Merawat Mangrove untuk Kelangsungan Hidup di Pesisir

pada hari Minggu, 28 Februari 2021
oleh Sarlota Wantaar

 

 

Apa beda mangrove dan bakau? Ini pertanyaan yang menyeruak di antara peserta eksposur Stube HEMAT Yogyakarta ke kawasan Mangrove di Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul (Minggu, 28/2/2021). Bisa jadi orang sering mengucapkan ‘mangrove’ dan ‘bakau’ tapi belum tentu mengetahui perbedaannya. Ini wajar karena kata-kata tersebut sering muncul namun terkadang tidak setiap orang memiliki perhatian terhadap kawasan pesisir dan problematikanya. Proses membangun kesadaran terhadap keberadaan kawasan pesisir dan problematikanya menjadi konsep eksposur atau belajar di lapangan yang dilakukan Stube HEMAT Yogyakarta untuk melengkapi proses pelatihan mahasiswa tentang perubahan iklim dan kelangsungan hidup.

 

 

Belasan mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah seperti Lampung, Nusa Tenggara Timur, Nias, Yogyakarta, dan Maluku bergabung dalam eksposur dan berdialog dengan perwakilan dari Keluarga Pemuda-Pemudi Baros (KP2B) yang mengelola kawasan Mangrove. Wawan Widia Ardi Susanto, pengurus di KP2B, mengungkapkan bahwa KP2B berdiri sejak tahun 1980an dan memiliki kegiatan pemuda di desa seperti sinoman, diskusi, merangkai janur dan lain-lain. Dalam kegiatan diskusi, mereka membicarakan tantangan anak muda, bagaimana menjadi mandiri dan masalah aktual termasuk abrasi yang menggerus pantai, uap garam yang merusak tanaman petani, banjir kiriman sungai Opak yang selalu merendam lahan pertanian di kawasan ini dan sampah yang terbawa aliran sungai yang akhirnya terdampar kawasan Baros ini.

 

Tentang kawasan mangrove sendiri, Wawan memaparkan bahwa kegiatan konservasi mulai muncul sejak 2003 ketika LSM Relung bekerjasama dengan masyarakat dusun Baros mengembangkan kawasan konservasi mangrove. Aktivitas ini menggugah antusiasme masyarakt setempat khususnya KP2B untuk menindaklanjuti dengan berbagai pengembangan, antara lain eko-eduwisata, kunjungan belajar, penanaman mangrove, pengenalan burung dan kegiatan lainnya. Namun saat ini kegiatan menurun drastis karena pandemi.

 

 

Para peserta mengelilingi kawasan mangrove dan mengenali jenis-jenis tanaman yang ada di dalamnya, antara lain Avicennia, Rhizophora (bakau), Nipah, Bruguiera dan Sonneratia dengan manfaat yang mereka miliki masing-masing. Di sini terungkap bahwa Mangrove adalah kumpulan tanaman yang berada di kawasan pasang surut air laut yang membentuk suatu ekosistem, sedangkan bakau (Rhizopora) adalah salah satu jenis tanaman yang ada di kawasan mangrove. Salah satu manfaat adanya mangrove adalah berkembangnya pertanian lahan pasir karena uap garam yang terbawa dari laut bisa tersaring oleh daun-daun di mangrove.

 

 

Proses penanaman mangrove memperkaya pengalaman peserta. Di sela-sela penanaman, Wawan mengungkapkan kegelisahannya tentang musuh terbesar mangrove, yaitu sampah. Belum ada solusi efektif untuk mengantisipasi sampah yang masuk kawasan ini. Upaya yang dilakukan untuk melindungi kawasan baru berupa membuat pagar dari bambu dan jaring untuk mengurangi serbuan sampah. Ini adalah tantangan berat karena sebagian besar sungai-sungai di Yogyakarta menyambung ke sungai Opak termasuk sampahnya, dan muara sungai berada di wilayah Baros. Di akhir kegiatan peserta mengamati kreativitas lokal di Baros yang memanfaatkan limbah kayu yang dibuat menjadi berbagai karya seni seperti pohon natal, cermin, tempat buah dan hiasan lainnya yang dipasarkan untuk ekspor.

Peserta berefleksi bahwa kawasan pantai dengan pepohonan yang hijau adalah keindahan alam pantai yang menarik rasa setiap orang, namun bagaimana ketika kawasan itu rusak karena kelalaian manusia, dari iklim yang berubah, banjir dan sampah. Apakah manusia hanya berdiam diri dan membiarkan keindahan tadi hilang begitu saja? Manusia yang sudah dilengkapi pengetahuan tentu akan melakukan sesuatu untuk merawat keindahan alam tersebut. ***


  Bagikan artikel ini

Mencerna Pemahaman Merapi sebagai Sahabat

pada hari Sabtu, 27 Februari 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Eksposur Mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta di Dusun Turgo

 

 

Gunung berapi adalah satu fenomena alam yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia. Keberadaan gunung berapi terpetakan dalam rangkaian yang dikenal sebagai cincin api atau ‘ring of fire’ di mana Indonesia menjadi bagian di dalamnya. Dari sekian banyak gunung berapi aktif di Indonesia, salah satunya adalah Gunung Merapi yang terletak di perbatasan antara DIY Yogyakarta dan Jawa Tengah yang  saat ini statusnya level Siaga. Bisa dipahami bahwa dengan level ini kawasan sekitar lereng Gunung Merapi sedang bersiaga mengantisipasi erupsi Merapi.

 

 

Kesiapsiagaan erupsi merapi juga dilakukkan masyarakat desa Turgo, sebagai salah satu desa terdekat gunung Merapi yang rentan terkena erupsi. Dusun Turgo, kalurahan Purwobinangun, kapanewon Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di sisi selatan gunung Merapi, kurang lebih 5 km dari puncak. Seperti apa bentuk kesiapsiagaan mengantisipasi letusan gunung Merapi, bagaimana penduduk setempat menyikapi keberadaan gunung Merapi, dan bagaimana adaptasi yang mereka lakukan, menjadi bagian menarik dipelajari melalui kegiatan eksposur mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta.

 

 

Eksposur atau kunjungan belajar ini ini menjadi lanjutan kunjungan dari Museum Gunungapi Merapi (27/02/2021). Mahasiswa bertemu dengan empat orang yang menceritakan dinamika kehidupan di dusun Turgo. Di sinilah rasa penasaran dan pertanyaan yang muncul di benak mahasiswa mengenai pengalaman penduduk di lereng Gunung Merapi diungkapkan. Indra Baskoro Adi, sebagai praktisi kebencanaan yang tinggal di Turgo mengungkapkan pengalaman bersama penduduk setempat untuk menghayati kehidupan di lereng Merapi dan beradaptasi dengan mempelajari kejadian-kejadian erupsi yang pernah terjadi sebelumnya.

 

Pengalaman kejadian erupsi Merapi diungkapkan oleh Hadi Suwanto, penduduk setempat, penyintas erupsi Merapi tahun 1994. Kejadian waktu itu berlangsung sangat cepat dan menimpa keluarga yang sedang ada hajatan pernikahan sehingga banyak yang meninggal di situ. Saya berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap terkena awan panas dan saya kehilangan isteri serta anak cucu saya, dan ini membuat saya patah semangat. Sebagai warga asli Turgo, saat ini saya mempunyai tanggung jawab untuk tetap menjaga desa ini, bahkan Merapi kami anggap sebagai sahabat, bukan bencana karena kami hidup bersama Merapi. Ada hal posistif yang kami rasakan dari gunung ini, air cukup dan kami mendapatkan pasir dari sisa erupsinya untuk membangun rumah kami dan abu sisa letusannya pun bisa menyuburkan tanah di sini. Jadi kalau Merapi sedang aktif, kami akan menyingkir atau mengungsi, ungkapnya.

 

Dusun Turgo dengan tanah yang subur membuat penduduk setempat enggan meninggalkannya, jadi sebagian penduduk tetap tinggal di sana termasuk pengurus dusun. Berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana, dusun Turgo belajar dari pengalaman sebelumnya yakni ketika terjadi peningkatan status Gunung Merapi maka penduduk akan mengungsi sesuai dangan anjuran pemerintah. Ini diungkapkan oleh Misran, ketua RT setempat yang menemani mahasiswa berdialog.

 

Kesadaran mengungsi dan menyelamatkan diri juga diamini oleh ibu Sariyem, salah seorang penyintas erupsi Merapi. Saat itu ketika ia melihat kepulan awan hitam bahkan tampak lebih tinggi dari bukit Turgo, ia berlari meninggalkan rumahnya yang berdinding bambu menuju rumah berdinding tembok tetapi letaknya ke arah atas lebih dekat dengan bukit Turgo. Untungnya ia segera sadar dan berbalik arah dan berlari menjauh. Kejadian-kejadian itu menyadarkan kaum perempuan di Turgo untuk mempelajari Merapi dan bersama kaum perempuan lainnya aktif saat berada di pengungsian dengan memasak, menyiapkan dapur umum dan kebersihan di tempat pengungsian.

 

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Pilihan untuk tetap tinggal di kawasan yang rentan harus diimbangi dengan kesadaran dan peningkatan kesiapsiagaan baik secara mandiri maupun melibatkan pihak lain. Ungkapan Merapi adalah Sahabat tidak mudah dipahami dan perlu pengenalan karakteristik gunung Merapi itu sendiri, serta penghayatan bagaimana hidup di kawasan rentan terkena erupsi.

 

Pengalaman eksposur ini menjadi pengalaman baru bagi peserta agar memiliki perubahan cara pandang terhadap peristiwa alam yang merupakan bagian dari kehidupan. Bersahabat dengan alam menjadi tugas dan tanggung jawab manusia sekaligus terus menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. ***

 
>> Beberapa foto dari Indra Baskoro Adi

  Bagikan artikel ini

Kegunungapian dan Konsekuensinya

pada hari Sabtu, 27 Februari 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Kunjungan belajar di Museum Gunungapi Merapi

 

Pernahkah mendengar tentang Museum Gunungapi Merapi (MGM)? Kali ini, Stube HEMAT Yogyakarta bersama mahasiswa melakukan eksposur atau kunjungan belajar di Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Pakem, Sleman, DIY (27/2/2021). Eksposur ini merupakan bagian dari Pelatihan Climate Change and Life Survival untuk mempelajari kegunungapian di Indonesia. Kegiatan pembelajaran ini secara langsung akan memperkaya pengalaman mahasiswa mempelajari topik kegunungapian.

 

Museum Gunungapi Merapi merupakan museum yang berisi pengetahuan tentang Gunung Api Merapi dan fenomena gunung api lainnya di seluruh dunia secara umum. Museum Gunungapi Merapi digadang menjadi wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan bencana alam lainnya. Museum ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat reaktif-edukatif untuk masyarakat luas (mgm.slemankab.go.id).

 

Belasan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang kuliah di beragam kampus di Yogyakarta tiba di kawasan MGM  yang dibangun dengan arsitektur bangunan yang unik, khas puncak gunung. Selama masa pandemi pengelola MGM menerapkan protokol kesehatan dengan baik, seperti mencuci tangan, cek suhu sebelum masuk, dan mengingatkan pengunjung untuk menjaga jarak. Replika gunung Merapi di tengah ruangan menyambut kedatangan para pengunjung saat pertama melangkahkan kaki masuk ke dalam museum. Replika ini sebenarnya merupakan alat peraga untuk menunjukkan tahun letusan gunung merapi dan arah luncuran guguran lava dengan memencet tombol pilihan tahun letusan. Lampu akan menyala untuk menunjukkan arah guguran dan terdengar narasi dari pengeras suara sesuai tahun letusan.

 

 

Mahasiswa nampak serius menyimak penjelasan Dwi, seorang pemandu di MGM, ketika menceritakan diorama yang mengisahkan kondisi sebuah rumah pascaletusan gunung Merapi tahun 2010, dimana rumah dan perabotan bahkan kendaraan hancur terkena awan panas. Peristiwa ini memicu pertanyaan mahasiswa mengenai keberadaan orang-orang saat itu dan barang-barang penduduk lereng Merapi yang terdampak erupsi tahun 2010. Rasa penasaran mahasiswa tentang keberadaan gunung-gunung api di Indonesia terjawab di ruang gunung api Indonesia, bahkan mengejutkan saat pemandu menunjukkan titik-titik gunung api aktif di Indonesia karena beberapa peserta tidak menyadari kalau ada gunung api aktif di dekat tempat tinggalnya.

 

 

Di ruangan lain, peserta mengidentifikasi beragam bentuk gunung berapi dan jenis-jenis letusan. Khusus untuk gunung Merapi sendiri memiliki jenis letusan yang unik sehingga disebut tipe Merapi, yaitu erupsi bentuk kubah lava dan guguran lava yang memunculkan awan panas. Melengkapi pengenalan tentang kegunungapian, mahasiswa mengamati alat-alat pendeteksi letusan gunung Merapi. Lagi-lagi peserta mengungkapkan rasa penasaran mengenai alat-alat tersebut. Perubahan zaman membuat alat-alat tersebut mengalami pembaruan model dan fungsi sesuai kemajuan teknologi.

 

Kunjungan belajar di museum menjadi sebuah pengalaman dan pengetahuan baru bagi mahasiswa, seperti yang diungkap oleh Natra Marten Nee, salah satu peserta yang berasal dari Kupang, NTT, “Hal menarik yang saya dapatkan dari belajar di museum ini ialah petunjuk dan bukti tentang bencana letusan Gunung Merapi dari tahun ke tahun dan penjelasan narasumber terkait gunung api aktif yang berada di Indonesia maupun di luar Indonesia membuat saya belajar banyak tentang gunung berapi.

 

 

Ya, ketika orang mengenal lebih mendalam tempat tinggal, akan membuat mereka belajar bagaimana harus hidup, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan bagaimana menjaga kelangsungan hidupnya. ***


  Bagikan artikel ini

Menangkap Semangat Kemanusiaan Bersama Tim SAR DIY

pada hari Kamis, 25 Februari 2021
oleh Thomas Yulianto

 

Kejadian-kejadian bencana telah melanda Indonesia, dari tanah longsor, banjir, gempa, gunung meletus, pesawat jatuh sampai merebaknya pandemi. Perhatian orang biasanya mengarah pada bencana yang terjadi, jatuhnya korban atau bagaimana kondisi para penyintas. Pernahkah mengamati kiprah orang-orang yang menggunakan seragam oranye? Ya mereka adalah tim Search and Rescue (SAR) dan komunitas relawan bencana yang bergerak cepat sesaat setelah terjadi bencana.

 

 

Keterlibatan tim SAR untuk menolong saat bencana menjadi bagian pembelajaran dalam pelatihan ‘Climate Change and Life Survival’ Stube HEMAT Yogyakarta dengan berkunjung dan berdialog dengan tim Search and Rescue (SAR) Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Rabu 24 Februari 2021 pukul 15:00-17:00 WIB. Beberapa mahasiswa yang mengikuti eksposur berasal dari beragam daerah antara lain dari Kupang, Manggarai, Nias, Lampung, dan Bangka. Dari pihak SAR DIY, Eko Susilo yang bertangungjawab sebagai koordinator divisi K3 mendampingi para peserta yang ingin tahu apa itu SAR, sejarah berdirinya, aktivitas, bagaimana menjadi anggota dan apa motivasi menjadi anggota tim SAR.

 

 

Eko Susilo menjelaskan bahwa SAR awal mulanya adalah orang-orang yang memiliki hobi yang sama dan berkumpul bersama dari latar belakang yang berbeda yang selanjutnya membentuk komunitas yang bertujuan untuk menolong orang lain. Secara struktural, tim SAR DIY bukan lembaga pemerintah tetapi bekerjasama dalam penanganan bencana. Ada hal yang menarik dalam keanggotaan tim SAR, yaitu mereka berasal dari beragam latar belakang pekerjaan, ada yang tukang ojek, pekerja serabutan, guru, tentara dan mahasiswa. Perekrutan anggota SAR ini berdasar pada kemauan dan kerelaan (voluntary) untuk membantu orang lain dan kemauan untuk belajar bersama membekali diri dalam keterampilan Search and Rescue, seperti pengetahuan medis dasar, menyelam, vertical rescue, survival gunung dan hutan agar mereka siap sedia menolong ketika terjadi bencana maupun insiden yang terjadi.

 

Dalam dialog ini terungkap bahwa anggota tim SAR tidak mendapat gaji atau insentif seperti pekerja lainnya karena menjadi anggota tim SAR sifatnya sukarela, dan mereka melakukan pekerjaannya dengan iklas tanpa orientasi penghasilan materi. Selain itu, terungkap juga kisah-kisah yang mendebarkan ketika tim SAR bersama pihak yang kompeten mengevakuasi pendaki gunung yang jatuh ke kawah gunung Merapi. Ada juga pengalaman evakuasi pendaki dari Rusia yang tersesat di gunung Merapi, dan bersyukur dalam kejadian ini pendaki tersebut ditemukan selamat. Saat ini dalam masa erupsi gunung Merapi, Tim SAR DIY mengkoordinir relawan-relawan Disaster Response Unit (DRU) di DIY untuk bekerjasama memantau dari berbagai posko pemantau. Melengkapi eksposur ini peserta mengamati peralatan yang digunakan dalam rescue seperti perahu karet, pelampung, tali, perangkat menyelam, tandu, helm, senter dan alat-alat lainnya, bahkan peserta mempraktekkan penggunaan alat-alat rescue sebagai pengenalan proses rescue.

 

 

Pengalaman dialog ini membangkitkan kesan peserta, Ari Surida, mahasiswa APMD dari Bangka yang mengatakan, “Saya sangat terharu mendengar cerita dari teman-teman tim SAR dan mas Eko bahwa anggota SAR melakukan kegiatan yang berat ini dengan sukarela, bahkan mereka mengumpulkan dana secara mandiri. Jika dihitung memang tidak menguntungkan secara materi, waktu dan beresiko tinggi, namun mereka melakukan semuanya itu karena hobi dan motivasi dalam diri masing-masing ingin menolong orang.” 

Interaksi dan dialog langsung semacam ini menjadi media transfer jiwa kepedulian dan kemanusiaan terhadap bencana yang terjadi. Mahasiswa tidak saja berlajar tentang perubahan iklim yang berdampak pada bencana tetapi juga kepedulian, kemanusiaan dan solidaritas sosial seperti yang dimiliki oleh anggota tim SAR untuk hadir dan menolong di saat bencana terjadi.***


  Bagikan artikel ini

Memahami Bencana & Bagaimana Bertindak

pada hari Sabtu, 6 Februari 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

 

 

Memasuki tahun 2021 beragam peristiwa alam maupun bencana alam melanda berbagai wilayah Indonesia dari gunung meletus seperti gunung Semeru di Lumajang dan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir bandang di Kalimantan Selatan, tanah longsor di Sumedang (Jawa Barat) dan di Manggarai (NTT), hujan es di Cianjur (Jawa Barat), juga angin puting beliung di Wonogiri (Jawa Tengah) yang meminta korban jiwa dan memaksa ribuan orang menjadi pengungsi.

 

 

 

Beragam kejadian di atas memperkuat antusiasme mahasiswa untuk mengikuti program Stube HEMAT Yogyakarta dalam topik ‘Climate Change and Life Survival’ untuk mewujudkan kesadaran mahasiswa terhadap perubahan iklim dan bagaimana menjaga kelangsungan hidup baik manusia maupun lingkungannya. Kegiatan ini berlangsung antara Januari-Maret. Dua puluh mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti diskusi awal pada tanggal 3 Februari 2021 untuk mengenal Stube HEMAT sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia khususnya mahasiswa, yang menyediakan kesempatan belajar untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman mahasiswa. Topik perubahan iklim sangat berkaitan dengan manusia dimana perubahan iklim sendiri diakibatkan oleh perilaku manusia yang mempengaruhi banyak hal dan akhirnya berdampak pada kelangsungan hidup manusia dan lingkungannya. Trustha Rembaka sebagai narasumber memandu peserta mengungkapkan kejadian bencana yang terjadi di kampung halamannya, seperti Ina Sinar dari Manggarai bercerita tanah longsor, Dika dari Lampung Timur membagikan fenomena hujan es dan Novita dari Sumba Barat melaporkan kebakaran rumah-rumah di kampung adat. Metode ini merupakan strategi untuk menghubungan diri peserta dengan kampung halamannya dan menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan iklim dan dampaknya benar terjadi sehingga mereka tahu bagaimana bertindak dengan tepat.

 

 

Selanjutnya, pada tanggal 5 Februari 2021 para peserta melanjutkan diskusi bersama Wana Kristanto, dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta tentang Kebencanaan dan Kawasan Rentan Bencana di Indonesia.’ Para peserta mendalami pengertian bencana, jenis bencana dan ancaman bencana dari UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan  penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Dari jenis-jenis bencana, dipetakan (1) bencana alam, yang diakibatkan oleh peristiwa alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor; kemudian (2) bencana non-alam seperti gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit; dan (3) bencana sosial, yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror. Di bagian ini ternyata ada perbedaan antara bencana dan ancaman bencana, yang mana ancaman bencana adalah kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana baik alamiah, hasil tindakan manusia atau gabungan keduanya.

 

 

Kristanto juga mengungkap Penyelenggaraan Penaggulangan Bencana di Indonesia secara sederhana dapat digambarkan dengan (1) Pra-bencana yang terdiri dari pencegahan bencana, kesiapsiagaan, peringatan dini dan mitigasi sebagai upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. (2) Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan segera untuk menangani dampak bencana seperti penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana; dan (3) Pascabencana, yang berupa rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memperbaiki dan membangun kembali sehingga kehidupan masyarakat bangkit kembali.

 

 

Dari tanggapan peserta, Lidia Meike Dwijayanti Ullo, dari Manokwari yang kuliah di Yogyakarta mengungkapkan, “Hal baru yang saya dapatkan hari ini yaitu jenis bencana yang terjadi, resiko dan ancaman yang terjadi saat bencana, saya juga menjadi tahu bagaimana bisa melakukan sesuatu saat bencana dan memperhatikan pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat.”

Stube HEMAT Yogyakarta dalam pelatihan ini membantu para mahasiswa untuk sadar bencana, mengerti apa itu bencana, mengapa terjadi, dan bagaimana mengantisipasi bencana, mengelola dan meminimalisir dampak bencana. Kesadaran baru terhadap bencana ini memperkaya wawasan mereka untuk tahu apa yang harus diakukan sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana dan setelah terjadi bencana.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook