kreatif dalam mengusahakan sesuatu,” demikian menurut Y. Endro Gunawan, seorang konsultan lepas beberapa LSM khususnya bidang Community Development, yang kerap disapa Pak Endro. Selanjutnya, tambahan kata sosial pada kata entrepreneur memberi tekanan bahwa usaha yang dilakukan harus bisa menjawab masalah sosial yang terjadi untuk memberi kesejahteraan banyak orang. Pembahasan mengenai pemahaman istilah social entrepreneurship menjadi topik pada diskusi awal pelatihan Social Entrepreneurship, Sabtu, 9 Agustus 2014 di Sekretariat Stube – HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

Contoh menarik yang ditayangkan oleh koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, Trustha Rembaka, S.Th dalam diskusi ini adalah layanan kreatif yang dilakukan seorang dokter muda, lulusan Universitas Brawijaya yang bernama dr. Gamal Albinsaid dari Malang. Dokter muda ini merintis klinik asuransi sampah yang memungkinkan anggotanya membayar dengan sampah kering seperti, botol, kertas, kardus, atau plastik yang bisa didaur ulang. Melalui organisasi yang dihimpunnya yakni Indonesia Medika, masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan seperti pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan kesehatan lainnya. Ide ini muncul dari kasus meninggalnya seorang anak pemulung yang sakit diare dan tidak dibawa ke rumah sakit dengan alasan biaya. Dari peristiwa itulah dokter Gamal tergerak hatinya memberikan pelayanan kesehatan untuk kalangan yang tidak mampu. Tapi perlu diakui, bahwa kegiatan ini bukan usaha yang mengejar finansial profit yang bisa dirasakan oleh semua pihak yang terkait.

 

 

 

Social Entrepreneurship merupakan kegiatan usaha yang mengejar profit, namun berangkat dari pemahaman untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi di suatu waktu dan tempat tertentu. Seorang social entrepreneur dituntut kreatif selain dia juga harus memahami konteks masalah sosial yang terjadi di tempat tertentu dengan membidik peluang-peluang yang ada. Selanjutnya Y. Endro Gunawan menambahkan bahwa bentuk entrepreneur terbagi menjadi tiga yakni entrepreneur, sosial entrepreneur, dan volunteer entrepreneur. Seorang entrepreneur akan mengkreasikan ide dan aktivitasnya untuk menarik keuntungan dan mengembangkan potensi di hadapannya. Seorang social entrepreneur melakukan usaha mencari untung meskipun keuntungan usahanya itu sebagian besar dikembalikan kepada masyarakat. Sementara seorang volunteer entrepreneur murni mengabdikan ide dan karyanya untuk kesejahteraan masyarakat.

 

 

 

Banyak permasalahan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat yang bisa sehingga kepada para peserta diskusi Stube-HEMAT Yogyakarta, dan untuk kaum muda dimanapun berada, diskusi ini kemudian memberikan pemahaman baru dalam gerakan sosial seorang muda. Setiap kaum muda dituntut untuk berani melihat permasalahan, mempelajarinya, dan memandang permasalahan itu sebagai tantangan sekaligus kesempatan.  Selanjutnya, keberanian itu akan menimbulkan kreatifitas dan kemandirian dalam menghadapi, mengolah, dan menghasilkan sesuatu yang baru, yang segar, dan yang lebih menguntungkan masyarakat.

 

 


Seorang sosial entrepreneur berangkat dari sebuah keprihatinan, berpikir dan bergerak positif melalui cara-cara sederhana sekalipun. ***YDA


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 25 Juli 2014
oleh adminstube
Menjadi Inisiator Penggerak,
Mulailah dari diri sendiri
 
 
 
 

 

Minggu, 22 Juni 2014, menjadi pengalaman baru saya, karena pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sumba Timur dan melihat secara langsung kondisi masyarakat yang berada di bagian Indonesia bagian timur. Masyarakat Sumba Timur sangat ramah, mereka akan memberikan senyum manis dari bibir mereka ketika melihat orang baru. Beberapa hari pertama, saya tinggal bersama salah satu tim Stube HEMAT Sumba yakni keluarga Bapak Yulius Anawaru.
 

 

 

Di awal memulai kegiatan, saya mendapat kesempatan untuk memaparkan apa yang akan dikerjakan di Sumba pada rapat koordinasi tim. Saat-saat itu merupakan libur semester mahasiswa, sehingga tim Stube pun kesulitan mengumpulkan para aktivis mahasiswa yang rata-rata kembali ke kampung, sehingga beberapa hari setelah pemaparan, saya belum menemukan cara bagaimana program kegiatan akan saya jalankan. Ada rasa kecewa muncul dalam hati, karena tim Stube HEMAT Sumba yang mengenal lapangan tidak juga memberikan terobosan dalam situasi seperti ini. “Mungkinkah apa yang ingin saya bagikan dirasa tidak penting buat mereka?” sebersit pemikiran muncul dalam benak saya.
 

 

Melihat kondisi tersebut maka saya terus memutar otak mencari jalan keluar dan berinisiatif mengumpulkan beberapa mahasiswa aktivis yang masih ada di Waingapu untuk merealisasikan rencana kegiatan. Bak gayung bersambut, beberapa mereka seperti Yoga, Abner, Ydt, Dani dan Haris ingin berbagi bersama dalam forum-forum diskusi. Situasi ini mengajar saya bahwa motor penggerak sesuatu adalah berawal dari diri kita sendiri. Saya bersyukur ada rekan–rekan aktivis Stube HEMAT Sumba yang mau bersama-sama dan menemani sekitar satu bulan saya di Sumba.
 
Satu minggu sebelum pulang saya berkesempatan berkunjung ke Desa Mbatakapidu, sebuah desa yang dulu rawan pangan tetapi sekarang menjadi desa swasembada pangan, bahkan menjadi desa tujuan studi banding desa-desa di luar Sumba. Semua pencapaian itu tidak lepas dari sosok seorang Bapak yang bernama Umbu Yacob Tanda. Beliau mempunyai hati untuk kembali ke desa untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk mengisi hari-hari di masa pensiunnya.  Dari sosok Bapak ini, saya belajar dan merenung kembali bahwa kehidupan ini adalah anugrah dari Tuhan. Hidup yang nantinya harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan jika suatu saat Tuhan panggil pulang ke rumah bapa di surga. Beliau juga berpesan, “Semasa hidup ini berikanlah yang terbaik untuk memberi dampak yang baik bagi sekitar kita, dan itu dimulai dari diri sendiri”.
 
Program exploring Stube HEMAT Sumba akan senantiasa mengingatkan saya akan fungsi inisiator penggerak untuk memberi dampak positif melebihi apa yang kita bayangkan. Ini menjadi tantangan saya! (HRG)
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 18 Juli 2014
oleh adminstube
Logistik, Logika dan Hati

 

Refleksi Exploring Sumba

 

 

 

 

 

 

Spread your little wings and fly away, fly away, far away, pull yourself together, cos you know you can do better that’s because you‘re a free man.

 

 

 

Penggalan lirik lagu Queen di atas merupakan salah satu pemicu yang memotivasi saya mengikuti program eksploring Sumba.

 

 

 

 

Logistik. Minggu pertama dan kedua, saya mencoba berbagi dengan kelompok ibu-ibu yang konsen pada pertanian organik yang bernama Rinjung Pahamu, yang berarti Ingin Baik. Kelompok ini terbentuk dari kegelisahan ibu-ibu akan melonjaknya harga komoditas hortikultura impor di pasaran. Mereka memiliki lahan pertanian seluas 25 are (2.500 m2) yang terletak di desa Wangga. Kelompok ini mengajar saya akan arti berbagi, karena meskipun pendapatan masing-masing anggota yang berjumlah 25 orang tersebut masih di bawah garis kemiskinan, namun rasa senasib sepenanggungan mengalahkan ego setiap individu, di tengah bangsa yang pejabatnya menonjolkan ego pribadi, sementara pemuda-mahasiswanya  hanya pintar text-book yang berpihak pada para pemilik modal. Semoga mereka belajar pada ketulusan ibu-ibu sederhana nan lugu ini.

 

 

 

 

 

 

Logika. Minggu ketiga saya fokus untuk berbagi ilmu peternakan babi dan lingkungan. Mereka menanggapi topik ini dengan cukup antusias, sebab Sumba tak bisa lepas dengan peternakan, terlebih untuk kebutuhan adat. Topik lingkungan yang terkait dengan tambang, menimbulkan perdebatan alot dikalangan mahasiswa, ada pro dan kontra. Sebagian besar menolak tambang dengan berbagai argumentasi demikian halnya sekelompok kecil yang bisa menerima proyek itu. Namun diakhir diskusi semua bersama-sama menyamakan visi, yakni pada dasarnya diterima atau ditolaknya usaha tambang tersebut tak lepas dari daya dukung lingkungan dan masyarakat.

 

 

 

Hati. Hari-hari terakhir di Sumba diisi dengan mengunjungi beberapa tempat di wilayah Sumba selatan. Tanggal 15 Juli 2014, kami mengikuti pembukaan sidang Sinode GKS (Gereja-Gereja Kristen di Sumba) yang diselenggarakan di Ramuk, sebuah desa kecil bahkan mungkin terpencil di lereng Gunung Wanggameti. Kondisi jalan yang rusak tak menyurutkan niat kami untuk sampai ke tujuan. Kekesalan akan beratnya medan terhapus oleh indahnya alam Sumba dengan untaian bukit dan lembah yang terjalin memanjang seakan membentuk lukisan alam. Sungguh merupakan pemandangan yang eksotis. Saat saya di daerah Tana Rara, tempat ini memiliki tanah merah yang menawan, warnanya pink dan jarang ditemukan di daerah lain. Selanjutnya daerah Tarimbang memiliki potensi wisata pantai yang luar biasa, sayang PEMDA setempat belum optimal mengelolanya, sehingga salah satu warga Jerman yang bernama Peter mencoba memanfaatkan potensi tersebut dengan membangun cottage di puncak bukit yang menawarkan pemandangan indah lepas pantai Tarimbang.

 

 

 




Satu bulan di Sumba memberi saya pemahaman teologis bahwa “saya bukan dari dunia, jangan mengejar harta dunia, persiapkanlah hartamu di langit dan bumi baru nanti, kerjakanlah untuk Allah lewat sesamamu manusia, dimanapun mereka berada termasuk di Sumba”. Akhirnya, terima kasih Keluarga Ka Lius, Ka Yanto, Pdt Domi, Abner, Yoga, Anton, Pak Daniel kelompok tani Rinjung Pahamu, teman-teman GMNI, GMKI cabang Sumba Timur terkhusus Stube HEMAT yang telah memberi pelajaran berharga bagi kami, semoga program ini adalah halaman awal dari buku interaksi dengan pulau Sumba. (SRB)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 7 Juli 2014
oleh adminstube
PELAKSANAAN UU DESA NO 6 TAHUN 2014:

 

Menuju Desa yang Berdaulat, Berdikari

 

dan Berkepribadian Pancasila

 


  

 

Setelah melalui perjuangan panjang yang melelahkan serta hiruk pikuk demonstrasi yang memenuhi ruang-ruang publik ditambah ancaman boikot terhadap pelaksanaan program-program strategis pemerintahan, akhirnya pemerintah dan DPR RI mengabulkan tuntutan para kades dan perangkat desa dengan mengesahkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Selanjutnya undang-undang ini disebut UU Desa, menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa yang tidak memuaskan para Kepala Desa dan aparatur desa.

 

 

 

Sabtu, 5 Juli 2014, Community Development Bethesda bekerja sama dengan Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen Indonesia (JKLPK), YAKKUM, Forum LPK Jateng-DIY, Universitas Kristen Duta Wacana dan YEU menyelenggarakan sarasehan bertema: “Pelaksanaan UU Desa Nomor 6 Tahun 2014 menuju desa yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian Pancasila” dengan narasumber Prof. Dr. Wuryadi selaku Dewan Pendidikan DIY dan Krisdyatmiko, Direktur IRE DIY (Institute for Research and Empowerment) dan juga Dosen PSDK Fisipol UGM. Stube-HEMAT Yogyakarta mengutus Sofiya Atalia dan Sarloce Apang menghadiri sarasehan untuk mencermati dan bisa menyikapi UU Desa yang akan diimplementasikan di 72.944 desa di Indonesia.

 

 

Acara dibuka dengan menyanyi lagu ‘Indonesia Raya’ dan sambutan perwakilan JKLPK. Sri Bayu Selaadji (CD Bethesda) selaku moderator memandu acara yang diisi pemaparan dari Prof. Dr. Wuryadi yang membahas  pasal 3 UU Nomor 6 tahun 2014 mengenai peraturan desa berasaskan: rekognisi, subsidiaritas, keberagamaan, kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan, musyawarah, demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan dan keberlanjutan. Kedudukan desa menguat sebagai bagian dari NKRI dan pengakuan kewenangan desa berdasarkan: asal-usul, skala lokal, dan pelimpahan. UU Desa ini muncul karena beragamnya pengenalan kita tentang desa. Seolah-olah UU Desa ini menyatakan bahwa desa merupakan tataran paling dasar dalam struktur kepemerintahan padahal di bawah desa masih ada pedukuhan. Momen pembangunan karakter bangsa kita sudah berhenti pada tahun 70-an, idealnya harus terjadi secara berkelanjutan.

 

 

Krisdyatmiko memaparkan lima manfaat UU Desa: pertama, membangun kemandirian desa: jaminan sumberdaya keuangan dari APBN untuk penyelenggaraan pembangunan serta revitalisasi penataan aset desa. Kedua, mengatasi apatisme warga: memperkuat partisipasi dalam kebijakan dan penyelenggaraan desa. Ketiga, memperkuat pilar demokrasi desa: check and balances system pemerintahan dan pembangunan desa. Keempat, memperbaiki pelayanan publik: penyelenggaraan pemerintahan desa untuk kebutuhan warga. Kelima, merevitalisasi modal sosial desa: untuk pemberdayaan lokal (nilai, mekanisme dan institusi sosial ekonomi warga).

 

 

Disahkannya UU Desa ini patut disambut gembira karena UU ini mencantumkan kebijakan-kebijakan progresif dan strategis bagi kemajuan dan perkembangan desa, menghargai eksistensi desa dan peranan aparatur desa, karena desa memiliki kedudukan serta peranan penting dalam sistem ketatanegaraan kita. Disamping itu, UU Desa juga menunjukkan ketegasan dengan adanya pemberian sanksi kepada kepala desa yang tidak menjalankan kewajibannya. Sanksi berupa teguran tertulis, pemberhentian sementara dan pemberhentian tetap. Ini tentu positif untuk mendorong kinerja dan disiplin pemerintah desa. Semoga impian atas desa yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian Pancasila dapat diwujudkan bersama. (SAY)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 6 Juli 2014
oleh adminstube
J.F.H. Sagrim, Ilmuwan Muda dari Maybrat

 

“Berkarya dari Papua untuk Peradaban Manusia”

 

 

 

 

 

 

Tak pernah terbayang, teman yang sudah pulang ke kampung halaman, merasa rindu berkumpul lagi dengan teman-teman di Stube HEMAT Yogyakarta. Ditengah kesibukan mengurus proses penerbitan buku barunya, Sabtu, 5 Juli 2014 ia meluangkan waktu datang bertandang untuk menyapa dan menyemangati teman-teman muda yang sedang belajar menulis di sekretariat Stube HEMAT.

 

 

Juan Franklin Hamah Sagrim, atau yang biasa akrab disapa dengan panggilan Sagrim, lahir dan besar di Maybrat, Sorong, Papua yang merupakan daerah kebanggaannya. Ia merupakan alumnus program study Teknik Arsitektur di Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan juga merupakan aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta pada tahun 2008. Selama dua bulan terakhir ini ia bekerja sebagai  salah satu staf ahli di Papua Barat tepatnya di Manokwari. Salah satu hobi yang menjadi pekerjaannya adalah menulis.

 

 

 

Menulis merupakan hal yang ia sukai sejak masa SMA. Ia sudah menulis buku pertamanya tentang cerita rakyat yang diterbitkan pada saat itu oleh Pustaka Pelajar. Dari kerja keras yang selama ini dilakukannya, ia sudah berhasil menulis 27 karangan. Ada empat prinsip dasar yang dia pegang yakni; pertama, ada kemauan dari diri sendiri untuk menulis, kedua, ada tujuan yang ingin dicapai, ketiga, adanya imajinasi dalam jiwa yang kuat dan yang keempat, menjadikan orang lain sebagai motivasi penggerak.

 

 

 

Kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari Pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta yang pernah ia ikuti pada tahun 2008. Dari banyak pelatihan yang ia ikuti di lembaga ini, yang paling berkesan baginya adalah pelatihan pengembangan potensi diri, dimana ia dapat lebih tahu potensi dirinya dan mengenal dunia sebenarnya. Dari pelatihan inilah Sagrim mulai terpacu untuk mengembangkan kemampuan dan potensi dirinya.

 

 

 

 

 

 

Sagrim memberikan pesan dan kesan kepada teman-teman Stube-HEMAT bahwa kita sebagai manusia membutuhkan tempat dan pikiran. Kita harus mencari tempat dimana kita bisa mengekspresikan diri dan menemukan jati diri. Kita tidak bisa mengetahui diri kita sendiri tanpa ada orang lain maka kita harus berkaca pada orang lain. Sagrim menambahkan, “Kita jangan melihat Stube-HEMAT hanya sebagai yayasan atau organisasi tetapi benar-benar sebagai wadah yang Tuhan persiapkan untuk setiap orang yang belum mengenali dirinya secara pribadi. Tuhan mempersiapkan lembaga ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan saya sendiri mengalami. Saya mengenali diri saya lewat lembaga ini. Tuhan memberkati lembaga ini”. (SAY)

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 4 Juli 2014
oleh adminstube
ANAK MUDA DAN GUNUNG API PURBA
 

 

Gunung api purba di desa Nglanggeran kabupaten Gunung Kidul memiliki hamparan batu yang elok, cocok bagi mereka yang menyukai tracking. Selain jalur pendakian dan lokasi panjat tebing, sebuah embung atau waduk buatan di puncaknya sangat cocok untuk melepas lelah dengan menikmati sunrise ataupun sunset. Tempat ini juga menyediakan fasilitas bagi yang ingin live-in guna menikmati suasana pedesaan. Cukup menarik sebagai tujuan wisata dan petualangan bukan?

Bagaimana kawasan ini bisa menjadi tujuan wisata yang sangat “menjual”? Spirit awal inilah yang jauh lebih menarik untuk dikaji sebagai bahan referensi usaha pemberdayaan masyarakat pedesaan dan spirit itu harus disebarluaskan dikalangan anak muda. Sugeng Handoko selaku pihak pengelola dan penggagas kawasan wisata gunung api purba memaparkan bahwa semula keadaan gunung api purba ini dianggap tak ada nilainya dan sangat mustahil memberi hasil bagi masyarakat setempat, meskipun di sisi lain gunung purba ini punya mata air yang menghidupi warga.  Dengan adanya mata air tersebut warga sangat menjaga gunung ini.
 
Pada tahun 2006 terjadi sebuah moment alam gempa bumi yang sangat dahsyat dan tak akan pernah terlupakan oleh masyarakat Yogyakarta. Bencana ini membawa pengaruh besar bagi warga Nglanggeran karena memompakan semangat gotong royong dan membentuk solidaritas, khususnya pemuda karang taruna. Semangat solidaritas ini menjadi modal utama yang memudahkan mereka saling berbagi informasi kegiatan untuk bisa dilakukan bersama. Perubahan lain yang terjadi di desa Nglanggeran pasca gempa bumi adalah beberapa titik mata air menjadi kering, sehingga warga melakukan berbagai upaya untuk menjaga agar sumber mata air jangan sampai habis.
 
Tahun 2007 merupakan proses awal tercetusnya ide pengelolaan kawasan gunung api purba ini secara serius dan berkesinambungan. Berawal dari sebuah kegiatan Malam Keakraban mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan di gunung api purba, tempat ini mulai mendapat perhatian untuk dirintis sebagai kawasan wisata. Menurut Sugeng Handoko hal yang terberat adalah proses perintisan, karena ide tersebut sulit diterima masyarakat di kawasan gunung api purba ini. Anggapan yang melekat di masyarakat adalah bahwa hamparan gunung batu tersebut tidaklah memiliki makna apa-apa, sehingga menjadi hal aneh dan mustahil ketika warga disana mendengar bahwa kawasan tersebut akan dijadikan kawasan wisata.
 
Proses utama yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran warga setempat dan merubah cara pandang,” tutur Sugeng Handoko. Situasi tidak mudah juga dialami ketika dia berupaya menjejaringkan karang taruna dengan lembaga pemerintah supaya mendapatkan support dana karena tidak begitu saja langsung mendapat support, tetapi melalui proses yang panjang. Pihak pemerintah ingin melihat upaya awal yang dilakukan para pemuda karang taruna. Setelah melihat prospek kawasan gunung api purba dan kematangan program kedepan yang dikerjakan pemuda karang taruna, maka pemerintahpun menggelontorkan bantuan dana pengembangan. Terobosan lain yang dilakukan bersama pemuda karang taruna adalah mencari dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan seperti Bank, Pertamina dan BUMN lainnya. “Proses mencari jejaring donor untuk pengembangan sebuah kawasan inilah yang harus terus menerus dilakukan. Hal ini menjadi sangat sulit karena mula-mula kami tidak memiliki akses informasi atau kurang memahami prosedur cara membuat proposal dan minimnya kekuatan lobby dengan pihak donor”, Sugeng Handoko menambahkan.
 
Pelatihan Social Entrepreneurship yang digagas Stube HEMAT Yogyakarta tanggal 22 – 24 Agustus 2014 mendatang, menjadi salah satu cara penyebarluasan spirit dan gagasan yang berkaitan dengan pengembangan potensi kawasan dan pemberdayaan masyarakat, sebagaimana dilakukan oleh Sugeng Handoko di Nglanggeran. Tentunya masih banyak kawasan di pelosok Indonesia yang memiliki potensi yang tidak kalah eksotisnya dengan gunung api purba ini. Sehingga menjadi sangat penting bagi anak-anak muda daerah yang tergabung di Stube HEMAT memahami social entrepreneurship dan belajar melihat potensi yang ada di daerah mereka masing-masing.
 

Diskusi yang menarik dengan Sugeng Handoko sudah menambah wawasan team Stube dan beberapa aktivis yang mengikuti kunjungan ke Nglanggeran pada 2 Juli 2014. Selanjutnya, diharapkan mahasiswa-mahasiswa yang tertarik pada isu ini bisa bergabung dalam Pelatihan Social Entrepreneurship yang dibuat oleh Stube HEMAT. ***~Piaf~



  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 25 Juni 2014
oleh adminstube
Sikap Orang Kristen Menghadapi Persoalan Kebangsaan,
Kini dan Di Masa Mendatang
 
Stube-HEMAT Yogyakarta Hadiri
Sarasehan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DIY
23 Juni 2014
 


Berpolitik bukanlah agenda utama gereja, karena gereja ada bukan untuk berkuasa tetapi untuk melayani umat manusia. Dalam pelayanan itu, gereja mulai memasuki lini-lini hidup umat melalui dimensi sosial, spiritual, kultural, dan pembangunan mental. Melalui kegiatan itu, gereja kemudian mewujudkan cita-cita yakni kesejahteraan bagi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan.
 
Gereja mempunyai agenda bahwa pewartaan damai dan kasih harus sampai kepada seluruh umat manusia. Agenda kasih dan damai itu tentulah bertentangan dengan kecurangan, penindasan, dan ketidakadilan yang sering terjadi diantara umat manusia. Gereja kemudian menentang segala bentuk yang merusak kedamaian umat. Tentangan itu diaspirasikan pada seluruh lini hidup manusia. Politik kemudian menjadi salah satu cara untuk mewartakan kasih dan damai, bukan untuk berkuasa dan menindas sesama manusia.
 
Pada 23 Juni 2014 yang lalu di Wisma Imanuel Samirono, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (PGIW DIY) menyelenggarakan sarasehan bertajuk “Sikap Orang Kristen Menghadapi Persoalan Kebangsaan, Kini dan Di Masa Mendatang”. Pembicara dalam sarasehan tersebut adalah Pdt. DR. A. A. Yewangoe (Ketua Umum PGI).
 
Acara dibuka oleh Pdt. Purwantoro Kurniawan M. Min melalui renungan singkat dari Mazmur 33:12-17 dengan pesan teologis yang diantaranya adalah setiap pribadi janganlah mengandalkan diri sendiri. Ibadah dilanjutkan dengan Sambutan dari Ketua PGIW DIY, Pdt. Em. Bambang Sumbodo M. Min yang menyerukan bahwa jangan biarkan masyarakat kita larut dalam ketidaktahuan.
 
 
Dalam paparannya, Pdt. Yewangoe menyebutkan isu-isu yang berkembang dalam tiga bulan terakhir yang cukup kompleks menyangkut suku, agama, dan ras (SARA). Isu itu mengarah kepada kampanye yang diusung oleh para capres berisi opini yang tidak bertanggung jawab yang berkembang menjadi kampanye hitam atau kampanye negatif.
 
Untuk ini, masyarakat di lingkungan gereja harus jeli melihat mana berita yang benar dan mana berita yang hanya menjadi desas-desus. Elga Sarapung direktur Dian Interfidei yang bertindak sebagai moderator menegaskan bahwa posisi masyarakat tidaklah bijak apabila mudah terprovokasi. Setiap calon presiden harus dikenali visi-misinya terlebih dahulu. Pilihlah capres yang mewakili cita-cita anda untuk bangsa ini.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta mengutus dua orang dalam sarasehan itu yakni Trustha dan Yohanes. Pengalaman untuk mendengar paparan dan arahan menyikapi PEMILU adalah berharga. Setiap orang muda harus berperan aktif dalam pesta demokrasi dan menyiapkannya dengan pilihan yang tepat. Maka, jangan sampai golput dan salah pilih dalam PEMILU ini. (YDA)

 

 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 20 Juni 2014
oleh adminstube
Yang Muda, Yang Berkarya
 
dalam Exploring Sumba
 



Yohanes Dian Alpasa, mahasiswa Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dari Bengkulu Utara, sangat bersemangat dan menyanggupi ketika mendapat informasi tentang program Exploring Sumba. Yohanes memiliki kerinduan membagi pengetahuan dan ketrampilan khususnya dalam jurnalistik dan penulisan, yang telah dilakukan pada bulan April – Mei 2014. Dengan tema ‘Saling Berbagi demi Kemaslahatan Bersama: Mengenang Hikmat dalam kekuatan Tulisan di Sumba’ Yohanes mengajak mahasiswa dan kaum muda Sumba untuk mulai menumbuhkan kemauan menulis dan menyajikan dalam tulisan yang bermakna.
 
Novia Sih Rahayu dari Kulonprogo, Yogyakarta antusias mengikuti program Exploring Sumba. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang ia dapat selama belajar di Akindo telah dibagikan kepada teman-teman mahasiswa dan pemuda gereja di Sumba pada bulan April – Mei 2014. Dua hal yang menjadi harapan Novia ketika memunculkan tema ‘Menciptakan Sense Of Belonging Dan Mengembangkan Potensi Sumba Melalui Public Speaking’, yaitu pertama, ia dapat membagikan ilmu dan keterampilan public speaking dan editting kepada kaum muda Sumba, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk memajukan dan mempromosikan potensi daerahnya. Kedua, ia mengenal daerah Sumba dan mendapat banyak teman dan relasi.
 
Hery Alberth Gardjalay, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta menjawab tantangan Exploring Sumba dengan suatu karya berupa aktivitas membagikan ilmu pengetahuan yang ia miliki, salah satunya adalah penyadaran kepemilikan dokumen kependudukan, misalnya KTP dan Akta Kelahiran kepada teman-teman mahasiswa dan pemuda gereja di Sumba. Dengan tema ‘Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Menyejahterakan Kehidupan Bersama, sebagai Wujud dari Peran Warga Negara’ Hery berharap khususnya kaum muda dapat memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, mengerti dan memahami peran sentral sebagai warga negara dan aktif dalam menyikapi permasalahan masyarakat yang ada di sekitar mereka. Pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat di daerah asalnya, Dobo, Maluku, tentu menjadi bekal yang sangat berharga ketika ia beraktivitas di Sumba pada bulan Juni – Juli 2014.
 
Stenly Recky Bontinge, dari Luwuk, Sulawesi Tengah tergerak untuk mengikuti program Exploring Sumba dengan mengusung tema ‘Logistik, Logika dan Hati’. Ia berpijak dari konsep masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mandiri dari perut, kepala dan hati, yang berarti bahwa suatu masyarakat akan kuat apabila masyarakat itu mampu mandiri dalam mencukupi kebutuhan pangan, memiliki pengetahuan kuat dan komitmen (keteguhan hati). Kombinasi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki selama studi di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan dan Magister Teknik Sistem Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta keterlibatannya sebagai tim Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi bekal yang lengkap untuk berkarya bersama mahasiswa dan kaum muda di Sumba pada bulan Juni – Juli 2014. Ia berharap mahasiswa dan pemuda di Sumba dapat produktif dengan memanfaatkan lahan sesuai lokalitas tumbuhan, bisa mengidentifikasi masalah lingkungan dan advokasi serta teknik perekayasaan lingkungan secara sederhana dan dapat memperkuat manajemen komunitas.
 
 
Anda mahasiswa? Anda berminat? (TRU)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 7 Juni 2014
oleh adminstube
Bergabung Dalam Kamisan
Social Movement Institute

Kamis, 5 Juni 2014, beberapa aktivis Stube-HEMAT ambil bagian dalam acara kamisan yang diselenggarakan oleh Social Movement Institute (SMI) bekerjasama dengan KONTRAS. Aksi damai yang dikoordinasi oleh Asman dan Bandel Ilyas dari SMI ini dilaksanakan setiap hari Kamis. Aksi kali ini diikuti oleh sekitar tigapuluh pemuda dari berbagai elemen. Masing–masing mengenakan baju dominasi warna hitam dilengkapi payung hitam. Menurut Ilyas, koordinator lapangan, payung hitam dan busana hitam adalah simbol matinya keadilan, matinya hukum dan penegaknya. Busana hitam itu memang dipakai ketika orang sedang dalam suasana duka kematian.
 
Aksi diam yang ke-11 ini berlangsung sekitar empat puluh menit di seputar Tugu Yogyakarta. Sebuah spanduk dibentangkan bergambar pemuda-pemuda yang hilang dan diduga diculik diantaranya ada Wiji Tukul, Munir, dan wartawan Udin. Spanduk itu berbunyi ”kami tak melupakan, kami tak memaafkan.” Sejumlah stiker bertuliskan ungkapan Gandhi, ”Kekerasan adalah senjata orang berjiwa lemah” dibagikan ke sejumlah orang yang melintas.

Pada sela-sela acara, koordinator lapangan mengatakan kepada para aktivis dari Stube-HEMAT Yogyakarta bahwa sampai saat ini masih ada pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh dilupakan apalagi untuk kemudian dimaafkan. Ilyas menambahkan sudah terjadi ironi bahwa beberapa kelompok masyarakat melakukan pemaafan terhadap pelanggaran itu. Mereka menganggap bahkan mereka ingin melupakan kasus-kasus itu dengan alasan saatnya menyongsong masa depan dan sebagainya. Anggapan itu tidak benar, karena pelanggaran HAM sampai kapanpun kalau tidak diusut dan tidak diadili secara adil maka ia akan berulang terus.
Penuntasan kasus-kasus HAM adalah agenda besar calon presiden yang akan datang. Siapapun pemimpin mendatang, baik dari militer maupun dari sipil, harus punya agenda tersebut, bila tidak, maka tidak ada ruang untuk mereka menjadi pimpinan di negeri ini. Sampai saat ini Ilyas tidak tahu sampai kapan aksi ini akan dilakukan. Aksi serupa juga dilakukan di Jakarta, bahkan sudah berlangsung delapan tahun. Rencananya nantinya akan dibentuk suatu komite sebagai tindak lanjut.  Komite ini akan menjadi pintu perekrutan aktivis-aktivis baru dimana akan ada pelatihan, pendidikan politik dasar dan sebagainya.
 
 
Berbicara tentang HAM tanpa mempelajari sejarah pelanggaran HAM adalah ibarat berjalan dengan satu kaki, maka pelajaran sejarah harus dilakukan terus-menerus. Untuk itu aktivis Stube dimanapun berada harus selalu mengasah kemampuan dan peka terhadap permasalahan bangsanya sendiri, agar teori dan sejarah HAM  kita ketahui dengan baik. Aksi-aksi sederhana akan berdampak hebat bila dilakukan dengan konsisten. Teman-teman aktivis tidak hanya bertindak untuk mengembangkan potensi diri dan lingkungan tetapi juga aktif menyuarakan penegakkan keadilan. Keadilan menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan masyarakat. (YDA)

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 5 Juni 2014
oleh adminstube
Jaminan MDGs

 

bagi kesehatan Ibu dan Anak

 

Diskusi Stube-HEMAT Yogyakarta, 3 Juni 2014

 

 

 

 

 

 

Komitmen masing-masing negara dan komunitas internasional untuk mencapai 8 tujuan pembangunan dalam Milenium (MDGs), sebagai satu paket tujuan pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang terukur, harus tetap menjadi tujuan bersama penghuni dunia ini. Komitmen ini mencakup usaha-usaha untuk mengurangi lebih dari separuh orang yang kelaparan, menjamin semua anak menyelesaikan pendidikan dasar, mengentaskan kesenjangan gender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3, dan mengurangi hingga separuh orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

 

 

 

 

 

 

Indonesia tak luput dari usaha-usaha melakukan tujuan MDGs. Topik-topik di atas menjadi isu yang menarik dalam diskusi di Stube-HEMAT, Selasa 3 Juni 2014. Didampingi DR. Murti Lestari, selaku pemateri dan sekaligus Board Stube-Hemat, pembicaraan menyoroti tingkat kesehatan ibu dan anak di Indonesia yang masih rendah dan bahkan sangat jauh dari yang seharusnya, meski diakui bahwa pemerintah telah mampu setidaknya menurunkan angka kematian ibu dan anak. Bagaimanapun juga, perhatian pada perempuan dan anak menjadi unsur penting dalam keberlangsungan hidup suatu bangsa.

 

 

 

 

Diskusi ini dihadiri aktivis dari Social Movement Institute (SMI), Angga yang akan menjadi peserta Inter-religion Youth Forum dengan topik MDGs di Jerman; Gus Roy dari pesantren Tebu Ireng-Jombang; Pdt. Bambang Sumbodo M.Min, dan  beberapa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta. Sebagai bekal mengikuti IYF, topik diskusi ini membantu memberi gambaran keadaan Indonesia dengan beberapa pencapaian tujuan MDGs.


 

 

Perlu diakui, bahwa isu-isu MDGs belum sepenuhnya tersosialisasi dengan baik dan dipahami oleh masyarakat, bahkan mahasiswa sekalipun. Sehingga perlu suatu kajian ulang atas pelaksanaan suatu program agar tercipta sinergi diantara para pemangku kepentingan guna mencapai tujuan-tujuan yang sudah dirumuskan bahkan menjadi komitmen negara-negara di dunia. (Loce)


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 26 Mei 2014
oleh adminstube

 

Renunganku dari Sumba
Oleh Novia Sih Rahayu

Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya  akan melangkahkan kakiku ke sana. Senang sekali rasanya mendapat kesempatan ikut program Exploring Sumba. Selain berbagi ilmu, aku bisa berpetualang dan menjelajah tanah Sumba Timur, sebuah kabupaten dengan padang sabana yang luas, tanah bebatuan, tanah pasir, budaya marapu yang masih kental, dan adat istiadat yang cenderung mewah. Meski diawali kebingungan, karena akan pergi ke tempat yang jauh, yang belum pernah ku kunjungi, aku berusaha membaca artikel tentang Sumba Timur, menonton video wisata di sana, dan mempersiapkan bahan untuk sharing tentang public speaking.

 Rabu, 23 April 2014, sekitar pukul 12.00 WITA, inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Sumba Timur. Mula-mula aku melihat bandara kecil, seperti tanah lapang, bahkan sempat tidak percaya kalau itu adalah sebuah bandara. Selanjutnya kota Waingapu, aku merasa seperti berada di kecamatanku sendiri, namun cuaca kota ini lebih ekstrim dengan panas menyengat. Aku tinggal di rumah Pak Bangun Munthe, Kepala Dinas PU Waingapu. Istrinya adalah Sekretaris DPRD Sumba Timur, yang kupanggil Mama Arif. Mereka dianugerahi 4 orang anak : Arif, Odi, Ico, dan Riris. Aku senang dan nyaman tinggal bersama keluarga ini, seperti tinggal bersama dengan keluarga sendiri. Aku salut dengan Mama Arif karena beliau mengerjakan pekerjaan rumah dengan sigap tanpa mengeluh sedikitpun, walaupun setiap hari beliau harus mencuci gelas dan piring lebih dari 1 ember besar. Bekerja di kantor, melakukan pekerjaan rumah, memperhatikan anak dan suami, dan sebagainya bukanlah pekerjaan mudah. Di saat aku harus bedrest karena sakit haid, keluarga itu memperhatikanku.  Bahkan ketika aku sampai di Jogja, Mama Arif sms bahwa Riris ingin mengembalikan topi pemberianku agar aku tetap di Sumba dan tidak pulang ke Jogja. Sungguh mengharukan.
 
Semula, aku berpikir bahwa orang Sumba itu sulit berinteraksi dengan orang lain, cenderung memasang muka serius dan tidak ramah, kurang menghargai orang lain, dan mudah marah. Setelah aku berinteraksi langsung dengan mereka, apa yang aku pikirkan ternyata salah. Mungkin mindsetku tumbuh dari pengalamanku dengan teman sekelasku dulu, bukan orang Sumba secara keseluruhan.

  
Aku takjub dengan teman-teman yang mengikuti sharing public speaking dan jurnalistik. Selain aktif di Stube HEMAT Sumba, mereka juga aktif di organisasi kepemudaan lainnya, seperti GMNI Waingapu. Rasa minder sempat menyelimutiku karena kebanyakan dari mereka fasih menyampaikan pendapat di depan umum. Akan tetapi rasa itu lenyap ketika mereka memberi kesan positif tentang apa yang aku bagikan berkaitan dengan public speaking. Mereka memperoleh ilmu dan pemahaman baru yang mereka tidak ketahui sebelumnya. Aku pun optimis dalam membagikan ilmu yang aku peroleh selama kuliah. Aku menyadari bahwa ketika aku membagikan ilmu, aku pun belajar. Belajar mengaplikasikan ilmu yang aku peroleh, belajar memahami audience, belajar menghargai pendapat orang lain, belajar untuk tidak sombong, belajar meminta penyertaan dan bimbingan Tuhan, dll. goal yang aku sampaikan adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara di depan umum dan mereka tidak menyerah dalam mengasah kemampuan berpublic speaking.
 
Hidup memang perjuangan. Satu tempat berkelimpahan dengan sumber daya alam, tapi di tempat lain tidak, seperti  di Kanjonga Bakul, dan Praipaha. Aku merasa sedih ketika melihat serombongan anak kecil memegang jerigen untuk mengambil air, karena di sana persediaan air sangat terbatas. Mendapatkan air untuk minum saja sudah bersyukur, apalagi untuk mandi. Di tempat itu tubuhku benar–benar di tempa. Sehingga aku yang biasanya mandi 2 kali sehari dengan limpahan air,  aku hanya mandi 1 kali selama 3 hari di Praipaha, itupun hanya dengan 3 ember kecil. Air benar-benar nikmat Tuhan yang luar biasa. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
 
Exploring Sumba melatihku lebih analitis, mandiri, bijaksana, dan bertanggungjawab. Kegiatan ini membuatku lebih tahan banting, baik secara jasmani maupun mental karena dituntut menyesuaikan diri dengan cuaca, tempat, waktu kegiatan, karakter orang, dan makanan yang ada. Exploring Sumba ini juga membuatku belajar untuk bisa berbagi dengan orang lain, bukan hanya dalam hal materi semata, tetapi juga ilmu pengetahuan, pengalaman, kebahagiaan, semangat, dll. Semakin banyak tempat-tempat yang ingin aku kunjungi dan kenali karakternya, baik orang maupun daerahnya.

 

Aku sangat berterimakasih kepada Stube HEMAT Yogyakarta dan Stube HEMAT Sumba yang telah memberi kesempatan dan menerimaku dengan baik. Terimakasih untuk teman-teman yang telah menyediakan waktu untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan berpetualang bersama. Aku harap kegiatan ini menjadi awal dari sebuah relasi yang baik. ***

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 25 Mei 2014
oleh adminstube
 

 

30 Hari Menjejak Sumba

 

Yohanes Dian Alpasa

 

 

 

Pada sebuah pertemuan diskusi, seseorang mengatakan di dunia barat, dirinya melihat surga, tetapi tidak melihat Tuhan. Ada banyak tempat yang memukau dan konstruksi manusia sungguhlah menawan. Namun, banyak orang tidak percaya sang Khalik. Di Sumba, aku melihat Surga sekaligus Tuhan. Kehidupan sehari-hari bersalut bersama ungkapan iman setiap minggunya. Hanya saja, aku belumlah menemukan, sebenarnya ada apa di Sumba sehingga beberapa sudut geografisnya masih menyimbolkan kemiskinan yang amat sangat?

 

Sesungguhnya setiap perjalanan selalu menghadirkan pelajaran. Aksen bahasa yang khas, budaya yang asli dan belum bercampur, sistem birokrasi yang membutuhkan pembenahan, dan kehidupan iman yang konsisten tidak banyak berubah di lingkungan gereja, itu semua terjadi di Sumba, sejauh interpretasiku terhadap mereka.

 


 

Di Surga ini, sekali lagi kau dapat melihat Tuhan. Di mana-mana terjadi, kekeluargaan itu dijunjung tinggi. Tuhan sungguhlah di tengah-tengahnya. Pertama kali menjejakkan kaki saya mendengar salam sapa. Teguran dari saudara-saudara di Sumba sungguhlah ramah. Keramahan ini bahkan belumlah banyak saya dapati di Bengkulu, tanah saya dilahirkan, maupun di Yogyakarta, tempat saya menempuh studi teologi.

 

 

 

Setiap orang, baik kenal ataupun tidak, masing-masing seolah berlomba untuk melempar sapaan terlebih dahulu. Ini terjadi di Waingapu dan di Praipaha, dua tempat yang pernah saya jejak dan tinggali. Ucapan ”selamat” untuk mengawali pertemuan dan sapaan menjadi hangat di telinga. Bahkan aku merasakan kedekatan dengan mereka.

 

Terkait dengan kekeluargaan itu, ada dua hal yang aku lakukan. Pertama, mencium hidung orang yang kutemui. Cium hidung adalah simbol bahwa kami sudah dekat, lekat, dan diterima secara karib. Hanya beberapa saat saja saat dua hidung bersinggungan, itu sudah cukup memupuk persahabatan diantara kami. Aku merasa senang dengan cium hidung ini sekalipun hanya mengalaminya dua kali. Itupun bersama seorang pendeta emiritus dan seorang mama disana. Kedua, kedekatan ditandai dengan penghargaan mengunyah ramuan yang terbuat dari Sirih, Pinang kering, dan kapur. Ketiganya dikunyah sebagai sambutan. Setiap orang yang datang bertamu akan disuguhi dengan sirih, pinang, dan kapur laut/gunung.

 

 

 

Untuk menerima penghargaan itu maka aku mengunyah. Pertama yang dikunyah adalah pinang. Kedua sirih yang disalut kapur halus. Pertama teman-teman Sumba agak heran melihatku mengunyah. Bagiku tidak masalah karena di Jogja aku sudah berlatih bersama Fran, seorang temanku yang menempuh Studi Matematika di Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa (UST) Yogya. Mulanya aku bermaksud untuk menerima penghargaan itu. kukunyah dan terasa pahit getir, lalu menjadi hambar, dan kemudian segar. Setiap kali aku mengunyahnya maka gigiku terasa kuat dan tidak sakit lagi. sebenarnya ada dua hal yang kudapat dari sirih itu yaitu penghargaan dan kesehatan gigi.

 


 

 

Pemandangan alam Sumba didominasi oleh bukit-bukit. Orang dengan bebasnya naik Kuda. Ternak dilepas di padang begitu saja. Sabana menghampar seluas mata memandang. Coklat berlekuk seperti permadani coklat. Suplai air diusahakan melalui pipa-pipa oleh PDAM. Ketersediaan air kurasa mencukupi karena terdapat aliran sungai dan mata air di sekitaran Kota Waingapu.

 

 

Satu hal lagi yang kudapati di Sumba, bahwa kekeluargaan itu rupanya memerlukan pengembangan. Orang dapat saling membantu saudaranya yang membutuhkan, tetapi baiklah dirinya juga memikirkan kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Ada saja orang yang rela keluarganya berkekurangan demi membantu saudaranya berpesta. Bantuan itu tetap diserahkan sementara anak masih butuh biaya studi. Namun, pada beberapa tempat di Sumba telah mengembangkan adat lebih bijak dengan tidak memotong hewan terlalu banyak pada setiap perayaannya. Demikian kiranya bahwa Surgaku tetaplah menjadi kenangan di hatiku. Kiranya aku bisa kesana untuk menikmati keindahannya lagi.


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 14 Mei 2014
oleh adminstube
Duta IYF (Inter-Religious Youth Forum)

 

dari Indonesia ke Jerman

 

 

 

 

 

 

Angga Yudhiyansyah, pemuda aktivis kelahiran Kediri, Jawa Timur 29 tahun yang lalu ini selintas merupakan sosok pendiam. Berkacamata agak tebal dengan sorot mata yang tajam menyampaikan pesan bahwa dia seorang yang berkemauan keras, serius tetapi juga hangat dalam setiap topik pembicaraan, terlebih yang menyangkut pembelaan terhadapa kelompok minoritas yang teraniaya dan tersingkir di tiga kota yakni, Yogyakarta, Cilacap dan Solo.

 

 

 

 

Lulusan CRCS (Center for Religious and Cross Cultural Studies), Gadjah Mada University, tahun 2010-2012, Angga banyak mendapat bekal dalam permasalahan pemahaman mengenai Tuhan dan interpretasinya sesuai dengan keragaman agama yang ada di dunia. Sebagai seorang muslim yang taat diapun belajar bagaimana agama lain mencoba mengkomunikasikan Tuhan dengan berbagai perasaan dan bahasa masing-masing.

 

 

 

Tergabung sebagai relawan di SMI (Social Movement Institute), dalam aktivitas pendampingannya Angga mencoba memetakan apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah, para pemimpin agama dan masyarakat pada umumnya untuk mengatasi permasalahan yang ada terutama masalah-masalah yang melibatkan aliran keagamaan yang berbeda-beda.

 

 

 

Karena sepak terjang dalam permasalahan-permasalahan tersebut, Angga dan dua kandidat lain yakni Firly Annisa (Rumah Sinema) dan Lidia Nofiani (LSIP) terpilih menjadi kandidat yang diajukan oleh Stube HEMAT Yogyakarta kepada panitia IYF di Jerman, yang pada akhirnya memilih Angga sebagai salah satu fasilitator IYF yang akan:

 

 

 

 

 

  • Membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka mengenai MDGs dan membantu mengembangkan tema dan struktur dari IYF di tahun 2015,
  • Bertindak sebagai fasilitator, pemimpin diskusi atau pemateri selama penyelenggaraan forum,
  • Menyebarluaskan pemberitaan mengenai IYF di Indonesia dan membantu memimpin rombongan menghadiri konferensi tahun 2015,
  • Memotivasi masyarakat untuk ambil bagian dalam MDGs,
  • Membangun komunikasi dengan tim perencanaan yang lain selama periode 2014-2015.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta mengucapkan selamat bekerja dan melayani untuk Angga Yudhiyansyah, semoga keberangkatan ke Jerman Juli 2014 untuk mempersiapkan forum di tahun 2015 boleh berjalan dengan baik dan boleh membawa dampak positif untuk kemanusiaan. Tuhan memberkati!***


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 6 Mei 2014
oleh adminstube
PELATIHAN PERTANIAN ORGANIK DAN KERAGAMAN PANGAN

 

Menggali Ideologi Pangan Kita

 

Wisma Pojok Indah, 2 – 4 Mei 2014

 

 

 

 

 

 

“Salut!”, ungkapan ini layak diberikan kepada peserta pelatihan Pertanian Organik: Keragaman Pangan yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta, mengingat topik pertanian biasanya kurang diminati oleh kaum muda. Namun sebaliknya, tiga puluh mahasiswa dari berbagai kampus dengan antusias mengikuti pelatihan yang bertema ‘Menggali Ideologi Pangan Kita.’ Diselenggarakan Jumat – Minggu, 2 – 4 Mei 2014 di Wisma Pojok Indah Condongcatur, Yogyakarta, pelatihan ini mencoba menggugah ketertarikan dan kesadaran kaum muda mahasiswa terhadap pertanian, khususnya masalah pangan di Indonesia.

 

 

 

 

 

Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., Direktur Stube-HEMAT mengungkapkan potensi bencana pangan yang dihadapi Indonesia dan bahkan dunia, karena populasi yang terus bertambah tidak diimbangi pertambahan produksi pertanian, namun sebaliknya lahan pertanian berkurang karena dikonversi menjadi industri dan pemukiman. Untuk itu sangat penting bagi kita semua menggali ideologi atau konsep berpikir yang menjadi dasar bagi kita dalam mengkonsumsi pangan. Contoh yang sederhana adalah kita seharusnya merasa bangga dengan mengkonsumsi produk makanan ataupun buah lokal dibanding produk impor.

 

 

 

 

Peran Pemerintah dalam Membangun Ketahanan dan Keragaman Pangan diulas secara mendalam oleh Dr. Ir. F. Didiet Heru Swasono. M.P., dekan Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan anggota Dewan Ketahanan Pangan DIY. Pemerintah memang memiliki perangkat regulasi secara sistematis dalam membangun ketahanan pangan, namun keragaman pangan belum dikembangkan optimal. Contohnya, masyarakat Indonesia diseragamkan dengan makan beras, sedangkan tidak semua kawasan di Indonesia cocok untuk menanam padi, namun lebih cocok untuk jagung, sagu, ubi jalar maupun sumber pangan pokok lainnya.

 

 

 

 

TO. Suprapto dari Joglo Tani membongkar paradigma peserta, awalnya mereka menganggap bahwa pertanian tidak memiliki prospek dan tidak diminati oleh kaum muda khususnya mahasiswa, namun jika ditekuni pertanian bisa menghasilkan, bahkan meskipun dilakukan oleh mahasiswa yang tidak belajar di bidang pertanian. Ada empat jenis peluang usaha, antara lain: pertama, usaha pembibitan, dengan memperbanyak bibit, baik secara vegetatif atau generatif, kemudian menjadi bibit, lalu dijual. Contoh bibit sayuran, bibit ikan, penetasan ayam atau itik. Kedua, usaha produksi, yakni mengadakan bibit selanjutnya dibudidayakan, dan hasil produksinya dijual. Contohnya cabe dan ayam kampung. Ketiga, usaha pascapanen, yaitu usaha membeli produk orang lain kemudian diolah dalam bentuk dan rasa yang  lain lalu dijual. Contoh kripik singkong, abon lele, peyek bayam, telur asin. Keempat adalah pemasaran, yaitu membeli hasil produksi orang lain lalu dijual tanpa mengubah bentuk dan rasa. Selain itu TO Suprapto mendorong mahasiswa membangun pola pikir mandiri pangan dengan memetakan potensi diri dan daerahnya, dilanjutkan dengan bertindak, melakukan aktivitas sederhana berkaitan pertanian di lingkungan terkecil, di keluarga, misalnya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran, paling tidak kebutuhan sayuran bisa dipenuhi dari pekarangan sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan ini juga memperkenalkan keragaman pangan nusantara dengan menghadirkan menu daerah asal peserta, antara lain, dari Maluku dan Sulawesi yang mengolah papeda dan sayur ikan kuah kuning. Peserta dari Lampung menghadirkan seruit, nasi jagung, terong dan ikan bakar. Peserta dari Kalimantan menyiapkan minuman yang cukup unik yaitu es lidah buaya. Tak ketinggalan  NTT dengan jagung katema, urap daun singkong dan sambal teri. Jagung katema berbahan jagung, kacang hijau dan kacang tanah yang direbus dengan santan. Meskipun berasal dari berbagai daerah, peserta antusias dan mengapresiasi keragaman makanan tersebut dengan mencicipi semuanya.

 

 

“Kita patut bersyukur karena kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengolah bumi ini, dan kita mesti memelihara dengan penuh tanggung jawab, salah satunya dengan bertani secara organik”, pesan Pdt. Kriswoyo, S.Si dalam ibadah Minggu. Di akhir acara, peserta mengungkapkan rencana  yang akan mereka lakukan setelah pelatihan ini, antara lain: memanfaatkan pekarangan kost untuk menanam sayuran, memanfaatkan plastik bekas untuk polibag, tidak mengkonsumsi bahan pangan dan buah impor dan mengadakan diskusi tentang pertanian.

 

 

 

 

Rosita Suri Leon, mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa prodi Pendidikan Matematika dari Atambua, Belu, NTT mengatakan, “Di pelatihan ini saya mendapat informasi  baru, dan ingin mencoba melakukan apa yang telah didapatkan. Semuanya berjalan baik tapi ada beberapa kegiatan yang kurang tepat waktu.” (TRU)

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 28 April 2014
oleh adminstube
Pelatihan Pertanian Organik dan
Keragaman Pangan
Eksposur Joglo Tani
Sabtu, 26 April 2014
 
 
Sabtu 26 April 2014 Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak mahasiswa melakukan eksposur untuk belajar langsung di lokasi pertanian Joglo Tani, dengan harapan bahwa mahasiswa yang notabene tidak belajar pertanian mengalami pencerahan. Pencerahan yang terjadi diharapkan bisa memantik dan menumbuhkan minat pada pertanian untuk memiliki keberpihakan atas persoalan yang ada di dunia pertanian sekaligus bisa mengembangkan daerah asalnya.
 

 

Joglo Tani merupakan komunitas tani yang dirintis oleh TO Suprapto dengan membangun sistem pertanian terpadu yang melibatkan masyarakat, sehingga mereka merasa menjadi bagian di dalamnya. Joglo Tani memiliki semangat desa berdaulat pangan, membentuk sistem pertanian terpadu dari hulu hingga hilir sebagai sistem mandiri pangan serta mendorong terbentuknya pola konsumsi masyarakat yang bersumber pangan lokal.
 

 

Eksposur diawali dengan masing-masing peserta mengungkapkan apa yang menjadi makanan favoritnya, juga menghitung rata-rata biaya makan per hari, selama satu bulan. Jawaban peserta yang bervariasi mulai dari sayuran, nasi goreng, ikan, dan nasi kucing, menghasilkan kalkulasi pengeluaran sekitar 300 ribu – 900 ribu per bulan. Hal ini menunjukan bahwa kebutuhan konsumsi pangan per orang itu sangat tinggi dan perlu disikapi secara serius supaya tidak terjadi bencana kekurangan pangan di masa depan. TO Suprapto juga mengajukan beberapa pertanyaan yang menggugah peserta seperti; apa tujuan belajar di Yogyakarta dan sudahkah peserta mampu mandiri selama berada di Yogyakarta? Ia mengajak peserta yang sebagian besar berasal dari luar Jawa, melihat dan mengembangkan potensi dirinya selama berada di Yogyakarta dan jeli melihat peluang pengembangan di daerah asal mereka. Khusus di bidang pertanian, TO Suprapto menekankan bahwa petani menjadi pihak yang kurang beruntung, karena sejak penyediaan bibit, pupuk dan distribusi produk sudah membutuhkan biaya tinggi, namun ironisnya mereka tidak bisa menentukan harga jual produk panen mereka sendiri.
 
 
Selanjutnya peserta diajak berkeliling di kawasan Joglo Tani dimana kolam ikan diisi ikan nila, mujair dan gurami. Air dari selokan dialirkan ke kolam ikan, kemudian ke kandang anak itik, selanjutnya dialirkan ke kandang itik besar dan akhirnya kembali ke selokan. Di sekeliling kolam dimanfaatkan untuk menanam kangkung dan sayuran lainnya seperti terong, tomat, serai dan seledri. Kotoran sapi sebagai biogas untuk menghasilkan listrik dan botol bekas untuk menanam sawi dan seledri.
 

 

Yulius Lero, mahasiswa APMD dari Sumba bertanya, “Pertanian di sini sangat istimewa, dibanding Sumba, masyarakat belum kreatif, sulit membentuk kelompok dan lahan kosong belum dimanfaatkan dengan baik. Bagaimana cara memulainya?” TO menjawab, “Jika pulang nanti, teman-teman harus memulai dulu, memberi contoh, melakukan perubahan dari diri sendiri.” Pascah, mahasiswa STAK Marturia dari OKU Timur Palembang menanyakan bagaimana supaya pertanian berhasil dan tidak dijauhi masyarakat, karena pernah terjadi ketika ada seseorang yang perikanannya berhasil, kolamnya dilempar obat sehingga ikannya banyak yang mati. Bagaimana mengatasinya? TO Suprapto menyarankan bahwa sebaiknya kita jangan bergerak sendiri, bentuk kelompok sehingga menjadi sebuah gerakan bersama, karena itu sosialisasi itu penting. Mulailah dengan mengganti ‘AKU’ dengan ‘KITA,’ intinya adalah kumpulkan masyarakat, motivasi dan gerakkan. (TRU)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 20 April 2014
oleh adminstube

 


PUBLIKASI
PROGRAM PERTANIAN ORGANIK: KERAGAMAN PANGAN
 
Sebuah rangkaian pelatihan mahasiswa dan kaum muda untuk melihat permasalahan pertanian yang terus menerus terjadi di Indonesia, menumbuhkan kesadaran mereka terhadap pentingnya kemandirian pangan, keanekaragaman pangan dan kelestarian lingkungan, dan mendorong mereka melakukan tindakan nyata berpihak pada pertanian.
 
Tema: Menggali Ideologi Pangan Kita
 
Materi-materi:
 
  1. Pengenalan Stube-HEMAT dan kegiatannya
  2.  Brainstorming – Diskusi kelompok masalah pertanian dan pangan berbasis berita media/koran.
  3. Brainwashing – Membongkar pola pikir tentang pertanian instan, kimia, menjadi pola pikir pertanian mandiri, berbasis lokal dan pro lingkungan.
  4. Mengungkap Peran Pemerintah dalam Membangun Ketahanan dan Keragaman Pangan.
  5. Membuka Peluang Berkait Bidang Pertanian: Ekonomi (efisiensi belanja dan peningkatan pendapatan). Budaya (melestarikan nilai-nilai kearifan lokal). Sosial (memperkuat relasi antar warga masyarakat). Alam (terjaganya kelestarian alam).
  6. Menggugah Keterpanggilan Kaum Muda untuk Kemandirian Pangan melalui Pertanian Organik dan Keragaman Pangan (Rencana Aksi Peserta).
  7. Keragaman Olahan Pangan Lokal Nusantara.
  8. Alternatif Kegiatan Mahasiswa Berbasis Pertanian (Follow-UP/Rencana Tindak Lanjut.

 

Fasilitator:
TO Suprapto (Joglo Tani, Sleman, Yogyakarta)
Dr. Ir. F. Didiet Heru S. M.P. (Univ Mercu Buana – Dewan Ketahanan Pangan DIY).
Team Stube-HEMAT Yogyakarta
 
Jumat – Minggu, 2 – 4 Mei 2014
Di Wisma Pojok Indah
Jalan Kubus, Tiyasan, Condongcatur
(Terminal Condong Catur ke utara 2 km)
 
Kontribusi Rp 25.000,00
Penginapan, Akomodasi, Materi, Sertifikat
Subsidi Transportasi
 
Kontak Team Stube-HEMAT Yogyakarta

Trustha, Vicky, Stenly, Sofie, Loce

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 14 April 2014
oleh adminstube
OBROLAN MAHASISWA

 

TENTANG PERTANIAN KITA

 

Omah Limasan, 12 April 2014

 

 

 

 

 

 

Meski pertanian memegang peran yang sangat penting untuk kelangsungan hidup bangsa ini, bagi kalangan muda dan mahasiswa, ada kemungkinan pertanian dianggap topik yang tidak menarik. Indonesia dengan populasi 245 juta jiwa, pasti membutuhkan persediaan pangan yang cukup besar terutama beras. Ketergantungan pada beras ini menjadi sebuah ironi di tengah kekayaan potensi keragaman pangan dan pertanian yang dimiliki. Untuk itu seluruh komponen bangsa ini harus secara cerdas melihat kembali dan mengembangkan  potensi pangan non beras Indonesia. Selain itu, pertanian Indonesia juga menghadapi masalah lain, seperti penggunaan bahan kimia sintetis, konversi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan industri, serta mudahnya impor pangan.

 

 

 

 

Merespon permasalahan di atas dan mengawali program pelatihan Pertanian Organik mengenai Keragaman Pangan, maka pada Sabtu, 12 April 2014 Stube-HEMAT Yogyakarta bersama belasan mahasiswa dari berbagai kampus lintas jurusan saling belajar mengenai pertanian dengan membaca dan memberikan pendapat terhadap berita-berita tersebut, serta dikaitkan dengan yang terjadi di daerah asalnya. Beberapa topik berita tersebut adalah Ancaman Bencana Pangan, Kegagalan Swasembada Pangan, Impor Pangan Makin Leluasa, Pestisida dan Keliru Pikir Petani, Tersingkir dari Tanah Sendiri, dan Bertolak dari Pohon Buah-buahan.

 

 

 

 

 

Noel, mahasiswa APMD asal Alor mengungkapkan,”Pertanian di Alor belum dikelola secara optimal, masyarakat mengolah lahan hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, belum sampai taraf produksi untuk mensuplai pasar.” Sementara itu Christian, mahasiswa Informatika UKDW asal Kalimantan Barat mengungkapkan, “Lahan pertanian Kalimantan banyak dikonservasi menjadi perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit demi mendongkrak pendapatan daerah.” Selanjutnya Yarti, mahasiswi APMD asal Sumba mengungkapkan, “Budaya gotong royong masih dilakukan ketika menggarap sawah di Sumba Barat Daya. Namun yang mengherankan penggunaan pestisida kimia justru dilakukan oleh kalangan terdidik dengan alasan biayanya murah dan praktis.” Hery Gardjalay, mahasiswa dari Dobo, Maluku Tenggara yang kuliah di fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta mendiskusikan berita pemanfaatan pesisir kepulauan Seribu untuk buah-buahan, sementara keadaan daerah asalnya yang sebagian besar kawasan pesisir belum dimanfaatkan secara optimal demi peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu penyebabnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Obrolan Santai ini pun menghasilkan resume, antara lain: pertama, merebaknya konversi lahan pertanian untuk industri dan perumahan ini harus disikapi serius oleh pemerintah melalui penegakan regulasi alih fungsi lahan maupun konsep tata ruang kewilayahan. Kedua, pemerintah harus berkomitmen keberpihakan kepada para petani melalui regulasi dan pendampingan yang berkelanjutan untuk meningkatakan kualitas sumber daya manusia, khususnya petani. Ketiga, mengembangkan diversifikasi pangan khususnya pangan lokal nusantara dengan melibatkan akademisi dan praktisi untuk terjun langsung dan berinteraksi dengan masyarakat. Keempat, menggalakkan pertanian organik berbasis masyarakat demi kelangsungan ekosistem dan lingkungan. Kelima, perlu adanya rintisan gerakan pembaharuan kaum muda untuk mencintai pertanian. (TRU)


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 28 Maret 2014
oleh adminstube
ALOR, Aku Datang!

 

 

 

 

 

 

Alor, sebuah pulau kecil dengan luas 2.119 km², merupakan salah satu dari 92 pulau terluar di Indonesia, terletak di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara. Dengan titik tertinggi 1.839 m, pulau ini dibatasi oleh Laut Flores dan Laut Banda di sebelah utara, Selat Ombai di selatan, serta Selat Pantar di barat. Pulau Alor merupakan salah satu dari dua pulau utama di Kabupaten Alor. Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Di pulau ini terdapat Kota Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor.

 

 

 

 

Di tempat inilah Friskal Gustiani Koho, atau yang dipanggil Ika, melayani GBI Kalabahi Alor. Dengan bekal studi theologia yang diselesaikan di Yogya dan berbagai pelatihan yang diikutinya di Stube HEMAT Yogyakarta, membuatnya optimis akan pelayanan yang dilakukan. Sebagaimana pengalaman yang dimiliki maka fokus pelayanan yang dilakukan berkaitan dengan anak-anak dan orang muda. Memulai pelayanan di tempat baru bukanlah hal yang mudah, tetapi satu keyakinan yang dimilikinya akan pentingnya wadah kegiatan bagi anak muda Alor sebagaimana kegiatan di Stube HEMAT, maka Ika mencoba membuat terobosan dan berjejaring.

 

 

 

 

 

 

 


Meskipun anak-anak muda Alor memiliki kecenderungan untuk hijrah ke Kupang, sebagai kota propinsi, untuk melanjutkan studi ataupun bekerja, beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Tribuana, IKIP Malang kelas Kalabahi, dan rintisan STT merupakan tempat mahasiswa berkumpul yang bisa menjadi jejaring pelayanan untuk anak muda.

 

 

Kekuatan manusia tidaklah seberapa, tetapi kekuatan Tuhan selalu memberi topangan dan menunjukkan arah jalan. Selamat melayani dan berkarya!


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 16 Maret 2014
oleh adminstube
Menjadi Pemilih Cerdas!

 

           


 

Apa yang saudara-saudara lakukan ketika menentukan pilihan? Melihat baiknya? Menimbang untungnya? Atau begitu saja menetak pilihan secara acak? Menentukan pilihan itu memang sulit tetapi harus kita lakukan. Menentukan pilihan haruslah disertai dengan pertimbangan sehingga resiko yang diterima dapat diminimalisir. Memilih pasangan hidup atau memilih calon pemimpin, memilih ketua kelas, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, atau bahkan memilih pemimpin negeri kita, semuanya membutuhkan pertimbangan. Lalu, kita butuh pertimbangan seperti apa?

 

 

 

Tentukan Standar!

 

Untuk menentukan sebuah pilihan maka kita harus punya standar terlebih dahulu. Misalnya pilihan kita harus baik dan mendatangkan kesenangan. Standar lain misalnya seorang ketua kelas haruslah disiplin ataupun patuh terhadap peraturan. Ia harus tekun dan menjadi teladan. Ada banyak standar dan kita harus menentukan beberapa. Pada intinya kita harus punya standar untuk menentukan siapa yang akan kita percayai. Memilih sama artinya dengan mempercayai

 

Tentukanlah standar bagi orang-orang yang kamu percaya sebagai pemimpin kita nantinya. Apakah sang calon pemimpin itu anti-korupsi, apakah pro-gender, atau apakah pro-Inklusi. Masing-masing kita punya standar dan tidak selalu sama. Setiap calon juga punya kapasitas kepedulian yang berbeda.

 

 

 

Kenali Pilihanmu!

 

Mengenali pilihan akan lebih banyak mendatangkan keuntungan daripada kita tidak mengenal pilihan itu sama sekali. Seseorang akan merugi ketika pilihannya tidak tepat. Memilih secara acak tanpa mengenali latar belakang sang calon akan beresiko tinggi. Pemimpin yang sulit dilihat latar belakangnya adalah pemimpin misterius. Bila pada hari kemarin, atau pada masa lalu, seorang calon pemimpin kita tidak disiplin dalam hidupnya maka bukan tidak mungkin bila ia akan bermalas-malasan ketika diserahi mandat memimpin kita.

 

Mengenali calon akan mendatangkan banyak keuntungan. Kita bisa mengenal sang calon dari saudara dekat ataupun dari media. Kita mengerti latar belakang calon pendamping kita maka kita akan lebih mudah memahami pola perilakunya di masa depan. Pemimpin yang sudah korup atau melakukan pelanggaran hukum maka mereka bukan tipikal pemimpin kita. Pemimpin kita yang sesungguhnya haruslah benar-benar memiliki jiwa melayani, berani menegur dan menegakkan hukum, dan mau bekerja keras.

 

 

 

Pemilih Rasional

 

Setelah kita memiliki standar dan memiliki kemampuan untuk melihat latar belakang, kita akan disebut sebagai pemilih rasional. Pemilih rasional punya standar yang baik bagi pilihannya. Pemilih rasional mampu untuk melihat latar belakang dari pilihan itu.

 

Pada PEMILU 2014 ini, Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak saudara-saudara untuk menjadi pemilih rasional. Metode untuk menetapkan standar dan melihat latar belakang sang calon ini dinamakan political tracking. Metode ini sudah dibagikan pada Jumat (14/3) yang lalu, di Persekutuan Mahasiswa Kristen Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (PMK STTL). Kelompok yang membagikan metode ini adalah David Theo (STTL), Lius (APMD), dan Johain (UJB). Didampingi dengan Tim Kerja Stube-HEMAT Yogyakarta, kelompok follow-Up ini membagikan materi yang ia dapatkan pada pelatihan beberapa waktu yang lalu.

 

 

Kiranya metode ini berguna bagi kita semua. Setidaknya, cara sederhana dalam menentukan pemimpin ini diketahui oleh keluarga ataupun saudara dekat kita. Kelompok Follow-up senantiasa bergiat untuk mengajarkan metode ini. Harapannya tentu semakin banyak orang disadarkan dan mampu menjadi pemilih cerdas dan rasional. Kiranya Indonesia semakin maju dan makmur dengan pemilih yang semakin pintar! (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 5 Maret 2014
oleh adminstube
Yogyakarta Rumah Kita Bersama:

 

Sarasehan HUT GKI Gejayan ke-14

 

           

 

 

 

 

Dalam rangka HUT GKI Gejayan ke-14, gereja ini menyelenggarakan sarasehan bertajuk “Yogyakarta Rumah Kita Bersama” yang digelar pada 3 Maret 2014. Beberapa tokoh FPUB lingkungan DIY hadir dalam acara ini. Materi dan ungkapan yang disampaikan beragam sesuai dengan penghayatan iman masing-masing.

 

 

 

 

Tokoh yang hadir disana diantaranya GKR. Hemas, GBPH. H. Prabukusumo, Bapak Sri Purnomo, M. Si, KH. Abdul Muhaimin, Bante Sasanabodi, Rm. Yosef Suyatno Pr., KH. Toha Abdulrahman. Acara disemarakkan oleh kelompok musik Koesplus (De Guder) yang berasal dari Padukuhan Soropadan, Condong Catur, dan kelompok Posyandu Lansia Sejahtera dari padukuhan yang sama. Kelompok Posyandu Lansia ini menyanyikan lagu Menanam Jagung, Gundul-gundul pacul, dan dari Sabang Sampai Merauke.

 

 

 

 

Ketua Majelis GKI Gejayan, Ibu Rina Lusiana, memberikan sambutan dengan mereview peringatan satu tahun yang lalu. Pada tahun yang lalu, Sri Sultan HB X hadir dan menyambut baik gagasan “Yogyakarta Rumah Kita Bersama”.

 

 

 

Acara dibuka oleh GKR. Hemas dengan beberapa poin disampaikan. Berkah kemajemukan dan pluralisme sebagai kekuatan yang menyejahterakan. Ketidakadilan menggusur aliran kepercayaan. Jangan hanya mulut saja berbicara pluralisme, kita jaga city of tolerance. Ancaman konflik selalu ada. Gusti Hemas menambahkan bahwa tidak ada mayoritas dan minoritas di Indonesia.

 

 

 

Dalam acara ini, Stube-HEMAT diundang dan mengutus dua orang yaitu Stenly Recky Bontinge dan Yohanes Dian Alpasa.

 

 

 

Menurut Yohanes, ada banyak hal yang perlu diapresiasi. Pertama, upaya GKI Gejayan untuk menyelenggarakan sarasehan. Inilah ruang untuk berinteraksi, bertatap muka, dan saling mengenal satu sama lain. Sekalipun acara diselenggarakan di Gedung Gereja, suasana harmonis ditunjukkan disana: ada suster yang menyanyikan lagu salawat, pemuda masjid berpadu suara dengan pemuda gereja.

 

 

 

Kedua, diskusi bersama antar pemuka agama ini merupakan tindakan yang mulia. Para pemuka menyamakan visi bersama dalam menyikapi hajatan Nasional PEMILU 2014. Disinyalir terdapat ancaman dalam pemilu ini. Dialog dan bicara bersama antar pemeluk merupakan salah satu cara efektif untuk menjaga kedamaian. Elemen-elemen masyarakat dapat meneladani upaya ini.

 

 

 

Ketiga, gereja tampil tidak hanya dalam dialog tetapi dalam upaya merayakan kebudayaan. Merayakan kebudayaan berarti menggali, mengunggah, dan mengaktualisasikan kembali dalam hidup hari ini. Budaya yang dirayakan adalah budaya berbahasa, bertutur sopan, laku arif, dan berkata tindak dengan sopan.

 

 

 

Visi Stube-HEMAT adalah mengembangkan kaum muda untuk berkarya nyata. Maka ketiga hal yang diapresiasi ini sejalan dengan visi tersebut.

 

 


Ada banyak hal yang bisa dipelajari. Setiap perayaan ulang tahun bukan hanya pertambahan usia saja tetapi juga pertambahan kedewasaan dan hikmat. Umat yang semakin dewasa adalah umat yang semakin berbuah. Ada karya nyata dalam masyarakat baik dalam mengembangkan budaya, perdamaian, peradaban dan kritik terhadap perkembangan itu. Kiranya setiap orang beriman dapat berguna bagi sesama, bangsa dan Negara. (YDA)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 2 Maret 2014
oleh adminstube
PERKENALAN TEAM STUBE-HEMAT YOGYAKARTA

 

DENGAN PENGURUS KAMPUNG NYUTRAN RW 19/RT 59

 

Sabtu, 1 Maret 2014

 

 

 

 

 

 

‘Tak Kenal maka Tak Sayang’ demikian pepatah yang sering didengar. Ketika seseorang atau lembaga tidak dikenal atau tidak diketahui maka ia tidak mendapat perhatian dan kasih sayang. Karena itu Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga yang melakukan pendampingan kepada mahasiswa Kristiani dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, merasa perlu untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat kampung Nyutran, di mana sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta berada.

 

 

 

 

Sabtu, 1 Maret 2014 bertempat di rumah salah satu warga, Bapak Muh. Pramono Irianto, M.Sn, diadakan pertemuan pengurus kampung Nyutran, RW 19/RT 59 dengan Team Stube-HEMAT Yogyakarta, terdiri dari Ariani Narwastujati, Trustha Rembaka, Vicky Tri Samekto, Stenly R. Bontinge, Sarloce Apang, Sofia Atalia dan Yohanes D. Alpasa.

 

 

 

 

 

 

Dalam pertemuan tersebut Ibu Ariani Narwastujati selaku Direktur Stube-HEMAT Yogyakarta memperkenalkan Stube-HEMAT dengan harapan kiranya keberadaan Stube-HEMAT di kampung Nyutran bisa diterima dengan baik oleh masyarakat dan bahkan bekerjasama memberikan manfaat untuk masyarakat setempat. Lembaga ini juga bisa dipakai sebagai media belajar dan berinteraksi lintas budaya karena aktivis Stube-HEMAT sebagian besar dari luar Pulau Jawa.

 

 

 

 

Selain perkenalan dengan team Stube-HEMAT Yogyakarta, pertemuan yang dipandu oleh Bapak Heniy Astiyanto, SH, selaku ketua RT juga membahas mengenai masalah genangan air yang selalu terjadi di jalan-jalan kampung Nyutran pascahujan deras, masalah tower seluler, arisan warga dan kerja bakti kampung.

 

 

Pertemuan malam itu ditutup dengan ramah tamah antara warga, pengurus dan team Stube-HEMAT dengan makan bersama. Semoga kampung Nyutran semakin maju dan bermartabat dan Stube boleh menjadi bagian di dalamnya. (TRU)


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 27 Februari 2014
oleh adminstube
Just Check It Out!!

 

 

 

 

Ketika...

 

 

 

  • ... petualangan jadi hobi kamu ...
  • ... berada di budaya berbeda jadi tantangan kamu...
  • ... melayani jadi panggilan hati kamu...
  • ... menjelajah di pulau lain jadi impian kamu...
  • ... dan ...
  • ... berbagi ilmu jadi kesukaan kamu...

 

 

 

 

 

Kamu orang yang kami cari!!!!

 

 

 

 

 

Mari bergabung dalam Exploring Sumba.

 

Sebuah program Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengirim mahasiswa aktivis ke Stube-HEMAT Sumba selama 1 bulan. Mahasiswa yang diutus akan membagikan kemampuan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada mahasiswa dan kaum muda di Sumba, antara lain:

 

 

 

  • Membuat diskusi dengan topik-topik aktual
  • Berinteraksi dengan mahasiswa di desa
  • Membantu mahasiswa belajar, membangun dan mengelola jejaring
  • Membagi pengetahuan dan keterampilan yang bisa diaplikasikan di daerah setempat.

 

 

 

Syarat-syarat:

 

 

 

  • Pernah mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta.
  • Berasal selain dari Sumba.
  • Mengajukan proposal dan dipresentasikan pada team Stube-HEMAT Yogyakarta.
  • Mengikuti pembekalan Exploring Sumba.
  • Pernyataan kesanggupan mengikuti kegiatan.
  • Pernyataan tidak mengganggu studi/kuliah.

 

 

 

Kegiatan Exploring Sumba oleh mahasiswa ini akan dilakukan selama satu bulan dan dilaksanakan antara April – November 2014, disesuaikan dengan waktu yang dimiliki oleh mahasiswa yang bersangkutan.

 

 

 

 

Segera kontak Team Stube-HEMAT Yogyakarta


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 19 Februari 2014
oleh adminstube
PROGRAM POLITICS AND SOCIAL ISSUE
POLITIK, EMANG PENTING?!
Hotel Satya Nugraha, Yogyakarta, 14 – 16 Feb 2014
 
 
 
Bangsa Indonesia memaknai tahun 2014 sebagai Tahun Politik dan pesta demokrasi. Tingginya animo masyarakat menyambut pemilu berbanding terbalik dengan tingkat apatis pada mahasiswa. Hilangnya pendidikan politik dan figur elit politik bangsa, disinyalir menjadi biang keladi masalah ini. Akhirnya tak jarang jawaban “gak tau" atau "gak peduli” menjadi jawaban ketika mahasiswa diberi pertanyaan 'apa itu politik'? Padahal, generasi muda inilah yang akan melanjutkan estafet pembangunan bangsa.
 
Demi mengurai masalah ini dan memberikan pencerahan bagi mahasiswa, Stube HEMAT Yogyakarta menggelar Pelatihan Politik dan Isu Sosial, di Hotel Satya Nugraha, Yogyakarta (14/2/2014). Acara yang bertepatan dengan hari valentine dan hujan abu vulkanik erupsi Gunung Kelud ini mengangkat tema 'Politik: Epen-kah? (Emang Pentingkah)', yang menghadirkan narasumber Eko Prasetyo S.H dari Social Movement Instutute, William E. Aipipidely M.A , koordinator nasional UNDEF, Drs. John S. Keban, dan Miftah Adhi Ikhsanto, S.IP, Mi.OP, dosen FISIP UGM.
 

 

 

 

Pelatihan ini kembali merekonstruksi pandangan masing–masing peserta mengenai politik, seperti yang diungkapkan Sih Ell Cahyadi Pamungkas mahasiswa Theologia UKDW, aktivis pemuda GKI Gejayan), “Sebelum mengikuti pelatihan ini, saya tidak tertarik pada politik, karena politik identik dengan permainan kotor para elit politik dan identik dengan premanisme. Namun, setelah mengikuti pelatihan saya sadar bahwa politik itu penting sebagai senjata yang bisa digunakan memperjuangkan keinginan dan tujuan bersama demi kemakmuran rakyat Indonesia. Pemuda sebagai tulang punggung bangsa harus memahami dan mengambil kembali hak politiknya.” Senada dengan hal itu Drs. John. S. Keban (Caleg DPRD Propinsi DIY dari Partai GOLKAR) memotivasi peserta untuk cerdas berpolitik dan menggunakan hak pilih sebaik mungkin. “Mahasiwa yang ingin menjadi obor kehidupan harus melek politik, sebab dalam hidup sehari–hari politik itu selalu muncul apalagi jika diperhadapkan pada visi besar untuk memperjuangkan kemakmuran bangsa."
 
Melalui acara ini Sofie Atalia, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra selaku tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta dan koordinator program ini mengungkapkan harapannya, “Dengan kegiatan ini saya berharap mahasiswa dapat menyadari akan pentingnya pengetahuan politik, sehingga dapat membantu masyarakat untuk memahami perkembangan politik dewasa ini, dan memiliki bekal menentukan pilihan dalam pemilihan umum. Maka pemerintahan yang demokratis dan berkeadilan sosial dapat terwujud seperti yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945”.
 
 
Pelatihan ini juga memberi pengalaman peserta berinteraksi langsung dengan KPU, Fungsionaris PAN, Fungsionaris Partai Gerindra, dan Eko Suwanto ST, M.Si, Caleg DPRD Propinsi DIY dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Peserta mendapat pencerahan dan kesempatan menggumuli kembali pemahaman politik yang dimiliki selama ini. Salam demokrasi.*** SRB
 
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 6 Februari 2014
oleh adminstube
 
 
 
 
 
Just Check It Out!!
 
Ketika...
 
  • ... petualangan jadi hobi kamu ...
  • ... berada di budaya berbeda jadi tantangan kamu...
  • ... melayani jadi panggilan hati kamu...
  • ... menjelajah di pulau lain jadi impian kamu...
  • ... dan ...
  • ... berbagi ilmu jadi kesukaan kamu...

 
 
Kamu orang yang kami cari!!!!
 
 
Mari bergabung dalam Exploring Sumba.
Sebuah program Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengirim mahasiswa aktivis ke Stube-HEMAT Sumba selama 1 bulan. Mahasiswa yang diutus akan membagikan kemampuan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada mahasiswa dan kaum muda di Sumba, antara lain:
 
  • Membuat diskusi dengan topik-topik aktual
  • Berinteraksi dengan mahasiswa di desa
  • Membantu mahasiswa belajar, membangun dan mengelola jejaring
  • Membagi pengetahuan dan keterampilan yang bisa diaplikasikan di daerah setempat.

 
Syarat-syarat:
 
  • Pernah mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta.
  • Berasal selain dari Sumba.
  • Mengajukan proposal dan dipresentasikan pada team Stube-HEMAT Yogyakarta.
  • Mengikuti pembekalan Exploring Sumba.
  • Pernyataan kesanggupan mengikuti kegiatan.
  • Pernyataan tidak mengganggu studi/kuliah.
 

Kegiatan Exploring Sumba oleh mahasiswa ini akan dilakukan selama satu bulan dan dilaksanakan antara April – November 2014, disesuaikan dengan waktu yang dimiliki oleh mahasiswa yang bersangkutan.
 
 
Segera kontak Team Stube-HEMAT Yogyakarta
 
 
 
 
PROGRAM POLITICS AND SOCIAL ISSUE
POLITIK, EMANG PENTING?!
Hotel Satya Nugraha, Yogyakarta, 14 – 16 Feb 2014
 
 
 
Bangsa Indonesia memaknai tahun 2014 sebagai Tahun Politik dan pesta demokrasi. Tingginya animo masyarakat menyambut pemilu berbanding terbalik dengan tingkat apatis pada mahasiswa. Hilangnya pendidikan politik dan figur elit politik bangsa, disinyalir menjadi biang keladi masalah ini. Akhirnya tak jarang jawaban “gak tau" atau "gak peduli” menjadi jawaban ketika mahasiswa diberi pertanyaan 'apa itu politik'? Padahal, generasi muda inilah yang akan melanjutkan estafet pembangunan bangsa.
 
Demi mengurai masalah ini dan memberikan pencerahan bagi mahasiswa, Stube HEMAT Yogyakarta menggelar Pelatihan Politik dan Isu Sosial, di Hotel Satya Nugraha, Yogyakarta (14/2/2014). Acara yang bertepatan dengan hari valentine dan hujan abu vulkanik erupsi Gunung Kelud ini mengangkat tema 'Politik: Epen-kah? (Emang Pentingkah)', yang menghadirkan narasumber Eko Prasetyo S.H dari Social Movement Instutute, William E. Aipipidely M.A , koordinator nasional UNDEF, Drs. John S. Keban, dan Miftah Adhi Ikhsanto, S.IP, Mi.OP, dosen FISIP UGM.
 

 

Pelatihan ini kembali merekonstruksi pandangan masing–masing peserta mengenai politik, seperti yang diungkapkan Sih Ell Cahyadi Pamungkas mahasiswa Theologia UKDW, aktivis pemuda GKI Gejayan), “Sebelum mengikuti pelatihan ini, saya tidak tertarik pada politik, karena politik identik dengan permainan kotor para elit politik dan identik dengan premanisme. Namun, setelah mengikuti pelatihan saya sadar bahwa politik itu penting sebagai senjata yang bisa digunakan memperjuangkan keinginan dan tujuan bersama demi kemakmuran rakyat Indonesia. Pemuda sebagai tulang punggung bangsa harus memahami dan mengambil kembali hak politiknya.” Senada dengan hal itu Drs. John. S. Keban (Caleg DPRD Propinsi DIY dari Partai GOLKAR) memotivasi peserta untuk cerdas berpolitik dan menggunakan hak pilih sebaik mungkin. “Mahasiwa yang ingin menjadi obor kehidupan harus melek politik, sebab dalam hidup sehari–hari politik itu selalu muncul apalagi jika diperhadapkan pada visi besar untuk memperjuangkan kemakmuran bangsa."
 
Melalui acara ini Sofie Atalia, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra selaku tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta dan koordinator program ini mengungkapkan harapannya, “Dengan kegiatan ini saya berharap mahasiswa dapat menyadari akan pentingnya pengetahuan politik, sehingga dapat membantu masyarakat untuk memahami perkembangan politik dewasa ini, dan memiliki bekal menentukan pilihan dalam pemilihan umum. Maka pemerintahan yang demokratis dan berkeadilan sosial dapat terwujud seperti yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945”.
 
 
Pelatihan ini juga memberi pengalaman peserta berinteraksi langsung dengan KPU, Fungsionaris PAN, Fungsionaris Partai Gerindra, dan Eko Suwanto ST, M.Si, Caleg DPRD Propinsi DIY dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Peserta mendapat pencerahan dan kesempatan menggumuli kembali pemahaman politik yang dimiliki selama ini. Salam demokrasi.*** SRB
 
 
 
 

 




PUBLIKASI
Program Politics and
Social Issue
 
 
Sebuah program pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta dalam rangka membekali kaum muda dan mahasiswa memiliki kemampuan melakukan pengamatan obyektif mengenai Indonesia dalam ranah politik, sosial dan ekonomi di tahun 2014 – 2019.
Pelatihan ini juga menumbuhkan kesadaran kaum muda dan mahasiswa sebagai warga negara terhadap situasi bangsa ini, khususnya berkaitan penyelenggaraan pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang ideal dengan pandangan keadilan kejujuran, kesetaraan, emansipasi, hak azasi manusia, kesejahteraan sosial, kepedulian terhadap lingkungan.
 
Pelatihan:
Jumat – Minggu
14 - 16 Februari 2014
 
di Hotel Satya Nugraha
Jln Sorowajan Baru 16 Yogyakarta
 
Info lengkap:
kontak team Stube-HEMAT Yogyakarta

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 3 Februari 2014
oleh adminstube
Seminar Christianity
Kaum Muda, Beriman & Bertindaklah
Aula LPP Sinode GKJ – GKI Jateng,
Samirono Baru, 1 Februari 2014.
 

 

 
 
Christianity Training merupakan rangkaian pelatihan yang mengungkap respon gereja terhadap permasalahan masyarakat, mendalami paradigma dan bentuk pelayanan gereja berupa diakonia transformatif dan mengetahui potensi dan sejauh mana kaum muda kristiani sebagai bagian dari pelaku pembangunan bangsa mampu berkarya dan berperan terhadap masyarakat.
 
Sabtu, 1 Februari 2014 bertempat di Aula LPP Sinode GKJ – GKI Jateng, Samirono Baru, diadakan seminar dengan tema Kaum Muda, Beriman dan Bertindaklah. Stube-HEMAT menghadirkan 3 fasilitator, Esaol Agustriawan, M.A., Pdt. Paulus Hartono, M.Min dan Andreas Subiyono.
 
Esaol Agustriawan, M.A., dengan tema Menilai Respon Gereja Terhadap Isu dan Permasalahan Masyarakat, menggali partisipasi peserta dalam kegiatan sosial gereja dan mengungkap bagaimana respon gereja terhadap permasalahan sosial masyarakat. Melalui Lukas 10:25-37 tentang perumpamaan orang Samaria yang murah hati, peserta diajak menyebutkan tokoh-tokoh dalam perumpamaan itu dan peran yang dilakukan masing-masing tokoh. Si Korban dan Sang Penolong dalam perumpamaan tersebut menjadi kajian utama. Peserta merenungkan dua situasi berbeda, yaitu “apa yang terjadi dengan Si Penolong jika ia menolong korban” dan “apa yang terjadi dengan Si Korban jika ia tidak ditolong?” Dua situasi ini mendorong peserta melakukan perubahan cara berpikir, awalnya berorientasi pada diri sendiri (situasi pertama) berubah menjadi berorientasi pada orang lain (situasi kedua). Ini menjadi dasar diakonia lebih nyata, yaitu ketika diakonia memiliki orientasi (keberpihakan) pada orang lain.

  

Tema Mengerti Paradigma dan Bentuk Pelayanan Gereja: Diakonia Transformatif disampaikan Pdt. Paulus Hartono, M.Min., bahwa gereja adalah diri orang percaya dan di dalamnya ada tiga aspek saling berkaitan, yaitu iman (sebagai dasar), pertumbuhan, dan tindakan nyata. Dalam transformasi gereja dibutuhkan attitude (sikap), skill (keterampilan), dan education (pengetahuan). Hal yang menarik adalah saat Pdt. Paulus menceritakan pengalaman berinteraksi dengan umat lintas agama, bahkan dengan kelompok garis keras. Ia harus berinisiatif membuka pintu komunikasi, membangun dialog dan mengelola jaringan yang sudah terbangun bahkan bekerjasama dalam karya sosial, membangun rumah layak huni.
 

 

Andreas Subiyono (SHEEP Indonesia) dengan tema Mengetahui Potensi Dan Posisi Kaum Muda Sebagai Bagian Dari Pembangun Bangsa mengharapkan pemuda sebagai penerus bangsa dapat menyikapi dan merespon dan tentunya mampu memecahkan masalah yang dihadapi bangsa ini seperti; pengelolaan sumber daya manusia, pendidikan, pangan, kesehatan, industri, dan sumber daya alam. Di akhir sesi, peserta ditantang  memakai kemampuan intelektualnya berani berkomitmen untuk berkarya nyata mengatasi permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia mulai dari hal yang sederhana. (TRU)
 

 

 

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 28 Januari 2014
oleh adminstube
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Program Pelatihan Christianity

 

 

 

Mari ikut program Christianity Training, sebuah rangkaian pelatihan yang mengungkap respon gereja terhadap isu dan permasalahan masyarakat, mendalami paradigma dan bentuk pelayanan gereja berupa diakonia transformatif dan mengetahui potensi dan sejauh mana kaum muda sebagai bagian dari pembangun bangsa mampu berkarya dan berperan terhadap masyarakat

 

 

 

Tema:
“Kaum Muda: Beriman Dan Bertindaklah!”

 

 
Bentuk:
Seminar sehari, eksposur, dan follow-up

 

Sasaran:
Pemuda Gereja, Mahasiswa Kristen, Aktivis dalam Masyarakat

 

 
Materi:

 

1. Menilai Respon Gereja Terhadap Isu dan Permasalahan Masyarakat

 

2. Mengerti Paradigma dan Bentuk Pelayanan Gereja: Diakonia Transformatif

 

3. Mengetahui Potensi dan Posisi Kaum Muda sebagai Bagian dari Pembangun Bangsa

 

 

 

Pelaksanaan:

 

 

 

Seminar Sehari

 

Sabtu, 1 Februari 2014
di Aula LPPS Samirono Baru Yogyakarta

 

 

 

Eksposur

 

Jumat – Minggu, 7 – 9 Februari 2014

 

Eksposur di Kampung Laut, Cilacap

 

Bersama Romo Carolus
(tokoh pejuang kemanusiaan, motivator)

 

 

 

 

 

Kontak Panitia

 

Stube-HEMAT Yogyakarta

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 28 Januari 2014
oleh adminstube
Pembinaan Guru Sekolah Minggu

 

GKJ Sentolo

 

 

 

Follow-Up Pelatihan Pembangunan Berkelanjutan

 

 

  

 

Mendidik anak-anak sekolah minggu adalah bagian dari permulaan pembangunan karakter dan menjadi bekal kelak hidup dalam masa dewasa…”. Demikian petikan sambutan Stenly, tim kerja Stube-HEMAT Yogyakarta, mengawali pembukaan acara Pembinaan Guru Sekolah Minggu, Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) Sentolo, 26 Januari 2014.

 

Sembilan orang melakukan follow-up berupa pembinaan Guru Sekolah Minggu di GKJ Sentolo. Masing-masing mereka adalah Stenly, Paulus, Resky, Ian, Eva, Deko, Dwi, Yohanes, dan Yanto. GKJ Sentolo terdiri dari dua pepanthan (gereja pos) dan satu induk. Pepanthan Jangkang, pepanthan Tuksono, dan induk Sentolo. Pada bulan Desember 2013 yang lalu, pelayanan khotbah dilakukan di pepanthan Jangkang sementara pelayanan dilakukan di gedung induk Sentolo. Pada tanggal 26 januari 2014 ini, telah dilakukan serangkaian acara dan pembagian materi persiapan mengajar sekolah minggu di gedung Sentolo.



 

Paulus memberikan berbagai trik mempersiapkan materi, aktifitas, dan peraga sekolah minggu. Pertama, materi dipersiapkan dengan tujuan khusus. Jika tema sudah ditetapkan maka guru-guru sekolah minggu wajib mencerna kembali, karena materi dalam buku pembimbing bukanlah bahan jadi. Tugas seorang guru sekolah minggu adalah membuat bahasa buku menjadi bahasa yang dikenal oleh anak-anak setempat mengingat bahasa masing-masing anak berbeda pada setiap lokasi.

 

Kedua, aktivitas berbeda dengan peraga. Aktivitas membantu anak untuk dapat menemukan tindakan aplikatifnya, sementara peraga membantu anak untuk membayangkan contoh kongkritnya. Persiapan aktifitas dan peraga tidak harus mendatangkan dari tempat jauh, apalagi dari kota. Cemara untuk natal ataupun lilin untuk peraga sebenarnya dapat diganti dengan pepohonan ataupun alat lain yang dijumpai di sekitar gereja.
 

Pdt. Gogod mewakili Majelis Jemaat GKJ Sentolo, mengungkapkan pengalamannya dalam menjadi cantrik. Cantrik berarti pemuridan. Sebelum menjadi pelayan Tuhan di Gereja, ia terlebih dahulu belajar menjadi pelayan praktek di GKJ Kotagede.

 

Pembinaan seperti ini dapat bermanfaat bagi semua. Bagi teman-teman Stube, cara-cara untuk memimpin ataupun mengorganisir acara dan membagikan materi bisa dipelajari di sini. Ditambahkan oleh Pdt. Gogod, Guru sekolah minggu mendapatkan masukan berupa materi-materi dan metode ajar. Harapannya adalah sebentar lagi tidak ada lagi guru sekolah minggu yang canggung ataupun enggan mengajar ketika mendapat tugas.



 

Penugasan mengajar sekolah minggu adalah panggilan dan bukan komando yang menjadikan jantung dag-dig-dug, grogi dan gentar sehingga takut mengajar. Dengan pembinaan ini pula, guru-guru sekolah minggu mendapatkan motivasi menyampaikan sukacita Kristus kepada para anak didik.

 

Merespon pembinaan yang dilakukan ini, guru-guru sekolah minggu peserta kegiatan berharap agar pembinaan seperti ini bisa dilakukan berkesinambungan. Teman-teman mahasiswa dari Stube menyambut baik harapan ini, maka bukan tidak mungkin kelompok ini akan datang kembali dan membagikan materi pembinaan sekolah minggu yang kedua.

 

Guna menjaga relasi dan memberi wadah komunikasi, para peserta diberi nomor kontak dan alamat email, sehingga mereka dapat bertanya atau membagikan pengalaman mengajar sekolah minggu. Para mahasiswa Stube merasakan sukacita yang luar biasa karena boleh berbagi pengalaman dengan para jemaat di GKJ Sentolo, mulai dari anak-anak sampai para guru sekolah minggu. Kiranya kegiatan ini boleh menjadi berkat bagi semua. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 18 Januari 2014
oleh adminstube
Pembekalan Siswa SMK BOPKRI 2 YOGYAKARTA
PERCAYA DIRI DAN LAKUKAN YANG TERBAIK
Guest House Duta Wacana, 15 – 16 Januari 2014
 
Peserta pembekalan siswa bersama pamong guru dan team Stube-Hemat Yogyakarta
  
Keberhasilan dalam menjalani rangkaian ujian akhir di Sekolah Menengah Kejuruan BOPKRI 2 Yogyakarta merupakan harapan yang tersemat dalam setiap benak siswa dan para guru. Keberhasilan tidak diraih dengan mudah, karena merupakan hasil proses belajar selama tiga tahun.
 

 


Masa ujian akhir menjadi masa mendebarkan bagi setiap siswa. Siswa berada dalam pilihan antara lulus atau gagal. Tantangan berlanjut ketika lulus, karena mereka akan berhadapan dengan persaingan dalam dunia kerja dan perjuangan hidup. Merespon situasi tersebut, pihak sekolah mengadakan pembekalan berupa refleksi dan penguatan, melihat kembali keberadaan diri dengan kelebihan dan kekurangan, apa yang telah terjadi diwaktu lalu serta apa yang bisa dilakukan untuk masa depan
 


Stube HEMAT Yogyakarta kembali dipercaya pihak sekolah bersama-sama melakukan pendampingan dan penguatan mental, spiritual serta memotivasi siswa menghadapi UAS dan UAN. Kegiatan yang diikuti 41 siswa ini diselenggarakan Rabu – Kamis, 15 – 16 Januari 2014 di Guest House Duta Wacana. Vicky Tri Samekto, salah satu tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta membuka acara dan memperkenalkan lembaga dan kegiatan-kegiatannya. Peserta juga menuliskan harapan dan kekuatiran yang ada dalam benak mereka. Yohanes D. Alpasa, tim kerja Stube-HEMAT Yogyakarta, melanjutkan dengan aktivitas untuk mengakrabkan antara tim Stube dengan para peserta. Selain itu, peserta diminta menggambarkan keberadaan dirinya dengan kelebihan dan kekurangannya dalam suatu simbol dan menceritakan apa yang mereka gambarkan.
 
 
Keesokan harinya, Sofia Atalia, tim kerja Stube-HEMAT Yogyakarta, membagikan analisa S-W-O-T (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat) yang dimiliki dan dihadapi oleh peserta.
 
Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta, membagikan prinsip manajemen waktu dan membangun komitmen di dalamnya. Peserta menuliskan aktivitas dalam satu hari dan menceritakannya di hadapan teman-temannya. Ternyata ada hal-hal yang terungkap ketika peserta menceritakan aktivitas kesehariannya. Penyampaian yang dilengkapi dengan video dan aktivitas interaktif ini ditutup dengan refleksi pribadi dalam iringan lagu Semua Baik, peserta diajak merenungkan kembali perjalanan hidup yang telah dijalani, bahwa waktu sangatlah berharga dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kemudian peserta mengingat kembali dan menyebutkan orang-orang yang mendukung perjuangan mereka. Beberapa peserta merasakan sentuhan pribadi dan menangis ketika mengingat kembali waktu-waktu yang telah mereka jalani, serta betapa keras perjuangan orang-orang yang tulus mendukung mereka, orang tua, keluarga, dan para guru.
 
Bernadeta Arum, salah satu peserta menceritakan aktivitas sehari-harinya
 

 

Komitmen para peserta untuk memberikan yang terbaik demi orang-orang yang mendukung mereka, menjadi pesan penutup dalam kegiatan pembekalan ini. (TRU)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 1 Januari 2014
oleh adminstube

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta

 

tahun 2014 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook