pada hari Minggu, 18 September 2016
oleh adminstube
Anak Muda Melihat Realita
PROGRAM MASALAH GENERASI MUDA
Omah Limasan, 17 September 2016
 
 
“Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang populasi penduduknya sangat banyak, yaitu mencapai 255 juta jiwa. Kelompok usia remaja (10-24 tahun) mencapai 25 % total penduduk, yaitu sekitar 65 juta jiwa. Jumlah populasi remaja yang tidak sedikit ini menjadi penting bagi keberadaan suatu negara, mengapa? Karena di tangan merekalah masa depan suatu negara,” ungkap Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta dalam diskusi awal program Masalah Generasi Muda yang diadakan hari Sabtu, 17 September 2016 di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.
 
 
Program “Masalah Generasi Muda” ini menjadi penting karena generasi muda saat ini berada di era teknologi yang sangat maju dimana berbagai informasi sangat mudah diakses oleh siapapun. Generasi muda perlu meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya sekaligus memiliki kemampuan diri menyaring informasi dan mengatasi pengaruh buruk. Saat ini mereka diharapkan  cakap untuk bertindak dan menggerakkan orang lain dalam mengantisipasi hal-hal negatif yang terjadi di tengah masyarakat, seperti kekerasan, penyalahgunaan obat, kebiasaan hidup tidak sehat, pergaulan bebas, pornografi, hedonisme dan egoisme.
 
 
Diskusi dihadiri delapan belas orang yang sebagian besar adalah mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagai ‘games’ pembuka, Trustha menantang enam orang peserta untuk menyusun peta pulau-pulau Indonesia. Ini sebagai pengingat bahwa mereka datang ke Yogyakarta dari daerah yang jauh, harapannya mereka kuliah dengan baik dan nantinya membangun daerahnya.
 
 
Data yang disajikan menunjukkan mahasiswa baru yang datang dan kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun ini mencapai lebih dari lima puluh ribu orang dari beberapa kampus saja UGM 8.700 orang, UNY 7.400 orang, UAJY 2.500 orang, UII 5.000 orang, ISI 1.100 orang, USD 2.500 orang, UMBY 2.000 orang, UST 2.500 orang, UMY 4.500 orang, UAD 4.000 orang, ITY 250 orang, PGRI 750 orang, APMD 400 orang, UIN 4.600 orang dan masih banyak kampus lainnya.
 
Banyaknya jumlah mahasiswa di satu sisi menjadi potensi berkembangnya masyarakat jika mereka bisa berkomitmen pada tujuan belajar yaitu mendapatkan pengalaman baru, bertumbuh menjadi dewasa dan mengabdikan diri untuk masyarakat, tetapi di sisi yang lain bisa menjadi masalah masyarakat ketika mereka tidak mampu menghindar dari jeratan kemalasan, kekerasan, penyalahgunaan obat, pergaulan bebas, hedonisme dan pola hidup tidak sehat.
 
Dalam diskusi, peserta dalam beberapa kelompok kecil membaca koran dan memilih satu berita yang berkaitan dengan permasalahan yang terjadi di kalangan anak muda. Satu per satu kelompok mengungkapkan berita yang mereka pilih dan memberikan tanggapan atas berita tersebut. Beberapa berita yang muncul antara lain penyalahgunaan narkoba, merokok dan pola hidup tidak sehat, pencurian, tidak tertib lalulintas, pornografi dan manajemen diri. Selanjutnya para peserta menyampaikan pesan sosial terkait berita dalam sebuah desain kreatif menggunakan gambar dan pewarna agar menarik perhatian dan pesan tersampaikan.
 
 


Sebagai penutup peserta diingatkan kembali untuk selalu mawas diri, waspada dengan berbagai situasi yang ada dan bijak dalam menjalani kehidupan. (TRU).
 

 

 
 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 15 September 2016
oleh adminstube
P R O G R A M

 

MASALAH GENERASI MUDA

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemuda memegang peran strategis dari suatu bangsa dan negara, karena mereka menjadi aktor pembangunan. Namun perkembangan teknologi membawa pengaruh positif maupun negatif bagi generasi muda.  Mereka saat ini berada di era teknologi yang sangat maju dimana berbagai informasi sangat mudah diakses oleh siapapun.

 

 

 

Generasi muda khususnya perlu meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya sekaligus memiliki kemampuan diri menyaring informasi dan mengatasi pengaruh buruk yang mereka hadapi. Bahkan mereka cakap untuk bertindak dan menggerakkan orang lain dalam mengantisipasi hal-hal negatif yang terjadi di tengah masyarakat, seperti kekerasan, penyalahgunaan obat, kebiasaan hidup tidak sehat, pergaulan bebas, pornografi, hedonisme dan egoisme.

 

 

 

Masyarakat yang materialis mengukur kesuksesan dan kebahagiaan hidup dengan seberapa banyak harta yang dimiliki. Jika mentalitas itu terbentuk sejak kanak-kanak maka adanya dampak negatif apabila hal ini terus terjadi dalam hidup mereka. Selain itu tuntutan gaya hidup modern sangat berpengaruh bagi kehidupan anak muda itu sendiri.

 

 

 

Melihat begitu banyak permasalahan generasi muda, Stube-HEMAT Yogyakarta terpanggil untuk ikut ambil bagian memberikan percerahan bagi kaum muda. Harapannya adalah dapat memberi pemahaman yang tepat sehingga anak muda mampu mengenal dengan baik permasalahan-permasalahan yang sedang mereka hadapi dan bagaimana penyelesaiannya melalui program pelatihan Masalah Generasi Muda.

 

 

 

TUJUAN

 

(1) Peserta mengerti kebiasaan hidup yang mengancam nilai-nilai kehidupan

 

(2) Peserta aktif menentukan usaha-usaha pencegahan atas perilaku yang menghancurkan masa depan tersebut

 

(3) Peserta berkomitmen pada diri sendiri melakukan kebiasaan yang baik

 

 

 

TEMA

 

Dear Masa Depan, Tunggu Saya!

 

 

 

MATERI

 

(1) Stube-HEMAT dan Fenomena Anak Muda

 

(Introduction of Stube-HEMAT)

 

(2) Pemetaan Pribadi: Menemukan Diri saya yang Sesungguhnya.

 

(Personal Mapping: Finding the Real Me).

 

(3) Mengembangkan Diri dari Apa Yang Ada dalam Diri.

 

Improving Myself from Everything Within)

 

(4) Anak Muda dan Kesadaran Terhadap Permasalahan Sosial.

 

(Youth and Social Awareness)

 

(5) Aku dengan Perspektif yang Baru.

 

Me : a New Me)

 

(6) Ini Yang Aku Lakukan

 

(Perencanaan aktivitas tindak lanjut peserta)

 

 

 

METODE

 

Memadukan berbagai metode kreatif dan partispatif.

 

(Ceramah, Refleksi, Simulasi, Diskusi, Presentasi, Follow-up)

 

 

 

FASILITATOR

 

Team Stube-HEMAT Yogyakarta

 

 

 

Kuriake Kharismawan, S.Psi., M.Si.

 

(Unika Sugijapranata, Semarang)

 

 

 

Pdt. Hendri Wijayatsih, M.A.

 

UKDW Yogyakarta)

 

 

 

RANGKAIAN KEGIATAN

 

Diskusi Awal (Sabtu, 17 September 2016)

 

Di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Pelatihan (Jumat – Minggu, 7 – 9 Oktober 2016)

 

Di Wisma Camelia, Jalan Kaliurang km 21,5. Pakem.

 

Eksposur: Tentatif waktunya

 

Di Yayasan Sayap Ibu, Balai Sosial Pamardi Putra,

 

dan lokasi lainnya

 

 

 

SASARAN

 

Mahasiswa/Aktivis kampus dan Pemuda Gereja,

 

untuk 30 orang peserta

 

10 Peserta yang pernah mengikuti pelatihan Stube sebelumnya

 

20 peserta baru (belum pernah mengikuti pelatihan)

 

 

 

VOLUNTEER

 

Agustinus Soleh (mahasiswa STPMD APMD)

 

Natasya Derman (mahasiswa Univ Sarjanawiyata Tamansiswa)

Selsius Imanuel Malailo (mahasiswa STPMD APMD)


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 7 September 2016
oleh adminstube
PERKUAT MOTIVASI Bersama Stube-HEMAT

 

Pengenalan Lingkungan Kampus (PLK)

 

Institut Teknologi Yogyakarta

 

Kampus ITY, Senin, 5 September 2016

 


 

Yogyakarta menjadi tujuan belajar anak-anak muda dari berbagai penjuru nusantara untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Berbagai jurusan studi yang didukung fasilitas pendidikan yang baik menjadi daya tarik mahasiswa baru. Selain situasi kota Yogyakarta yang nyaman untuk belajar dan biaya hidup yang terjangkau, mudahnya akses informasi menambah ketertarikan mahasiswa baru untuk melanjutkan studi di kota ini.


Hal ini terungkap dalam Pengenalan Lingkungan Kampus (PLK) Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) 5 – 7 September 2016 yang bertema “Orientasi Mahasiswa dalam Pembentukan Pribadi yang Berkarakter Kritis, Harmonis dan Berintegritas untuk ITY yang lebih Baik”. PLK 2016 diikuti 202 peserta mahasiswa baru ITY yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu sesinya membahas Motivasi dengan fasilitator Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

Di awal sesi,  fasilitator mengundang enam mahasiswa untuk menyusun peta Indonesia. Meskipun sempat mengalami kesulitan, mereka akhirnya mampu menyusun dengan baik fragmen-fragmen peta pulau-pulau Indonesia. Selanjutnya, para mahasiswa baru diingatkan untuk cerdas dan bijak ketika berada di Yogyakarta. Bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru dan berbeda dibandingkan daerah asalnya, berbaur dengan masyarakat di mana mereka tinggal, menjaga fokus pada tujuan mereka ke Yogyakarta untuk belajar dan sampai pada kesadaran bahwa ilmu mereka bermanfaat untuk sesama dan lingkungan.

 

 

 

Pada kenyataannya, berbagai berita muncul di media tentang dinamika mahasiswa, dari berita yang membanggakan seperti mahasiswa mendampingi suatu desa mengolah jahe menjadi minuman sirup jahe, menjadi pemuda pelopor DIY, melakukan edukasi lingkungan kepada siswa SD, kerjabakti bersama warga sekitar kost dan menginspirasi warga suatu desa mengembangkan batik printing. Namun, di sisi lain ada berita menyedihkan ketika mahasiswa saling bermusuhan karena berbeda daerah, terlibat narkoba dan pergaulan bebas, drop out dan bahkan mati sia-sia karena miras oplosan, gantung diri dan pembunuhan.

 

 

Fasilitator mengingatkan bahwa motivasi terkuat adalah dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu dan merupakan suatu usaha yang dapat menyebabkan seseorang tergerak melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Selanjutnya, peserta diajak mengingat kembali pesan-pesan dari orang-orang terdekat mereka ketika akan berangkat ke Yogyakarta, merenungkan pesan-pesan itu dan menuliskannya menjadi tulisan motivasi pribadi dan kemudian ber-sharing dengan teman-teman kelompok.

 

 

 

Salah satu peserta, Puri, dari Wonogiri, Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ia akan kuliah serius, ia sadar bahwa kesempatan untuk kuliah adalah berkat yang sangat berharga, ia tidak mampu melanjutkan studi di perguruan tinggi jika tidak ada orang lain yang tergerak membiayai studinya.

 

 

 

Fasilitator memberi kesempatan kepada Agustinus Soleh, mahasiswa APMD yang berasal dari Long Alango, di pedalaman Kalimantan Utara untuk berbagi cerita perjalanan ke Yogyakarta. Dari desanya di Long Alango, ia harus berjuang selama tiga sampai empat hari menggunakan perahu melewati sungai yang sangat deras dan berbatu-batu menuju Tarakan. Sebelum akhirnya naik pesawat dari Tarakan menuju Yogyakarta.

 

 

 

Di akhir sesi, fasilitator mengajak peserta dan panitia untuk bersama-sama menyanyi lagu Tanah Airku, sebagai panggilan untuk membaktikan ilmu kepada negeri ini. Beberapa peserta pun menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu tersebut.

 

 

Selamat belajar di Yogyakarta dan membaktikan ilmu untuk negeri, teman-teman. (TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 5 September 2016
oleh adminstube
IDE MUNCUL, LANGSUNG LAKUKAN

 

 

 

 
Memunculkan ide bisnis bukanlah hal yang mudah dan cepat. Butuh ketekunan dan ketelitian melihat potensi yang ada. Saat ide itu muncul, belum tentu orang langsung meng-eksekusinya. Mereka masih memikirkan modal, jejaring dan banyak hal lain sehingga saat banyak ide muncul, menjadi biasa-biasa saja. Tetapi ketika ide muncul dan langsung segera melakukannya, maka hasilnya akan segera bisa terlihat. Status mahasiswa bukan alasan untuk tidak berbisnis, seperti yang dilakukan 4 mahasiswa berikut. Meski masih dalam tahap perintisan, mereka tetap berusaha menjadi pelaku bisnis. Pelatihan Bisnis Kreatif yang dilakukan Stube-HEMAT beberapa waktu yang lalu memberi wadah dan kesempatan kepada peserta mahasiswa untuk mengenal dunia bisnis kreatif beserta peluang-peluangnya.

 

Mahasiswa yang sering disapa Frans ini bukan sekali, dua kali saja berbisnis, dari menjual jasa menjadi tukang antar anak sekolah, jasa waiter di sebuah restoran asing, membuka reparasi elektronik, membuat gerobak angkringan, hingga sekarang mulai menekuni bisnis fashion sablon baju, dengan unggulan tinta sablon yang dipakai dan desain ekslusif sesuai pesanan. Beberapa kaos sudah terjual dan sekitar dua puluh empat dalam proses pemesanan. Motivasi menekuni bisnis ini melihat peluang di kampung halamannya, Sumba Timur yang kaya akan potensi wisata dan memerlukan banyak cendera mata bagi para wisatawan yang mengunjunginya. Mahasiswa lulusan pendidikan matematika, Universitas Sarjanawiyata (UST) Yogyakarta ini menyatakan akan mengembangkan bisnis di kampung halamannya dengan resiko yang harus dihadapi seperti bahan baku. Namun demikian dia bercita-cita untuk mengatasinya sehingga bisa membuka lapangan kerja bagi anak muda Sumba. “Dengan mengikuti pelatihan Stube HEMAT, saya terbantu membuka wawasan dan menantang saya melakukan sesuatu untuk Sumba”, katanya.


 

Nuel, mahasiswa lulusan ilmu pemerintahan, di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan APMD Yogyakarta, termotivasi melakukan bisnis dan menjadi anak yang tidak selalu tergantung pada keluarga. Nuel tertarik menjual batik ke daerah asalnya. “Peluang batik masih cukup tinggi, harga pasaran batik di Yogyakarta lebih murah dibandingkan dengan pasaran di Alor”, jelasnyaUsaha jasa menjual barang menjadi usaha sampingan yang di lakukanya seperti penjualan sepeda motor bekas, penyedian seragam olahraga dan juga berbagai kebutuhan yang dipesan oleh pelanggan dari Alor, Kupang dan Maluku. Pelatihan Bisnis Kreatif telah menambah motivasinya merintis usaha.

 


 

Merubah kain bekas menjadi tas cantik menjadi keinginan Irma, seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Kristen di STT GKS Lewa, Sumba. Bermula dari menonton acara kreatif di televisi, membuat dia menjadi tertarik untuk menekuninya namun dia masih perlu pembelajaran dan metode-metode. Kesempatan belajar ke Yogyakarta menjadi peluang untuk bisa memperdalam ilmu menjahit yang dimilikinya. Sepulang dari Jogja, usaha ini mulai lebih serius dilakukan hingga dia mendapat kepercayaan dipinjami sebuah mesin jahit dari kampus. Irma sangat gembira dan saat ini dia mendapat pesanan cover alkitab.


 

Termotivasi dari hobi dan keinginan untuk memperoleh penghasilan sendiri membuat mahasiswa ekonomi pembangunan yang disapa Fredy ini memulai usahanya. Dengan mengamati peluang di Sumba Timur, yang hanya memiliki dua percetakan, dia memilih menekuni bisnis percetakan dan sablon terlebih saat mendapat kesempatan belajar selama satu bulan di Yogyakarta. Pelatihan Bisnis Kreatif di Stube HEMAT memperluas pemahamannya mengenai jaringan, sasaran pemasaran produk, pengadaan alat-alat dan bahan, manajamen pasar, promosi, dan antisipasi terjadinya resiko.

 

 

Kisah sederhana dari keempat muda-mudi ini semoga dapat memotivasi pembaca. Berbisnis bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Muda bukan menjadi hambatan untuk berkembang. Penuhi diri dengan rasa ingin tahu dan berkembang, maka keseuksesan akan menghampiri kita. Salam sukses buat anak muda. (ITM).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook