pada hari Minggu, 10 Juli 2016
oleh Stube HEMAT
REFLEKSI EXPLORING SUMBA
Belajar, Berproses, Berbagi dan
Bahagia di Tanah Marapu
 


Sejak melihat dari jendela pesawat hingga menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Marapu, saya langsung merasakan bahwa sejauh mata memandang saya sudah berada di Sumba. Berbeda jika saya mengunjungi daerah lain, terkadang saya masih suka menyangkutpautkan atau menyamakan satu daerah dengan daerah lainnya. Namun pulau Sumba adalah sebuah surga yang berbeda, Sumba memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri yang mampu membuat saya betah berlama-lama di pulau ini.
 
Berada di tanah Sumba selama sebulan mengajarkan banyak pembelajaran dan pengalaman berharga kepada saya, bahkan pengalaman-pengalaman yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan dari Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengunjungi salah satu daerah di Timur dan Selatan Indonesia ini.
 
Belum ada 24 jam saya di Sumba, ada kejadian yang baru pertama kali saya alami, yaitu digigit seekor anjing di pinggir jalan kota Waingapu. Gigitan itu menimbulkan luka tapi tidak cukup parah. Dua teman baru di Sumba mengagetkan saya karena mereka mengatakan bahwa digigit seekor anjing adalah hal biasa di Sumba. Luka saya cukup dibersihkan dan diberi betadine, padahal yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah kuatir terkena rabies. Namun kekuatiran saya tidak terjadi.
Pengalaman menarik lainnya adalah perjalanan menuju desa Laimbonga. Selama perjalanan tidak henti-hentinya dalam hati memanjatkan rasa takjub dan syukur kepada Tuhan atas ciptaan yang luar biasa atas Sumba. Alam Sumba menyegarkan mata saya dengan panorama padang rumput savanna yang seolah tidak berujung dan ditemani oleh kawanan kuda dan sapi yang sedang menikmati sarapan pagi.
 
Keindahan alam Sumba seimbang dengan sulitnya menyusuri jalan menuju desa Laimbonga. Jalan hampir tidak beraspal hanya berbatu dan berpasir. Motor harus didorong melewati anak sungai tanpa jembatan. Tidak terhitung berapa kali melewati jalan mendaki dan turunan curam hingga saya terpaksa turun dari motor dan mendorongnya. Hal yang sama terjadi ketika saya datang lagi ke Laimbonga bersama Iyan, salah satu teman yang ikut Exploring Sumba.
 
Pengalaman lain yang berkesan adalah ketika di desa Laimbonga dan langsung menuju salah satu rumah warga yang akan menguburkan mayat dengan adat Marapu. Saat kami tiba, sudah cukup banyak warga desa yang berkumpul untuk mengikuti upacara penguburan. Kami diterima oleh kepala desa yang juga ayah dari Rambu Etty dan pihak keluarga yang sedang berduka. Sirih pinang disajikan sebagai lambang penerimaan tamu. Salah satu anggota keluarga menjelaskan kepada kami bahwa jenazah yang akan dikuburkan ketika meninggal usianya sudah lanjut dan telah disimpan lebih dari setahun, sedangkan jenazah lainnya ketika meninggal usianya sekitar dua tahun dan telah disimpan kurang dari setahun.
 
Saat prosesi, kami tidak ingin melewatkan kesempatan ini dengan mendokumentasikan prosesi penguburan tersebut. Ada ritual doa untuk mengantar kedua jenazah ke tempat penguburan yang persis berada di depan rumah dengan diiringi isak tangis dari beberapa ibu yang masih ada ikatan keluarga. Uniknya, peti kayu  jenazah dan sudah direkat erat dengan semen tersebut dibuka kembali menggunakan linggis untuk mengambil jenazah dari peti masing-masing dan dimasukkan ke dalam liang kubur, yang sebelumnya sudah dilapisi dengan beberapa lembar kain Sumba. Beberapa hal mirip dengan cara penguburan yang dilakukan di daerah saya di Toraja, Sulawesi Selatan, khhususnya dalam hal menyimpan jenazah dengan waktu yang cukup lama.
 
Pengalaman berkesan lainnya adalah saya melihat beberapa rumah penduduk Sumba, yang mungkin lebih tepat pondok, karena ukuran rumah mereka sama besar dengan kamar kost saya di Yogyakarta. Saya berpikir dengan rumah sekecil itu, ada berapa anggota keluarga yang tinggal di dalamnya? Bagaimana mereka leluasa untuk beraktivitas di dalam rumah? Bagaimana aktivitas MCK-nya?
 
Saat itu saya tertegun sejenak, menyadari bahwa masih sangat banyak masyarakat di negeri ini yang tidak mampu merasakan kesejahteraan dari negaranya sendiri. Kemudian saya sadar bahwa saya beruntung pernah mendapat pengalaman ini. Sebagai seorang mahasiswa, sudah menjadi tanggung jawab saya bersama ribuan mahasiswa lain di negeri ini yang nantinya menyelesaikan perkuliahan dan akan memulai pengabdian bagi negeri dan membangun kesejahteraan masyarakatnya.

 
Saya menyadari bahwa selama di Sumba ada banyak kekurangan dan banyak hal telah dipelajari. Tidak mudah beradaptasi terhadap Sumba dan sekitarnya dan hal tersebut baru benar-benar saya rasakan dan sesali sekembalinya ke Yogyakarta. Namun saya bahagia karena pernah berbagi ilmu dengan penuh keikhlasan kepada masyarakat dan anak-anak Sumba.

Akhir kata, belajar, berproses, berefleksi, bekerja, sharing dan traveling itu menyenangkan selama kita bahagia dengan kesederhanaan yang ditawarkan. (Resky).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook