pada hari Rabu, 5 Maret 2014
oleh adminstube
Yogyakarta Rumah Kita Bersama:

 

Sarasehan HUT GKI Gejayan ke-14

 

           

 

 

 

 

Dalam rangka HUT GKI Gejayan ke-14, gereja ini menyelenggarakan sarasehan bertajuk “Yogyakarta Rumah Kita Bersama” yang digelar pada 3 Maret 2014. Beberapa tokoh FPUB lingkungan DIY hadir dalam acara ini. Materi dan ungkapan yang disampaikan beragam sesuai dengan penghayatan iman masing-masing.

 

 

 

 

Tokoh yang hadir disana diantaranya GKR. Hemas, GBPH. H. Prabukusumo, Bapak Sri Purnomo, M. Si, KH. Abdul Muhaimin, Bante Sasanabodi, Rm. Yosef Suyatno Pr., KH. Toha Abdulrahman. Acara disemarakkan oleh kelompok musik Koesplus (De Guder) yang berasal dari Padukuhan Soropadan, Condong Catur, dan kelompok Posyandu Lansia Sejahtera dari padukuhan yang sama. Kelompok Posyandu Lansia ini menyanyikan lagu Menanam Jagung, Gundul-gundul pacul, dan dari Sabang Sampai Merauke.

 

 

 

 

Ketua Majelis GKI Gejayan, Ibu Rina Lusiana, memberikan sambutan dengan mereview peringatan satu tahun yang lalu. Pada tahun yang lalu, Sri Sultan HB X hadir dan menyambut baik gagasan “Yogyakarta Rumah Kita Bersama”.

 

 

 

Acara dibuka oleh GKR. Hemas dengan beberapa poin disampaikan. Berkah kemajemukan dan pluralisme sebagai kekuatan yang menyejahterakan. Ketidakadilan menggusur aliran kepercayaan. Jangan hanya mulut saja berbicara pluralisme, kita jaga city of tolerance. Ancaman konflik selalu ada. Gusti Hemas menambahkan bahwa tidak ada mayoritas dan minoritas di Indonesia.

 

 

 

Dalam acara ini, Stube-HEMAT diundang dan mengutus dua orang yaitu Stenly Recky Bontinge dan Yohanes Dian Alpasa.

 

 

 

Menurut Yohanes, ada banyak hal yang perlu diapresiasi. Pertama, upaya GKI Gejayan untuk menyelenggarakan sarasehan. Inilah ruang untuk berinteraksi, bertatap muka, dan saling mengenal satu sama lain. Sekalipun acara diselenggarakan di Gedung Gereja, suasana harmonis ditunjukkan disana: ada suster yang menyanyikan lagu salawat, pemuda masjid berpadu suara dengan pemuda gereja.

 

 

 

Kedua, diskusi bersama antar pemuka agama ini merupakan tindakan yang mulia. Para pemuka menyamakan visi bersama dalam menyikapi hajatan Nasional PEMILU 2014. Disinyalir terdapat ancaman dalam pemilu ini. Dialog dan bicara bersama antar pemeluk merupakan salah satu cara efektif untuk menjaga kedamaian. Elemen-elemen masyarakat dapat meneladani upaya ini.

 

 

 

Ketiga, gereja tampil tidak hanya dalam dialog tetapi dalam upaya merayakan kebudayaan. Merayakan kebudayaan berarti menggali, mengunggah, dan mengaktualisasikan kembali dalam hidup hari ini. Budaya yang dirayakan adalah budaya berbahasa, bertutur sopan, laku arif, dan berkata tindak dengan sopan.

 

 

 

Visi Stube-HEMAT adalah mengembangkan kaum muda untuk berkarya nyata. Maka ketiga hal yang diapresiasi ini sejalan dengan visi tersebut.

 

 


Ada banyak hal yang bisa dipelajari. Setiap perayaan ulang tahun bukan hanya pertambahan usia saja tetapi juga pertambahan kedewasaan dan hikmat. Umat yang semakin dewasa adalah umat yang semakin berbuah. Ada karya nyata dalam masyarakat baik dalam mengembangkan budaya, perdamaian, peradaban dan kritik terhadap perkembangan itu. Kiranya setiap orang beriman dapat berguna bagi sesama, bangsa dan Negara. (YDA)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook