pada hari Rabu, 23 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

7. Ternyata Beda! Lebih termotivasi.

 

 

 

Septi Dadi

 

Saya Septi Dadi, dipanggil Putri, dari Sumba Timur, NTT. Saat ini sedang menempuh studi di jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

 

 

 

Pada awal mengikuti kegiatan STUBE–HEMAT, dalam benak saya adalah, ”Ah pasti kegiatannya gitu-gitu saja, dan membosankan”. Bayangan itu muncul karena saya belum berkenalan dengan STUBE–HEMAT dan tidak tahu lembaga itu seperti apa. Saya bersyukur bahwa apa yang saya pikirkan itu tidak menjadi kenyataan, malah sebaliknya lagi sangat menyenangkan.

 

 

 

Dari serangkaian pelatihan yang di berikan kepada kami, saya mendapat banyak pengetahuan baru dan inspirasi baru. Pelatihan ini mengubah pola pikir saya untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan daerah tercinta untuk membuat suatu aksi kreatif yang berguna. Cara berpikir yang awalnya hanya memikirkan kesuksesan diri sendiri dengan pengetahuan yang dimiliki, dapat berkembang untuk memikirkan kesejahteraaan masyarakat, karena sebagai generasi muda saya punya tanggung jawab untuk memberikan suatu perubahan yang positif untuk masyarakat khususnya daerah saya nanti.

 

 

 

Saya termotivasi untuk melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat dan membangun. Saya juga ingin memotivasi kaum muda untuk lebih peduli kepada lingkungan dan masyarakat. Saya setuju untuk membuat sesuatu yang berguna harus dimulai dari hal kecil. Kalau bukan kita siapa lagi? ***

 

 

 

 

 

8. Kita Bukan Gombal1  Diterpa Globalisasi

 

Fajar Dwi Kristyawan

 

 

 

Saya Fajar Dwi Kristyawan, dari Jawa Timur, mahasiswa Theologia, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Pendidikan memampukan seseorang menghadapai tantangan di masa depan sehingga Pendidikan Global merupakan isu hangat.  Namun demikian proses pendidikan menghadapi Globalisasi tak selalu menguntungkan apalagi jika kita tidak waspada menghadapainya, kita bisa hanya menjadi gombal di negeri kita sendiri.

 

 

 

Pertama kali mendengar Pendidikan Global, saya mengira bahwa itu adalah sebuah model pendidikan yang bersifat mengglobal atau mendunia, yang akan mengatasi semua pendidikan di seluruh antero bumi. Karena itu, pelatihan kali ini akan membekali peserta dengan teknik-teknik khusus dalam mendidik dengan model yang dapat diterima di seluruh penjuru dunia. Ternyata, bukan model pendidikan yang mendunia yang saya dapat, tetapi lebih fokus membahas bagaimana pendidikan kita diperhadapkan dengan konteks globalisasi yang sudah mulai membadai di kehidupan kita. Pendidikan di negeri ini kurang siap menghadapi gempuran badai globalisasi.

 

 

 

Gempuran itu nyata bahkan pengaruh-pengaruh dunia luar sudah banyak menjamur. Sebagai contoh pengaruhnya di dunia pendidikan. Beberapa waktu yang lalu, sekolah-sekolah gencar memproklamirkan diri sebagai sekolah berstandar internasional. Bahkan banyak sekolah, baik swasta atau negeri berkompetisi menjadi sekolah Internasional dengan fasilitas dan komponen-komponen persyaratan yang dibutuhkan. Dalam perjalanannya, sekolah-sekolah tersebut menuai kritikan pedas karena terkesan tidak Indonesia, karena malah tidak mencerminkan Pancasila sang pedoman negara.

 

 

 

Globalisasi tak dapat kita hindari, karena sudah merupakan bagian dari perubahan dan perkembangan jaman. Perkembangan teknologi dan infomasi yang semakin pesat, memunculkan istilah gagap teknologi atau gaptek bagi yang tidak bisa mengikutinya. Kalau begitu semakin lama kita bisa kembali terjajah dan tertindas oleh pihak luar. Oleh sebab itu kita harus bisa mengatasinya dengan tepat, sehingga kita tetap memiliki identitas diri sebagai bangsa Indonesia tanpa menjadi komunitas eksklusif yang justru mengerdilkan dan memprimitifkan kita. Di sinilah peran pendidikan diperlukan untuk menghadapi gempuran badai globalisasi yang semakin menderu.

 

 

 

Selama mengikuti proses pelatihan selama tiga hari ini, saya menemukan satu hal yang menurut saya penting untuk menghadapi globalisasi dari segi pendidikan. Satu hal itu adalah kemauan kita sendiri dalam berproses mendapat pendidikan. Proses pendidikan seperti tempat kita berpetualang dalam menimba ilmu, tak hanya dalam ruangan formal terbatas saja, melainkan juga belajar dari luasnya rimba kehidupan manusia. Kita pun akan menjadi pribadi yang mampu bersaing di kancah yang lebih luas dan tinggi dengan karakter kita masing-masing.

 

 

 

Dengan demikian kita tidak akan menjadi gombal di negeri sendiri, menjadi orang pinggiran yang terbuang ketika orang lain menikmati kekayaan negeri ini. Kita harus berani menjadi petualang untuk mengetrapkan ilmu bagi kesejahteraan manusia dan bertahta di singgasana negeri sendiri. Mari kita tunjukkan bahwa kita bukanlah gombal yang terkulai dan terbawa begitu saja diterpaan badai globalisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

1 Gombal adalah bekas baju yang sudah tidak terpakai yang biasanya sudah sangat kotor dan tidak utuh lagi karena lebih sering digunakan sebagai ganti kain lap




9. Belum Utuh Merata

 

 

 

Yohana H. Sambung

 

 

 

Saya Yohana H. Sambung, biasa dipanggil Ira, dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dan sedang menempuh studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan global dan globalisasi mendorong kita melakukan identifikasi dan mencari titik-titik simetris yang bisa mempertemukan dua hal yang tampaknya paradoksal, yaitu pendidikan Indonesia yang berimplikasi nasional dan global. Dampak globalisasi memaksa banyak negara meninjau kembali wawasan dan pemahaman mereka terhadap konsep bangsa, tidak saja karena faktor batas-batas teritorial geografis, tetapi juga aspek ketahanan kultural serta pilar-pilar utama lainnya yang menopang eksistensi mereka sebagai nation state yang tidak memiliki imunitas absolut terhadap intrusi globalisasi.

 

 

 

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan global, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

 

 

 

Tantangan yang saya alami sampai sekarang ini dari saya Taman Kanak-kanak sampai menjadi seorang mahasiswa adalah menyesuaikan diri dalam kurikilum yang selalu berbeda. Di satu sisi itu sangat baik karena mengikuti perkembangan era globalisasi, tetapi para pemegang kebijakan kurang memikirkan para pendidik dan anak didik. Di mana para pendidik harus berusaha keras menyesuaikan kurikulum tersebut untuk dapat diterapkan dan dengan mudah diterima anak didiknya.

 

 


Dari hasil pelatihan yang saya ikuti, saya bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia belum seutuhnya merata. Di daerah pelosok negeri ini masih banyak pelajar yang belum mengenal teknologi, buku yang digunakan masih buku lama, kurikulum yang seharusnya dapat cepat diterapkan tapi kenyataannya lama karena kurangnya tenaga pendidik. Dari berbagai fenomena dan kondisi pendidikan saat ini, bangsa Indonesia seharusnya segera berbenah dan menyadari jangan sampai pendidikan Indonesia terpuruk jauh. Penerapan nilai-nilai karakter bangsa bukan sekedar pelengkap pendidikan yang dipenuhi secara formalistik-administratif belaka, tetapi nilai-nilai karakter adalah jiwa, ruh, dasar dan tujuan utama pendidikan nasional seperti yang dinyatakan Ki Hadjar Dewantara. Tak sekedar mencapai prestasi akademik (cerdas otak), tetapi memiliki budi pekerti luhur yang menjadi inti utama pendidikan nasional kita.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook