pada hari Senin, 18 April 2016
oleh adminstube
Stube-HEMAT Yogyakarta
Kunjungi Pesantren Mlangi
 

Pesantren dipandang sebagai sarana pendidikan iman dan agama Islam. Memang demikianlah adanya. Pesantren menjadi wadah bimbingan iman, karakter, dan pekerti bagi setiap anak bangsa yang beragama Islam. Namun, sejarah menyatakan pesantren tidak melulu mengajar soal agama. Pesantren juga mengajar soal kebangsaan. Kenyataan itu dibuktikan dengan perjuangan warga pesantren dalam mengusir penjajah Belanda yang telah merendahkan martabat bangsa Indonesia sebagai manusia.

Sabtu, 16 April 2016, Stube-HEMAT Yogyakarta mengunjungi Pesantren As-Sallafiyyah, Mlangi, Sleman, DIY. Rombongan Stube-HEMAT Yogyakarta sejumlah 31 orang berdialog dengan Gus Irwan Masduki pengasuh Ponpes. Beliau selesai menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan kemudian pulang menyelenggarakan pendidikan di negerinya, Indonesia.
Perkunjungan Stube-HEMAT Yogyakarta telah menjadi agenda program Multikultur dan Dialog Antar agama. Peserta program diharapkan mampu untuk menunjukkan identitasnya di tengah keberagaman sekaligus tidak kaku dalam berinteraksi dengan komunitas lain. Bagaimanapun juga, interaksi dan dialog adalah suatu kenyataan yang tidak bias dipungkiri di negeri ini. Untuk mengembangkan kesatuan dalam keberagaman, kita perlu berinteraksi dan berdialog. Maka, Stube-HEMAT Yogyakarta mengunjungi komunitas keagamaan dan komunitas budaya di lingkungan DIY.
 
“Di sini pesantren sekaligus sekolahan,” ungkap Gus Irwan dalam membuka diskusi. Gus Irwan mengatakan santri di sini sebagian adalah mahasiswa di kampus terdekat seperti UTY, UIN, Gadjah Mada, dan UII. Santri dengan mahasiswa non-pesantren tidak jauh berbeda. Mahasiswa non-pesantren dapat berdoa di rumah indekosnya, sementara santri memiliki waktu berdoa yang secara disiplin dilakukan setiap hari.
 
Kegiatan bersama mahasiswa lain kampus juga diselenggarakan tetapi tidak rutin karena padatnya jadwal pesantren, seperti berdiskusi dengan Orang Muda Katolik ataupun dengan komunitas lain. Sekalipun jadwal padat, santri tetap melakukan kegiatan ini dengan mengirim wakilnya untuk berdiskusi.

Gus Irwan mengungkapkan pendapatnya tentang perbedaan perspektif menafsir suatu teks. Setiap penafsiran dipengaruhi oleh perspektif, maka untuk menafsir satu ayat dalam kitab suci, orang-orang tidak selalu sama dalam menyajikan hasil penafsiran. Setiap penafsiran dipengaruhi oleh budaya yang membentuk perspektif setiap orang. Gus Irwan sendiri mengakui bahwa dirinya terbuka pada perbedaan. Agama yang diturunkan dari Tuhan itu punya sisi kebaikan. “…Tidak ada agama yang turun dari Tuhan yang ajarkan kekerasan,” ungkap Gus Irwan.
 
Lalu kenapa masih saja ada kekerasan? Gus Irwan mengakui ada saja ajaran yang melegalkan kekerasan dengan alasan-alasan tertentu. Perang beda agama itu terjadi untuk memperjuangkan kebebasan beragama bukan untuk paksa orang masuk agamanya,” tambah Gus Irwan.
 
Gus Irwan kemudian menceritakan pengalamannya mengunjungi gereja di Sinai, Mesir. Toleransi sudah ada di sana sejak jaman Nabi. Bahkan ada gereja yang masih menyimpan surat dari Nabi Besar Muhammad SAW bahwa gereja ini tidak boleh dihancurkan. Sungguh indah toleransi di jaman itu.
 
Pertanyaan kemudian muncul. Satu per satu teman-teman Stube saling memberi pertanyaan dan dijawab oleh Gus Irwan.
  
 
Perkunjungan dan perjumpaan dengan Gus Irwan dan santrinya merupakan pengalaman baru. Sebagian teman-teman Stube mengakui bahwa ini pertama kalinya mereka mengunjungi pesantren. “…ternyata anak pesantren ramah dan baik,” demikian kata Apong, mahasiswa peserta Stube yang hadir di hari itu. Mari terus berjejaring dan bekerjasama dalam perbedaan yang indah. (YDA).

 

 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook