pada hari Kamis, 30 Juli 2015
oleh Stube HEMAT
Ada Apa dengan Laut Indonesia?

 

Selasa, 28 Juli 2015

 

 

 

 

 

 

Indonesia sebagai negara maritim dengan komposisi 70% wilayah lautan dan memiliki garis pantai sepanjang 54.716 km memiliki sejuta potensi untuk diperhatikan secara serius oleh pemerintah dan masyarakat guna optimalisasi sumber daya yang terkandung di dalamnya. Rendahnya kepedulian terhadap lautan, kesejahteraan sosial di kalangan pekerja laut dan nelayan masih  harus terus ditingkatkan dan diperjuangkan. Banyaknya pencurian ikan oleh negara lain di lautan Indonesia, tidak adanya kebanggaan hidup sebagai nelayan di kalangan anak muda sebagai generasi penerus dan tidak adanya kurikulum pendidikan yang menanamkan cinta dunia maritim merupakan ancaman kejayaan Indonesia sebagai negara maritim.

 

 

 

 

 

 

Sudah selayaknya sebagai bagian dari bangsa ini Stube-HEMAT Yogyakarta merasa prihatin atas situasi di atas dan turut mendukung program-program yang menunjang kejayaan laut Indonesia dengan mengadakan program Ekonomi Kelautan untuk menumbuhkan kembali perhatian dan kecintaan kaum muda terhadap dunia maritim.

 

 

 

 

Diawali dengan diskusi kecil pada hari Selasa, 28 Juli 2015 di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta12 mahasiswa hadir bertukar pikiran dengan Ir. Satimin Parjono, nara sumber yang memiliki pengalaman mengembangkan dunia kelautan di lingkup DIY, juga perintis pelabuhan ikan Sadeng, Gunung Kidul.

 

 

 

 

Sharing pengalaman peserta mengenai dunia laut membuat peserta diskusi berpikir ulang tentang laut dan kehidupannya. Stenly, mahasiswa dari Sulawesi bergaul akrab dengan laut karena jarak rumahnya kurang dari 100 m dari laut,  seperti halnya Yolan dan Ana dari Sumba, tetapi beda jauh dengan Riri dan Aby yang tinggal cukup jauh dari laut.  Selanjutnya masing-masing peserta diminta mengamati peta Indonesia dan mengungkapkan apa yang ada dalam benak masing-masing atas wilayah ini. Beberapa peserta menyebutkan keunikan bentuk pulaunya, kepulauan yang mirip kapal dan kumpulan pulau di tengah laut dan masih banyak jawaban lainnya.

 

 

 

Ir Satimin Parjono mengungkapkan bahwa interaksinya dengan dunia maritim berawal dari nol karena awalnya  dekat dengan pertanian.  Titik balik terjadi saat pindah ke bagian seksi perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan DIY yang mempelajari pemasaran, perdagangan dan sosial budaya perikanan. Di bagian ini ditemukan fakta bahwa tingkat konsumsi ikan penduduk Yogyakarta masih rendah, sekitar 1,6 kg/orang/tahun. Hal ini tidak bisa dibiarkan, oleh karena itu Ir. Satimin tergugah pikirannya dan tertantang bagaimana meningkatkan konsumsi ikan di kota maupun di desa. Berbagai cara dilakukan, dengan membuka kios ikan di alun-alun utara, demo pengolahan ikan, penjualan ikan sampai ke pasar-pasar daerah di berbagai kabupaten di DIY. Beliau juga mendapat mandat untuk melaksanakan pembangunan pelabuhan ikan di Sadeng, di pantai selatan Yogyakarta. Meskipun mengalami berbagai tantangan, pembangunan bisa diselesaikan dengan harapan pelabuhan Sadeng diberkahi dan bermanfaat.

 

 


Ekonomi kelautan tidak hanya berbicara tentang peningkatan produksi ikan tetapi mencakup peningkatan taraf hidup pelaku bidang kelautan (nelayan), pengolahan hasil laut lainnya, industri pariwisata, konservasi lingkungan dan pendidikan. Diskusi ditutup dengan komitmen untuk menumbuhkan kembali cinta laut melalui eksposur di kawasan Karimunjawa, Muncar Banyuwangi, Gunungkidul dan Bantul. (TRU)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook