pada hari Senin, 5 Desember 2016
oleh adminstube
Hidup Dekat Sedulur Sikep

 

Live-in bersama Komunitas Sedulur Sikep

 

di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah

 

 

 

 

‘Experiential Learning’ menjadi salah satu metode pembelajaran yang dilakukan Stube-HEMAT ketika melaksanakan program-programnya. Metode ini memberi nilai tambah kepada mahasiswa sebagai peserta program, karena mereka dapat berinteraksi secara langsung dengan pihak-pihak yang ada dan menemukan pengalaman-pengalaman pribadi yang memberi kesan dan pesan bagi mereka.

 

 

 

Metode ini diterapkan Stube-HEMAT Yogyakarta dalam program HAM pada 2-4 Desember 2016. Pelatihan diadakan di Hotel Cailendra Extension, Yogyakarta dan Live-in bersama Komunitas Sedulur Sikep di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah yang diikuti oleh dua puluh tiga peserta mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Yogyakarta.

 

 

 

Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta membuka kegiatan dengan renungan tentang janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Kesempatan belajar ini adalah berkat Tuhan, maka, gunakanlah sebaik-baiknya untuk mengetahui apa yang baik, mengembangkan diri dan menerapkannya demi kebaikan bersama. Selanjutnya Trustha memperkenalkan Stube-HEMAT dan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, yaitu live-in bersama komunitas Sedulur Sikep.

 

 

 

Dr. Budiawan, pengajar dari Prodi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM memaparkan sejarah singkat masyarakat Samin, istilah lain dari Sedulur Sikep. Diawali oleh Samin Surosentiko yang melakukan perlawanan terhadap Belanda atas pungutan pajak. Uniknya perlawanannya dilakukan tanpa kekerasan. Gerakan ini terus berkembang dan akhirnya Belanda menangkap Samin Surosentiko dan diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Meski demikian ajaran Samin ini terus dipegang oleh pengikut-pengikutnya yang setia bahkan sampai saat ini. Mengenai istilah Samin sendiri merupakan sebutan dari pihak luar, sedangkan pengikut mereka menyebut sebagai Sedulur Sikep.

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya, jam 5.30 pagi peserta berangkat menggunakan bus dari Yogyakarta menuju Sukolilo yang ditempuh hampir lima jam. Sesampainya di Sukolilo, rombongan langsung menuju ke dusun Bombong, kediaman Gunritno, tokoh Sedulur Sikep di Sukolilo. Sambutan yang ramah dan bersahabat menjadi ciri khas komunitas ini.

 

 

 

Ariani Narwastujati, direktur eksekutif Stube-HEMAT Yogyakarta menyampaikan rasa terima kasih karena para mahasiswa boleh berkegiatan dan mengenal komunitas Sedulur Sikep di Sukolilo. Kami ingin belajar mengenai sikap hidup, kesederhanaan, kejujuran, sistem kehidupan masyarakat setempat dan kecintaan terhadap pertanian dan lingkungan.

 

 

 

Gunritno mengungkapkan bahwa para sedulur Sikep menerima kedatangan para mahasiswa dan memberi kesempatan untuk belajar bersama dengan mereka dan mahasiswa bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Ia berharap proses belajar tidak berhenti pada saat Live-in saja tetapi ada tindak lanjut yang dilakukan oleh para mahasiswa. Ia bercerita tentang prinsip sebagai Sedulur Sikep harus hidup jujur (pikiran, ucapan, dan tindakan), ora srei, drengki, tukar padu, dahpen kemeren, mbedog colong (bahasa Jawa). Artinya dalam bahasa Indonesia adalah: tidak iri, tidak dengki, tidak perang mulut (apalagi berkelahi), tidak menipu, tidak mencuri, dan selalu berlaku baik dan benar.

 

 

 

Sedulur Sikep sangat menghormati kehidupan. Kami menghormati Bumi seperti ibu. Bumi adalah Ibu Pertiwi yang melahirkan hidup dan memberi kecukupan sepanjang masa. Menghormati dan merawat keseimbangan alam dengan demunung (tidak serakah) adalah kunci selamat menjalani hidup. ”Sebab kalau tidak, alam akan menata keseimbangannya sendiri,” ia menjelaskan.

 

 

 

Menata keseimbangan berarti ‘genepe alam’ (genapnya pranata alam), melalui berbagai bentuk bencana. ”Manusia adalah bagian dari alam. Karena itu harus dandan-dandan (memperbaiki sikap), supaya jangan ada korban dan dampak lebih besar dari proses itu,” lanjutnya.

 



 

Berbagai cerita menarik dan pengalaman baru ditemui oleh para peserta yang tinggal di empat lokasi keluarga Sedulur Sikep. Di rumah mbak Siti di Bombong, peserta menemukan kemandirian dan peran seorang peremuan yang tangguh, mampu mengerjakan lahan pertanian dengan baik, dan tak sungkan untuk ikut membangun rumahnya. Di rumah ini bahan bakar untuk memasak menggunakan biogas dari limbah kotoran sapi yang dimiliki keluarga ini.

 



 

Berikutnya di rumah Ibu Gunarti di Bowong, selain menemukan tekad komunitas Sedulur Sikep bekerja hanya sebagai petani, para peserta juga menemukan kenyataan bahwa anak-anak dalam keluarga Sedulur Sikep tidak bersekolah formal, tetapi dididik dalam keluarga tentang sikap hidup jujur, rendah hati, tidak sombong, tidak boleh iri dan tidak boleh mengambil milik orang lain.

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

Sedangkan di rumah pak Wargono di Galiran, meski peserta sempat kesulitan berkomunikasi karena komunitas Sedulur Sikep biasa menggunakan bahasa Jawa. Namun akhirnya bisa terjalin komunikasi yang dekat. Peserta perempuan berkesempatan belajar menggunakan kain, karena komunitas Sedulur Sikep punya prinsip bahwa celana panjang adalah pakaian laki-laki. Peserta menemukan keramahan dan kekerabatan yang erat ketika berkunjung ke rumah keluarga Sedulur Sikep lainnya di Galiran

 



 


Terakhir, peserta yang tinggal di rumah mbah Wargono di Kaliyoso menceritakan pengalaman perjalanan menegangkan menggunakan bus melewati persawahan dan ketika berada di sawah untuk mencabut bibit padi dan ditanam di hamparan sawah yang benar-benar subur dan melimpah airnya. Sebuah anugerah alam yang sudah semestinya dilestarikan keberadaannya.

 




 

Dua kelompok yang ada di Bombong dan Bowong sempat datang ke Omah Kendeng, yang dikenal sebagai tempat belajar dan pertemuan Sedulur Sikep di Sukolilo. Pada saat itu ada pertemuan dari berbagai pihak yang membahas perjuangan untuk menjaga pelestarian pegunungan Kendeng dari ancaman perusakan karena industri.
 

 

Pegunungan Kendeng menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya karena pegunungan itu menghasilkan mata air, lahan yang subur, tempat hidup flora dan fauna. Jadi, sudah selayaknya Pegunungan Kendeng dijaga kelestarian lingkungannya. Salam Kendeng...Lestari! (TRU).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook