pada hari Selasa, 3 Desember 2013
oleh Stube HEMAT
Pembangunan? Untuk Siapa?

 

 

 

 

 

 

Stube HEMAT melihat masalah pembangunan sebagai satu simpul masalah yang harus diuraikan terutama jika dikaitkan dengan perkembangan generasi muda saat ini, maka dibuatlah sebuah pelatihan Pembangunan Berkelanjutan dengan tema “Pembangunan? Untuk Siapa?” Bertempat di Wisma Martha Yogyakarta, 29 November – 1 Desember 2013, pelatihan ini diikuti oleh 30 mahasiswa yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti Teologi, Psikologi, Teknik Lingkungan, Teknik Informatika, Pendidikan dll.

 

 

 

Francis Wahono sebagai salah satu fasilitator mengatakan bahwa pembangunan bangsa pada hakikatnya harus dikembalikan sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang majemuk, dan berkearifan lokal.

 

 

 

Konsep pembangunan berkelanjutan yang ideal diharapkan bisa meluruskan kembali jalan pembangunan yang berkelok-kelok seperti dipaparkan Agus Prasetya Ph.D (Dosen Sekolah Pasca Sarjana Pembangunan Berkelanjutan UGM) dalam materi Pemahaman Visi dan Konsep Pembangunan Berkelanjutan yang Ideal. Sejarah pembangunan Indonesia beserta komponennya mesti dipelajari,” kata Andreas Pimpinan Yayasan SHEEP. Dia berpendapat bahwa,Lifestyle yang salah ikut menyumbang dampak negatif pada sejarah pembangunan Indonesia seperti kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, krisis ekonomi dan lain-lain.

 

 

 

Peserta pelatihan diajak berjalan-jalan ke luar dan melihat realita pembangunan. LSM Cindelaras (Condongcatur), WALHI (Kotagede) dan Forum Komunikasi Winongo Asri (Kelurahan Tegalrejo, warga Bantaran Sungai Winongo) menjadi tempat eksposurnya. Mereka berdiskusi tentang metode pendampingan masyarakat dalam mengawal pembangunan. Oleg Yohan pengurus FKWA mengatakan bahwa Komunitas ini terbentuk untuk mengubah paradigma masyarakat tentang sungai yang dulunya halaman “belakang rumah” menjadi “halaman depan rumah”. Hal ini dimaksudkan untuk mengedepankan konsep kebersihan dan kelestarian alam kawasan sungai Winongo, sehingga merubah kawasan yang dulunya kumuh menjadi kawasan wisata sungai pada tahun 2030.

 

 

 

Tri Agus dari BAPPEDA Propinsi DIY memaparkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro rakyat pada pembangunan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa implementasi pelaksanaan pembangunan tersebut terbuka bagi warga yang ingin berpartisipasi aktif didalamnya sehingga memunculkan peluang untuk mengawal sebuah proses pembangunan sebagaimana mestinya.

 

 

 

Di penghujung pelatihan peserta merumuskan rencana tindak lanjut dan membentuk kelompok sharing dan kelompok mengajar. Kelompok sharing yang beranggotakan Anna, Reski, Windy dkk akan melakukan sharing konsep pembangunan berkelanjutan di Gereja-gereja wilayah Yogyakarta dan melakukan penghijauan dilahan kritis. Kelompok mengajar yang beranggotakan Frans, Putri, Ina dkk mengajar tentang konsep pembangunan berkelanjutan dengan membidik kelompok usia dini sebagai sasaran yang bertujuan untuk memperkenalkan dan membentuk generasi muda yang peduli akan keberlanjutan pembangunan yang akan menopang kehidupan di bumi.

 

 

 

 

Sangat mengesankan dan menyenangkan ikut kegiatan pelatihan ini, karena memberi pengetahuan baru di luar latar belakang ilmu saya. Untuk jangka panjang, konsep ini sangat berguna karena bisa diterapkan ketika saya kembali dan membangun daerah,” kata Maria Trifosa mahasiswa jurusan ekonomi Universitas Atmajaya, salah seorang peserta. Selamat membangun! (SRB)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook