pada hari Jumat, 25 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

 


 

1 ‘Sesuatu’ yang memotivasi diri untuk melakukan hal positif

 

 

 

 

 

Claudia Betruchy Bada

 

Saya Claudia Betruchy Bada, dari Manggarai, Flores, NTT, Indonesia. Saat ini sedang belajar di Pendidikan Matematika, Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, Yogyakarta.

 

 

 

“Sungguh tema yang menarik, Pendidikan: Antara Harapan dan Kenyataan. Tema ini menunjukan kepada saya sebuah kenyataan saat ini di mana arus globalisasi semakin kuat, sementara pendidikan di Indonesia belum siap secara maksimal baik fisik maupun mental. Pendidikan masih sebagai obyek yang dapat “diganti” sesuai dengan keinginan pemegang keputusan. Kesadaran orang akan pendidikan masih jauh dari yang diharapkan, lebih lagi kesenjangan pendidikan antara yang di kota dan di desa semakin melebar. Apakah ini yang disebut dengan pemerataan pendidikan di Indonesia?

 

 

 

Berbekal pengetahuan yang saya miliki, saya merasa sudah memberikan kontribusi terhadap pendidikan di Indonesia yaitu dengan membayar uang sekolah. Tapi ternyata semuanya belum cukup, karena masih banyak hal yang belum saya lakukan untuk berkontribusi terhadap pendidikan, karena saya masih belum maksimal membagi pengetahuan saya kepada orang di sekitar saya yang masih membutuhkan banyak pengetahuan.

 

 

 

Stube-HEMAT memberikan “sesuatu” bagi saya yang membuat jalan pikiran saya berubah dan memiliki motivasi baru melakukan hal positif bagi orang lain berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki. Sungguh menyedihkan dan sangat memalukan jika saya terus berpikir bahwa saya sudah berarti bagi orang lain sementara tindakan nyata yang saya lakukan belum ada.

 

 

 

Pengalaman 3 hari bersama Stube-HEMAT sungguh membuat saya merasa beruntung karena memperoleh hal baru yang memperkaya pengetahuan serta bisa lebih menggali potensi yang ada dalam diri saya. Itu semua pemberian cuma-cuma dari Tuhan yang perlu saya kembangkan, bukan untuk diri saya sendiri dan keluarga saja, melainkan bagi sesama, yang semuanya itu untuk memuliakan nama Tuhan. Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan bersekolah dan melakukan hal-hal yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain.

 

 

 

Berbekal kemampuan dan pendidikan yang ada saat ini, sebagai seorang calon guru, saya bertekad merubah sikap menjadi lebih peduli kepada orang lain, peka terhadap permasalahan sosial yang terjadi di sekitar saya, serta berbagi pengetahuan dengan membuka sanggar belajar untuk anak-anak, bersama teman-teman dari pelatihan Stube. Ini merupakan langkah awal untuk menyiapkan fisik dan mental saya dan generasi muda bangsa ini pada umumnya menghadapi persaingan global. ***

 

 



2. Lebih dari Sekedar Bicara

 

 

 

Windy Hendra Supardi

 

Saya Windy Hendra Supardi, dari Sintang, Kalimantan Barat, saat ini sedang menempuh studi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Saat mengikuti pelatihan pendidikan global, saya mendapatkan banyak hal baru. Pelatihan ini mengajarkan saya untuk tidak hanya bicara saja, tetapi bagaimana segera mengimplementasikan apa yang sudah saya dapatkan ke masyarakat sekitar. Beberapa point penting yang menjadi bahan refleksi saya adalah mengenai tujuan pendidikan, menciptakan lingkungan belajar yang baik, dan bagaimana menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

 

 

 

Tujuan pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperhalus perasaan dan memperkokoh kemauan. Mempertajam kecerdasan ini berarti kita harus memahami pengetahuan secara menyeluruh. Kebanyakan orang hanya memahami pengetahuan setengah-setengah saja. Oleh karena itu, banyak orang yang gagal dalam mencapai sesuatu yang besar di dalam hidupnya. Untuk mendukung kesuksesan dalam pendidikan diperlukan sinergi antara guru dan murid. Guru harus menjadi teladan, harus percaya diri dan komunikatif. Guru harus mampu masuk ke dalam kehidupan murid-muridnya agar tidak terbentang jarak yang jauh antara guru dan murid sehingga tercipta suasana komunikatif diantara keduanya. Tanpa hal-hal ini, guru tidak akan dihargai oleh murid-muridnya. Pendidikan juga harus memperkokoh kemauan untuk selalu memiliki persepsi positif dan bertekun dalam menghadapi kegagalan atau pun kesulitan. Pendidikan yang baik harus diikuti dengan pendidikan cinta kasih.

 

 

 

Suasana dan lingkungan menjadi hal penting dalam proses belajar dan setiap proses harus dilalui dengan baik untuk mencapai tingkatan keahlian. Kita harus berani berteman dengan orang yang lebih pandai sehingga dapat membantu memotivasi kita untuk terus belajar. Proses belajar akan lebih efektif apabila kita belajar bersama orang lain, dan kita mampu memberikan kontribusi untuk membantu orang lain. Sesungguhnya, prestasi dinilai dari sejauh mana kita bermakna bagi lingkungan kita, karena orang hidup yang tidak memiliki fungsi sama saja seperti orang mati, tidak ada satupun yang bisa diperbuat. Tujuan belajar itu sendiri adalah untuk memanusiakan manusia. Ini berarti bahwa dengan belajar, orang akan tahu hal yang benar, lebih mengenal siapa diri mereka dan apa yang baik untuk dilakukan.

 

 

 

Pendidikan juga menyiapkan kita menghadapi tantangan multi-dimensi, juga pasar global. Dalam menghadapi hal ini, tidak saja pengetahuan, tetapi juga sisi kepribadian sebagai identitas bangsa Indonesia. Kita harus senantiasa menambahkan kualitas demi kualitas pada diri kita untuk mencapai keberhasilan. ***



3. Stube HEMAT dan Trilogi Tamansiswa

 

 

 

Fransiska Evawati

 

Saya Fransiska Evawati, dari Ketapang, Kalimantan Barat. Saat ini sedang studi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, jurusan Pendidikan Matematika.

 

 

 

Saya melihat misi dari Stube-HEMAT selaras dengan Trilogi Tamansiswa yaitu, TRI NGO  yang dimaknai dengan Ngerti, Ngroso, dan Nglakoni. Tiga hal ini mengingatkan kita agar mengerti ajaran hidup atau cita-cita (selaras dengan misi Stube pertama), kesadaran (misi kedua), dan kesungguhan dalam pelaksanaannya (misi ketiga dan keempat). Tahu dan mengerti saja tidak cukup kalau tidak menyadari dan tidak ada artinya kalau tidak dilaksanakan dan memperjuangkannya. Ilmu tanpa amal adalah kosong dan amal tanpa ilmu adalah pincang.  Saya memahami ini dengan membandingkan Trilogi Tamansiswa dari Ki Hadjar Dewantara. Ternyata setiap kita mendapatkan pendidikan haruslah kita mengerti dan memahami, selanjutnya kita sadari dan terakhir membuat perencanaan, melaksanakan dan memperjuangkannya sebagai bukti nyata.

 

 

 

Dari penyampaian para narasumber di pelatihan, saya mendapatkan pesan inti, bahwa pendidikan saat ini  menuju pada persaingan global yang membawa kita ke dalam persaingan yang semakin ketat, sehingga kita harus semakin berkualitas. Dengan melihat visi dan misi di atas, kita dipersiapkan menghadapi persaingan tersebut, melalui pendidikan yang semakin terarah. Artinya, pendidikan menjadi modal utama dan ketrampilan yang diperoleh dari pendidikan non-formal akan menambah kualitas diri untuk melakukan hal yata dalam kehidupan dan berguna bagi banyak orang.

 

 


“Antara harapan dan kenyataan” bisa dimaknai bahwa kita mempunyai harapan atau mimpi, dan harus berusahakeras mewujudkannya sampai menjadi sebuah kenyataan. Yang lebih penting adalah bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dalam kehidupan, dan setiap usaha yang kita lakukan pasti mempunyai makna sekalipun itu gagal. Kegagalan itu adalah pelajaran untuk bisa maju dan lebih baik lagi. ***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook