pada hari Minggu, 25 Mei 2014
oleh Stube HEMAT
 

 

30 Hari Menjejak Sumba

 

Yohanes Dian Alpasa

 

 

 

Pada sebuah pertemuan diskusi, seseorang mengatakan di dunia barat, dirinya melihat surga, tetapi tidak melihat Tuhan. Ada banyak tempat yang memukau dan konstruksi manusia sungguhlah menawan. Namun, banyak orang tidak percaya sang Khalik. Di Sumba, aku melihat Surga sekaligus Tuhan. Kehidupan sehari-hari bersalut bersama ungkapan iman setiap minggunya. Hanya saja, aku belumlah menemukan, sebenarnya ada apa di Sumba sehingga beberapa sudut geografisnya masih menyimbolkan kemiskinan yang amat sangat?

 

Sesungguhnya setiap perjalanan selalu menghadirkan pelajaran. Aksen bahasa yang khas, budaya yang asli dan belum bercampur, sistem birokrasi yang membutuhkan pembenahan, dan kehidupan iman yang konsisten tidak banyak berubah di lingkungan gereja, itu semua terjadi di Sumba, sejauh interpretasiku terhadap mereka.

 


 

Di Surga ini, sekali lagi kau dapat melihat Tuhan. Di mana-mana terjadi, kekeluargaan itu dijunjung tinggi. Tuhan sungguhlah di tengah-tengahnya. Pertama kali menjejakkan kaki saya mendengar salam sapa. Teguran dari saudara-saudara di Sumba sungguhlah ramah. Keramahan ini bahkan belumlah banyak saya dapati di Bengkulu, tanah saya dilahirkan, maupun di Yogyakarta, tempat saya menempuh studi teologi.

 

 

 

Setiap orang, baik kenal ataupun tidak, masing-masing seolah berlomba untuk melempar sapaan terlebih dahulu. Ini terjadi di Waingapu dan di Praipaha, dua tempat yang pernah saya jejak dan tinggali. Ucapan ”selamat” untuk mengawali pertemuan dan sapaan menjadi hangat di telinga. Bahkan aku merasakan kedekatan dengan mereka.

 

Terkait dengan kekeluargaan itu, ada dua hal yang aku lakukan. Pertama, mencium hidung orang yang kutemui. Cium hidung adalah simbol bahwa kami sudah dekat, lekat, dan diterima secara karib. Hanya beberapa saat saja saat dua hidung bersinggungan, itu sudah cukup memupuk persahabatan diantara kami. Aku merasa senang dengan cium hidung ini sekalipun hanya mengalaminya dua kali. Itupun bersama seorang pendeta emiritus dan seorang mama disana. Kedua, kedekatan ditandai dengan penghargaan mengunyah ramuan yang terbuat dari Sirih, Pinang kering, dan kapur. Ketiganya dikunyah sebagai sambutan. Setiap orang yang datang bertamu akan disuguhi dengan sirih, pinang, dan kapur laut/gunung.

 

 

 

Untuk menerima penghargaan itu maka aku mengunyah. Pertama yang dikunyah adalah pinang. Kedua sirih yang disalut kapur halus. Pertama teman-teman Sumba agak heran melihatku mengunyah. Bagiku tidak masalah karena di Jogja aku sudah berlatih bersama Fran, seorang temanku yang menempuh Studi Matematika di Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa (UST) Yogya. Mulanya aku bermaksud untuk menerima penghargaan itu. kukunyah dan terasa pahit getir, lalu menjadi hambar, dan kemudian segar. Setiap kali aku mengunyahnya maka gigiku terasa kuat dan tidak sakit lagi. sebenarnya ada dua hal yang kudapat dari sirih itu yaitu penghargaan dan kesehatan gigi.

 


 

 

Pemandangan alam Sumba didominasi oleh bukit-bukit. Orang dengan bebasnya naik Kuda. Ternak dilepas di padang begitu saja. Sabana menghampar seluas mata memandang. Coklat berlekuk seperti permadani coklat. Suplai air diusahakan melalui pipa-pipa oleh PDAM. Ketersediaan air kurasa mencukupi karena terdapat aliran sungai dan mata air di sekitaran Kota Waingapu.

 

 

Satu hal lagi yang kudapati di Sumba, bahwa kekeluargaan itu rupanya memerlukan pengembangan. Orang dapat saling membantu saudaranya yang membutuhkan, tetapi baiklah dirinya juga memikirkan kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Ada saja orang yang rela keluarganya berkekurangan demi membantu saudaranya berpesta. Bantuan itu tetap diserahkan sementara anak masih butuh biaya studi. Namun, pada beberapa tempat di Sumba telah mengembangkan adat lebih bijak dengan tidak memotong hewan terlalu banyak pada setiap perayaannya. Demikian kiranya bahwa Surgaku tetaplah menjadi kenangan di hatiku. Kiranya aku bisa kesana untuk menikmati keindahannya lagi.


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook