pada hari Selasa, 11 November 2014
oleh Stube HEMAT
 

 

Jurnalisme Investigasi

 

 

 

 

Membela yang benar adalah sebuah tugas mulia. Menyuarakan kebenaran adalah sendi untuk membangun peradaban luhur. Namun, apa jadinya bila kebenaran itu dibungkam dan yang sampai kepada kita adalah kebenaran semu? Maka yang terjadi adalah kita semua tertipu dan menganggap tipuan itu sebagai kebenaran sejarah. Lalu, apa yang terjadi bila suara kebenaran itu menutupi orang- orang yang berbuat salah?

 

 

 

 
Empat mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta hadir mengikuti Pelatihan Jurnalisme Investigasi yang diselenggarakan SMI (Social Movement Institute) pada tanggal 8 dan 9 November 2014. Pelatihan ini bertujuan melatih kaum muda untuk lebih mengenal kenyataan di sekelilingnya. Setiap pengumpulan data dan pelaporan harus dilakukan cermat agar menghasilkan berita yang penting dan menarik publik. Empat orang wartawan dari media Tempo, Tribun Jogja, Jakarta Post, serta Allan Nairn, seorang jurnalis investigasi dari Amerika yang pernah dipenjarakan militer Indonesia saat kerusuhan Timor-Timur, pasca jajak pendapat.

 

 

Bambang dari Jakarta Pos mengungkapkan bahwa produk jurnalisme investigasi sangat sulit dihasilkan karena mempunyai kerumitan tertentu. Biasanya yang melakukan jurnalistik investigasi ini adalah wartawan senior yang cukup berpengalaman dan memiliki jaringan luas. Jurnalisme investigasi rumit karena harus melakukan riset awal untuk mendapatkan penajaman dan gambaran utuh. Investigasi merupakan hasil kerja tim. Observasi harus dilakukan dengan terjun ke lapangan yang beresiko karena biasanya lapangan selalu mengandung konflik.

 

 

 

Wartawati dari Koran Tempo juga turut diundang. Ia sedang mendalami kasus pembunuhan wartawan Udin dan membagikan sharing-nya tentang wawancara dan penggalian riset. Teknik wawancara harus membuat narasumber nyaman dan akrab. Selanjutnya, keamanan narasumber menjadi tanggung jawab kita.

 

 

 

Ikrom dari Tribun Jogja menyatakan bahwa jurnalisme investigasi tergolong sulit. Di dalamnya terkandung usaha untuk verifikasi data dan konfirmasi. Dua belah pihak yang bertentangan atau berbeda harus ditunjukkan pernyataannya untuk menunjukkan bahwa karya jurnalistik kita berimbang dalam menguak fakta.

 

 

 

Seri pamungkas dari rangkaian acara adalah pemaparan dari Allan Nairn. Dia bercerita mengenai beberapa investigasi yang dia lakukan pada peristiwa pembantaian yang terjadi di Peru dan Guatemalla. Dia juga banyak bercerita tentang sejarah bangsa ini yang bertabur tangis dan darah.

 

 

Untuk mengasah kemampuan peserta pelatihan, mereka diminta  melakukan observasi layanan BPJS di dua rumah sakit yakni RSUD Wirosaban dan RS. Hidayatullah. Dari pelatihan ini beberapa teman mengakui peningkatan kemampuan untuk bertanya dan menggali data.

 

 

Akhirnya, setiap kebenaran yang disuarakan oleh karya–karya investigasi, kiranya dapat menyadarkan setiap orang bahwa kejahatan ada di sekeliling mereka dan mereka harus bertindak menyuarakan kebenaran berdasarkan fakta dan data seta menentang kejahatan itu. Selamat bergerak! (YDA)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook