pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
Kerajinan Wayang Sada:
Menembus Batas Waktu!
  



Sewaktu kecil, kira-kira pada usia tengahan Sekolah Dasar, mungkin anda tergolong anak-anak pada “umumnya”. Hal umum yang dimaksud adalah anda hidup seperti murid-murid dan tidak memiliki banyak perbedaan: sama-sama hidup di lingkungan desa yang masih asri, tidak ada makanan 3b (berwarna buatan, berpengawet, dan berpenyedap), anda hanya menonton mainan modern di televisi nasional yang satu-satunya disiarkan oleh pemerintah waktu itu, anda hanya bisa menonton iklan makanan yang seolah begitu jauh dan tidak mungkin anda makan di hari itu. Itu semua dialami oleh sebagian anak yang hidup di lingkungan desa.
 
Beranjak dewasa kreatifitas anda bergerak. Anda tidak lagi bergumul dengan angan-angan. Dengan cara-cara sederhana, anda kemudian berusaha mewujudkan apa yang anda pikirkan. Hal-hal kreatif yang anda perbuat diantaranya: membuat layang-layang sendiri, merancang mobil mini dengan kulit jeruk dan sirapan bambu yang dibentuk layaknya truk, mandi di sungai dan bermain-main layaknya penjaga pantai, atau berlagak layaknya koki dengan menggerus batu bata untuk dijadikan seolah-olah seperti makanan.
 
 
 
Sekalipun semua kreativitas itu dilakukan, perasaan “kalah” itu masih tetap ada. Anda tetap merasa tertinggal modernisasi dan tidak bangga akan kreatifitas yang dimiliki. Anda tidak mampu membeli mobil-mobilan dan hanya mampu merancang bambu-bambu menjadi truck. Anda juga tidak mampu membeli boneka dan hanya bisa membangun miniatur dari pelepah pisang! Anda prihatin dan tidak merasa menang. Sepertinya memang tidak semua orang merasa kalah seperti anda. Masih ada satu sosok yang mampu mengimbangi perkembangan jaman, yang mampu menahan gilasan jaman bahkan melawannya! Namanya Pak Marsono, beliau tinggal di Desa Bejiharjo, Gunung Kidul. Dulunya ia adalah penggembala kerbau. Ide untuk membuat wayang dari bahan alam didapatnya dari area penggembalaan kerbau.
 
Biasanya wayang dibuat dari kulit dan diukir. Wayang jenis ini kini menjadi populer dibanding dengan dulu. Harganyapun tidak lagi murah. Kecintaan Pak Marsono terhadap wayang tentulah menginspirasi dirinya untuk membangun berbagai karakter dan jenis wayang. Pada 29 Oktober 2014 yang lalu, sekelompok siswa dari SMPK Tirta Marta BPK Penabur Jakarta mengunjungi Pak Marsono. Karena sudah diinformasikan sebelumnya oleh pendamping dari Stube HEMAT, Pak Marsono memiliki waktu untuk mempersiapkan pertemuan ini dengan lebih leluasa.
 

 

Apa yang ingin ditunjukkan kepada teman-teman SMP ini? Tentu saja, sebuah kreatifitas untuk mengalahkan keterbatasan, dan setiap tantangan selalu menuntut orang-orang untuk lebih kreatif. Dari kunjungan ini, siswa-siswi belajar bersyukur dengan keadaan sekarang dan siap untuk menghargai kreativitas orang lain. Jadi, pikirkanlah sekarang siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam menghadapi tantangan jaman ini? (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook