pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
Tinggal Dalam Setengah Bulatan Bola
 
 
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika membaca kalimat di atas? Pasti sedikit membingungkan bukan? Hidup tak pernah bisa diterka, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Seperti juga halnya masyarakat yang tinggga di Desa Nglepen ini. Desa ini dahulu adalah sebuah desa biasa tetapi semenjak gempa, maka desa ini berhias menjadi sebuah desa wisata.
 
Gempa bumi Jogja Tahun 2006 tidak hanya menyisakan kisah duka karena kehilangan anggota keluarga, rumah dan segala harta benda mereka tetapi juga sebuah inovasi arsitektur rumah untuk tinggal dan bangkit dari semua kesedihan guna berbenah diri menata hidup. Dari beberapa tawaran NGO terkait bentuk rumah, warga Nglepen memilih rumah dome sebagai ganti rumah mereka yang hancur. Maka dibangunlah 80 unit rumah dome (71 rumah hunian, 7 sebagai fasilitas umum) di atas tanah seluas 2,3 hektar bekas kebun tebu sebagai ganti desa Nglepen lama.
 
Dengan bergotong-royong, sebuah rumah dome dapat diselesaikan dalam satu hari. Setiap rumah dome memiliki diameter sekitar tujuh meter. Sebuah rumah dome terdiri dari 2 kamar tidur yang ditata di lantai dua, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Selanjutnya kamar mandi dan WC dibangun terpisah dan merupakan fasilitas umum yang disediakan untuk dipakai bersama dalam setiap blok yang terdiri dari enam kepala keluarga. Kebersamaan yang terjalin diharapkan bisa menjaga hubungan sosial dan kemasyarakatan di antara mereka.
 
Pajak tanah sebesar sebelas juta rupiah, selama tiga tahun pertama masih ditanggung NGO, untuk selanjutnya per-rumah dibebani pajak sebesar Rp. 137.000,-/tahun. Pembangun kompleks perumahan dome ini dimulai pada bulan September 2006 dan diresmikan pada bulan Mei 2007. Dengan model arsitektur dome, bangunan ini diklaim sebagai rumah anti gempa karena hanya memiliki kedalaman 20 cm sehingga tidak mudah roboh ketika diterjang gelombang gempa.
 
Rumah dome ini merupakan hal baru bagi adik-adik siswa SMPK Tirta Marta-BPK Penabur, Jakarta yang didampingi Loce dari Stube HEMAT Yogyakarta saat melakukan kunjungan sekaligus belajar di tempat tersebut. Sulasmono selaku fasilitator dan nara sumber dari perumahan dome Nglepen bersemangat menjelaskan kisah masyarakat setempat untuk bangkit meneruskan hidup, meski harus menyesuaikan diri tinggal di rumah dome. Tak lupa Sulasmono mempromosikan Nglepen sebagai desa wisata, khususnya arsitektur rumah.
 

 

“Memang untuk bisa ‘survive’ orang harus terbuka, fleksibel dan belajar beradaptasi dengan hal-hal baru, sebagaimana masyarakat Desa Nglepen yang tinggal di rumah setengah bola”, pesan pendamping menutup perjumpaan siang itu. (Loce)
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook